Islamku Model yang Mana?

Aku lagi bosan. Bosan kalau ada yang bertanya ke aku, di manakah aku berpihak pada sebuah agama? Maka kalo sudah ditanya kayak gitu, tentu saja aku menjawab dengan egoku kalau aku berpihak pada Islam. Ya jelas, karena agamaku Islam. Tapi ternyata pertanyaan model kayak gitu selalu berlanjut, Islam model yang mana? Sangat liberal, liberal, moderat, konservatif, atau sangat konservatif?

Pertanyaan macam apa itu, batinku. Memangnya ada Islam model-modelan kayak gitu? Tapi tuduhan selalu berlanjut. Tulisan-tulisanku jaman dulu yang mengajak untuk menyikapi perbedaan secara indah dalam kehidupan beragama, baik dalam lingkup internal maupun eksternal, akhirnya berlanjut dengan cap bahwa aku adalah antek Islam model liberal cuma gara-gara aku mendukung pluralisme beragama dalam kehidupan bermasyarakat.

Pluralisme? Iya, memang iya aku mendukung itu. Aku beranggapan bahwa semua agama di dunia ini tidak beda. Iya, tidak beda. Bacalah (dengan menyebut nama Tuhanmu, kalau perlu), bahwa aku menuliskan “tidak beda”, bukan “sama”, dalam artian sama-sama mengajarkan kebaikan hidup buat pemeluknya. Pluralisme yang kumaksudkan di sini adalah untuk mendukung setiap manusia supaya bisa dengan bebas menjalankan ajaran agamanya, nggak ada tekanan, nggak ada intimidasi, nggak ada curiga-curigaan, nggak ada hujat-hujatan, dan sebangsanya. Pokoknya nggak ada hal dan aksi macam gituan lagi.

Tapi kok ya sulit…

Rasanya sulit banget mengampanyekan hal seperti itu, padahal teorinya kelihatannya gampang. Untukmu agamamu dan untukku agamaku. Terserah mau beragama Hindu, Islam, Kristen, Buddha, terserah kamu mau beranggapan bahwa agamamu adalah yang paling sakti, terserah mau beranggapan semua agama itu sama, terserah mau berpegangan pada ideologi (yang sebenarnya juga cuma istilah ciptaan manusia) liberal, moderat, atau konservatif, dan terserah juga kalau mau memuja setan sekalipun, asalkan kamu nggak ngisruh dan merugikan orang lain!

Aku cuma pengen kehidupan di Endonesa ini kayak gitu aja. Tapi ya itu tadi, rasanya kok ya sulit.

Sulit, soale di dalam agamaku sendiri ternyata terpecah-pecah menjadi beberapa golongan. Golongan A menganggap golongan B busuk, golongan B menganggap golongan C kampret, golongan C menganggap golongan A sebagai unta-unta yang tersesat. Sebenarnya hal itu bukan masalah asalkan (seperti yang aku bilang barusan) kita bisa menyikapi perbedaan dengan cara yang elegan. Kampretnya, ternyata nggak semua manusia itu pinter!

A long time ago, waktu aku hidup di Denpasar, rasanya kehidupan beragama, khususnya dalam Islam itu sendiri, sangatlah tenang. Tapi begitu pindah ke Jokja aku baru tahu bahwa ternyata ada Islam model gini dan Islam model gitu. Dulu aku berpikir, Islam itu paling-paling patokannya cuma NU sama Muhammadiyah. Yang bedanya paling kerasa paling-paling cuma mereka berdua, semisal dalam menyikapi jumlah rakaat shalat tarawih atau jatuhnya hari raya Idul Fitri atau Idul Adha. Tapi begitu nyampai di Jokja, lhadhalah… Makin macam-macam aja aliran-aliran di sini.

Makin macam-macamnya, tiap-tiap golongan itu hobinya ribut satu sama lain, bersikap seolah-olah dirinyalah yang paling benar di mata Tuhan. Tentu saja kadang-kadang aku jadi gatel ngeliat model dakwah yang seperti itu, dan mencobalah aku menulis untuk mengampanyekan tentang sebuah perdamaian atau minimalnya toleransi.

Tapi kok ya sulit lagi…

Sulitnya ya itu tadi, dituduh macam-macam, Bol! Ngomong tentang toleransi, aku dituduh antek liberal. Ngomong tentang persamaan hak, aku dituduh komunis. Ngomong tentang indahnya perbedaan, aku dituduh anti syariat. Bahkan ngomong tentang teknologi pun, aku dituduh sebagai ahli bid’ah! Bah, semprul!

Lama-lama kesel juga, John.

Tapi kalau aku cuma diam, apa iya keadaan yang menurutku nggak sehat ini bakal berubah?

Padahal, kalopun aku ini antek liberal, komunis, anti syariat, ahli bid’ah sekalipun, apa salahnya? Nggak bolehkah 4 jenis manusia tersebut mencita-citakan sebuah ketenangan hidup? Lagian, khususnya dalam agama Islam, pengkotak-kotakkan model gitu kan diciptakan oleh manusia sendiri, nggak ada dalam default-manual-book-nya umat Muslim (makanya kadang-kadang aku nggak sreg aja dengan istilah-istilah bangsanya Sunni, Syiah, Muhammadiyah, NU, dan sebagainya, dan sebagainya, dan sebagainya. Islam ya Islam aja, itu menurutku).

Aku cuma pengen, apapun jalan hidupmu, sudahlah, mbok jangan menjelek-jelekkan jalan hidup orang lain di depan umum. Mau mengagung-agungkan aliranmu, ya lakukanlah dengan elegan. Jangan dilakukan sambil menyinggung perasaan orang lain. Ini, sih, sama aja kayak ngomong, “Kenapa Liverpool waktu tahun 2005 menguasai Eropa? Ya, karena AC Milan itu pecundang!” Ya terang aja kalau kalian sebagai pendukung Liverpool bicara kayak gitu maka pendukung AC Milan bakal ngamuk.

Lalu juga, kalo ada yang mempertanyakan tentang keabsahan aliranmu, jawablah dengan sopan dan pintar. Jangan dijawab dengan ad-hominem atau sambil mengutuk pertanyaan dari si penanya. Yang kayak gitu jelas aja mancing keributan. Mbok ya jadi orang itu ya yang pintar sedikit… Dikit aja… (Jangan banyak-banyak. Kalau kebanyakan aku malah khawatir ladang pekerjaanku pun nantinya bakal kalian sikat, kekeke!)

Ngomongnya pengen ngajakin umat bersatu, tapi nyatanya kamu malah jadi tukang bikin umat terpecah-belah. Apanya yang ngajakin bersatu, hah?

Tapi kuakui, aku juga sering bandel waktu blogwalking ke blog-blog mereka. Kalau aku bertanya kepada “para tukang mengagungkan alirannya itu” kadang-kadang suka keterlaluan juga skenarionya. Kepada “para tukang” itu aku sering bertanya yang sebenarnya pengen menggiring ke toleransi di tingkah-laku mereka: “Siapa yang menjamin bahwa golongan kalian ini adalah golongan yang paling benar? Tuhankah atau cuma sekedar katanya pemuka-pemuka kalian?”

Biasanya jawaban mereka suka muter-muter. Nggak pa-pa, aku ikutin permainannya. Tapi begitu keadaan memungkinkan untuk mereka “terpaksa” menjawab sesuai dengan jawaban yang kuharapkan, skenarioku kembali berjalan. Pertanyaan tentang “siapa” itu kembali kutegaskan, dan hasilnya… Aku menuai kutukan, kekeke! (Itu juga sudah untung banget kalo komentarku ditampilin. Biasanya komentar-komentarku – yang pada akhirnya bertipe skak-mat – malah nggak ditampilkan, entah karena betul-betul nggak bisa jawab atau apa. Jadi kalo dalam kasus tanya-jawab berkesinambungan, seakan-akan merekalah “pemenang” perdebatan antara aku dan mereka itu😈 )

Padahal kalau dipikir-pikir dan ditelaah lebih lanjut, pertanyaanku itu maknanya sederhana saja. Ketika mereka menjawab bahwa mereka pun cuma sebatas mengetahui dari orang yang dianggap lebih berilmu dari mereka, mereka akan kugiring pada suatu kesimpulan, “Oh, itu ternyata bukan jaminan dari Tuhan, kan? Itu cuma pendapat, kan? Kalau begitu ya mbok tolong hargai pendapat orang lain juga.” Toleransi.

Terserah kalau kalian mau hidup seperti jalan hidup yang kalian ambil sekarang ini, tapi tolong jangan suka mencacat jalan hidup orang lain yang kebetulan berbeda dengan jalan hidup kalian. Kalau kalian pengen menunjukkan jalan hidup kalian itu, sekali lagi, mohon lakukan dengan elegan tanpa harus menyinggung perasaan orang lain. Karena apa? Karena pendapat itu toh cuma sekedar pendapat. Pendapat bukanlah realita yang sebenarnya. Pendapat itu hanyalah hasil pemahaman terhadap suatu realita. Dan pemahaman tiap orang terhadap realita itu bisa berbeda-beda sesuai tingkat kecerdasannya. Ning yo mbok ra sah karo ngelek-ngelekke wong liyo nek kowe keroso uripmu luwih apik ketimbang wong liyo kui. Kalau kamu tidak sanggup menyampaikan pemahamanmu kepada orang lain dengan elegan, cukup simpan apa yang kamu yakini itu untuk dirimu sendiri.

Aku Islam berhubung aku berpendapat inilah jalan hidup yang paling cocok buatku. Dan aku pasti “meradang” kalau keyakinanku dihujat, karenanya aku nggak mau menghujat keyakinan orang lain.

Hell yeah, aku cuma pengen kita semua ini hidup saling menghormati terhadap keyakinan tiap orang yang mungkin berbeda-beda. Supaya apa? Supaya hidup ini tenang dan damai. Tapi ya nggak taunya mengajari seseorang yang sudah terbiasa makan dengan tangan tentang tabble-manner itu ternyata sulit sekali. Sulit banget mengajak orang yang sudah terdoktrin untuk mencoba berpikir di luar lingkaran doktrinnya.

Tobat…

Tembusan:

1. Mbak Rizma. Aku nulis kayak gini gara-gara mbaca komentar-komentar di tulisanmu itu. Kamu punya bakat juga jadi tukang dribel, nggak taunya. Top!

2. Wak Somad. Sudah…sudah, Wak! Kalau diladeni terus-terusan berantemnya sambil pakai gaya yang senada, ya ributnya nggak bakal selesai-selesai.

3. Mas Sora9n. Iya, iya. Ngajarin yang baik-baik (dan elegan) itu ternyata lebih susah daripada ngajarin orang lain mbajing, huehe.

4. Mas Abu Maulid. Anu, Mas, mbok lebih sering pakai azas praduga tak bersalah aja. Kalau sudah mulai tenang, mbok ya nggak usah dipancing-pancing lagi. Kesulitan mengartikan kata-kata saya? Jangan khawatir, masih ada Kamus Besar Bahasa Indonesia😉

58 Responses to “Islamku Model yang Mana?”


  1. 1 Herianto Oktober 25, 2007 pukul 1:48 pm

    Wah, kali ini kamu benar Joe…
    Memang kali lain – nya gmana ?:mrgreen:
    Kali lain kamu berhasil menyesatkan lebih dari 100rb unta-unta😀

    Yang penting kita tidak melakukan apa2 yg kita tidak suku orang lain melakukan itu…
    Apa ini termasuk ad-hominem ya Joe ?

    Gmana kalo kuliah kamu double aja Joe, yg satunya di IAIN …
    Yang terakhir OOT, bodo ah… 🙂

  2. 2 Herianto Oktober 25, 2007 pukul 1:52 pm

    Lah, saya tamu pratama ya ? Tumben…
    Semestinya kamu buat tembusan juga ke saya Joe, kita kan sama tapi beda aliran juga…

  3. 3 Herianto Oktober 25, 2007 pukul 2:00 pm

    Melihat 4 jenis orang2 yg terkena tembusan itu, saya melihat format-nya bisa mascam-macam : 3 – 1, 2 – 2, atau 1 – 3.
    Bahkan sesungguhnya setiap mereka yg berada pada aliran yg berbeda tsb, menurut saya muara dan lautnya [bisa saja] sama.
    Oh ya, rasanya saya belum ngomong : mohon ma’af lahir batin …

    #jangan2 hetriks nih#

  4. 4 Shelling Ford Oktober 25, 2007 pukul 2:10 pm

    hahahaha..selamat! memang hetrik, pak. mohon maaf lahir batin juga😀

  5. 5 sora9n Oktober 25, 2007 pukul 2:24 pm

    Wah, kena trekbek…. ^^;;

    Tapi ya nggak taunya mengajari seseorang yang sudah terbiasa makan dengan tangan tentang tabble-manner itu ternyata sulit sekali. Sulit banget mengajak orang yang sudah terdoktrin untuk mencoba berpikir di luar lingkaran doktrinnya.

    Lha, orang makan pakai tangan itu masih lebih gampang buat diajarin table manner. Kalau mereka ‘dilempar’ ke lingkungan bule (misalnya) perlahan-lahan mereka pasti menyesuaikan diri.

    Lain halnya dengan orang-orang yang berprinsip Pokoknya™ itu. Mereka cenderung bergaul dengan sesamanya dan menutup diri dari yang lain… makanya mereka lebih kaku dalam memegang kepercayaannya.😦

    Iya, iya. Ngajarin yang baik-baik (dan elegan) itu ternyata lebih susah daripada ngajarin orang lain mbajing, huehe.

    Masak sih?😛

    *nyoba ngajarin mbajing di blog aaah…*😆

  6. 6 Shelling Ford Oktober 25, 2007 pukul 2:32 pm

    aku pernah nyoba lho. ngajak sodaraku di udik buat maem steak. dia ga berkutik, kekekekekekekeke!😛

  7. 7 sora9n Oktober 25, 2007 pukul 2:43 pm

    @ joesatch

    Hmm, coba sodaranya dikirim selama setahun ‘berguru’ ke Eropa sono. Harusnya sih pas balik jadi udah lebih mahir…:mrgreen:

  8. 8 Agiek Oktober 25, 2007 pukul 4:41 pm

    just one word buat postingan mu ini joe, “MANTAF!!”

    kangen aku ambek tulisanmu sing model ngene-ngene iki😉

  9. 9 irdix Oktober 25, 2007 pukul 4:49 pm

    sabar Joe.. ora usah nangis..

  10. 10 abdulsomad Oktober 25, 2007 pukul 4:57 pm

    Assalamualaikum
    trekbek nya gak nyangkut joe

  11. 11 sigid Oktober 25, 2007 pukul 4:59 pm

    Sulitnya ya itu tadi, dituduh macam-macam, Bol!

    Lha ya mungkin karena orang-orang yang nuduh njenengan itu merasa dirinya lebih benar dari mas Joesatch atau orang lain yang tidak sepaham. Kasare merasa lebih baik dari orang lain disekitarnya.
    Di situ to, godaan-godaan itu masuk, lewat ego mas.
    Merasa paling ini paling itu.
    Ya kalau gitu mungkin susah mau menjadi rendah hati dan menghormati yang lain.
    Lha kadang saya juga heran, kok orang-orang yang kayaknya jarang sembahyang itu malah lebih toleran.

  12. 12 Mitarima Oktober 25, 2007 pukul 5:58 pm

    Salam kenal..
    Aku pernah bikin postingan yang temanya sama Om, tapi gak sebagus punya Om Joe Shishishishi… boleh ditengok disini kalo berkenan :
    http://kuropikokucha.blogs.friendster.com/mita_nich/2007/09/jalanjalan_di_d.html

  13. 13 danalingga Oktober 25, 2007 pukul 6:34 pm

    Yah, ber Islam aja sebaik-baiknya yang kamu bisa Joe. Toh yang tahu ke Islaman kamu ya cuma Dia toh.😀

  14. 14 savic Oktober 25, 2007 pukul 7:03 pm

    lha wong jelas2 agama samawi itu ada banyak kok…. semuanya bener… kalo sama ya engga.. wong jelas cara2 nya beda, tapi kalo persamaan nya seperti yang di tulis joe ya iya sih…
    semua agama samawi pasti berlandaskan Nurani, lha kalo udah gini pasti bener semua, kalo engga pasti berlawanan ama Nuraninya.. beres deh…

    yang jelas Tuhan nya ya cuman satu, nama Nya aja banyak….

    kita2 ini sering ketipu ama nama2 yang banyak itu, dikira kalo beda nama n beda cara artinya Tuhan (yang disembah) nya beda…

    lha kalo kamu meyakini Tuhan mereka lain ama kita itu kan artinya kamu meyakini ada 2 Tuhan to? ya pa ndak?

  15. 15 almirza Oktober 25, 2007 pukul 7:29 pm

    Saya tahu ternyata anda memang antek pluralis
    *kabur sambil tertawa*

    Uups balik lagi, ketinggalan
    Maaf,maaf saya lupa kalau anda orang baik-baik
    maaf,maaf saya salah anda sebenarnya antek liberalis

  16. 16 Shelling Ford Oktober 25, 2007 pukul 7:40 pm

    Agiek:::
    seandainya kamu itu perempuan cantiq…😛

    irdix:::
    nggak. kata orang tua, anak laki nggak boleh gampang nangis

    abdulsomad:::
    ooo… kalo itu sabar aja wak. trekbek dari mas amed buat saya berbulan2 yg lalu aja baru nyampe tadi pagi😀

    sigid:::
    betu, mas. betooooollll…
    saya sering juga ngerasa kayak gitu. temen saya yg jarang sembahyang adalah yg paling rajin nulungin saya (termasuk nggak pelit membagikan rokoknya):mrgreen:

    Mitarima:::
    bagus? mungkin gara2 nulisnya pake misuh segala, mbak. coba mbak nulisnya juga pake misuh, mungkin jadi mirip sama punya saya. berani ga, mbak? hehehehehe…
    btw, salam kenal juga😀

    danalingga:::
    aha, iya🙂

    savic:::
    betul, pik. penyebutan itu cuma masalah sreg2an aja. buat orang jawa tulen, nyebut “duh, gusti” kayaknya bakal lebih khusyuk dan meresap ketimbang ngomong “ya allah” atau “ya robb”

  17. 17 Shelling Ford Oktober 25, 2007 pukul 7:42 pm

    almirza:::
    mau ta’bacok? sudah dibilangin saya ndak suka pengkotak2an seperti itu:mrgreen:

  18. 18 Bambang Soebiawak Oktober 25, 2007 pukul 7:57 pm

    Astaghfirullah.

    Subhanallah.

    Audzubillahi minasyaitaanirrajiim.

    Awas pemikiran liberal!😆

  19. 19 Bambang Soebiawak Oktober 25, 2007 pukul 7:59 pm

    Ganyang pemikiran liberal, dirikan taliban hukum Allah di Indonesia… Tumbangkan demokrasi…

  20. 20 Bambang Soebiawak Oktober 25, 2007 pukul 7:59 pm

    Hetrik dulu, walau bid’ah dikit ga apa-apa…

  21. 22 trojan Oktober 25, 2007 pukul 8:06 pm

    Numpang corat-coret ya joe…

    buat aku sich, mau mereka jungkir balik juga gak masalah..
    kasarane pr*k lah…. asaal, asal.. ada asalnya juga.. heheheee..

    1. Asal tidak mengganggu Hak Asasi dan Privasi Orang lain

    2. Asal tidak melanggar hukum yang berlaku di Indonesia..
    Hukum yg mana???? ya hukum yg berlaku Di Negara Indonesia…
    Yaitu Hukum Publik, bukan Hukum Agama,bukan Hukum Adat, juga bukan
    hukum lainnya atau malah hukum buatan sendiri.. wekekekeee….

    Joe waktu aku comment Milan menang 4-1 lho…

    Peace… keep Smile😀

  22. 23 Shelling Ford Oktober 25, 2007 pukul 8:26 pm

    Bambang Soebiawak:::
    mbang, lebih baik kita main badminton lagi:mrgreen:

    trojan:::
    jgnkan jungkir balik, mau nyembah setan sekalipun aku bilang nggak juga nggak masalah. asal ndak ngisruh aja.

    milan menang 4-1-nya bukan lawan liverpool, kan?

  23. 24 almirza Oktober 25, 2007 pukul 9:15 pm

    mau ta’bacok? sudah dibilangin saya ndak suka pengkotak2an seperti itu

    Ampun,ampun wakakakak😆
    Gak suka kotak-kotakan
    Tenang-tenang jangan main bacok
    Ingat sesama Sesat bersaudara:mrgreen:

  24. 25 mardun Oktober 25, 2007 pukul 11:21 pm

    *liat komen diatasku*

    wah, Joe kayaknya lagi sengcok (senggol bacok) mode nih😛

  25. 26 zal Oktober 26, 2007 pukul 12:14 am

    ::hoh..hoh…cape…, kali ini kamu benar-benar panjang ngetiknya joe…, tangan pegel-pegel gosok dengan obat gosok cap keris..eh belum ada ya…., bikin joe…😆

    “Islam Model Yang Mana? “,
    ::ini keluaran terbaru joe, sudah pakai EFI, dan cc nya ditingkatkan menjadi 3000cc, cuma memang agak boros bensin…

    “Aku cuma pengen kehidupan di Endonesa ini kayak gitu aja,”
    :: iya aku juga pengen jadi anaknya raja fahd tapi engga kesampean, nyungsep ke perut ibuku…

    “Ngomongnya pengen ngajakin umat bersatu, tapi nyatanya kamu malah jadi tukang bikin umat terpecah-belah., ”

    ::ini memang kodrat joe, teori tam-tam buku, anak belakang tangkap satu, atawa perang grilya, kayak rambo, dipecah, untuk dihajar satu persatu…

    “Aku Islam berhubung aku berpendapat inilah jalan hidup yang paling cocok buatku. Dan aku pasti “meradang” kalau keyakinanku dihujat, karenanya aku nggak mau menghujat keyakinan orang lain….,”
    :: kalau aku malah sedang melakukannya…😆

    cermin joe ..cermin…senyum berbalas senyum, ngambek berbalas ngambek, bugil berbalas bugil…keh..keh… waong mantul koh..

  26. 27 hoek Oktober 26, 2007 pukul 1:18 am

    ah..kalo islamnya saia model yang umum saja, maksudna model islam KTP, mhuehuehue…..

  27. 28 almascatie Oktober 26, 2007 pukul 1:29 am

    pusing milih2….. padahalh yang bawa atu.. yang dibawa atu..

  28. 29 sandal Oktober 26, 2007 pukul 5:11 am

    maturnuwun tempurane😀😀

  29. 30 rozenesia Oktober 26, 2007 pukul 5:19 am

    Hehehee… *ketawa liat komen brother ‘Bambang’ si Biawak SUper*

    Susah itu, ya tulisan yang damai kayak gini dicap sesat oleh beberapa kalangan.😛

  30. 31 mee Oktober 26, 2007 pukul 7:27 am

    Ning yo mbok ra sah karo ngelek-ngelekke wong liyo nek kowe keroso uripmu luwih apik ketimbang wong liyo kui

    Poin pentingnya ini bukan si??
    Siip..maturnuwun mas Joe, nambah wawasan…

  31. 32 toim the shinigami Oktober 26, 2007 pukul 9:06 am

    Sedikit kritik ya, bung Joe:

    “terserah juga kalau mau memuja setan sekalipun, asalkan kamu nggak ngisruh dan merugikan orang lain!”

    Wah, ya nggak bisa gitu donk.Klo tiba2 ada org telanjang, atau ada pasangan muda mudi bermesraan di depan umum, kan nggak merugikan org lain.menurutmu gmn, Joe?

    “Kenapa Liverpool waktu tahun 2005 menguasai Eropa? Ya, karena AC Milan itu pecundang!”

    Asem iki, aku pendukung AC Milan je.Tapi ora opo2, wong buktine saiki AC milan berhasil nggebukin Liverpool di final Champions 2007.Jadi impas kan, Joe😛

  32. 33 hermawanov Oktober 26, 2007 pukul 10:15 am

    emang Islam ada model dan tipenya ya Joe?
    brarti kalo di-upgrade & tambahin fitur ntar pake “i” kayak hape tuh, atau kalo di-modipikasi racing ntar tambahin “X”, “R” atau “Z” di blakangnya kayak motor tuh😀

    yg jlas, kalo menurutku, gak ada tuh model-modelan, tipe-tipean, aliran-aliranan, yg ada ya cuma satu Islam, laen mboten. jadi gak usah ngaku aliran inih ituh, model ituh inih, ngaku aja Islam..thok..thil! Got it?!😀

    kapaaaan yaah..mreka tuh padha bersatu, di bawah panji yg sama, mosok harus nunggu di-gruduk Zionis dulu?!

  33. 34 CallMeKimi Oktober 26, 2007 pukul 10:25 am

    ngomongin toleransi yaaa?? pd gak bs toleransi ya?? ehmm,, jd inget quote baru nemu kemarin: “What is universally understood is that intolerance and hatred are wrong.”

  34. 35 Nenda Fadhilah Oktober 26, 2007 pukul 10:43 am

    Jadi inget grup fesbuk gw.
    “No sunni No shia! We are united Muslims”

  35. 36 hermawanov Oktober 26, 2007 pukul 11:32 am

    Btw, kalo seporter Liverpool gak ada aliran2 nya kan Joe, atau ada?
    Aku ikut aliran Bigreds je 😀
    waduh kok malah OOT kronis..

    you’ll never walk alone!

  36. 37 Mrs. Neo Forty-Nine Oktober 26, 2007 pukul 1:13 pm

    berarti, Islam banyak tipenya ya Joe?
    mohon bimbingan untuk hamba yang awam dan cantik ini…

  37. 38 bachtiar Oktober 26, 2007 pukul 1:17 pm

    islam dengan semua golongan yang saling menghujat itu justru hanya memecah belah umat islam tok . . . .

  38. 39 goop Oktober 26, 2007 pukul 2:22 pm

    “ Tanpa menghiraukan esensi agama mereka hanya bergulat pada tingkat syariat. Kunjungan mereka ke tempat-tempat ibadah hanya merupakan pameran belaka. Pembacaan kitab-kitab suci-pun hanya untuk memamerkan suara mereka.”

    “Jangan memaksa dirimu untuk mengikuti perilaku seorang nabi. Sebagai orang jawa sifat dasarmu sudah berbeda, dan sebenarnya kau tidak dapat meniru siapapun. Jangan sombong ataupun mengharapkan pujian. Apabila kamu berpegang teguh pada apa yang kamu pelajari selama ini,itupun sudah cukup untuk memperoleh karunia Allah.”

    “Sebagai manusia dengan segala keterbatasannya, sebaiknya kau menunaikan kewajibanmu dengan penuh kesadaran sesuai dengan kemampuan serta keahlianmu. Demikian pendapatku, seorang bodoh yang tidak sepenuhnya menguasi bahasa jawa, apalagi bahasa asing, namun tetap memberanikan diri untuk menyampaikan ajaran-ajaran ini kepada kalian.”

    “Banyak diantara kita yang percaya pada Tuhan karena takut pada akherat. Hanya sedikit diantara kita yang benar-benar menyintai Tuhan. Ada pula yang hanya mengharapkan pahala dan ganjaran, mereka lebih parah lagi, hubungan mereka dengan Tuhan adalah hubungan dagang.”

    -Wah maaf rada panjang kawan, tapi ini adalah kutipan dari tulisan seorang pujangga jawa Ronggowarsito namanya dalam sebuah karyanya berjudul Wedhatama, yang coba diterjemahkan oleh Anand Krishna-
    Selain yang diatas, masih banyak pula hal lain yang bagus disana. Goop bukan promosi buku itu, namun kekhawatiran ohm joe, saya dan yang lain ternyata sudah ada sejak jaman Ronggowarsito dulu, kita tidak ingin menjadi pintar sendiri, tapi bila table manner saja susah apa lagi yang ini agaknya, tetap semangat kawan.:mrgreen:

  39. 40 alex Oktober 26, 2007 pukul 3:22 pm

    Kalo aku pribadi, Joe, Islam itu panduan hidup untuk membuktikan eksistensi manusia kita, yang konon membuat Iblis iri dan dua malaikat bernama Harut dan Marut jadi ingin mencoba hidup di bumi.

    Selama masih menjalankan 5 rukun Islam dan percaya 6 rukun Iman, ya sudah… kenapa harus dikotak-kotakkan?

    Tapi… jika pengkotak-kotakkan tersebut sudah seperti para khawarij di zaman dulu, sampai penghalalan darah segala, aku juga bisa bersikap demikian, meski tujuannya cuma buat membela diri.😉

  40. 41 sundoro Oktober 26, 2007 pukul 5:12 pm

    Pusing juga baca tulisan mas Joe, tp lebih pusing lagi klo ditanya “Islamku Model yang Mana?”

    *garuk-garuk kepala*

    Gak tau mas jawabannya….😀

  41. 42 fertobhades Oktober 26, 2007 pukul 9:10 pm

    “Kenapa Liverpool waktu tahun 2005 menguasai Eropa? Ya, karena AC Milan itu pecundang!” Ya terang aja kalau kalian sebagai pendukung Liverpool bicara kayak gitu maka pendukung AC Milan bakal ngamuk.

    lho, saya kan pendukung keduanya. Jadi kalau ketemu di final lagi, ya silakan saja… saya senang-senang aja kok.🙂

    You’ll Never Walk Alone… *sial di LC kalah melulu*

    yang lain setuju aja sama Joe…🙂

  42. 43 The Devil Oktober 26, 2007 pukul 10:09 pm

    wah jon, nek dadi wong islam wae angele koyo ngene, nggawe agama anyar wae yuk, ben ra dihujat..

    ngko milih tuhan lewat voting wis…

  43. 44 celotehsaya Oktober 27, 2007 pukul 1:09 am

    saya Islam aliran bid’ah….

    lha piye jhon…amal gini dibilang bid’ah, amal gitu dibilang bid’ah, ndak beramal dibilang kafir…

  44. 45 celotehsaya Oktober 27, 2007 pukul 1:17 am

    *ngelamar jadi Tuhan*

  45. 47 U-This39 Oktober 29, 2007 pukul 1:12 pm

    lha trus aku kie termasuk Islam opo?

  46. 48 zam Oktober 29, 2007 pukul 8:59 pm

    buat antosal*** mana, joe?

    *kabur sambil mlintir jenggot*

  47. 49 Okto Silaban Oktober 31, 2007 pukul 2:44 am

    Pandangan yang sepertinya lebih mewakili orang indonesia umumnya..

  48. 50 Shelling Ford Oktober 31, 2007 pukul 11:48 am

    almirza:::
    antumlah yang tersesat!
    pandangan ana adalah kebenaran yang sebenar-benarnya. ana sudah dijamin masuk surga tanpa hisab! jgn bicara kalau tidak tahu ilmunya, akhi:mrgreen:

    mardun:::
    hahaha, lagi kepengen minum darah. mumpung ada orang yang (mungkin) darahnya halal. siapa tau habis ini saya bisa hidup abadi, seperti cita-citanya para siluman yang ngebet minum darahnya biksu tong😛

    zal:::
    hahahaha! jadi bagemana sebaiknya?

    hoek:::
    lho, kalo yang di ktp semua memang sama. tapi bisa jadi beda lho begitu ketemu dengan orang2 yang katanya pengagum syaikh ini syaikh itu

    almascatie:::
    masalahnya, porternya yang sering ribut pengen mbantuin bawa. berharap dengan berkesempatan ikut membawakan, mereka bisa langsung masuk surga tanpa hisab😀

    sandal:::
    maturnuwun juga buat harddisknya, hahahaha

    rozenesia:::
    mereka cuma nggak pernah buka kamus besar bahasa indonesia aja, gun. selalu menganggap hanya dengan membaca alqur’an bolak-balik mereka sudah pasti dapat memaknai dunia seisinya. padahal alqur’an hanyalah salah satu simbol dari kalamullah

    mee:::
    selalu menyenangkan bisa berbagi pandangan, mi😀

    toim the shinigami:::

    Wah, ya nggak bisa gitu donk.Klo tiba2 ada org telanjang, atau ada pasangan muda mudi bermesraan di depan umum, kan nggak merugikan org lain.menurutmu gmn, Joe?

    kata sapa ndak merugikan? misalnya saja, itu bisa merugikan seorang gadis yang adik kelas saya.
    sapa tau aja saya ngeliat adegan di atas itu dan mendadak horny dan gelap mata. akibat gelap mata saya langsung ke kos adik kelas saya dan memperkosanya di tempat. bayangkan, saya sudah merusak dan menodai adik kelas saya sendiri. betapa merugikannya…

    hermawanov:::
    liverpool juga terbagi-bagi, mas. ada yang jadi bek, kiper, gelandang, penyerang. tipe2 gelandangnya pun beda2. ada yang breaker, destroyer, playmaker, winger… tapi semuanya saling mendukung. analoginya di islam, antar aliran2 yang ada justru oknum2nya yang nggak saling mendukung tapi malah saling menjatuhkan.

    Mrs. Neo Forty-Nine:::
    tolong sediakan cokelat kembang tujuh rupa dan ayam goreng kentucky cemani dulu sebelum minta bimbingan dan petunjuk dariku

    bachtiar:::
    memang🙂
    setidaknya itu yang saya rasakan yang melatar-belakangi timbulnya tulisan saya

    goop:::
    setidaknya waktu jaman ronggowarsito belum ada internet😛
    jadi kebodohan nggak terlalu meraja-lela, kakaka

    alex:::
    sama. meradang cuma kalo diserang kan? makanya, aku selalu berusaha nggak nyari gara-gara duluan, huehe

    sundoro:::
    saya sih penilaiannya ta’pasrahin kepada yang berhak menilai, mas. kalo sama orang2 geblek yang sok-sokan itu ya berusaha prek sajalah, selama mereka nggak mulai nyenggol privasi duluan🙂

    fertobhades:::
    aghhhh…
    liverpool suram di LC. tapi milan pun suram di serie a kan, mas?😉

    The Devil:::
    pemilihan tuhan dan nabi berikutnya menanti tahun ajaran baru. sejauh ini, sampai besok, sayalah nabinya. mungkin besok ente bisa ndaftar juga setelah lolos dari persyaratan yang berlaku. tenang ae, nanti aku support kampanyenya😀

    celotehsaya:::
    sebenarnya sesuatu itu dinilai buruk oleh tuhan karena nggak ada dalilnya atau karena nggak ada manfaatnya, sih?
    saya juga (sedikit) bingung sama pola pikir “para tukang” itu

    M Shodiq Mustika:::
    seharusnya bisa. seperti guti hernandez yang bisa ditaruh di lini belakang, tengah, atau depan, tergantung problemnya. tapi statusnya dia tetap: pemain real madrid!😀

    U-This39:::
    kowe termasuk islam yang menderita obesitas, kakakaka!

    zam:::
    jenggotmu rung iso diplintir, zam! didawakke sik ben koyo albus dumbledore😛

    Okto Silaban:::
    artinya, sebenernya banyak yang kepengen hidup tenang, kan?😉

  49. 51 sora9n Oktober 31, 2007 pukul 12:03 pm

    @ Shelling Ford

    [OOT]

    aghhhh…
    liverpool suram di LC. tapi milan pun suram di serie a kan, mas?😉

    Eh, eh, Arsenal sukses dong di LC sama EPL…😛

    *tewas digebukin*

    [/OOT]

  50. 52 Shelling Ford Oktober 31, 2007 pukul 12:18 pm

    kalian cuma beruntung aja kemarin minggu!😛

  51. 53 RETORIKA November 1, 2007 pukul 1:11 am

    Setuju bung,… pertanyaan tersebut juga sering menghampiri saya,

    T.Agamamu Apa
    J.Islam

    T.Islam yang Mana ?
    J.Islam aja

    T.Wah gak boleh to mas, mesti punya mashab dan imam
    J.mashab … (garuk garuk kepala)

    T.Ia mashab
    J.Kalo imam saya ada …

    T.Nah iya, imam itu yang pegang mashab (ngelus2 jenggot)
    J.Imam … Samudra

    T.Wah sampean itu @#$@!!#!
    J…. (gak sempet jawab … langsung kabur…)
    :Mrgreen:

  52. 54 __bowo; November 1, 2007 pukul 6:15 am

    Assalaamu’alaikum
    “Kalau ada yang tanya, Islamnya Anda Islam yang bagaimana?” kata guru ngaji saya suatu kali. “Jawab saja,” lanjutnya. “‘Saya Islam'”. “Kalau masih ditanya terus-terusan, jawab saja ‘Islam alternatif'” katanya.

    Wassalaam

    __bowo;

  53. 55 sofwan {kalipaksi} November 19, 2007 pukul 9:04 am

    Islamku, ya Islamu, ya Islam kita semua…. (meminjam istilah Gus Dur). Salam….

  54. 56 M Shodiq Mustika November 21, 2007 pukul 5:51 am

    Kami mengundang Joe menjadi juri di http://muhshodiq.wordpress.com/2007/11/19/pemilihan-top-posts-september-oktober-2007/

    Sebagaimana juri lain, boleh memilih postingan sendiri, boleh pula postingan orang lain. Terima kasih.

  55. 57 ngtini November 27, 2007 pukul 9:11 pm

    Prinsip-Prinsip Mengkaji Agama
    Penulis: Al Ustadz Qomar ZA,LC
    Menuntut ilmu agama tidak cukup bermodal semangat saja. Harus tahu pula rambu-rambu yang telah digariskan syariat. Tujuannya agar tidak bingung menghadapi seruan dari banyak kelompok dakwah. Dan yang paling penting, tidak terjatuh kepada pemahaman yang menyimpang!

    Dewasa ini banyak sekali ‘jalan’ yang ditawarkan untuk mempelajari dienul Islam. Masing-masing pihak sudah pasti mengklaim jalannya sebagai yang terbaik dan benar. Melalui berbagai cara mereka berusaha meraih pengikut sebanyak-banyaknya. Lihatlah sekeliling kita. Ada yang menawarkan jalan dengan memenej qalbunya, ada yang mengajak untuk ikut hura-huranya politik, ada yang menyeru umat untuk segera mendirikan Khilafah Islamiyah, ada pula yang berkelana dari daerah satu ke daerah lain mengajak manusia ramai-ramai ke masjid.

    Namun lihat pula sekeliling kita. Kondisi umat Islam masih begini-begini saja. Kebodohan dan ketidakberdayaan masih menyelimuti. Bahkan sepertinya makin bertambah parah.
    Adakah yang salah dari tindakan mereka? Ya, bila melihat kondisi umat yang semakin jatuh dalam kegelapan, sudah pasti ada yang salah. Mengapa mereka tidak mengajak umat untuk kembali mempelajari agamanya saja? Mengapa mereka justru menyibukkan umat dengan sesuatu yang berujung kesia-siaan?

    Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai pewaris Nabi selalu berusaha mengamalkan apa yang diwasiatkan Rasulullah untuk mengajak umat kembali mempelajari agamanya. Dalam berbagai hal, Ahlussunnah tidak akan pernah keluar dari jalan yang telah . Lebih-lebih dalam mengambil dan memahami agama di manardigariskan oleh Nabi hal itu merupakan sesuatu yang sangat asasi pada kehidupan. Inilah yang sebenarnya sangat dibutuhkan umat.

    Berikut kami akan menguraikan manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah dalam mengkaji agama, namun kami hanya akan menyebutkan hal-hal yang sangat pokok dan mendesak untuk diungkapkan. Tidak mungkin kita menyebut semuanya karena banyaknya sementara ruang yang ada terbatas.

    Makna Manhaj

    Manhaj dalam bahasa Arab adalah sebuah jalan terang yang ditempuh. Sebagaimana dalam firman Allah:

    “Dan kami jadikan untuk masing-masing kalian syariat dan minhaj.” (Al-Maidah: 48)

    Kata minhaj , sama dengan kata manhaj . Kata minhaj dalam ayat tersebut diterangkan oleh Imam ahli tafsir Ibnu Abbas, maknanya adalah sunnah. Sedang sunnah artinya jalan yang ditempuh dan sangat terang. Demikian pula Ibnu Katsir menjelaskan (lihat Tafsir Ibnu Katsir 2/67-68 dan Mu’jamul Wasith).

    Yang diinginkan dengan pembahasan ini adalah untuk menjelaskan jalan yang ditempuh Ahlussunnah dalam mendapatkan ilmu agama. Dengan jalan itulah, insya Allah kita akan selamat dari berbagai kesalahan atau kerancuan dalam mendapatkan ilmu agama. Inilah rambu-rambu yang harus dipegang dalam mencari ilmu agama:

    1. Mengambil berfirman:Iilmu agama dari sumber aslinya yaitu Al Qur’an dan As Sunnah. Allah
    “Ikutilah apa yang diturunkan kepada kalian dari Rabb kalian dan jangan kalian mengikuti para pimpinan selain-Nya. Sedikit sekali kalian mengambil pelajaran darinya.” (Al-A’raf: 3)
    bersabda:rDan Rasulullah
    “Ketahuilah bahwasanya aku diberi Al Qur’an dan yang serupa dengannya bersamanya.” (Shahih, HR. Ahmad dan Abu Dawud dari Miqdam bin Ma’di Karib. Lihat Shahihul Jami’ N0. 2643)

    2. Memahami Al Qur’an dan As Sunnah sesuai dengan pemahaman salafus shalih yakni para sahabat dan yang mengikuti mereka dari kalangan :rtabi’in dan tabi’ut tabi’in. Sebagaimana sabda Nabi
    “Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian yang setelah mereka kemudian yang setelah mereka.” (Shahih, HR Bukhari dan Muslim)

    Kebaikan yang berada pada mereka adalah kebaikan yang mencakup segala hal yang berkaitan dengan agama, baik ilmu, pemahaman, pengamalan dan dakwah.

    Ibnul Qayyim berkata: “Nabi mengabarkan bahwa sebaik-baik generasi adalah generasinya secara mutlak. Itu berarti bahwa merekalah yang paling utama dalam segala pintu-pintu kebaikan. Kalau tidak demikian, yakni mereka baik dalam sebagian sisi saja maka mereka bukan sebaik-baik generasi secara mutlak.” (lihat Bashair Dzawis Syaraf: 62)
    Dengan demikian, pemahaman mereka terhadap agama ini sudah dijamin oleh Nabi. Sehingga, kita tidak meragukannya lagi bahwa kebenaran itu pasti bersama mereka dan itu sangat wajar karena mereka adalah orang yang paling tahu setelah Nabi. Mereka menyaksikan di mana dan kapan turunnya wahyu dan mereka tahu di mengucapkan hadits. Keadaan yang semacam ini tentu sangatrsaat apa Nabi mendukung terhadap pemahaman agama. Oleh karenanya, para ulama mengatakan bahwa ketika para shahabat bersepakat terhadap sesuatu, kita tidak boleh menyelisihi mereka. Dan tatkala mereka berselisih, maka tidak boleh kita keluar dari perselisihan mereka. Artinya kita harus memilih salah satu dari pendapat mereka dan tidak boleh membuat pendapat baru di luar pendapat mereka.

    Imam Syafi’i mengatakan: “Mereka (para shahabat) di atas kita dalam segala ilmu, ijtihad, wara’ (sikap hati-hati), akal dan pada perkara yang mendatangkan ilmu atau diambil darinya ilmu. Pendapat mereka lebih terpuji dan lebih utama buat kita dari pendapat kita sendiri -wallahu a’lam- … Demikian kami katakan. Jika mereka bersepakat, kami mengambil kesepakatan mereka. Jika seorang dari mereka memiliki sebuah pendapat yang tidak diselisihi yang lain maka kita mengambil pendapatnya dan jika mereka berbeda pendapat maka kami mengambil sebagian pendapat mereka. Kami tidak akan keluar dari pendapat mereka secara keseluruhan.” (Al-Madkhal Ilas Sunan Al-Kubra: 110 dari Intishar li Ahlil Hadits: 78].

    Begitu pula Muhammad bin Al Hasan mengatakan: “Ilmu itu empat macam, pertama apa yang terdapat dalam kitab Allah atau yang serupa dengannya, kedua apa yang terdapat dalam Sunnah Rasulullah atau yang semacamnya, ketiga apa yang disepakati oleh para shahabat Nabi atau yang serupa dengannya dan jika mereka berselisih padanya, kita tidak boleh keluar dari perselisihan mereka …, keempat apa yang diangap baik oleh para ahli fikih atau yang serupa dengannya. Ilmu itu tidak keluar dari empat macam ini.” (Intishar li Ahlil Hadits: 31)

    Oleh karenanya Ibnu Taimiyyah berkata: “Setiap pendapat yang dikatakan hanya oleh seseorang yang hidup di masa ini dan tidak pernah dikatakan oleh seorangpun yang terdahulu, maka itu salah.” Imam Ahmad mengatakan: “Jangan sampai engkau mengeluarkan sebuah pendapat dalam sebuah masalah yang engkau tidak punya pendahulu padanya.” (Majmu’ Fatawa: 21/291)

    Hal itu -wallahu a’lam- karena Nabi bersabda:
    “Sesungguhnya Allah melindungi umatku untuk berkumpul di atas kesesatan.” (Hasan, HR Abu Dawud no:4253, Ibnu Majah:395, dan Ibnu Abi Ashim dari Ka’b bin Ashim no:82, 83 dihasankan oleh As Syaikh al Albani dalam Silsilah As- Shahihah:1331]
    Jadi tidak mungkin dalam sebuah perkara agama yang diperselisihkan oleh mereka, semua pendapat adalah salah. Karena jika demikian berarti mereka telah berkumpul di atas kesalahan. Karenanya pasti kebenaran itu ada pada salah satu pendapat mereka, sehingga kita tidak boleh keluar dari pendapat mereka. Kalau kita keluar dari pendapat mereka, maka dipastikan salah sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Taimiyyah di atas.

    3. Tidak melakukan taqlid atau ta’ashshub (fanatik) madzhab. Allah berfirman:
    “Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (darinya).” (Al-A’raf: 3)

    “Dan apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah. Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Al-Hasyr: 7)

    Dengan jelas ayat di atas menganjurkan untuk mengikuti apa yang diturunkan Allah baik berupa Al Qur’an atau hadits. Maka ucapan siapapun yang tidak sesuai dengan keduanya berarti harus ditinggalkan. Imam Syafi’i mengatakan: “Kaum muslimin bersepakat bahwa siapapun yang telah jelas baginya Sunnah Nabi maka dia tidak boleh berpaling darinya kepada ucapan seseorang, siapapun dia.” (Sifat Shalat Nabi: 50)

    Demikian pula kebenaran itu tidak terbatas pada pendapat salah satu dari Imam madzhab yang empat. Selain mereka, masih banyak ulama yang lain, baik yang sezaman atau yang lebih dulu dari mereka. Ibnu Taimiyah mengatakan: “Sesungguhnya tidak seorangpun dari ahlussunnah mengatakan bahwa kesepakatan empat Imam itu adalah hujjah yang tidak mungkin salah. Dan tidak seorangpun dari mereka mengatakan bahwa kebenaran itu terbatas padanya dan bahwa yang keluar darinya berarti batil. Bahkan jika seorang yang bukan dari pengikut Imam-imam itu seperti Sufyan Ats Tsauri, Al Auza’i, Al Laits bin Sa’ad dan yang sebelum mereka atau Ahlul Ijtihadyang setelah mereka mengatakan sebuah pendapat yang menyelisihi pendapat Imam-imam dan Rasul-Nya, danIitu, maka perselisihan mereka dikembalikan kepada Allah pendapat yang paling kuat adalah yang berada di atas dalil.” (Minhajus Sunnah: 3/412 dari Al Iqna’: 95).

    Sebaliknya, ta’ashshub (fanatik) pada madzhab akan menghalangi seseorang untuk sampai kepada kebenaran. Tak heran kalau sampai ada dari kalangan ulama madzhab mengatakan: “Setiap hadits yang menyelisihi madzhab kami maka itu mansukh (terhapus hukumnya) atau harus ditakwilkan (yakni diarahkan kepada makna yang lain).”

    Akhirnya madzhablah yang menjadi ukuran kebenaran bukan ayat atau hadits. Bahkan ta’ashub semacam itu membuat kesan jelek terhadap agama Islam sehingga menghalangi masuk Islamnya seseorang sebagaimana terjadi di Tokyo ketika beberapa orang ingin masuk Islam dan ditunjukkan kepada orang-orang India maka mereka menyarankan untuk memilih madzhab Hanafi. Ketika datang kepada orang-orang Jawa atau Indonesia mereka menyarankan untuk memilih madzhab Syafi’i. Mendengar jawaban-jawaban itu mereka sangat keheranan dan bingung sehingga sempat menghambat dari jalan Islam [Lihat Muqaddimah Sifat Shalat Nabi hal: 68 edisi bahasa Arab)

    4. Waspada dari para da’i jahat. Jahat yang dimaksud bukan dari sisi kriminal tapi lebih khusus adalah dari tinjauan keagamaan. Artinya mereka yang membawa ajaran-ajaran yang menyimpang dari aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah, sedikit atau banyak. Di antara ciri-ciri mereka adalah yang suka berdalil dengan ayat-ayat yang belum begitu jelas maknanya untuk bisa mereka tafsirkan semau mereka. Dengan itu mereka maksudkan menebar fitnah yakni menyesatkan para pengikutnya. Allah berfirman:
    “Adapun yang dalam hatinya terdapat penyelewengan (dari kebenaran) maka mereka mengikuti apa yang belum jelas dari ayat-ayat itu, (mereka) inginkan dengannya fitnah dan ingin mentakwilkannya. Padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah.” (Ali-Imran: 7)

    Ibnu Katsir mengatakan: “Menginginkan fitnah artinya ingin menyesatkan para pengikutnya dengan mengesankan bahwa mereka berhujjah dengan Al Qur’an untuk (membela) bid’ah mereka padahal Al Qur’an itu sendiri menyelisihinya. Ingin mentakwilkannya artinya menyelewengkan maknanya sesuai dengan apa yang mereka inginkan.” (Tafsir Ibnu Katsir: 1/353]

    5. Memilih guru yang dikenal berpegang teguh kepada Sunnah Nabi dalam berakidah, beribadah, berakhlak dan mu’amalah. Hal itu karena urusan ilmu adalah urusan agama sehingga tidak bisa seseorang sembarangan atau asal comot dalam mengambilnya tanpa peduli dari siapa dia dapatkan karena ini akan berakibat fatal sampai di akhirat kelak. Maka ia harus tahu siapa yang akan ia ambil ilmu agamanya.

    Jangan sampai dia ambil agamanya dari orang yang memusuhi Sunnah atau memusuhi Ahlussunnah atau tidak pernah diketahui belajar akidah yang benar karena selama ini yang dipelajari adalah akidah-akidah yang salah atau mendapat ilmu hanya sekedar hasil bacaan tanpa bimbingan para ulama Ahlussunnah. Sangat dikhawatirkan, ia memiliki pemahaman-pemahaman yang salah karena hal tersebut.

    Seorang tabi’in bernama Muhammad bin Sirin mengatakan: “Sesungguhnya ilmu ini adalah agama maka lihatlah dari siapa kalian mengambil agama kalian.” Beliau juga berkata: “Dahulu orang-orang tidak bertanya tentang sanad (rangkaian para rawi yang meriwayatkan) hadits, maka tatkala terjadi fitnah mereka mengatakan: sebutkan kepada kami sanad kalian, sehingga mereka melihat kepada Ahlussunnah lalu mereka menerima haditsnya dan melihat kepada ahlul bid’ah lalu menolak haditsnya.” (Riwayat Muslim dalam Muqaddimah Shahih-nya)

    bersabda: rNabi
    “Keberkahan itu berada pada orang-orang besar kalian.” (Shahih, HR. Ibnu Hibban, Al Hakim, Ibnu Abdil Bar dari Ibnu Abbas, dalam kitab Jami’ Bayanul Ilm hal:614 dengan tahqiq Abul Asybal, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’:2887 dan As Shahihah:1778)

    Dalam ucapan Abdullah bin Mas’ud:
    “Manusia tetap akan baik selama mereka mengambil ilmu dari orang-orang besar mereka, jika mereka mengambilnya dari orang-orang kecil dan jahat di antara mereka, maka mereka akan binasa.” Diriwayatkan pula yang semakna dengannya dari shahabat Umar bin Khattab. (Riwayat Ibnu Abdil Bar dalam Jami’ Bayanul Ilm hal: 615 dan 616, tahqiq Abul Asybal dan dishahihkan olehnya)

    Ibnu Abdil Bar menukilkan dari sebagian ahlul ilmi (ulama) maksud dari hadits di atas: “Bahwa yang dimaksud dengan orang-orang kecil dalam hadits Umar dan hadits-hadits yang semakna dengannya adalah orang yang dimintai fatwa padahal tidak punya ilmu. Dan orang yang besar artinya yang berilmu tentang segala hal. Atau yang mengambil ilmu dari para shahabat.” (Lihat Jami’ Bayanil Ilm: 617).

    6. Tidak mengambil ilmu dari sisi akal atau rasio, karena agama ini adalah wahyu dan bukan hasil penemuan akal. Allah berkata kepada Nabi-Nya:
    “Katakanlah (Ya, Muhammad): ‘sesungguhnya aku memberi peringataan kepada kalian dengan wahyu.’.” (Al-Anbiya: 45)
    “Dan tidaklah yang diucapkan itu (Al Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (An-Najm: 3-4)

    Sungguh berbeda antara wahyu yang bersumber dari Allah Dzat yang Maha Sempurna yang sudah pasti wahyu tersebut memiliki kesempurnaan, dibanding akal yang berasal dari manusia yang bersifat lemah dan yang dihasilkannya pun lemah.

    Jadi tidak boleh bagi siapapun meninggalkan dalil yang jelas dari Al Qur’an ataupun hadits yang shahih karena tidak sesuai dengan akalnya. Seseorang harus menundukkan akalnya di hadapan keduanya.

    Ali bin Abi Thalib berkata: “Seandainya agama ini dengan akal maka tentunya bagian bawah khuf (semacam kaos kaki yang terbuat dari kulit) lebih utama untuk diusap (pada saat berwudhu-red) daripada bagian atasnya. Dan sungguh aku melihat Rasulullah mengusap bagian atas khuf-nya.” (shahih, HR Abu Dawud dishahihkan As-Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abu Dawud no:162).
    Pada ucapan beliau ada keterangan bahwa dibolehkan seseorang mengusap bagian atas khuf-nya atau kaos kaki atau sepatunya ketika berwudhu dan tidak perlu mencopotnya jika terpenuhi syaratnya sebagaimana tersebut dalam buku-buku fikih. Yang jadi bahasan kita disini adalah ternyata yang diusap justru bagian atasnya, bukan bagian bawahnya. Padahal secara akal yang lebih berhak diusap adalah bagian bawahnya karena itulah yang kotor.

    Ini menunjukkan bahwa agama ini murni dari wahyu dan kita yakin tidak akan bertentangan dengan akal yang sehat dan fitrah yang selamat. Masalahnya, terkadang akal tidak memahami hikmahnya, seperti dalam masalah ini. Bisa jadi syariat melihat dari pertimbangan lain yang belum kita mengerti.

    Jangan sampai ketidakmengertian kita menjadikan kita menolak hadits yang shahih atau ayat Al Qur’an yang datang dari Allah yang pasti membawa kebaikan pada makhluk-Nya. Hendaknya kita mencontoh sikap Ali bin Abi Thalib di atas.

    Abul Mudhaffar As Sam’ani menerangkan Akidah Ahlussunnah, katanya: “Adapun para pengikut kebenaran mereka menjadikan Kitab dan Sunnah sebagai panutan mereka, mencari agama dari keduanya. Adapun apa yang terbetik dalam akal dan benak, mereka hadapkan kepada Kitab dan Sunnah. Kalau mereka dapati sesuai dengan keduanya mereka terima dan bersyukur kepada Allah yang telah memperlihatkan hal itu dan memberi mereka taufik. Tapi kalau mereka dapati tidak sesuai dengan keduanya mereka meninggalkannya dan mengambil Kitab dan Sunnah lalu menuduh salah terhadap akal mereka. Karena sesungguhnya keduanya tidak akan menunjukkan kecuali kepada yang haq (kebenaran), sedangkan pendapat manusia kadang benar kadang salah.” (Al-Intishar li Ahlil Hadits: 99)

    Ibnul Qoyyim menyimpulkan bahwa pendapat akal yang tercela itu ada beberapa macam:
    a. Pendapat akal yang menyelisihi nash Al Qur’an atau As Sunnah.
    b. Berbicara masalah agama dengan prasangka dan perkiraan yang dibarengi dengan sikap menyepelekan mempelajari nash-nash, serta memahami dan mengambil hukum darinya.
    c. Pendapat akal yang berakibat menolak asma’ (nama) Allah, sifat-sifat dan perbuatan-Nya dengan teori atau qiyas yang batil yang dibuat oleh para pengikut filsafat.
    d. Pendapat yang mengakibatkan tumbuhnya bid’ah dan matinya Sunnah.
    e. Berbicara dalam hukum-hukum syariat sekedar dengan anggapan baik dan prasangka.
    Adapun pendapat akal yang terpuji, secara ringkas adalah yang sesuai dengan syariat dengan tetap mengutamakan dalil syariat. (lihat, I’lam Muwaqqi’in: 1/104-106, Al- Intishar: 21,24, dan Al Aql wa Manzilatuhu)

    bersabda: r7. Menghindari perdebatan dalam agama. Nabi
    “Tidaklah sebuah kaum sesat setelah mereka berada di atas petunjuk kecuali mereka akan diberi sifat jadal (berdebat). Lalu beliau membaca ayat, artinya: ‘Bahkan mereka adalah kaum yang suka berbantah-bantahan’.” (Hasan, HR Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahili, dihasankan oleh As Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no: 5633)

    Ibnu Rajab mengatakan: “Di antara sesuatu yang diingkari para Imam salafus shalih adalah perdebatan, berbantah-bantahan dalam masalah halal dan haram. Itu bukan jalannya para Imam agama ini.” (Fadl Ilm Salaf 57 dari Al-Intishar: 94).

    Ibnu Abil Izz menerangkan makna mira’ (berbantah-bantahan) dalam agama Allah adalah membantah ahlul haq (pemegang kebenaran) dengan menyebutkan syubhat-syubhat ahlul bathil, dengan tujuan membuat keraguan padanya dan menyimpangkannya. Karena perbuatan yang demikian ini mengandung ajakan kepada kebatilan dan menyamarkan yang hak serta merusak agama Islam. (Syarh Aqidah Thahawiyah: 313)

    Oleh karenanya Allah memerintahkan berdebat dengan yang paling baik. Firman-Nya:
    “Ajaklah kepada jalan Rabb-Mu dengan hikmah, mau’idhah (nasihat) yang baik dan berdebatlah dengan yang paling baik.” (An-Nahl: 125).

    Para ulama menerangkan bahwa perdebatan yang paling baik bisa terwujud jika niat masing-masing dari dua belah pihak baik. Masalah yang diperdebatkan juga baik dan mungkin dicapai kebenarannya dengan diskusi. Masing-masing beradab dengan adab yang baik, dan memang punya kemampuan ilmu serta siap menerima yang haq jika kebenaran itu muncul dari hasil perdebatan mereka. Juga bersikap adil serta menerima kembalinya orang yang kembali kepada kebenaran. (lihat rinciannya dalam Mauqif Ahlussunnah 2/587-611 dan Ar-Rad ‘Alal Mukhalif hal:56-62).

    Perdebatan para shahabat dalam sebuah masalah adalah perdebatan musyawarah dan nasehat. Bisa jadi mereka berselisih dalam sebuah masalah ilmiah atau amaliah dengan tetap bersatu dan berukhuwwah. (Majmu’ Fatawa 24/172)

    Inilah beberapa rambu-rambu dalam mengambil ilmu agama sebagaimana terdapat dalam Al Qur’an maupun hadits yang shahih serta keterangan para ulama. Kiranya itu bisa menjadi titik perhatian kita dalam kehidupan beragama ini, sehingga kita berharap bisa ?beragama sesuai yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

    ( http://www.asysyariah.com/print.php?id_online=67 )
    DarusSalaf.or.id © 2005 Bontang – Indonesia


  1. 1 Blonjo Kupat : Pestanya Blogger Jogja « antobilang Lacak balik pada Oktober 25, 2007 pukul 9:09 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,032,449 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia