Syirik dalam Nama: Penghakiman Terlalu Dini

Lagi-lagi aku pengen mengkritisi sesuatu yang berhubungan dengan agamaku. Mungkin memang jadinya aku selalu kelihatan menentang agamaku sendiri. Tapi ya mau bagaimana lagi, lha menurutku memang banyak sekali hal-hal yang tidak berdasar yang celakanya diikuti oleh “teman-teman”ku secara membabi-buta. Kalaupun nanti jadinya aku bakal dimusuhi gara-gara kelihatan selalu menentang paham “mereka”, wah, ya ndak pa-pa. Selain memang maksudku bukan menentang tapi meluruskan, aku juga nggak peduli dengan pendapat orang-orang yang mencapku sebagai “domba tersesat”. Nggak pa-pa, aku kan memang pengen jadi bajingan.

Jadi begini, dalam hal apapun di dunia ini, menurutku, sangat tidak adil kalau kita menghakimi sesuatu berdasarkan 1 sudut pandang saja. Nah, di bawah ini ada kutipan dari artikel yang aku ambil dari website musholla kampusku. Isinya lagi-lagi mencap suatu hal sebagai sebuah kesyirikan yang sayangnya terlalu dini dan kurang mempertimbangkan aspek-aspek lainnya. Kutipannya kayak gini, neeh:

Tidak boleh (haram hukumnya) bagi seseorang menamakan diri atau anak-anaknya dengan nama yang mengandung unsur penghambaan kepada selain Alloh. Misalnya, ‘Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah), ‘Abdu Syams (hamba matahari), ‘Abdur Rosul (hamba Rosul), ‘Abdu Manaf (hamba Manaf), ‘Abdul Muttholib (hamba Muttholib), ‘Abdu Manat (hamba Manat), ‘Abdul ‘Uzza (hamba ‘Uzza), ‘Abdul Husain (hamba Husain), ‘Abdus Sayyid (hamba Sayyid Al Badawi), dan lain-lain. Adapun penamaan ‘Abdul Mutthalib, para ulama berbeda pendapat tentang boleh atau tidaknya. Yang mengatakan boleh, mereka berdalil dengan hadits Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam ketika perang Hunain, “Aku adalah cucu ‘Abdul Mutthalib.” (HR. Al Bukhari). Ini menunjukkan bolehnya penamaan seperti itu. Namun yang lebih rojih (benar/kuat) adalah penamaan itu tidak diperbolehkan. Sedangkan hadits Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam tersebut tidak menunjukkan sama sekali bolehnya hal itu karena konteks hadits adalah pernyataan semata, bukan perintah.

Dan aku bilang yang di atas itu ngawur! Kenapa ngawur? Karena contoh-contoh yang disebutin di atas cuma mengartikan nama-nama tersebut sebagai sebuah frase, bukan kata per kata. Menurut agamaku, nama adalah doa. Aku nggak sangsi dengan hal itu. Tapi, tiap-tiap orang tua pun punya caranya sendiri-sendiri dalam berdoa, iya kan? Sebagai serangan balik, nama yang diberikan orang tuaku kepadaku akan menjungkir-balikkan bahwa kutipan di atas adalah ngawur!

Nama lengkapku Anindito Baskoro Satrianto. Menurut shohibul hikayat yang diceritakan kembali oleh orang tuaku, Anindito berarti linuwih, tanpa cela, atau sempurna (dan tentu saja manusia justru sempurna karena ketidak-sempurnaannya). Baskoro artinya matahari, sedangkan Satrianto adalah ksatria. Ketika arti namaku digabung maka akan membentuk frase “tanpa cela matahari ksatria”, padahal maksud orang tuaku tidak seperti itu. Pun namaku bukanlah anagram dari kalimat “ksatria matahari tanpa cela”. Setidaknya begitu menurut shohibul hikayat tadi.

Shohibul hikayat mengatakan bahwa namaku hanya bisa diartikan kata per kata sebagai doa dan harapan orang tuaku atasku, dan bukan sebagai sebuah frase. Orang tuaku berharap aku jadi manusia yang linuwih atau berilmu tinggi dan nyaris tanpa cela dalam setiap tindakanku. Lalu orang tuaku juga berharap aku memiliki sifat pengayom sebagaimana matahari yang mengayomi bumi tanpa pamrih. Lagi-lagi orang tuaku berharap aku menjadi laki-laki yang memiliki jiwa seorang ksatria sejati, tidak pengecut, dan berani mengatakan kebenaran.

Seandainya saja aku besok punya anak yang kunamakan, misalnya saja, Abdul Baskoro, tentunya sama sekali tidak kumaksudkan bahwa anakku kuharapkan jadi seorang hamba matahari. Abdul bakal kuartikan sebagai hamba yang tentunya hamba dari suatu kekuatan yang pantas dipertuankan (bisa ditebak ke mana arahku, kan?). Baskoro bakal kuartikan kira-kira seperti arti namaku sendiri. Sama sekali tidak kumaksudkan sebagai sebuah frase, tapi, sekali lagi, kata per kata!

Jadi kesimpulannya, kita tidak bisa menghakimi nama seseorang mengandung kesyirikan atau bukan sebelum kita mengerti sejarah dari maksud dari nama itu. Kita tidak berhak langsung mengklaim hanya karena makna yang sebenarnya tidak kita ketahui secara detail, apalagi penghakiman yang sifatnya sepihak.

Nah, ternyata pikiran manusia saja tidak bisa kita tafsirkan secara sempurna, kan? Makanya, aku heran kenapa masih ada saja oknum-oknum yang merasa penafsirannya terhadap pikiran dan maksud Tuhan sudah pasti benar secara mutlak (jlebh! Jlebh! Ada yang kesindir?). Sekian dan terima kasih.

Iklan

72 Responses to “Syirik dalam Nama: Penghakiman Terlalu Dini”


  1. 1 kakaceria :) Februari 6, 2007 pukul 7:01 pm

    Pertamaxxxx gak yach ?

  2. 2 kakaceria :) Februari 6, 2007 pukul 7:30 pm

    Orang tuaku berharap aku jadi manusia yang linuwih atau berilmu tinggi dan nyaris tanpa cela dalam setiap tindakanku. Lalu orang tuaku juga berharap aku memiliki sifat pengayom sebagaimana matahari yang mengayomi bumi tanpa pamrih. Lagi-lagi orang tuaku berharap aku menjadi laki-laki yang memiliki jiwa seorang ksatria sejati, tidak pengecut, dan berani mengatakan kebenaran.

    =

    Anindito Baskoro “Joe” Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan.

  3. 3 Arif Kurniawan Februari 6, 2007 pukul 7:31 pm

    Joe, mumpung kamu lagi jadi ahli nama. Numpang nanya dong, nama Yahya Jaim Nih itu sirik ga?

  4. 4 passya Februari 6, 2007 pukul 7:53 pm

    namaku pasxxxx syarief hidayatullah naibaho
    kira2 apa tujuan ortu ngasih nama itu?
    kayaknya:
    1. biar kayak sunan gunung jati yg meng-islam-kan jawa barat dsk? kenyataannya meng-islam-kan diri sendiri aja masih lelet 😛
    2. biar keterima kuliah di UIN syarief h jkt? gagal juga 😛

  5. 5 de King Februari 6, 2007 pukul 8:47 pm

    Ikut-ikutan membahas nama ah…
    Nama panggilanku de King itu sebenarnya bukan the king, tapi deking hanya suatu usaha untuk membuat kata ceking menjadi lebih keren… 😀

  6. 6 azwin the hobbit Februari 6, 2007 pukul 9:52 pm

    azvin lazuardy hutama : artine rodo rak nyambng sih : lazuardy (langit yang biru), hutama (moso rak ngerti artine), azvin (buat panggilan aja) kalo disambung : buat panggilan langit yang biru moso rak ngerti artine

  7. 7 joesatch Februari 6, 2007 pukul 10:30 pm

    kakaceria:):::
    bukan keren, tapi keren, puk!
    Arif Kurniawan:::
    Bukannya sirik. Justru sebenernya nama pemberian orang tuanya itu berarti sangat bagus. Jaim bisa bermakna ganda yang sama-sama bagus: JAga IMan dan JAga “IMron”. tapi sayang beribu sayang, 22nya gagal dijaga. Iman ga kuat, maka “Imron” pun njengat! 😛 Kakakakaka!
    passya:::
    yah, namanya juga doa. terkabulnya nggak pernah bisa diketahui kapan 😀
    de King:::
    banyak2 makan, jangan ada sisa. makan jangan berswara…….
    azwin the hobbit:::
    benar2 tidak berkelas 😛 kekekekeke! tapi masih untunglah “tidak berkelas” daripada “syirik”, hayooooo…

  8. 8 kudzi Februari 6, 2007 pukul 10:33 pm

    Terkadang Orang tua juga nyeleneh misalkan namaku, menurut mereka “Kudzi” itu diambil dari ayat Kursi Q.S Al-Baqarah 255, padahal banyak yang sangka dari hadist Qudsi yang berarti “Suci”. kekekekeee…
    Tapi syukurlah dari pada Orang Batak, menamai anaknya dengan benda atau kejadiannya yang pertama kali Bapaknya Lihat ketika dia pertama kali lahir.. hehehe jadi jangan heran kalo denger nama orang “Tembok” hanya karena bapaknya melihat tembok ketika anaknya lahir dia liat tembok heheheheee….
    Ini buka SARA lo… beneran!!!, ini cerita dari temanku yang orang Batakkk

  9. 9 Abdullah Februari 6, 2007 pukul 10:39 pm

    kita memang cuma hamba koq mas, hamba ALLAH, kenapa mau jadi hamba makhluk,
    Dan sesungguhnya kita ini makhluk paling hina malah, bahan baku AYAM masih laku 500 perak sebutir, bahan baku kita (manusia) dijual dipasar siapa yang mau beli?

  10. 10 joesatch Februari 6, 2007 pukul 10:52 pm

    kudzi:::
    ah, cuma Tembok, kok. Belum masuk kategori syirik, zi 🙂
    Abdullah:::
    Kok ga nyambung ya, Mas? Kapan saya pernah bilang mau jadi hamba makhluk? Piye tho? Kayaknya ada missing-link, deh, di Central Processing Unit sampeyan. Iya, tak? 😛 Gini aja deh, saya nanya sama masnya, kira-kira kesimpulan dari tulisan saya apa hayo? Kalo jawabannya bener, nanti ta’kasih ijin buat donlot foto2 saya 😀
    Bahan baku manusia ga laku? Belum pernah denger ttg “bank sperma” juga ya, Mas? Hehehehe! Yang jelas, memang dijualnya nggak di pasar 🙂

  11. 11 anung Februari 6, 2007 pukul 11:29 pm

    dasar si Joe peniru2 namaku..
    anung anindita basuki
    anak yang lahir tanpa cacat
    dan ada arti yg lain tapi aku lupa..

  12. 12 Ma Februari 7, 2007 pukul 12:22 am

    Iyah,, kalo emang yang kaya begitu gampang nyebutnya,, syirik tuhh,, bid’ah tuhh,, giliran diajak diskusi ntar ngeles,, “kita ini ag boleh saling bertengkar” padahal cuma ngajak diskusi,,

    lagian abdul itu maksudnya putra dari bukan sih,,?

  13. 13 Luthfi Februari 7, 2007 pukul 7:56 am

    Lah, itu kan menurut elo Joe … krn elo pake sudut pandang yang berbeda ….

    Sekalian numpang, nama gw kan luthfi assadad …
    nah, gw nyari orang2 yang nama belakangnya assadad selain gw dan adek gw … 🙂

  14. 14 abdullah Februari 7, 2007 pukul 8:27 am

    maksudnya namakan anak dgn nama nama yang baik seperti berikut :
    ABDULLAH = hamba ALLAH,
    ABDUL SOMAD = hamba TEMPAT MEMINTA,
    ABDUL MALIK = hamba YANG MAHA MEMELIHARA.
    depan nya ABDUL belakang nya NAMA ALLAH, karean status kita ini “hamba”, faham? walau kelakuan kita semua rata rata kaya BOS, songong, apalagi saya 🙂

    Jadi jangan kasi nama asal, masa nama anak ABDUL WORDPRESS, mau jadi hambanya WordPress???, apa yang bisa dijanjikan wordpress??? nothing!!!

    Apa janji ALLAH??? SURGA yang luas minimalnya 10 kali lipat dunia. buat tiap orang yg dalam hatinya ada IMAN walau cuma sebesar ATOM.

  15. 15 Joni Lontong Februari 7, 2007 pukul 10:41 am

    Tadinya gue kira lo cuma tolol, setelah baca opini lo ini, gue tau ternyata lo cuma menjijikkan.

    You still learn to be truly bajingan? Maaf, bajingan nggak pantas untuk lo, lo lebih pantas sebagai TAI.

    And you don’t have to learn to be TAI, cause YOU ARE TAI.

  16. 16 raja iblis Februari 7, 2007 pukul 11:20 am

    jadi inget ucapan shakespeare !
    cuma memang, terlalu banyak “berharap” tanpa dibarengi dengan perbuatan nyata membuat semua itu menjadi sia-sia. dan yg lebih seru lagi, masih cukup banyak yg berpedoman bahwa cukuplah dengan niat yg baek, udah dicatat malaekat buat masuk surga …

    emang nasi goreng kalo diliatin aja terus bisa bikin kenyang …

    cuma, arti muhammad itu apa ya ?

    wakkakakakaaa ….

  17. 17 Dee Februari 7, 2007 pukul 11:28 am

    Setahu saya, kalau orang Jawa ngasih nama arab, biasanya memang dia nggak tahu artinya. Yang penting biar kelihatan keren, nama anaknya bau-bau arab, jadi kelihatan kalau berasal dari keluarga sakinah mawaddah wa rohmah. Maka jangan heran kalau ada orang Jawa yang namanya Dalimin (pronounciation bebas buat Dzalimin). Gak peduli artinya, yang penting kelihatan alim. Kalau sudah begini, salahnya dimana? Jadi, kalau ada nama-nama di atas, dan pemiliknya orang Jawa, nggak bisa dong langsung dihakimi orangtuanya syirik. Lihat dulu sebab-sebabnya.
    Joe, kamu buka konsultan nama aja, kayaknya laku deh.

  18. 18 joesatch Februari 7, 2007 pukul 12:59 pm

    anung:::
    opo nung? luwih tuek sopo, kowe opo aku?
    Ma:::
    putra itu bukannya ibnu, ya? kalo ga salah sih
    Luthfi:::
    ya iyalah. ga adil tho kalo cuma pake 1 sudut pandang? 😀 ngomong2, yang dicari udah ketemu? coba googling aja deh, huehe
    abdullah:::
    kayaknya wis ta’bahas neng tulisanku. yang anda contohkan, sekali lagi, adalah frase. arti nama kan nggak bisa didefinisikan dengan “pokoknya frase”. contohnya ya namaku yang baru bisa didefinisikan lewat kata per kata, bukan frase 🙂
    Joni Lontong:::
    Ah, yang bilang saya menjijikkan cuma sampeyan, kok. Nggak terlalu berpengaruh banyak buat kehidupan saya 🙂 Lain kali dicoba untuk menggalang massa dulu, ya…kekekekeke!
    raja iblis:::
    memang, oom. yang penting adalah bukan siapa kita, tapi apa yang kita lakukan. begitu tak?
    Dee:::
    Yep, ketidaktahuan tidak menyebabkan seseorang berdosa, kok

  19. 19 abdulsomad Februari 7, 2007 pukul 2:36 pm

    Nama itu untuk menyampaikan DOA;
    Maka pilih lah nama nama orang-orang A’LIM, orang orang yang dekat dengan ALLAH, orang yang sering di doakan, atau nama orang orang sukses, seperti ABU BAKAR, UMAR, UTSMAN, ALI, ABU HURAIRAH, ABU HANIFAH… Siti Fatimah, ZAENAB, Siti Muthiah…
    Jgn nama nama barat, nama nama Yahudi, ngomong anti yahudi tapi kelakuan, nama, pakaian malah niru niru Yahudi.

  20. 20 helgeduelbek Februari 7, 2007 pukul 4:49 pm

    Walah iyah yoo. sak enake udele dewe nyari ini-itunya, khan punya sejarah tohhh setiap nama itu. Seperti jenengku, kok dikasih nama urip, mosok dibilang nyaingi nama Allah.

  21. 21 sora9n Februari 7, 2007 pukul 5:41 pm

    Urun pendapat… (kalau salah mohon diluruskan yah 😛 )
    .
    Kayaknya kita harus mengkaji ulang materi dari website tsb. (cetak tebal kutambahin ya 🙂 ).

    Tidak boleh (haram hukumnya) bagi seseorang menamakan diri atau anak-anaknya dengan nama yang mengandung unsur penghambaan kepada selain Alloh. Misalnya…

    Intinya kan itu. Kemudian berkembang wacana penggunaan nama “Abdul” sebagai nama anak/diri sendiri, di mana kata ini (secara literal) bermakna “hamba”. Kalau secara bahasa dilihat, “Abdul X” bisa diartikan sebagai “hamba X”.
    ::
    Sejauh pengamatanku, perbedaan pendapat di sini timbul karena Joe hendak menggunakan “Abdul” sebagai kata tunggal, sementara Abdullah berpendapat bahwa “Abdul” harus berdampingan dengan nama lain yang mulia (jadi, artinya “hamba …(sifat yg mulia)”.
    ::
    Perbedaan ini yang kemudian meruncing. Apakah “Abdul Baskoro” bermakna “hamba Baskoro”? Ini kembali ke tujuan orang tua memberi nama. Jika memang Joe berniat memberi nama “hamba Baskoro” pada anaknya, tantu saja dia yang salah. Tetapi, jika dia mengharapkan anaknya menjadi seorang hamba (“Abdul”, walaupun entah bersifat apa, asalkan nggak syirik) dan menambahi namanya sendiri (sebagai penanda bahwa itu putranya)… apakah dia bermaksud syirik? Kalau menurutku, semua itu kembali pada tujuan awal pemberian nama tersebut oleh orang tua.
    ::
    Meskipun begitu, perlu diingat bahwa nama “Abdul” dalam bahasa Arab biasanya bergandengan dengan suatu kata lain (meminjam contoh, “Abdul Ka’bah”, “Abdus Sayyid”); dimana setiap “Abdul X” berarti “hamba X”. Aku dan Joe sama2 nggak memakai bahasa ibu bahasa Arab, jadi mungkin kata-per-kata “Abdul Baskoro” sah-sah saja. Meskipun begitu, orang-orang yang menggunakan bahasa Arab boleh jadi akan menafsirkannya “hamba Baskoro” (frase-per-frase), karena memang demikian kaidah bahasa yang biasa mereka pakai.
    ::
    Perbedaan semacam di atas sangat mungkin terjadi. Tapi, kalau menurutku pribadi ya, semuanya kembali ke niat. Seperti apa niat orangtua ketika memberi nama anaknya, itulah yang penting.
    ::
    eh, dah kepanjangan 😛 . Sekian dulu deh. 😀

  22. 22 halludba72623 Februari 7, 2007 pukul 5:43 pm

    wiih… tulisan ini sekaligus memperjelas maksut tulisan sebelumnya yah… 😀

    mas joe, sy sih stuju stuju saja, tetapi ada kalanya, baiknya pula kalau tidak ‘memancing’ persoalan.

    Misal, misal sy punya anak, truz dbri nama berlebihan, seperti Abdul Uzza.
    Memang ada beberapa penafsiran, tetapi, sekali lagi alangkah baiknya kalau memilih nama yang baik, bukan nama yang tujuannya untuk memprovokasi. Apa susahnya memilih nama seperti nama anda, yang bagus tetapi tidak menimbulkan kontroversi. Orang, bisa saja disalahpahami oleh orang lain hanya karena namanya.

    Mungkin sy memang belum berhasil membaca yg mas jo ingin sampaikan, tapi ya… bagaimana lagi..
    udah capek. udah hampir maghrib belum mandi lagi…

    last but not least,…. (sok inggeris)
    Penamaan tergantung pada nilainya, imho yah 🙂

  23. 23 halludba72623 Februari 7, 2007 pukul 5:44 pm

    eh maap beribu maap salah ngetik, bukan nilai tetapi ‘niat’

    aduh maaf… 🙂

  24. 24 halludba72623 Februari 7, 2007 pukul 5:47 pm

    duhh… sy komen di mana2, selalu saja yg dipoles luarnya… dalemnya rapuh…. maksut sy komen saya..

  25. 25 halludba72623 Februari 7, 2007 pukul 5:50 pm

    @raja iblis :

    klo ga salah, artinya itu “yang terpuji”
    pernah baca di buku em**…

  26. 26 Ibnu Qosim Februari 7, 2007 pukul 7:16 pm

    Assalamu’alaikum wr wb.

    Saudaraku Joesatch, semoga Allah memberikan hidayah, (kayane wis pernah kenal, dulu di A 11 ya?).

    Sekarang saya mencoba menyimpulkan tulisan antum. Pertama, antum menolak isi kutipan artikel, dengan argumen pengharaman itu hanya memandang dari satu sudut pandang saja, yaitu karena dipandang sebagai “frase” thok. Kemudian memberikan contoh mengartikan nama dari sudut pandang lain, yaitu dengan dilihat arti kata per kata. Dengan alasan itu, antum lalu memvonis pengartian nama yang dilihat dari sisi frase saja itu “ngawur”. Lalu, antum akan memberikan contoh yang bisa menjungkir-balikkan bahwa kutipan di atas adalah ngawur!

    Seperti itukah maksud tulisan saudaraku Joesatch? Jika ya, kita lanjut, jika tidak, cukupkan sampai disini dan jelaskan lagi maksud tulisan antum.

    Kemudian, kita tinjau ulang contoh yang ada di kutipan dan contoh yang antum tulis.

    Contoh nama yang ada di kutipan : Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah), ‘Abdu Syams (hamba matahari), ‘Abdur Rosul (hamba Rosul), ‘Abdu Manaf (hamba Manaf), ‘Abdul Muttholib (hamba Muttholib), ‘Abdu Manat (hamba Manat), ‘Abdul ‘Uzza (hamba ‘Uzza), ‘Abdul Husain (hamba Husain).

    Contoh saudaraku berikan : Anindito Baskoro Satrianto = “manusia yang linuwih atau berilmu tinggi dan nyaris tanpa cela dalam setiap tindakanku ; memiliki sifat pengayom sebagaimana matahari yang mengayomi bumi tanpa pamrih; laki-laki yang memiliki jiwa seorang ksatria sejati, tidak pengecut, dan berani mengatakan kebenaran”

    Nah, dari sampel diatas, perhatikan, buka mata dan hati lebar-lebar, kalau perlu CPU nya di overclok dulu biar performancenya naik. Lalu coba jawab pertanyaan ini : adakah perbedaan dari contoh-contoh diatas?

    Mungkin akan ada banyak jawaban, tapi to the point saja, perbedaannya adalah pada BAHASA YANG DIGUNAKAN. Saudaraku Joesatch menggunakan contoh dalam BAHASA JAWA, sedangkan di artikel menggunakan BAHASA ARAB. Sudah paham ? Let’s Go !

    Seperti yang sudah saya tulis di artikel yang antum kutip, nama yang baik itu bisa berasal dari bahasa apa saja. Baik itu bahasa lokal seperti bahasa indonesia, jawa, batak, sunda ataupun bahasa asing seperti bahasa inggris, arab, jepang dan sebagainya. Kemudian karena bahasa-bahasa tadi berasal dari kebudayan yang berbeda-beda, tentunya masing-masing akan memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang khas dan berbeda satu dengan yang lainnnya. Sehingga dalam memahami suatu hal, tiap-tiap bahasa memiliki SUDUT PANDANG YANG BERBEDA.

    Baik, agar diskusi lebih terarah, sampai titik ini, antum sepakat atau tidak? Jika sepakat, kita lanjut, jika tidak sepakat, cukupkan bacaan antum sampai kalimat ini. OK !

    Saudaraku, bahasa jawa itu sangat berbeda dengan bahasa arab. Baik itu strukturnya, susunan kalimatnya, bahkan bentuk hurufnya pun sangat berbeda. Dalam bahasa jawa, arti sebuah nama mungkin bisa dilihat dari kata per kata pembentuknya, dan terserah mau digabung sebagai frase atau bukan, itu tidak masalah.

    Lain sekali dengan bahasa arab. Orang Arab, atau orang yang bisa bahasa arab, atau juga yang pernah belajar bahasa arab (Tajwid, makhroj, Nahwu, sharaf dsb) pasti akan paham bahwa satu kesalahan kecil dalam bahasa arab, itu bisa berakibat sangat fatal. Kesalahan yang bisa berwujud dalam salah membaca, kurang tulis satu huruf dsb bisa membuat kalimat yang berarti “ya” menjadi “tidak”, seharusnya bermakna “tunggal” tetapi menjadi “jamak” dsb. Saya yakin antum sudah tahu hal ini.

    Hubungannya dengan permasalahan nama, dalam bahasa arab, kalimat “Abdullah” itu pasti berarti “Hamba Allah”. “Abdu Syams” itu tidak mungkin berarti lain selain “Hamba Matahari”, tidak bisa diartikan sebagai “Hamba yang baik dan Memiliki sifat pengayom seperti matahari”. Seperti itu makna dalam bahasa arab.

    Kemudian kalau melihat calon nama anak akh joesatch, “Abdul Baskoro” dalam bahasa arab artinya “Hamba Baskoro”, atau “Hamba Matahari”. Dan kalau menurut versi antum artinya = “hamba yang tentunya hamba dari suatu kekuatan yang pantas dipertuankan (bisa ditebak ke mana arahku, kan?). Baskoro bakal kuartikan kira-kira seperti arti namaku sendiri, memiliki sifat pengayom sebagaimana matahari yang mengayomi bumi tanpa pamrih.”

    Sekarang saya tanya, saudaraku joesatch menggunakan kaidah bahasa jawa atau arab? Kalau dilihat dari kosa kata yang digunakan, “Abdul Baskoro” diambil dari bahasa arab dan bahasa jawa. Maka tidak bisa antum menggunakan aturan-aturan dalam bahasa jawa saja, aturan dalam bahasa arab juga harus diperhatikan. Kalau antum menganggap “abdul” sudah diserap ke dalam bahasa jawa, maka harus diketahui pula kalau dalam bahasa arab, kosakata “abdul” tersebut mempunyai catatan khusus dalam penggunaannya, terutama mengenai nama, ini yang tidak bisa kita abaikan.

    Kalau antum tetap “ngeyel” dan memaksakan aturan pengartian nama menurut versi bahasa jawa, maka ya harus fair, pakailah kosakata dari bahasa jawa sendiri sehingga tidak bertabrakan dengan aturan dalam bahasa lain.

    Akh joesatch menurut saya, analogi yang digunakan saudaraku Joesatch itu perlu dipertimbangkan lagi. Kalau antum berpendapat kutipan artikel itu ngawur karena menggunakan satu sudut pandang saja, ya terpaksa saya mengatakan antum itu lebih ngawur lagi. KARENA TELAH MENGGUNAKAN SUDUT PANDANG BAHASA JAWA UNTUK MEMVONIS NGAWUR BAHASA ARAB. Mungkin CPU nya memang sudah saatnya di upgrade ya :p (bercanda)

    Saudaraku, kita memang tidak berhak menilai atau memvonis seseorang, termasuk namanya, secara sepihak. Tapi patut disadari pula, adanya penilaian ini tidak cuma berasal dari inisiatif si penilai sendiri, tapi mungkin juga karena adanya sesuatu yang “agak nyeleneh” pada diri seseorang yang mendorong orang lain tertarik untuk menilainya. Contoh pada kasus ini, ada seseorang yang diberi nama oleh orang tuanya “Abdul ‘Uzza”. Kemudian ada orang lain lagi yang bernama “Abdullah”. Suatu ketika si Abdullah mengetahui atau dikenalkan dengan si Abdul ‘Uzza tadi. Karena sedikit paham tentang bahasa arab dan tahu tentang pentingnya tauhid, maka secara spontan si Abdullah tentu akan menganggap bahwa nama rekannya Abdul ‘Uzza mengandung kesyirikan.

    Nah dalam kasus tersebut, siapa yang dipersalahkan? Abdullah kah? Atau Abdul ‘Uzza? Antum tidak mungkin menyalahkan salah satu dari mereka berdua.

    Saudaraku Joesatch, seperti yang antum katakan, jika kita berbeda pendapat dalam suatu hal, janganlah kita langsung memvonis pihak yang berseberangan pendapat itu salah/ngawur sebelum kita duduk tenang bersama dan saling bertabbayun (konfirmasi) terlebih dulu.

    Saya memang manusia biasa, jadi saya tidak akan menganggap pendapat saya ini yang paling benar, apalagi menafsirkan pendapat dan maksud saya sendiri ini sebagai maksud Tuhan. Tetapi minimal saya mengikuti pendapat orang-orang yang saya rasa lebih paham dalam masalah ini, yaitu para ulama’ dan ahli ilmu. Hal ini bukan berarti pula saya selalu “manut” pendapat mereka, atau merekalah yang paling benar. Sekali-kali tidak !!
    Jika ada pendapat lain yang lebih rojih dan berdasarkan dalil yang lebih shohih, maka itulah pendapat saya.

    Dalam masalah ini silahkan bertabayyun, tetapi saya tidak akan berlama-lama dalam perdebatan yang sia-sia.

    Apabila yang saya sampaikan itu salah, maka itu berasal dari diri saya sendiri dan syaithon. Apabila yang saya sampaikan itu benar, maka kebenaran itu berasal dari Allah dan rasulNya. Wallahu Waliyuttaufiq.

    Wassalamu’alaikum wr wb.

  27. 27 hanna Februari 7, 2007 pukul 7:54 pm

    hm,,,
    keren bgt blognya????
    setuju bgt!!!!
    nama tuh doa ortu,,,
    hanna = bunga
    mutia = mutiara
    agista = agustus
    jadi???
    gak tau ah,,,

  28. 28 pramur Februari 7, 2007 pukul 8:23 pm

    Numpang nimbrung nih Mas…
    *Masih kurang paham maksud tulisan yang ini..*
    Kata temen saya, nama Abdul memang berarti Hamba. Dan kita sebaiknya memanggil seseorang tidak berdasarkan kata dalam namanya yg setelah Abdul itu tadi. Misal nama saya Abdul Syaithon (jelek banget contohnya?), jadi dipanggil Abdul sahaja. Bukan Syaithonnya.
    .
    Lagi-lagi masalah istilah / bahasa / tekstual …?
    Selalu ada yang diperdebatkan ya?

  29. 29 ariyadi wijaya Februari 7, 2007 pukul 8:26 pm

    Sssstttt Joe ini aku (jangan bilang-bilang ya! Rahasia klien harus dijaga lho hehehe)
    Aku setuju dengan sora9n

    Sejauh pengamatanku, perbedaan pendapat di sini timbul karena Joe hendak menggunakan “Abdul” sebagai kata tunggal, sementara Abdullah berpendapat bahwa “Abdul” harus berdampingan dengan nama lain yang mulia (jadi, artinya “hamba …(sifat yg mulia)”….Tapi, kalau menurutku pribadi ya, semuanya kembali ke niat. Seperti apa niat orangtua ketika memberi nama anaknya, itulah yang penting.

    Aku sendiri dalam memaknai namaku tdk memakai cara Joe yaitu kata per kata
    Dengan iseng dan asal (dgn menggunakan brbagai bahasa):
    ARIYADI WIJAYA
    A=tidak, RIYA=sombong, DI=di (keterangan tempat)
    WIJAYA=kejayaan
    So semoga aku TIDAK menjadi SOMBONG ketika bisa mencapai KEJAYAAN (padahal maksud orangtuaku sih lain…itu karena aku lahir dalam suasana Idul Fitri…Riyadi dan Wijaya selain suatu doa juga karena nama keluarga)
    Tuch kan..caraku lain dengan Joe tapi aku tidak mempermasalahkan tulisan Joe karena sekali lagi menurutku TERGANTUNG NIAT KITA
    Hehe maaf kalau komentar panjangku hanya untuk pamer namaku hehehe…

  30. 30 Udin Februari 7, 2007 pukul 9:12 pm

    Kembali ke niat, setuju tuh…kembali ke laptop

  31. 31 joesatch Februari 7, 2007 pukul 9:44 pm

    helgeduelbek, ariyadi wijaya, Udin:::
    hehehe, memang harusnya gitu
    sora9n:::
    lagi-lagi, saya plemekernya dan anda stikernya. makasih sudah (lagi2) menyambung lidah saya 😛
    halludba72623:::
    memancing ataupun tidak, kadang2 adalah hal tidak sengaja yang dilakukan karena ketidaktahuan seseorang. Seperti contoh “Dalimin” yang disebutkan di atas 🙂
    Ibnu Qosim:::

    Sekarang saya tanya, saudaraku joesatch menggunakan kaidah bahasa jawa atau arab? Kalau dilihat dari kosa kata yang digunakan, “Abdul Baskoro” diambil dari bahasa arab dan bahasa jawa. Maka tidak bisa antum menggunakan aturan-aturan dalam bahasa jawa saja, aturan dalam bahasa arab juga harus diperhatikan. Kalau antum menganggap “abdul” sudah diserap ke dalam bahasa jawa, maka harus diketahui pula kalau dalam bahasa arab, kosakata “abdul” tersebut mempunyai catatan khusus dalam penggunaannya, terutama mengenai nama, ini yang tidak bisa kita abaikan.

    Kalau antum tetap “ngeyel” dan memaksakan aturan pengartian nama menurut versi bahasa jawa, maka ya harus fair, pakailah kosakata dari bahasa jawa sendiri sehingga tidak bertabrakan dengan aturan dalam bahasa lain.

    Hehehehe, fair/tidak fair bukan itu yang terjadi at the real world. Nyatanya, di Endonesa ini sangat banyak nama berbau Arab yang dicampur dengan bahasa ibu masing2. Nah, lagi-lagi ternyata masalah istilah yang dihakimi terlalu cepat seperti tulisan saya sebelumnya, kan?
    BTW, A11 iya. dulu divisi apa ya? 🙂
    hanna:::
    sudah nanya ke ortu maksudnya ngasih nama itu kata per kata atau frase atau malah per suku kata kayak mas ariyadi? 😀
    pramur:::
    kurang paham? diterima aja dulu, kata dosen kalkulus

  32. 32 agorsiloku Februari 7, 2007 pukul 10:10 pm

    Berikanlah nama-nama yang baik, karena harapan yang dikandung di dalamnya. Bahwa kemudian berbeda, outpun tidak sebanding dengan nama yang disandang adalah persoalan lain. Nama juga adalah produk budaya, kalau namanya aneh, kasian kan. Apalah artinya nama, kata shakespeare. Tapi kalau namanya kukrik karikuk, risih juga memanggilnya.

  33. 33 iman brotoseno Februari 7, 2007 pukul 11:55 pm

    orang tua kita sudah mempertimbangkan sebuah pilihan nama. Seaneh apapun itu. Bagi saya nama seorang Indonesia menunjukan budaya, dan bukan budaya arab, budaya barat, budaya cina..Nggak ada hubungan dengan agama. Repotnya di sini Islam diartikan arab…
    tetaplah menjadi ksatia matahari tanpa cela….he he

  34. 34 venus Februari 8, 2007 pukul 1:25 am

    wah, lumayan berat topiknya buat otak saya yang pas2an. boleh nimbrung dan sok pinter ya? 😛

    saya terus terang agak ngeri kalo ngomong soal agama (islam). takut salah. selama ini kita terbiasa mengidentikkan islam=arab dan sebaliknya. tapi taukah anda, islam di indonesia justru sangat warna warni dalam perjalanan sejarahnya? taukah anda bahwa kebanyakan walisongo itu justru berasal dari negeri cina?

    pernah denger tentang 3 (tiga) cikar berisi dokumen rahasia tentang sejarah islam di klenteng Sam Po Kong di semarang? copy-nya ada di eropa sana. yang di indonesia, hehehe…tentu saja sudah ‘hilang’. ngerti maksud saya? ini soal sensitif jadi mereka pikir harus ditutup rapat2. baru2 ini aja diublek2 lagi 🙂

    pelajaran sejarah yg kita terima di sekolah udah dijungkirbalikkan. sekarang, sepertinya kita semua setuju bahwa orang2 keturunan cina di indonesia identik dengan kafir. ironis sekali ya?

    *silakan baca bukunya Slamet Muljana, “runtuhnya kerajaan2 hindu jawa dan masuknya Islam…” kalo ga salah itu judulnya 🙂

    peace, everyone…

  35. 35 venus Februari 8, 2007 pukul 1:26 am

    beuuuh…sampe kringetan dingin. serem, yang komen pada berdebat soal yang surga-neraka, hahaha…

    mudah2an saya gak dimaki-maki orang karena sok tau 😀

  36. 36 senyumsehat Februari 8, 2007 pukul 2:12 am

    Buat Joe salam kenal namanya bagus kok, pasti orang tuamu bermaksud baik mendoakanmu. Jangan sampe men-judge seseorang karena namanya, anakku pernah ga bisa masuk US karena namanya Muhammad Fadhil, dianggap gembong teroris padahal umurnya baru 8 th, mukanya masih polos dan lugu. Hatiku teriris waktu dia sebel dengan namanya gara2 perlakuan ini…lalu kuhibur namamu artinya bagus kok…sebuah doa agar kamu menjadi seorang pemimpin yang bijak, Amien.
    Salam,
    Evy

  37. 37 venus Februari 8, 2007 pukul 9:18 am

    sorry saya mau nambahin dikit, soalnya masih gemes. menurut saya sih, islam tidak sama dengan arab, dan arab tidak selalu sama dengan islam. jadi, kenapa kita ribut soal nama, sih? kalo saya jawa, misalnya, apa iya saya harus pake nama yg berbau arab biar keliatan kearab-araban atau makin memperjelas keislaman saya? atau sebaliknya, kalo nama saya udah ‘arab banget’, apa ada korelasinya dengan kualitas saya sebagai manusia? saya rasa kok enggak, ya 🙂

  38. 38 joesatch Februari 8, 2007 pukul 12:12 pm

    agorsiloku:::
    itu dia. harapan dan doa dari tiap2 individu tentu tidak bisa dihakimi secara tekstual. hanya Tuhan yang bener2 mengetahui maksud hambanya 🙂
    iman brotoseno:::
    nama anda juga bagus, mas. tentunya juga nggak bisa diartikan sebagai frase “percaya kepada raden werkudara”, kan? hehehehe. menurut saya artinya percaya pada Yang di Atas; memiliki integritas, kekonsistenan, dan kejujuran seperti Werkudara. betul tak?
    senyumsehat:::
    salam buat putranya ya, mbak. bilang, dapet salam dari mas joe, 😀
    venus:::
    he’eh. islam indonesia nggak perlu kearab-araban. islam itu bukan faktor bahasa, kok 😛

  39. 39 sora9n Februari 8, 2007 pukul 1:15 pm

    @ joesatch

    lagi-lagi, saya plemekernya dan anda stikernya. makasih sudah (lagi2) menyambung lidah saya 😛

    Jadi gol nggak tuh? 😀
    ::
    @ Ibnu Qosim
    ::
    Salam kenal,

    Assalamu’alaikum wr wb.

    Wa’alaikum salam wr.wb. 🙂

    Saya cukup setuju dengan konteks penggunaan “Abdul” dalam hal penamaan, seperti yang sudah Anda jelaskan. Jadi, yang hendak saya tanyakan adalah perihal lain dari penjelasan Anda.

    Tapi patut disadari pula, adanya penilaian ini tidak cuma berasal dari inisiatif si penilai sendiri, tapi mungkin juga karena adanya sesuatu yang “agak nyeleneh” pada diri seseorang yang mendorong orang lain tertarik untuk menilainya. Contoh pada kasus ini, ada seseorang yang diberi nama oleh orang tuanya “Abdul ‘Uzza”. Kemudian ada orang lain lagi yang bernama “Abdullah”. Suatu ketika si Abdullah mengetahui atau dikenalkan dengan si Abdul ‘Uzza tadi. Karena sedikit paham tentang bahasa arab dan tahu tentang pentingnya tauhid, maka secara spontan si Abdullah tentu akan menganggap bahwa nama rekannya Abdul ‘Uzza mengandung kesyirikan.

    Nah dalam kasus tersebut, siapa yang dipersalahkan? Abdullah kah? Atau Abdul ‘Uzza? Antum tidak mungkin menyalahkan salah satu dari mereka berdua.

    Siapa yang salah? Menurut Anda tidak ada yang bisa dipersalahkan. Meskipun begitu, menurut saya ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan di sini.
    ::
    Catatan: dalam contoh ini, saya mengganti “Abdul ‘Uzza” dengan “Abdul Y”, dengan anggapan bahwa “Y” adalah suatu nama yang syirik. Menurut hemat saya, contoh “Abdul ‘Uzza” terlalu ekstrem dan hampir mustahil diberikan sebagai nama utk. anak muslim. Jadi, saya nisbahkan sebagai Y untuk pembicaraan ini.
    ::
    [1] apakah orangtua Abdul Y sengaja memberikan nama yang bermaksud syirik kepada anaknya?
    [2] Jika [1] benar, apakah Abdul Y mengerti makna sebenarnya dari namanya sendiri?
    [3] Jika [2] benar, apakah Abdul Y setuju (dan tidak protes) dengan makna yang terkandung dalam namanya sendiri?
    ::
    Jika Abdullah tahu bahwa [1], [2], dan [3] benar, maka benarlah dia dengan mengatakan bahwa Abdul ‘Uzza adalah kafir. Demikian pula jika [2] dan [3] benar, maka Abdullah masih benar untuk mengatakan bahwa Abdul Y kafir — sekalipun [1] salah, dimana hal ini mungkin terjadi karena ketidak tahuan orangtua (misal, kasus nama Dzalimin di Jawa menjadi Dalimin, yang telah disebut sebelumnya di post ini).
    ::
    Pertanyaan yang ada sekarang, apakah Abdullah tahu dan bisa membuktikan kebenaran dari butir [1], [2], dan [3]? Jika Abdullah tahu bahwa minimal [2] dan [3] salah, maka ia berhak mencap Abdul Y kafir (karena syarat-syaratnya mencukupi). Tetapi, jika Abdullah tidak bisa membuktikan kebenaran dari [1], [2], dan [3] tetapi sudah mencap kafir, bukankah itu berarti dia menilai Abdul Y hanya dari namanya saja? Padahal bisa jadi orangtua Abdul Y kurang berpengetahuan tentang nama Y; atau orangtuanya tahu tetapi Abdul Y sendiri yang tidak tahu; atau malah tidak ada yang mengerti apa makna dari nama “Abdul Y” tersebut!
    ::
    Jadi, sejauh saya simpulkan, untuk dapat menyatakan bahwa Abdul Y kafir, Abdullah harus terlebih dahulu membuktikan kebenaran-kebenaran dari [1], [2], dan [3]. Jika dia langsung mengkafirkan dari nama saja, saya kira Anda juga setuju bahwa itu bukanlah hal yang baik.
    ::
    Saya kutip dari Anda,

    Saudaraku, kita memang tidak berhak menilai atau memvonis seseorang, termasuk namanya, secara sepihak.

    Dalam kasus dari Anda, Anda menjelaskan bahwa “Antum tidak mungkin menyalahkan salah satu dari mereka berdua”. Meskipun begitu, menurut saya terbuka sekali kemungkinan bahwa
    (a) Abdullah benar, dan Abdul ‘Uzza bersalah — jika sekurangnya [2] dan [3] benar;
    (b) Abdullah bersalah (karena menuduh tanpa mempertimbangkan aspek-aspek lain dari si tertuduh), dan Abdul ‘Uzza tidak bersalah — jika [1], [2] dan [3] salah atau hanya [2] dan [3] yang salah.
    ::
    Apakah “Dalimin” kafir hanya karena orangtuanya tidak menyadari arti kata “Dzalimin”, dari mana namanya diturunkan? Apakah “Dalimin” kafir hana karena ia tidak menyadari makna yang tersembunyi dari namanya? Saya rasa semuanya tergantung dari kenyataan [1], [2], dan [3], dan saya rasa Anda juga setuju bahwa kita “tidak berhak menilai atau memvonis seseorang, termasuk namanya, secara sepihak”.
    ::
    Mohon diluruskan bila terdapat penjelasan saya yang mungkin salah atau kurang berkenan,
    Terima kasih,
    ::
    Wassalamu’alaikum wr. wb.

  40. 40 maruria Februari 8, 2007 pukul 1:30 pm

    lha ini nih..yang namanya mengartikan dalil dengan akal.
    Kalo menurut saya sih, seharusnya kita tidak boleh mengkafirkan orang lain tanpa dalil yang jelas. Tanpa dasar yang kuat. Bisa bisa sesat lho..
    Lagipula yang namanya hamba bukan berarti menjadikan yang dihambakan sebagai Tuhan-nya kan..??!!

  41. 41 sora9n Februari 8, 2007 pukul 1:40 pm

    Euh.. ada salah ketik di penjelasan sebelumnya…
    :
    Berikut ini saya quote-kan lagi bagian yang mengandung kesalahan; ralatnya saya cetak tebal.
    :
    Mohon maaf atas ketidaknyamanannya. -_-‘

    ::
    Pertanyaan yang ada sekarang, apakah Abdullah tahu dan bisa membuktikan kebenaran dari butir [1], [2], dan [3]? Jika Abdullah tahu bahwa minimal [2] dan [3] benar, maka ia berhak mencap Abdul Y kafir (karena syarat-syaratnya mencukupi). Tetapi, jika…

    Sekian, terima kasih. 🙂

  42. 42 Ibnu Qosim Februari 8, 2007 pukul 4:59 pm

    Untuk Joesatch : saya di div Operasional A 11 (Nero cs).

    Untuk sora9n :

    salam kenal juga, sebenarnya tulisan saya yang diatas itu belum selesai. Lanjutannya secara garis besar sama dengan yang anda tuliskan, terima kasih.

    Jadi kita tidak bisa memvonis seseorang itu kafir dsb sebelum kita tahu alasan2nya, seperti apakah syiar sudah tersampaikan atau belum, terpaksa atau tidak, sadar atau tidak, sudah ada yang menasehati atau belum. Dan itu juga harus memperhatikan manfaat dan mudharat yang ditimbulkan setelah itu.

    So, karena permasalahan syirik ini adalah permasalahan akidah, sedangkan perkara akidah adalah sesuatu yang bukan untuk dibuat permainan. Maka sudah sepatutnya kita kaum muslimin untuk menghindari semua hal yang bisa menjerumuskan pada kesyirikan dan menimbulkan fitnah.

    Akhirnya saya cuma bisa menasehati diri saya sendiri dan semua saudara seiman, jauhilah kesyirikan dan semua hal yang mendekatinya. Malaikat maut itu tidak akan pernah menunda tugasnya.

    “Dan tidaklah seseorang menuduh kafir kepada saudaranya sesama muslim, kecuali akan kembali kepada salah satu diantara keduanya.”

    Wallahul musta’an

  43. 43 abdulsomad Februari 8, 2007 pukul 5:30 pm

    Manusia dikasih AKAL untuk yang begini gini nich mas, Pakaian. Makanan. Minuman. Rumah semua mau yang bagus kan???
    Nama? koq mau mau nya dinamain seenak nya aja.

  44. 44 abdulsomad Februari 8, 2007 pukul 5:32 pm

    Mau gak Dinamain FIRAUN? QORUN? ABU LAHAB? ABU DJAHAL? UBAI BIN KHALAF? orang orang yang dilaknat.
    Jadi, hati hatilah menamai anak, gunakan nama nama orang Shaleh.

  45. 45 antobilang Februari 8, 2007 pukul 7:51 pm

    Nama? koq mau mau nya dinamain seenak nya aja?

    lha kalo ortu kita udah ngasi nama apa kita harus buat upacara jenang merah jenang putih (adat orang jawa) untuk mengganti nama kita?

    sekalo lagi apalah arti sebuah nama, yang penting perilaku penyandang nama tersebut?
    percuma aja kalo namanya “wah” atau “alim” eh ternyata doyan ngebokep…
    wekeke…

  46. 46 anung Februari 8, 2007 pukul 8:32 pm

    setuju bang antobilang…
    biar namanya Arape puoll nek sepepan ra ono gunane..

  47. 47 wida Februari 9, 2007 pukul 10:36 am

    Wew bnyk kali koment nya… hmm blajar dr koment orang2 nech…. tp klo di orang sunda sich nama2nya ga jauh dr asep.. ujang… Agus… jd gimana atuh ya?? hehe ndak punya arti khusus! ;p

  48. 48 Mbah Keman Februari 9, 2007 pukul 2:43 pm

    Wah akhirnya ketemu blognya om joss, sip banget nama memang mempuyai tujuan doa, setiap orang memberikan nama yang baik untuk anak2nya termasuk saya, cuman nama2 di atas menurut saya tidak syirik
    nama yang di anggap sirik itu speerti di bawah ini, jika kita memberikan nama pada anak kita

    1, Dian santro wardoyo.(kita syirik pada dian)
    2, Titi kamal( kita juga syirik pada dia karena dia kaya dan terkenal0
    #, Roy suryo ( kita juga syirik karena dia terkenal dan kaya)

    ini yang syirik seberanya

    kalau Abdul matahari, bukan berarti hamba matahari, itu bisa jadi budak matahari ix ix,

    Pendapat yang tidak perlu di baca

  49. 49 Kang Kombor Februari 9, 2007 pukul 6:14 pm

    Dalam kasus ini saya setuju dengan Ibnu Qosim. Bahkan setelah saya baca keseluruhan artikel yang sebagiannya Joe kutip itu, nggak ada yang salah disana. Bahkan, artikel itu memberikan pengetahuan kepada kita agar bisa memberi nama anak dengan baik. Kalau memberi nama dengan Bahasa Arab, hati-hati memberi nama dengan kata Abdul dan Amatu, karena hal itu berkaitan dengan kaidah dalam bahasa Arab. Sesuatu yang ditulis dengan Bahasa Arab tentu mengartikannya juga dengan kaidah Bahasa Arab. Kalau namanya campuran, misal Kombor Syahid, wah bingung… mau pakai kaidah apa, so jadinya ngartiinnya make kaidah sakenakwudelku dhewe.

    Bisa-bisa menyebutkan nama Kombor Syahid malah dikira Kombor syahid alias Kombor mati syahid… Harak malah ciloko diri ini.

  50. 50 chiell Februari 10, 2007 pukul 6:51 am

    wee…. seru oi..!!
    Cuma mo bilang, ati2 mas Joe.
    Sebuah tulisan jika mempengaruhi orang laen bakal dimintai pertanggungjawaban.
    Orang laen yang baca tulisan mas, belum tentu semua ngerti maksud mas….

    oya, cuma mo blg oya… :p

  51. 51 mrtajib Februari 10, 2007 pukul 7:06 pm

    bagaimana kalau nama berikut ini:

    Siti Farjiah dan Siti Fajriah

    pilih mana joe?

  52. 52 de King Februari 10, 2007 pukul 7:09 pm

    Kang Tajib saru hehehe 😀

  53. 53 manusiasuper Februari 11, 2007 pukul 11:01 am

    Shohibul hikayat mengatakan bahwa namaku hanya bisa diartikan kata per kata sebagai doa dan harapan orang tuaku atasku, dan bukan sebagai sebuah frase. Orang tuaku berharap aku jadi manusia yang linuwih atau berilmu tinggi dan nyaris tanpa cela dalam setiap tindakanku.

    Koment saya cuma, kayanya harapan orang tuamu gagal total joe…

    *Kabur, Joe mau lempar CPU!*

    OTT, eh, arti nama saya (katanya seh) penjaga nama baik ALLAH
    Mudahan bisa saya wujudkan..

  54. 54 halludba72623 Februari 13, 2007 pukul 11:45 pm

    stuju sm ibnu qosim & kang kombor… komentar pak ibnu lbh lengkap 😛

  55. 55 Mbah Gambleh Februari 14, 2007 pukul 3:02 pm

    “Sangat tidak adil kalau kita menghakimi sesuatu berdasarkan 1 sudut pandang saja”

    Kalo Joesatch ingin adil terhadap artikel kutipan di atas paling tidak lo belajar bahasa Arab dulu. Agar lo juga tidak menghakimi sesuatu berdasar 1 sudut pandang saja, yaitu “Bahasa Jawa” aja.

  56. 56 Mbah Gambleh Februari 14, 2007 pukul 3:45 pm

    1. Orang tuaku berharap aku jadi manusia yang linuwih atau berilmu tinggi dan nyaris tanpa cela dalam setiap tindakanku. Lalu orang tuaku juga berharap aku memiliki sifat pengayom sebagaimana matahari yang mengayomi bumi tanpa pamrih. Lagi-lagi orang tuaku berharap aku menjadi laki-laki yang memiliki jiwa seorang ksatria sejati, tidak pengecut, dan berani mengatakan kebenaran.

    2. Joe anak yang berusaha mewujudkan harapan orang tua.

    3. Joe lagi belajar jadi bajingan. So bajingan=”adi manusia yang linuwih atau berilmu tinggi dan nyaris tanpa cela dalam setiap tindakanku. Lalu orang tuaku juga berharap aku memiliki sifat pengayom sebagaimana matahari yang mengayomi bumi tanpa pamrih. Lagi-lagi orang tuaku berharap aku menjadi laki-laki yang memiliki jiwa seorang ksatria sejati, tidak pengecut, dan berani mengatakan kebenaran.”

    SEBUAH KESALAHAN LOGIKA ?

  57. 57 Mbah Gambleh Februari 14, 2007 pukul 3:48 pm

    1. Orang tuaku berharap aku jadi manusia yang linuwih atau berilmu tinggi dan nyaris tanpa cela dalam setiap tindakanku. Lalu orang tuaku juga berharap aku memiliki sifat pengayom sebagaimana matahari yang mengayomi bumi tanpa pamrih. Lagi-lagi orang tuaku berharap aku menjadi laki-laki yang memiliki jiwa seorang ksatria sejati, tidak pengecut, dan berani mengatakan kebenaran.

    2. Joe lagi belajar jadi bajingan.
    3. Joe bukan anak yang berusha mewujudkan harapan orang tua.

    SEBUAH KESALAHAN LOGIKA ?

  58. 58 joesatch Februari 15, 2007 pukul 3:54 pm

    hehehe…padahal standar “bajingan” itu absurd, lho 🙂 Eh, udah baca artikel saya yang tentang bajingan itu tadi belum?

    Kalo Joesatch ingin adil terhadap artikel kutipan di atas paling tidak lo belajar bahasa Arab dulu. Agar lo juga tidak menghakimi sesuatu berdasar 1 sudut pandang saja, yaitu “Bahasa Jawa” aja.

    Nah, itu yang sedang saya lakukan, berhubung sudut pandang yang pertama sudah jelas: Pembelaan thd orang2 yang namanya dari bahasa campuran yang dihakimi sepihak sebagai nama kafir dari kacamata bahasa Arab. Oh ya, berlaku juga untuk suku lain di luar suku Jawa lho. Dan sekali lagi, anda benar. Jangan cuma memakai satu sudut pandang saja 🙂

  59. 59 rajaiblis Februari 22, 2007 pukul 4:56 pm

    hiks …
    tanggung kalo sekedar jadi bajingan …
    jadi raja iblis donk …

    wakkakakakaa …

  60. 60 joesatch Februari 22, 2007 pukul 9:20 pm

    ah, nggak enak mengambil lahan penghasilan antum 😛

  61. 61 rajaiblis Februari 23, 2007 pukul 8:52 am

    yo weeiisss …
    kita jalankan misi masing-masing …

    wakkakkakaa …

  62. 63 lambrtz Februari 26, 2007 pukul 1:52 pm

    la namaku ga ada artinya je…

  63. 64 fourtynine Februari 26, 2007 pukul 8:49 pm

    Namaku full Arab, artinya dalam bahasa Indonesia ‘cahaya tunggal’.berarti ga syirik to?

  64. 65 rajaiblis Februari 27, 2007 pukul 2:35 am

    @anggara
    nama sapa yg bagus ?
    koq nama kamu kayak nama kucing ya ?

    wakkakakaa …

  65. 66 fauzan.sa Maret 3, 2007 pukul 9:45 am

    Lha kowe po yo ra nebak-nebak pikirane Gusti Allah po Joe?

    Arti yang anda tawarkan dari sebuah nama adalah arti yang tidak sebenarnya, alias bukan arti literal. Sedangkan arti literal nama-nama yang disebutkan dalam artikel tadi memang mengandung kesyirikan.

    Padahal, metode memahami sesuatu itu yang ilmiah adalah mulai dari yang literal, yang tertulis dengan jelas dulu.

    Satu lagi, tidak boleh kita mengkaitkan sesuatu yang sudah terkenal keburukannya, walaupun maksudnya baik. Itu bisa jadi preseden buruk di masa depan.

    Orang Islam itu memang eksklusif. Mereka harus menampilkan ciri-ciri yang berbeda dari umat agama lain.

  66. 67 joesatch Maret 3, 2007 pukul 6:18 pm

    tentu saja nebak2 juga. tapi tidak lantas mengkafirkan dan mencap orang lain yang tebakannya tidak sama dengan aku sebagai ahli bid’ah dan makhluk celaka 🙂
    eksklusif dalam artian berbeda ciri memang betul. tiap2 manusia pun diciptakan eksklusif oleh Penciptanya. tapi yang kumaksudkan sebagai eksklusif di sini adalah yang menganggap paham (Islam dari) kelompoknya paling benar dan lantas tidak mau bergaul dengan masyarakat lain dan bahkan umat Islam yang kebetulan tidak sepaham dengan para eksklusif itu

  67. 68 Sugeng Rianto Maret 4, 2007 pukul 5:34 pm

    Jenengku sugeng rianto, asli pemberian orangtua sendiri. gawe jeneng e wae ruepote ra ketulungan (jarene siMbok modal gawe jenengku wae ora sethitik 😆 ngango kendurian barang). Syirik dalam nama?! halah, ga kepikiran utk berbuat syirik (itu juga kata siMbokku).

  68. 69 lambrtz Maret 5, 2007 pukul 11:30 am

    kalo diambil garis besarnya, sifat eksklusif pada semua agama itu emang nyebelin joe, makanya aku ga mau menganggap agamaku paling bener & emang dari sononya ga boleh ky gitu

  69. 70 fauzan.sa Maret 6, 2007 pukul 7:45 am

    to lambrtz:
    OK mas, karena di bagian lain anda tidak mau membahas tentang agama, saya tidak akan membahas agama saya ataupun agama anda secara spesifik.

    1. Kalo memang agama anda bukan yang paling benar, mengapa anda masih ikut juga?
    2. Kalo ternyata masih ragu dengan keyakinan agama anda, kenapa harus menaati semua aturannya?

    Begini lho. Setiap agama mempunyai sekumpulan doktrin tetap dengan tingkat kebenaran yang diasumsikan 1 (kalo dalam himp. fuzzy). Memang ada perbedaan pendapat dan cara pengambilan keputusan dalam agama itu sendiri, tapi hal tersebut bukan doktrin pokok.

    Masing-masing agama itu punya doktrin yang isinya beda-beda. Makanya, sifat agama satu dengan yang lain akan selalu KONTRADIKTIF.

    Jadi, kalo anda menganggap bahwa semua agama benar, maka pernyataan anda jelas-jelas tidak sesuai dengan kaidah logika matematika.

    Hanya ada dua keputusan agar kita bisa konsisten dengan kebenaran matematika kita. Take it, or leave it all. Ambil salah satu agama yang anda yakini, atau tinggalkanlah semuanya.

    Jika anda memang tidak yakin dengan semua agama, mengapa anda tidak tinggalkan saja semuanya? Toh itu sangat logis?

    Jika memang anda beranggapan bahwa Tuhan anda telah menentukan sesuatu yang salah (anda tidak yakin dengan kebenaran agama anda sendiri), maka anda telah meragukan kesempurnaan Tuhan. Padahal, kesempurnaan itulah inti ketuhanan.

    Saya pikir saya akan sependapat dalam masalah ini dengan Joe. Kalo saya melihat sesuatu yang salah besar dengan agama saya, maka akan saya tinggalkan sama sekali.

    Buat apa kita patuh terhadap aturan-aturan Tuhan kalo kita tidak sepenuhnya tahu dan paham bahwa Tuhan itu ada? Lakukanlah apa yang kita mau jika kita memang tidak yakin Tuhan itu ada. Membunuh, mencuri, memperkosa, merampok, berjudi, mabuk, everything. Andai saya tidak percaya Tuhan, saya akan lakukan semuanya itu.

    But, sikap yang paling baik antar pemeluk agama yang berbeda adalah saling menghormati dengan membiarkan mereka melakukan ibadahnya. Bukan dengan menyatakan semua agama sama, semua agama baik, atau semua agama benar. Itu sama saja anda sedang mendeligitimasi agama anda sendiri. Jika anda benar-benar beriman, maka hal itu tidak akan terucapkan. Kita masih bisa hidup berdampingan dengan baik tanpa harus menyatakan kesamaan semua agama.

  70. 71 joesatch Maret 6, 2007 pukul 10:21 am

    ops…ops…mulai melebar kayaknya 😦
    jgn sampe ada komentar yang isinya lebih dari yang di atas ya
    (hikz…terbentur komitmen untuk tidak menghapus komen) 😀

  71. 72 rajaiblis Maret 6, 2007 pukul 4:19 pm

    @fauzan.sa
    yup … sepakat dengan pernyataan anda …
    mengimani artinya meyakini …
    bila kita sendirimasih tak yakin … maka akan sulit untuk melangkah …

    yg menjadi masalah adalah bukan agama siapa yg paling benar … tapi lebih kepada pemahaman manusia itu sendiri. dan itu tergantung “wadah” masing-masing …

    dan ingat … tugas anda hanya menyampaikan …
    soal manusia hendak memilih atau tidak … itu bukan urusan anda …

    wakakakkkaaa …


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,052,156 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

Februari 2007
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia