Gara-Gara Wanita, Laksmana (Juga) Merana

Kapan hari itu, aku sempat nulis tentang Bambang Sumantri yang karirnya nyaris bubar gara-gara wanita. Sekarang aku mau nulis lagi tentang laki-laki dalam dunia wayang yang celaka gara-gara wanita.

Tersebutlah putri dari kerajaan Mantili, anak Prabu Janaka, yang bernama Dewi Sinta. Cantik luar binasa, karena, konon, kondisi fisik seperti itu pastilah bakal dialami oleh setiap putri titisan Dewi Laksmi, istri Dewa Wisnu. Dewi Sinta ini di kemudian hari bakal disayembarakan demi memperoleh seorang suami yang berkualitas.

Sedangkan di kerajaan Ayodya, Dewi Sumitra, istri ketiga Prabu Dasarata, mempunyai anak kembar, yaitu Raden Laksmana dan Raden Satrugna. Laksmana berkakak tiri 2 buah. Yang pertama bernama Raden Ramawijaya, anak dari Dewi Sukasalya, dan kebagian dititisi Dewa Wisnu, lalu yang kedua bernama Raden Bharata, anak dari Dewi Kekayi.

Sejak kecil, Laksmana lebih dekat kepada kakak tirinya yang pertama, Raden Ramawijaya. Di antara keempat anak Dasarata, mereka berdualah yang paling menonjol dalam hal ilmu perang yang diturunkan dari guru-guru privatnya yang dipanggil ke rumah oleh sang bapak.

Ketika mereka memasuki usia kawin, terutama Ramawijaya, mereka berdua pergi berkelana (tanpa gitar, karena mereka bukanlah Kak Haji Irama) masuk hutan-keluar hutan, membantu penduduk sekitar hutan tersebut yang masih terancam oleh raksasa-raksasa liar pengganggu ketentraman.

Laksmana ini orangnya nrimo banget. Dalam setiap lakon, dengan tabahnya dia menerima peran dari pak dalang sebagai tokoh back-upan buat kakaknya, Ramawijaya.

Ketika mendengar tentang sayembara putri Mantili, Laksmana juga setia mengiringi sang kakak mengadu nasib. Sayembara di Mantili pada waktu itu mempertandingkan kekuatan fisik para calon pelamar dengan cara barang siapa yang sanggup mengangkat dan merentangkan busur pusaka Mantili, maka dialah yang berhak sebagai suami Dewi Sinta.

Setelah berpuluh-puluh raja dan pangeran gagal mengangkat busur yang maha berat itu, dipanggillah nomor antrian Ramawijaya. Dan, hup! Busur yang katanya berat itu dengan entengnya diangkat, direntangkan, direntangkan, direntangkan, dan masih terus direntangkan sampai akhirnya… Krak! Busur itu patah jadi 2. Sorak-sorai membahana. Muka Prabu Janaka berseri-seri, calon mantunya ini ternyata seorang ksatria sakti. Dewi Sinta tersipu-sipu malu. Selain sakti, calon suaminya ini ternyata ganteng (tentu saja menurut versinya sendiri. Subyektif. Coba aja tanya sama pacarku siapa orang yang paling ganteng di dunia, jawabannya pasti aku!).

Syahdan, singkat cerita, akhirnya Dewi Sinta diboyong ke Ayodya. Sayangnya, di tengah jalan, rombongan mereka dicegat oleh seorang pendeta bertampang berangasan, Resi Ramabargawa, yang ngetop sebagai brahmana penjagal para ksatria. Hobi Ramabargawa ini aneh. Setiap bertemu dengan ksatria maka ksatria itu selalu ditantangnya berkelahi dengan dalih mencari jalan kematiannya. Alih-alih dia yang mati, semua ksatria yang ditantangnya justru kalah. Dan bahkan, Prabu Harjuna Sasrabahu yang juga titisan Dewa Wisnu itu malah modar di tangannya.

Bertemu Ramawijaya, Ramabargawa senang bukan kepalang. Di sisi lain, rombongan Ramawijaya mulai histeris memikirkan nasibnya mengingat reputasi Ramabargawa. Bagaimana tidak, seorang pendeta bertubuh tinggi besar, bertelanjang dada, berambut gondrong ala Gabriel Batistuta di masa jayanya, berkulit hitam kusam terbakar matahari, dan membawa panah serta kapak sebesar badan orang dewasa. Siapa coba yang nggak miris kalau bertemu makhluk seperti itu?

Tapi Ramawijaya dengan kalemnya meladeni tantangannya. Laksmana seperti biasa menjadi back-up, menonton dari bangku cadangan di pinggir lapangan. Setelah bak-buk-bak-buk berjurus-jurus, Ramawijaya terdesak. Gaya bertarungnya yang ortodoks tidak kuasa meladeni Ramabargawa yang bertipe slugger-fighter.

Ramawijaya melompat mundur ke belakang, mengambil jarak, dan mulai mengokang senapan serbu tipe Guwawijaya miliknya. Cekrek-krek…jedorrr! Guwawijaya menunaikan tugasnya dengan sempurna, menembus dada sang pendeta gila, merenggut nyawanya, sekaligus mengantarkan korbannya ke alam baka. Seluruh rombongan lega. Laksmana juga tersenyum meski nggak jadi turun lapangan.

Pulang ke Ayodya, ternyata Ramawijaya disambut dengan skandal putra mahkota. Dewi Kekayi berhasil menyusun sebuah muslihat agar putra kandungnya Raden Bharata yang dinobatkan sebagai putra mahkota, menggantikan Ramawijaya. Bahkan dengan kelicikan Dewi Kekayi, Ramawijaya akhirnya dibuang ke hutan.

Bharata yang sebenarnya tidak tahu duduk-perkara karena pada saat itu sedang berguru di luar negeri, ketika pulang justru memarahi ibunya. Kemudian menyusul Ramawijaya ke hutan, memohon kepada kakaknya supaya bersedia kembali ke Ayodya bersamanya untuk segera dinobatkan sebagai raja berhubung Dasarata semakin tua dan sakit-sakitan.

Tapi Ramawijaya menolak. Cukuplah dirinya ditemani Dewi Sinta dan Laksmana di dalam hutan. Terompahnya justru diserahkan kepada Bharata, sebagai simbol kalau Bharata adalah raja sementara, wakil Ramawijaya sampai masa pengembaraannya selesai.

Maka, mulailah Ramawijaya berkelana di dalam hutan. Sampai suatu ketika, Sarpakenaka, adik perempuan Dasamuka si raja raksasa, tidak sengaja mengintip mereka bertiga – Rama dan Sinta yang sedang yang-yangan, dan Laksmana yang sedang menyendiri sambil bermeditasi. Sarpakenaka yang terkenal tidak bisa melihat batangan nganggur itu akhirnya memutuskan untuk menggoda Laksmana dengan menyamar sebagai perempuan yang cantik, montok, seksi, dan hot.

Laksmana siaga. Perempuan di depannya ini bukan manusia biasa. Hidungnya mencium bau raksasa. Maka setelah diminta pergi baik-baik Sarpakenaka tidak mau, Laksmana memuntir hidungnya sampai putus! Dengan meraung sambil menyumpah-nyumpah bakal menuntut balas Sarpakenaka terbang kembali ke Alengka, mengadu kepada kakaknya, Dasamuka. Sarpekenaka menebar fitnah kalau dirinya nyaris dicabuli oleh Laksmana. Dasamuka tidak percaya. Sarpakenaka langsung mengubah strateginya. Dia berkata, ada seorang putri cantik di hutan itu juga yang pastilah bakal membuat kakandanya tertarik.

Dasamuka bangkit nafsunya. Dengan ditemani Kalamarica, ajudannya, mereka berdua terbang ke hutan tersebut. Setelah mengintip, mereka berdua mengatur strategi. Kalamarica akan mengubah diri menjadi kijang berbulu emas untuk menggoda Sinta.

Benar saja. Demi melihat kijang berbulu emas, Sinta meminta kepada suaminya untuk menangkapnya. Rama yang khawatir jika meninggalkan istrinya meminta Laksmana suapaya menjaga Sinta. Dan, berangkatlah Ramawijaya mengejar kijang jadi-jadian itu.

Perburuan berlangsung berjam-jam. Dewi Sinta mulai gelisah suaminya nggak pulang-pulang. Maka ditegurlah Laksmana, “Laks, coba tolong kamu susul kakakmu itu. Aku khawatir. Lama sekali dia berburu. Jangan-jangan ada apa-apa dengannya di sana.”

“Jangan khawatir, kakang mbok. Mas Rama itu sakti. Yakin, nggak bakal ada masalah sama dia. Lagian, kalau saya nyusul Mas Rama, nanti yang njagain kakang mbok di sini siapa coba?” balas Laksmana.

Celakanya, Dewi Sinta malah menilai kata-kata Laksmana itu sebagai tanda-tanda yang tidak senonoh. Laksamana dinilainya hendak mengambil kesempatan atas dirinya selagi suaminya tidak ada. Laksmana dimaki-makinya sebagai laki-laki kurang ajar yang berniat berbuat cabul kepada kakak iparnya sendiri selagi Rama berburu.

Laksmana tersinggung. Clurit, aeh, kerisnya dicabut. Diangkat tinggi-tinggi ke udara sambil berteriak, “Saksikanlah, oh, Dewata. Laksmana bukanlah seorang laki-laki dengan moral rendah. Dan inilah pembuktianku!” Lalu…crus! Manuk Laksmana dipotongnya sendiri, dan seorang Mak Erot pun tidak akan mampu membantunya di kemudian hari.

(Ah, seandainya aku yang dikata-katai seperti itu, perempuan yang mengatai aku itu bakal kuperkosa beneran. Lha, kampret. Wong orang berniat baik dan tulus kok malah dimaki-maki? Sekalian aja ta’cabuli beneran. Malah bagus, kan? Aku membuatnya terhindar dari dosa akibat berburuk sangka 😦 )

Selanjutnya, keris yang sama itu dipakai untuk membuat lingkaran di sekeliling tempat Sinta berdiri. “Diam di situ, kakang mbok. Jangan keluar sejengkal pun dari lingkaran itu apapun yang terjadi sampai kami berdua kembali,” kata Laksmana sambil bergegas pergi menyusul Rama.

Sepeninggal Laksmana, muncullah seorang kakek tua yang sebenarnya adalah samaran Dasamuka. Berkali-kali hendak mendekati Sinta, kakek palsu itu tidak bisa melewati dinding maya ciptaan Laksmana. Si kakek mengiba-iba kepada Sinta minta sedekah. Sinta yang tidak berpikir panjang langsung mengulurkan tangannya keluar bermaksud memberi sedekah. Saat tangan Sinta keluar itulah, Dasamuka menariknya, menculiknya dengan membawanya terbang ke Alengka.

Di kemudian hari, akibat keteledoran Sinta inilah, pecah perang besar antara bangsa raksasa Alengka dengan Rama dan Laksmana yang dibantu pasukan kera dari Gua Kiskenda di bawah komando Prabu Sugriwa, dan disupport total pula oleh Hanoman – kera putih sakti anak Batara Guru – serta Gunawan Wibisana, ksatria Alengka yang memilih berpihak pada Ramawijaya.

Perang tersebut dimenangkan Ramawijaya, diakhiri dijepitnya Dasamuka yang tidak bisa mati itu dengan 2 gunung oleh Hanoman selama sisa hidupnya. Angkara murka Dasamuka musnah untuk selamanya. Tapi yang tetap mengenaskan adalah Laksmana yang tidak akan pernah bisa kehilangan keperjakaannya gara-gara kecurigaan Sinta yang tidak beralasan.

Sebagai ganjaran atas tindakannya, oleh para dewa, arwah Laksmana di kemudian hari akan menitis pada diri penengah Pandawa Lima, Raden Janaka alias Raden Arjuna atau Raden Permadi alias Raden Dananjaya atau Raden Parta alias Raden Palgunadi atau Raden Kumbang Aliali alias Begawan Ciptaning atau Prabu Kariti alias Kendi Wrhatnala, pleboi dari Kadipaten Madukara, yang terkenal beristri buanyak sekali.

Iklan

41 Responses to “Gara-Gara Wanita, Laksmana (Juga) Merana”


  1. 1 mas agus Mei 23, 2007 pukul 2:04 pm

    pertamax…!!! 🙂
    mas joe mag top dah!

  2. 2 mas agus Mei 23, 2007 pukul 2:25 pm

    weleh salah ketik…
    yang bener: mas joe emang TOP dah!
    by the way, Mantili kan adiknya Brama Kumbara kok bisa jadi nama kerajaan ya??
    pesan yang terkandung didalamnya, we la dalah, ternyata kisah pewayangan juga menganut prinsip “hadiah” cewek juga ya? karena amal baik laksmana yang demi nama baiknya rela mengorbankan kejantanannya, kelak di kemudian hari setelah nitis ke arjuna, bisa beristri buanyak sekali (agak mirip prinsip 70000 bidadari ya 🙂 )…
    by the way, meskipun wajah saya kayak arjuna (+ mode thukul: ON +) sampai kapanpun ndak mau beristri banyak…ndak ada enaknya punya istri banyak tuh…ributnya minta ampunnn…

    ***iya sih… mosok manungso beristri BANYAK…mustinya manungso itu beristri manungsi (manungsi=manusia berkelamin wanita)***

  3. 3 deKing Mei 23, 2007 pukul 3:28 pm

    Kapan requestku dipenuhi hehehe
    Spesial tentang Hanoman 😀

  4. 4 chiw imudz Mei 23, 2007 pukul 4:13 pm

    Heh, Joe…
    mangkel aku…
    ora obyektip 🙂
    kowe nyalahke cewek terus…koyone cewe terus2an dadi pembawa bencana! (opo iki pengalaman pribadimu?)
    aku rekues!crito wayang tentang kebangsatan laki2…
    gwehehehehe…

    *mode galak on*

  5. 5 jurig Mei 23, 2007 pukul 4:22 pm

    eh … ada konspirasi ya … *ngelirik komen yg diatas* … hehehe

  6. 6 Aday Mei 23, 2007 pukul 5:08 pm

    Aku dadi kelingan nek buku Ramayanaku iseh mbok gowo…
    Balekke jooooo T_T kui te’e bapakku…. Hiks…hiks…

  7. 7 elpalimbani Mei 23, 2007 pukul 5:34 pm

    *clingak clinguk..waspada sama pentung-nya si joe*
    Hehe 😆 …aman nih kayaknya. Ngomen ah…

    *pegang toa…*

    Joe… teman nongkrong saya dulu, ada yang namanya Laksmana Marena. Nama panggilannya Laks. Kebetulan dia punya sodara jauh yang lebih tua yang namanya Rama. Eeitt…, kamu pasti gak percaya kan Joe…?!…kamu pasti nganggep saya ngada-ngada lagi kan Joe…?! hallo……??? (mode suara aa gym)

    *ngecek toa ; tes..tes…hallo..hallo….(ok, lanjut)*

    Bener lho Joe… kali ini saya nggak lagi ngada-ngada. Bisa jadi kali ini emang cuma kebetulan belaka. Si Laksmana teman nongkrong saya itu aslinya orang jawa tapi lahir di sumatera. Pujakesuma katanya kalo lagi berseloroh di depan anak-anak… Kamu tau pujakesuma kan Joe ?!…hallo….
    *matiin toa, brisik… Orang-orang sekeliling pada protes, hihihi…*

    …lanjut tanpa toa….
    Buat yang blom tau… pujakesuma itu akronim dari putra jawa kelahiran sumatra.

    Intermezzo : sorry ya Joe…komen saya kali ini panjang banget. Saya terinspirasi sama postingan kamu yang panjang-panjang itu, hehehe…

    Mungkin komen saya ini memang asli cuma kebetulan belaka, karena gak banyak juga sih kemiripan-kemiripan dengan nama-nama pelaku cerita postingan di atas. Saya juga tidak merasa begitu…. hanya saja kok rasanya kali ini ada yang betul-betul bikin geli. Kok bisa ya ???… apa ini memang kebetulan yang bener-bener kebetulan ??? gak tau deh…yang jelas saya kaget sih, bener.

    Yang bikin kaget, Laksmana teman nongkrong saya itu katanya juga pernah punya pengalaman pahit banget sama cewek yang bernama Shinta (nih…yang bikin kaget). Yang namanya shinta itu tetangganya sebelah rumah. Laksmana pernah curhat kalo dia pernah dituduh ngintipin tuh cewek pas lagi mandi (waakks!). Kebetulan kamar mandi Shinta yang gak pake atap (emang ada ?! ada…percaya deh…) posisinya berdempetan dengan kamar mandi keluarga si Laks yang juga gak pake atap (cuma tembok aja tapi cukup tinggi kok. Sejajar dengan tembok kamar mandinya Shinta).

    Konon sewaktu pas Shinta lagi asyik-asyik mandi doi sempet sekilas ngeliat kepala cowok nyembul dari atas tembok kamar mandi sebelah, cuma doi gak liat persis siapa tuh cowok. Doi (shinta-red) jelas kaget, marah dan malu banget (ya iyalah…). Berhubung satu-satunya cowok yang paling mungkin (menurut kecurigaan si shinta) ngintipin dia adalah si Laks, ya… gak lama pas selesai mandi si Shinta nekat nyatroni rumah Laks dan mengadukan perihal yang gak ngenakin tersebut sama orang rumah si Laks. Walhasil, malemnya si Laks di sidang sama bokap nyokapnya (duuuhhh…malunya, padahal si Laks berani sumpah dia gak berbuat seperti yang dituduhkan shinta).

    Hihihi…saya sendiri abis baca postingan joe yang sekarang ini bener-bener kaget sekaligus geli. Kok geli ??? gelinya… kalo diinget inget komen saya pada cerita Bambang Sumantri yang tempo hari memang waktu itu saya iseng aja. Eee…gak taunya ada postingan yang ini yang justru kayaknya bener-bener kebetulan. Suer!… sampe saya ngetik komen ini saya masih benar-benar ngerasa geli sendiri. Apalagi pas nanti ngebayangin respon si Joe yang nganggep saya mungkin lagi lagi sedang mengada-ada, basi!.

    Padahal nggak kok, serius. Kali ini saya nggak sedang mengada-ngada. Ngada-ngada kan beda banget dengan ngarang-ngarang… iya kan ? hallo….

    *kaboouurrr….loncat tembok 3 meter.. sambil bawa toa teriak-teriak : sorry ya Joe… cuma becandaaaa….isengku kumaaaaaatttt…..hallo…..* 😆

  8. 9 helgeduelbek Mei 24, 2007 pukul 6:31 am

    sampean ki wong jowo tenan tibak-e, sampai mblenger mbacanya… 🙂

  9. 10 Rizma Adlia Mei 24, 2007 pukul 7:51 am

    walah Joe,, Ma kok ga pernah baca cerita cerita begini ya,, (ada di pelajaran sejarah atau bahasa di skolah ga??)

    Yang paling keliatan dari semuanya,,

    …. yang beristri buanyak sekali. 😛

  10. 11 saniroy Mei 24, 2007 pukul 8:55 am

    Pukulun Joe.

    Menarik sekali crita wayang yang dikontekstualkan. Apalagi yang nulis generasi muda :-P. Salut!

    Saya pribadi sudah kangen menyaksikan “pegelaran wayang semalam suntuk”, misalnya di Sasana Hinggil Dwi Abad. Atau ya lewat Radio MBS, he.. Masih ada nggak ya keduanya? Dan jelas karena Wong Yojo, favorit dalang saya Pak Hadi Sugito dan Pak Timbul Hadiprayitno. Masih mendalangkah Beliau2 itu? Atau sudah ada dalang2 generasi penerusnya yang punya “pakem ndalang” top seperti Beliau2 itu?

    Maaf dan nuwun, MSR

  11. 12 manusiasuper Mei 24, 2007 pukul 9:05 am

    Ada apa ini? Ada apa ini?

  12. 13 azaytun Mei 24, 2007 pukul 9:09 am

    di sini ada pembaca yang beragama “islam” minoritas, pls … ?

  13. 14 artul Mei 24, 2007 pukul 9:30 am

    Laksmana tersinggung. Clurit, aeh, kerisnya dicabut. Diangkat tinggi-tinggi ke udara sambil berteriak, “Saksikanlah, oh, Dewata. Laksmana bukanlah seorang laki-laki dengan moral rendah. Dan inilah pembuktianku!” Lalu…crus! Manuk Laksmana dipotongnya sendiri, dan seorang Mak Erot pun tidak akan mampu membantunya di kemudian hari.

    Yaiks..
    Versi yang itu kok nggak ada di cerita di tipi dulu ya.
    Sadis.

  14. 16 venus Mei 24, 2007 pukul 12:00 pm

    makanya, joe…ati2. lhah, apa seeeeh??? kekeke…

  15. 17 joesatch Mei 24, 2007 pukul 12:08 pm

    mas agus:::
    saya top? ahahahaha, mas agus bisa aja 😉

    deKing:::
    sabar…sabar…itu anoman-nya dah nongol sebentar

    chiw imudz:::
    lho, ga ada maksud begitu, kok. coba diliat dari sisi lainnya. kan justru menunjukkan kemampuan wanita dalam membuat pria menuruti kata2nya 😛

    jurig:::
    ga kok, teh. ga ada. jgn terprovokasi anak pekok itu, kakakakaka!

    Aday:::
    siap, bos! 😀

    elpalimbani:::
    mau diclurit, aeh dikeris juga?

    Luthfi:::
    asyik kan? asyik kan? 🙂

    helgeduelbek:::
    bukan, pak. saya tetep orang denpasar yang kebetulan punya orangtua asli solo, hehehehehe

    Rizma Adlia:::
    wah, coba kamu sekolahnya di jawa, ma. sedikit banyak pasti dapat cerita kayak gitu 😀

    manusiasuper:::
    kampret! inzaghi cuma beruntung!

    azaytun:::
    maksudnya? hubungannya dengan postingan saya? saya kan lagi mbahas ttg agama. yah, semoga ini bukan komen dari blogger yang beranggapan bahwa islam di luar islam versi mereka adalah salah semua seperti blogger-islami-sebelumnya-yang-suka-menyerang dan mengumpat blogger lain hanya karena pemahaman islamnya yg berbeda dengan pemahaman mereka

    artul:::
    yang di tipi itu tontonan buat semua umur rip. jadi maklum aja kalo ada adegan yg disensor, kekekeke

  16. 18 joesatch Mei 24, 2007 pukul 12:09 pm

    mbok venus:::
    opo mbok? saya tidak akan memotong manuk saya sendiri kok, kekekeke

  17. 19 joesatch Mei 24, 2007 pukul 12:39 pm

    salafyindonesia:::
    apanya? ceritanya? atau tulisan saya? kalo ceritanya sih memang bagus, hehehehe

    saniroy:::
    setau saya sih masih, mas. cuma memang sekrg dah hampir ga pernah nonton live lagi. ga ada temennya. bapak sudah nggak bisa nemenin lagi soale. sudah sepuh, hehehehe
    jadinya, agak kurang mengamati perkembangan dunia pedalangan akhir2 ini

  18. 20 ta2 Mei 25, 2007 pukul 8:49 am

    request cerita wayang yang lakone sampeyan dunk 😀

  19. 21 joesatch Mei 25, 2007 pukul 9:20 am

    eh, cerita tentang janoko ya, ta? sabar…sabar…

  20. 22 akoedw Mei 25, 2007 pukul 10:46 am

    JANOKO,?????

    wah,,, ntar malah ngarah ke POLIGAMI lagi dunkz
    🙂
    tapi asyik juga tuh,

  21. 23 dethanatos Mei 25, 2007 pukul 11:43 am

    Dan inilah pembuktianku!” Lalu…crus! Manuk Laksmana dipotongnya sendiri,……………>> ada ya orang yang goblok banget gitu

  22. 24 Lily Mei 25, 2007 pukul 12:44 pm

    Komentar Joe.. “… kan justru menunjukkan kemampuan wanita membuat pria menuruti kata2nya..”
    Kasiannya.. pria2 model begini.. ;p

    Tapi seringkali, skenarionya seperti ini:
    wanita mencoba ‘memanipulasi’ pria (mungkin niat sebenarnya bukan manipulasi, tapi kadang menjadi sebuah bentuk manipulasi..), demi wanita si pria yang bersangkutan menuruti..
    Tapi setelah dituruti dan pria memperoleh ‘apa-yg-dia-mau’.. 😉
    Keadaan berbalik menjadi sang pria yang ‘memanipulasi’.. 😉

    Gak usah tersinggung lho ya.. 😉
    Ini kan cuma skenario yang terjadinya ‘kadang-kadang.. 🙂

  23. 25 munggur Mei 25, 2007 pukul 7:44 pm

    menurut saya, justru crita di atas benar adanya. jarang loh yang tahu bahwa laksamana memenggal anu-nya. tapi ceritanya kurang lengkap.

    sebenarnya ada kejadian, selepas mematikan ‘torpedonya’, si laksamana menyerahkan barang satu-satunya itu ke sinta. sebelum pergi dia berkata seperti ini:

    “Use it only if necessary! shake before use, in case you want to do ‘something’ when you are lonely and horny.”

    Begitu…

  24. 26 nur Mei 25, 2007 pukul 7:47 pm

    pernah denger critanya … cuma udah agak samar-samar ingetnya … cukup menggugah emosi … 🙂

  25. 27 isez Mei 26, 2007 pukul 10:55 am

    jangan2 di kehidupan sebelum ini loe pernah disunat lebih dari dua kali yaa…
    hehehe

  26. 28 muftisip Mei 26, 2007 pukul 4:23 pm

    Wah, baca ceritanya jadi pingin liat sendratari ramayana lagi. 😀

  27. 29 joesatch Mei 26, 2007 pukul 7:55 pm

    akoedw:::
    begitulah, mas. kdg2, wayang memang menggambarkan realita sosial 😀

    dethanatos:::
    alhamdulillah, aku tidak senekat itu

    Lily:::
    makanya, mbak, saya nggak mau jadi co yang kayak gitu…kekekeke!

    munggur:::
    kalo yg ini bener2 pengetahuan baru deh 😛

    nur:::
    seharusnya sangat menggugah. cuma, akunya aja yang nggak pinter mendramatisir ulang 😀

    isez:::
    wah, entah ya…yang jelas, aku ga percaya reinkarnasi sih. cuma percaya regenerasi 😉

    muftisip:::
    pemda DIY kayaknya harus mulai mempertimbangkan untuk membayar aku

  28. 30 maruria Mei 27, 2007 pukul 3:20 pm

    Ko jadi sering cerita wayang to joe? Lagi belajar kadi dalang po??
    Kekekeke…

  29. 31 joesatch Mei 27, 2007 pukul 5:37 pm

    ah, tidak kok mbak. cukuplah sebagai penikmat sahaja. tapi dasarnya memang suka, sih 😉

  30. 32 dnial Mei 29, 2007 pukul 7:11 am

    Jadi, jadi…
    Kalo di kehidupan ini manuknya dipotong, maka di kehidupan selanjutnya bakalan jadi playboy kelas kakap?

    Ada yang mau jadi kelinci percobaan???

  31. 33 Kunderemp An-Narkaulipsiy Mei 31, 2007 pukul 8:33 am

    Sebagai ganjaran atas tindakannya, oleh para dewa, arwah Laksmana di kemudian hari akan menitis pada diri penengah Pandawa Lima, Raden Janaka alias Raden Arjuna atau Raden Permadi alias Raden Dananjaya atau Raden Parta alias Raden Palgunadi atau Raden Kumbang Aliali alias Begawan Ciptaning atau Prabu Kariti alias Kendi Wrhatnala, pleboi dari Kadipaten Madukara, yang terkenal beristri buanyak sekali.

    Eh? Baru tau versi ini… serius..

  32. 34 joesatch Mei 31, 2007 pukul 8:58 am

    serius, mas. aku baca di “ensiklopedia wayang” karangannya…waduh aku lupa! 😛

  33. 35 denmasmedenimas Juni 6, 2007 pukul 8:59 pm

    om JOE
    menurutku… sampeyan teruskan critane (terserah pake versi joe,versi windos, versi linux apa versi inul) … cuma skalian kasih ulasan2 tentang filosofi cerita pewayangan ini.
    bagus kok yg versi java 9.w ini coz yg ngarang X KEEPER khan

    salam kenal

    denmas

  34. 36 nyamukbingung Juni 7, 2007 pukul 3:52 pm

    hehehe mantap JOe..

    -wayang NEVER DEAD-

  35. 37 masiwan Juli 16, 2007 pukul 10:20 am

    maaf mas saya menjadikan sedikit tulisan ini sebagai sumber informasi bagi tulisan saya tapi belum sempat ngabari, sekali lagi maaf saya masih seorang newbie. Tulisannya bagus, slm knl

    matur nuwun

  36. 38 deviruu@yahoo.com Oktober 16, 2007 pukul 12:39 am

    Numpang tanya klo mau dapet cerita lengkap mahabarata plus gambar wayang kulitnya yang keren (dan sopasti hi-res) dimana yak???PEngen punya nihhhh…..

  37. 39 devi Oktober 17, 2007 pukul 2:10 am

    1.Apakah anda tahu (pernah mendengar) tentang wayang kulit?
    a. Ya
    b. Tidak

    2. Apakah wayang kulit menarik?
    a. Ya
    b. Tidak

    3.(lanjutan no.2)Apa alasannya?
    a.warnanya menarik
    b.ceritanya menarik
    c.membosankan
    d. memakai bahasa Jawa
    e…………………….

    4.Dari daerah manakah wayang kulit berasal?
    a. Jawa
    b. Sumatera

    5. Siapakah tokoh wayang yang anda tahu (pernah mendengar)?Urutkan!
    a. Arjuna(…)
    b.Anoman(…)

    6. Diantara MAHABARATA dan RAMAYANA, yang mana yang lebih anda tahu?
    a. Mahabarata
    b. Ramayana

    7. Perlukah kita melestarikan wayang kulit?
    a. Ya
    b. Tidak

    8. (lanjutan no.5) Apa alasannya?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    9. Apa saran anda agar wayang dapat diterima oleh kawula muda (mahasiswa)?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    10. Berbicara tentang wayang warna apa yang langsung terlintas di benak anda?
    a. Merah
    b. Cokelat
    c. Emas
    d. …………………………………..

    11.(lanjutan no.10)Apa alasannya?
    ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
    1.Apakah anda tahu (pernah mendengar) tentang wayang kulit?
    a. Ya
    b. Tidak

    2. Apakah wayang kulit menarik?
    a. Ya
    b. Tidak

    3.(lanjutan no.2)Apa alasannya?
    a.warnanya menarik
    b.ceritanya menarik
    c.membosankan
    d. memakai bahasa Jawa
    e…………………….

    4.Dari daerah manakah wayang kulit berasal?
    a. Jawa
    b. Sumatera

    5. Siapakah tokoh wayang yang anda tahu (pernah mendengar)?Urutkan!
    a. Arjuna(…)
    b.Anoman(…)

    6. Diantara MAHABARATA dan RAMAYANA, yang mana yang lebih anda tahu?
    a. Mahabarata
    b. Ramayana

    7. Perlukah kita melestarikan wayang kulit?
    a. Ya
    b. Tidak

    8. (lanjutan no.5) Apa alasannya?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    9. Apa saran anda agar wayang dapat diterima oleh kawula muda (mahasiswa)?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    10. Berbicara tentang wayang warna apa yang langsung terlintas di benak anda?
    a. Merah
    b. Cokelat
    c. Emas
    d. …………………………………..

    11.(lanjutan no.10)Apa alasannya?
    ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

  38. 40 haryanto Januari 3, 2008 pukul 8:02 pm

    DH,
    Saya tanggapi butir no. 9. bagaimana agar wayang disukai mahasiswa dan anak muda.
    1. Tampilan panggung atau gelar kelirnya harus innovatife.
    2. Ceritera atau lakon banyak carangan sesuai dengan keadaan
    3. Sanggitnya harus disesuaikan dengan sikon.
    4. Banyak ditampilkan selingan teknologi canggih :
    * Permainan tata cahaya yang modern.
    * Ditambah permainan laser, dan tampilan figuratif, misal
    – Senjata dengan effect suara dan tata cahaya.
    – Penampilan trik-trik tata panggung.
    * Didukung dengan tata suara yang memadai “Sound System”.
    5. Kemampuan Dhalang berkomunikasi dengan audience, dan
    pengetahuan umum yang luas, agama, bahasa, lawakan2 atau
    jok-jok terkini, disesuaikan dengan sikon masa kini.
    6. Tentunya sindhen-sindhennya sekelas mbak Kesi atau mbak
    mbak Nyahni, bu Yati Pesek dan lik Marwoto.
    Salam dari saya Dhalang Bonex Ki Gendheng Haryanto.

  39. 41 lammm077 Januari 19, 2012 pukul 11:12 pm

    Ini ceritanya bagian dari Ramayana, dan mirip di buku Anak Bajang Menggiring Angin. Keren mas!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,043,649 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia