Kebohongan Media Massa

Pernah nonton sinetron-sinetron Indonesia, kan? Kalo baca novel suka nggak? Mulai dari teenlit atau chicklit yang ceritanya enteng banget sampai yang ceritanya sedikit berat? Dan seperti halnya karangan-karangan jenis lainnya, ceritanya ya dibikin ngarang banget. Kuanggap nggak sesuai dengan realita yang terjadi di kehidupanku (entah dengan kehidupan orang lain).

Yang temanya cinta, biasanya selalu menempatkan perempuan sebagai korban cinta dari laki-laki. Disakiti, dikhianati, dizolimi, sampai-sampai kita yang denger atau nonton ceritanya ikut-ikutan simpati pada nasib si tokoh fiktif dan mengutuk perbuatan si cowok yang juga fiktif itu. Mungkin pengarang-pengarangnya masih terjebak pada stereotipe wanita itu makhluk lemah yang gampang menitikkan air mata. Jarang yang nulis cerita di mana cowok adalah korbannya.

Kemarin malam aku didatangi 2 makhluk yang kebetulan adik kelasku di kampus. Curhat. Mungkin mereka kemakan mitos tentang gelarku yang PhdMScc (paling handal dalam masalah soal cowok-cewek). Padahal itu cuma mitos yang beredar di kampus. Sumpah!

Berhubung cuacanya dingin selepas hujan, kami memutuskan pergi ke warung burjo. Sambil mburjo, nyedot Dji Sam Soe, dan nyeruput esteemje anget rasa cokelat, mulailah aku mendengarkan cerita mereka dengan seksama. Inti ceritanya apalagi kalo bukan ketidak-setiaan pihak wanita. Cerita yang sudah seringkali kudengar. Sampai aku jengah sendiri. Bosen.

Iya lho, aku bosen denger cerita tentang ketidak-setiaan dari pihak cewek. Dalam realita hidupku, aku cuma pernah sekali aja denger cerita dari temen cewek kalo dia dikhianati pacarnya. Selebihnya, cerita yang kudengar selalu saja yang cowok yang jadi korban, seperti ceritanya Brama atau malah ceritaku sendiri.

Modus operandinya biasanya juga sama. Yang cewek setelah berkali-kali jalan sama yang cowok, pada suatu saat akhirnya ngaku kalo dia sebenernya sudah dijodohkan. Jelas aja yang cowok langsung mak klakep di tempat begitu disodori fakta yang demikian. Selanjutnya, sambil memasang tampang mellow, si cewek melanjutkan pengakuannya sambil meyakinkan kalo dia berada di posisi yang sangat lemah untuk menolak dan lagi-lagi meyakinkan kalo sebenernya hatinya lebih nyaman sama si cowok. Hanya saja, klise, tidak sanggup melawan sebuah kasunyatan urip.

Dan, teman-temanku adalah laki-laki. Bahkan sangat laki-laki, malah. Jelas mereka tidak akan meraung-raung histeris menyuarakan kepedihan hatinya di depan yang cewek, menangis memohon-mohon supaya yang cewek tetap berada di sampingnya. Kami ini laki-laki, pembaca. Kami diajarkan sejak kecil bahwa laki-laki itu pantang menangis, apalagi menangis di hadapan wanita.

Brengseknya, mereka-mereka itu (sok) nggak paham kalo laki-laki juga bisa terluka. Dengan entengnya, besoknya ketika mereka berdua bertemu, si cewek masih saja bertingkah seolah-olah memberikan harapan pada si cowok. Hal yang kayak gitu padahal cuma bikin yang cowok hatinya makin teriris-iris. Hei, kami ini laki-laki, Mbak! Tidak kelihatan terluka bukan berarti kami tidak terluka.

Suatu ketika, aku pernah dinner bareng seorang teman cewek. Dia cerita, habis sedikit bermain api dengan seorang cowok padahal dia sudah punya calon pendamping hidup. Usahanya sukses! Cowok yang dipermainkan itu jadi betul-betul jatuh cinta sama dia. Dan sekarang dia ngaku bingung ke aku, bertanya sebaiknya harus bersikap bagaimana. Hebat banget, ya?

Astaganya, cewek-cewek yang seperti itu (dalam kasusku) biasanya sehari-hari malah menggunakan simbol keagamaan dalam berpakaian. Wajar, sih, ini Jokja. Beragama atau nggak, nggak bisa kita lihat secara kasat mata.

Kalo sudah seperti itu, kami, para cowok, biasanya cuma bisa mencoba menarik kesimpulan yang sedikit ngayem-ngayemke ati. “Menang rupo, kalah bondo. Ternyata modal ngganteng aja nggak cukup. Lha piye, saingannya sama orang yang sudah punya penghasilan mapan, jeeee…”

Kampret tenan, tho? Mbok ya pada tobat, Mbak. Jangan sampai gara-gara ulah segelintir oknum cewek, seorang cowok bakal melewati sebuah titik yang juga pernah kulewati meski akhirnya aku bisa kembali.

Aku pernah melewati titik di mana aku sudah luweh-luwehan sama cewek. Sembarang cewek, asal kelihatan sedikit melek, langsung kugoda, kugombalin. Nggak peduli apa nantinya cewek-cewek itu ada yang benar-benar nyimpen perasaan sama aku. Nggak peduli juga apa cewek itu sudah punya pasangan atau belum. Kalo punya ya kubikin putus. Pokoknya aku nothing to lose, mainin cewek sampai puas. Dalam anggapanku waktu itu, semua cewek sama aja. Nantinya mereka bakal nyakitin aku. Daripada disakitin lebih dulu, mending aku duluan yang nyakitin mereka. Pola pikir yang ngaco, ya? Alhamdulillah aku sudah normal lagi. Untungnya lagi, yang cewek tidak pernah sampai kuserang dengan metode SQL injection. Selalu kubiarkan utuh sama seperti sebelum kusentuh.

Ini yang kukuatirin bakal terjadi sama teman-temanku. Jangan. Jangan sampe mereka seperti itu. Pada dasarnya aku sangat menghormati wanita. Lha ya, ibuku tercinta juga cewek soale.

Untuk itulah, aku menghimbau kepada semua pihak, pada aparat terkait, jangan suka mainin perasaan orang. Nek memang nggak niat serius, mending sama-sama sepakat dulu kalo ini cuma main-main. Jadinya enak, bisa deket-deketan dengan lawan jenis dan nantinya kalo ada apa-apa nggak ada yang merasa dirugikan, hehehe. Begitu, bisa dikopi? Ganti!

Iklan

26 Responses to “Kebohongan Media Massa”


  1. 1 wadehel Desember 28, 2006 pukul 3:13 pm

    Brik brik… loud and clear sir!

    Beberapa cewe memang memanfaatkan ‘posisinya’ yang “lemah” dan “tak berdaya” demi sebesar-besarnya kemakmuran syahwat. Kurang ajar bianget!

    Mungkin itu yang menyebabkan beberapa wanita berdemo menolak kesetaraan gender.

    Apa hubungannya coba…. 😛

  2. 2 pramur Desember 29, 2006 pukul 4:12 am

    Numpang nimbrung nih Mas…
    Wah, ternyata fenomena seperti itu juga Anda rasakan? Sang penebar benih pesona plural tanpa memperdulikan panen sepertinya sudah menjadi profesi tren. Atau para lelaki yang perasaan tidak merasanya yang sudah mulai sirna tanpa rasa? Jadi kalo liat kaum hawa yang menggetarkan bagian kecil dari hati saja sudah dianggap sedemikian mengikat?

    Atau mungkin kaum turunan “xy” alias lelanang saja yang terlampau membludakkan sikap sang turunan “xx”. Hasilnya adalah kecewa yang berluap dan tak terbantahkan. Kecuali kalo memang ummat pemilik rahim itu sudah berkata dengan jelas. Jelas kesalahan terletak pada para pemilik hormon progesteron itu.

    *makin-kesal-karena-tidak-menjadi-pencocot-pertama*

  3. 3 m00nray Desember 29, 2006 pukul 8:56 am

    “Suatu ketika, aku pernah dinner bareng seorang teman cewek. Dia cerita, habis sedikit bermain api dengan seorang cowok padahal dia sudah punya calon pendamping hidup. Usahanya sukses!”>>>>>> sik, sik ,sik kok mirip ya joe, karo kasuse si betina yang pernah aku kenalin ke kamu dulu. Inget to, cen yo bangsat tenan ki cah wedok saiki
    Rumangsae ndue bolongan ki iso menange dewe,
    Dulu aku juga sempet berpikiran dan berkelakuan gak normal kayak kamu joe, sabet sana sini, mbuh mburine. Ning untungnya sekarang sudah ada yang menyadarkanku bahwa tidak semua wanita seperti itu, ternyata masih ada mutiara di dalam lumpur. And I Have Found Her, Joe. I Hope You Will Find The Right One too.
    BTW, kalo nggak salah penyandang gelar PhdMScc itu konsultasi ke aku deh, berarti aku itu Guru Besar mu to Joe.

  4. 4 joesatch Desember 29, 2006 pukul 1:41 pm

    pengumuman, mas moonray memang mentor saya. tapi waktu kasus betinanya dulu, dia juga sempat curhat ke aku, kakakaka!

  5. 5 joesatch Desember 29, 2006 pukul 1:46 pm

    wadehel:::
    affirmative…stick together team…need backup…go go go!
    pramur:::
    mur, aku sudah lupa istilah2 biologi. jujur aja, aku memang suka pelajaran menghapal jaman esema dulu. tapi biologi, adalah pengecualian :p

  6. 6 PriyayiSae Desember 29, 2006 pukul 2:38 pm

    wanita….
    bisa jadi surga, tapi bisa juga mengakibatkan bencana.
    Lha kwe pilih sing ndi kang? :d

  7. 7 joesatch Desember 29, 2006 pukul 5:02 pm

    aku pilih sing gelem karo aku baelah, kekekeke!

  8. 8 Mbah keman Desember 29, 2006 pukul 6:21 pm

    Wanita itu itu bagaimanapun tetep lebih lemah dari dari pria…. Tak usahlah kita bica gender atau emansipasi ,..tujuan dari wanita itu kan untuk melengkapi pria…ini doktrin Agama lho..dan juga wanita sudah mempunyai kodratnya.. beranak dan menyusui..saya tidak bicara masak,nyuci dll.. kalau memang mau kesetaraan gender itu “Nyontong tok” omong kosong…

    Suruh wanita..mebuai, suruh lelali beranak, suruh wanita jangan menstruasi, suruh lelaki menyusui,,

    JANGAN TERLALU MENYELEWENGKAN HAL YANG UDAH WAJAR,

    Wanita itu sebernaya hanya untuk di mengerti sebagai wanita bukan sebagai lelaki……

    Sembah Nuwun,, Nyontong

  9. 9 joesatch Desember 29, 2006 pukul 6:59 pm

    ini bukan pada kodrat kok, mbah. lebih membahas sifat kemanusiaannya aja 🙂 lebih membahas ttg tata krama mana yang etis dan mana yang tidak etis.
    spt katanya mas moonray, apa hanya karena lebih lemah jadi boleh nyakitin perasaannya pria? huehehehe!
    lagian, saya juga nggak menggeneralisir kalo semua perempuan sama aja (seperti diriku dulu). lha wong saya cuma membahas ttg wanita2 yang mengecewakan saya dan teman2 saya, kok 😀

  10. 10 agung Desember 29, 2006 pukul 9:13 pm

    Mas joe, saya jg dah pernah ngalamin disakitin sprti itu. Dulu setahu saya yg biasa nyakitin hati itu cowok, e trnyata krna saya gak prnah nyakitin hati cewek saya bukan berarti cewek saya gak bisa nyakitin hati saya… dan yg lbh hebatnya lg cewek saya sgt ringan tangan, hmpir sekujur tubuh saya pernah merasakan “belaian lmbutnya” slama beberapa wktu… suatu saat saya gak tahan akhirnya saya mmbalas dgan “hadow-ken” dan “shooryuu-ken” dan “U win…PERFECT”…
    Intinya, saya sadar wanita bkn lawan saya, dan gak cowok gak cewek smua punya daya dan upaya dalam melakukan semua hal tidak terkecuali menyakiti orang lain…

  11. 11 joesatch Desember 29, 2006 pukul 9:44 pm

    tatsumaki senpuu kyaku-nya kok ga sekalian, mas agung? 😀

  12. 12 wida Desember 30, 2006 pukul 10:22 am

    hehehe… yupz bener bngt makanya wd milih pacaran sm cwo ketimbang ma cwe… ;p

  13. 13 wib Desember 30, 2006 pukul 12:43 pm

    sakit…, ya diobatin, gampang kok.

  14. 14 winerwin Desember 30, 2006 pukul 2:23 pm

    dari jaman dulu memang sudah dikumandangkan kalau cewek itu salah satu kelemahan terbesar cowok

  15. 15 joesatch Desember 30, 2006 pukul 11:03 pm

    wida:::
    aku tipe orang yang suka menghadang bahaya, wid. jadi aku masih suka cewek juga.
    wib:::
    doooo….yang baru jadian. ra kelingan jaman semono…tragedi atap swaragama…kakakakaka!
    winerwin:::
    iya, aku juga suka liat itu di film2, bahkan filmnya jet li 😀

  16. 16 neeya Desember 31, 2006 pukul 9:45 pm

    ada temenku cewek, ditinggal kawin sama pacarnya. Sang cowok gak bilang putus gak pamit gak apa. Malem sebelumnya aja sempet ngapel. Tapi besoknya udah ngilang dengan meninggalkan kabar pada para teman2 kalo dia mau kawin (yg pasti bukan sama temen cewek ku itu). Dan sampai skr luka itu masih blum ilang.

    Mungkin sbaiknya bagi yang pernah disakiti (cowok ataupun cewek) kalo mau balas dendam jangan ambil sampel lain. Karena sampel yg tersakiti itu juga akan meneruskannya pada sampel berikutnya. Hingga mungkin pada akhirnya antara cowok dan cewek sudah gak saling percaya lagi dan nantinya pada kawin dengan sesamanya. Mau dicoba? 😀

  17. 17 joesatch Januari 1, 2007 pukul 10:30 am

    huehehehe, aku justru memaksudkan tulisanku ini sebagai tindakan preventif.

  18. 18 wortel_uhuy Januari 1, 2007 pukul 1:21 pm

    wakakakakaka…..hidup rakyat…hancurkan ‘aparat’..
    kang…kurang dramatis critamu…tapi saya setujudg kata-katamu…
    kita adalah lelaki
    wis biasa disakiti
    bar kuwi ngopi
    njuk udu dji sam soe siji

    hahahahahahahahahaha…………

    salam hidup para keparat dan hancurkan ‘aparat’…

  19. 19 sophie_cated Januari 2, 2007 pukul 11:01 pm

    hihihi..
    cinta engga salah…

    hihihi…
    gak bisa nyalahin cowok atau ceweknya juga lho pada beberapa kasus

    hihihi…
    keadaanlah yang salah…

    ASNU!!!

    Hidup para keparat!!!

  20. 20 joesatch Januari 4, 2007 pukul 1:16 pm

    cinta nggak salah, keadaan juga nggak salah…
    yang salah tetep yang nyari gara2…
    makanya, jangan salahkan sebatang dji sam soe dan segelas coffeemix juga…
    kakakakakakakaka!

  21. 21 dejavasche Januari 4, 2007 pukul 1:29 pm

    Wahhh…
    Joe piye kalo udah bawa Nissan X-Trail ke kampus belon dapat cewek ??
    Adakah yang salah dariku ??

  22. 22 joesatch Januari 11, 2007 pukul 10:09 pm

    nyari ceweknya jgn di mipa, ji…
    coba jalan2 ke FE atau coba juga jajal univ lain kayak YK*N, U*N, atau UA*Y. masak ga ada yang tertarik sama tukang nyetak duit? 😛
    mipa mah…suraaaaaammmmmmmm……

  23. 23 azizah Februari 26, 2007 pukul 4:33 pm

    aku emang bener-bener terharu sama cerita kamu diatas. btw, ngak semua cewek loh yang sejahat seperti yang kamu bilang diatas n masih ada kok cewek yang bisa menghargain perasaan orang laen dan ndak memandang bahwa semua cowok hanya lewat materi doank n bisa dipermainkan sesuka hatinya.=>

  24. 24 joesatch Februari 26, 2007 pukul 8:57 pm

    iyalah. cewekku membuktikan itu, kok, hehehehe 😀


  1. 1 Serdadu Bunuh Rakyat Kecil = Demokrasi Bunuh Komunis « Parking Area Lacak balik pada Juni 6, 2007 pukul 9:41 pm
  2. 2 Mungkin Bukan Pengemis Cinta « The Satrianto Show! Lacak balik pada September 9, 2007 pukul 12:48 am

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,052,504 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia