ITB Cuma Segitu (Catatan Sebuah Perjalanan Dinas)

Hehehehe, halo, kita jumpa lagi. Masih bersamaku setelah beberapa hari ini aku nggak sempat menanggapi komentar-komentar di blogku gara-gara “Perjalanan (Dinas) ke Barat”. Sebetulnya aku sama sekali nggak berminat ngikutan studi ekskursi ke Jakarta-Bandung yang diadain sama anak-anak di kampus, apalagi pas aku ngeliat daftar pesertanya ternyata aku angkatan paling tua yang ngikut. Mas (atau Pak) Edi Wibowo – walaupun angkatan 99 – nggak bisa dibilang mahasiswa dengan angkatan tertua, karena dia (eh, beliau) sekarang sudah terhitung sebagai dosen di kampus. Tapi karena kebaikan atasanku (baca: bapak) di Jakarta, akhirnya aku berangkat juga setelah menerima sangu lebih dari cukup.

Aku datang ke kampus Selasa malam jam 7 lewat. Ngaret. Jadwalnya disuruh ngumpul habis maghrib sama Abhi, ketua rombongan. Tapi begitulah Himakom UGM, selalu bisa mengarang alasan yang logis. Habis maghrib kan isya’. Jadi kesimpulannya nggak salah kalau ngumpulnya pas isya’. Lha nyatane pas aku nyampai si Abhi malah belum keliatan. Alhasil kami berangkat selepas jam 9 malam. Betul-betul khas Himakom!

Di dalam bis aku menguasai 2 kursi sendirian. Di sampingku ada Resia, gadis manis dari program studi Rekam Medis, yang dengan nekatnya pake celana pendek ketat memamerkan betis mulusnya yang cukup membuat Komeng memaksa supaya bisa duduk di sampingku. Sayang, karena penolakanku, akhirnya Komeng harus berpuas-puas diri duduk di belakang bareng cowok-cowok lain seperti Ceper, Destian, Dicky, Landhes, Abhi, juga Sita – preman cewek dari Jember Utara (hayo, kalo disingkat jadi apa?) yang hobi misuh dengan kata-kata, “Jancuk, matane!” Dan akhirnya penolakanku kepada Komeng berbuah manis. Ketika bis berhenti di pom bensin waktu anak-anak sudah tidur, Resia minta ditemani ke toilet berdua. Hahaha, cuma nganterin, kok. Nggak ada apa-apa. Jangan berpikir yang bukan-bukan duluan.

Bandung chapter 1: Welcome to Paris van Java:::
Kami nyampai di Bandung pagi-pagi jam 6 kurang. Langsung menuju restoran yang namanya…waduh, aku lupa. Mandi-mandi, ngisi baterai HP, kemudian sarapan. Anak-anak pada ja’im. Sama restorannya kami disediain semur yang ada petenya, tapi nggak disentuh sama anak-anak. Kalopun ngambil, petenya disisihkan. Alasannya pada nggak suka pete. Alhamdulillah, pikirku. Aku bisa menghabiskan hampir separuh dari keseluruhan jumlah pete yang disediakan. Setelah kenyang, kami rapat sebentar menentukan skenario yang harus kami lakoni selama di Bandung.

Celaka, aku baru sadar. Di rombongan kali ini nggak ada makhluk seperti Saber, Agro, Bram, Dhrestantyo, atau minimal Faizal-lah, padahal rencananya kami bakal langsung ke ITB. Satupun nggak ada yang punya tampang akademisi untuk jadi juru bicara. Lewat perdebatan sengit akhirnya aku terpilih jadi juru bicara, dengan persyaratan aku bakal terhitung sebagai angkatan 2003. Anak-anak ITB dikhawatirkan bakal kaget kalau tau ada anak 2002 yang belum lulus sampai sekarang. Anak-anak setuju, dan kamipun cabut ke ITB.

Bandung chapter 2: Itebeh, mah, segituh-segituh ajah:::
ITB masih terhitung sedang liburan semester. Tapi ternyata kampusnya tetap rame. Begitu nyampe, gengsi UGM kami langsung timbul. Kampus yang katanya orang-orangnya lebih dahsyat dari kami ternyata cuma segitu-segitu aja. Begitu melihat gerbangnya aku langsung berkomentar, “Gerbang apaan itu? Ta’taksir nilainya nggak sampai 500 juta. Bandingkan dengan UGM, dong, yang harga gerbangnya aja sampai 1,6 milyar!” Anak-anak langsung pada ketawa sedih. Iya, ketawa sedih.

Siangnya kami sholat di masjid legendarisnya ITB, Masjid Salman. Lagi-lagi ternyata cuma segitu-segitu aja. Lantainya dari kayu, masih kalah sama UGM yang lantainya keramik semua. Halamannya sempit kalau dibandingin Masjid Kampus UGM, meski banyak mahasiswa yang berdiskusi di situ. Banyak sekali malah. Lagi-lagi aku berkomentar, “Wah, ini, sih, nggak kondusif buat ngibadah. Kalah sama masjidnya UGM yang sepi, dikuasai sama salah satu organisasi mahasiswa berbasis keagamaan, dan bisa buat muda-mudi yang lagi ta’aruf. Masjid yang ini, sih, kayak pasar. Rame. Aku nggak bisa konsen berdzikir di sini.” Yah, pokoknya masjidnya ITB ini penampilannya kalah jauh dibandingin UGM. Mana mimbar khotibnya kecil. Bakal kurang mendongkrak kewibawaan sang khotib kalau sedang cuap-cuap. Nggak kayak mimbar khotibnya UGM yang super mewah!

Tapi secara umum, Teknik Informatika ITB secara mutu memang di atasnya Ilmu Komputer UGM. Dari diskusi panjang-lebar dengan mahasiswa-mahasiswanya, dan tinjauan lapangan secara langsung, aku menyimpulkan bahwa infrastruktur dan manajemen perkuliahan di UGM sangat amburadul kalau dibandingin dengan ITB.

Di ITB kami nggak menemukan nilai semester yang layaknya “kopyokan dadu” kayak di UGM. Di ITB semuanya terperinci mulai dari nilai tugas, nilai kuis, nilai responsi, nilai ujian tengah dan nilai ujian akhir. Nggak bakal ditemukan nilai mahasiswa yang ketika ujian sangat yakin dengan jawabannya tapi ketika nilai semesternya keluar cuma dapat D, padahal yang garapan ujiannya cuma nyalin soalnya kembali sambil menambahkan jawaban alakadarnya waton kertasnya penuh malah bisa dapat A. Nilai ala kopyokan dadu cuma bisa ditemukan di Ilmu Komputer UGM, membuat mahasiswa semakin malas dan tidak termotivasi. Di UGM, mahasiswa cuma bisa bertawakal ketika selesai memprotes nilainya, dosen cuma berucap enteng, “Wah, lembar ujiannya hilang.”

Di ITB kami nggak menemukan cerita mahasiswa yang mau skripsi tapi belum bisa coding. Tugas dari tiap-tiap mata kuliah di ITB bisa sampai 5 kali dan selalu ada presentasi dan review dari sang dosen pengampu, membuat mahasiswa mau nggak mau harus belajar keras kalau pengen nilainya bagus. Minimal di tahun kedua, anak-anak ITB dijamin sudah bisa coding. Nggak kayak di UGM yang tugasnya cuma sekali, waton ngumpul beres langsung dapat nilai semester A, berhubung dosennya sendiri cuma ngajar dengan frekuensi yang bisa dihitung dengan jari satu tangan!

Di ITB mahasiswa bisa memakai lab dengan bebas, dan ada banyak sekali lab. Bandingkan dengan UGM yang labnya cuma 3, itupun mahasiswa S-1 dibatasi menggunakan dengan frekuensi maksimal 50 menit/minggu!

Padahal, jumlah bayaran tiap semester yang kami setorkan kepada kampus nggak beda jauh, kalau nggak mau dibilang UGM justru lebih mahal.

Cuma saja, iklim belajar sekompetitif ITB, menurut mahasiswanya justru seperti pedang bermata 2. Iklim kompetitif itu membuat mahasiswanya bertipe individualis sejati. Nggak mungkin bisa menerapkan sistem gotong-royong, tepa-selira seperti di UGM. Pihak kampus juga katanya membatasi kegiatan-kegiatan mahasiswa yang kelihatan tidak berhubungan dengan akademis. Membuatku menyimpulkan, alhamdulillah aku kuliah di UGM. Bisa punya banyak teman, nyantai, dan yang pasti nggak mumet diburu-buru deadline.

Yah, pokoknya aku sarankan, kalau pengen benar-benar belajar datanglah ke ITB. Tapi berhubung orang-orang Indonesia masih lebih suka menilai isi buku dari sampulnya, maka aku akan berkata, datanglah ke UGM! Kampus kami penampilannya jauh lebih megah dibandingkan ITB. Cuma saja, kalau nanti ada yang merasa tertipu setelah masuk UGM, resikonya tolong ditanggung sendiri, lho ya.

Bandung chapter 3: Telkom Indonesia VS Indosat:::
Selepas dari ITB, bis kami cabut ke gedungnya Telkom. Kami disambut dengan ramah sama orang-orang Telkom, sama asisten wakil presidennya juga. Kami digelandang masuk ke sebuah ruangan, dikasih jajan yang kacang sama pudingnya enak, dikasih suvernir yang lumayan buat corat-coret kalau lagi nggak ada kerjaan.

Sebenarnya dialog yang terjadi di Telkom biasa-biasa aja. Tanya jawab berlangsung dengan standar, bahkan kami cenderung jadi ngantuk. Nggak ada hal yang kontroversial dan istimewa sampai akhirnya si Komeng dengan bodohnya bertanya tentang persaingan antara Telkomsel dengan provider-provider SIMcard lainnya di Indonesia. Komeng selaku pastisipan Indosat-M3 ngotot menentang pendapat bahwa Telkomsel adalah yang nomer 1. Tidak mengindahkan bahwa kami sekarang sedang berada di kandangnya siapa. Yah, begitulah si Didit Komeng, seperti biasanya selalu ngasal dan ngotot padahal nggak punya argumentasi yang jelas dan sering tidak melihat konteks juga sikon, hehehe. Orang-orang “bodoh” kadang-kadang memang menyenangkan untuk membuat situasi jadi makin panas🙂

Bandung chapter 4: The Balinese Gathering:::
Di Bandung, apalagi yang menarik buatku selain ngeceng dan nongkrong-nongkrong. Maka, tidak lupa aku mengontak Doyok, temen menggelandangku sejak jaman esema, juga Dina, mantan pacarnya temenku yang memang berdomisili di Bandung. Doyok yang anak Geofisika ITB ini punya nama asli Adnyana Sudewa. Anaknya asli kurus dan masih tetap kurus aja. Waktu kutelepon ternyata di kontrakannya lagi kedatangan Dedik, temen esemaku juga yang lulusan STT Telkom dan sekarang sudah kerja di Astro, di Jakarta.

Dan sorenya merekapun datang. Selepas maghrib kami langsung cabut berempat meninggalkan rombonganku. Pikirku, nggak seru kalo tetap jalan sama anak-anak yang bukan anak Bandung. Jalan-jalan di Bandung paling enak ya sama orang Bandung, atau paling nggak sama orang yang sudah lama tinggal di Bandung. Kami naik angkot ke arah kampusnya Dina, Unpad, dan makan ayam bakar di depannya yang katanya Dina enak. Hohoho, di situ aku sempat menemukan 1 gadis cantik yang sialnya dikelilingi anjing-anjing penjaganya.

Selesai makan, kami menyusuri jalanan yang dipenuhi outlet-outlet distro, masuk ke beberapa di antaranya, berlagak jadi orang kaya sambil liat-liat baju untuk kemudian keluar lagi diiringi dengan kalimat yang lumayan keras, “Wah. Nggak ada yang cocok!” Padahal sebenarnya apalagi kalo kami nggak punya duit.

Jam 9 Dina harus pulang. Rumahnya di Margahayu. Lumayan jauh dari pusat kota. Jadinya khawatir kalau entar nggak kebagian angkot. Dan Dina pun pulang, sambil membawa charger hapeku yang kutitipkan di tasnya. Sial! Aku lupa.

Akhirnya, kami yang tersisa memutuskan menyusuri Dago aja. Ngeceng liat-liat cewek Bandung yang katanya cantik-cantik. Dan memang, cewek di Bandung beberapa kali sempat membuat aku menelan ludah. Bukan apa-apa, tapi karena pakaian-pakaiannya yang menurutku cukup berani.

Okelah, cewek Bandung memang cantik, tapi itu bukan berarti lebih cantik daripada di Jokja. Sama aja, menurutku. Yang membedakan cuma gaya busana cewek-cewek di Bandung lebih berani daripada cewek-cewek di Jokja. Di Jokja bakalan sangat jarang ditemukan cewek yang nekat bercelana pendek ketat yang panjangnya cuma beberapa senti di bawah selangkangannya. Tapi di Bandung…wow…wow…wow… Seandainya aja di Jokja banyak yang seperti itu, kupastikan tidak ada yang bakal selamat dari ancamannya Ceper atau Komeng.

Waktu nongkrong di Dago Plaza, misalnya. Di depan kami yang sibuk nyobain menyedot sheesa sambil ditemani minum Cooler Lemona dan sebotol bir yang dibeli Dedik, aku dan Doyok terkesima melihat cewek di depanku yang putih, cantik, dan bercelana pendek ketat, yang dengan cueknya mengangkat kedua kakinya di kursi sambil menghisap sheesa. Cewek itu memang manis, buktinya Doyok yang bertahun-tahun di Bandung juga terkesima. Kecuali tempelan tensoplast bergambar boneka-boneka di atas tumit kanannya, kakinya bener-bener mulus.

Akhirnya cewek itu pulang. Maka obrolan kami tentang gadis-gadis Bandung dan prilakunya (tentunya kami menggunakan bahasa Bali supaya tidak ada pihak-pihak yang merasa tersinggung) berpindah ke masalah kuliah dan kerjaan. Teman-teman esemaku, yang berkarir di luar Bali, ternyata rata-rata sudah pada mapan. Kami menghabiskan sheesa kami sampai Dago Plaza tutup. Sewaktu melewati pintu parkir, wew…mbaknya yang jaga parkir aja ternyata manis.

Dedik harus ke daerah Dayeuh Kolot di pinggiran Bandung buat ngambil barang-barangnya dan besoknya cabut lagi ke Jakarta. Maka aku tinggal ditemani Doyok sampai penginapanku. Kami berdua ngobrol lama sampai larut malam di balkon kamarku. Doyok pulang ke Cisitu ketika ternyata teman-teman sekamarku sudah pada teler. What a nice day. Besok aku sudah harus cabut ke Jakarta. Kapan-kapan aku bakal ke Bandung lagi. Skill Casanova-ku belum sempat kupraktekkan. Dan aku berjanji, di Bandung aku harus makan korban!😛

Jakarta chapter 1: Rainy Days and You:::
Each time I see those thick dark clouds
I used to smile and make a wish
That it would turn.. turn to rain
Because I know that I would watch
for you to play under the rain
(Rainy Days and You – Karimata feat. Phil Perry)

Dari kemarin, menurut penuturan Tikachu, Jakarta hujan deras (akhirnya berakibat banjir). Perjalanan panjang ke Dufan di dalam bis terasa membosankan. Jakarta masih aja sumpek dan terkesan nggak pernah welcome buatku. Inilah alasanku kenapa sebenarnya aku paling males kalau harus disuruh pergi ke Jakarta. Alhasil, sepanjang perjalanan kami cuma genjrang-genjreng main gitar nggak karuan dengan lagu yang liriknya kami ubah-ubah seenaknya.

Sampai di Ancol hujan masih tetap deras. Terpaksa kami menunggu sampai hujan agak reda sambil makan siang jatah perjalanan.

Jakarta chapter 2: Kutunggu kau di gerbang Dunia Fantasi:::
Ada 1 kewajiban yang harus kujalani kalau ke Jakarta: Bertemu dengan Tikachu-ku. Hujan masih deras, tapi layar hapeku menuliskan kalau Tikachu sudah di loketnya Dufan. Maka akupun nekat berjalan kaki menerobos hujan dari parkiran bis menuju Dufan.

Ini seperti adegan di film-film drama-romantis. Begitu aku bertemu Tikachu hujan mulai reda, cuma gerimis rintik-rintik. Orang-orang di sekitarku masih pada berteduh. Tapi sehubungan dengan inginnya mempertahankan mood romantis, aku memilih tetap berpayungan di tengah hujan berdua dengan Tikachu sambil menunggu anak-anak yang lain menyusul.

Setelah komplit, kamipun masuk Dufan. Tempat yang pertama kukunjungi ramai-ramai adalah Meteor Attack. Nggak seheboh bayanganku ternyata. Di awal adegan aku sempat kaget sedikit. Setelah itu, entah imajinasi anak-anakku mulai luntur, aku sudah bisa beranggapan, halah…ini cuma bohong-bohongan. Meskipun Afie temanku yang hitam itu berteriak-teriak histeris di sebelahku sepanjang pertunjukan, aku malah ongkang-ongkang menaikkan kakiku di atas kursi yang bergoyang-goyang.

Selanjutnya kami ke Arung Jeram. Ada adegan romantis yang darurat. Sabuk pengamannya Tikachu nggak bisa dipasang! Wajahnya mulai panik, apalagi permainan sudah dimulai. Maka daripada anaknya orang jatuh dan terseret arus, tangannya kupegang, nggak peduli Komeng yang mungkin iri di depan kami. Genggamanku rasanya biasa aja, seperlunya. Tapi genggamannya Tikachu rasanya erat sekali. Mungkin dia bener-bener ketakutan. Tapi mau gimana lagi, daging babi pun kalau darurat bisa jadi halal, kekeke!

Dan akhirnya, setelah nyobain roller-coaster yang kecil, aku dan Tikachu memisahkan diri dari rombongan meskipun resikonya nggak bisa ikut-ikutan foto-foto bareng. Gimana mau nyobain roller-coaster yang gede kalau yang kecil aja, sepanjang permainan, Tikachu cuma bisa merem. Pancen payah ik nduwe pacar ndeso!😛

Sehabis nyobain macem-macem mainan berdua, kami ngumpul lagi dengan rombongan di depan Istana Boneka untuk selanjutnya pulang. Yang lain ngacir ke bis duluan, aku nganterin Tikachu nyari taksi buat pulang ke Pademangan. Dari cerita-cerita yang beredar aku jadi tau kalau Komeng masuk angin ringan gara-gara basah-basahan di Arung Jeram, Octa nangis gara-gara ketakutan naik Kora-kora, Ayu juga muntah-muntah. Kampungan semua!

Jakarta chapter 3: Syuting 4 mata bareng Tukul:::
Dari keseluruhan perjalananku, di sini anti-klimaksnya. Niat dari Jokja yang pengen muas-muasin diri misuhi Tukul pake bahasa Jawa kandas di tengah jalan, padahal kami sudah berpikir mumpung ini acara live.

Aku sama Ceper, 2 orang tukang pisuh, sempat kecewa karena reaksi kami harus diatur sama orang studionya. Ketawa harus diaba-aba, pas pengen teriak tau-tau sudah disuruh berhenti, tepuk tangan juga harus dikode. Bener-bener nggak bisa lepas.

Di luar masalah itu, aku baru tau ternyata studionya kecil. Kesan luas yang terdapat di teve ternyata cuma butuh sedikit siasat interior aja. Selain mulutku yang kerasa mau kram gara-gara kupaksa senyum terus, aku nggak dapat apa-apa. Indah Kalalo juga Dominique yang jadi bintang tamu acara nggak taunya cuma cantik gara-gara make-up. Yang aku perhatiin, kalo aja aku boleh nyentuh make-up-nya rada keras, kemungkinan besar bedaknya bakalan retak-retak. Mantan-mantan bidadariku asli lebih cantik daripada mereka. Tapi anak-anak cewek pada norak, berebut ngambil fotonya Ringgo Agus Rahman, yang menurutku tampangnya sama aja dengan Genta “Wib”owo, temen kampusku yang item. Bedanya, Ringgo lebih putih. Kalo aja si Wib dibedakin setebal 3 cm, mungkin juga nggak bakal beda jauh.

Dan karena selama ini aku memang jarang nonton 4 Mata, aku baru bisa menyimpulkan kalo 4 Mata itu cuma sekedar acara Tukul show. Bintang tamunya nggak banyak memberikan informasi yang berarti, karena pertanyaan-pertanyaannya juga nggak bermutu. Semuanya, kalo diibaratkan, anak esde juga tau. Mana ketika mereka mulai ngomong, si Tukul suka nyerobot. Jadinya ya memang ndagel, cuma aja acaranya jadi nggak lebih dari lawakan tanpa pesan moral dan tambahan informasi. Mana aku masih kecewa gara-gara nggak jadi misuh. Kru studionya yang kebetulan orang Jawa juga ngawur. Di dalam, aku sempat-sempatnya dipanggil sebagai “Tukul Cilik”. Kampret!

Jakarta chapter 4: Journey (back) to the east:::
Setelah pamitan dengan atasanku yang juga ngikutan nampang di studio, aku pun pulang. Sebelumnya sempat disuruh tinggal di Jakarta dulu, kayak Ayu yang akhirnya juga dijemput atasannya. Tapi berhubung bosku di Jokja sudah mencak-mencak lewat hape gara-gara aku minggat dari kantor tanpa kabar, akhirnya aku pulang ke Jokja diiringi hujan deras yang nggak berhenti-berhenti, selain perasaanku memang nggak enak kalau di Jakarta. Dan ternyata memang benar, sehari setelah kami pulang, Jakarta kebanjiran, seperti kuketahui dari SMS berikut:

03/02/07 06:49
Desti Ayu
Aduh ak ga tau blk
kjgj kpn. Skrg+bbrp
hr mndtg mngkin ak
ga bs klr rmh, coz
dsini banjir blm
surut, ddlm rmh aj
sepinggang, dluar
lbh, jln jkt jg lg pd
banjir.

Untung…untung…slamet…slamet… Meskipun sempat prihatin juga dengan ibukota kita yang gagah, yang setiap tahun selalu aja kebagian musibah yang sama. Akhirnya, selamat datang kembali di Jokja. Di UGM, kampus megah yang cuma kelihatan dahsyat dari luar.

P.S. Mohon maaf, foto-fotonya memang belum ngumpul semua. Nanti kalau sudah ada, aku janji bakal ta’update laporannya. Ma’acih…

62 Responses to “ITB Cuma Segitu (Catatan Sebuah Perjalanan Dinas)”


  1. 1 pramur Februari 3, 2007 pukul 4:18 pm

    Numpang nimbrung nih Mas…
    Di ITB kabarnya memang di sana-sini ada saja yang sedang berdiskusi, macronya Himakom?

  2. 2 helgeduelbek Februari 3, 2007 pukul 4:18 pm

    Ampun joe… dawane … ceritane, ning enak ngalir, Isine jan bedo tenan sama jule, mboknehuancuk…asem tenan…, tak kiro cerito kontraversial opo maning…

  3. 3 anung Februari 3, 2007 pukul 5:55 pm

    kalian membawa petaka bagi jakarta…🙂

  4. 4 senja Februari 3, 2007 pukul 7:12 pm

    cerita thok, oleh2nya mana??

  5. 5 de King Februari 3, 2007 pukul 8:08 pm

    Joe, kok tumbén tulisanmu lebih cenderung informatif?Biasané kan tulisanmu lebih cenderung ke provokatif..
    Kita tunggu saja komentar2 selanjutnya, kalau masih ada yang kasih komentar ‘aneh-aneh’ berarti mereka2 itu bereaksi bukan sama tulisanmu tapi sama kamu-nya Joe…😀

  6. 6 kudzi Februari 3, 2007 pukul 8:09 pm

    Koq cerita mahasiswa yang cuma nulis soal dan dapet A pernah dengar??!! siapa yak???

  7. 7 syah Februari 3, 2007 pukul 9:07 pm

    dowone…..
    komentare ngko ae yo…

  8. 8 sora9n Februari 3, 2007 pukul 10:25 pm

    Wah, ini toh yang katanya main ke itebe hari rabu… numpang baca yah🙂
    `
    (baca dulu)
    `
    Masjid Salman kebanyakan orang? lha iya lah. Institut Tarbiyah Bandung…😀 😀

    Btw, yang banjir nggak cuma Jakarta doang kok. Buktinya rumahku di daerah Tangerang juga dah kena banjir. Ada 20cm lah di dalem rumah…😦 sekarang sih udah surut

  9. 9 joesatch Februari 3, 2007 pukul 11:18 pm

    pramur:::
    di Himakom juga banyak yang diskusi, kok. Diskusi bal2an, kekekeke!
    helgeduelbek:::
    hahaha, nggak selamanya saya kontroversial kok, pak guru🙂
    anung:::
    ya! kalian memang pembawa petaka. untunglah bukan aku😛
    senja:::
    sini2, ayo main ke rumah abang😛
    de King:::
    Halah…yang provokatif juga cuma yang akhir2 ini, kok😀
    kudzi:::
    itu aku zi, hahahaha😛
    syah:::
    sumonggo, mas. dipun sekecak’ake kemawon
    sora9n:::
    iya…iya…ini yang main ke itebe.
    wah, turut berduka cita…semoga cepet beres banjirnya

  10. 10 azki hakim Februari 4, 2007 pukul 11:37 am

    Kopyokan dadu?? untung dulu saya gak ktrima di ilkom UGM.

    Konon di INDIA lebih parah.
    Itu bedanya mereka dari kita, mereka lebih mementingkan “kecantikan didalam” daripada sibuk dengan “urusan lipstik”
    Baca link berikut:
    http://www.kompas.com/kompas-cetak/0408/21/utama/1220285.htm

    ===
    salam kenal,
    http://azki136.blogdrive.com
    http://aeroblog.wordpress.com

  11. 11 kudzi Februari 4, 2007 pukul 12:31 pm

    Lha… katanya ngga bisa bayar uang sekolah !, tapi koq bisa plesiran ke Jakarta ??
    kekekekeeee…

  12. 12 DilLa Februari 4, 2007 pukul 4:55 pm

    Joe, tau gak? Tau gak? Menurutku kamu sebenernya cinta dan peduli UGM kok. Kalo kamu ga peduli, ngapain nulis ttg UGM sampe berseri-seri gini? Kalo kamu ga cinta, ngapain sampe dipikirin dan disebeli gini? Cinta dengan benci kan tipis? ya ga sih?

    Hem..emang cinta bisa diwujudkan dalam bentuk yg macem2 ya? Eh, bener ga sih, Joe? Aku cuma nebak2 aja kok…

    *kaburKeTimbuktu*

  13. 13 the hobbit Februari 4, 2007 pukul 6:56 pm

    Aku nggak bisa konsen berdzikir di sini.

    bukane zikiranmu kui nek ngrasani awewe heulis

    Selanjutnya kami ke Arung Jeram. Ada adegan romantis yang darurat. Sabuk pengamannya Tikachu nggak bisa dipasang! Wajahnya mulai panik, apalagi permainan sudah dimulai. Maka daripada anaknya orang jatuh dan terseret arus, tangannya kupegang, nggak peduli Komeng yang mungkin iri di depan kami. Genggamanku rasanya biasa aja, seperlunya. Tapi genggamannya Tikachu rasanya erat sekali. Mungkin dia bener-bener ketakutan. Tapi mau gimana lagi, daging babi pun kalau darurat bisa jadi halal, kekeke!

    lhoh ?? bojomu ki babi tho, kekeke😀

    Dan akhirnya, setelah nyobain roller-coaster yang kecil, aku dan Tikachu memisahkan diri dari rombongan meskipun resikonya nggak bisa ikut-ikutan foto-foto bareng. Gimana mau nyobain roller-coaster yang gede kalau yang kecil aja, sepanjang permainan, Tikachu cuma bisa merem. Pancen payah ik nduwe pacar ndeso!😛

    lhoh ?? saiki malah ndeso…babine seko gunung kidul pho ??😀

  14. 14 indopodcast Februari 4, 2007 pukul 7:29 pm

    assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    mau ngasih info juga nih yah. memang salman itu lantainya dari kayu dan bentuknya seperti itu. tapi di awal pembuatan salman itu mesjid ngak cuman asal bangun dah banyak sejarahnya. dan dari bentuknya sendiri itu ada maknanya, begitu juga alasan kenapa lantainya harus kayu bukan keramik. so, jangan memandang sesuatu dari penampilan yang terlihat, tapi pandangalah sesuatu dari makna yang terdapat di dalamnya.

    -akh_marsha-

  15. 15 indopodcast Februari 4, 2007 pukul 7:30 pm

    ma’ap salam penutupnya ketinggalan😀

    wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

  16. 16 joesatch Februari 4, 2007 pukul 9:39 pm

    azki hakim:::
    alhamdulillah, mas. saya turut senang dengan keberuntungan anda. doakan kami2 ini bisa segera lepas dari jerat penipuan juga.
    kudzi:::
    kata siapa ga mampu bayar? kan ada anis sama destian😛
    DilLa:::
    hahaha…no comment, ah! tapi memang aku selalu mengharapkan UGM bisa lebih baik lagi dan lagi
    the hobbit:::
    ngaca win…ngacaaaaaaaaaaaaaa……!!!
    indopodcast:::
    haduh…haduh…dibaca dulu dunk pernyataanku sampe habis. ditelaah kira2 aku make majas apa. kira2 nadanya sinis/ga? setelah itu baru disimpulkan maksud tulisanku gimana😀 oke? tapi aku setuju dengan kalimatmu terakhirmu, kok. cuma sayangnya…sudah kujelaskan di tulisanku juga, meskipun berbentuk majas. yah…itung2 memperkuat statementku aja

  17. 17 antobilang Februari 4, 2007 pukul 10:41 pm

    wew…indopodcast ini tipe2 orang yang membaca sepotong2..mengartikan segala sesuatu sepotong2…
    dodol…dodol…

  18. 18 de King Februari 4, 2007 pukul 10:48 pm

    Joe nasibmu kok ngéné to?
    Wis jelas-jelas postinganmu iki mung cerita (alias informatif) tanpa nuansa provokatif kok ya masih ada yang ‘tersinggung’ sama postinganmu kayak si indopodcast itu ya?
    hahaha…serius aku jadi pengin menertawakan nasibmu…😀
    Padahal menurutku sich lumayan jelas kalau tulisanmu tentang Masjid Salman itu tidak ada maksud jelek (merendahkan)…terimo waé nasib ‘buruk’mu iki yo Joe…
    Kamu yang tabah ya…jangan bunuh iri lho karena masih banyak lantai dan piring kotor yang membutuhkan uluran tanganmu hehehe😀

  19. 19 indopodcast Februari 4, 2007 pukul 10:51 pm

    untuk atasku juga, jangan mengartikan sepotong-sepotong juga yah. daku pan dah nulis tuh. diawal, mau ngasih info, bukannya sinis #:-S

  20. 20 antobilang Februari 4, 2007 pukul 11:32 pm

    lha iya tho..maksud e mas joe kae ki ngandani (sejatine) yen mesjid UGm ki malah elek..justru salman sing paik..lha kok malah indopodcast (iki jeneng opo jeneng yo?) malah nyolot dikirone mas joe menjelek2an salman, wew..bener kayak kata #de King, ini memang “kutukan” buat mas joe…

  21. 21 mrtajib Februari 5, 2007 pukul 12:25 am

    Joe…. kesel mbaca ceritamu ini….

    aku tungu ceritamu yang laen. Nich aku beri tema (seperti dosen aja). COba ceritain kenapa sih di fakultas eksak kampus UGEEM and Itebe itu banyak orang sk Islamnya….. dijamin lebih rame joe. Tak tunggu yo?

  22. 22 oct_adza Februari 5, 2007 pukul 11:16 am

    aku ikut dalam perjalanan itu. jujur aja aku kagum banget ma anak-anak ITB plus dosen-dosennya (dalam hal akademis, kalo hal bersosialisasi jelas UGM tetep oke lahh..) andai saja dosen-dosen MIPA UGM, khususnya Ilkomp seperti dosen di ITB pastilah perkuliahan di sini bener-bener kondusif. jadi gak ada mahasiswa yang dirugikan dan diuntungkan. kalo saja semuanya ada transparasi. sayang nya penguasa-penguasa di sini sibuk memikirkan kepentingan mereka tanpa memikirkan nasib mahasiswa (kok malah nglantur sampe sini..)

    PS : mas nek nampilin photo ojo naeh-aneh lho. awas nek sesuk aku melihat tampangku yang aneh-aneh. satu kalimatmu di atas sudah cukup. he..he…he…:)

  23. 23 Iwan BK Februari 5, 2007 pukul 11:29 am

    Anak-anak ITB dikhawatirkan bakal kaget kalau tau ada anak 2002 yang belum lulus sampai sekarang.

    Wakakakakakakakkkkkk

    Kampus kami penampilannya jauh lebih megah dibandingkan ITB. Cuma saja, kalau nanti ada yang merasa tertipu setelah masuk UGM, resikonya tolong ditanggung sendiri, lho ya.

    Orang-orang & lab nya memang lebih megah daripada UGM. Tapi…kalo ada yang tertipu setelah masuk UGM, resikonya tolong ditanggung sendiri, lho ya.

    – itb 2000 –

  24. 24 Iwan BK Februari 5, 2007 pukul 11:34 am

    Sorry om, commentku sebelumnya kliru tuh
    Koreksinya kutebalin

    Anak-anak ITB dikhawatirkan bakal kaget kalau tau ada anak 2002 yang belum lulus sampai sekarang.

    Wakakakakakakakkkkkk

    Kampus kami penampilannya jauh lebih megah dibandingkan ITB. Cuma saja, kalau nanti ada yang merasa tertipu setelah masuk UGM, resikonya tolong ditanggung sendiri, lho ya.

    Orang-orang & lab nya memang lebih megah daripada UGM. Tapi…kalo ada yang tertipu setelah masuk ITB, resikonya tolong ditanggung sendiri, lho ya.

    – itb 2000 –

  25. 25 Luthfi Februari 5, 2007 pukul 2:32 pm

    xixixixixi …..
    untung gw gak masuk itb atau ugm

  26. 26 mrtajib Februari 5, 2007 pukul 2:34 pm

    endi ceritane orang yang sok islam di UGEEM dan ITEBE?

  27. 27 anung Februari 5, 2007 pukul 6:46 pm

    intinya tho joe…
    KAMU ITU MASUK DPO-BLACKLISTED nya “salafi2” sedunia…hahahahahaha

  28. 28 joesatch Februari 5, 2007 pukul 9:12 pm

    de King & antobilang:::
    Kayaknya memang begitu. Biasalah, cowok tampan banyak yang sirik😛
    mrtajib:::
    waduh, kalo yang di itb sulit, mas tajib. lha aku kan cuma beberapa jam aja ada di sana. wong cuma nulis mesjidnya aja ada yang protes, apalagi nulis kehidupan mhs-nya. nek yang di ugm, sebenernya udah sering ta’tulis di postingan2 sebelumnya. gitu lho
    Iwan BK:::
    lha, kalo sampeyan sudah lulus belum?😛
    Luthfi:::
    iya lho, untuk terpilih masuk ke golongan orang2 sial tes akademisnya berat juga. beruntunglah anda, kekekeke!😀
    anung:::
    yo ben. jarno ae!

  29. 29 anung Februari 5, 2007 pukul 9:26 pm

    hahaha…kau tak bisa melawan ya?

  30. 30 de King Februari 5, 2007 pukul 9:34 pm

    Kayaknya memang begitu. Biasalah, cowok tampan banyak yang sirik

    Gék ndang nulis tentang ‘ketampananmu’ Joe..dijamin akan semakin banyak hujatan, cacian dan makian hehehehe😀
    Bisa2 jadi blog of the minute néh lho Joe..

  31. 31 antobilang Februari 6, 2007 pukul 1:30 am

    tulisan tentang ketampanan Joe?
    isinya informatif apa provokatif ya (minjem istilahnya de King)….
    mungkin buat cewek2 seksi bisa provokatif lho bang Joe..hehe…

  32. 32 oon Februari 6, 2007 pukul 9:18 am

    jadi kapan mo mencari korban dibandung? dah ada targetnya kah?😛

  33. 33 pengguna Februari 6, 2007 pukul 12:03 pm

    Sebelum ada skrinsut cewek2x yg disebut diatas tadi, maka anda di ban untuk posting yg lain dulu *hihihi*

  34. 34 Paijo Februari 6, 2007 pukul 12:23 pm

    Panjaaaaaang banget, tapi asyik juga. Pas cerita tentang cewek Bandung, aku jadi ingat jaman saya kuliah dulu. Kalau soal makanan di Bandung, jadi ingat sama rumah makan Resep Dapurku yang dekat polwil Bandung, makanannya benar-benar hueboooh.
    Terimakasih dan salam eksperimen.

  35. 35 Arif Kurniawan Februari 6, 2007 pukul 3:17 pm

    Nambahin info gosip dikit mengenai Masjid Salman.
    Konon kabarnya Masjid ini adalah ajang para jagowan coding Indonesia. Sistem navigasi Garuda Indonesia kabarnya bermula dari obrolan di masjid ini. Sama seperti halnya virus (tanpa flu) burung yang amat terkenal penyebarannnya lewat flashdisk, juga berasal dari celotehan di masjid ini.

    Masjid Salman memang hebat. Salut deh.

    BTW, kamu lupa Joe, di sebuah pertigaan apabila belok kanan keluar masjid, kan ada penjual bokep gay. Kok nggak diceritain?

    hehehe…

  36. 36 sora9n Februari 6, 2007 pukul 8:49 pm

    @ Arif Kurniawan
    .
    Meluruskan… virus (tanpa flu) burung yang dimaksud mungkin bukannya menyebar dari celotehan anak-anak Salman, melainkan dari komputer berbagai unit di masjid tersebut. Malah nggak cuma virus tsb, nama lain seperti Dago juga disinyalir meluas dari komputer masjid Salman — dibantu oleh banyaknya flashdisk yang ‘mendarat’ di PC tersebut demi tercetaknya berbagai proposal dakwah kampus ^^ Coba aja tes flashdisk tsb. pakai *nix, ntar juga kelihatan file ‘setan’-nya.😉
    .
    Sampai2 muncul ungkapan, “jangan pasang flashdisk di komputer lingkungan Salman jika nggak ingin terinfeksi virus2 mutakhir”.😀😀
    .

    di sebuah pertigaan apabila belok kanan keluar masjid, kan ada penjual bokep gay.

    Kok bisa tau?
    *teringat artikel terbaru bang Aip*
    Jangan-jangan….?😛

  37. 37 rendy Februari 6, 2007 pukul 11:10 pm

    mana sih foto2 cewek yang dibilang cantik itu…

  38. 38 joesatch Februari 7, 2007 pukul 1:07 pm

    anung:::
    ada perbedaan mendasar antara “bisa” dan “mau”, kekekeke!
    de King & antobilang:::
    ah, itu kan prediksi anda-anda saja, wakakakakaka!😛
    oon:::
    belum. punya kenalan yang bisa dijadiin target ga?
    pengguna & rendy:::
    maap, waktu jalan2 sama anak2 pas malem2 ga ada yang bawa kamera, hehehehe
    Paijo:::
    ada cerita apa dengan cewek bdg, kang? mbok ditulis di blog panjenengan
    Arif Kurniawan & sora9n:::
    iya ya…ternyata ada benang merahnya, kekekeke!

  39. 39 Amd Februari 7, 2007 pukul 2:47 pm

    Bagian favoritku adalah Bandung Chapter 3

    Yah, begitulah si Didit Komeng, seperti biasanya selalu ngasal dan ngotot padahal nggak punya argumentasi yang jelas dan sering tidak melihat konteks juga sikon, hehehe. Orang-orang “bodoh” kadang-kadang memang menyenangkan untuk membuat situasi jadi makin panas

    😀 Nendangnya poll!!!

    Bagian mana yang jadi favoritmu???

  40. 40 arifkurniawan Februari 7, 2007 pukul 2:54 pm

    @Sora9n + Joe: Benang merahnya bukan di artikel terbaru. Ada dehh… mauu tauu ajeee…😀.
    Nanti menyusul di postingan-postingan berikutnya (entah kapan? hehe). At sora9n, makasih atas penambahan infonya.

  41. 41 maruria Februari 8, 2007 pukul 1:59 pm

    We lah..ternyata sampeyan ndak suka juga sama jakarta? Sammmaaa…doooong..
    Emang UGM yang sebenernya gitu yah? Di kampus saya-sebuah institut negeri di Bogor-, (thanx God..) semua nilai diperinci dari nilai responsi, praktikum, nilai murni UTS n UASnya. Dan berkasnya disimpen terus sama dosennya sampe keluar transkrip n ga ada yang komplain. Habis tu, baru dibuang/dibakar/dijual????

  42. 42 kunderemp Februari 11, 2007 pukul 1:07 pm

    kutu…
    kukira ngejek-ngejek kampus adik gue.. ternyata malah menertawakan kesengsaraan diri sendiri. Huahahaha

  43. 43 miund Februari 12, 2007 pukul 1:02 am

    komentar saya sebagai alumni gajah duduk cuma satu:

    itebe gitu loh…

    wahaahakhakhakhakhakahkahkk!!!

    blognya seru bener🙂 salam kenal ya!

    *santai mas, saya lulusan itebe yang cukup mau kenal orang (baca: bergaul) kok…*

  44. 44 sora9n Februari 13, 2007 pukul 7:48 pm

    @ miund

    itebe gitu loh…

    Iyah, itebeh gituh loh, tapih aneh kok banyakh yang mauh ke sanah yah, padahal banyakh bangeth sindirannnyah… (informasi di sini🙂 )
    .
    Salam kenal yah😉

  45. 45 zam Februari 14, 2007 pukul 3:56 pm

    huuu…

    endi foto-foto cewek bandung sing tok ceritakne kui

    tanpa SKRINSUT ADALAH BOHONG!!!

    *kabur ke Bandung*

  46. 46 lambrtz Februari 19, 2007 pukul 2:24 pm

    loh
    kamu jago ugm apa itb toh?

  47. 47 joesatch Februari 19, 2007 pukul 5:59 pm

    wadone? nek wadone, masalah keberanian berbusana, jelas aku njago yang bandung dunk!😛

  48. 48 zuhra Februari 25, 2007 pukul 7:53 pm

    kebetulan pas aku lagi maen ke ITB, temenku yang diinformatika mbilangin. “Tuh ada kunjungan anak ilkomp UGM. tampangnya culun2”. wakakak. pantesan. ternyata kalian ya…

  49. 49 joesatch Februari 26, 2007 pukul 11:37 am

    pasti aku ndak diperhatikan secara khusus sama anak2 itebe itu. kalo iya, mereka pasti bilang, “Tuh ada kunjungan anak ilkomp UGM. tampangnya culun2, tapi kok ada satu yang bajingan, ya?” wekekekekekeke!

  50. 51 Dewi Maret 9, 2007 pukul 12:53 pm

    ITB emang (jauh) tidak megah sama sekali dibanding UGM,, Tapi aku jauh-jauh dari Jogja ke Bandung bukan untuk nyari kemegahan di ITB,, ada sesuatu yang jelas tidak akan kudapatkan jika aku dulu di UGM,, pisssssssss

  51. 52 aleh Maret 23, 2007 pukul 2:57 am

    he..he..he..ITB mah belum seberape dibanding stttelkom,memang ane akui kalau ane berkunjung ke ITB mahasiswanya banyak yang berdiskusi.Disegala penjuru t4 di ITB tidak ada t4 yang tidak dijadikan sebagai t4 berdiskusi.Lain ITB lain STT,memang kalau di STT jarang sekali mhs yang berdiskusi di kampus,tapi mhsnya pada sibuk di komunitas2 perkumpulan diluar kampus.like kost2an.Mhs mengasah kemampuan mereka dikostan yang kebetulan ada intranet dari kampus…G’percaya cobain aja touring ke STT..

  52. 53 rahasia Juli 27, 2007 pukul 8:07 pm

    heh….g gak suka komentar lo tentang gerbang itb…gitu-gitu lebih bersejarah daripada gerbang kampus lo… sesuatu itu gak cuman dinilai dari uang…. MAKAN TUH GERBANG 1,6 M…………!!!!!!!!!!!

  53. 54 Shelling Ford Juli 27, 2007 pukul 8:44 pm

    lho, mas/mbak rahasia ini sudah tau artinya kata “satire” dan “ironi” belum?😀
    coba cari di wikipedia, ya…kekekekekekeke!

  54. 55 Dewi Agustus 14, 2007 pukul 6:27 pm

    emang gerbang ugm kayak apa toh???

  55. 56 nieznaniez Agustus 15, 2007 pukul 7:51 pm

    waa, klo dari jumlah yo menang gerbangnya UNDIP lah. ada 2 butir !! ehehheeeee…

  56. 57 Kiki Ahmadi Januari 16, 2008 pukul 12:20 pm

    hmmm jadi pengen nulis masalah ITS nih mas..

    *mikir mikir*

  57. 58 BOGEL Februari 28, 2008 pukul 9:31 pm

    JANCUUUUK

    TAEK ASU

    TTD
    aREK SUROBOYO

  58. 59 UGM anjing Mei 29, 2008 pukul 12:52 am

    apa katamu ITB individualis ? pada gak punya temen ? gawok koe !
    apa pula UGM itu ? kau ngapain banding2kan ? mau lebih dipandang hebat?

  59. 60 kecebon9 Juni 1, 2008 pukul 1:10 pm

    =)
    terima kasih sudah berkunjung ke kampus saya, <<–sok sokan melu andarbeni
    berpayah-payah ngasih review malah..
    semoga masjid kampus di UGM sana makin rame juga ..
    kapan-kapan pengen juga maen-maen ke wilayah tengah

  60. 61 joesatch yang legendaris Juni 1, 2008 pukul 2:24 pm

    Dewi:::
    gerbang ugm konon marmernya diimpor langsung dari itali, mbak, hahahaha

    nieznaniez:::
    pokoknya ugm lebih mewah! kita bicara masalah nilai nominalnya, bukan kuantitasnya😆

    Kiki Ahmadi:::
    bukannya udah?

    BOGEL:::
    siapa, mas? masnya sendiri?😆

    UGM anjing:::
    setidaknya saya ngerti artinya satir sama ironi dibandingin situ, lho, gyahahahahahaha! situ ngerti artinya 2 kata di atas itu, ndak?

    kecebon9:::
    kembali kasih😀

  61. 62 catra Agustus 23, 2008 pukul 7:51 am

    wahhh rame banget nihh, penjelasannya detail banget, iya tuh gerbangnya sederhana banget, di bandung pun sama gerbang unpad, dan kampus2 lain aja kita kalah… salam hangat dan salam kenal dari saya

    mesin-itb


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,033,018 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

Februari 2007
S S R K J S M
« Jan   Mar »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia