Apa Gunanya Aku Bikin Blog?

Wayang itu disadur oleh nenek moyang anda dari nenek moyangnya Saruk Khan, mas…. Jadi jelas kebudayaan jiplakan seperti itu, nggak perlu dibangga-banggain banget dech. Nikmati aja kalau mau, nggak usah di-proklamirin.

Kemarin-kemarin, aku dapet komentar kayak gitu sehubungan dengan tulisanku yang ini. Nggak pa-pa, itu nggak masalah, wong tiap individu punya kebebasan berbicara. Lagian, aku anggap aja komentarnya itu cuma gara-gara kesalahan seorang awam biasa aja, yang boleh jadi belum terlalu mengerti tentang seluk-beluk dunia pewayangan di muka bumi (aku serius lho) ini. Tapi, yang jadi masalah justru kalimat terakhirnya yang menurutku sangat menggangguku.

Bagaimana tidak, kalo aku nggak boleh memproklamirkan apa yang ada di pikiranku, lantas apa gunanya aku bikin blog? Apa gunanya ada internet yang notabene (pernah menjadi) media tanpa batas? Coba, apa gunanya coba? Hayo…jawab…hayoooo…!

Padahal sudah juga aku tulis di halaman ini, kalo blogku itu adalah tentang apa yang ada di otak dan hatiku, bukan sebuah situs yang dibuat mengikuti selera pasar, karena kadang-kadang seleraku sangat bertentangan dengan selera pasar. Kadang-kadang juga, ada hal yang nggak bisa kuungkapkan dengan bebas di dunia nyata, karena sedikit saja aku mengeluarkan hal yang dinilai kontroversial di muka umum, bisa jadi aku bukan cuma dihujat, tapi malah digebukin massa. Siapa yang mau nanggung biaya perawatan luka-lukaku? Mau ngandelin Gadjah Mada Medical Centre? Diagnosa mereka itu nggak valid tau! Yah, namanya juga proyek sukarela. Ya, nanganinnya juga sesukarelanya.

Aku sendiri, sih, udah nulis tanggapanku atas komentarnya. Kalo mau baca tulisanku ya baca aja. Kalo setuju silakan ikutin, kalo nggak ya jangan diikutin. Lupakan. Tapi ya mbok aku jangan dilarang buat nulis, tho. Nanti kalo aku tekanan batin gara-gara banyak masalah yang kupendam tapi nggak sempat kulampiaskan gimana coba? Heran, kok masih ada aja manusia yang setega itu, ya? Berbuat tanpa memikirkan efek jangka panjangnya buat orang lain. Egois! Kalo ketemu sama makhluknya, pokoknya dia mau kuajak ngangkring berdua. Kudoktrin, kuberi pencerahan kalo setiap manusia itu bebas mengemukakan pendapatnya sambil nyeruput teh-jahe dan nguntal gorengan. Kusadarkan kalo jamannya Adolf Hitler itu sudah lama lewat. Tentunya juga, kebebasan yang disertai tanggung-jawab. Kebebasan yang tidak menyinggung daerah teritorial manusia lain. Dong?

Nah, sedikit aja tentang komentarnya tentang sebuah budaya jiplakan. Menurutku wayang, sebagai budaya Jawa, bukanlah sebuah budaya jiplakan. Cerita dasarnya memang berasal dari India. Tapi di tiap-tiap daerah berkembang sebuah cerita yang berbeda versi dengan cerita aslinya.

Di Vietnam, berkembang cerita yang lain. Antara Solo sama Jokja aja juga ada perbedaan walaupun sedikit, padahal jarak 2 kota itu cuma 1 jam perjalanan naik kereta api Pramex. Di Bali juga lain. Di Srilanka beda lagi. Sedikit yang tau kalo di Srilanka sana Dasamuka alias Rahwana adalah seorang raja raksasa berhati ksatria. Ramawijaya justru seorang pecundang yang menyia-nyiakan istrinya, sehingga Dewi Sinta meratap memohon perlindungan dari Dasamuka. Tapi Rama, dengan segala kelicikan dan tipu muslihatnya berhasil membunuh Dasamuka.

Di Jawa sendiri, sejak kehadiran Wali Songo, wayang yang pada waktu itu kental unsur Hindunya dirombak sehingga bernuansa Islam. Konsep Trimurti Brahma-Wisnu-Syiwa dipermak habis. Para dewa tetaplah makhluk Tuhan Yang Esa, yang rentan berbuat salah. Maka, untuk mendukung penyebaran Islam pada waktu itu, dibuatlah berbagai macam lakon carangan. Nah, filosofi pakem carangan inilah yang diakui atau tidak menjadi filosofi dasar masyarakat Jawa pada waktu itu.

Kalo udah kayak gitu, apa masih bisa dibilang menjiplak? Menjiplak beda lho dengan modifikasi. Modifikasi adalah sebuah proses kreatif. Sobat muda nggak bakal menemukan Semar, Gareng, Petruk, Bagong di India. Demikian juga Wisanggeni, Caranggana, Bambang Priyambada, Mustakaweni, Kartawiyoga, dan lainnya. Pun lakon-lakon seperti Aji Narantaka, Puter Puja Pandawa, Wahyu Cakraningrat, Begawan Kesawasidhi, nggak bakal kita temukan di teks otentik Mahabarata versi India. Lha wong cerita Gatotkacasraya sendiri dikarang empu-empu kita waktu jaman kerajaan Hindu di Indonesia dulu, kok.

Kalo mau ngotot mendasarkan bahwa itu tetaplah budaya jiplakan, ya sama aja dengan mengklaim bangsa Indonesia ini nggak punya budaya. Bilang aja budaya masyarakat Bali itu menjiplak India, karena masyarakat Hindu Bali sendiri kadang-kadang rancu dengan istilah upacara adat dan upacara agama. Adat mereka ya agama. Agama Hindu yang berasal dari India. Apa itu jiplakan? Hati-hati, sobat muda bisa ditempeleng kalo ngoceh yang kayak gitu itu nggak layak dibangga-banggakan di Bali.

Islam juga. Mau bilang budaya Islam itu jiplakan budaya Arab? Kristen pun demikian. Budha juga sama. Apa mau bilang semua budaya Indonesia yang ada unsur keagamaannya itu jiplakan? Nah, lalu apa, dong, budaya asli Indonesia? Lha wong budaya kita itu pada dasarnya memang banyak dipengaruhi budaya dan terutama agama dari luar. Justru pada unsur modifikasi itulah letak seninya. Apa sih, agama asli dari Indonesia?

Pelaku Kempo Shaolin bilang, prinsip Juho (kelembutan) jurus-jurus mereka itu diimplementasikan pada Ju-jitsu dan Aikido. Tapi mana mau pelakon-pelakon aikido dan ju-jitsu itu dibilang ngekor Kempo Shaolin. Aikido adalah aikido, pun ju-jitsu adalah ju-jitsu. Dan, thai-boxing juga nggak mau dibilang kalo beladiri mereka itu niru Goho (unsur keras) nya Kempo Shaolin.

Seni musik juga begitu. Bisa jadi genre ska itu berasal dari genre punk dan reggae. Tapi apa komentar para pelakunya? “Kami nggak memainkan reggae ataupun punk. Kami memainkan ska!”

Nah, makanya sekarang, kalo seneng dengan tulisanku ya Alhamdulillah buatku. Kalo nggak seneng ya nggak pa-pa. Lupakan aja. Asal jangan ngelarang aku buat ngoceh di teritorialku sendiri. Kalo mau membela diri, bisa aja aku meng-counter dengan, “Ini kerajaanku. Akulah rajanya. Ya terserah aku dong, mau ngapain aja di kerajaanku.”

Akhirul kalam, wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (Eh, salamku masih mau dibilang menjiplak budaya Arab?). ^_^

17 Responses to “Apa Gunanya Aku Bikin Blog?”


  1. 1 agung Desember 24, 2006 pukul 5:43 pm

    Wah wah wah… Bagus!!!
    Saya terkesan dgn tulisan Anda.
    Salut..

  2. 2 ika Desember 24, 2006 pukul 6:25 pm

    sy percaya sm kemampuan n kualitas dr tulisan2 km.
    klo mnrt sy c bagus kog krn sllu ad karakter yg kuat dr stp tulisan km

  3. 3 neeya Desember 24, 2006 pukul 6:26 pm

    sabar pak.. ndak usah jadi sensi krn komentar seperti itu. Think positipnya aja. Malah jadi bisa menghasilkan tulisan seperti ini kan ^^

    IMO, Orang Indonesia itu sebenarnya banyak yg kreatif dan cerdas. Hanya saja biasanya kurang dukungan atau menyalurkannya di jalan yang salah. Jadi bebaskan saja ide-ide itu mengalir 🙂

  4. 4 joesatch Desember 24, 2006 pukul 8:31 pm

    sama sekali seperti kata2 saya sebelumnya: terima kasih… terima kasih… tanpa dukungan kalian semua, saya tidak mungkin berdiri di panggung ini 😀

  5. 5 kunderemp Desember 25, 2006 pukul 1:41 am

    Konsep Indra jiplakan dari Yunani.. 😀
    Banyak konsep-konsep di Yahudi, Kristen, dan Islam, bisa disebut jiplakan dari Zoroaster. Lima waktu sholat bisa diklaim sebagai jiplakan waktu ibadah Zoroaster.

    Oke, Kund.. kamu mulai menyeramkan.. :p
    Tergantung bagaimana kita mau menilai apakah itu jiplakan atau bukan. Tuduhan-tuduhan itu ada dan aku sudah sering banget menemui.

    (Disclaimer: Terlalu banyak bergaul dengan Kunderemp bisa menyesatkan Aqidah)

    Joe..
    Kalau kamu lebih riset lebih lanjut lagi,
    bahkan di masa Hindu pun, Hindu Indonesia (Jawa – Bali) dengan Hindu India pun beda…

    Hindu Indonesia punya konsep “Dewata Mulia Raya” (Melayu pra-Islam) atau Sang Hyang Widhi (Jawa-Bali) sementara India yah.. Ishvara dan itu gak semua Hindu India percaya.

    Kalau kamu berhasil menemukan buku berjudul Ramayana Revisited, di situ kamu akan menemukan bahwa setelah cerita Ramayana menyebar ke kerajaan-kerajaan lain selain Bharat (kerajaan yang dikuasai ras Arya — India Utara), cerita Ramayana sudah mengalami modifikasi, mulai dari daerah Sikkim, Kamboja, Vietnam, Thailand dan sampai Indonesia.

    Jadi walaupun berasal dari India, Ramayana di Indonesia sudah berubah, ditafsirkan berbeda. Seingatku ada istilah Local Genius deh di sosiologi.

    Sekarang pertanyaannya, film YinXiong dari Cina (sutr: Zhang Yimou), film Snake Eyes dari Barat (sutr: Brian dePalma) adalah adaptasi dari film Rashomon dari Jepang (sutr: Akira Kurosawa). Apakah dua film tersebut adalah jiplakan?

    Adaptasi/Saduran dengan jiplakan jelas berbeda.
    Dan jangan salah, saduran adalah salah satu bentuk ciptaan yang diakui dan dilindungi dalam Pasal 12 Undang-undang Hak Cipta No. 19 tahun 2002.

  6. 6 Made Wirawan Desember 25, 2006 pukul 6:06 am

    lha jadi sentimentul gitu brur.. :))

    mbok ya anjing menggonggong dikasi makan karbit wae..

  7. 7 pramur Desember 25, 2006 pukul 7:00 am

    Numpang nimbrung nih Mas…
    Melihat judul blog di atas, saya langsung mau nangis, soale aku kan ga punya blog, bisane cuma ngomentarin blog orang.. ^_^ v

    Ok, kembali ke laptop..
    Soal kebebasan berbicara, setuju.
    Soal kebebasan yang disertai tanggung jawab, setuju.
    Soal modifikasi budaya, setuju. (mungkin kata yang lebih tepat = akulturasi, (kata guru sejarah saya dulu))
    Soal isi blog adalah curahan isi ego hati, (seperti yang Anda perkirakan) setuju.

    CMIIW

    *bikin-ruang-bacot-aja-kayak-w4deh3l-gimana?*

  8. 8 joesatch Desember 25, 2006 pukul 10:14 am

    made wira:::
    tentang karbit, malah jadi betul2 sentimentil. aku jadi inget masa kecilku dulu, bikin mercon pake bambu yang diisi karbit, huehehehe!

    pramur:::
    iya, itu dia. akulturasi… dari kemarin maksudku itu tapi kok lupa istilahnya. mohon maaf atas ketidaknyamanan ini 😀

  9. 9 joesatch Desember 25, 2006 pukul 10:22 am

    kunderemp:::
    setuju mas nar! hindu bali dengan india pun secara kasat mata sudah kuliat bedanya, kok.
    tentang ramayana, sudah pernah baca modifikasi lanjutannya yang versinya seno gumira ajidharma? judule “kitab omong kosong”. bukunya yang edisi pertama setebal harry potter, yang cetakan edisi kedua lebih tipis, kayaknya mengalami pengecilan fonts 🙂

  10. 10 kunderemp Desember 25, 2006 pukul 12:52 pm

    Wah.. belum baca tuh yang versi Seno Gumira Aji Dharma.. Yang kubaca justru gubahannya Agus Sunyoto (Rahuvana Tattwa) yang sayangnya masih setengah-setengah.

    Versi Rahwana yang Rama jadi penjahat:
    googling dengan katakunci: ravana, dalit

    Sayangnya, beberapa bulan lalu (tepatnya 13 Juli 2006), Pemerintah India membasmi beberapa situs. Jadi mungkin hasil pencariannya mungkin tidak seseru seperti dahulu :p

  11. 11 joesatch Desember 26, 2006 pukul 11:35 am

    ceritanya ttg persembahan kuda buat memperluas wilayah jajahan ayodya dan efeknya buat masyarakat. dan, cuma hanoman yang punya kunci buat mengehentikan efek negatif dari aksi biadab ramawijaya 😀 sayangnya nggak ada yang tau tempat tinggalnya hanoman. kendalisada, pertapaannya hanoman, hanya tinggal mitos buat masyarakat.

  12. 12 joko Desember 31, 2006 pukul 8:07 pm

    Te O Pe Bhe Ghe Te
    tulisannya seperti bernyawa (halah)

  13. 13 joesatch Januari 1, 2007 pukul 10:19 am

    wew…medeni nek tulisanku ana nyawane

  14. 14 agung wisnusugara Februari 26, 2007 pukul 3:03 pm

    kebebasan berpendapat,berekspresi,menafsirkan dan kebebasan apapun namanya sekarang ini memang lagi ngetren untuk dijadikan pembenar.
    Memang diera reformasi ini, kita tidak bisa mnelarang seseorang untuk berekpresi,berpendapat atau apapun namanya, tapi yang perlu diingat adalah masalah etika dan jangan melukai keyakinan seseorang.
    Saya mau tanya apakah saudara pengarang rahvana tattwa dengan alasan kebebasan berpendapat maupun berkarya berani membuat nafsiran sendiri terhadap kisah2 nabinya atau kitab sucinya atau menggambarkan nabinya ?
    kija berani baru saya acungi JEMPOL dengan alasan berekprisi. okey ! jangan senangnya mengoyak oyak keyakinan orang lain.

  15. 15 joesatch Februari 26, 2007 pukul 8:55 pm

    sik2…
    bagian mana dari tulisanku yang dihakimi melukai keyakinan seseorang? 😛
    ttg rahvana tattwa, di srilanka, mereka memang tidak setuju dengan ramayana karena ramayana itu sendiri disinyalir sebagai bentuk superioritas ras arya thd ras dravida (eh, kebalik ndak ya?). sebagaimana kita tau, di srilanka (lanka=alengka, kerajaannya rahwana) sendiri memang yang mayoritas adalah dravida. ras dravida yang berkulit hitam dikiaskan sebagai bangsa rakshasa dalam ramayana. ini yang menyebabkan orang2 srilanka meyakini rahvana tattwa. setidaknya itu yang kutau yang terjadi di srilanka sendiri.
    CMIIW

  16. 16 fourtynine Maret 9, 2007 pukul 10:30 am

    Joe, aku ga tau harus komen dimana, tapi cuma mau ususl gimana kalau kamu nyediakan ruang tamu, bhuat yang ingin sekedar kenalan. Trims

  17. 17 Kenmore repair los angeles Maret 8, 2011 pukul 3:30 pm

    Hola, Interesante, tidak ada va a continuar con este artнculo?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,036,800 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

Desember 2006
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia