Ngeramal Itu Ndak Haram

Ini aku yang bilang lho. Sekali lagi, ini menurutku. Mangkanya jangan langsung dipercaya. Nggak baik, nggak sehat kalau langsung percaya sama semua yang kuomongin. Soale siapa tau aja sebetulnya aku lagi kesurupan dan mendadak jadi ngawur. Aku memang sering ngawur. Karena itulah temen-temenku menyebutku orang yang suka ngawur, ya soalnya aku memang suka ngawur. Nggak pa-palah ngawur, asal ngawurnya intelek, begitu biasanya pledoi ngawurku.

Jadi sekali lagi aku membela diri. Aku nggak ngawur kok, menurutku. Tapi ya monggo aja kalau ada yang mau menafsirkan apa yang kuomongin sebentar lagi sebagai hal yang ngawur. Cuma, menurutku aku memang nggak ngawur. Mana ada tho, orang ngawur yang ngaku kalau dia lagi ngawur? Ah, lagi-lagi aku ngawur…

Oke, kita langsung ke topik permasalahan. Menurutku astrologi itu nggak haram! Segala macam ramalan, atau lebih halusnya kusebut prediksi, itu sah-sah aja, sama sekali nggak haram. Yang diharamkan itu menuhankan yang selain Tuhanku (tentu saja menurut kacamata Tuhan yang kusembah). Karena apa? Dalam astrologi kita tidak sedang mempercayai bahwa nasib kita berada di bawah rasi bintang, melainkan astrologi itu adalah suatu ilmu yang didasarkan pada pengalaman-pengalaman dan kebiasaan (niteni, kalau orang Jawa bilang). Dan belajar dari pengalaman bukanlah sesuatu yang haram.

Kita ingat, sebagai negara agraris, petani-petani kita jaman dulu juga berpedoman pada posisi bintang untuk menentukan waktu yang tepat buat bercocok-tanam. Nah, sama aja ketika kita mencoba mengambil kesimpulan kalau seseorang yang lahir di bawah rasi bintang gemini itu sifatnya bakal seperti ini, peruntungannya bakal seperti itu, karir yang cocok buat dia itu begitu, jodohnya dia ini begini. Semuanya itu karena pengalaman dan kebiasaan. Semuanya karena yang terjadi biasanya memang seperti itu.

Kalau sudah seperti itu, apa yang disebut sebagai belajar dari pengalaman itu bisa dikategorikan sebagai sesuatu yang haram? Menurutku jelas nggak bisa. Kalau misalnya kita berpendapat bahwa berpedoman pada suatu hal yang belum pasti di masa depan adalah haram, maka ijinkan aku menggunakan sebuah analogi lain yang sangat dekat dengan kehidupanku sebagai mahasiswa.

Apa gunanya ketika menjelang mid dan ujian akhir semester kita rame-rame fotokopi catatan teman, nyari literatur di internet, dan bahkan bikin contekan di kertas kecil-kecil? Apa gunanya kita belajar menjelang ujian? Toh belum tentu kita nggak bisa njawab soal kalau nggak belajar, iya kan? Siapa tau aja pas hari ujian kita dapat wangsit dan tiba-tiba paham kalau e itu sama dengan em ce kuadrat. Tapi kita semua biasanya pada bela-belain belajar menjelang ujian karena kita berpatokan biasanya kalau nggak belajar nggak mungkin kita dapat nilai yang bagus, iya tho? Padahal hal itu sama-sama belum pasti. Nah, dalam perkara ini ternyata kita juga belajar dari pengalaman.

Astrologi juga gitu, menurutku. Orang-orang jaman dulu punya kebiasaan niteni apa-apa yang terjadi di sekitarnya, karena memang pada saat itu mereka belum ngerti tentang integrasi PHP dan MySQL. Mereka niteni kalau virgo itu bakal seperti ini, aries itu kayak gitu, sagitarius itu ya gitu deh. Ya memang, nggak semuanya tepat 100%. Sama kayak kita udah belajar mati-matian, eh ternyata nggak mampu juga menjawab soal-soal ujian. Kadang-kadang ada hal yang bersifat surprise. Itu wajar. Hidup tanpa surprise itu justru nggak wajar.

Suatu ketika aku baca di sebuah koran daerah di kolom ramalan bintang kalau dalam satu minggu ke depan keuanganku bakal morat-marit. Alhasil akupun mengantisipasi bagaimana supaya hal itu nggak terjadi. Sangat salah kalau ada yang berpendapat apa yang kulakukan itu adalah mempercayai suatu kekuatan lain selain kekuatan Tuhanku. Beda lho antara mengantisipasi dengan mempercayai. Yang kulakukan memang memakai landasan azas “siapa tau”, karena hidup ini penuh dengan berbagai “siapa tau”. Siapa tau aja aku memang bakal bener-bener bangkrut seminggu ke depan, dan nggak salah kan kalau aku mengantisipasi hal itu? Lagipula, pergerakan rasi bintang itu sebenarnya juga karena kuasa Tuhan, kan?

Ini ilmu yang didasarkan pada pengalaman, Dude. Pengalaman dan kebiasaan.

Salah satu dari Khulafaur Rasyidin kita juga pernah nggak jadi memasuki sebuah desa yang ternyata diketahui sedang dilanda sebuah epidemi. Salah seorang sahabat yang lain bertanya, “Kenapa kita lari dari takdir Allah?” Maka, pemimpin kita pada saat itu menjawab, “Kita tidak lari dari takdir Allah, melainkan kita menyambut takdir Allah yang lain yang lebih baik.”

Belum tentu memang kalau seandainya kita memasuki desa itu maka kita juga mati karena wabah penyakit. Tetapi kemungkinan besarnya memang bakal seperti itu. Siapa tau, kan? Nah, lagi-lagi azas “siapa tau” berlaku di sini. Ini yang kusebut sebagai antisipasi. Maka, haramkah sebuah antisipasi yang didasarkan pada pengalaman?

Astrologi itu ilmu yang didasarkan pada pengalaman. Antisipasi karena sebuah pengalaman itu nggak haram.

Oke, persoalan kedua: prediksi itu lain dengan judi. Ada seorang uztad konservatif yang beranggapan main saham itu haram juga, karena termasuk kategori judi. Nah, sebentar dulu. Kategori judi dulu itu seperti apa?

Menurutku, judi adalah sebuah hal yang dilakukan dengan kepasrahan mutlak, tanpa perhitungan, tanpa pengetahuan, tanpa keyakinan bakal mendapatkan sebuah hasil dari pertaruhan yang kita lakukan. 50:50! Bisa ya, bisa nggak.

Ini jelas beda dengan main saham. Pemain yang baik tentunya akan memperhitungkan segala sesuatunya terlebih dahulu sebelum membuat keputusan. Ketika dia yakin pilihannya bakal mendatangkan suatu hasil, maka dia memantapkan pilihannya. Tentunya juga ketika membuat prediksi dia juga sudah memperhitungkan segala kemungkinannya, dan dia tidak bakal bermain kalau tau bakal kalah.

Ini nggak haram menurutku, karena logikanya sama aja dengan ketika tim futsal Himakom UGM mendaftar di Pormagama. Untuk mengikuti turnamen itu kami mempertaruhkan uang kami sebagai biaya operasional tim untuk suatu hasil yang kuistilahkan sebagai “Puncak Gadjah Mada”. Sebagai kapten aku juga nggak tau seperti apa persisnya kekuatan tim-tim musuh. Tapi aku percaya timku bisa menang kalau kita menerapkan gaya permainan yang kayak gitu, strategi yang seperti gini, dan disertai latihan yang cukup. Kami memperhitungkan segalanya dan kami punya keyakinan menang. Ini proses yang melibatkan usaha. Judikah itu?

Contoh lainnya, aku pernah (nggak nyombong) dapat tawaran untuk studi di jurusan filsafat Universitas Indonesia, desain komunikasi visual Universitas Negeri Sebelas Maret, dan ilmu komputer Universitas Gadjah Mada dalam waktu yang hampir bersamaan. Tapi akhirnya aku memprediksi dan memilih UGM sebagai jalan sukses untuk masa depanku, padahal waktu itu aku juga nggak tau bakal seperti apa besok di UGM. Ini pertaruhan hidup. Judikah itu?

Usaha yang memakai perhitungan itu bukan judi, John. Pun prediksi bukanlah judi.

Ketika aku bertaruh dan memprediksi Liverpool bakal menang di final Liga Champion 2005 berhadapan dengan AC Milan, aku memperhitungkan berpegangan pada data bahwa Liverpool tidak pernah kalah di final. Liverpool memiliki Steven Gerrard, Xabi Alonso, Didi Hamman, dan Vladimir Smicer, serta Jerzy Dudek di bawah mistar. Aku juga memiliki keyakinan pada kemampuan mereka dan mental bertanding Liverpool. Judikah itu?

Kalau yang terakhir itu memang haram karena itu judi! Soale di kalangan masyarakat bola sendiri ada pepatah lama banget yang mengatakan, “Bola itu bundar. Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi di lapangan sampai peluit akhir berbunyi.” Bertaruh tanpa pengetahuan adalah judi, dan sepakbola tidak pernah bisa diketahui hasilnya sampai peluit akhir berbunyi🙂 Jika demikian, maka masih ada kemungkinan kalau timnas Indonesia bisa berbicara banyak di Piala Asia besok🙂

P.S. Jadi, kalau tim futsal kami masih nekat mengikuti Pormagama, sebenarnya kami sedang berjudi atau tidak, sih? Kekekeke!

10 Responses to “Ngeramal Itu Ndak Haram”


  1. 1 passya November 12, 2006 pukul 1:37 pm

    gw ramal timmu lo kayaknya menang deh…

  2. 2 joesatch November 15, 2006 pukul 2:23 pm

    trimakasih atas ramalannya, bang. sudahkan melihat posisi bintang sebelum meramal? hehehe, 1 jam lagi aku turun lapangan🙂 wish me luck!

  3. 3 Andi November 15, 2006 pukul 5:19 pm

    he he he .. salam kenal.
    Ramalan klo yng model begitu mungkin aku setuju bro,
    tapi klo ngeramal yng neko2x seperti ngeramal TOGEL :-p ato yng sebangsanya apa iya boleh😀

  4. 4 joesatch November 16, 2006 pukul 2:02 pm

    lho, ngeramal togel kan berdasarkan kepasrahan buta, tidak berdasarkan itungan yg sistematis dan terencana, tidak juga didasarkan pada kebiasaan yang sering muncul (modus, istilah mitamitiknya). jadinya ya menurutku nggak boleh🙂
    sama kayak ngeramal bal-balan…tetep aja nggak boleh, wong kita nggak akan pernah tau hasil akhirnya kok, hehehehe

  5. 5 anung87 Desember 17, 2006 pukul 5:42 pm

    asyong tenan….
    nek ramalane madam sahara piye??
    jarene nganggo metode terbaru yang lebih akurat
    nah kuwi piye coba?

  6. 6 joesatch Desember 17, 2006 pukul 10:37 pm

    mendasarkan pada modus, fakta yang lampau, dan analisa mendalam ga? kalo didasarkan itu, kayaknya nggak haram deh

  7. 7 Zai Januari 2, 2007 pukul 11:43 am

    omg that’s exactly what i think.

    astrology could possibly be something that can be learned just like physics/chemistry. of course it could be wrong even if you considered it a science. (the way science has advanced since the socrates…)

    don’t know how i got into your archives >_

  8. 8 kakashi Januari 5, 2007 pukul 11:19 am

    wah, aq ndak setuju mas…
    soalnya, manusia berikut sifat2nya itu berbeda dg benda yg bisa diprediksi…
    so, klo pd manusia qta ga bisa “mengilmiahkan” begitu saja, meski pake modus dan bla-bla-blanya tadi.
    coba deh baca buku at-tafkiir, tunggu2, judul Indonesianya aq lupa nii..
    di buku itu dijelaskan d wilayah mana pola pikir ilmiah bisa digunakan, dan d wilayah mana itu tdk bisa. terus, klo pun mau keukeuh ilmiah, coba aja, qta liat fakta yg ada, banyaaaaaak bgt kan org2 aries yg ga sesuai sama yg ditulis d majalah2, banyak shio kelinci yg beda sama tulisan d koran2, hayo, gmn ngejelasin scr ilmiahnya coba??
    ya jawabnya cuman, bahwa manusia & sifat2nya ga bisa diilmiahin, cuz qta itu something special!! ^_^
    terus nih ya, klo kpn wktu bercocok tanam, itu mah emang erat kaitannya sama bintang, pas rasi bintang “anu” muncul, berarti masuk musim “itu”
    sama seperti penanggalan hijriah yang menisbatkan pada posisi bulan or kalender masehi dg posisi mataharinya. but, klo sifat manusia mah ga ada hubunganny ama bintang2…
    klo maseh ngeyel bilang astrologi belajar dr pengalaman, coba bayangin ada brp kemungkinan org pake baju biru pas ujian, trus mereka dpt nilai bgs, trus qta menggeneralisir, bahwa belajar dr pengalaman org berbaju biru, ternyata, pas ujian qta bisa dpt nilai bgs dg baju biru itu!!! padahal ga nyambung bgt kan, kli aja yg kemaren pk bj biru emang pinter2 or mereka belajar dg sungguh2. nah sama aja ga nyambungnya dg bintang2 and sifat manusia dan kejadian yg akan menimpa manusia!!!
    oke, lagi.., (sori kepanjangan yah?? abisan sebel sich… mz joe ternyata skuler bgt!!! >_

  9. 9 joesatch Januari 5, 2007 pukul 8:34 pm

    wakakaka…kok malah jadi sebel sama saya? apakah jadi sekuler itu salah?😀
    tapi ga pa-pa, kok. setuju boleh, ga setuju juga boleh, asal jgn sebel sama saya aja, hahaha!
    sekuler ga sekuler asal masih sholat, masih puasa, masih zakat, dan nggak merugikan orang di sekelilingnya, kayaknya fine2 aja tuh buat saya =)


  1. 1 White Chocolate dan Xpango « The Satrianto Show! Lacak balik pada Oktober 20, 2007 pukul 4:43 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,032,807 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

November 2006
S S R K J S M
« Okt   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia