Trilogi The 10 Greatest Football Number 10’s

Sampeyan suka sepakbola? Yakin suka? Entah itu sebagai pelaku ataukah sekedar penikmat, apakah sampeyan suka sepakbola? Aku suka. Sampai akhir masa esemaku aku adalah seorang pelaku dan penikmat sepakbola. Meskipun lebih sering (dan hampir selalu) duduk di bangku cadangan Smansa All-Stars, tetap saja hitungannya aku ini seorang pelaku sepakbola, tho?

Dan aku juga seorang penikmat. Jaman dulu, selain Liverpool FC, klub manapun yang saat itu dibela Roberto Baggio selalu kudukung habis-habisan, mulai dari eranya Baggio di Juventus, AC Milan, Bologna, Internazionale, sampai akhirnya Brescia. Yeah, Baggio memang dewa buat aku – selain seorang tokoh fiktif yang bermerek Kubo Yoshiharu. Baggio yang mengubah hidupku yang waktu itu masih kelas 5 esde menjadi seorang penyuka sepakbola.

Momennya pada waktu itu adalah Piala Dunia 94, menjelang partai terakhir. Di koran yang dilangganani bapakku, selama jangka waktu Piala Dunia itu, nama Baggio sering kali disebut. Bahkan aku mendapatkan kesan kesebelasan Italia itu identik dengan Baggio. Menurutku itu sangat berlebihan. Walaupun aku bukanlah seorang penggemar sepakbola, yang aku tahu, sepakbola adalah olahraga tim dengan 11 orang yang sama-sama bahu-membahu di lapangan. Pengkultusan seorang Baggio menurutku sangatlah tidak adil. Dikemanakan pemain-pemain Italia lainnya? Kenapa cuma Baggio yang disebut-sebut terus oleh koran itu? Kemana rekan-rekan Baggio yang lain, seperti Sol Saleh, S. Diran, atau Darto Helm?

Aku penasaran. Seberapa hebatnya, sih, makhluk yang dijuluki “Mesias dari Florence” ini, sampai-sampai perannya di tim nasional Italia seakan-akan tidak tergantikan sama yang lain? Dibandingkan dengan musuh Italia di final besok, Brasil, tim Samba itu menurutku tidak terlalu identik dengan 1 pemain saja. Di Brasil, waktu itu, yang identik adalah duet Romario-Bebeto (tentu saja. Romario – meskipun adalah pencetak gol terbanyak di timnya – dia adalah tipe pemain yang egois yang hobi menunggu bola. Bebeto-lah yang lebih rajin bergerak), bukan penobatan berlebih-lebihan kepada seorang individu sebagai tokoh sentral. Dan kuputuskan akan kubuktikan sendiri kehebatan Baggio di depan tivi besok pas final.

Tapi subuh bersejarah itu aku melihat dengan mataku sendiri bagaimana Baggio yang sebelumnya dikabarkan cedera menjelang partai final berkutat di lapangan bahkan sampai dengan habisnya babak perpanjangan waktu. Gerakannya seperti bukan seorang atlit yang sedang cedera. Baggio masih jadi tumpuan Italia di lini depan. Malah, sepanjang Piala Dunia itu, Baggio seakan-akan membuat seorang jenius Italia lainnya, Gianfranco Zola, seperti tidak kebagian peran. Dalam waktu 120 menit aku sudah berani mengambil kesimpulan tentang Baggio. Selain kuncir keritingnya yang unik, orang ini memang dahsyat!

Adu penalti akhirnya dimulai. Baggio adalah penendang terakhir dari tim Italia. Aku berdebar. Sumpah, aku berdebar. Orang ini sedang cedera, tapi kenapa dia masih harus menyandang beban sebagai penendang terakhir? Apa tidak ada pemain Italia lainnya yang sehat? Sejurus aku teringat laporan pertandingan semifinal antara Italia lawan Bulgaria. Pelatih Bulgaria waktu itu berujar, “Kami tidak kalah oleh Italia. Kami cuma kalah oleh Roberto Baggio.” Faktanya, 2 gol kemenangan Italia yang tidak mampu dibalas sebiji pun oleh Bulgaria itu memang dibuat oleh Roberto Baggio. Waktu perempat final sebelumnya, Baggio juga yang memperpanjang nafas Italia pada menit-menit akhir pertandingan. Golnya menyelamatkan harapan Italia setelah sebelumnya tertinggal 0-1 dari Nigeria. Ketika babak perpanjangan, lagi-lagi Baggio yang membuat Italia tertawa, 2-1.

Maka kutenang-tenangkan hatiku sendiri. Orang sehebat Baggio tidak mungkin tidak berhasil mengambil penalti. Italia tidak akan kalah.

Baggio melangkah dan mengambil ancang-ancang. 1 sentakan yang menentukan itu tim Brasil seperti meledak! Seluruh anggota tim Brasil dari bangku cadangan berhamburan ke lapangan dan menangis gembira. Ya, Baggio gagal! Tendangannya melambung di atas mistar gawang Claudio Andre Tafarrel. Kontras dengan reaksi Tafarrel, Baggio terdiam tertunduk di lapangan. Kuasa sang dewa Italia itu seolah dikudeta. Aku juga cuma terbengong di depan tivi. Seperti tidak percaya bahwa orang yang kuputuskan menjadi idolaku cuma dalam waktu 120 menit itu gagal menunaikan tugasnya. Brasil menang adu penalti dengan skor 3-2.

Sejak saat itu aku seolah merasa solider dengan Roberto Baggio. Bahkan dengan noraknya aku dulu sempat berjanji dalam hati kalau kegagalan Baggio di final Piala Dunia bakal kutebus suatu saat nanti. Dan mulailah aku merengek kepada bapak minta dibelikan sebiji bola sepak.

Maka ketika beberapa waktu yang lalu aku jalan-jalan ke toko buku Toga Mas dan melihat sebiji buku dengan judul “The 10 Greatest Football Number 10’s” yang di dalamnya memuat biografi singkatnya Roberto Baggio, tanpa pikir panjang kuputuskan membeli buku karangannya Richard Williams itu walaupun sebenarnya ada yang aneh juga dengan buku itu. Pasalnya, meskipun judulnya cuma menyebutkan 10 orang saja, kenyataannya buku itu memuat 11 orang pemain. 2 orang legenda Italia lainnya, Gianni Rivera dan Sandro Mazzola, diringkas dalam 1 bab tentang mereka berdua. Beda dengan bab-bab lainnya yang memang cuma dikhususkan cuma untuk seorang pemain, seperti Ferenc Puskas, Pele, Gunter Netzer, Michel Platini, Enzo Francescoli, Diego Maradona, Dennis Bergkamp, Zinedine Zidane, dan tentu saja Roberto Baggio. Nomor 10 sendiri, konon, adalah nomor keramat yang cuma boleh dimiliki oleh seorang fantasista, pemain yang kehadirannya di lapangan sanggup mengubah arah pertandingan sekehendaknya.

Tapi meskipun aneh, gara-gara melihat iming-iming di halaman belakangnya yang menyebutkan bahwa Richard Williams adalah seorang kolumnis sepakbola ngetop di Inggris, buku itu akhirnya kusikat juga. Berharap bahwa bahasan di dalamnya memang bermutu.

Dan hasilnya, sampai sekarang buku itu tidak pernah selesai kubaca. Bahasanya aneh. Antara 1 kalimat dengan kalimat lainnya nggak nyambung, seolah-seolah ditulis oleh penulis amatiran yang semaunya aja. Bayu Pepe, seorang sejawat di kampus yang pernah meminjam buku itu sempat urun komentar, “Kok, bahasane aneh?” yang disambung dengan, “Moco buku kuwi marai mumet, Meng!” ketika doi melihat temanku yang lain, Komeng, memperlihatkan gelagat yang tertarik untuk meminjam buku itu.

Rekan yang lain, yang masih bisa berbaik sangka kepada pengarangnya juga berujar, “Kayaknya penerjemahnya aja yang goblok. Harusnya buku ini bagus. Tapi jadinya malah nggak bermutu gara-gara tata bahasanya yang amburadul.”

Memang, lho, kalau berkaca dengan nama Richard Williams yang konon adalah kolumnis olahraga terkenal, nggak mungkin buku itu bakal ngaco tata bahasanya. Satu-satunya kemungkinan yang bisa ditebak adalah bahwa penerjemah buku terbitan Ufuk Press (ada blognya juga, lho) itu bukanlah seorang dengan english-skill di atas rata-rata. Bahkan mungkin malah di bawah rata-rata. Lha wong nyatanya bahasa di buku itu kayak cuma diterjemahkan pakai Transtool, kok. Asli nggak nyambung. Malah aku pikir, temanku yang paling bodoh di kampus sekalipun (Komeng, misalnya), kalau dikasih naskah aslinya maka dia akan bisa menerjemahkan dengan 100 kali lebih baik!

Jadi, kalo ada di antara sampeyan-sampeyan penggemar sepakbola yang pengen koleksi tentang cerita-cerita seputar kehidupan sepakbola di luar lapangan hijau, aku sarankan jangan pernah beli buku di atas tersebut. Kalian cuma bakal misuh-misuh aja saking nyeselnya. Lebih baik beli buku judul lainnya aja, misalnya trilogi sepakbolanya Sindhunata yang diterbitin Kompas.

Buku yang terakhir itu terdiri dari 3 judul: “Air Mata Bola”, “Bola di Balik Bulan”, dan “Bola-bola Nasib”. Isinya sangat filosofis, menurutku. Asyik dibaca dan perlu. Cerita tentang filosofi-filosofi dalam sepakbola yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dibahas dengan lancar dan mengalir. Isi buku itu sendiri adalah kumpulan esai-esainya Sindhunata tentang sepakbola yang dulu sering dimuat di harian Kompas. Aku untung banget bisa nemu buku itu dengan harga lima rebu rupiah sebijinya waktu ada obral dan pameran buku besar-besaran dari penerbit Kompas-Gramedia di Jokja tempo hari.

Ada beberapa judul yang menarik di dalam buku itu (kalau nggak mau dibilang semuanya memang menarik!). Tapi yang paling menarik menurutku adalah opini berbalas opininya Sindhunata dengan Gus Dur dalam rangka penyusunan kabinet waktu Gus Dur baru terpilih sebagai presiden. Jadi, suatu waktu Sindhunata menulis opini di harian Kompas tentang Gus Dur dalam bahasa sepakbola, dan hebatnya opini itu ditanggapi oleh Gus Dur. Gus Dur menjawab opini Sindhunata itu di harian Kompas lewat bahasa sepakbola juga. Nggleleng pokoknya! Dan tulisan Gus Dur itu menjadi satu-satunya tulisan di luar tulisannya Sindhunata yang ikut dibukukan di salah satu dari ketiga trilogi di atas. Yah, kita tahu, Gus Dur waktu jaman lebih muda dari sekarang kan memang seorang kolumnis sepakbola juga, selain profesinya yang waktu itu sebagai kyai.

Maka kesimpulannya, seperti biasanya, aku sangat merekomendasikan buku trilogi sepakbola itu buat seluruh penggemar sepakbola di tanah air ini. Belilah kalo memang ada kelebihan uang. Kalaupun tidak, jika ente berjenis kelamin wanita dan kebetulan berparas menarik, buku milikku itu boleh dipinjam, kok. Bukan cuma itu saja, aku bakal menawarkan untuk mengantar langsung buku tersebut langsung ke kamar kos/rumah saudari. Terima kasih:mrgreen:

28 Responses to “Trilogi The 10 Greatest Football Number 10’s”


  1. 1 Kopral Geddoe Desember 20, 2007 pukul 9:44 pm

    Kalau waktu Baggio masih membela Fiorentina, mas Joenya udah nonton bola belum?😛

  2. 2 Dekisugi Desember 20, 2007 pukul 9:45 pm

    belum! hohoho…
    baru ngikutin setelah dia di juve dengan trident mautnya baggio-vialli-ravanelli

  3. 3 arya Desember 20, 2007 pukul 11:27 pm

    pemain terhebat italia sepanjang masa. baggio adalah sepakbola indah dan sepakbola indah adalah baggio.
    eh joe, pick two of three:
    baggio, zidane, bergkamp
    kalo aku pilih baggio dan bergkamp

  4. 4 Kopral Geddoe Desember 20, 2007 pukul 11:59 pm

    Hohoho, kalau pengakuan beliau, sih, dianya nggak mau pindah ke Juve waktu itu. Sang Mesias dari Florence memang berniat menetap di Florence…

    *meratap*

  5. 5 Pyrrho Desember 21, 2007 pukul 12:51 am

    hoi… maradona-nya mana ?🙂

    zidane di Real Madrid nggak pake nomor 10 lagi, dia pake nomor 5 (kalau nggak salah). tp di timnas dia memang nomor 10.

    @ arya :

    sebenarnya ketika Italia nggak memakai sistem grendel (cattenaccio) lagi, sudah banyak pemain Italia yang bermain cukup cantik, khususnya di era 80-an akhir (sebelum Baggio). Satu yg saya ingat adalah Giuseppe Gianini, sang playmaker asal Roma.

    Tapi memang Baggio yg membuat cara main Italia benar-benar berubah.

  6. 6 rozenesia Desember 21, 2007 pukul 1:50 am

    Jadi ingat Capt. Tsubasa juga…😆

    Eh, tentu sebagai pengagum Romo Sindhu, saya ga akan melewatkan katyanya… *langsung ngebet mau pinjem*

  7. 8 Athrun Desember 21, 2007 pukul 9:24 am

    hei joe…

    ternyata kita sama-sama penggemar Baggio..

    aku jadi penggemarnya selain karena dia pemain TOP juga karna namanya sama ama nama bapakku.. hehehe…

    Hidup Bapakku……!!!!!

  8. 9 Dekisugi Desember 21, 2007 pukul 2:21 pm

    arya:::
    kalo aku entah kenapa milih baggio-zidane. mungkin karena zidane lebih mengkilap prestasi internasionalnya, hohohoho

    Kopral Geddoe:::
    yeah, kalo inget cerita tentang kerusuhannya, aku sedikit agak gimana gitu begitu baggio memutuskan mengakhiri karirnya bersama brescia, bukan la viola

    Pyrrho:::
    maradona udah disebut kok, bang😀

    gianini sang pangeran memang hebat, bang. tapi entah kenapa dia nasibnya nggak sebagus baggio. tidak memiliki momen fenomenal seperti baggio di ajang internasional kayaknya bikin namanya tenggelam oleh baggio.

    eh, baggio terakhir main di timnas juga ga pake no 10 kok, bang. dia pake nomer 18

    rozenesia:::
    komik bola yang lebih dekat dengan baggio mungkin malah fantasista. di situ lakonnya memilih nomer 18 kan karena baggio juga. liat aja covernya waktu make kostum merah hitam dengan nomer punggung 18. itu kan nomernya baggio di ac milan.

    ah, sayang…antum bukan akhwat😛

    Amed:::
    dwi yulianto? ada apa dengan dia? hahahaha!

    Athrun:::
    berarti bapakmu kenal juga sama s. diran, sol saleh, juga darto helm? gyahahahaha!

  9. 10 crizosaiii (males login) Desember 21, 2007 pukul 7:43 pm

    si joe said : “berarti bapakmu kenal juga sama s. diran, sol saleh, juga darto helm? gyahahahaha!”

    pelawak semua? :))

  10. 11 toim Desember 21, 2007 pukul 8:42 pm

    klo menurutku pesepakbola dan fantasista italia terbaik saat ini adalah andrea pirlo, sayang dia gak nomor 10 di timnas italia😦

  11. 12 hadi arr Desember 21, 2007 pukul 8:49 pm

    Ada yang kenal nggak sama Risdianto, Junaedi Abdilah, Dede Suhendar, Abdul Kadir, Ronny Paslah, Johanes auri, Nobon, dan masih banyak lagi pesepak bola Indonesia yang mampu menarik minat penonton datang ke stadion.
    salam kenal, saya link ya blog anda

  12. 14 yudi Desember 22, 2007 pukul 8:23 am

    pemahaman tentang fantastista selalu bernomor 10 mesti dirubah karena mulai saat ini fantastista selain nomor 10 juga bernomor 21 dan 22. Pemiliknya? kau tau siapa….🙂

  13. 15 yudi Desember 22, 2007 pukul 8:28 am

    btw gallas dari arsenal pake nomor 10, padahal ga ada ciri2 fantastista sama sekali kek..kek..kek..

  14. 16 Rully Desember 22, 2007 pukul 3:00 pm

    baggio-vialli-ravanelli sekarang pada kemana & ngapain yak?

  15. 17 pututik Desember 22, 2007 pukul 4:33 pm

    sayangnya aku dari dulu nggak suka nonton bola😦

  16. 18 Dekisugi Desember 22, 2007 pukul 4:58 pm

    crizosaiii (males login):::
    lho, memang pelawak semua, kan?

    toim:::
    ah, ada sedikit pergeseran filosofi memang…

    hadi arr:::
    saya pernah denger cerita tentang mereka, tentang kejayaan timnas indonesia. dan celakanya, jejak-jejak kedahsyatan mereka saat ini seperti hilang tiada berbekas…

    oh, silakan di-link saja. terima kasih. kalo yang itu nggak perlu minta ijin, kok😀

    Fortynine:::
    meluncur!

    yudi:::
    karena itu si gallas nggak disebut di buku itu😛
    eh, katanya milan kalah lagi, ya?

    Rully:::
    pada pensiun, mas:mrgreen:

    pututik:::
    wah, iya. sayang sekali. mungkin jadi ga bisa menikmati isi bukunya sindhunata itu secara utuh, pak!😀

  17. 19 kurtubi Desember 22, 2007 pukul 7:51 pm

    sampai sekarang buku itu tidak pernah selesai kubaca. Bahasanya aneh. Antara 1 kalimat dengan kalimat lainnya nggak nyambung, seolah-seolah ditulis oleh penulis amatiran yang semaunya aja.

    Penilaian jujur seorang penulis blog…

  18. 20 Poto Syur Artist Indonesia Desember 23, 2007 pukul 8:40 am

    tetep idola gw Henrik Larson sama Tevez

  19. 21 Funkshit Desember 23, 2007 pukul 3:03 pm

    wohohoho..,,..
    saya jgua suka sama baggio . . walopun kelewatan masa keemasan nya . .saya terlambat lahir seh😀

  20. 22 Mrs. Neo Fortynine Desember 23, 2007 pukul 10:23 pm

    😳
    NRP saya waktu kuliah di jurusan yang lama juga 10 lho…

    ah, saya memang benar benar orang yang terpilih…
    😳

  21. 23 Rully Desember 24, 2007 pukul 1:17 pm

    # dekisugi: maksudnya, apa pada jadi pelatih klub/timnas? kalo iya, dimana aja gitu loch.:mrgreen:

    /* hidup juventus */

  22. 24 dodo Desember 25, 2007 pukul 10:15 am

    bukannya final italia vs brasil tuh pagi jam 8an gitu? bukan subuh? cmiiw

  23. 25 Dekisugi Desember 25, 2007 pukul 12:06 pm

    kurtubi:::
    iya, pak. saya jarang boong, kok:mrgreen:

    Poto Syur Artist Indonesia:::
    silakan. setiap orang punya kekagumannya sendiri-sendiri

    Funkshit:::
    hahahaha, jgn bersedih, anak muda

    Mrs. Neo Fortynine:::
    nek kowe kuwi kecelakaan jenenge😛

    Rully:::
    wadow, oom, kalo harus nyebutin satu-persatu saya nggak apal juga😀

    dodo:::
    wah, kalo jam 8, saya sudah masuk kelas 1/2 jam sebelumnya. waktu itu, dengan mata saya yang terkantuk-kantuk, guru esde saya di kelas komentar, “pasti ngantuk gara-gara tadi nonton final piala dunia, ya?”

  24. 26 -wHy- Januari 18, 2008 pukul 4:59 pm

    baggio tu alasanku buat jagoin italia ma juve mpe sekarang..aku baru kelas 5 sd waktu PD 94

  25. 27 nanungnurzula Februari 11, 2008 pukul 9:37 pm

    kalo baggio tertekan abis pinalti
    maradona udah stress waktu masuk lapangan waktu final 1990
    momen-momen macam itu mahal sekali memang
    semoga kita bisa dapet pelajaran darinya

  26. 28 duran Oktober 23, 2008 pukul 12:25 pm

    Maradona ama Zidane the best nomer 10. skarang ada Messi di barca messi uda pake 10, tinggal nunggu di timnas. pemain ky gini ga boleh dikasih bola…kalo dikasih bola wesewes ewes bablas bekne kiperne gawangne….goalll


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,033,018 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia