Foolish Beat

Sepanjang karirku sebagai mahasiswa, inilah ujian akhir terburuk.

Kemarin malam, berhubung besoknya ujian akhir mata kuliah multimedia, aku memutuskan belajar bareng di kosnya Adit, temenku. Setelah diwanti-wanti bawa panganan, sebelum nyampe di kos Adit, aku beli martabak sama terang bulan dulu.

Sampai di kosnya Adit, ternyata anak-anak malah pada nyantai-nyantai. Bahannya sudah komplit, dan berhubung ujiannya open-book, jadi aku sendiri juga memutuskan lebih baik membaca koleksi majalah Wizard-nya Adit. Setelah bahannya kusalin, akupun pulang dengan hati tenang. Malam itu aku tidur nyenyak sekali, tanpa beban apapun, soale aku yakin multimedia sudah kukuasai (karena aku selalu belajar dan mengamati tingkah laku pakar multimedia kita, Mas Roy Suryo. Hidup Mas Roy!), lagian ujiannya juga open-book ini.

Tapi celaka! Paginya aku bangun jam 07.32! Sumpah, wekernya nggak kedengeran. Aku telat! Ujian mulai jam 07.30. Cuma cuci muka, pake deodorant, dan ganti baju sekedarnya aku nyetater Alfa II-R-ku kemudian ngebut ke kampus.

Sampai di dekat fakultas teknik aku nyadar, ternyata aku cuma pakai sandal. Jancuk, batinku. Udahlah, bisa pinjem sepatu mampir ke kosnya Faiz dulu. Maka akupun membelok ke kosnya Faiz dulu yang di belakang kampus MIPA selatan tercinta, ngembat sepatu kanvasnya tanpa kaos kaki, dan ngacir buru-buru lagi ke kampus.

Kecelakaan berlanjut! Jangkrik, aku nggak tau ruangannya di mana (for your information, jadwal ujiannya berubah. Jadinya sudah berbeda dengan jadwal awal yang kucatat sebelum ujian). Aku miskol si Komeng yang kemudian muncul dari dalam kelas dan melambaikan tangannya ke aku. Fiuh, sedikit selamat meskipun telat hampir setengah jam…

Kemudian aku sodorkan kartu ujianku ke mbak pengawasnya dan bertanya tempat dudukku di mana. “Di selatan situ, Mas,” katanya. Aku langsung bergerak mencari nomor ujianku di deretan bangku bagian selatan diiringi tatapan kagum anak-anak sekelas sambil tersenyum menyaksikan tampang lusuhku.

Ternyata nomorku nggak ada. Aku balik ke mbaknya. “Nomere ra ono e, Mbak,” kataku.

“Oh, sebentar. Ta’ceknya dulu ke ruangan sebelah,” kata si mbak sambil meninggalkan aku di depan papan tulis dengan jangka waktu yang lumayan lama untuk membuatku kelihatan seperti anak SD yang lagi disetrap di depan kelas.

Dan akhirnya nomorku memang ada di kelas sebelah. Akupun ngeloyor ke situ. Sebelum masuk, pengawas yang di ruangan sebelah ngomong, “Tunggu dulu ya, Mas. Soalnya kurang. Ini masih difotokopi di bawah.” Elhadalah, sudah membuang waktu percuma selama setengah jam sekarang aku masih disuruh nunggu soalnya lagi. Bisa-bisa waktuku bener-bener habis ini.

Aku duduk menunggu soal. Tumitku rasanya perih banget. Kucek dan ternyata sepatunya Faiz kesempitan sampai membuat tumitku berdarah. Akupun memutuskan kulepas aja sepatunya.

10 menit lewat, soalnya baru datang. Senyum-senyum yakin bisa nggarapnya. Lha iya, wong bahan ujianku kan setebel 2 sentimeter. Maka kemudian aku mulai rogoh-rogoh tas.

TEMpe kriPIK!!! Bahan-bahanku nggak kubawa. Ketinggalan di rumah. Aku mulai misuh-misuh dalam hati, priben pan nggarap soale kie? Dari 5 nomor yang diajukan, aku cuma bisa menerawang 2 nomor. Sisanya? Ah, semoga beruntung, Satrianto.

Tengok kiri-kanan-depan-belakang ternyata penjagaan agak kendor. Biasalah, fenomena ujian open-book. Tapi di sekelilingku nggak ada yang meyakinkan. Mau nanya ke serong kiri depan rasanya nggak enak. Anak jurusan lain, aku nggak kenal karakternya, meskipun aku yakin dia tau siapa aku (Joe Satrianto, gitu lokh…kekeke!). Maka kebengongan pun mulai menyergapku dengan ganas.

Untunglah aku tersadar. Aku masih dibekali BenQ-Siemens yang disupport total oleh XL extra. Kira-kira siapa ya makhluk di kelas ini yang juga pake XL, aku mulai bertanya-tanya dan mengedarkan pandanganku ke sekeliling kelas. Pandanganku akhirnya mentok ke Gogon yang beroperasi jauh di sayap kiri. Lumayanlah, lewat sebuah crossing datar ke tengah, akhirnya aku dapat jawaban nomor 3.

Tiba saatnya tanda tangan absensi. Astaga, kartu ujianku belum dikembaliin sama si mbak pengawas dari ruangan sebelah. Maka setelah ijin pengawas di kelasku, aku ngacir ke sebelah. Kembali anak-anak di situ heran melihatku mondar-mandir. Beberapa malah ada yang menyangkaku masih ngelindur.

Kemudian, setelah tanda tangan absensi, aku kembali searching jawaban. Jawaban nomor 4 aku dapat dari Nanas, yang duduk di depanku. Sebenernya aku sudah berpikir itu juga jawabannya. Cuma sekedar meyakinkan dan mencocokkan, maka bertanyalah aku ke Nanas.

Dan akhirnya, selang beberapa saat kemudian, kekhawatiranku terbukti. Waktunya habis, dan pengawas-pengawas ujian itu mulai menagihi lembar jawaban kami. Dengan tampang pasrah dan mulut bergerak-gerak misuh, akhirnya kukumpulkan lembar jawabanku tanpa sempat mengerjakan nomor 5 barang sehuruf pun.

Di luar kelas, anak-anak mulai bertanya tentang tingkah-lakuku hari ini…

23 Responses to “Foolish Beat”


  1. 1 ABe Januari 17, 2007 pukul 11:12 am

    Huahahahaha…modar kowe!!! Rasakno angele arep lulus!!!
    Mangakne..le sinau sing bener nggih..rasah kokean dolan..opo meneh nge-blog :))

  2. 2 ABe Januari 17, 2007 pukul 11:14 am

    ralat..mangakne=mangkane :p

  3. 3 joesatch Januari 17, 2007 pukul 11:23 am

    ini kecelakaan. sungguh sesuatu yang di luar grand-plot saya, hehehe!

  4. 4 Amd Januari 17, 2007 pukul 1:30 pm

    Kayaknya kualat sama seseorang deh kamu ini.

  5. 5 aRdho Januari 17, 2007 pukul 6:43 pm

    ahahahahaha.. shit happens.. :p

  6. 6 winerwin Januari 17, 2007 pukul 9:33 pm

    wah ini pasti karena hari sebelumnya anda merasa terlalu yakin dengan mempelajari dalil-dalil roy suryo.

    tumit nya sampai berdarah? masa bisa separah itu? isinya ada jarum?

  7. 7 joesatch Januari 18, 2007 pukul 10:33 am

    Amd:::
    Guess who?😛
    aRdho:::
    sering kejadian kayak gitu tho? aku baru sekali itu lho, hehehe
    winerwin:::
    Oom Roy kick ass! karena dia saya jadi kelihatan lebih pinter dari seorang pakar, kakaka.
    sepatu kanvas, kekecilan…pas lari sambil terburu-buru nggak kerasa saking paniknya. begitu duduk di kelas baru nyadar kalo ternyata frekuensi gesekan tumitku dengan kanvasnya bisa sampe bikin berdarah

  8. 8 wida Januari 18, 2007 pukul 11:02 am

    kayaknya emang bener deh hari itu joe masih ngelindur…. ;p

  9. 9 anung Januari 18, 2007 pukul 11:44 am

    guo,,,blog,,,,
    makane ojo ngremehke

  10. 10 manusiasuper Januari 18, 2007 pukul 2:55 pm

    Nyontek itu awal korupsi joe…

  11. 11 joesatch Januari 18, 2007 pukul 4:58 pm

    wida:::
    tidak! tidak! aku sadar sepenuhnya, kok😀

    anung:::
    wew…saya tidak meremehkan. persiapan sudah beres. hanya ada missing-link pada saat finishing

    manusiasuper:::
    daging babipun kalo dalam keadaan kepepet bisa jadi halal, kok😛

  12. 12 Arif Kurniawan Januari 18, 2007 pukul 5:18 pm

    “Di luar kelas, anak-anak mulai bertanya tentang tingkah-lakuku hari ini…”

    Apa kata mereka Joe?

  13. 13 joesatch Januari 18, 2007 pukul 6:03 pm

    kowe kie ngopo wae e joe, kok iso telat? mesti mbokep tekan esuk tho?
    *terjemahan: kamu ini ngapain aja joe, kok bisa telat? pasti mbokep sampe pagi kan?

  14. 14 dew Januari 18, 2007 pukul 8:08 pm

    Wuehehe.. Kapan meh luluse kie??

    Ya maap, i don’t think i can make another blog aside from what i have thru frenster!! MAAP sekali lagi MAAP..

    Thanks for visiting my blog anyway.. itu cm iseng2 berhadiah klo lagi bunek ngerjain kerjaan kantor kok!!

  15. 15 dew Januari 18, 2007 pukul 8:11 pm

    lupa kasi link ke blog ku hehehe…

  16. 17 joesatch Januari 18, 2007 pukul 9:26 pm

    wakakaka…pemandu favoritku sempat-sempatnya nengokin ke sini juga😛
    yo wis…yo wis…ta’gawe link’e
    mbok jgn ngomongin masalah lulus, skripsi, atau te-a sama aku, mbak. sensitip!

  17. 18 m00nray Januari 19, 2007 pukul 10:08 am

    aku juga pernah tuh kejadian. ujian akhir sistem digital yang kalo ikut yakin dapet A. malah keliwat, ujian jam 7, aku nyadar jam 9.
    pernah juga, sadar lagi ujian, belajar beres, tinggal persiapan ikut ujian. mosok baru nyadar kalo belum ambil kartu ujian di pendidikan. padahal siang nya ujian. ngalamat bikin surat pernyataan ni itu dulu.

  18. 19 senja Januari 19, 2007 pukul 11:40 am

    wakakakaka……………………olalah sial tenan yo…

  19. 20 anung Januari 19, 2007 pukul 11:24 pm

    hehehe,,,moga2 aku tidak seperti kakak2 diatas,,,
    amiiiin

  20. 21 fourtynine Februari 25, 2007 pukul 10:20 pm

    lantas dapet nilai apa ?

  21. 22 joesatch Februari 26, 2007 pukul 11:35 am

    nilainya NDAK KELUAR!!! bajindal. aku dah ngurus kiri-kanan, sampe skrg belum keluar juga. MIPA sucks!😦

  22. 23 lambrtz Februari 26, 2007 pukul 1:44 pm

    hahahahah
    kuacian deh…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,032,449 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

Januari 2007
S S R K J S M
« Des   Feb »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia