Gara-gara Njagong Manten

(Diperankan oleh: Kudzi sebagai sopir, Suriph sebagai pacarnya Winda, Septo sebagai ketua Himakom, Winda sebagai pacarnya Suriph, Joe sebagai mahasiswa senior, dan Gento sebagai fotografer)

Nuju sawijining dina, pada suatu hari, tepatnya hari Minggu tanggal 18 kemarin, aku terbangun pukul 8 pagi lewat dikit. Terburu-buru nggodok air buat mandi, nyeterika Spyderbilt-ku satu-satunya (sedekah dari seseorang di masa lalu. Aku tak mampu beli sendiri, hikz…), dan jebar-jebur di kamar mandi, karena hari itu aku teringat bahwa Ana, adik kelasku di kampus sekaligus rekan satu komisi di Senat Mahasiswa FMIPA UGM, mau mantenan hari itu.

Setelah nyetater Alfa II R-ku, jam 9 aku sudah nyampai di kampus buat janjian njagong mantennya Ana bareng-bareng naik motor ke Sukoharjo sama anak-anak yang lain. Ternyata di kampus masih sepi, dan ngobrollah aku ngalor-ngidul dengan satpam penjaga kampus yang sudah kukenal sejak hampir 5 tahun yang lalu.

Selang beberapa saat kemudian datanglah Suriph dan Winda yang disusul Septo. Perbincangan mulai beralih ke arah sepakbola dan balapan Formula-1, lalu kemudian ke arah mantenannya Ana sendiri.

Menurut gosip yang beredar di kampus, Ana – setahu kami – dekat dengan teman seangkatanku, Ce’a yang sudah lulus dan nyambut gawe di Jakarta sekarang. Tapi entah kenapa tiba-tiba nikahnya bukan dengan Ce’a. Itulah yang membuat adik-adik kelasku di kampus terheran-heran sembari menanyakan kejelasan tentang status mereka berdua. Berhubung aku juga nggak tau banyak, aku cuma menjawab kalau kabar terakhir yang aku tau, Ce’a justru nggak tau kalau Ana nikah hari itu.

“Wah, Ana rodo ngawur kie nek ngene carane. Mosok Mas Ce’a ra diundang. Mesakke,” kata anak-anak.
“Ha, yo mbuh. Nek aku sesuk ra bakal koyo ngene. Mantan-mantanku bakal ta’undang semua kalo aku nikah sambil ngomong, ‘Kie, delok’en bojoku. Padakke temon mung kowe thok opo?’” balasku ngawur.

Sejurus kemudian Gento datang. Setelah nanyain jadi berangkat atau tidak, dia ngacir lagi buat jemput Kudzi. Aku sempat wanti-wanti ke Gento buat nyuruh Kudzi bawa mobilnya. Nanggung kalo motoran, wong pesertanya cuma 6 orang. Daripada capek di jalan semuanya, mendingan bawa mobil.

Kudzi datang. Tapi beliau menolak bawa mobil. Akhirnya kami berangkat motoran dengan terpaksa. Kudzi bareng Gento, aku bareng Septo, Winda tidak bisa tidak harus boncengan bareng Suriph. Sampai di Jalan Colombo datanglah kesialan pertama kami. Ban motornya Suriph bocor. Anak-anak jadi mulai mendesak Kudzi buat pulang ngambil mobilnya daripada nanti-nanti ada halangan lagi di jalan. Dan setelah nego yang alot ditambah iming-imingan Rp.10.000,- per orang, akhirnya Kudzi bersedia buat pulang ngambil B 1794 BR-nya.

Wow, akhirnya setelah menitipkan motor di tempatnya Dinan yang dekat dengan lokasi kecelakaan, kami pun berangkat dengan Jazz Sport-nya Kudzi. Kudzi nyopir didampingi Septo di depan, sisanya dempet-dempetan berempat di bagian belakang. Nggak pa-pa, kecil-kecil ini. Oh ya, untuk sekedar info, kami ini rombongan terakhir dari kampus yang berangkat ke mantenannya Ana. Rombongan pertama sudah berangkat sejak jam 7 pagi. Jam sudah menunjukkan pukul 11 ketika Jazz-nya Kudzi membelah Jalan Adisucipto.

Sebelum masuk kota Klaten, kami belok kanan di pertigaan Wedi sesuai petunjuk yang tertera di peta yang diberikan Ana sebagai bonus di kartu undangan nikahnya. Di peta itu juga tergambar bahwa kami tinggal lurus aja ngikutin jalan buat nyampai ke tempatnya Ana. Untuk tambahan pengetahuan bagi pembaca, rumahnya Ana itu memang di Sukoharjo. Tapinya Sukoharjo mblusuk, bukan Sukoharjo kota seperti tempat rumah peninggalan eyang buyutku dari pihak ibuku. Mblusuknya juga mblusuk banget, seperti kesimpulan akhir kami ketika nantinya kami berhasil nyampai ke tempatnya Ana.

Jalanan masih gampang diikuti sampai dengan pertigaan ke arah Bayat. Sampai di situ datanglah ketersesatan kami yang pertama. Lha piye, gambar di petanya Ana semua lurus-lurus aja, nggak ada persimpangan macem-macem, tapi pada prakteknya kami harus muter-muter nyari jalan ditambah beberapa kali turun buat menanyakan arah pada penduduk sekitar. Alhasil, peranku sebagai navigator mulai diragukan sama anak-anak.

Akhirnya, setelah kenyasaran kami yang terakhir, kami berhasil juga nyampai ke tempatnya Ana. Tapi ternyata begitu kami masuk ke gangnya, pestanya sudah bubaran! Jangkrik! Kampret! Tamu-tamu sudah pada pulang, begitu juga dengan rombongan-rombongan awal dari kampus. Kursi-kursi buat tamu sudah mulai diangkati, meja sudah mulai dibersihkan. Piye iki? Piye iki?

Kami nekat. Dengan langkah gagah dan sok cuek kami berenam masuk. Untungnya kami bawa kado, jadinya nggak malu-malu banget. Setelah salam-salaman dengan Ana dan suaminya yang ditaksir berusia di atas 30 tahun, dengan tenangnya kami duduk-duduk menunggu sisa-sisa hidangan diantarkan. Alhamdulillah, masih ada beberapa porsi bakso dan es buah yang bisa ditenggak. Berhubung sudah tidak ada lagi yang bisa kami lakukan setelahnya, maka setelah makan kami pun langsung pamitan pulang dengan teganya.

Dari mantenannya Ana, kami ke arah Sukoharjo kota. Ke rumah peninggalan buyutku yang sekarang ditinggali bulikku buat ngaso dan shalat. Setelah berbotol-botol softdrink, sekresek manggis, dan sebungkus besar kacang kulit, kami langsung cabut lagi ke arah Solo buat nerusin pulang ke Jokja.

Sampai di daerah Mangkunegaran, Winda mengeluh lapar (lagi). Dia minta dipakani sesuatu yang khas Solo. Aku bingung. Jujur, jajan di Solo sesiang itu bakalan mahal soale. Nggak mahal-mahal banget, sih. Tapi tau sama taulah kalau kami ini mahasiswa semua. Mahasiswa UGM lagi. Kekayaan kami otomatis lebih banyak tersedot buat mbayar SPP yang semakin gila-gilaan dan bermasalah (yang terakhir, malah banyak mahasiswa yang protes gara-gara tarif menuntut ilmu semester ini banyak yang tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Mendadak dinaikkan secara sepihak).

Maka dengan ngawurnya kuarahkan mereka ke arah Turisari, dekat rumah peninggalan almarhum bapaknya bapakku (halah… Kakekku, maksudku), ke cabang Timlo Sastro yang konon berdiri sejak 1952. Dan kagetlah kami demi melihat harga yang tertera di daftar menunya. Ini bukan menu yang bisa dipesan oleh mahasiswa UGM!

Tapi tenang, bukan karena harga yang kemudian menyebabkan kami tidak bisa memesan menu kelas high-end. Tapi justru karena pelayan-pelayannya di situ tidak propesional. Tercatat rempelo, ati, tahu, dan brutu, menurut penuturan si mas pelayan sudah habis. Nah, bagaimana kami bisa memesan menu timlo komplit kalau begitu caranya? Terpaksalah kami berpuas-puas diri dengan barang kelas low-end. Heran, sesiang itu kok sudah habis stoknya? Padahal belum masuk waktu ashar, lho. Pancen restoran yang tidak propesional. Bagaimana nasib pengunjung mereka ntar malam, ya?

Selesai makan, kami melanjutkan perjalanan kembali ke Jokja. Sepanjang perjalanan, Winda, sebagai satu-satunya makhluk hawa di dalam mobil, mendadak jadi ajang keluh-kesah cowok-cowok di dalam mobil tentang tingkah laku gebetannya Septo, mantannya Kudzi dan Gento, juga gadis yang sempat jadi incaranku.

Septo bercerita tentang “Ya kalau kamu mau jadi yang kedua ya nggak pa-pa”-nya. Kudzi berkisah tentang tragedi SMS “Tolong lepaskan aku”. Gento tentang kisah “Atap Radio Swaragama”-nya, ditambah aku dengan “Aku gelem kok, Mas” yang tiba-tiba berubah haluan gara-gara teman pria satu esemanya.

Itu belum lagi ditambah dengan gosip-gosip anak-anak cowok di kampus yang terlantar gara-gara wanita. Pokoknya sampai Jokja, Winda terus dibombardir dengan pertanyaan kenapa cewek suka kelihatan tidak berperasaan kepada cowok. Dan jawabannya Winda cukup simpel: Wanita memang lebih suka memilih untuk jujur pada perasaannya sendiri daripada mempertimbangkan perasaan laki-laki.

Begitulah, setelah transit ngambil motor di tempatnya Dinan, kami pun pulang ke rumah masing-masing. Dan aku pun langsung ngglebak di kasur.

25 Responses to “Gara-gara Njagong Manten”


  1. 1 Mas Agus Maret 19, 2007 pukul 12:39 pm

    Wah mbah Timlo Sastro kok ya kuwat amat berdiri sejak 1952…
    lha kalo aku berdiri 2 jam saja dah pingin duduk.
    mau nyaingi Nyonya Meneer kayaknya ya

  2. 2 Evy Maret 19, 2007 pukul 2:15 pm

    Waduuh Joe, kamu pake batik hehehe ga pantes… tentang wanita itu tanya sama wadehel or anto, mereka sudah di kasih pelajaran tambahan sama mbok venus…xixixixixi…

  3. 3 joesatch Maret 19, 2007 pukul 2:27 pm

    Mas Agus:::
    nyonya meneer udah ndak mungkin disaingi, mas. beliau itu wanita paling kuat di dunia. 😛

    Evy:::
    eh, mbak, aku yang pake hem putih, lho. spyderbilt kan ndak ngeluarin versi batik, kekekeke

  4. 4 venus Maret 19, 2007 pukul 3:57 pm

    saya protes!!! bukan saya yg ngajarin wadehel n anto. bu dokter tuh yg paling kacau…hahaha…

  5. 5 deKing Maret 19, 2007 pukul 5:57 pm

    Komentar :
    1.

    Terburu-buru nggodok air buat mandi,

    Kemayu banget, lé adus ndadak nganggo banyu anget.
    2. Ngakak sampe perut pegel lihat Joe ndhodhok nang ngarep…
    Luwé ya Joe? kakakakakakak
    3. Bener ternyata Joe ndhodhok mergo luwé, buktiné lé manganmaem langsung soko wadhah sego …
    BTW kenapa tidak diceritakan secara rinci posisi duduk kalian di belakang? Démpét2an sama yang bukan muhrim itu haram hukumnya…dosa tauk..
    *wakakakakakakakakakakak*

  6. 6 kudzi Maret 19, 2007 pukul 6:40 pm

    Lho joe…
    Bukannya setalah pulang kamu mampir ngenet di rumah ??

  7. 7 joesatch Maret 19, 2007 pukul 7:57 pm

    venus:::
    yang manapun, yang mau mau ngajarin saya, boleh 😀

    deKing:::
    yang dempet2an si suriph, kok. aku ndak ikut2an 😛

    kudzi:::
    beberapa bagian yang tidak menarik memang dihilangkan, bro…gyahahaha! ndak romantis berteduh kehujanan bareng kamu+septo soale

  8. 8 tepe Maret 19, 2007 pukul 8:00 pm

    huh aku ga dijak.. awas ya kudz..
    kapan joe kamu nyusul.. sudah banyak cowok menunggumu.. wekeke..

  9. 9 joesatch Maret 19, 2007 pukul 8:08 pm

    koen bakalane lungguh neng bagasi, pe

  10. 10 peyek Maret 19, 2007 pukul 10:06 pm

    joe piye tho? lha kowe kapan? ganti nama wae, johan (joko bertahan) ojo kayak nona meneer lha… apa mau bertahan? apa berdiri terus kekekekekk!!!

  11. 11 joesatch Maret 19, 2007 pukul 10:19 pm

    tidak bertahan. mau saya lepas buat penawar tercantiq termahal, kok 😛

  12. 12 antobilang Maret 20, 2007 pukul 5:13 pm

    kapan joe, aku iso njagong neng mantenan mu??
    ojo lali sebelum nikah, kursus kilat sama simbok venus, biar ada sedikit trik2 biar tahan lama..hahaha

    #venus

    saya protes!!! bukan saya yg ngajarin wadehel n anto. bu dokter tuh yg paling kacau…hahaha…

    sama-sama kacaunya..
    hahaha….

  13. 13 ..:X W O M A N:.. Maret 20, 2007 pukul 8:34 pm

    joe aku yo mengko arep njagong mantenanmu

  14. 14 manusiasuper Maret 21, 2007 pukul 8:11 am

    Berbicara dalam bahasa apa seh orang-orang ini?

    *manusiasuper yang buta total boso jowo*

  15. 15 zam Maret 21, 2007 pukul 2:09 pm

    jadi inget Petualangan Purbalingga™

    eh, harusnya pas di Solo, ente mampir ke warung Tahu Kupat di jalan Gajah Mada. Letaknya tak jauh dari Mangkunegaran. Harganya murah, ndak kayak Timlo fakyu itu..

    weheheheh…

  16. 16 purwadi06 Maret 21, 2007 pukul 3:13 pm

    Eh Joe …sing melet-melet kuwi sopo to ! Kayaknya mirip bintang iklan yang di tivi ! Eh bukan …, kayak aku yang habis makan tapi perutnya masih nagih-nagih !

  17. 17 kudzi Maret 21, 2007 pukul 6:46 pm

    Kurang ajar !
    Cuma satu fotoku dipajang…
    Hiksss 😦

  18. 18 joesatch Maret 21, 2007 pukul 9:34 pm

    antobilang & XWOMAN:::
    maap, tidak dalam waktu dekat ini, kekekeke

    manusiasuper:::
    bahasa apa bgmn? bukannya situ udah tau kalo ini lagi pada pake bahasa jawa 😛

    zam:::
    lha tahu kupat wis umum e, kang. si winda mintanya yang khas

    purwadi06:::
    yang melet yang mana? aku sempet melet, suriph juga sempet melet lho 😛

    kudzi:::
    tolong diperhatikan baik2, mas. foto anda ada 2 😀

  19. 19 kudzi Maret 21, 2007 pukul 10:26 pm

    yeee yang satu mah ane kira cuma headernya doankk.. kan ngga masuk itungan…
    hiksss… masa mobilnya aja yang terlihat jelas… 😦

  20. 20 ayoe... Maret 27, 2007 pukul 5:26 pm

    dih…malu ih SMP (sLese makan Pulang)
    tapi km seh untung ban9…
    doelu aku pernah dtng kepesta KawiNan lebih telat drpd km, bgtu dateng..pengantennya udah pulang..
    tinggal orang2 beres2in Bunga…maLuuuu bdg…

  21. 21 winda (salah satu pemeran Maret 29, 2007 pukul 8:35 am

    Mas Joe ki…
    “Sampai di daerah Mangkunegaran, Winda mengeluh lapar (lagi)”
    Disini saya cuma mau klarifikasi, kalo nafsu makan saya ga sebesar itu kok.. Saya kan cuma mewakili keinginan terpendam kalian para pria yang sudah pasti tidak cukup makan dengan porsi segitu…
    Untuk itu harus ada yang menyuarakan.. selain saya sendiri emang masih lapar.. kekekeke…
    MASIH (lapar) lho, bukan lapar (LAGI)…
    hwehehehe….

    Yo jalan-jalan lagi… !!!

  22. 22 joesatch Maret 29, 2007 pukul 2:20 pm

    kudzi:::
    protes? ini blogku. sana, bikin tulisan di blogmu sendiri makanya 😀

    ayoe:::
    kamu bawa kado ga, ay? kalo ndak bawa mestinya kamu malu kuadrat 😛 yah, jadikan pelajaran saja, kekeke!

    winda:::
    ehem…sebuah ungkapan halus untuk istilah “rakus”, kakakaka!

  23. 23 Ana April 2, 2007 pukul 3:14 pm

    ana ngawur ya? duh tidak seperti itu..ana mengundang beliau juga kok, benar.tapi kalau beliau nya tidak mengakui klo di undang sama ana ya sudah hiks:(. ana menikah juga atas persetujuan beliau. cerita nya panjang dan tidak perlu di ceritakan:p. sebaiknya mas joe kroscek dulu sebelum membuat statement di sini hi3 peace ga boleh marah njih.

    jazakumullah khairon katsir atas kedatangan dan keikhlasan do’a winda, mas joe, mas kudzi, mas wib, septo dan arif. juga atas kado nya. semoga saja ana di beri kesempatan membalasnya di dunia ini, kalo pun tidak, semoga semua ini menjadi catatan kebaikan tersendiri bagi teman-teman. maaf njih jika ada hal yang tidak berkenan….

  24. 24 joesatch April 2, 2007 pukul 3:16 pm

    waduh, maap na…
    lha aku dapet crita dari sahal begitu…
    hehehehe, maap2…
    maap bgt… ^_^

  25. 25 joesatch April 2, 2007 pukul 3:21 pm

    eh, nambah, na…
    yang bikin statemen bukan aku lho, hehehe. aku cuma menceritakan dialog diantara anak2 secara garis besar 😉 piss ah 😛


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,036,688 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

Maret 2007
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia