Gara-Gara Wanita, Sumantri Merana

Kadang-kadang, perempuan memang suka nyari gara-gara. Nyari gara-gara bagaimana maksudnya? Ya tentu saja tidak semua gara-gara yang dicari-cari oleh kaum hawa itu selalu dalam konteks negatif. Cuma memang, sampai sekarang aku masih menganggap bahwa perempuan itu sangat susah dipahami. Sampai sekarang aku masih beranggapan bahwa pikiran perempuan itu sangat njlimet, seperti pandangan mereka sebaliknya kepada laki-laki.

Dan, gara-gara yang suka dicari mereka itu, dalam beberapa kondisi, justru menunjukkan beberapa kelebihan serta pengaruh mereka terhadap laki-laki yang sangat dahsyat. Kebetulan, contoh berikut yang bakal aku sertakan ini adalah para perempuan dengan konteks gara-gara yang tidak aku sukai.

Oke, langsung aja kita tunjuk hidung perempuan-perempuan yang tidak aku sukai itu. Salah satunya adalah Dewi Citrawati, istri Prabu Harjuna Sasrabahu.

Sebelum nggosipin Citrawati ini, ada baiknya kita berkenalan dulu dengan korban gara-garanya, yakni seorang anak muda dari gunung dengan nama Bambang Sumantri yang kelak dikenal dengan nama besar Patih Suwanda.

Sumantri, anak Resi Wisanggeni, konon adalah seorang anak muda jagoan panah yang sakti mandraguna. Sukar dicari tandingannya sepadepokan milik bapaknya. Adik kandungnya menderita kelainan bentuk, berupa raksasa kerdil bernama Sukrasana. Walaupun Sukrasana berwujud raksasa, tapi hatinya suci karena menurut shohibul hikayat, Sukrasana ketitisan Batara Dharma.

Sejak kecil, Sumantri bertekad hanya akan mengabdi pada seorang raja yang memiliki kesaktian melebihi dirinya. Maka, oleh bapaknya, Sumantri disarankan melamar kepada Prabu Harjuna Sasrabahu yang masih saudara jauhnya sendiri.

Singkat cerita, berangkatlah Sumantri menuju istana Maespati, kediaman Harjuna Sasrabahu. Mulai dari masuk kota sampai pelataran istana, tidak ada satu orang prajurit pun yang berani menegur tindakannya yang slonong-boy, karena roman mukanya yang bak pinang dibelah golok dengan Sang Prabu sendiri. Para prajurit pada ragu-ragu. Jangan-jangan, anak muda awut-awutan itu justru raja mereka sendiri yang sedang menyamar. Sampai pada akhirnya, seorang perwira senior dengan sedikit nekat menegurnya, bertanya apa keperluannya, dan kemudian mengantarkannya ke dalam untuk menemui Sang Prabu.

Di dalam, para pembesar istana kembali terheran-heran. Kepala mereka menatap ke arah Sumantri dan Prabu Harjuna Sasrabahu bergantian. Terkesan tidak percaya ada 2 orang yang bukan saudara kandung yang demikian miripnya.

Singkat kata, Sumantri diperbolehkan mengabdi dengan syarat harus mampu mengusir musuh kerajaan Magada (CMIIW), Prabu Dharmawisesa dan adiknya, Prabu Jonggirupaksa, dari Jonggarba, dan para sekutunya, yang berniat meminang putri Magada, Dewi Citrawati, dengan jalan kekerasan. Sumantri pun menyanggupi. Ribuan armada tempur Maespati saat itu juga langsung berada di bawah perintahnya.

Sumantri memiliki sebuah senjata sakti berupa anak panah yang bernama Cakrabaskara, hadiah dari Batara Narada, yang tiap kali dilepas akan selalu meminta korban terus menerus sebelum dipanggil pulang oleh tuannya. Panah sakti ini yang menjadi andalan Sumantri dan membuatnya percaya diri bakal mampu menaklukkan Prabu Dharmawisesa.

Singkat kata lagi, raja-raja sekutu Dharmawisesa akhirnya berhasil dibabat Sumantri dengan mudahnya tanpa perlu mengeluarkan Cakrabaskara. Baru ketika Sumantri berhadapan dengan Jonggirupaksa, Cakrabaskara berdengung-dengung menunjukkan kualitasnya sebagai senjata para dewa. Jonggirupaksa modar di depan kakaknya sendiri, Prabu Dharmawisesa. Saat itu juga Dharmawisesa merasa gentar berhadapan dengan Sumantri. Memutuskan bertapa semalaman, memohon keadilan dari dewa.

Batara Narada pun turun. Menasehati Dharmawisesa untuk mundur saja. Kepalang tanggung, kata Dharmawisesa. Sahabat-sahabat dan saudaranya sudah gugur. Dia pun ingin gugur saja di medan perang, tapi setidaknya berilah dia senjata untuk mengimbangi Cakrabaskara milik Sumantri.

“Nggak ada senjata yang bisa mengalahkan Cakrabaskara, Le,” kata Batara Narada. “Hanya saja, jika kamu bersikeras, kamu kuberi sebuah anak panah, Bujanggapasa (maaf, kalau salah. Aku lupa-lupa ingat soale). Keampuhannya sedikit di bawah Cakrabaskara. Kalau masih nekat ingin mengalahkan Sumantri, lepaskan panahmu sebelum Sumantri menembakkan Cakrabaskara.”

Wuzzz… Batara Narada kemudian langsung lenyap.

Besoknya, Dharmawisesa menantang Sumantri gelut 1 lawan 1. Perkelahian berlangsung seimbang, sambil Dharmawisesa mengintip celah di mana Sumantri lengah, sampai suatu ketika akhirnya Dharmawisesa merentang busur dan memasang anak panahnya. Sumantri waspada. Insting bertarungnya mengatakan panah yang dihadapinya pasti bukan panah sembarangan. Batinnya berbisik, pasang Cakrabaskara-mu sekarang!

Bujanggapasa melesat. Dengingannya memekakkan telinga. Sumantri siaga. Dengan kesigapan seorang jagoan panah avant-garde, Cakrabaskara melesat menyusul. Dan suara ledakan menggelegar ketika kedua anak panah hadiah dewa itu bertumbukan di udara. Bujanggapasa luluh-lantak, Cakrabaskara masih terus melenggang menebas leher Prabu Dharmawisesa. Sumantri menang. Magada selamat.

Masuk kota Magada, Sumantri dielu-elukan rakyat bagaikan dewa perang, penyelamat negeri Magada. Maka selanjutnya, sesuai permintaan Prabu Harjuna Sasrabahu, Dewi Citrawati pun segera diboyong ke Maespati untuk ditemukan dengan calon suaminya.

Nah, di sini aku memuji kehebatan pengaruh seorang wanita, sekaligus mengutuk penyalah-gunaannya. Dewi Citrawati sedikit tidak senang dengan penghargaan dari rakyatnya yang diterima Sumantri, dan kemudian berniat sedikit memperkeruh suasana. “Dik Mantri, kenapa bukan Kangmas Harjuna saja yang langsung menjemputku ke Magada?” tanyanya.

“Anu, Mbak. Bukannya Magada lagi kemelut kemarin. Jadinya ya saya yang diutus untuk mengeliminasi serangan Dharmawisesa dulu, kemudian langsung memboyong Mbak Dewi ke Maespati.”

“Lha, yang kumaksud itu, Dik. Kenapa Kangmas Harjuna nggak langsung turun tangan sendiri menyelamatkan diriku ini? Aku kan calon istrinya. Aku jadi sedikit merasa diremehkan kalo caranya kayak gini.”

“Ya maaf-maaf aja, Mbak. Namanya juga raja. Nggak etis kalo beliaunya turun tangan langsung. Bisa menurunkan bargaining position-nya beliau kalo sampe turun gelanggang langsung. Padahal masih ada bawahannya yang bisa diperintah. Gitu lho, Mbak.”

“Aku bukannya mau merendahkan kamu lho, Dik. Tapi aku sekarang justru sedikit ragu dengan Kangmas Harjuna.”

“Heh?”

“Maksudnya, aku ragu apakah Kangmas Harjuna itu sesakti dirimu, gitu loch.”

“Lha ya jelas sakti, Mbak. Beliau kan, titisan Dewa Wisnu. Jelas pasti sakti.”

“Justru itu yang bikin aku ragu, dia benar-benar titisan Wisnu atau bukan. Kalau memang sakti, seharusnya dia turun tangan langsung. Nggak perlu mengorbankan ribuan pasukan Maespati plus Magada buat menghadapi Dharmawisesa. Cukup dia sendiri yang turun tangan, habis perkara.”

“Iya, ya…”

“Nah, kamu sendiri kok bisa yakin dia titisan Wisnu? Kok bisa yakin dia lebih sakti dari kamu? Apa kamu sudah pernah lihat sendiri kesaktiannya? Jangan-jangan semuanya itu malah cerita ngarang. Eh, bukannya kamu sendiri katanya cuma mau mengabdi sama raja yang lebih sakti daripada kamu. Kok sekarang malah langsung percaya aja, nggak dibuktikan lebih dulu?”

Jederrr!! Sumantri jadi kalap. Hatinya panas. Dia jadi ragu sama Harjuna Sasrabahu. Maka rombongan Maespati langsung dihentikan di tengah jalan. Dia kemudian mendirikan perkemahan di tempat pemberhentiannya. Menulis surat kepada rajanya dengan inti, dia akan mengantarkan Dewi Citrawati setelah Sang Prabu menunjukkan levelnya sebagai titisan Wisnu secara langsung.

Harjuna Sasrabahu menerima surat tersebut. Dengan tenang dia menyanggupi tantangan Sumantri. Diiringi beberapa pembesar Maespati, dia menuju lokasi pertempuran pinggir hutan yang sudah dipersiapkan oleh Sumantri. Dan bertarunglah keduanya.

Pertempuran lagi-lagi berlangsung seru, seram, dan menegangkan. Mulai dari adu pedang, adu tombak, hingga adu menunggangi kereta perang, Sumantri seakan-akan tidak bisa menunjukkan performanya yang selama ini selalu berada di atas angin jika berhadapan dengan musuh-musuhnya. Semua serangan Sumantri dimentahkan oleh Harjuna Sasrabahu, hingga tiba saatnya Sumantri benar-benar gelap mata.

Shot-gun Cakrabaskara segera dicabut. Ditodongkan ke arah Harjuna Sasrabahu. Sesaat, pandangan mata mereka berdua beradu. Sumantri sedikit gentar dengan ketenangan lawannya.

“Kenapa Sumantri? Ayo tembakkan Cakrabaskara-mu!” Kata Harjuna Sasrabahu.

Kampret, batin Sumantri. Maka pelatuk pun ditarik. Dor! Cakrabaskara melesat. Semua orang yang pernah melihat keampuhan Cakrabaskara menjadi was-was. Mati. Harjuna Sasrabahu bakal mati. Raja mereka bakal di tewas di tangan senjata pemuda gunung ini.

Jeduarrrrrrr!!! Cakrabaskara mengenai sasaran. Suaranya menggelegar. Kereta perang Harjuna Sasrabahu hancur berkeping-keping, debunya berterbangan. Kuda-kuda penariknya tidak bisa dikenali lagi jasadnya. Tapi tubuh Sang Prabu lenyap.

Ah, mungkin mayatnya mental ke dalam hutan, pikir Sumantri. Maka masuklah Sumantri ke dalam hutan. Sumantri tengok kiri-kanan mencari Harjuna Sasrabahu yang sudah diyakininya cuma tinggal jasadnya.

“Siapa yang kamu cari Sumantri? Aku di sini.” Tiba-tiba suara mengguntur datang dari arah belakangnya.

Sumantri menoleh, menjerit tertahan, kedua kakinya lemas hingga memaksanya berlutut. Di depannya sudah berdiri raksasa sebesar gunung, ajian Tiwikrama khas Dewa Wisnu. Harjuna Sasrabahu sudah berubah bentuk menjadi sedemikian mengerikannya.

Sumantri mengampun-ampun, menciumi kaki Sang Tiwikrama. Berulang-ulang menyatakan penyesalannya. Tiwikrama pun kembali menjadi Prabu Harjuna Sasrabahu. Sumantri yang dianggap lancang segera menerima hukuman. Hukumannya, atas usul Dewi Citrawati, adalah memindahkan Taman Sriwedari dari khayangan Utarasegara milik Dewa Wisnu ke kerajaan Maespati. Hukuman yang tidak masuk akal dari seorang perempuan yang menyebabkannya menerima hukuman.

Sumantri yang putus asa berlalu meninggalkan tempat itu. Meratapi nasibnya yang tidak bakal mampu menjalani hukumannya.

Sementara itu, Sukrasana yang merindukan kakaknya nekat meninggalkan padepokan untuk menyusul Sumantri. Perjalanannya dilakukan dengan berjalan kaki melintasi hutan-hutan yang dihuni oleh penghuninya yang aneh-aneh. Hingga pada akhirnya, Sukrasana mendapatkan ganjaran atas laku prihatinnya itu. Ajian Candhabirawa – yang mampu mengeluarkan raksasa sakti yang tidak bisa mati. Setiap dilukai, darah yang menetes akan menciptakan raksasa sejenis sejumlah darah yang menetes itu. Begitu berulang-ulang – berhasil didapatkannya.

Secara tidak sengaja, kedua kakak-beradik itu dipertemukan. Sumantri berkeluh-kesah tentang hukumannya yang tidak masuk akal. Sukrasana menanggapi dengan tersenyum dan memutuskan untuk menolong kakak tersayangnya itu. Chandabirawa segera dikeluarkan dan dengan cepat menunjukkan keampuhannya. Taman Sriwedari berpindah dengan kilat dari khayangan Utarasegara ke Maespati.

Sumantri berniat melaporkan keberhasilan itu kepada Harjuna Sasrabahu. Tapi sayangnya, Sukrasana berwujud raksasa, sehingga Sumantri malu mengajak serta Sukrasana. Dikhawatirkan Sukrasana bakal menakutkan untuk rakyat Maespati.

Sukrasana ngotot ikut. Sumantri jadi kesal. Sumantri kembali mencabut Cakrabaskara-nya. Mengancam akan menembakkan ke arah Sukrasana jika Sukrasana tidak mau pulang. Celaka, Sukrasana tidak takut, bahkan berjalan maju seakan-akan yakin sang kakak tidak akan tega melepas Cakrabaskara. Tapi tiba-tiba Sukrasana tersandung ke depan. Badannya langsung menjemput Cakrabaskara, dan melesatlah nyawanya.

Sumantri kontan menangis meraung-raung di hadapan jenazah adiknya. Dari langit tiba-tiba terdengar suara, “Jangan menangis, Mas Mantri. Kelak, dalam suatu perang, aku akan menjemput Mas Mantri dengan perantaraan seorang raksasa. Dan kita akan berkumpul kembali.”

Dengan perasaan tidak karuan akhirnya Sumantri menghadap Prabu Harjuna Sasrabahu. Menceritakan segalanya dan siap dengan segala resikonya. Dengan bijak Harjuna Sasrabahu menasehati Sumantri, menunjukkan rasa bela-sungkawanya, tidak menjatuhkan hukuman, bahkan menganugerahi Sumantri pangkat sebagai patih dengan gelar Patih Suwanda.

Sumantri pun selanjutnya menunaikan tugasnya sebagai patih dengan baik. Konon, Saking miripnya dengan Sang Prabu, jika suatu saat Sang Prabu berhalangan memimpin rapat negara, Sumantri akan didandani dengan pakaian kebesaran raja oleh Sang Prabu sendiri dan diperintahkan untuk menduduki singgasana. Para pembesar pun bakal menyangka raja mereka sendiri yang selalu memimpin rapat.

Hingga pada suatu saat, biangnya angkara-murka, raja raksasa, Prabu Rahwana alias Dasamuka, yang mendengar tentang kecantikan Dewi Citrawati berniat merebut Sang Dewi dari tangan Harjuna Sasrabahu. Pasukan Alengka berangkat di bawah pimpinan langsung rajanya untuk menyerbu Maespati. Sampai di tepi sungai Gangga, mereka beristirahat sejenak.

Prabu Harjuna Sasrabahu dan Patih Suwanda segera menggelar siasat. Harjuna Sasrabahu akan bertiwikrama dan tidur membendung Sungai Gangga, berharap akan membanjiri perkemahan pasukan Alengka dan membuat mereka pulang. Tapi jika pasukan Alengka nekat, Patih Suwanda harus segera membangunkan Sang Prabu. Jangan menghadapi Dasamuka sendirian, pesan Sang Prabu.

Perkemahan pasukan Alengka banjir. Tapi itu tidak menyurutkan keangkara-murkaan Dasamuka. Dia nekat menyeberang untuk menyerbu Maespati. Patih Suwanda siaga. Merasa tidak enak jika harus mengganggu Tiwikrama, pasukan Alengka dihadapinya tanpa mengindahkan pesan rajanya.

Suwanda berhadapan dengan Dasamuka. Cakrabaskara melesat membunuh Dasamuka berulang-ulang. Tapi dengan ajian Pancasona-nya, Dasamuka selalu hidup lagi dan hidup lagi. Hingga suatu saat Dasamuka ambruk dan tidak bangun kembali.

Sambil menggenggam senjata kebanggaannya, Suwanda memeriksa “mayat” Dasamuka. Tiba-tiba, Dasamuka bangun! Suwanda dipitingnya, Cakrabaskara direbutnya, dan dipakai untuk mencacah tubuh sang tuan sendiri. Suwanda gugur termutilasi. Jasadnya diterbangkan oleh Dasamuka ke langit. Di sana, arwah Sukrasana menjemput arwah sang kakak.

Penutup: Setewasnya Patih Suwanda, Dewi Citrawati berlari membangunkan suaminya. Dasamuka akhirnya kalah menghadapi Tiwikrama. Kejahatannya bisa diredam untuk sementara waktu. Sampai suatu saat, Harjuna Sasrabahu tewas di tangan Resi Jamadagni atau Ramabargawa, dan meninggalkan supata kalau suatu saat nanti Jamadagni bakal mati pula di tangan titisan Wisnu yang lain. Dasamuka, sepeninggal Harjuna Sasrabahu, kembali merajalela. Jamadagni sendiri akhirnya tewas di tangan Ramawijaya, yang juga akhirnya berhasil memusnahkan angkara-murka Dasamuka untuk selamanya.

Iklan

48 Responses to “Gara-Gara Wanita, Sumantri Merana”


  1. 1 Arief Fajar Nursyamsu Mei 8, 2007 pukul 3:16 pm

    Weee.. Ceritanya enak buat dibaca.. sampe kodingku tak tinggal..
    Eh.. Joe.. bukane Sriwedari itu di Solo?
    Mosok dipindah ke Maospati? 😀

  2. 2 Shan-in Lee Mei 8, 2007 pukul 3:27 pm

    Huweee…
    Shan-in buta hal yang berkaitan dengan Jawa.

    Tapi kisahnya menarik, dan Shan-inmau baca ulang supaya paham. 😆

  3. 3 Lutfi Mei 8, 2007 pukul 4:59 pm

    waaaah…..

    ternyata orang sakti t ada mentoknya juga ya…

    begitu juga seorang bintang, kadang2 juga mentok,,,

    benar bgitu?

    oleh conthingan provokator, akhirnya loose control juga….

  4. 4 Emanuel Setio Dewo Mei 8, 2007 pukul 7:09 pm

    Wah asyik lagi kalau dalam bentuk komik. Semasa SD dulu aku suka sekali membaca komik wayang karangan Kosasih. Keren banget.

    Terima kasih atas ceritanya. Kutunggu ceritanya yg lain. Salam.

  5. 5 Seorang perempuan Mei 8, 2007 pukul 11:28 pm

    Joe bener perempuan itu emang sumber kejatuhan laki2 ya…di mana2 sejarah kok laki2 perkasa bubar jalan gara2 perempuan ga di jawa ga di eropa, jaman sekarang contoh2nya pun masih spt itu YZ yg calon mentri, jadi hati2lah sama perempuan yg provokatif, beauty but deadly.

    Tapi jangan lupa banyak juga laki2 sukses itu karena perempuan yg mendukung di balik layarnya… dan banyak juga perempuan yg bisa sukses tanpa memanfaatkan keperempuanannya…itu masalah harga diri dong…masih banyak kemampuan lain yg bisa di andalkan instead of mengandalkan keperempuanan…

  6. 6 Raffaell Mei 9, 2007 pukul 11:57 am

    Kampret, batin Sumantri. Maka pelatuk pun ditarik. Dor! Cakrabaskara melesat.

    Aku suka gaya bicara seperti ini…..

  7. 7 chiw imudz Mei 9, 2007 pukul 12:07 pm

    Waw, inni baru ceritah…
    aku tadi baca sambil mbayangin beneran Lho joe, trus terlintas pikrian manfaatke Raden Harjuna Sasrabahu nggo mBendung lumpur Lapindo…
    —lumpur hilang, aku pulang dengan senang—

    tapi yo mosok Dewi Citrawati gaya ngomonge gawul koyo kowe ku mau?
    kekeke

    Nice story! *ngacungin jempol kaki*

  8. 8 Odi Mei 9, 2007 pukul 12:12 pm

    Waa keren, seperti membaca novel-novelnya Seno Gumira Adjidarma yang banyak neyelipin kisah-kisah pewayangan. Oya Batara Narada itu, dewa gendut yang selalu nyengir kan ?

  9. 9 chiw imudz Mei 9, 2007 pukul 12:16 pm

    sik sik sik…
    heh, Joe…Cakrabaskara kuwi benere panah opo pistol? kok muni ‘dor’? opo pancen kw gak iso niru suarane panah?
    gyehehehehe

  10. 10 M Shodiq Mustika Mei 9, 2007 pukul 12:33 pm

    Jadi, wanita = penyebab lelaki merana?
    Pria = penyebab lelaki bahagia?

    Gimana kalo duel antara sesama lelaki? Merana ataukah bahagia? Lihat http://muhshodiq.wordpress.com/2007/05/08/duel-cak-alief-vs-bung-shodiq/

  11. 11 joesatch Mei 9, 2007 pukul 1:32 pm

    Arief Fajar Nursyamsu:::
    ini versi beda, mas. yang di maespati zonder konser dangdutan, hahahaha!

    Shan-in Lee:::
    jadi semangat buat nulis yang lain 🙂

    Lutfi:::
    bintang? siapa yang bintang? maksudnya, siapa bintang yang sebenernya? aku atau kamu, lut? kakakakakaka!

    Emanuel Setio Dewo:::
    makasih juga, mas. sabar…sabar…orang sabar disayang tuhan 😉

    Seorang perempuan:::
    yah, mbak…namanya juga oknum 😛

    Raffaell:::
    selanjutnya, akan berusaha menggunakan bahasa semembumi mungkin, hehehehehe

    chiw imudz:::
    kalo aku pake bahasa jawa krama, khawatirnya kamu malah bingung 😛

    Odi:::
    yup…yup… 🙂

    M Shodiq Mustika:::
    nggak juga, kang. saya bicara dalam konteks oknum, kok. bukan generalisasi, hehehehe

  12. 12 diditjogja Mei 9, 2007 pukul 2:20 pm

    dowo!!
    males moco dongeng dowo2…
    males komen….

    sori joe ngejunk.. :p

  13. 13 Lily Mei 9, 2007 pukul 3:17 pm

    Behind every great man, there’s a great woman.. 😉

    Behind every failed man, there’s (or ‘are’..) poisonous woman.. (or women.. ;p)
    *yg kedua tambahan gue sendiri..*

  14. 14 Lutfi Mei 9, 2007 pukul 4:12 pm

    Kenapa masih bertanya?

    memangnya anda belum kapok?

    mesti berapa kali lagi anda terhempas?

    Everyone needs help,either does spiderman…
    (Spiderman 3, 2007)

  15. 15 elpalimbani Mei 9, 2007 pukul 6:14 pm

    wah cerita legenda yang asyik dibaca…. nice posting!

    btw, abis baca cerita di atas saya jadi ingat teman sekolah saya dulu yang namanya sumantri cakrabaskoro . kebetulan doi punya pacar yang namanya citrawati . nah lho…??!! kok bisa sama ya ???

    Ntar dulu… itu belum seberapa… Bapaknya temanku si sumantri itu namanya wisanggeni juga kayak nama bapaknya sumantri dalam cerita di atas. cuma beda beliau gak pake gelar resi tentunya. masa sih ??!! Iya bener! … bahkan sumantri teman saya itu nama adik laki-lakinya yang nomor 3 juga sukrasana (cat : Sumantri teman saya itu anak sulung dari 5 bersaudara-red). Nah lho…??? Bingung kan ??? kok bisa kebetulan mirip banget sih ?!……
    eiitt..! Itu bukan kebetulan. Sumpah ! bukan kebetulan…..

    Lha wong saya cuma ngarang-ngarang kok, hihihi… bletak! *kabouuurr…. *

  16. 16 joesatch Mei 10, 2007 pukul 12:05 am

    diditjogja:::
    angel dijak pinter 😛

    Lily:::
    apakah kesimpulannya berarti “pintar2lah memilih pasangan”? hehehehe

    Lutfi:::
    kalo cuma desti atau afifah, belum bisa disebut terhempas! 🙂 langit masih biru, sobat. cinta di luar sana masih menunggu, huhuhu

    elpalimbani:::
    heh? heh? heh? mana orangnya? oh, sudah kabur… padahal wis ta’gawakke pentung 😛

  17. 17 ekoutama Mei 10, 2007 pukul 8:33 am

    OK JUGA TUH CERITANYA…………

  18. 18 Lily Mei 10, 2007 pukul 1:31 pm

    Pintar2lah memilih pasangan..
    Klo bisa memilih,
    klo gak punya pilihan ya nasib.. ;p

  19. 19 neri Mei 10, 2007 pukul 1:33 pm

    ada g cerita pewayangan yang lakon utamanya pinter, ngganteng tapi bayak utang dan tiga kali gagal bercinta ?????
    Btw, pasti lakon itu kePDan y, pernah ngira dipacarin…ups dicintai wanita, tapi tnyt wanitanya g nganggep blas! :-))

  20. 20 isez Mei 10, 2007 pukul 2:45 pm

    ini cerita aseli???

  21. 21 isez Mei 11, 2007 pukul 4:02 pm

    *lily* beda lho antara ga punya pilihan sama ga ada yang milih… :p

  22. 22 dnial Mei 11, 2007 pukul 5:00 pm

    Habis gini ceritanya Srikandi sama Bhisma ya…
    Atau dendam Drupadi sama Pandu Dewanata?

  23. 23 joesatch Mei 11, 2007 pukul 7:50 pm

    ekoutama:::
    terimakasih

    Lily:::
    lho, sumantri masih bujang lho… 😛

    neri:::
    ndak ada. adanya cuma di dunia nyata 😀

    isez:::
    asli…asli ada di kitab arjunasasrabahu 🙂

    dnial:::
    bisma-srikandi sudah pernah kutulis, kok. disearch aja, hehehe

  24. 24 pramur Mei 11, 2007 pukul 8:47 pm

    Numpang nimbrung nih Mas…
    Hm.. Inikah yang mau dijadikan buku itu?
    Aku, walau tidak mahfum dengan hikayat perJawaan, tapi mahfum dengan ceritanya SGA dengan judul Wisanggeni. Baca Bos.. Keren…

  25. 25 passya Mei 12, 2007 pukul 1:10 pm

    salah satu karakter yg tidak saya suka di pewayangan ya Bambang Sumantri ini…. hebat, joesatch emang keren…! two thumb!

  26. 26 joesatch Mei 12, 2007 pukul 7:15 pm

    pramur:::
    salah, mur. lha aku memang pengen bikin buku, tapi buku tentang seputar desain grafis-lah, kekekekekeke! wisanggeninya aku pinjem, mur. nanti kupinjemin jalan kematian para ksatria

    passya:::
    halah…berlebihan ah! *jadi malu*

  27. 27 deking Mei 12, 2007 pukul 11:44 pm

    Joe, request ya…
    Kapan nulis kisah tentang Hanoman?

  28. 28 superkecil Mei 13, 2007 pukul 9:05 am

    yach.. jangan hanoman… dunk
    aq maw request Rengganis luv Pangeran Kelaswara vs Adaninggar luv Widaninggar je…
    wah pa’ de king mencuri ideku
    hehe:D
    Sumantri bukannya mati yak?

  29. 29 Lutfi Mei 16, 2007 pukul 3:26 pm

    Joe… cerita wayang lagi dunk..

    salah satu scene di Bharatayuda juga boleh, mgkin tewasnya Abimanyu…

  30. 30 Lily Mei 21, 2007 pukul 12:26 pm

    @isez

    Aku lebih suka frase “gak punya pilihan” ketimbang “gak ada yang milih”.
    Klo yang pertama kita bertindak sebagai subyek, sedangkan yang kedua sebagai obyek.. 😉

    Nah, isez memilih jadi subyek atau obyek? ;p

  31. 31 akoedw Mei 25, 2007 pukul 10:24 am

    ehem,
    ehemmm,

  32. 32 mas agus Mei 25, 2007 pukul 7:33 pm

    mas joe, di crita pewayangan kan ada kisah poliandri… itu tuh pandawa lima kan punya istri satu thok yaitu Drupadi… mbok iyao mas joe ini ndongeng itu tu… biar ada emansisapi gitu lohh… kalo ndak salah masuk arsip mahabharata itu… oke oke tak tunggu yaa

  33. 33 munggur Mei 25, 2007 pukul 7:55 pm

    cara ceritanya menarik. cerita jaman baheula tapi gaul. asyik. ditunggu seri berikutnya. sedemikian ampuhnya kerling seorang wanit, sedikit dipanasi, eh langsung deh puanas dan segalanya jadi kacau sendiri.

    mangkanya, hati-hati sama wanita…
    coba kalo ga ada si wanita penghasut yang kurang percaya itu, nyawanya pasti ga akan musnah.

    jadi ingat, ‘no woman, no cry’, ‘no woman, not die’.

  34. 34 kurtubi Mei 26, 2007 pukul 10:04 pm

    wah ceritanya menarik sekali .. banyak istilah yang susah dihafal tapi semasa SD aku mempelejarinya. Kisah ini memang legenda sekali..tapi baru di sini aku temukan gara2 wanita sumantri merana. Dulu guruku tidak mengatakan gara2 wanita… nah kira2 apa nih maksud dari cerita ini.. belum ada resensinya ya.. heheh

  35. 35 joesatch Mei 27, 2007 pukul 5:55 pm

    mas agus:::
    sayangnya, itu yang versi india e, mas. kalo yang versi jawa, suaminya drupadi ya cuma yudistira. mereka punya anak 1 bernama pancawala 😉

    munggur:::
    makasih nasehatnya, mas 😉

    kurtubi:::
    wekekekeke, gurunya mas bener tuh. dia nggak bilang kayak gitu biar muridnya yang cowok ga pada berantem sama yang cewek 😀

  36. 36 devi Oktober 17, 2007 pukul 2:07 am

    Temen-temen, kakak-kakak mohon bantuannya tolong diisi ya…

    1.Apakah anda tahu (pernah mendengar) tentang wayang kulit?
    a. Ya
    b. Tidak

    2. Apakah wayang kulit menarik?
    a. Ya
    b. Tidak

    3.(lanjutan no.2)Apa alasannya?
    a.warnanya menarik
    b.ceritanya menarik
    c.membosankan
    d. memakai bahasa Jawa
    e…………………….

    4.Dari daerah manakah wayang kulit berasal?
    a. Jawa
    b. Sumatera

    5. Siapakah tokoh wayang yang anda tahu (pernah mendengar)?Urutkan!
    a. Arjuna(…)
    b.Anoman(…)

    6. Diantara MAHABARATA dan RAMAYANA, yang mana yang lebih anda tahu?
    a. Mahabarata
    b. Ramayana

    7. Perlukah kita melestarikan wayang kulit?
    a. Ya
    b. Tidak

    8. (lanjutan no.5) Apa alasannya?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    9. Apa saran anda agar wayang dapat diterima oleh kawula muda (mahasiswa)?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    10. Berbicara tentang wayang warna apa yang langsung terlintas di benak anda?
    a. Merah
    b. Cokelat
    c. Emas
    d. …………………………………..

    11.(lanjutan no.10)Apa alasannya?
    ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
    1.Apakah anda tahu (pernah mendengar) tentang wayang kulit?
    a. Ya
    b. Tidak

    2. Apakah wayang kulit menarik?
    a. Ya
    b. Tidak

    3.(lanjutan no.2)Apa alasannya?
    a.warnanya menarik
    b.ceritanya menarik
    c.membosankan
    d. memakai bahasa Jawa
    e…………………….

    4.Dari daerah manakah wayang kulit berasal?
    a. Jawa
    b. Sumatera

    5. Siapakah tokoh wayang yang anda tahu (pernah mendengar)?Urutkan!
    a. Arjuna(…)
    b.Anoman(…)

    6. Diantara MAHABARATA dan RAMAYANA, yang mana yang lebih anda tahu?
    a. Mahabarata
    b. Ramayana

    7. Perlukah kita melestarikan wayang kulit?
    a. Ya
    b. Tidak

    8. (lanjutan no.5) Apa alasannya?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    9. Apa saran anda agar wayang dapat diterima oleh kawula muda (mahasiswa)?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    10. Berbicara tentang wayang warna apa yang langsung terlintas di benak anda?
    a. Merah
    b. Cokelat
    c. Emas
    d. …………………………………..

    11.(lanjutan no.10)Apa alasannya?
    ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

  37. 37 de Oktober 17, 2007 pukul 2:33 am

    1.Apakah anda tahu (pernah mendengar) tentang wayang kulit?
    a. Ya
    b. Tidak

    2. Apakah wayang kulit menarik?
    a. Ya
    b. Tidak

    3.(lanjutan no.2)Apa alasannya?
    a.warnanya menarik
    b.ceritanya menarik
    c.membosankan
    d. memakai bahasa Jawa
    e…………………….

    4.Dari daerah manakah wayang kulit berasal?
    a. Jawa
    b. Sumatera

    5. Siapakah tokoh wayang yang anda tahu (pernah mendengar)?Urutkan!
    a. Arjuna(…)
    b.Anoman(…)

    6. Diantara MAHABARATA dan RAMAYANA, yang mana yang lebih anda tahu?
    a. Mahabarata
    b. Ramayana

    7. Perlukah kita melestarikan wayang kulit?
    a. Ya
    b. Tidak

    8. (lanjutan no.5) Apa alasannya?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    9. Apa saran anda agar wayang dapat diterima oleh kawula muda (mahasiswa)?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    10. Berbicara tentang wayang warna apa yang langsung terlintas di benak anda?
    a. Merah
    b. Cokelat
    c. Emas
    d. …………………………………..

    11.(lanjutan no.10)Apa alasannya?
    ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
    1.Apakah anda tahu (pernah mendengar) tentang wayang kulit?
    a. Ya
    b. Tidak

    2. Apakah wayang kulit menarik?
    a. Ya
    b. Tidak

    3.(lanjutan no.2)Apa alasannya?
    a.warnanya menarik
    b.ceritanya menarik
    c.membosankan
    d. memakai bahasa Jawa
    e…………………….

    4.Dari daerah manakah wayang kulit berasal?
    a. Jawa
    b. Sumatera

    5. Siapakah tokoh wayang yang anda tahu (pernah mendengar)?Urutkan!
    a. Arjuna(…)
    b.Anoman(…)

    6. Diantara MAHABARATA dan RAMAYANA, yang mana yang lebih anda tahu?
    a. Mahabarata
    b. Ramayana

    7. Perlukah kita melestarikan wayang kulit?
    a. Ya
    b. Tidak

    8. (lanjutan no.5) Apa alasannya?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    9. Apa saran anda agar wayang dapat diterima oleh kawula muda (mahasiswa)?
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

    10. Berbicara tentang wayang warna apa yang langsung terlintas di benak anda?
    a. Merah
    b. Cokelat
    c. Emas
    d. …………………………………..

    11.(lanjutan no.10)Apa alasannya?
    ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………

  38. 38 Shelling Ford Oktober 17, 2007 pukul 7:24 pm

    1. ya
    2. ya
    3. sabetannya pak manteb sudharsono! gila, belum ada yg secepat dia. bolehlah disejajarkan sebagai yngwie malmsteen dunia pedalangan. dan tentu saja itu semua selain nilai falsafah jawanya yang tinggi 😉
    4. jawa
    5 dan 8. kok cuma dua? aku lupa kalo disuruh ngurutin dari yg pertama kudengar. terlalu banyak yang harus kuingat soale. tapi waktu baru lahir aku sendiri sempat hampir dinamai bambang tetuko sama eyangku. dan berhubung tetuko sendiri adalah keponakannya arjuna, bolehlah diambil kesimpulan ngasal bahwa aku lebih dahulu kenal arjuna ketimbang hanoman :mrgreen:
    6. mahabarata
    7. ya
    9. ceritanya disampaikan dengan cara yg lebih uptodate. pakeliran padat juga boleh juga digunakan sebagai alternatif. aku sendiri soalnya kadang2 bosen kalo harus berlama2 nonton adegan “jejer”. pgnnya cepat2 masuk ke “perang gagal”
    10.emas
    11.merah sangat sedikit dipakai, kebanyakan untuk tokoh raksasa atau hanya wajah dari tokoh yang karakternya berangasan, misalnya baladewa atau jaya anggada. coklat pun jarang dipakai. biasanya cuma buat (lagi2) raksasa atau wanara. sisanya lebih sering dibuat wayang dengan wanda yang berwarna (agak) emas

  39. 39 panggiring November 11, 2008 pukul 12:20 am

    mas tulisanmu keren,
    minta ijin ngopi untuk ku kirim ke temen yang gak punya akses internet 🙂

    nama temenku sama dengan tokoh yang sampeyan ceritaken 🙂

  40. 40 sumantri Mei 19, 2009 pukul 11:47 pm

    seperti sekarang begawan antasari azhar takluk dengan konspirasi wanita bernama Rani juliani..ijin mengcopy untuk filepribadi sy pak soalenama tokohnya sm dgn nama saya

  41. 41 widyaharningtyas Juni 7, 2009 pukul 9:52 pm

    weleh-weleh kl gitu hampir sama ma judul kisahku..”gara-gara pria widya merana”
    tp kl disuruh critain aq kwalahan coz bner2 pnjang & lebar….pusing deh

  42. 42 Sarnen Sudjarwadi Juni 16, 2009 pukul 5:25 pm

    Wah,……… baca cerita ini puas alias marem buanget.
    mesakno Bambang Sumantri, gara2ne ke hasud karo Citrawati dadi ngorbanke adike dewe. Yen Jaman saiki kuwi Dewi Citrawati koyo sopo yo,…….. padahal deweke kuwi yen ora salah titisan Batari Sri, yen ora salah lho, mulo si pedet Rahwana nguber-uber terus.

    -wassalam-

  43. 43 sumantri ageng prasetyo Juli 26, 2009 pukul 10:06 am

    wah kok ceritnya serem, nama saya pemberian mbah putri, katanya diambil dari cerita itu lho pak…
    minta ijin copy ya…

  44. 44 sumantri Maret 26, 2011 pukul 1:31 am

    Thanks Mas. Walau sdh berxx membaca cerita tentang Raden Sumantri, tapi yang ini beda… bisa bikin ketawa ngakak. Oh .. iya, apakah dalam kitab arjunasasrabahu diriwayatkan juga bahwa siapa saja yg diberi nama Sumantri akan dikutuk mendapat godaan wanita ?

  45. 45 arien Juli 12, 2011 pukul 1:59 pm

    siip mas…
    ceritanya jadi enak…bikin ketawa tetapi malah mudah dipahami….

  46. 46 bandanaku Desember 5, 2013 pukul 1:40 pm

    penulisan ceritanya menarik, seru banget ini….


  1. 1 Gara-Gara Wanita, Laksmana (Juga) Merana « The Satrianto Show! Lacak balik pada Mei 23, 2007 pukul 12:42 pm
  2. 2 Bisa Gak Ya... Nulis Tanpa Abjad Itu...? « just a little window Lacak balik pada Mei 25, 2007 pukul 1:48 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,056,257 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia