UGM, Dapat Apa Coba?

Aku belum pernah dapat komentar sebanyak komentar-komentar gara-gara tulisanku tentang birokrasi di UGM nan njlimet kemarin itu. Apresiasi orang-orang terhadap UGM (dan terhadapku, hehehe) ternyata sangat besar. “Hujatan” dan “pisuhan” kuanggap saja sebagai tanda sayang mereka terhadapku supaya aku segera kembali ke jalan yang menurut mereka benar. Ketidak-relaan kakak-kakak angkatanku bahwa almamaternya diinjak-injak oleh juniornya sendiri suatu saat mungkin harus kucontoh, karena menurut mereka, biar bagaimanapun juga, aku dibesarkan di (lingkungan) UGM.

Yep, benar. Aku memang dibesarkan di lingkungan UGM. Birokrasi-birokrasi njlimet ala UGM itu suatu saat akan membuatku kebal dalam menghadapi birokrasi-birokrasi yang lebih njlimet lainnya kalau aku memang berniat menghabiskan hidupku di Indonesia, negara njlimet ini. Yeah, siapa, sih, yang nggak tau tentang kenjlimetan-kenjlimetan di Indonesia?

Tapi, sejujurnya, aku masuk UGM sama sekali nggak berharap akan menghadapi ruwetnya situasi kuliah di sini. Aku masuk UGM niatnya membeli sebuah ilmu pengetahuan, lebih khususnya ilmu tentang bagaimana teknologi informasi bekerja. Toh nyatanya aku harus berhadapan dengan realita bahwa aku salah menginvestasikan duit orang tuaku dengan berharap aku akan mendapatkan ilmu dari bangku kuliah di UGM. Kalau saja aku adalah orang yang selalu berpandangan buruk tentang suatu hal, sudah pasti aku tidak akan tahan berlama-lama di sini. Syukurlah aku bisa berpikiran, duit orang tuaku memang tidak berhasil kubelikan ilmu kuliah di UGM, tapi aku berhasil membuatnya terpakai untuk membeli sebuah komunitas!

Ya, sebuah komunitas. Komunitas UGM!

Jangan pernah sekalipun berpikir bahwa ilmuku banyak bertambah gara-gara aku diajari banyak hal dari dosen-dosen UGM yang (katanya) hebat. Non sense. Itu nggak mungkin. Aku nggak akan pernah bisa berharap banyak dari dosen yang kuliahnya bikin ngantuk, ngomongnya di kelas nyaris nggak kedengaran padahal suasana kelas sudah hening, waktu praktikum yang minim (seminggu cuma dapat jatah 50 menit), dan kesempatan eksprimen dan penelitian yang sedikit. Itu masih ditambah kelakuan oknum dosen yang galaknya pol dan sok-sokan, nggak menghargai hasil karya mahasiswanya dengan menyobek laporan praktikum di depan mahasiswanya sendiri, meremas-remas catatan eksprimen mahasiswanya hanya gara-gara sebuah kesalahan kecil yang kalau mau diusut sebenarnya berpangkal dari ketidak-cakapan dosen yang bersangkutan sendiri dalam mengajar. Belum lagi tingkah laku dosen-dosen yang lebih mementingkan proyek mereka di luaran ketimbang hadir bertatap-muka mengajar di kelas, sampai-sampai dalam 1 semester kami cuma bertemu 2 kali: Pada saat presentasi konsep penugasan dan presentasi demo program. Ya, dosen-dosen tersebut lebih memilih tidak mengajar, juga tidak mengadakan ujian tengah dan ujian akhir, menggantinya dengan tugas kelompok, untuk kemudian berkonsentrasi dengan proyek-proyeknya di luaran yang memungkinkan mereka gonta-ganti mobil tiap semester.

Semester 1 dan 2 aku memang masih rajin kuliah. Tapi bisa dibilang kuliah pada saat itu tidak banyak bersentuhan dengan komputer. Semuanya masih pelajaran dasar jaman di SMA Negeri 1 Denpasar, seperti fisika, kalkulus, bahasa Inggris, Pancasila, agama, dan lain-lain yang pokoknya kurang bermutulah kalau mau dibandingkan dengan nama besar Ilmu Komputer. Semester-semester selanjutnya aku mulai jarang kuliah. 3-4 aku sibuk dengan mantan pacarku yang memang manis (tapi iblis) itu. 5-6 aku sibuk mengurusi organisasi mahasiswa dan lab yang ironisnya dibangun atas prakarsa mahasiswa sendiri berhubung kampus tidak pernah bisa menyediakan lab untuk kami mendalami bidang kami secara lebih lanjut. Aku masih ingat bagaimana teman-teman sekelasku berdebu-debu membongkar gudang di kampus, mengumpulkan perkakas-perkakas lawas sampai akhirnya berhasil membentuk 10-an unit komputer yang bisa nyala meski mutunya jelas jauh di bawah standar, dan akhirnya menata sebuah ruangan tidak terpakai yang berantakan nggak karuan hingga akhirnya layak disebut sebagai sebuah lab.

Jangan berpikir aku bisa sampai di sini gara-gara rajin masuk kelas untuk kuliah di Ilmu Komputer UGM. Salah total, Dab. Ilmuku tidak dibentuk dari bangku kuliah. Ilmu komputerku justru dibentuk dari permainan bilyar, obrolan angkringan, gitaran genjrang-genjreng tidak karuan, nongkrong bareng, dan…yah, pokoknya ilmuku tidak kudapat dari dosen-dosenku seperti yang kuharapkan, tapi justru dari interaksiku dengan sesama mahasiswa dalam sebuah komunitas. Ya itu tadi, komunitas UGM.

Siapa yang mengajariku tentang algoritma, basis data, jaringan, sistem operasi, dan semacamnya? Dosen? Salah!

Aku sangat berterimakasih pada Mas Anjar, Mas Riza, Mas Bimo, Mas Kuntop, Mas Kuncung, Mas Iqbal, Mas Didik, Mas Amik, Mas Pri, Mas Dino, Mas Taufik, dan lainnya yang sudah membimbingku bahkan tidak sekedar dalam pengetahuan komputer itu sendiri, tapi juga bagaimana harus “bertahan hidup”. Mereka-merekalah kakak kelasku tempat aku belajar banyak dari pengalaman mereka.

Aku sangat berterimakasih pada Ganes, Haris, Firman, Aunk, Faiz, Achlif, Ardi, Tyo, Hartadi, Udin, Apri, Aziz, Ian, Welly, Moneng, Saipul, Dedi, Faizal, Hanan, Danang, Sahal, Moche, Adin, Anang, Fadli, Eko, Mawan, Ade, Mike, dan teman-teman seangkatanku yang lain yang nggak segan-segan mengkritik dan menunjukkan kelemahan-kelemahanku. Pelajaran dari mereka justru enak dan sangat mudah dicerna. Ilmu itu bisa datang dari sekedar ejek-ejekan, nongkrong, konvoi bareng, dan hal-hal yang kalau dipandang oleh pandangan konservatif adalah hal yang sangat tidak berguna bagi masa depanku.

Aku sangat berterimakasih pada Bram, Tepe, Ghulam, Gento, Kudzi, Punk, Tantos, Septo, Komeng, Pepe, Saber, Destian, Suriph, Pramur, Aphip, Ceper, Azvin, Chiel, Andi Kicrut, Diwan, Ajay, Yanuar, Fachry, John, Fahmi, adik-adik kelasku yang juga nggak pernah bosen ngingetin aku, sekedar kesalahan mengetik di MS-Word atau bahkan hal-hal besar lainnya yang membuatku masih bisa bernafas sampai sekarang.

Sekali lagi, aku sangat berterimakasih pada Universitas Gadjah Mada sebagai sebuah komunitas. Tapi UGM sebagai sebuah institusi pendidikan? Maaf, nanti dulu. Mungkin akan kupertimbangkan besok lusa.

52 Responses to “UGM, Dapat Apa Coba?”


  1. 1 arul Januari 27, 2007 pukul 11:36 am

    sadar atau tidak sadar kadang kita menganggap ilmu yang yang berikan dosen itu sebenarnya banyak…
    cuman kita aja yang terlihat arogan karena telah mengetahui terlebih dahulu

  2. 2 joesatch Januari 27, 2007 pukul 12:04 pm

    bagaimana kalo kita memang tidak pernah bertemu dengan dosen di ruang kuliah?🙂

  3. 3 passya Januari 27, 2007 pukul 1:39 pm

    Aku belum pernah dapat komentar sebanyak komentar-komentar gara-gara tulisanku tentang birokrasi di UGM nan njlimet kemarin itu

    ceritanya pengen mengulangi sukses yang sama nih…😀

  4. 4 PriyayiSae Januari 27, 2007 pukul 1:54 pm

    ono benere jg cangkemmu kang …. :d
    cen sing jenenge ilmu iku iso diperoleh nang ndi wae, mulai dari skolahan sampe tempat tidur.
    Kabeh tergantung piye awake dhewe menyikapinya, tergantung pikiran bijak makhluk2 sing gelem berpikir.
    ingat jg pesen Rasulullah saw: “Menuntut ilmu wajib bagi setiap muslim laki-laki dan perempuan”

  5. 5 kikie Januari 27, 2007 pukul 2:28 pm

    kalau di tempat saya mah dosennya malah jarang ada yang nggak pernah masuk …
    banyak dari mereka (terutama yang kuperhatikan, dosen2 yang ngajar matakuliah yang ada hubungannya dengan zoologi –soalnya aku emang lebih fokus ke situ–) yang membuka banyak wawasan baru kepada kami.
    di biologi sih begitu, tapi di tempat lain sepertinya beda-beda ya ..

    tapi kalo masalah KRSan sama daftar ulang mah emang dari awal-awal bikin bingung🙂 ini lagi, disuruh KRS online sekaligus KRS manual. mau login portal akademik, password suruh reset terus. bolak balik ke ruang akademik di kampus deh🙂 capede.

  6. 6 joesatch Januari 27, 2007 pukul 4:55 pm

    passya:::
    ah, tidak. saya nggak sampe segitunya mbela2in selera pasar kok, mas😛 walopun kemarin sempat bungah juga, hehehehe.
    PriyayiSae:::
    Betul, oom.
    kikie:::
    enaknya kalo dosen di kampusku se-user friendly dosen di kampusmu, kie

  7. 7 azwin bajingan 2005 Januari 27, 2007 pukul 7:58 pm

    UGN tu dapet pacar…

    walopun cuma 2 minggu

    hahaaaa

    paling ngga ga ada aparat…

  8. 8 anung Januari 27, 2007 pukul 9:38 pm

    ::azwin
    dapet pacar??
    maksud lo??
    gak juga, sekarang klo hotspotan lebih dari jam 10 pasti diusir skk,,,hiks

  9. 9 arul Januari 27, 2007 pukul 11:09 pm

    dosen sengaja paling gak masuk buat ngelatih elu buat belajar mandiri gitu…
    kita sekarang bukan anak SD, SMP, SMU yang masih tiap hari disuapi..
    bedanya mahasiswa dg siswa kan gitu…

  10. 10 joesatch Januari 28, 2007 pukul 12:46 am

    azwin bajingan 2005:::
    itu anda, mas. jgn samakan dengan casanova selevel saya😛
    anung:::
    tragedi rekmed 2006, maksudnya, nung😀
    arul:::
    oh gitu…terus apa gunanya aku bayar tiap semester? aku toh bisa belajar php cukup di rumah. nggak perlu harus masuk ugm, kan?
    apa mengajari mahasiswa untuk mandiri artinya boleh lebih memilih proyek daripada kewajiban utamanya sebagai dosen, yaitu mengajar? apa ngajarin mandiri harus selama hampir 1 semester? ini ugm, mas…bukan its😛 hehehe! no offence-lah

  11. 11 Tony Januari 28, 2007 pukul 12:49 am

    keep fighting man…..

  12. 12 joesatch Januari 28, 2007 pukul 1:12 am

    thx buat supportnya, mas tony

  13. 13 m00nray Januari 28, 2007 pukul 7:41 am

    Hehehehe, memang banyak ilmu yang kita dapatkan bukan dari kuliah, tapi dari otodidak, lha wong kuliah yang judulnya LAN dalam Praktek aja gak ada prakteknya, gimana coba??
    Ya memang sih, dasar algoritma itu aku belajar sejak di kampus, php, delphi, VB, belajar dari buku ato tanya pakde Gugel.Atau mungkin kita sebagai S1 memang cuma dipancing pake kail, suruh nyanthol ke di mulut ya??

  14. 14 pramur Januari 28, 2007 pukul 1:44 pm

    Numpang nimbrung nih Mas… ™
    Gimana kalo kita minta balikin duit aja, terus DO secara kompak? Ga mau kan? Hehehe…

  15. 15 pramur Januari 28, 2007 pukul 1:52 pm

    Numpang nimbrung nih Mas… ™
    Eh, eh, eh Mas! Mbok nama aseli saya tolong jangan dipublish sembarangan Mas.. Kalo ketahuan Intelijen, saya bisa-bisa mati konyol sbelum bisa merasakan kejam dan indahnya dunia!

  16. 16 krisosa Januari 28, 2007 pukul 2:52 pm

    yang ada, di ugm, cuma dapetin birokrasi njlimet, dosen2 sok pinter, gedung-gedung jadi situs “purbakala” (khusus MIPA lho), n mahasiswa yoo kayak kamu itu joe, pada pisuh2 ugm melulu. :p

  17. 18 Nur Aini Rakhmawati Januari 28, 2007 pukul 9:32 pm

    Dosen juga manusia, bukan manusia super
    Tidak semua hal dan ilmu dikuasainya
    Banyak hal justru kita pelajari dari luar

    Sayapun juga tidak setuju jika dosen terlalu sibuk sehingga absen mengajar mahasiswa
    Apalagi kebanyakan mroyek disana sini

    Namun tidak bisa dipungkiri gaji dosen sangatlah kecil, bener2 pengabdian yang luar biasa.
    Bahkan tidak bisa dipungkiri, seseorang menjadi dosen sebagai pilihan terakhirnya.
    Sama seperti guru.

    #SeorangDosenYangMasihBelajarMenjadiDosen
    #SeorangDosenYangPernahPingsanKarenaTidakKuatBeliMakan
    #SeorangYangMenjadikanDosenSbgPilihanPertamanya

  18. 19 de King Januari 29, 2007 pukul 2:40 am

    Joe…proyek yo penting jé, dhuwité luwih akéh kok…
    Lha piyé iso tuku mobil nék mung ngandhalké gaji dosen…
    Aku yo dosen kok…DOdolan SENdok alias salesman hehehe
    Kowé duwé proyek ra joe? Aku bosen mung dodolan sendok…ora sugih2 jé…

  19. 20 joesatch Januari 29, 2007 pukul 3:08 pm

    pramur:::
    ndak mau. nanggung. tinggal saksemester!😛
    Anang:::
    jawaban yang sama seperti untuk pramur, hehehe!
    Nur Aini Rakhmawati:::
    semoga Mbak Ai bisa jadi dosen yang menginspirasi mahasiswanya. setuju?🙂
    de King:::
    proyek? akeh banget! tapi nggak sampai menelantarkan “mahasiswa” saya, kok

  20. 21 devie Januari 29, 2007 pukul 6:26 pm

    di tempatku, dosennya sampai mbela mbelain nyariin dosen pengganti kalo dia ndak bisa dateng. tapi sayngnya saya yang malah sering bolos. (dasar cah nakal!)

    **isunya sih, si dosen bakal “digarap” ma orang yayasan kalo ketahuan bolos ngajar**

  21. 22 Khabib Januari 29, 2007 pukul 9:31 pm

    Saya setuju-setuju saja dengan sikap anda yang menjadi “kurang” merasakan mendapatkan ilmu dari kampus dan lebih melihat bahwa komunitas memberikan ilmu lebih. Mungkin karena suasana kampus berbeda dengan suasana “ngobrol” dengan komunitas non formal. Mungkin juga yang anda inginkan berbeda dgn yang dosen berikan, tapi juga mungkin bahwa anda memang telah mengerti materi sehingga terasa praktis tidak mendapatkan ilmu.

    Bila tulisan anda 100% benar, saya simpati dengan anda dan para mahasiswa kalo sampai ada perilaku dosen yang sedemikian “nyentrik”: menyobek karya di depan mahasiswa, meremas kertas praktikum, dan lbh sibuk dgn proyeknya shg satu semester hanya ketemu 1-2 kali. Bagaimanakah pendapat teman-teman lain?

    Mungkin pernah ada (berdasar tulisan anda) yang seperti itu, tapi rasanya terlalu cepat kalau kemudian menggeneralisir sebagian contoh utk menghakimi UGM. Harapan saya jangan sampai kesan yang kurang baik pada seorang (dosen) memicu tidak sukaan pada kampusnya, atau sebaliknya.

    Semoga suatu saat saya bisa ketemu penulis blog ini untuk berbagi apa yang harus saya lakukan jika saya diberi kesempatan menjadi dosen di FMIPA UGM.

  22. 23 DilLa Januari 29, 2007 pukul 10:53 pm

    Huah, pak dosennya muntjul!

  23. 24 angga Januari 30, 2007 pukul 9:24 am

    Saya setuju dengan pendapat saudara Joe. Tapi apa tidak pernah terpikir jika pihak UGM ternyata memang punya konspirasi sengaja membiarkan kita mencari ilmu dengan cara begitu? :-p

    ::(Pak) Khabib:
    Memang begitulah adanya, Pak. (saya sendiri adalah teman dari korban yang tidak dapat disebutkan namanya itu)

  24. 25 joesatch Januari 30, 2007 pukul 11:57 am

    devie:::
    harusnya sih memang nyari dosen pengganti. perkara kitanya mau bolos atau nggak, itu urusan kita. resiko ditanggung sendiri. lagian, kitanya kan udah bayar😛
    Khabib:::
    Tentu saja maksud generalisasi dari saya di sini hanyalah sebatas majas, permainan kata-kata untuk menambah kesan “wah” dalam tulisan saya, Pak – seperti yang diajarkan dalam pelajaran bhs indo jaman esempe dulu🙂
    Tapi memang, ada beberapa oknum dosen yang “nyentrik” seperti istilah yang Bapak ucapkan. Yang setelah diusut lebih lanjut, kelakuan nyentriknya bukan cuma kepada mahasiswa. “Wong sama dosen aja juga gitu, apalagi sama kamu,” ujar salah seorang dosen lain yang “masih bisa” diajak share oleh mahasiswanya.
    Sebenarnya banyak keluhan lain lagi yang pengen saya ungkapkan kepada Bapak. Mungkin nanti kalau Bapak berkenan bisa saya kirimkan lewat imel saja.
    BTW, kita sebenarnya sudah lumayan sering bertemu dalam kesempatan formal ataupun non-formal, pak. di kelas ataupun saat saya main ke jakal atas. tapi memang masa itu sudah terlalu lama untuk diingat😛
    Oh ya, mohon maaf kalau saya tidak akan pernah mendoakan Bapak mendapat kesempatan (lagi) menjadi dosen di FMIPA UGM. Sebagai gantinya, saya doakan sepulangnya Bapak besok, Bapak bisa menjadi dosen di Fasilkom UGM🙂 Bagaimana? Setuju, Pak?😀
    DilLa:::
    Mungkin kata2 “Huah, pak dosennya muntjul!” lebih tepat diganti jadi “Huah, suamiku muntjul!”
    Iya nggak, Mbak? Kekekekeke!😛
    angga:::
    konspirasi yang nggak sehat, ber! penugasan berkelompok seperti yang terjadi selama ini ternyata malah menyebabkan beberapa mahasiswa malas terlalu bergantung saat penggarapan pada mahasiswa pinter seperti anda, bram, ataupun saya, kekekekeke! Hasilnya? Yang pinter semakin pinter, yang malas jadi sulit berkembang😛

  25. 26 anung Januari 31, 2007 pukul 10:29 am

    nek debat karo dosennya ngundang yo bang??
    tak delok,,,itung2 latian pendadaran,,,huekekekekek

    Tapi MIPA emang gak teratur kok..ruwet..
    saya setuju dengan doa bung joe,,,
    FAKULTAS,,,bukan prodi,,

  26. 27 diditjogja Januari 31, 2007 pukul 4:35 pm

    asem!! ternytata yang ada di benak mahasiswa UGM seperti itu?! Takkiro aku dewe….😀

  27. 28 Sofyan Efendi Januari 31, 2007 pukul 5:52 pm

    ho..

    Fakultas MIPA patut DIBUBARKAN!!!

  28. 29 rahasia Januari 31, 2007 pukul 8:27 pm

    SETUJU PAK REKTOR!!!
    huahahahaha

  29. 30 the hobbit Januari 31, 2007 pukul 10:56 pm

    …. saya sekelas lho pak sama temen saya yg laporannya disobek…trus saya juga iajar (bukan dibimbing) sama dosen yg ngajar 4 kali satu semester…trus tiba2 nongol pake panther baru (tapi bekas)…dulu aja waktu dosen itu kosong…saya trus nyari ruang buat seminar di PPTIK…eh…ketemu sama si dosen…sumpah lhoo pak !!! demi mantan saya yg cuma 2 minggu !!!

  30. 31 the hobbit Januari 31, 2007 pukul 10:57 pm

    nah kaya gini pak kalo mahasiswa ilkom seperti saya ga bisa pake xHTML…maunya sih quote pernyataan pak habib…tapi gagal😀 … kasian deh gw !!!

  31. 32 septoadhi Januari 31, 2007 pukul 10:59 pm

    Bila tulisan anda 100% benar, saya simpati dengan anda dan para mahasiswa kalo sampai ada perilaku dosen yang sedemikian “nyentrik”: menyobek karya di depan mahasiswa, meremas kertas praktikum, dan lbh sibuk dgn proyeknya shg satu semester hanya ketemu 1-2 kali. Bagaimanakah pendapat teman-teman lain?

  32. 33 septoadhi Januari 31, 2007 pukul 11:02 pm

    HOREEEEEE……..!!!!!!!! alhamdulillah berhasil win!! ternyata caranya gitu, kasian deh elo😀 kapan kita kuliah kayak gini?? langsung praktek, jadi tau salah nya dimana, andai saja…. btw kuliah nya gak 1-2 kali satu semester, tapi 4-5 kali kok!! sumpah!!! demi cinta saya yang gak kesampaian hiks…

  33. 34 septoadhi Januari 31, 2007 pukul 11:05 pm

    HOREEEEEE……..!!!!!!!! alhamdulillah berhasil win!! ternyata caranya gitu, kasian deh elo😀 kapan kita kuliah kayak gini?? langsung praktek, jadi tau salah nya dimana, andai saja…. btw kuliah nya gak 1-2 kali satu semester, tapi 4-5 kali kok!! sumpah!!! demi cinta saya yang gak kesampaian hiks…:p

  34. 35 the hobbit Januari 31, 2007 pukul 11:11 pm

    Bila tulisan anda 100% benar, saya simpati dengan anda dan para mahasiswa kalo sampai ada perilaku dosen yang sedemikian “nyentrik”: menyobek karya di depan mahasiswa, meremas kertas praktikum, dan lbh sibuk dgn proyeknya shg satu semester hanya ketemu 1-2 kali. Bagaimanakah pendapat teman-teman lain?

    ini yang bener…hehehhe…coba coba berhadiah…back to topic…saya sekelas lho pak sama temen saya yg laporannya disobek…trus saya juga iajar (bukan dibimbing) sama dosen yg ngajar 4 kali satu semester…trus tiba2 nongol pake panther baru (tapi bekas)…dulu aja waktu dosen itu kosong…saya trus nyari ruang buat seminar di PPTIK…eh…ketemu sama si dosen…sumpah lhoo pak !!! demi mantan saya yg cuma 2 minggu !!! btw…saya bisa nge link ke frenster saya lhooo….

  35. 36 the hobbit Januari 31, 2007 pukul 11:12 pm

    septo ga jantan…pake nyoba2 post…tetep aja gagal…mbok kaya saya…trial and error..asal jangan kaya temen saya…trial and disobek laporannya

  36. 37 civitas himakom 'UNY' Februari 1, 2007 pukul 5:40 am

    oalah…ternyata sebegitu hinanya ya UGM…ck,ck,ck…koq membuat saya tertarik untuk kuliah di situ ya…sepertinya banyak dosen yang wajib untuk di ‘klithiq’ di tengan perjalanan dia pulang(bahasa orang yang sering tawur,mesthi ngerti)di UGM…he3…kalo di tempat saya kuliah sih aman2 ja tu keadaannya…solusinya satu untuk menghadapai dosen kayak gitu…cegat tengah dalan, tapuki lambene…tapi jgn sendiri,bareng2…satu kampus klo bisa…soale nek konangan or ktahuan…biar yg di DO banyak….ha3…tapi,BTW, klo ntar solusi saya di pakai, jangan lupa hubungi saya yo…saya tak ikutan…ho3

  37. 38 aphip_uhuy Februari 1, 2007 pukul 6:12 am

    Bila tulisan anda 100% benar, saya simpati dengan anda dan para mahasiswa kalo sampai ada perilaku dosen yang sedemikian “nyentrik”: menyobek karya di depan mahasiswa, meremas kertas praktikum, dan lbh sibuk dgn proyeknya shg satu semester hanya ketemu 1-2 kali. Bagaimanakah pendapat teman-teman lain?

    wah tu fakta om…saya sendiri qorbannya…berkali-kali minta penjelasan dari sang oknum dosen tentang sesuatu yg berhubungan kuliah saya…tapi jawabannya selalu : “ya itu salah anda..” ; ” itu urusan anda…” ….piye jal kalo begitu….

    btw saya mungkin klo dah emosi banget saya akan penuhi solusi dari mas ‘civitas himakom UNY’…tunggu khabar dari saya bung…

  38. 39 aphip_uhuy Februari 1, 2007 pukul 6:20 am

    wo ya tambahan tentang FASILKOM…ternyata namanya bukan FASILKOM..tapi FARIDA alias FAkultas oRa sIda-siDA….hi3….sapa stubuh..eah stujuh?….

  39. 40 anung Februari 1, 2007 pukul 8:24 am

    FARIDA? mantanmu yang mana phip??
    huekekekek..

  40. 41 aphip_uhuy Februari 1, 2007 pukul 8:40 am

    jon…jon…rasah mbok elek2…UGM qi wis bosok…hi3…kowe nulis iqi goro2 kowe ra lulus tho…ho3….pisss dab…pokoke aq lulus disik yo…hi3

  41. 42 joesatch Februari 3, 2007 pukul 8:36 am

    ealah….
    adik2ku do bosok kabeh!😛

  42. 43 wib Februari 6, 2007 pukul 12:22 pm

    tau nggak, kalo mata burung unta lebih besar daripada otaknya….

  43. 44 Kang Kombor Februari 6, 2007 pukul 5:04 pm

    Walopun bukan civitas akademika UGM tetapi dosen mroyek itu aku setuju. Sepertinya semua dosen di sana kerjanya hanya mroyek. Nggak dari teknik, nggak dari ekonomi, soal proyek kayaknya UGM kampiun deh.

  44. 45 ORNez Joe Februari 11, 2007 pukul 1:22 am

    Salam buat pak asmadi dan pak amri, ia dosen pembimbing skripsiku. aku kuliah diPTS semarang.
    titip pesen buat mereka: Pak saya minta di acc skripsi saya. biar cepet lulus bulan ini.

  45. 46 Roel Februari 27, 2007 pukul 4:52 pm

    Dari dulu saya sering dengar alasan kenapa PNS pada korupsi dana atau waktu: “habis gajinya kecil sih”
    Jawaban konyol sekali, yang tidak pantas keluar dari mulut seorang dosen yg konon pintar.
    Sudah jelas: Kalau gajinya kecil dan merasa gak cukup, ya pindah dong. Kita yang di swasta kebanyakan begitu, tidak berarti kalau kerjaan berat gajinya pasti besar. Belum lagi resiko PHK selalu menghantui, tidak seperti PNS. Dan solusi yg sering diambil: ya pindah ke perusahaan yg lebih bagus.. Atau kalau sudah berumur ya cari peluang bisnis untuk wirausaha…

  46. 47 Catra Agustus 23, 2008 pukul 8:40 am

    hidup UGM

    :dari orang yang gak lulus UM UGM

  47. 48 Prast Januari 27, 2009 pukul 9:35 pm

    Di Indonesia yg namanya dosen tu ya org Goblok. Klo ga goblok mna da org yg yg mau jd dosen, jadi dosen tu kn gajinya kecil. Kalo emank pinter, pasti mreka dah pada kerja d Luar negri, gak mungkin jd dosen. Kalo bLh ngomong jujur, Buat pa sekolah tinggi-tinggi kalo ujung-ujungnya cuma jadi PNS atau dosen, yang gajinya ga jauh beda sama pedagang yg cuma Lulusan SD.

  48. 49 Prast Januari 27, 2009 pukul 9:38 pm

    itulah bukti kalo indonesia ini d asuh dosen2 goblok, yg akhirnya indonesia ga prnah maju sampe skrng

  49. 50 Maleo April 20, 2009 pukul 6:29 pm

    memang saat kuliah biasanya kita diberi ilmu dasar oleh dosen, selain tempat sebagai mengasah kemampuan untuk dapat berpikir cerdas dan kritis tentunya dengan berinteraksi dengan berbagai bentuk karakter dan kehidupan manusia sembari belajar dalam menyikapi semua hal tersebut.

    tapi untuk ilmu penerapan atau yg langsung diaplikasikan contohnya pemrograman dan sejenisnya saya percaya praktis kita dituntut untuk mempelajari sendiri baik basic dan pemecahan masalahnya.

    sayang sekali, dari usaha kita untuk memulai sesuatu, dari usaha kita mempelajari sesuatu, dan dari keseluruhan proses panjang A-Z yang kita buat umumnya dosen hanya melihat hasil akhirnya saja bahkan pengalaman saya menemui mereka membandingkan secara mutlak hasil karya mahasiswa picisan dengan sekumpulan insinyur2 yg udah punya nama, pikir mereka minimal kemampuan harus sama atau lebih baik dari engineer2. Teganya kalian….

    mudah bagi mereka memecahkan cermin harapan saya dalam sekejap, meski cermin itu dibangun lama dari kepinganan2 harapan dalam diri, harapan orang tua nun jauh disana bercampur jelas air mata, darah dan keringat.

    halo joe…, mungkin kita harus siap sebagai mahasiswa disitu untuk selalu berjiwa besar, agar hati siap untuk kembali disayat-sayat.

    ok teruskan perjuanganmu bro, saya dah mau lepas dari ugm mei besok meski hati masih menyimpan duri karena mereka…..

  50. 51 cheat codes for subway surfers Februari 5, 2014 pukul 3:33 pm

    Wi-Fi (most likely will be exactly the same as the Ouya , but with no
    ethernet port). The Android developers can customize the multimedia applications according to the
    requirement of users. Since the launch of Nexus
    one, we thought Google will not be able to catch the market in the pace we thought.


  1. 1 berbagai nama kampus gw « sora-kun.weblog() Lacak balik pada Januari 31, 2007 pukul 12:17 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,032,449 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia