Buat Apa Mati Kalau Masih Bisa Bertahan Hidup?

Pernah ngerasa kepengen mati, John? Alhamdulillah kalau belum. Kalau sudah, mendingan pikiran ente yang seperti itu ente buang jauh-jauh. Bukan apa-apa, perasaan kepengen mati itu cuma boleh dimiliki oleh orang yang memang layak mati. Kalau ente nggak yakin bahwa ente layak untuk mati, maka jangan mati! Matilah ente kalau ente sudah yakin bahwa kematian ente bakal membahagiakan orang banyak. Modarlah sampeyan kalau sampeyan sudah percaya bahwa kemodaran sampeyan bakal membawa kemaslahatan umat; seperti Wisanggeni, Antareja, atau Caranggana yang betul-betul mengimani bahwa kematiannya adalah bagian tumbal kemenangan Baratayudha para Pandawa.

Jadi aku punya teman cewek. Namanya – ah, sebut saja – Reen. Aku kenal dia gara-gara dia satu kumpulan sama mantan calon pacarku. Sama seperti mantan calon pacarku itu, Reen, buat cowok-cowok dengan level kekerean seperti aku, mungkin termasuk kategori “tidak tersentuh”. Yap, dia dilahirkan dari keluarga yang kaya. Amat sangat kaya buat ukuran anak muda yang shockbreaker depan-belakang motornya rusak parah sehingga tiap nyemplak di sadel bakal serasa naik vibrator, tapi masih belum punya uang buat ngganti shockbreaker semrawut itu.

Reen belum pernah ketemu beneran sama aku. Boleh dibilang pertemanan kami ini setengah maya. Cuma lewat SMS dan kadang-kadang telepon. Lewat situ aku jadi tahu kalau dia itu orang kaya, setidaknya dari ceritanya tentang perusahaan papanya yang tersebar mulai dari Jakarta, Bandung, Batam, Singapura, dan tidak ketinggalan di udiknya, Semarang.

Lewat situ juga aku bisa tahu tentang hobinya yang liburan ke luar negeri, bahkan sampai sempat membuatku iri dengan ceritanya tentang Italia, sebuah negara impianku ketika aku masih terobsesi suatu saat bakal memperkuat proyek Primavera-nya PSSI buat latihan di negerinya Gianfranco Zola itu. Mammamia!

Pokoknya aku bakal kesulitan menghadapi gaya hidup seperti itu kalau aku harus pacaran dengan cewek-cewek seperti dia.

Itu nggak masalah, sih, sebenarnya. Toh dia cuma temanku. Aku juga nggak lagi naksir dia. Jadi, apa yang harus dipersoalkan? Setidaknya sampai beberapa jam yang lalu.

Tadi Reen dan aku telepon-teleponan. Dia curhat. Katanya dia lelah dengan segala kehidupannya. Ngakunya, dia capek dengan kesibukannya ngurusin bisnis papanya yang – lagi-lagi – menurut pengakuannya mengharuskan dia mondar-mandir dari 1 kota ke kota lainnya, dari 1 negara ke negara lainnya. Ditambah dia merasa bahwa dia seharusnya nggak melakukan itu semua karena masih mahasiswa di salah satu universitas swasta di Jakarta, maka kecapekannya jadi berkuadrat.

Aku bilang sama dia, jangan lihat negatifnya terus-terusan. Di luar sana banyak sarjana yang masih nganggur yang butuh kerjaan. Seharusnya dia bersyukur karena dia sudah punya semua yang diimpikan oleh para pengangguran itu.

Tapi dia malah bilang, aku bisa ngomong seperti itu karena aku nggak merasakan apa yang dia rasakan. Maka selanjutnya kutawarkan bagaimana kalau seandainya kami bertukar posisi.

“Gue pengen tahu kehidupan lo itu seperti apa?” tanyanya.

Kujawab, hidupku biasa-biasa aja. Khas mahasiswa kere. Aku nggak bisa sekali dugem ngabisin duit berjuta-juta. Dibanding dugem, aku lebih memilih nongkrong di angkringan atau burjo. Pokoknya sebisa mungkin mengakali bagaimana caranya senang-senang tapi nggak ngabisin uang. “Kamu pernah makan di angkringan?” tanyaku

“Apa itu angkringan?” tanyanya balik.

“Yah, semacam warung dengan gerobak kecil terus pake tenda. Di dalamnya jualan nasi bungkus kecil pakai sambal sa’iprit. Lauknya yang sebangsa gorengan atau sate usus dijual terpisah. Nongkrong di situ enak. Mencermati dan bergaul dengan orang-orang dengan latar belakang yang selama ini dianggap sebagai golongan kelas bawah itu menarik,“ jawabku.

“Iiih…” Komentarnya seperti gumaman orang yang jijik terhadap suatu hal.

Bisa kumaklumi, mungkin selama ini dia tidak pernah hidup seperti itu. Hidupnya bergelimang kemewahan, seperti kesimpulanku. Jadi mana mungkin dia pernah membayangkan bakal nongkrong di tempat seperti yang sering kutongkrongin. Toh beredar di klub-klub malam, minum Red Label, dan sesekali mengkonsumsi inex dan morfin – seperti pengakuannya – pastilah lebih nyaman, menurutku.

“Nah, kamu jangan menilai kehidupan orang lain itu lebih enak dari kehidupanmu, dong,” kataku.

“Tapi gue bener-bener capek, Joe. Gue pengen mati aja rasanya,” keluhnya dengan nada memelas.

Bleh! Pengen mati? Mendengar dia ngomong kayak gitu, rasanya aku jadi agak gimana. Cuma gara-gara capek ngurus perusahaan papanya aja dia bilang sampai kepengen mati. Bah, apa dia nggak tahu, kalau di luar sana banyak yang kepengen berada di posisinya? Setidaknya dia toh impas antara yang dikerjakannya dengan apa yang didapatnya. Dia bisa pesiar keliling dunia, bisa beli apartemen mewah di Jakarta, bisa beli tas mungil di Paris yang menurut pengakuannya seharga 50 juta kalau dikurskan dalam rupiah.

“Di Tanggulangin sana, kalau cuma mau nyari kerajinan kulit, kamu bisa dapatin dengan harga yang jauh lebih murah,” komentarku. Dia cuma mencibir.

Jadi aku nggak ngerasa Reen itu pantas mati. Sama sekali nggak pantas. Setidaknya, dengan kekayaannya, dia nggak bakal khawatir esok hari bakal makan atau nggak. Di luaran sana malah banyak yang masih khawatir, begitu matahari pagi terbit, bakal makan apa. Hidupnya nggak mengharuskan dia untuk mati, jadi buat apa dia kepengen mati? Cuma karena capek ngurusin perusahaan papanya? Bah, alasan pecundang! Menurutku, orang yang nggak pernah merasakan bagaimana penderitaan yang sebenarnya tidak boleh merasa menderita.

Buktinya, dia toh masih mikir-mikir untuk hidup dengan kapasitas yang levelnya bahkan cuma seperti kehidupanku, apalagi dengan standar yang lebih di bawah. Yang nggak pernah menatap apa yang ada di bawahnya tidak berhak untuk merasa terpuruk sedemikian dalamnya.

Aku nggak yakin apa Reen pernah memangku seorang anak kecil yatim piatu lalu bercanda dengannya. Aku nggak yakin Reen pernah benar-benar berbagi kesenangan dengan yang kesusahan. Aku nggak yakin dia pernah merasakan gimana rasanya nggak punya apa-apa. Jadi, apa alasannya untuk menganggap hidupnya itu melelahkan? Setidaknya sekali-sekali pandanglah ke bawah. Biasakanlah untuk mensyukuri apa yang kita dapatkan. Kalau kita terus-terusan merasa negatif, ya sampai kapanpun hidup kita nggak akan pernah positif.

“Gue lagi nggak punya uang, Joe,” katanya.

“Nggak punya uangmu dengan nggak punya uangku itu beda, lho.”

“Kok beda?”

“Ya beda. Aku baru bilang nggak punya uang kalau di dompet dan ATM-ku benar-benar nggak ada uangnya. Tapi kamu, di ATM-mu masih ada uangnya, kan?”

Reen mungkin memang tipe orang yang sulit untuk menyadari bahwa dirinya sudah begitu dilimpahi kesenangan sama Tuhan. Dia mungkin lupa kalau dia sempat tinggal di Amerika selama 2 tahun. Dia mungkin juga lupa kalau dia pernah di Cina selama 1 tahun selepas SMA untuk belajar bahasa yang diklaim sebagai bahasa ibunya. Dia mungkin lupa kalau di luar lingkungannya sangat banyak orang yang tidak mendapat kesempatan sepertinya.

“Gue mau ke Spanyol, Joe, liburan Natal nanti,” akunya.

“Wew… Enak, ya? Aku cuma bisa kepengen aja kalo yang kayak gitu.”

“Lo mau? Lo ikut aja kalau gitu. Rame-rame, kok. Sama Lindsey, sama Rachel juga.”

“Nggak. Aku nggak punya uang,” kataku.

“Gue bayarin, deh.”

“Heh, mau mbayarin aku kok tadi bilang nggak punya uang?”

“Ya maksudnya, gue bayarin lo tiketnya. Tapi kalau buat makan ya lo tanggung sendiri.”

“Nggak, ah. Bahkan untuk makannya aja aku nggak punya uang. Mending aku di sini, di Jokja. Di tempat di mana aku bisa ngerasa jadi orang kaya daripada nggembel di negeri orang. Lagian kamu aneh, bisa mbayarin aku tiket kok ngaku nggak punya uang?”

“Lo nggak tau gue, sih, Joe. Gue tuh bingung nanti shoppingnya pakai uang dari mana. Gue kalo shopping bisa gila-gilaan. Lo tahu gue pernah digampar mama gara-gara beli tas di Paris yang harganya 50 juta itu…”

Ah, payah banget, kan? Cuma gara-gara khawatir nggak bisa shopping macam-macam aja sudah ngerasa kayak orang paling miskin di dunia. Cuma gara-gara capek urusan bisnis aja sampai kepengen mati. Kalau sudah begini, terpaksa aku harus mengamini kata-kata teman esemaku yang sekarang sudah sukses buka usaha sendiri: “Mas, kita itu beda dengan orang kaya yang kaya karena orangtuanya. Kita bakal kaya karena usaha kita sendiri. Antara orang yang kaya karena orangtuanya dan orang kaya yang kaya karena hasil perjuangannya sendiri, etos kerjanya berbeda. Kita bakal lebih mampu menghargai keadaan.”

Tapi bagaimanapun, sebejat apapun, semanja apapun, Reen tetap temanku. Meskipun dia kadang-kadang mencibir sikap nrimoku, meskipun sering berkata-kata kasar dan juga mesum, meskipun gaya hidupnya barat abis sedangkan aku masih memegang toto-kromo coro Jowo, meskipun dia mengataiku sebagai munafik hanya gara-gara aku masih perjaka sedangkan dia sudah sering bersex-party bahkan menghabiskan 5 juta dalam semalam untuk menyewa gigolo bule cuma gara-gara sedang sendirian di apartemen dan terjebak dalam keadaan horny, dia tetap temanku. Yang harus kulakukan mungkin cuma sedikit “mengajarinya” tentang bagaimana caranya supaya lebih mensyukuri hidup.

“Tapi kalo kamu memang pengen mati, aku janji aku bakal nangis di pemakamanmu,” kataku yang langsung disambut caci-makinya.

Ah, Reen, seandainya aja kamu bukan seperti kamu yang sekarang ini, mungkin kamu sudah kupacarin dari kemarin dulu…😛

63 Responses to “Buat Apa Mati Kalau Masih Bisa Bertahan Hidup?”


  1. 1 antobilang Agustus 28, 2007 pukul 11:27 am

    ah, membayangkan jadi bule gigolo..😀

  2. 2 dnial Agustus 28, 2007 pukul 11:51 am

    Memang jadi orang kaya itu susah ternyata…
    Jadi miskin apalagi…

  3. 3 toim the shinigami Agustus 28, 2007 pukul 12:11 pm

    bagus bgt postingan-nya.Kirain crita gini cuman ada di sinetron, ternyata ada beneran….

  4. 4 Fadli Agustus 28, 2007 pukul 1:10 pm

    Emangnya mati itu enak😀

  5. 5 almas Agustus 28, 2007 pukul 1:25 pm

    alhamdulillah…… *:mrgreen: *

  6. 6 feranitta Agustus 28, 2007 pukul 1:46 pm

    Wah, ternyata ada yaa orang yg seperti itu… ngga nyadar sama rezeki yg udah dikasih sama ALLAH…
    ck..ck..ck… harusnya kan disyukuri…🙂

  7. 7 venus Agustus 28, 2007 pukul 2:11 pm

    jangan minder gitu dong joe😀

  8. 8 Mihael "D.B." Ellinsworth Agustus 28, 2007 pukul 2:11 pm

    Doh, orang kaya memang terlalu banyak memikirkan mati, karena hidupnya cenderung membosankan…

    Gara – gara pemusatan kekayaan..😕

  9. 9 cK Agustus 28, 2007 pukul 2:14 pm

    wew…harusnya dia liburan ke afrika tuh…

  10. 10 Mrs. Neo Forty-Nine Agustus 28, 2007 pukul 2:16 pm

    kowe sik perjaka?
    gak percoyo…

    ada yang bilang -entah bener entah nggak- kalo cowok itu keperjakaannya sudah hilang di tangannya sendiri
    😆 😆😆

    bener nggak?

  11. 11 arya Agustus 28, 2007 pukul 2:21 pm

    berani idup itu lebih susah dari berani mati.
    eh, sepakat tuh sama komentar antobilang

  12. 12 lambrtz Agustus 28, 2007 pukul 3:03 pm

    suruh aja homestay di rumahmu joe, biar tau rasanya jadi temen deket kamu.
    habis itu giliranmu homestay di rumah dia :p

  13. 13 setanalas Agustus 28, 2007 pukul 3:25 pm

    katanya perempuan pertamamu adalah tangan kirimu joe?

  14. 14 Shelling Ford Agustus 28, 2007 pukul 3:45 pm

    antobilang:::
    mau operasi plastik, nto? habis itu jgn lupa ke mak erot sekalian. biar makin meyakinkan😛

    dnial:::
    setidaknya, bersyukurlah karena berada di posisi yang lebih baik ketimbang di posisi yang lebih tidak baik🙂

    toim the shinigami:::
    ada beneran lho, mas…
    sumpah!

    Fadli:::
    ndak tau, mas. saya belum pernah mati, soale😛

    almas:::
    bagus…bagus…

    feranitta:::
    bukan sekedar “ternyata ada”, mbak. tapi memang masih banyak tipe orang yg kayak gitu, hehehehehe

    venus:::
    nggak minder kok, mbok. beberapa tahun lagi toh klub2 sepakbola besar di eropa bakal berebut supaya saya memperkuat tim mereka

    Mihael “D.B.” Ellinsworth:::
    iya ya… nggak ada tantangan. mau apa2 gampang dapetnya, termasuk kepuasan batin, kekekekeke!

    cK:::
    ethiopia atau uganda, begitu?😀
    lha wong dijak ngangkring aja masih mikir2 kok mau ke afrika. kalopun ke sana mungkin mintanya ke mesir atau maroko, deh😛

    Mrs. Neo Forty-Nine:::
    ya, deh:mrgreen:

    arya:::
    hooo…mau operasi plastik juga?

    lambrtz:::
    nanti kalo dia horny aku yang repot, mbrtz! kekekekekeke!

    setanalas:::
    tangan kiri? ah, salah, hahahaha

  15. 15 deKing Agustus 28, 2007 pukul 3:46 pm

    Ah…cobaan berupa kenikmatan memang tidaklah mudah.
    Seringkali orang lebih mampu mnghadapi cobaan berupa musibah kan?

    Ternyata ada juga orang yang satu hobi denganku ya…makan di burjo dan angkringan. Menyelami warna-warni kehidupan berbagai lapisan masyarakat.

  16. 16 tiarap atau mati Agustus 28, 2007 pukul 4:33 pm

    ngomong2 soal cobaan dan survival jadi inget film the SAW 1,2 dan 3. hehehe bagus tuh pelem.

  17. 17 aad Agustus 28, 2007 pukul 5:06 pm

    pancen manungso itu sering anggka puas dikasih ini masih minta yang itu…

  18. 18 faizal Agustus 28, 2007 pukul 6:01 pm

    Tulisan ini mengajari kita untuk tetap bersyukur dalam setiap keadaan.
    Joe…tak tunggu cerita2 riil-mu selanjutnya. sip2…

  19. 19 chandra Agustus 28, 2007 pukul 6:36 pm

    itulah susahnya..
    kalo dia bisa lebih menerima dengan apapun yang sudah dia punya dengan begitu gampangnya, pasti dia mungkin bisa lebih bersyukur dan gak berkeluh kesah lagi. Insya Allah.

  20. 20 danalingga Agustus 28, 2007 pukul 6:49 pm

    Kenalin gue donk joe.😆

    Kalo saya rasa sih si reen ini belum merasakan mukjijat dari penjual sarbet😀 .

  21. 21 Nyonya Farid Agustus 28, 2007 pukul 7:02 pm

    Mrs. Neo Forty-Nine:::
    ya, deh:mrgreen:

    jadi, dengan ini dirimu mengakui bahwa dirimu tak lagi perjaka?

    *tertawa puwas sambil lirikin blogger blogger cowok*

  22. 22 obeth Agustus 28, 2007 pukul 8:49 pm

    Bukan berarti semua kekayaan menjawab segalanya tentang kata “Sungguh bahagia hidup di dunia ini”

  23. 23 cool ratton Agustus 28, 2007 pukul 10:04 pm

    aduh joee…..kenalin donk ma aye…🙂
    50 jt beli tas….??!! adsense cepek aja lum tembus2 mpe sekarang
    ko rada sombong ya kancamu.
    sekalian kenalin ma gerrard,lampard,ballack,sheva,terry yang gajinya semiliar seminggu biar nyambung omongannya.
    kalo gitu aku si mending gaul sama giyono n slamet aja di angkringan krangkungan condong catur depok sleman yogyakarta indonesia. kere tapi bahagia. sambel se-iprit, sate se-puluh he..he.. sama aja mahal🙂

  24. 24 kudzi Agustus 28, 2007 pukul 10:23 pm

    Wah joe tulisannya ngga nyinggung ane kan ?
    predikat yang kamu kasikan ke aku itu ngga bener joe…
    awas ya….

  25. 25 Shelling Ford Agustus 28, 2007 pukul 10:46 pm

    deKing:::
    walopun sehobi, tapi saya wegah ngangkring bareng situ. kecuali ada wedhokan cakepnya juga

    tiarap atau mati:::
    wah, saya belum nonton semua. tapi kalo american pie malah sudah sampai yg terakhir😛

    aad:::
    pancen, ad

    faizal:::
    bukan aku yg ngajarin lho. tapi malah keadaan yg ngajarin kita, hehehehehe😀

    chandra:::
    yah, itulah susahnya jadi manusia😛

    danalingga:::
    lho, mau jadi gigolo juga? hahahahaha

    Nyonya Farid:::
    oh, bukan begitu. ini cuma supaya anda puas kok, hehehehe

    obeth:::
    tapi setidaknya, dengan kekayaan, kita nggak harus berpikir, “besok aku bisa makan atau enggak, ya?”
    ya kan?🙂

    cool ratton:::
    hahahaha, mending jangan kenalan sama dia kalo nggak punya kuping baja😀
    tapi nomer hapenya ada kok. gimana, berminat juga jadi gigolo?

    kudzi:::
    nyinggung kamu? wah, tulisan ini bukan ttg kamu kok. coba dipikir, buat apa aku telp2 + smsan sama kamu, ji?:mrgreen:

  26. 26 vend Agustus 28, 2007 pukul 11:40 pm

    ada yang nyebut2 semarang. mana, mana *celingukan*

    btw, btw btw,,
    hidup itu, cuma bisa dirasakan nikmatnya dengan bersyukur🙂

  27. 27 joyo Agustus 29, 2007 pukul 4:50 am

    pernah juga pengen mati, tpi gara2 mo tau mati tu gimana dan apa, selain pengen ketemu tuhan, huehehehe.

  28. 28 kudzi Agustus 29, 2007 pukul 5:43 am

    Maksudnya ceritanya mas… bukan pelaku di dalam ceritanya…
    Kalo boleh nanya ? kamu udah siap mengahadapi mati belom ?

  29. 29 sandalian Agustus 29, 2007 pukul 8:15 am

    wah, episode kali ini semakin menarik sodara-sodara.. bagaimana ya cerita selanjutnya? jadikah Reen mati? siapakah pembunuhnya? *lho?*

    mending mati dalam hidup aja ah *siyul2*

  30. 30 CY Agustus 29, 2007 pukul 8:47 am

    Nah.., sekarang sudah ngerti kan Joe apa yg dimaksud dgn “neraka itu relatif” dan surga itu absolut pas di bagian gigolo2an huehehehe….

  31. 32 rijalabdullah Agustus 29, 2007 pukul 11:29 am

    Saya rasa itu wajar saja karena ada pepatah menyatakan bahwa Rumput di halaman tetangga selalu kelihatan lebih hijau. Kenapa demikian? Karena kita memandangnya dalam posisi horizontal, sedangkan rumput dihalam kita tampak gersang (tampak tanahnya) karena kita melihatnya vertikal. Betulkan?
    Tetapi saya mengira perasaan ini ada karena apa yang diperolehnya, yang dianggap sebagai kekayaan hari ini, merupakan istidraj atasnya dan nanti bila kurnia itu ditarikNya, maka tinggallah dia dalam keputusasaan. Gitu lho.

  32. 33 sanggang1979 Agustus 29, 2007 pukul 11:41 am

    No Comment aja deh….
    Soalnya Belum sempet baca he he he

  33. 34 wien Agustus 29, 2007 pukul 11:52 am

    Mas, tolong ini disampaikan buat Reen… Yang perlu dia lakukan cuma 2 hal. Pertama, menyadari kalo dia adalah orang yang sangat atau bahkan terlalu beruntung, sehingga dia juga harus menyadari bahwa ke-terlalu-beruntungan-nya itu ga normal, udah lebih. HARUS ada kompensasi di balik itu. Ga wajar rasanya kalo dia terlalu beruntung sementara banyak orang lain yang melarat, mau bernafas aja susah.
    Nah, kalo dia sudah menyadari hal itu, hal kedua yang perlu dia lakukan adalah : membagi keberuntungannya! Share, do something for other people! Kasih kerja buat orang miskin, bikin yayasan, ato kalo emang ga mau ribet, kasih aja duit ke panti asuhan, anymous bila perlu. Ato jadi orang tua asuh.
    All she has to do is share, and fix her mind, change the way she thinks! And I think, u are the right person to do that, since u act ur self as her friend! Just don’t let her waste her life, do you?^_^

  34. 35 lambrtz Agustus 29, 2007 pukul 2:59 pm

    wakakakakakak :))
    dia horny?
    ada 2 pilihan

    1. kamu melayani dia. toh kamu juga seneng kan (hayo jujur!!!), setidaknya saat itu. kalo ing tembe buri…ga tau ya :p

    2. kamu menolak. habis itu ada beberapa pilihan lagi
    a. mencarikan pria lain utk dijadikan pemuasnya
    b. kamu tinggal tidur, biar dia self service
    c. grujug dia pake air dingin, biar ga horny lagi
    d. dll

    ya ampun kok aku ngomonge ra tata ngene ya….
    kasihan dia lo joe, bersin 1000 jam, diomongin semua pangunjung blogmu

  35. 36 Mihael "D.B." Ellinsworth Agustus 29, 2007 pukul 5:21 pm

    Saya sih berpikir satu hal :

    “Hanya boleh mati, kalau Tuhan sudah rindu kepulanganmu.:mrgreen:

  36. 37 Kopral Geddoe Agustus 29, 2007 pukul 11:32 pm

    Cuman mau bilang; tarif saya ndak sampai lima juta.

  37. 38 Kopral Geddoe Agustus 29, 2007 pukul 11:38 pm

    *serius mode on*

    Namanya juga yang stress, mas. Kayaknya masalah psikolohi™ begini nggak sesimpel ‘dia ‘kan kaya raya, kenafa tidak bersyukur?’, atau seperti itu. Jangan buru-buru mengecapnya bodoh dan nggak pandai bersyukur, lah.

    Memahami orang itu nggak cukup dengan mengetahui latar belakang dan kisah-kisahnya, lho. Mungkin kurang perhatian, mungkin salah pergaulan, mungkin ini, mungkin itu… Walau di satu sisi ia beruntung (finansial, jelas), di satu sisi mungkin ia lebih siyal daripada kita.

    *serius mode off*

    Btw, ada skrinsyutnya nggak?😛

  38. 39 Kopral Geddoe Agustus 29, 2007 pukul 11:39 pm

    Duh, formatnya belepotan😦

    Sekalian hetrik, deh😛

  39. 40 Nayz Agustus 30, 2007 pukul 9:57 pm

    siapa yang udah pernah mati ? ngaku ? ngga ?

  40. 41 nieznaniez Agustus 30, 2007 pukul 10:54 pm

    wah, ndeso banget ya embaknya. Angkringan aja gatau. Aku malah mesa’ake sama jenis orang kaya gitu. Gatau angkringan, ga pernah ke warteg, mesti nyoba penyet aja blum pernah. padahal enak. ternyata si embaknya luwih ndeso timbang aku.

  41. 42 gudangku Agustus 31, 2007 pukul 3:40 am

    Wehehe..critone apik..(wah..nemoni..)Orang kaya yang miskin (kebahagiaan).

  42. 43 Heureuy™ Agustus 31, 2007 pukul 11:59 am

    “Enjoy life. There’s plenty of time to be dead.”
    – Anonymous

    atau ini …

    “Never take life seriously. Nobody gets out alive anyways.”
    – Anonymous

    *sorry kalo OOT*😆

  43. 44 wida Agustus 31, 2007 pukul 4:03 pm

    Orang biasanya takut mati ini malah kepengen mati hualaaaaa betapa seram nya dunia ini ck..ck..ck… ;p

  44. 45 fertobhades Agustus 31, 2007 pukul 10:14 pm

    “Nggak punya uangmu dengan nggak punya uangku itu beda, lho.”

    kebalikannya juga berlaku kan ? punya uang gaya mahasiswa dan punya uang gaya temanmu itu benar-benar beda😉

    *jadi ingat mahasiswa dulu, pas nerima kiriman bulanan jadi merasa orang terkaya di dunia, dan kalau akhir bulan habis, merasa orang terkere di dunia*😉

    [sok bijak = ON]

    uang bukan ukuran kebahagiaan

  45. 46 oddworld September 1, 2007 pukul 7:54 am

    Makanya orang-orang kaya tetap saja memiliki problem hidup. Agar masih merasa ‘hidup’. Perasaan ingin mati ini mungkin bagian dari problem yang sedang teman mas Joe hadapi (kok jadi muter ya🙂 )

  46. 47 Shelling Ford September 2, 2007 pukul 11:16 pm

    vend:::
    saya…saya…
    saya lho yang bilang semarang😛

    joyo:::
    paling ga mati karena punya alasan dan tujuan, mas. bukan mati sebagai pelarian🙂

    kudzi:::
    belum. belum siap kok. sumpah!😛

    sandalian:::
    wah, kalo saya sih lebih suka bertahan hidup mati2an, kekekekeke

    CY:::
    wakakakaka, iya

    Wong Djowo:::
    lho, nama ente reen bukan?😛

    rijalabdullah:::
    dalam beberapa kasus, wajar bukan berarti sesuatu yang sah untuk dipertahankan, kan?😉

    sanggang1979:::
    sekarang sudah?

    wien:::
    yup, nanti saya sampaikan

    lambrtz:::
    ya…ya…nanti kamu kusms kalo dia minta dipuasin:mrgreen:

    Kopral Geddoe:::
    tentu saja, ged. aku nggak bisa bilang dia nggak pandai dalam suatu hal kalo dia memang belum tau tentang hal itu.
    aku nggak berhak bilang kamu geblek dalam bahasa C# kalo kamu sendiri memang belum pernah nyoba belajar C#, kan?

    skrinsyut? ah, jangan… ga enak. lha wong namanya aja ta’samarin😛

    Nayz:::
    saya belum pernah. sumpah! yakin!

    nieznaniez:::
    saya juga kasian lho. makanya kapan2 mau ta’ajakin, hehehehe

    gudangku:::
    uang ga menentukan kebahagiaan kan, mas? tapi memang bisa jadi sarana mempermudah segalanya. cuma saja, kadang2 hal yang kita anggap mudah belum mesti bisa kita taklukkan. waktu esde dulu, saya pernah yakin kalo nilai ulangan umum english saya bakal dapat 10. yakin banget malah. tapi toh nyatanya tetep ada yg meleset dan luput dari pengamatan saya

    Heureuy™:::
    lho, kata2nya bagus lho…

    wida:::
    mungkin karena seram jadinya malah pengen cepet2 kabur, wid…kekekeke!

    fertobhades:::
    yap! betul! hehehehehe

    oddworld:::
    ohohohoho…saya juga bingung…hohoho

  47. 48 calonorangtenarsedunia September 3, 2007 pukul 12:14 pm

    Kesiannya..ada masalah itu dia..udah, suruh konsultasi ke bang Fertob ajah..

    sini..sini..suruh ngamen ajah..hehe

    berfungsilah sebagai teman yang baik bagi dirinya, Nak.

  48. 49 beratz September 4, 2007 pukul 2:35 pm

    Hidup sekali aja udah susah makanya jangan dibuat susah. Kalo reinkarnasi nanti malah lebih susah.
    Caio joe

  49. 50 CY September 4, 2007 pukul 2:45 pm

    Dia suka baca buku ga Joe?
    Kalo suka minta dia baca bukunya DR Michael Newton Phd “Journey of souls”, habis baca mungkin dia ga bakal bilang pengen mati lagi lha. Dan bakal lebih menghargai kesempatan hidup yg dia dapet, apalagi dgn backup finansial segede itu.

    *heran sendiri, kok saya ngefans banget ama buku itu ya?*

  50. 51 calonorangtenarsedunia September 9, 2007 pukul 9:59 am

    @CY
    Pantes di mana2 kamu promosi buku itu..😆

  51. 52 nyamukbingung September 10, 2007 pukul 8:34 am

    Tuhan memang adil..orang kaya dan miskin sama-sama dikasi kesulitan dan kesenangan..meskipun dengan wujud yang berbeda

  52. 53 tiyokpras September 12, 2007 pukul 11:44 pm

    Jadi pengen lihat mukanya Reen…😀

    Ah, sendainya Joe dalam situasi seperti itu, Jeo bakal mumet trus mau bunuh diri juga gak ya?

  53. 54 mardun September 12, 2007 pukul 11:54 pm

    Kenalin sama aku dong Joe😛 siapa tahu aku bisa dibantu membantu😛

  54. 55 sigit September 13, 2007 pukul 3:02 pm

    aku malah sering di immpiin mati sama orang2

  55. 56 savic September 17, 2007 pukul 11:38 am

    hmmm…
    klo mo ngerasain idup ya harus “mati” dulu…

  56. 57 gogon November 27, 2007 pukul 4:44 pm

    Wah, memang banyak orang pengen mati aja.Beban hidup terasa berat.Kurang kasih sayang.kurang harta.kurang….Seharusnya yang dicari hidup. Hidup yang berjuang.Hidup untuk lebih berguna bagi banyak orang.Mau berkorban untuk orang lain.Beda-beda sih,maklum.Cewek gue juga pengen mati..lah!!!! Sampai2 kita baca ini artikel.Ohh, dunia….

  57. 58 Shelling Ford November 27, 2007 pukul 9:29 pm

    calonorangtenarsedunia:::
    tetap di posisi itu, tante!:mrgreen:

    beratz:::
    kalo saya sih selalu berusaha memandang hidup dari sisi lucunya😀

    CY:::
    dia mah hobi bikin puisi cinta. biasanya kalo mau ngirim ke cowonya, dikirim ke aku dulu buat dikoreksi, kekeke

    nyamukbingung:::
    ahaha, aku yakin itu, ry🙂

    tiyokpras:::
    dengan style saya saat ini, bolehlah saya optimis berkata “tidak”

    mardun:::
    serius mau nomer hapenya?

    sigit:::
    saya juga:mrgreen:

    savic:::
    ough…siti jenar banget😉

    gogon:::
    alhamdulillah…pacarnya masih bertahan hidup kan, mas?😀

  58. 59 egi Oktober 17, 2009 pukul 10:17 pm

    kata slank hidup bermewah2 nga ada guna nya mending kita sederhana aja


  1. 1 Gaji Saya Kemana ? « Chaos Region Lacak balik pada September 1, 2007 pukul 5:57 pm
  2. 2 Akan mati 24 jam lagi « M Shodiq Mustika Lacak balik pada September 3, 2007 pukul 2:17 pm
  3. 3 Pemilihan Top-Posts Juli-Agustus 2007 « M. Shodiq Mustika Lacak balik pada September 19, 2007 pukul 1:10 am
  4. 4 Inilah Top Indonesian Spiritual Posts (4) « M. Shodiq Mustika Lacak balik pada Oktober 6, 2007 pukul 3:02 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,033,018 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

Agustus 2007
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia