Jilbab, Jilbab Putih… (Part 2): Inkonsistensi dan Penyalahan Keadaan

*Pesan moral: nanggung itu nggak baik dan nggak enak.*

Jadi ada yang salah dengan tulisanku tentang cewek yang nyopot jilbab kemarin itu. Entah kenapa, ternyata aku gagal menyusun kalimat per kalimat yang bisa mewakili isi hatiku. Alhasil tulisanku jadi ditanggapi dengan spirit yang berbeda dengan yang kumaksudkan oleh banyak manusia.

Tulisanku kemarin – sumpah! – sama sekali nggak bermaksud membandingkan siapa yang lebih mulia antara cewek berjilbab dan cewek nggak pake jilbab. Lha ya bagaimana mau membandingkan kalau aku sendiri nggak punya kapasitas yang cukup untuk menghakimi. Aku cuma bisa bilang kalau aku lebih suka cewek yang berjilbab. Dan tentunya, suka nggak suka di sini adalah amat sangat subyektif. Selera orang kan beda-beda. Seleraku nggak bisa dijadiin parameter kalau setiap orang bakal menyukai apa yang aku sukai.

Aku baru berhak menghakimi nantilah kalau misalnya suatu saat Tuhan memberikan hak prerogatifnya kepadaku untuk mewakili-Nya menentukan pahala dan dosa manusia-manusia di bumi ini.

*Membayangkan berdiri di hadapan manusia-manusia yang bersujud didepanku sambil tanganku menunjukkan plakat/lencana ke-Tuhan-an yang dikuasakan kepadaku.*

Kembali pada tulisanku kemarin, kayak yang aku bilang bahwa aku nggak berhak menghakimi, maka lewat tulisanku yang ini aku mau menegaskan bahwa tulisanku kemarin bukan membahas perkara mana yang lebih mulia dan mana yang tidak lebih mulia. Tulisanku kemarin cuma pengen nunjukin mana yang kusenangi dan kekecewaanku ketika sesuatu yang kusenangi selama ini berubah menjadi sesuatu yang lebih tidak kusenangi (dan tentunya disertai pisuhan sedikit. Cukup normal untuk seorang Satrianto, kurasa).

Aku memang agak kecewa kalau ada cewek berjilbab yang memutuskan untuk melepas jilbabnya. Ya kecewa, karena kadar menyenangkannya jadi berkurang. Dan aku lebih kecewa lagi kalau ternyata alasannya melepas jilbab itu sungguh sangat bodoh dan kurang bisa dipertanggung-jawabkan validitasnya.

Alasan-alasan seperti “ternyata aku belum siap berjilbab”, aku pikir sungguh sangat semprul dan mengandung aroma menyalahkan keadaan di sekelilingnya dibanding mengakui kelemahan diri sendiri.

Untuk lebih jelasnya, lihatlah (eh, maksudku bacalah, ding!) permisalan yang aku ambil berikut ini.

Sebut saja hiduplah seorang anak muda bernama Bobong yang kuliah di jurusan Ilmu Komputer (Ilkomp). Bobong memilih kuliah di jurusan ini murni karena keinginannya sendiri. Bapak-ibunya sama sekali nggak pernah maksa Bobong untuk kuliah di jurusan ini. Bobong sendiri memilih jurusan ini karena pertimbangan gengsi. Diharapkan dengan kuliah di Ilkomp maka hal itu bisa mendongkrak posisi tawarnya di hadapan gadis-gadis.

Lewat 1,5 tahun kuliah, Bobong mulai menampakkan tanda-tanda kejenuhan. Dasarnya pemalas, walaupun sudah kuliah di Ilkomp, Bobong sampai sekarang masih saja buta pengetahuan komputer. Ditambah dengan latar belakangnya yang milih Ilkomp karena sekedar coba-coba, komplitlah segala keluh-kesah dari lakon kita pada kesempatan kali ini.

“Ternyata aku nggak siap kuliah di Ilkomp. Aku mau pindah kuliah aja,” keluh Bobong pada temannya yang bernama Bodong.
“Nggak siap gimana?” tanya Bodong.
“Ya kamu liat aja, sampai sekarang kemampuanku nggak nambah-nambah. Nggak seperti kamu. Kamu sudah jadi jagoan coding, sedangkan aku mau ngidupin komputer aja masih takut-takut.”
“Jadi kamu pengen pindah jurusan gara-gara kamu ngerasa nggak cocok? Nggak ada peningkatan, gitu?”
“Iya!” jawab Bobong.
“Kamu sudah pernah nyoba belajar coding?” tanya Bodong lebih lanjut.
“Belum. Coding itu kayaknya rumit, sih. Males aja ngeliat bukunya.”
“Kamu belum nyoba belajar sudah berani bilang nggak cocok kuliah di Ilkomp. Ya jelas aja kamu kepengen pindah, karena dari awal sebenarnya kamu nggak punya niat kuliah di sini. Seandainya kamu niat, kamu pasti bakal nyobain untuk mencintai bidang ilmu ini bagaimanapun sukarnya. Belum dicoba sudah bilang rumit. Belum belajar sudah bilang nggak cocok. Jadi niatmu masuk Ilkomp dulu itu sebenarnya apa, hah? Hah? Hah? Hah?”

Lihat, kan (eh, maksudku baca, dink)? Bobong nggak pernah nyoba untuk belajar coding, tapi dia menyalahkan coding yang menurutnya adalah sesuatu hal yang rumit, dan bukannya menyalahkan dirinya sendiri yang memang males untuk belajar. Siapa yang salah dalam hal ini? Bobong nggak pernah dipaksa buat masuk Ilkomp, semuanya keinginannya sendiri. Tapi sekarang Bobong malah menyalah-nyalahkan halangan di depannya.

Nggak jentel sekali, kan? Wong nggak ada yang maksa dia buat masuk Ilkomp, kok ya sekarang malah nyalah-nyalahin segala tantangan yang ada di Ilkomp. Mungkin alasan Bobong bakal bisa lebih diterima oleh Bodong seandainya Bobong nggak bilang kalau dia “nggak siap kuliah di Ilkomp”. Bilang saja kalau dia memang sudah nggak suka lagi kuliah di Ilkomp dan pengen pindah ke jurusan – misalnya aja – Teknik Geologi karena memang sekarang lebih suka di Geologi.

Makanya, setiap tahun aku selalu bilang ke pengurus baru lab mahasiswa di kampusku, adik-adik kelasku yang masih pesimis perihal kemampuan komputernya dengan kata-kata, “Jangan pernah khawatir dengan kemampuan kalian saat ini. Perkaranya bukan di bisa atau tidak bisa. Setidaknya kalian yang ada di sini adalah mahasiswa UGM semua. Kalian punya kemampuan yang lebih (entah lebih pinter nyontek ataupun lebih beruntung) ketimbang orang-orang yang nggak bisa masuk UGM. Jadi sekali lagi, perkaranya bukan di bisa atau tidak bisa kalian eksis di bidang ini, tapi lebih pada persoalan mau atau tidak mau. Ayolah, tunjukkan level kalian yang mahasiswa UGM ini kepada dunia luar!”

Nggak suka dengan nggak siap, menurutku ada perbedaan besar di antara keduanya. Nggak siap lebih sering diucapkan oleh orang yang pergi ke medan tempur lalu tiba-tiba kabur begitu mengetahui bahwa pasukan musuh lebih tangguh daripada pasukannya. “Wah, kita bukannya kabur, Dab. Kita nggak siap aja. Kita nggak tahu kalau mereka pada bawa AK-47. Lha kita? Kita cuma bawa clurit sama golok. Ngapain coba-coba ngelawan mereka, kita mah sudah pasti kalah.”

Sedangkan kalau nggak suka, menurutku, walaupun musuh cuma bermodalkan tangan kosong dan kita sendiri sudah bawa senapan mesin otomatis, kita tetap memilih untuk tidak menghadapinya sejak awal. Ya, kita memang nggak suka kalau ketemu dengan musuh itu, jadi memilih mendingan nggak usah berhadapan.

Artinya, nggak suka bisa berarti “punya kemampuan tapi menolak menghadapi”, sedangkan nggak siap berarti “menolak menghadapi hanya sebagai alasan karena pada dasarnya memang nggak punya kemampuan”.

Pake dan lepas jilbab juga kayak gitu. Makanya aku suka kecewa kalau ada yang ngelepas jilbab dengan alasan nggak siap (apalagi kalau dulunya nggak ada yang maksa dia buat berjilbab). Jilbab sudah dipake tapi begitu tahu bagaimana ekspektasi orang-orang di luar sana terhadap cewek berjilbab, akhirnya jilbabnya dilepas karena merasa nggak sanggup menanggung konsekuensi seperti itu. Misalnya aja, nggak sanggup untuk meninggalkan gaya hidup hedon sementara orang-orang di luar sana beranggapan bahwa cewek berjilbab nggak boleh bergaya hidup hedon. Jadi daripada diomongin orang, “Ih, berjilbab tapi kok gitu…” mending jilbabnya aja yang dicopot sekalian. Menyalahkan pandangan orang-orang terhadap dirinya? Bah!

Lagian, kalau berjilbab tapi nggak mau meninggalkan gaya hidup hedon, jadi niatnya berjilbab dulu itu sebenarnya gara-gara apa? Kalau memang takut atau nggak siap, ya mendingan jangan dilakukan daripada nanggung. Seperti kata-kata Ahmad Dhani (aku sebenernya nggak suka makhluk ini. Terlalu arogan, menurutku) yang sering diucapkannya di inpotenmen-inpotenmen seputar prahara rumah-tangganya dengan Maia, “Tidak pernah ada paksaan dalam beragama.”

Dibanding tipe cewek goblok di atas, aku bakal lebih suka dengan cewek yang ngelepas jilbabnya dengan alasan karena dia memang nggak suka make jilbab. Yang ini menurutku jauh lebih berkelas ketimbang tipe pelepas jilbab yang pertama. Yang ini – anggap saja – punya kemampuan untuk meninggalkan gaya hidup hedon dengan ataupun tanpa jilbab. Hidupnya nggak bergantung pada pandangan orang-orang di luaran. Dia ngelepas jilbab karena memang nggak suka. Karena gerah, misalnya. Ini jauh lebih punya sikap. Alasannya lebih valid dan sukar diganggu-gugat. Bukan sekedar karena kalau pakai jilbab itu berarti nggak boleh gini, nggak bisa gitu.

Untuk cewek tipe pertama, aku masih bisa mengkonter kata-katanya dengan, “Lho, kan memang harusnya gitu? Orang-orang pasti berharap kalau cewek berjilbab itu lebih bisa ‘jaga sikap’ dibanding yang nggak pake. Mbak harusnya udah tau kan konsekuensinya bakal kayak gitu? Jadi jilbabnya dilepas cuma gara-gara merasa nggak sanggup hidup dengan harapan kebanyakan orang-orang terhadap cewek berjilbab itu seharusnya bagaimana? Udah dicoba belum? Hah, belum? Wah, ente gampang banget nyerah ya, Mbak? Bahkan nyerah terhadap hal sebenernya belum dicoba untuk dihadapi. Nyerah terhadap fatamorgana ya, Mbak? Ckckckckck…”

Untuk cewek tipe kedua, aku cuma bisa bilang, “Waduh, gerah ya kalau pake jilbab? Ya…gimana ya… Saya nggak bisa bilang apa-apa lagi, Mbak, kalau Mbak memang ngerasa gerah.”

Jadi kurang-lebihnya demikianlah penjelasanku tentang tulisanku yang kemarin. Entahlah apa tulisanku ini bakal bisa dipahami sesuai yang kumaksud atau malah belum bisa dan rawan salah persepsi lagi. Akhir-akhir ini aku juga ngerasa tata bahasaku jadi agak ngaco, soale. Entah kenapa, aku sendiri juga tiada tahu. Tapi yang jelas, jilbab atau tidak yang kemarin itu, itu bukan perkara mana yang lebih mulia, tapi lebih ke perkara alasan goblok dan alasan cerdas, setidaknya menurutku.

Sebagai penutup, lebih ekstrimnya lagi, dalam kehidupan beragama yang lebih besar, dalam fanatismeku sebagai pemeluk Islam, aku suka nggak sreg kalau ada orang yang keluar dari agama Islam cuma gara-gara dia merasa nggak mampu menjalankan ajaran agama Islam yang dirasanya berat. Disuruh shalat ngerasa berat, disuruh puasa takut nggak kuat, disuruh zakat ngerasa eman-eman, disuruh naik haji ngerasa lebih enak ke Spanyol nonton Fantastic 4 di stadion Nou Camp. Itu cuma alasan orang-orang lemah yang nggak punya fighting spirit! Nyatanya manusia-manusia yang lain aja pada mampu, kok.

Aku lebih respek pada orang-orang yang keluar dari Islam dengan alasan bahwa ajaran Islam nggak cocok dengan prinsip hidupnya, dan ada ajaran lain yang lebih mengena di hatinya. Sekedar mengatakan bahwa Islam itu mendukung poligami atau malah mengatakan ajaran Islam itu penuh dengan kekerasan bakal lebih kuterima ketimbang alasan seperti nggak kuat puasa atau malas shalat.

Maturnuwun.

Iklan

49 Responses to “Jilbab, Jilbab Putih… (Part 2): Inkonsistensi dan Penyalahan Keadaan”


  1. 2 calonorangtenarsedunia Oktober 4, 2007 pukul 8:33 pm

    atas saya spam. :mrgreen:

    jilbab itu ga pernah dipaksa. kalo memang ga siap, jangan pakai. ketika mau pakai, pikirkan segala konsekuensinya termasuk masalah gerah. apapun alasannya, yg berhenti pake jilbab di tengah jalan berarti tidak memikirkan baik2 pilihan hidupnya.

  2. 3 Shelling Ford Oktober 4, 2007 pukul 8:39 pm

    setuju! setuju juga dengan spamnya…kekekekekekekeke!

  3. 4 chiell Oktober 4, 2007 pukul 8:43 pm

    Loh, kq baru tiga..?? Beneran ga nih…??
    Mas, py..??

  4. 6 abeeayang Oktober 4, 2007 pukul 9:04 pm

    yang jelas loe ya loe gue ya gue
    nyang penting loe kagak nyenggol gue 😆
    gitu ajah kok repot :mrgreen:

  5. 7 trojan Oktober 4, 2007 pukul 9:07 pm

    koq ra ono sing PERTAMAX??? 😀

  6. 8 chiell Oktober 4, 2007 pukul 9:21 pm

    Sing aku tanqa di posting sebelumnya….

  7. 9 danalingga Oktober 4, 2007 pukul 9:22 pm

    Kalo aku senang pada cewek yang melepas jilbab dengan alasan bahwa ternyata berjilbab yang di maksud Allah itu bukan seperti yang selama ini dia lakukan. 😆

  8. 10 trojan Oktober 4, 2007 pukul 9:26 pm

    aku udah mudeng maksudmu dari kemarin mas joe.. tapi menurut aku cerita atau perumpamaan yg ini masih belum mengena, dan “mungkin” pesan yang mas joe harapkan belum dapat di mengerti oleh kebanyakan orang..

    ini cuma penilaianku secara subjektif aja… maaf klo mungkin salah.. hohohohhohohooooo…

  9. 11 mardun Oktober 4, 2007 pukul 10:30 pm

    *tersindir*…. iya memang dulu waktu kuliah motivasiku cuma bikin seneng ortu. Akhirnya aku jadi stress gara-gara ngerasa bodoh sendiri.

    Tapi berhubung waktu itu aku ada kontak batin sama kamu Joe 😛 jadinya aku gak jadi mutung, akhirnya sekarang udah lulus 😛

    Memang ada keputusan-keputusan yang sifatnya One way ticket (seperti milih kuliah, berjilbab, amputasi, dll). Jadi kalau udah milih, sebisa mungkin komit dong 😀

  10. 12 almascatie Oktober 4, 2007 pukul 11:38 pm

    sayah sukah cewek berjilbab
    🙂

  11. 13 Athrun Oktober 4, 2007 pukul 11:58 pm

    hei Joe…
    numpang comment ki…
    klo aq sendiri masalah make ato ngelepas jilbab itu urusan masing2 orang, klo masalah alasan.. mungkin dia cuman pake alasan “blom siap” didepan mas Joe, siapa tau itu bukan alasan sebenernya…

    tapi Joe aq luwih sebel ama yang pake jilbab tapi kelakuane “macem-macem”, kadang mbatin.. mending gak pake jilbab sekalian…

    tapi itu cuman subjektif dari aku lho….
    gak tau yang lain gimana…

    joe kapan maen WE lagi….
    Aku wis latihan ki….

  12. 14 Rizma Oktober 5, 2007 pukul 8:19 am

    temen Ma dong! berenti pake jilbab gara gara katanya bikin dia migrain,, masalahnya, Ma blom nemu teorinya,, 😛

  13. 15 'K, Oktober 5, 2007 pukul 8:36 am

    walaupun dia lepas jilbab dengan alasan ga siap dll,menurutku masih lebih mending drpd dia trus berjilbab tapi kelakuannya aneh.at least dia mencoba untuk tidak munafik,walaupun sebaiknya kalo kita sudah memilih ya perjuangkanlah pilihan kita itu mati2an

  14. 16 'K, Oktober 5, 2007 pukul 8:36 am

    walaupun dia lepas jilbab dengan alasan ga siap dll,menurutku masih lebih mending drpd dia trus berjilbab tapi kelakuannya aneh.at least dia mencoba untuk tidak munafik,walaupun sebaiknya kalo kita sudah memilih ya perjuangkanlah pilihan kita itu mati2an

  15. 17 'K, Oktober 5, 2007 pukul 8:39 am

    koq ada 2,,tolong diapus 1 ya joe,maap

  16. 18 Joerig™ Oktober 5, 2007 pukul 9:49 am

    aku lebih suka yg ini daripada yg pertama … 😆 … lebih enak dibaca … 😆

  17. 19 emyou Oktober 5, 2007 pukul 10:15 am

    Sepakat ama ‘K,

    Lagian orang pake jilbab kan belum tentu karena pilihannya sendiri. Bisa jadi karena paksaan lingkungan macem mereka yang tinggal di aceh ato emang dibesarkan di lingkungan pesantren yang kental. Padhal belum tentu dia cocok dengan aturan-aturan macem gitu.

  18. 20 Kopral Geddoe Oktober 5, 2007 pukul 10:17 am

    Berarti menurut klarifikasi di atas, posisi jilbab di mata saudara itu merupakan fetish yang paralel dengan item-item lain seperti pantyhose, kaca mata, seifuku, atau pigtail? 😛

    *kabur sebelum direbus*

  19. 21 goop Oktober 5, 2007 pukul 11:42 am

    …Secara tidak langsung ohm joe, memberikan alasan yang “benar” kepada mereka yang ga jadi pake jilbab…semoga mereka yang melepas jilbab, dan mengikuti alasan ohm joe, yakni “tidak suka” benar-benar tidak suka pake jilbab, karena gerah (misalnya), dan bukan sedang mencari pembenaran jawaban sebenarnya yang didalam hati berkata “sebenarnya aku tidak siap??” :mrgreen:

  20. 22 koecing Oktober 5, 2007 pukul 12:17 pm

    bang joe ini sptnya bner2 pecinta cewek berjilbab yah.. dari pertama kali d’knal blog ‘n jalan2 ksini(wlo jarang komen) isinya sering menyinggung mslh jilbab. apa ini slh 1 cth btk konsistensi yah? -halah, g’penting-

  21. 23 tomblox Oktober 5, 2007 pukul 12:57 pm

    “Selamat berjuang Bang JOE!”

  22. 24 Herianto Oktober 5, 2007 pukul 1:27 pm

    Klarifikasinya bagus Joe…
    Tentu dengan ini kamu berharap tidak akan kehilangan simpati Tuhan teman2 … 🙂
    Apa ini maksudnya demi habblun minannas ya …

  23. 25 Rie Oktober 5, 2007 pukul 3:01 pm

    maz joe, ingat2 zaskia adyamecca…! he…he…

  24. 26 zal Oktober 5, 2007 pukul 3:45 pm

    ::joe…wis bali kowe…sehat…, oleh-olehe ndi… 😆

  25. 27 hmcahyo Oktober 5, 2007 pukul 4:45 pm

    uupss cool tags.. cool headline ..! 🙂

  26. 28 loommy Oktober 5, 2007 pukul 10:32 pm

    komen lagi komen lagi..

    terkadang orang harus dibenturkan dulu dengan yang namanya ‘coba-coba’ ibarat iklan sabun cuci itu ‘ngga kotor ya ngga belajar’, nah cuma yang dicoba ini adalah perintah Allah SWT, makanya jadi sensitif sekali..dan yaa, secara logika emang enak sih bilang, dan ‘seolah’ menghakimi..cuman cuman cuman, bukan saya mendoakan, jikalau mas joe ini berada dalam situasi tanpa hidayah dalam hal apapun, dan melakukan kebodohan dan menyadarinya belakangan, saya yakin ga bakal ada postingan ini..hehehe..buat saya, urusan agama, itu misteri dan menyangkut hak prerogatif Allah SWT, jd saya pribadi ngga ada urusan sama alasan ce lepas/pake jilbab. walopun secara pribadi saya sepakat dengan pendapat mas joe yang lebih suka ce berjilbab..sok atuh!

    pendakwah yang awalnya terpuruk dalam keburukan/kejahatan, kemudian bertobat, dakwahnya akan lebih meresap dan halus, daripada yang tidak pernah merasakan menjadi bajingan…heehehe

  27. 29 Shelling Ford Oktober 5, 2007 pukul 11:06 pm

    abeeayang:::
    betul. bakal nggak repot kalo dia itu nggak cantik, kekekekeke

    trojan:::
    regane larang yak’e
    nek kowe ra ngerti aku ra masalah, tro…kowe kan ge-be-el-ka, kakakaka! tapi ya miris juga kalo masih banyak yg belum paham 😛

    danalingga:::
    mbok diterangin, kira2 yang dimaksud sama gusti allah itu bagemana? :mrgreen:

    mardun:::
    one way ticket…seolah2 saya menemukan istilah yang tepat 😀

    almascatie:::
    sungguh mati saya juga

    Athrun:::
    mungkin juga. tapi seharusnya dia sadar kalo sdg berbicara dengan penyandang iq poin berapa, wakwakwak!
    lha piye, gung, dengan mbak disebelah yg kalo malem hobi keluar sambil tanktopan tapi kalo siang pake jilbab itu? 😛 kita sikat?

    Rizma:::
    mungkin tekanan batin, ma. ini sih bukan bidangnya anak kedokteran memang. mungkin lebih cocok buat anak psiko…wewewew… 😛

    ‘K,:::
    kadang2 ada permasalahan yg one way ticket itu lho…
    apa boleh buat, harapan yang populis adalah semakin alim, kan?
    tapi ya itu tadi. niat awalnya jadi mencurigakan 😛

    Joerig™:::
    ah, terima kasih, teh 😀

    emyou:::
    kalo perihal “keterpaksaan”, udah saya bahas di postingan saya pas sebelum postingan yang ini. ada dispensasi buat mereka 🙂

    Kopral Geddoe:::
    yeaaa…selera orang kan beda2. udah kubilang juga :mrgreen:

    goop:::
    hahahaha! semoga juga deh 😛

    koecing:::
    mungkin iya: konsistensi…
    wahahahahaha!

    tomblox:::
    eh, bukan saya lho yang berjuang sambil nutupin warung2 makan itu sambil bawa pentung, yg gara2 cuma pengen bulan puasa dihormati 😛

    Herianto:::
    mungkin lebih tepatnya disebut diplomatisasi, pak. takut, soale. ayat tuhan aja suka diplintir apalagi tulisan saya, hehehehehehehe

    Rie:::
    oh, dia selalu di hatiku, kok 😀

    zal:::
    aku ndak jalan2 kemana2 kok. belum…

    hmcahyo:::
    bgmn dgn contentnya? 😉

    loommy:::
    kekekeke, sekali lagi ini bukan penghakiman mana benar-mana salah. cuma skedar gatel aja thd mana alasan bermutu-mana yang kurang bermutu. tapi seperti kata mas mardun di atas, kdg2 ada yg sifatnya 1 way ticket yg kalo dilepas bakal jadi sedikit beresiko 🙂
    alhamdulillah, sampai skrg pun saya masih belajar mbajing lho :mrgreen:

  28. 30 nrkhlsmjd Oktober 6, 2007 pukul 12:57 am

    saya memilih untuk tidak berjilbab… *dicincang joe*

  29. 31 Puthzel Oktober 6, 2007 pukul 8:11 am

    Waduh…. masih dipanjangin lagi yach…??? bagus2… semoga dengan perbedaan pendapat ini Umat Muslim semakin erat silaturahminya..
    Amin..
    http://www.puthzel.com

  30. 32 Aday Oktober 6, 2007 pukul 1:25 pm

    Hehehe…
    Jilbab..jilbab…
    Dadi kelingan pas neng radikal,,kekekeke…

  31. 33 AmruL Oktober 6, 2007 pukul 5:59 pm

    Cewek tu baru bs diliat indah tubuh nya….
    Kalo gak pake pa2….
    Ngapain juga pake jilbab…

    *glek*..(ngebayangin ce2 bugil…)
    hihohihohiho….

  32. 34 hoek Oktober 7, 2007 pukul 10:57 am

    ah ya…joe?
    “Alasan-alasan seperti “ternyata aku belum siap berjilbab”, aku pikir sungguh sangat semprul dan mengandung aroma menyalahkan keadaan di sekelilingnya dibanding mengakui kelemahan diri sendiri.”
    emang kbanyakan wanita menafsirkan untuk menjadi “SUCI” sangadh baru bisa berjilbab…

  33. 35 nieznaniez Oktober 7, 2007 pukul 8:19 pm

    huhh.
    banyak sekali ya godaannya.
    semangadz !!

  34. 36 Mihael "D.B." Ellinsworth Oktober 8, 2007 pukul 12:13 pm

    “Melepas Jilbab karena tidak kuat dengan kekurangan yang harus dihadapi sama seperti orang yang menyerah sebelum perang.”

  35. 37 Gandunk Oktober 8, 2007 pukul 5:14 pm

    Saya punya sebuah teori yang saya rumuskan setelah melakukan analisis bertahun-tahun terhadap gejala cowok yg fetish terhadap jilbab.
    Menurut saya, akar permasalahannya terletak pada mode jilbab mini/jilbab uii yang (dg tegas) harus kita katakan bahwa itu bukan jilbab, karena jilbab ini justru menimbulkan penyalahgunaan (misuse) ketika dipakai. Ada sensasi yang beda ketika seorang ce memakai atau tidak memakai jilbab mini tersebut. lebih lanjut, teori saya ini lebih spesifik menelaah dari sisi anatomis.
    Ketika ce g pake jilbab, ia akan terlihat biasa2 aja karena bagian rambutnya dan tulang mukanya kelihatan. Dua bagian tubuh ini bisa menjadi bumerang bagi cewe, karena bagi ce yg wajahnya biasa2 aja, dua bagian tubuh ini menjadi titik lemah karena bisa memperjelek wajahnya. (Pengecualian bagi ce yang punya rambut Sunsilk, dan wajah di atas rata2).
    Ketika ce pake jilbab mini, selain dua bagian itu tertutup, ada satu faktor tambahan yg cukup penting, yaitu bahunya menjadi menonjol dan jadi eyecatching bagi indera penglihatan manusia. Objek bahu ini mendapat stimulus yg lebih besar ketika masuk dicerna sensor penglihatan kita yg terus masuk ke otak. Beda halnya bagi yg g berjilbab, bagian bahu tak mendapat sorotan (highlite) yg besar karena tumpang tindih dg bagian rambut dan muka (termasuk telinga dan leher) secara keseluruhan.
    Belum cukup sampe di situ, lebih jauh kalo dianalisis, bagian bahu ke bawah atau istilah jawanya adalah bleger merupakan struktur tubuh manusia (terutama ce) yg paling potensial memunculkan syahwat pria. Dimulai dari bagian dada (chest), pinggul (hip), dan kaki (leg) termasuk ke dalamnya: paha dan brutu. Ya bisa kita liat sendiri kan pada realitanya, fashion jilbab mini/jilbab uii punya kriteria2 itu semua, karena jilbabnya g cukup panjang sampe bawah dada, dan diperparah dengan celana jeans yang sempit untuk membungkus paha dan (maaf) brutunya.
    Maka dari ini, saya sebenarnya punya keprihatinan sekaligus inisiatif untuk tegas menyatakan: “katakan bukan jilbab bagi jilbab mini/uii, karena memang itu bukan jilbab (sumpah)”. Biar orang2 pada aware dan nayadar, sebelum terperangkap pada ketidaksadaran yg turun temurun kalo jilbab mini itu jilbabny Islam. Mereka berhak dan sah2 aja pake fashion jilbab mini/uii itu, tp jgn mengklaim bahwa mereka sudah berjilbab Islam. Biar fair lah, moso’ demi menyelamatkan fashion jilbab mini/uii yg salah kaprah dan berimplikasi parah,Islam yang kena..nggak fair kan..
    Sampe2 Sayyid Qutb aja komentar (bukan ttg jilbab mini/uii, krn dulu blm ada ky ginian), tp ttg ce2 Amerika, krn dulu S2-nya di Amerika, dia menghabiskan 4 taun di Amrik. Begini koment-nya:

    the American girl is well acquainted with her body’s seductive capacity. She knows it lies in the face, and in expressive eyes, and thirsty lips. She knows seductiveness lies in the round breasts, the full buttocks, and in the shapely thighs, sleek legs — and she shows all this and does not hide it.

    Terima kasih, matur nuwun..

  36. 38 secondprince Oktober 10, 2007 pukul 4:51 pm

    saya lebih suka yang berjilbab 😀

  37. 39 Meme Oktober 18, 2007 pukul 3:03 pm

    jilbab (hanya) satu dari kewajiban

    jilbab menurut mei bukan pilihan, karena hukumnya tegas, pilihannya ya mau menjalankan kewajiban apa tidak, kayak muslim tapi gak sholat *ada kan* islam tapi gak zakat …

    mei berjilbab karena Alloh telah dengan tegas menunangkannya dalan Al Quran, bukan masalah mei siyap ato tidak siyap *sebenere siyap ntu yang gimana tho?* jadi mei berjilbab karena Alloh, bukan karena diri mei, yah kalo nurutin mei mah~~ *gak usah pake pakaian aja, boros beli mulu, hehehe just in my mind*

    Jangan Mendewakan Akal, gunakan Ilmu

  38. 40 calonorangtenarsedunia Oktober 18, 2007 pukul 3:40 pm

    @atas saya
    lucu… 😆

  39. 41 meme Oktober 18, 2007 pukul 4:40 pm

    yo ngguyu nok nek lucu 🙂

    mei seneng kok isan bikin @atas saya ketawa

  40. 42 nyamukbingung Oktober 19, 2007 pukul 10:04 am

    yaah pada akhirnya HIDUP adalah TENTANG MEMILIH..

    memang tidak bisa dipaksakan, tapi klo mw make, ya harus tau konsekuensinya lah ya?

  41. 43 mas agus Oktober 19, 2007 pukul 10:36 am

    setuju dengan atas saya

    Salah satu keistimewaan manusia dibanding hewan dan tumbuhan, adalah diberikan kekuasaan untuk memilih.
    Dan tentu saja setiap pilihan yang diambil itu ada konsekuensi yang jelas yang menyertainya.

    dan sekali menjatuhkan pilihan kita tidak bisa mundur lagi.

    In this life, there aren’t rewards nor punishment. There are only consequences.

  42. 44 kemaki Oktober 24, 2007 pukul 10:50 am

    kontolmu ngaceng yo nonton cewekpake jilbab seksi

  43. 45 Shelling Ford Oktober 24, 2007 pukul 10:58 am

    ya iyalah, namanya juga cowok. apalagi kalo jilbab dan seluruh kain penutup tubuh lainnya dilepas juga semuanya 😉

  44. 46 Yusuf KS Oktober 28, 2007 pukul 8:35 pm

    Kurang lebih sependapat dengan joe, meme, dll.
    Menutup aurat (luar dan dalam–>akhlaq dsb) adalah salah satu kewajiban bagi muslim/muslimah. Lalu, orangnya itu sendiri yang memilih apakah dia akan menutup aurat atau tidak.

  45. 47 H_JOY November 8, 2007 pukul 1:23 pm

    SETUJUUUU UNTUK BERJILBAB he he eh ehe huaka huakkuhuk uhuk .. sampe batuk nih …

    jilbab itu ‘memanusiaken’ MANUSIA, ‘mewanitaken’ WANITA, dan yang pasti ‘melelakiken’ LELAKI he hehe h ey ehe hueh hueek ah a…aduh…. uhuk uhuk

    kata kunci : JILBAB tidak sama dengan kerudung

  46. 48 ibnu Mei 22, 2008 pukul 11:09 pm

    cewe pake jilbab itu kalo nurut saya gmn ya… seksi n punya iner beauty apalagi kalo orangnya cakep tinggi n putih.. tapi lepas dari itu semua melihat pro-kontra di media, saya sangat benci melihat orang mempermasalahkan penggunaan jilbab, (yg suka\tdk suka jilbab). menurutku pakai jilbab itu hak begitujuga tdk pake jilbab juga hak, tdk usahlah orang mempermasalahkan, kaitan moral wanita yg pake jilbab, sprt misalnya harus jilbabin hatinya lah.. klo mau pake tinggal pake kalo mau copot tinggal copot, tdk usah menghubungkan dg moralitas segala macam. jilbab itu syariah, tetapi itu dari satu sisi, tdk bisa dinilai secara menyeluruh, apalagi keimanan (emangnya sinetron). biarlah jilbab mjd budaya muslim indonesia, cewe jilbab juga bisa gaul kok, liat aja banyak yg jadi presenter, ada juga si yg rusak..he..he..he tapi saya percaya(subjektif) cewe pake jilbab tetep RELATIF lebih baik… I LOVE MUSLIM GIRLS…..

  47. 49 ez13 Januari 13, 2013 pukul 12:21 pm

    ya setuju mbak
    tulisan ini masih nyambung dengan kondisi sekarang ya.
    menurut sayakalo cewek yang jilbab mini itu malah buat lebih nafsu pria, karena kesannya ada yg disembunyikan tapi mau diperlihatkan jadinya penasaran, (y)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,043,240 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia