Modaro Wae Kowe!

Baca-baca koran bermerk Kedaulatan Rakyat sore tadi di burjo sehabis dolanan futsal di lapangan indoor SMA Bhinneka, mataku tertumbuk pada sebuah opini tentang hukuman mati dan euthanasia. Isinya ya seputar polemik tentang hukuman mati dan benturan antara pendukung hukuman mati dan hukuman tidak mati.

Dan demi melihat artikel itu, tiba-tiba aja aku jadi inget pelajaran PMP (sekarang PPKn) jaman aku esde dulu. Di pelajaran di mana aku selalu dapat nilai ulangan nyaris sempurna (kadang-kadang malah sempurna, hohoho) itu, aku inget dengan kata-kata “kalo kita pengen dihormati oleh orang lain maka kita harus menghormati orang lain”. Aku juga inget tentang pelajaran seputaran hak azasi manusia di mana hak azasi paling dasar dari setiap manusia adalah hak untuk hidup.

Maka hubungannya dengan hubungan mati tersebut, aku bisa ngerti kenapa ada pihak-pihak yang menentang adanya hukuman mampus di Endonesa kita ini. Bisa. Sangat bisa dimengerti.

Aku sendiri bukannya seorang penentang pihak-pihak yang menentang hukuman mati, bukan pula seorang yang kontra terhadap hukuman mati. Aku cuma berpikir tentang sebuah konsekuensi aja: kalau kita tidak mau hak kita dilanggar orang lain, ya kita jangan melanggar hak orang lain juga.

Para penentang hukuman mati biasanya selalu berpendapat bahwa tidak ada manusia yang boleh menentukan hidup-mati manusia lain, tidak ada yang boleh merampas hak hidup orang lain. Cuma Tuhanlah yang berhak menentukan hidup-matinya seseorang.

Betul!

Tapi apakah orang yang dikenai hukuman mati itu sebelumnya juga berpikir demikian? Misalnya aja hukuman mati yang ditetapkan kepada seorang pembunuh. Seharusnya seorang pembunuh itu sadar, ketika dia melakukan sebuah tindakan dengan sengaja yang merenggut hak hidup orang lain dengan tangannya, dia juga harus siap kalo suatu saat ada orang lain yang juga bakal merenggut hak hidupnya. Kalau kita tidak mau hak hidup kita disikat orang lain, ya seharusnya kita juga mikir untuk tidak mengganyang hak hidup orang lain.

Hukuman yang paling tepat buat seseorang yang sudah menyikat hak hidup orang lain, kupikir ya disikat juga hak hidupnya.

Menurutku, sih, kayak gitu. Nggak tau kalo bakal ada pendapat lain yang berseberangan dengan pendapatku. Aku cuma berpijak pada teori konsekuensi: mau nyikat ya harus siap disikat, mau ngganyang ya harus siap diganyang, mau mbunuh ya harus siap dibunuh. Dunia kang-ouw itu kejam, Bol! Cuma ya, ketika dikaitkan pada kasus hukuman mati untuk para pengedar narkotika di Indonesia, aku pikir, mungkin juga kok ya agak keterlaluan. Soale jikapun ada sebuah transaksi narkotika, itu kan terjadi antara kesepakatan kedua-belah pihak; ya penjualnya, ya pembelinya. Nggak adil rasanya kalo hukuman mati cuma ditimpakan buat yang ngedarin narkoba. Kasihan… Dia toh nggak secara langsung menghabisi nyawa orang lain. Orang lain juga (dalam hal ini adalah drugs-user) yang kepengen dengan sendirinya supaya nyawanya dihabisi pelan-pelan.

Jadi, ada yang berpendapat lain?

27 Responses to “Modaro Wae Kowe!”


  1. 1 extremusmilitis November 5, 2007 pukul 10:36 pm

    Pertamaaxxx😈

    Emang sih di satu sisi, pendapat situ bener Joe, tapi apa-kah tidak lebih baik untuk me-maaf-kan? dan mem-beri-kan ke-sempatan kepada mereka?
    Kalau-pun ya dia telah dengan tega-nya melenyap-kan nyawa orang terdekat kita, tapi kita sebagai manusia juga, tidak ber-hak sama sekali merenggut nyawa manusia, karena hanya DIA yang memiliki hak itu
    Jadi yah, kalau aku, jelas menolak hukuman mati Joe, hidup dan mati itu kan di-tangan Tuhan😉

  2. 2 kudzi November 5, 2007 pukul 10:39 pm

    Ini pendapatku joe..

    Menurutku kalo pengedar itu sama dengan pembunuhan berencana…
    Kalo di negeri kita pembunuhan berencana hukumannya adalah hukuman mati..

    Jadi Pantaslah kalo pengedar narkotika diganjar hukuman mati, dan lebih tragisnya seorang pecandu lama – kelamaan akan jadi pengedar juga kan ?
    Mau dapat duit darimana coba ? sehingga mau tidak mau akhirnya terjun juga dalam bisnis narkotika…

    Pembunuhan berencana juga sama dengan teroris..
    TERORIS harus dibasmi..

  3. 3 hoek November 5, 2007 pukul 11:53 pm

    saia setuju dengan dikau kawand, selaen memang berfijag sama soal konsekuensi itu, ya itu tadi, jadi orang-orang laen yang mo mbunuh bisa mikir dolo sebelom asal kalaf geto ajah…
    terus kalo soal fengedar, saia setuju juga, soale emang goblok yang make sih!

    @extremusmilitis
    lha wong kasus fembunuhan khan kebanyakan karena dendam, lha kalo uda geto gimana coba? kalo ajah banyag orang yang funya fikiran sama kek dikau bro, saia yakin sangadh ndak cuma hukuman mati doank yang ndak berlaku, BAHKAN FEMBUNUHAN FUN NGGA AKAN TERJADI kalo emang setiaf menusa funya femikiran kek dikau kawand. nah?

  4. 4 extremusmilitis November 6, 2007 pukul 12:13 am

    @hoek
    Yupe hoek, meskipun itu bakalan susah jadi kenyata-an ya hoek? Tapi aku yakin kok, masih ada kemungkinan itu akan terjadi, aku yakin masih banyak orang-orang yang mau menjadi lebih baik…🙂
    Dan seandai-nya itu bisa jadi kenyataan, kan betapa indah-nya…
    Kenapa kita tidak mulai dari kita aja hoek?…

  5. 5 The Sandalian November 6, 2007 pukul 12:45 am

    No komen ah..
    Dalam keadaan standar aku akan menolak hukuman mati, namun misale ada keluarga/temanku jadi korban pembunuhan, paling tetep pengen mbunuh si pembunuh juga.

  6. 6 hermawanov November 6, 2007 pukul 1:03 am

    Betoel! PeModar, kudu diModarin juga!
    Apalagi PeModar dengan Modus Narkobis, tanpa ampouwn, kalow pengen negri ini bisa aman terkendali dari drugs, kudu diSikat!

    Kalow “keadilan” dan konsekwensi Modar tidak diterapkan, bakal enteng orang saling Modar-meModar-i. Jangan sampe lah kayak githu…

    Tapi masih inget juga peristiwa Petrus taun 80an dulu (wis lair durung Joe?!) Dmana saat para PeModar dan PemBegal sudah ther-lha-lhu, akhirnya para oknum penegak hukum bertindak ala “renegade” meModar-i mereka satu-persatu di jalanan.

  7. 7 Shelling Ford November 6, 2007 pukul 1:43 am

    all:::
    no comment. monggo mengutarakan pendapatnya sendiri2. saya, sih, tetep kayak tulisan saya di atas: konsekuen!😀

  8. 8 Kopral Geddoe November 6, 2007 pukul 7:02 am

    Btw, kalau si pembunuh itu pernah menyelamatkan nyawa orang lain, apa jadi impas, ya?😛

  9. 9 NuDe November 6, 2007 pukul 7:43 am

    Soal utang nyawa dibayar nyawa, kayaknya sudah lumrah tuh Joe. Bener kata Yeni, misalnya kita menentang hukuman mati, tetapi apabila yang jadi korban adalah keluarga kita, masihkah kita akan dengan legowo memaafkan sang pembunuh? Maka aku sepakat, hutang nyawa ya dibayar nyawa, walaupun kalau kita mampu memaafkannya, itu mungkin akan jauh lebih baik.
    Soal narkoba, go to hell with your drugs!!!

  10. 10 funkshit November 6, 2007 pukul 10:07 am

    saya secara sadar tidak setuju dengan hukuman mati seh, . . namun jika ada keluarga yang jadi korban.. ya saya akan khilaf😀

    klo yang membunuh harus siap dibunuh.. berarti yang mengeksekusi hukuman mati juga harus siap2 dibunuh donks..

  11. 11 Kopral Geddoe November 6, 2007 pukul 10:29 am

    klo yang membunuh harus siap dibunuh.. berarti yang mengeksekusi hukuman mati juga harus siap2 dibunuh donks..

    Bijak…😛

  12. 12 Shelling Ford November 6, 2007 pukul 10:30 am

    Kopral Geddoe:::
    mungkin dia boleh berharap ada orang lain yg bakal menyelamatkan nyawanya😉

    NuDe:::
    saya juga sepakat kalo nyawa dibayar nyawa, hohohoho! empati sama yang keluarganya mungkin jadi korban pembunuhan aja. manusiawi, kok.

    funkshit:::
    bukannya kalo di hadapan regu tembak itu senapan yg ada pelurunya cuma 1? yang lainnya kan kosong. ya biar menghindari beban mental buat para algojonya. jadi sebenernya nggak ada yg mbunuh dengan sengaja, kan? uehehehe…

  13. 13 Shelling Ford November 6, 2007 pukul 10:30 am

    Kopral Geddoe:::
    kalo gitu eksekusinya dari pihak keluarga korban aja😉

  14. 14 kalengkrupuk November 6, 2007 pukul 11:48 am

    salut!😀

  15. 15 Kopral Geddoe November 6, 2007 pukul 12:53 pm

    Disuruh bunuh diri aja…😆

  16. 16 fahmi November 6, 2007 pukul 1:13 pm

    yang penting, setiap hukuman yang udah dijatuhin ke pelaku bener-bener diberlakukan, dan memang itulah konsekuensinya, supaya orang lain yang mau melakukan hal yang sama berpikir masak-masak dulu. yang sering kedengeran kan malah aparat penegak hukumnya (atau hukum itu sendiri) ga tegas, jadilah hukum dilecehkan..
    🙂

  17. 17 Chiw November 6, 2007 pukul 6:31 pm

    bener Joe…
    hutang nyawa dibayar nyawa…

    dan karena janji adalah hutang, so mbayarnya pake janji juga ya?😆

    asli, iki oot

  18. 18 crizosaiii-gak login November 7, 2007 pukul 11:10 am

    bukannya indonesia itu negara hukum? –> ini sindiran atau beneran ya?

  19. 19 Mihael "D.B." Ellinsworth November 7, 2007 pukul 5:38 pm

    Meski Indonesia tidak menerapkan Syariat Islam (Yang menyebabkan mati dibalas mati), tetapi secara pribadi saya lebih memilih teori hukuman mati bagi para pembunuh yang berencana sebelumnya. Adapun pembeli dan penjual “barang” tersebut, saya pikir hanya penjualnya yang ‘pantas’ dijatuhi hukuman mati. Karena para pembeli ‘barang’ tersebut kebanyakan lebih menyukai/mengetahui efek langsung daripada efek jangka panjangnya.

    Hal ini menyebabkan sikap ketidaktahuan para pembeli ‘barang’ akan bahaya ‘barang’ tersebut. Sehingga saya pikir kurang pantas dihukum mati.

  20. 20 nyamukbingung November 8, 2007 pukul 12:29 pm

    tapi hukum mati itu worth it koq, kan akibat yang ditimbulkan oleh pelakunya bahkan lebih dahsyat dari sekedar kematian pelakunya..

    lebih bagus lagi klo misalnya ada kebijakan tembak di tempat bagi para pengedar, shock theraphynya bisa ngefek lama tuh..

    jadinya pembeli pun mikir “jangan2 pas transaksi gw ikutan ketembak ya?”

    Nah?

  21. 21 saya November 8, 2007 pukul 12:56 pm

    eunthanasia agak polemik ya…kita bisa ngasi kesempatan kedua atau sekedar judi…mungkin nantinya orang itu jadi orang yang berguna, tapi nggak mustahil juga kalo tuh orang jadi penjahat super….gambling sangadh

    kalo untuk hukuman mati….aku setuju kalo pelaksanaannya cepat… *ngelirik terdakwa yang divonis mati berbelas tahun lalu, dan masi idup aja ampe sekarang* …kalo pelaksanaannya terlalu lama dan bertele-tele, sesungguhnya beban yang diterima selama menghitung hari itu lebih kejam daripada hukuman mati itu sendiri…

  22. 22 savic November 8, 2007 pukul 2:37 pm

    alaaah hukum di indonesia kebanyakan cing cong… ada grasi lah, ampunan lah, apa lah, udah gitu petugasnya bisa di suap…. trus sidangnya aja lamaaaa banget, tunda lagi.. tunda lagi…. udah gitu pengacara ma hakim sama2 mata duwitan, gmana bisa aman nih negara?
    akibatnya para residivis pasti kumat setelah keluar dari penjara… (nyambung po ra kuwi dab?)

    paling enak di DHORR di tempat.. ato tempat lain juga boleh.. hehehe

    dijamin aman deh, itung2 ngurangi populasi penduduk… penjara juga engga penuh2 amat…

  23. 23 goop November 9, 2007 pukul 11:06 am

    Dendam tak akan pernah berhenti, hutang nyawa dibalas dengan nyawa, kapan berakhirnya?? Saya setuju (sdikit) dengan paman extrem bahwa perlu sebuah kesempatan, meski hanya mimpi ato harapan?? Tapi paling tidak dari mimpi dan harapan semoga bisa menjadi kenyataan. Bila membunuh dibalas dengan membunuh, jadi apa bedanya kita dengan pembunuh?? Wuah, jadi setuju dengan balas membunuh, bila menimpa pada keluarga kita yang tidak bersalah, bila menimpa penumpang sepur yang berjalan diatas rel yang bautnya dicuri. Mungkinkah ini yang dinamakan dilema paman??

  24. 24 mardun November 10, 2007 pukul 7:29 pm

    kalo dia membunuh puluhan orang? berarti dia dibunuh sama puluhan orang juga dong Joe?😛

    (jangan lihat Indonesia, saya tidak berbicara dengan realitas, saya hanya mengutarakan pendapat impian saya)

    Memang yang berhak mencabut nyawa itu kan Tuhan, seorang pembunuh pun juga dilihat kadar kesalahannya kan? berencana atau tidak? kecelakaan atau bukan? apa motifnya dll. Tidak serta merta dihukum mati kan?
    itu adalah tugas hakim. Makanya jaman dahulu profesi hakim itu tidak sembarang orang yang bisa mengisi (sekali lagi, jangan lihat Indonesia)

    soal kesempatan, setiap orang memang harus diberi kesempatan tobat, makanya jarang sekali pembunuh satu orang dihukum mati. Biasanya yang dihukum mati itu kan orang yang membunuh dengan motif terencana (bukan sekedar dendam) atau yang sudah membunuh berkali kali

    (ok, kita kembali ke Indonesia)
    kalo di Indonesia sih…… malah kayaknya nggak perlu pengadilan, wong hakimnya korup, terus yang ngadili siapa😛

  25. 25 Shelling Ford November 10, 2007 pukul 11:05 pm

    kadang2 hukum di indonesia ini ga kerasa ada shock therapy-nya ya?😉

  26. 26 dobelden November 12, 2007 pukul 6:25 pm

    ya gitulah manusia…

    cuma minta hak.. pas di tanya kewajiban… cuma aiu aiu… :-s

  27. 27 Modaro Desember 9, 2007 pukul 5:52 pm

    Wah klo buat gua,MANUSIA ITU TIDAK PUNYA HAK UNTUK MENGAMBIL NYAWA ORANG LAIN jadi soal dia yg dpt hukuman mate itu,itu sudah menjadi tanggung jawabnya dengan Tuhan n kita ga ada bisa ikut campur dengan itu.Lagi pula hakim yang paling adil adalah tuhan jadi sejahat-jahatnya orang itu,biarpun udah membunuh ribuan orang kita tetap tidak berhak mencabut nyawa dia,klo kita punya hak berarti orang yg dpt hukuman juga ga salah dunk mateni uwong piye jal…?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,033,018 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

November 2007
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia