Nggak Perlu Syariat Islam

Kemarin, waktu aku mosting tentang tingkah laku artis-artis kita yang sangat mengharukan di bulan Ramadhan, ada seorang teman yang berkomentar, “Bagaimana kalo Indonesia ini pake Syariat Islam saja?”

Bagaimana ya…? Aku sendiri juga bingung. Bingung gimana bilang nggak-usahnya, maksudku. Salah-salah nanti aku dituduh sebagai al-kafirun kalo aku salah berdiplomasi. Tapi memang, pada dasarnya aku memang kurang setuju kalo di Indonesia kita memaksa untuk menerapkan syariat Islam pada masyarakat yang heterogen ini.

Cobalah kita memandang Indonesia secara umum, jangan melihat dari sudut pandang keislaman kita, jangan memandang sebagai kelompok mayoritas, tapi cobalah berpikir dengan logika sehat yang tidak diracuni oleh “gengsi” keberagamaan (beda lho dengan keberagaman), apakah perlu Indonesia sebagai sebuah negara didasarkan pada syariat Islam?

Apa kita sudah mempertimbangkan faktor kemajemukan bangsa ini sewaktu kita berteriak tentang syariat Islam? Dengarkan aku, aku sudah pernah membahas tentang hal ini, bahwa sudah menjadi kodratnya manusia yang beragama untuk menolak suatu aturan dari agama yang tidak dianutnya untuk dijadikan sebuah aturan hidup, nggak peduli apakah aturan dari agama tersebut sebenarnya baik atau buruk. Yang jelas, yang bakal muncul pertama kali dalam hal ini adalah gengsi keberagamaan. Aku sendiri tentu saja bakal berontak dan protes keras kalo disuruh hidup dengan tata cara agama yang tidak kuanut, apalagi untuk beberapa oknum umat beragama yang sudah terlanjur alergi ketika mendengar nama syariat Islam disebut.

Usul dan kekhawatiran temanku seperti yang kusebutkan di atas tadi memang sangat mungkin boleh terjadi kalo Indonesia nggak menerapkan syariat Islam. Temanku mengkhawatirkan kemunduran akhlak di kalangan generasi muda Islam. Itu bagus! Sebagai seorang muslim, temanku itu, menurutku, sudah mengeluarkan pendapat yang amat sangat benar. Sekali lagi, pendapat sebagai seorang muslim.

Dan aku, sebagai seorang muslim pun, aku juga merindukan kehidupan yang berjalan sesuai dengan akidah-akidah Islam, seperti aku merindukan kehidupan masa kanak-kanakku. Tapi lebih daripada itu, aku merindukan kehidupan Islam yang murni, Islam yang tanpa kemunafikan, dan Islam yang tanpa syarat!

Penerapan syariat Islam di Indonesia saat ini menurutku justru bakal jadi ajang kemunafikan!

Dari dulu aku berpendapat bahwa hubungan antara manusia dengan Tuhan itu urusan tiap individu. Negara nggak berhak mencampuri, karena toh nantinya di akhirat kita semua dimintai pertanggungjawaban perbuatan kita secara pribadi tanpa perlindungan sedikitpun dari negara.

Tanpa diberlakukannya syariat Islam oleh negara pun, seharusnya sebagai seorang muslim kita juga tetap hidup sesuai syariat Islam, kan? Nah masalahnya begini, ketika nggak diatur aja oleh negara aja ternyata banyak umat Islam yang munafik, banyak yang hidup sesuai akidah tetapi harus ada pamrihnya. Ada yang biar imejnya baiklah, ada yang biar dibayar sama produsernyalah, ada yang sekedar ikut-ikutan mumpung lagi ngetrenlah, dan juga sederetan alasan lainnya. Ternyata banyak yang akidah Islamnya hanya sebatas di tampilan luar, nggak masuk sampai ke dalam jiwanya.

Bayangkan aja ketika nanti sudah diatur. Makin banyak orang-orang yang berpenampilan sesuai akidah tetapi sebenarnya cuma karena terpaksa. “Lha gimana e, aturannya negara kayak gitu. Daripada saya kena sanksi…” Nah, Islam yang seperti itu yang aku nggak mau. Islam nanggung. Islam kepaksa. Mendingan nggak usah sekalian aja daripada nanggung-nanggung.

Bayangkan aja kalo nanti pelacur-pelacur kita pada pake jilbab. Masya Allah! Bayangkan aja nanti ada orang yang desain-antar-mukanya Islami banget tapi pikirannya maksiat terus. Astaghfirullah! Bayangkan aja teman-teman mahasiswa dan mahasiswi kita dengan dandanan Islami nantinya ketika banyak orang jadi kelihatan nggak mau bersentuhan dengan yang bukan muhrimnya, tapi ketika keadaan sepi malah pacaran masuk kamar berdua sambil kemudian pintunya dikunci (yang ini boleh jadi memang ada, dan bayangkan kalo besok semakin banyak yang kayak gitu). Hei, aku nggak mau hidup di lingkungan yang penuh kemunafikan kayak gitu. Semakin banyak peraturan yang dibikin oleh negara, orang semakin tertantang buat mengakalinya.

Mendingan kayak sekarang aja deh, menurutku. Yang bejat ya bejat aja, bajingan ya bajingan aja. Nggak usah berusaha pura-pura alim. Jadinya malah jelas gitu lho. Tanda-tandanya keliatan banget. Orang yang bejat penampilannya juga bejat, orang alim pakaiannya ya yang menutup aurat. Gitu kan malah enak, ya tho? Kita jadi nggak bingung membedakan hanya karena nanti semuanya bakal kelihatan seperti orang alim.

Lagian, dengan adanya orang-orang yang akhlaknya (bisa jadi) buruk di sekitar kita, sebenarnya sudah sepantasnya kita bersyukur. Kita harus berterima-kasih pada mereka yang sudah menyediakan medan bagi kita untuk menguji iman. Bayangkan kalo nggak ada mereka, kemana kita harus menguji iman kita? Darimana kita bisa tahu iman kita sudah kuat atau belum kalo nggak ada ujiannya, ya nggak? Mereka, orang-orang yang selalu bermaksiatlah, yang menjadi barometer kita untuk menilai kadar keimanan kita.

Dan yakinlah Allah itu maha adil. Perjuangan kita menegakkan iman kita di jalur yang lebih sulit pastilah diberi reward yang lebih besar oleh-Nya dibandingkan kalo kita menegakkan iman kita di jalan yang memang nggak ada godaannya. Menjaga iman kita di TJ’s atau Hugo’s Café jauh lebih berat lho dibanding menjaga iman kita di Masjid Kampus UGM.

Iklan

41 Responses to “Nggak Perlu Syariat Islam”


  1. 1 blognyayoga Oktober 3, 2006 pukul 12:38 pm

    hm jadi inget pelajaran sejarah di/tii………

  2. 2 fuad Oktober 4, 2006 pukul 4:14 pm

    Joe aku tanggapi semampuku aja ya,
    Saya memang salah satu pendukung penerapan syariat islam, karena menurut ku sih sederhana saja, cuma yang menciptakan yang mengerti apa yang terbaik buat apa yang diciptakannya. Sehebat-hebatnya Andres Heljsberg(penemu bahasa C# dan Delphi) tapi cuma Linus Torvalds yang tahu apa yang terbaik buat Kernel Linux. Kalo masalah gengsi keberagamaan menurutku itu bukan kodrat, itu cuma cabang dari keterkotak-kotakan kita terhadap yang namanya nasionalisme atau apa lah namanya pokoknya yang sejenis dengan fanatisme golongan. Harusnya yang jadi tolak ukur kita dalam hidup ini kebenaran. Buktinya waktu zaman Rasul dan Khulafaur Rasyidin zaman di mana syariat islam ditegakkan secara uth tetap ada umat agama lain, dan mereka bisa hidup dengan damai dan mentaati syariat islam. karena memang itu yang terbaik bagi kita manusia.

    Dan memang tanpa negara sekalipun kita harus tetap bisa menegakkan syariat islam, tetapi ada hal hal dimana tanpa negara suatu aturan tidak akan dapat ditegakkan. Misal yang sederhana aja, kita dilarang mendekati zina tapi kalo lingkungan kita seperti sekarang ini kita sama sama tau itu akan sangat sulit dan mendekati mustahil. Coba kalo seandainya negara mendukung penerapan itu pelacuran dan lokalisasi dilarang, peredaran majalah berikut CD porno dibantai sampai akar akarnya, penampilan wanita diwajibkan menutup aurat. Saya rasa tidak akan sulit yang namanya mendekati zina.

    Memang syariat islam itu cuma bisa mengatur secara lahir saja kalau urusan hati itu urusan ALLAH SWT dengan hambanya. Orang munafik dari dulu sampai sekarang ada, bahkan dalam surah AL-Baqarah ALLAH SWT membagi manusia ke dalam tiga golongan, orang beriman, kafir, dan munafik(pura pura beriman).Tapi menurutku paling tidak dengan adanya syariat islam tadi(dalam masalah pergaulan laki2 perempuan) tidak akan ada lokalisasi, peredaran hal hal yang berbau pornografi dan pornoaksi yang bisa memancing kita, akan semakin dipersempit jadi peluang untuk melakukan hal yang kamu tulis akan bisa diperkecil. Kalo sekarang ini kemana mana yang dilihat cuma aurat wanita, ke kampus iya, ke mall iya, ke kantor iya, di jalan iya, pulang ke rumah eh yang di televisi sama juga. Tapi kalo dengan syariat islam hal hal yang seperti itu akan dilarang.

    ALLAH maha adil, ALLAH pasti memberikan ganjaran sesuai usaha kita. Tapi kita jangan mengorbankan orang lain hanya untuk mengukur kualitas iman kita. ALLAH SWT tentu tidak akan mengorbankan hambanya hanya untuk mengukur kualitas iman hambanya yang lain. Ketika jaman di mana Islam ditegakkan dalam institusi negara, lahir orang orang dengan kualitas tinggi(high quality) Umar bin Abdul Azis, Ibnu Sina(Penggagas Ilmu kedoketeran), Al-Khawarizmi(penemu ilmu algoritma) mereka ini tidak cuma pikirannnya yang bagus tapi akhlaknya juga tinggi. bandingkan dengan sekarang, yang ada paling orang pintar tapi ilmunya buat bikin sengsara orang.

    Kita tidak menolak bahwa degradasi moral sekarang ini adalah merupakan ujian ALLAH SWT. Tapi itu juga karena yang bikin manusia bukan ALLAH SWT yang menurunkan. Untuk menguji kualitas iman seseorang dalam Surah AlBaqarah disebutkan bahwa ALLAH SWT pasti akan menguji manusia dengan Ketakutan, Kelaparan, Kekurangan makanan harta benda. Paling tidak dengan terselesaikannya satu Ujian yaitu masalah “syahwat” kita bisa konsentrasi melaksanakn ujian yang lain.

    Saya sangat rindu keadaan masyarakat yang bahkan berprasangka buruk kepada orang lain dianggap kejahatan, membicarakan kejelekan orang akan sangat tercela, hak hidup terjamin tidak akan ada orang yang kebal hukum, setiap yang salah diputus salah walaupun dia kepala negara sekalipun, Hak hak wong cilik dipedulikan , Nasib fakir miskin dan anak terlantar dangat diperhatikan(Kalau zakat bisa diatur dengan manajemen yang baik).

  3. 3 joesatch Oktober 4, 2006 pukul 4:32 pm

    keterkotak-kotakan itulah yg saya maksud sebagai kodrat 🙂
    memang, kalo kita memandang dari kacamata sebagai muslim, semua yang mas fuad sebutin itu amat sangat betul sekali. tapi, yang jadi masalah, Indonesia itu adalah negara sekuler. pada faktanya, meski umat Islam adalah golongan mayoritas, tetap ada umat agama lain yang hidup di negara ini. Nah, apakah kita sudah mencoba berpikir dari sudut pandang mereka?
    Yang penting skrg ini menurutku adalah bagaimana gesekan antar agama itu nggak timbul di Indonesia. Kasian sodara2 muslim kita juga yang berada di daerah minoritas Islam kalo sampe terjadi gesekan antar agama di Indonesia. Kadang2, hanya karena kita posisinya sedikit lebih kuat, kita suka kelihatan arogan dan memaksakan kehendak 🙂
    buat aku cukup “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. tanpa diundang2kan secara resmi oleh pemerintah pun, Al Qur’an toh tetap menjadi undang-undang buat saya 🙂
    Selanjutnya, bukannya mengukur kadar keimanan kita dengan mengorbankan orang lain. saya hanya mencoba berpikir secara bodoh saja, bahwa dalam hal yang jelek seperti itupun masih ada hikmah yang bisa kita ambil. Apalagi sebenernya orang2 tersebut boleh jadi sudah tahu konsekuensi dari perilaku mereka. 🙂

  4. 4 joesatch Oktober 4, 2006 pukul 4:37 pm

    oh ya, satu lagi….saya bukannya menyangsikan kebenaran agama yang saya anut sendiri. tapi dalam kehidupan bermasyarakat, apa yang jadi kebenaran buat kita, blm tentu hal itu jadi kebenaran buat penganut agama lain. sangat susah membicarakan kebenaran agama mutlak di negara sekuler seperti Indonesia ini.

  5. 5 fuad Oktober 4, 2006 pukul 5:10 pm

    Kalo masalah kebenaran, yang benar itu cuma satu tidak relatif. mungkin yang ada yang benar “menurut” mereka. tolak ukur kebenaran ada pada Tuhan kita, Tuhan kita cuma satu yang menciptakan kita dan alam semesta. bayangkan kalo tuhan banyak pasti kehidupan akan jauh dari keteraturan.

    Trus masalah sekularitas, dalam islam tidak ada yang namanya pemisahan antara agama dan kehidupan. Islam adalah agama yang integral antara hubungan vertikal dan horizontal.

    Ya betul juga sih kalo masalah nasib umat islam yang minoritas, kita masih dibelenggu sama yang namanya keterkotak kotakkan tadi. tapi walaupun begitu. tidak bisa langsung divonis kalau Indonesia tidak butuh syariat islam. Tapi yang pasti menurutku solusi buat Indonesia yang sudah sangat bobrok ini cuma Islam(Kita sudah berkali kali diperingati lho, Tsunami, Gempa, Lumpur, dll). Mudah mudahan ALLAH membuka Jalan kita untuk yang satu ini. Saya sedikit heran kenapa mereka mesti marah padahal Islam sangat menjunjung tinggi hak manusia jauh di atas Deklarasi Hak asasinya PBB walaupun orang tersebut lain agama.

    Lanjut, boleh jadi orang orang yang kamu bilang “buruk” akhlak(perilaku sehari hari) tau konsekuensi mereka. makanya mereka perlu terus diberi tahu, diingatkan, manusia itu tempatnya lupa. Insyaallah nanti mereka akan diberi jalan menuju pintu hidayah “NYA”

  6. 6 tamu Oktober 4, 2006 pukul 5:30 pm

    ho oh
    sama bingung
    memang sulit diterapkan.. wong negara kita majemuk
    tapi setauku syari’at islam itu berlaku cuman bwt orang islam.jadi tidak semua warga dikenai syari’at itu.
    nah yang terjadi di negara kita kan maunya negara make syariat islam.itu yang kurang tepat…
    jadi pas jaman rasul pun konsekuensi syariat itu hanya berlaku bwt orang islam. kalo ada orang zina,kalo dia islam ya musti dicambuk,kalo bukan islam ya ‘bebas merdeka’
    jadi analoginya, ugm kan gak pernah maksa kita kuliah di ugm..tapi kalo kita dah jd mahasiswanya mau g mau harus bayar(mahal)..

  7. 7 joesatch Oktober 4, 2006 pukul 8:36 pm

    nek aku ya tetap kayak pendapatku semula, kita tetap pada pedoman kita aja. jgn njagakke negara buat ngurusi. jgn manja! org2 islam di USA atau UK aja juga bisa survive tanpa diurusi negara mereka kok. mungkin kalo yg buat sesama islam usulnya mas fuad bisa jalan, sama2 ngingetin. selain daripada itu, kalo ada yg sedikit menggoda iman, ya anggap aja sebagai ujian… 🙂

  8. 8 fuad Oktober 5, 2006 pukul 11:07 am

    Penerapan syariat islam, jika itu dalam lingkup hukum muamalah(hubungan antara manusia dengan sesama atau lingkungan) maka berlaku bagi setiap orang baik itu muslim maupun non muslim. jadi kalo ada orang non muslim zina ya tetap di cambuk. Komentar terkahir diterapkanyya syariat dalam suatu negara bukan berarti manja, tetapi memang ada aturan(syariat) yang menjadi aturan bagi negara. Analogi dengan UU Indonesia sekarang ini., misal untuk aturan penjara bagi koruptor kan itu yang harus melakukan negara, apakah ketika ada uu itu warga negara di bilang manja? tidak kan karena itu memang negara. Lagi pula dengan adanya negara based on Syariat Islam umat jadi punya kekuatan untuk bilang “YA” jika memang benar dan bilang “Tidak” jika memang salah. tidak seperti sekarang ini. Semua orang paham kalo agresi milter Israel ke Lebanon dan Palestina itu salah tapi Indonesia cuma bisa “mengecam” , apa artinya coba? . bahkan negara pusat katolik sedunia Vatikan cuma bisa mengecam saja, tidak bisa melakukan hal hal konkret yang bisa menghentikan itu semua. 🙂

  9. 9 redwar Oktober 5, 2006 pukul 1:58 pm

    Dengan dasar Pancasila aja sebenernya dah lebih dr cukup klo kita laksanain dgn bener. yg jd masalah sekarang bukan dasar negaranya tp moral warga negaranya yg ancur bgt. malah sebagian besar warga Indonesia gak layak disebut manusia…. Mana ada manusia yg makan aspal, beton, duit, yg paling parah dana bantuan bencana aja masih ditilep…. Bukan manusia kan???? Jd apapun dasar negaranya klo warganya masih berkelakuan nista kaya gitu ya PERCUMA

  10. 10 joesatch Oktober 5, 2006 pukul 10:09 pm

    aku pernah tinggal di bali, dan aku pernah merasakan sentimen warga thd org islam dalam kasus am saefudin vs megawati dulu itu…
    jd jgn pernah berpikiran egois, yg penting syariat islam tegak….pertimbangkan juga keselamatan sodara2 muslim kita di tempat yg umat islam adlh minoritas. untung aja bali ga separah ambon/poso…
    jgn bilang, “peduli amat mereka mati, yg penting syariat islam tegak. lagian itung2 mereka mati syahid!”
    pikiran sakit tuh yg kayak gitu. apa iya mereka2 pendukung berdirinya-syariat-islam-dengan-membabi-buta itu juga udah siap kalo disuruh mati skrg?
    nah, banyak faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum kita memutuskan untuk (memaksakan) menegakkan syariat islam di indonesia ini 🙂
    masalah antara manja vs harus, sekali lagi, yang harus menurut umat Y belum tentu suatu keharusan juga bagi umat X.
    buat aku sendiri sih, “aku shalat, maka aku adalah org islam.” 🙂 ada syariat islam/pun “sekedar” pancasila, aku tetap memakai al qur’an sbg pedoman hidupku

  11. 11 dejavasche Oktober 6, 2006 pukul 9:48 am

    Koq jadi rame ya….. wahhh…
    Maap deh kalo berkomentar tentang syariat islam kemarin…
    Saya rasa sih, negara ini membutuhkan suatu sistem yang bagus untuk menaungi keberagaman manusia di indonesia (kemajemukan itu… yang disebut mas joe), dan salah satu sistem yang sangat berhasil untuk menaungi itu semua dan terbukti adalah syariat Islam..
    cobalah joe baca – baca tentang syariat islam di zaman Rasulullah SAW….
    bagaimana syariat islam itu berlaku adil terhadap semua masyarakat, yang berada di bawah kekusaan Rasulullan SAW.
    Btw do know who am I ??

  12. 12 fuad Oktober 6, 2006 pukul 11:40 am

    Ajaran islam bukan cuma sholat, ajaran islam adalah ajaran yang integral laksana satu tubuh. bukanlah seorang muslim yang baik jika ia sholat tetapi tidak peduli terhadap nasib tetangganya yang kelaparan. bukan pula seorang muslim yang baik seorang yang melaksanakan rukun islam yang lima tetapi masih suka menggunjing orang lain. Ok memang ada umat islam minoritas di Bali atau di Poso. Tetapi kan penegakan syariat kan wajib bukan mubah yang bisa diterapkan atau tidak. penegakan syariat bukan maunya sekelompok manusia tetapi maunya pencipta kita “ALLAH SWT”. Apakah saat ada kendala saat akan melaksanakan sholat misal sakit bisa dibilang ya udah gak usah sholat? tidak karena itu sebuah kewajiban. Maaf kalau komentarnya nyentuh akidah islam karena saya tahu mas joe itu Islam. jadi maaf kalo ada komentator yang dari agama lain.

  13. 13 m00nray Oktober 6, 2006 pukul 2:01 pm

    tadi mau komentar, berhubung banyak bazz buzz YM jadi ilang mood, lain kali ya joe

  14. 14 joesatch Oktober 6, 2006 pukul 3:00 pm

    aku tau kok kamu itu sapa, dejavasche…kekekekekeke…
    memang syariat islam itu wajib bagi umat islam, tapi apa bagi umat X juga wajib? jelas aja mereka bakal menolak mentah2…
    ok, bagi kita itu memang wajib…tapi apakah mereka bisa menerima syariat islam sbg dasar negara? nah, itu realitanya 🙂
    kalo aku sih cuma berpikir gimana caranya supaya nggak ada gesekan antar agama. sekali lagi aku bilang, syariat islam disahkan/tidak oleh pemerintah sbg dasar negara, toh kita semua umat islam tetap bakal memakai syariat islam. yg jadi masalah cuma legalitas hukum (manusia)nya kan. kalo dengan legalitas itu justru memancing perpecahan, aku pikir tidak perlu ada legalitas.
    islam tidak akan tertawa karena dinikahi, dan tidak akan menangis karena dicerai. manusia boleh membolak-balik atau bahkan memusnahkan islam dari muka bumi ini, tapi hasilnya islam ya tetap islam. nggak bakal berubah…..termasuk dengan adanya legalitas sebagai dasar negara dari pemerintah/pun tidak 🙂

  15. 15 ctea Oktober 6, 2006 pukul 4:42 pm

    boleh gabung nggak nich??? boleh ya boleh lah
    meskipun aq nggak kenal sama yang nulis&sama yang punya blog tp… sy kira yg punya blog ini tipe org yg mengagungkan kebebasan berbicara, ya kan?:) bukan pujian lho.
    betul banget ya…,indonesia itu kan negara majemuk banyak suku, ras, budaya, dan agama. tapi, ternyata kita hanya menggunakan satu sistem tunggal, kayak yg siapa? oh ya joe bilang tadi…tak lain tak bukan SEKULARISME…
    perbedaan ternyata tdk menghalangi kita menerapkan sekularisme ya, padahal coba tanya sama semua pnddk Indonesia, emang mereka tahu sekularisme, dan emang mereka setuju sama sekularisme.
    mbah2 kita aja dulu nggak ditanyain ama pendiri sekularisme. setuju apa enggak?
    bahkan kata orang nich sekularisme ini diterapkan dengan berbagai macam penelikungan dan penipuan. apa maneh kuwi warisanne londo.
    jd menurutq kemajemukan nggak bs dijadikan alasan diterapkan ato tidakx sebuah sistem. Tapi yg harus menjadi pertimbangan adalah SISTEM MANA YANG TERBAIK?
    sekarang coba bandingkan sistem sekularisme sama Islam? mana yg lebih baik? islam sama agama lain mana yg lebih baik?atao kl mau bandingkan dengan sosialisme?(saya bicara sistem hidupx lho.mohon yg beragama bukan Islam jgn tersinggung:), krn setahuq hanya Islam yg punya sisrem hidup : gmn ngatur politik,ekonomi,soaial,keamanan,dll. Ingat tidak tahu bukan berarti tidak ada)
    mari qt telaah satu persatu
    ndak usah jauh2… sekularisme ada di depan mata kita…lihat bukti seperti apa yg dihasilkan sekularisme?(panjang nich faktax: korupsi, prostitusi, kelaparan, kesenjangan ekonomi:emang siapa biang kerokx kl bukan sekularisme?org sistem yang sekarang diterapkan itu kok. Jangan salahkan Islam wong sekarang ISlam nggak dipake kok. orang korupsi misalnya, apa krn Islam, bukankah itu krn silaunya mrk akan harta ditambah birokrasi yang dibuat berbelit-belit? )
    jangan phobi sama syariat Islam, ketika syariat diterapkan org kafir gak bakal dipaksa masuk Islam kok, bahkan akan dijamin kbbsan mrk beribadah+mrk punya hak yg sama dengan kaum muslimin. Hanya saja mrk memang haruis tunduk pada syariat yg sifatnya aturan umum, ex:ekonomi,pol,keamana, sanksi, dsb.
    Coba lihat sekarang, qt agamanya Islam sistemx sekularisme.
    kl mo th lebih banyak baca deh siroh Nabi sama sejarah ketika Islam diterapkan. Jangan liat penerapan Islam yg cuma parsial…
    Rasulullah SAW yg paling tahuu tentang Islam ternyata jg sibuk berdaqwah agar ISlam diterapkan. Kl hanya cukup diterapkan dalam skala individu ngapain coba Rasulullah susah2 menerapkan ISlam dalam skala sistem
    mohon jangan salah paham…
    wah SIC dah mau tu2p nich, kpn2 tak smbg lagi

  16. 16 joesatch Oktober 6, 2006 pukul 5:07 pm

    Real, dari sekian orang yg menanggapi postinganku, apa ada yang pernah hidup di daerah dimana muslim jadi kalangan minoritas untuk jangka waktu yg lama? Di Bali atau Marseille, misalnya…
    Dulu guru agamaku waktu SMA pernah bertanya di kelas, “Apakah kalian siap berjihad (fisik) sampai titik darah penghabisan?”
    Hampir seluruh keras berteriak, “Sangguuuuuppp…!!!” kecuali aku. Hanya aku yang menjawab tergantung!
    Kontan guruku bertanya, “Tergantung gimana?”
    Aku jawab, “Kalo misalnya keadaan satu batalyon pasukan muslim tinggal saya saja, daripada nekat bertarung dan mati konyol, lebih baik saya melarikan diri untuk kembali membentuk pasukan yang lebih kuat.”
    Nah, kita boleh heroik, menurutku, tapi juga harus cerdik. Ada saat2 yang tepat menegakkan syariat Islam di negara ini, tapi yang jelas itu bukan skrg. Alasannya kayak postinganku di atas. Jangan konyol. Lebih baik benahi dulu moral masyarakatnya baru berpikir ttg sistem kenegaraan. Nabi SAW aja berjuang memperbaiki moral masyarakat Mekkah dahulu sebelum hijrah ke Madinah 🙂

  17. 17 benykla Oktober 7, 2006 pukul 11:42 am

    joe numpang comment ya..alhamdulillah saya ini terlahir sebagai muslim..dan semangkin gede saya makin ngerti bahwa syariat islam emang bener-bener menyeluruh dan adil. Kalo dibandingin ama sistem ekonomi sekarang ini. ya mungkin ya dulu aku juga mikir kaya kamu. kok berat dll, tapi setelah saya bandingin ama yang laen kok bene Islam itu bener bener indah dan damai, adil…hmm salam kenal ya joe dari seorang tholiban di engineering gmu.

  18. 18 joesatch Oktober 7, 2006 pukul 4:04 pm

    benykla:::
    berat? yg dimaksud berat dari segi apanya neeh? kalo dari segi ibadahnya, oho…saya sama sekali tidak berpikir demikian 🙂
    aku cuma berat kalo syariat islam dijadiin dasar negara untuk masa skrg. cuma bakal memperbanyak orang-islam-munafik-yang-make-syariat-cuma-supaya-nggak-kena-sanksi.
    dan, aku juga memikirkan gimana nanti nasib sodara2 kita yg seiman yg hidup di daerah minoritas.
    ttg seluk-beluk syariat islam, saya sama sekali nggak ada keraguan di dalamnya. cuma saya sedikit ragu kalo hal itu dipaksa diaplikasikan juga kepada umat-umat di luar islam. apakah iya mereka bakal bisa menerima atau tidak….diluar keyakinan saya kalo syariat islam itu memang yg terbaik buat semua umat manusia.
    salam balik dari seorang humanis di comp-sci gmu 🙂

  19. 19 m00nray Oktober 10, 2006 pukul 8:29 am

    oke sekarang mood gue lagi baik. Pren, gue cuman sedikit memandang permasalahan ini dari sudut pandang lain.
    Sekarang aku lihat dari sudut pandang Joe,
    Pendapat Joe ada benernya, memang mungkin kondisi masyarakat kita BELUM siap sepenuhnya untuk menerima syariat Islam. Kenapa?? untuk mengetahui jawabannya, sekarang aku mau nanya,
    1.menurut kalian, penting nggak sih kesatuan indonesia itu??
    2.menurut kalian di dunia ini, bisa nggak sih secara kenyataan negara negara (bermayoritas) Islam di dunia ini bersatu untuk membentuk yang namanya Khilafah Islamiyah(sorry kalo salah nulis), nggak saling perang gontok gontokan sendiri??

    Dari pertanyaan pertama,
    kalo jawaban kalian penting. menurut kalian, mungkin nggak kalo kita menerapkan syariat Islam di Indonesia, Papua itu bakal melepaskan diri, Ambon bakal perang saudara, Sulawesi, Bali lepas, NTB, NTT, Jawa perang saudara, sumatra perang saudara, CUMA karena orang Non Islam pengen juga menerapkan “Syariat” mereka masig masing. mungkin nggak?? jawabannya MUNGKIN BANGET, so jika sampe pada tahap ini, penting nggak persatuan Indonesia bagi kalian??

    Kalo jawabannya nggak penting, Paksakan Syariat Islam dan artinya kalian akan mengesampingkan pecahnya daerah daerah tersebut, perang saudara dll, terus yang disalahin siapa??jatuh korban berapa??menang jadi arang kalah jadi abu, saudaraku. negara lain cuman akan tertawa melihat kita. siapa yang akan menolong ??mungkinkah akhirnya syariat Islam akan berdiri?? menurut saya Susah sekali, sebab apa, kita akan kalah perang Saudaraku, Teman yang Non mendapat Back Up dari negara2 besar yang notabene senang sekali kalo indonesia pecah, mereka jelas sekali bukan mendukung orang islam, sedangkan apakah negara2(mayoritas) Islam akan membela kita?? paling banter mengecam, menghujat, tapi nggak ngapa2in.

    Untuk nomer dua jawabannya adalah Kemungkinannya kecil saudaraku. Mereka lebih mementingkan gimana caranya survive di tengah politik dan kekejaman di dunia ini. gimana agar negara mereka nggak hilang, gimana biar masyarakat(ato pejabat :D) mereka bisa makmur.

    so, kenapa aku tadi jawab masyarakat kita BELUM siap. Gimana biar siap?? saya yakin kalian lebih tau jawabannya, kalo menurut aku sih, didik generasi penerus biar Islami, tanamkan pada diri kita bahwa kita harus bisa menerima perbedaan, rangkul saudara kita yang non muslim, berikan pengertian kepada mereka tentang syariat islam, kalo sudah mantep, silahkan pake itu syariat ISlam

    Sekarang kita bicara realita. bukan idealisme. Mungkin nggak waktu jaman dulu Nabi Muhammad SAW baru ditunjuk bahwa dia seorang utusan Allah langsung bicara sama penduduk Mekkah,”Ayo kita pakai syariat Islam”?? yo jelas ngak, dia bentuk moral dulu, cari pengikut yang loyal dulu, baru pake itu syariat, bukan begitu Joe.
    Sorry kalo aku salah memahami Siroh.
    Sorry kalo pendapatku ini berbeda dengan kalian. Semua pernyataan diatas adalah pendapat pribadi dan tidak mewakili golongan atau kelompok apapun.
    Mari kita belajar menerima perbedaan, dan belajar bagaimana perbedaan itu menjadi ebrkah buat kita semua. PErbedaan itu indah saudaraku

    Haduh joe, ngomongku kok abot temen ya. deneng aku malah dadi kaya pejabat baen ya??

  20. 20 joesatch Oktober 10, 2006 pukul 2:49 pm

    koen kesurupan apa, nan?
    huekekekekekekeke…
    yah, paling tidak ada perkembangan lah. jangan jadi sarjana komputer yg memalukan 🙂

  21. 21 moonray Oktober 11, 2006 pukul 7:24 am

    lha mbuh ki joe, pirang dino iki kesurupan, koe arep tak jak nonggo ning forum sebelah kon melu comment. malah ra tau ketok.piye jal.

  22. 22 joesatch Oktober 11, 2006 pukul 12:34 pm

    hehehehe..kalem…kalem…aku sulit berpikir kalo perutku kosong soale, huehehehehe….

  23. 23 puspoheriyanto Oktober 12, 2006 pukul 9:48 am

    Saya kok jadi inget dan setuju sama petuahnya AA Gym : Mulailah dari hal yang kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang. …

  24. 24 iyem Oktober 12, 2006 pukul 10:03 am

    Eh sorry td malem ga jd tlp… bnyk temen yg pd maen ke rumah…

  25. 25 fauzansa Oktober 12, 2006 pukul 11:39 am

    “Agama itu hal yang peka. Sensitif. Kalau kita menganut suatu agama tertentu, serta-merta kita pasti bakal menolak kalau ada orang yang mengharuskan kita memakai aturan hidup seperti tuntunan agama yang tidak kita anut. Walaupun sebenernya tuntunan itu mungkin maksudnya baik, tapi gengsi keagamaan kita pasti bakal langsung menolak: “Nggak bisa. Itu aturan agamanya dia. Bukan dari agama kita!””

    Anda berkata seperti itu dalam artikel tentang UU APP. Saya akan jelaskan masalah ini dengan analogi yang sederhana. Kalo ada seorang ayah yang memarahi anaknya karena makan permen, dan tiba-tiba tetangganya bilang, “mbok kamu tuh jangan melarang anakmu makan permen.” apa pendapat anda? Urusan makan permen atau tidak itu adalah urusan keluarga, urusan cara mendidik seorang ayah kepada anaknya. Tidak berhak seorang tetangga ikut campur masalah ini. Sama juga dengan syari’at Islam. Yang dihukum rajam, potong-tangan, cambuk, dll cuma orang Islam. Harap anda ingat itu. Jadi, yang anda katakan di atas tidak tepat. Dalam Islam, warga negara selain Islam diberi kebebasan untuk menentukan hukum mereka sendiri, kecuali mereka berbuat jahat terhadap orang muslim. Jadi, aturan berjilbab itupun buat para perempuan muslim, bukan yang lain. Lagipula kebebasan menentukan hukum sendiri bagi masing-masing agama adalah toleransi paling tinggi, tidak ada yang lebih tinggi, dalam masalah kehidupan beragama.

    “Penerapan syariat Islam di Indonesia saat ini menurutku justru bakal jadi ajang kemunafikan!”

    Orang itu dihukumi berdasar keadaan luarnya saja. Hampir sama seperti perkataan mas Fuad, masalah munafiq memang menjadi masalah hati. Tapi, secara hukum formal, syari’at Islam telah mengatur demikian. Misalnya, ketika berhenti di lampu merah, ada yang karena takut polisi dan ada yang karena sadar kewajiban pengguna jalan. Namun, polisi hanya melihat apa yang ia lihat. Berhenti didiamkan, melanggar disemprit. Orang munafiq, sejak dahulu sudah ada, dan ketidaksukaan anda akan kemunafiqan tidak berarti membolehkan seseorang melanggar syari’at.

    “Dari dulu aku berpendapat bahwa hubungan antara manusia dengan Tuhan itu urusan tiap individu. Negara nggak berhak mencampuri, karena toh nantinya di akhirat kita semua dimintai pertanggungjawaban perbuatan kita secara pribadi tanpa perlindungan sedikitpun dari negara.”

    “nek aku ya tetap kayak pendapatku semula, kita tetap pada pedoman kita aja. jgn njagakke negara buat ngurusi. jgn manja! org2 islam di USA atau UK aja juga bisa survive tanpa diurusi negara mereka kok.”

    Masalahnya, dalam Islam, konsep negara itu termasuk dalam urusan agama. Tidak ada pemisahan antara urusan negara dan urusan agama. Karena, cara bernegara (tidak hanya akhlaq seorang pemimpin, tapi sekaligus juga sistem dan undang-undangnya) itu sudah diatur oleh Islam. Sebagai contoh, zakat dan hudud (hukum Islam) itu adalah kewajiban muslim yang tanggung jawab pelaksanaannya harus dilakukan oleh negara. Kalo tidak ada itu, maka kewajiban itu tidak bisa dilaksanakan. Karena itu, negara juga harus tunduk pada syari’at Islam.

    “Mendingan kayak sekarang aja deh, menurutku. Yang bejat ya bejat aja, bajingan ya bajingan aja. Nggak usah berusaha pura-pura alim.”

    Kalo gitu, ya udah. Yang maling tetep maling. Yang rampok tetep rampok. Biarin aja nggak usah ditangkep. Nggak peduli siapa yang dirugikan. Entah ada orang yang memperkosa saudara perempuan kita, ato ada yang membunuh anda, biarin aja. Daripada mereka jadi orang munafiq. Tidak melakukan kejahatan hanya karena takut aparat, bukan karena kesadaran keislamannya.

    “Kita harus berterimakasih pada mereka yang sudah menyediakan medan bagi kita untuk menguji iman.”

    Kalo begitu, nabi Muhammad tidak perlu berdakwah sama orang kafir Quraisy dong, toh itu jadi ujian bagi iman beliau. Ngapain beliau sampe repot-repot dicaci-maki bahkan diperangi segala?

    “Penerapan syariat islam, jika itu dalam lingkup hukum muamalah(hubungan antara manusia dengan sesama atau lingkungan) maka berlaku bagi setiap orang baik itu muslim maupun non muslim. jadi kalo ada orang non muslim zina ya tetap di cambuk.” -> from fuad

    Untuk yang ini saya tidak sepakat. Hukum Islam yang mengikat individu hanya berlaku untuk orang Islam saja. Kecuali, jika umat lain berinteraksi dengan orang Islam, maka yang berlaku hukum Islam. Misalnya, umat agama lain arep wong wadone wudha mblejet ra masalah, yang penting jangan sampai memberi kesempatan orang Islam bisa melihatnya. Kalo sampai hal itu terjadi, maka berlaku hukum Islam.

    “Nah, kita boleh heroik, menurutku, tapi juga harus cerdik. Ada saat2 yang tepat menegakkan syariat Islam di negara ini, tapi yang jelas itu bukan skrg. Alasannya kayak postinganku di atas. Jangan konyol. Lebih baik benahi dulu moral masyarakatnya baru berpikir ttg sistem kenegaraan. Nabi SAW aja berjuang memperbaiki moral masyarakat Mekkah dahulu sebelum hijrah ke Madinah :)”

    Lho, bukankah umat Islam sekarang mayoritas? Jadi, buat apa takut menegakkan syari’at Islam untuk diri mereka sendiri? Kalo masalah siap tidak siap, khan ada mekanisme yang namanya demokrasi. Di situlah kita bisa mengukur kesiapan umat sendiri terhadap syari’at Islam. Untuk saat sekarang, kampanyekan terus menerus syari’at Islam. Yang anda kampanyekan malah justru anti syari’at Islam. Itu justru akan melemahkan kesiapan umat yang anda harapkan tadi. Mereka justru jadi semakin takut dengan syari’at Islam. Kalo anda menunggu kesiapan masyarakat, anda seharusnya ikut menyiapkan masyarakat, bukan malah menakut-nakutinya. Jadi, menurut saya harusnya anda sekarang berpendapat mendukung syari’at Islam. Paragraf di atas jelas menunjukkan hal itu.

  26. 26 joesatch Oktober 12, 2006 pukul 1:00 pm

    Lho, bukankah umat Islam sekarang mayoritas? Jadi, buat apa takut menegakkan syari’at Islam untuk diri mereka sendiri?===>ini yang aku bilang (agak) arogan sbg mayoritas 🙂

    seperti pertanyaannya mas hanan, apakah persatuan indonesia itu penting bagi kalian?

    ikut menyiapkan masyarakat, ya? setidaknya saya melakukan yg saya bisa. saya mengunjungi tempat2 yang tidak bakal dikunjungi oleh mereka-mereka yg ngakunya rohis. apakah mereka pernah mendekati orang-orang yg kerjanya ke hugos’/tj’s? saya dekat dgn mereka, alhamdulillah masih punya “sedikit” niatan untuk berdakwah 🙂 ngapain juga berdakwah sama orang2 yang sudah alim? ya tho?

    yg harus kita lakukan kalo pgn syariat islam diterima adalah bukan propaganda-propaganda arogan yg sering saya liat posternya ditempel di kampus2 saya…sama sekali jauh dari kesan simpatik! itu yg saya tangkap ketika menggunakan kacamata seorang desainer grafis 🙂

    Masalahnya, dalam Islam, konsep negara itu termasuk dalam urusan agama. Tidak ada pemisahan antara urusan negara dan urusan agama. Karena, cara bernegara (tidak hanya akhlaq seorang pemimpin, tapi sekaligus juga sistem dan undang-undangnya) itu sudah diatur oleh Islam. Sebagai contoh, zakat dan hudud (hukum Islam)===>bukankah ini sudah kita lakukan sekalipun tanpa pengesahan sbg dasar negara? 🙂

    Kalo gitu, ya udah. Yang maling tetep maling. Yang rampok tetep rampok. Biarin aja nggak usah ditangkep. Nggak peduli siapa yang dirugikan. Entah ada orang yang memperkosa saudara perempuan kita, ato ada yang membunuh anda, biarin aja. Daripada mereka jadi orang munafiq. Tidak melakukan kejahatan hanya karena takut aparat, bukan karena kesadaran keislamannya.===> mana yg lebih buruk? rampok yg keliatan alim atau rampok yg tampangnya memang rampok? mana yg bisa lebih menstimulus kita untuk meningkatkan kewaspadaan?

    Kalo begitu, nabi Muhammad tidak perlu berdakwah sama orang kafir Quraisy dong, toh itu jadi ujian bagi iman beliau. Ngapain beliau sampe repot-repot dicaci-maki bahkan diperangi segala?===> sudah saya jawab sebelumnya menanggapi komentar mas fuad. silahkan dicek lagi 🙂

    Misalnya, umat agama lain arep wong wadone wudha mblejet ra masalah===>lho kok berlawanan dgn pernyataan mas barusan? tadi katanya yg kayak gini jgn dibiarin?

  27. 27 joesatch Oktober 12, 2006 pukul 1:03 pm

    Teman-teman…tolong ya….yg saya takutkan akhirnya terjadi: saya dicap sbg penentang syariat islam deh, kayaknya 🙂
    tolong ya….saya disini sedang bicara realita, bukan idealisme. realitanya, apakah teman2 berani berteriak ttg tegaknya syariat islam kalo temen2 tinggal di bali, bukan di jokja? mati konyol namanya!

  28. 28 fauzan.sa Oktober 13, 2006 pukul 1:17 pm

    “Lho, bukankah umat Islam sekarang mayoritas? Jadi, buat apa takut menegakkan syari’at Islam untuk diri mereka sendiri?===>ini yang aku bilang (agak) arogan sbg mayoritas”

    Bukan arogan mas, tapi memang lebih mudah melaksanakan sesuatu kalo kita sudah mayoritas. Penegakan hukum Islam secara lengkap di Madinah juga terjadi ketika Islam sudah mayoritas. BTW, masalah syari’at Islam ini khan masalah internal agama, jadi menurutku tidak berhak kalo ada umat agama lain yang turut campur dalam masalah ini. Mereka yang harusnya dipertanyakan toleransi beragamanya jika sampai menolak syari’at Islam. Urusane apa?

    “Masalahnya, dalam Islam, konsep negara itu termasuk dalam urusan agama. Tidak ada pemisahan antara urusan negara dan urusan agama. Karena, cara bernegara (tidak hanya akhlaq seorang pemimpin, tapi sekaligus juga sistem dan undang-undangnya) itu sudah diatur oleh Islam. Sebagai contoh, zakat dan hudud (hukum Islam)===>bukankah ini sudah kita lakukan sekalipun tanpa pengesahan sbg dasar negara?”

    Lho, sudah gimana? Ya jelas belum tho. Perintah Allah pada pemimpin adalah untuk mengambil zakat, bukan untuk memfasilitasi zakat. Zakat memang sudah diatur, tapi belum mencukupi karena seharusnya pemerintah mewajibkan zakat. Begitu juga dengan masalah pidana Islam. Pelaksanaan cambuk, rajam, dan potong tangan hanya boleh dilaksanakan oleh pemerintah, bukan oleh individu. Karena itu, mau tidak mau formalisasi syari’at Islam harus diterapkan di Indonesia. Tidak boleh dilaksanakan hanya sebagian saja.

    “mana yg lebih buruk? rampok yg keliatan alim atau rampok yg tampangnya memang rampok? mana yg bisa lebih menstimulus kita untuk meningkatkan kewaspadaan?”

    That’s not the problem. Kita sebagai orang Islam wajib untuk melaksanakan syari’at Islam ini di lingkup pemerintahan. Jika kita menolak, maka kita berdosa. Dengan begitu, alasan munafiq tidak bisa diajukan karena memang seharusnyalah kita menerapkannya. Dan, memang begitulah Rasulullah mencontohkan kita. Hukum Islam diterapkan di Madinah karena Allah telah menurunkan perintah untuk itu. Walaupun Rasulullah juga tahu bahwa akan ada orang-orang munafiq yang pura-pura menaatinya.

    “Kalo begitu, nabi Muhammad tidak perlu berdakwah sama orang kafir Quraisy dong, toh itu jadi ujian bagi iman beliau. Ngapain beliau sampe repot-repot dicaci-maki bahkan diperangi segala?===> sudah saya jawab sebelumnya menanggapi komentar mas fuad. silahkan dicek lagi 🙂

    Misalnya, umat agama lain arep wong wadone wudha mblejet ra masalah===>lho kok berlawanan dgn pernyataan mas barusan? tadi katanya yg kayak gini jgn dibiarin?”

    Gini lho mas. Tidak ada paksaan dalam agama. Jadi, dalam sebuah negara Islam, tidak boleh ada aturan yang memaksa umat beragama lain untuk mengikuti syari’at Islam. Jadi, pernyataan wudha mblejet kuwi mau dalam konteks hukum. Aturan hukumnya, umat beragama lain boleh punya hukum sendiri dalam negara Islam.

    Sedangkan masalah membiarkan, itu beda lagi. Konteksnya adalah konteks dakwah. Sedangkan dakwah tidak pernah dilakukan dengan jalan paksaan, melainkan secara persuasif. Jadi, kita memang tidak menghukum mereka karena mereka kafir, karena Allah yang akan menghukum mereka. Tapi, arti tidak membiarkan adalah kita berdakwah kepada mereka dengan cara yang lembut, bukan dengan paksaan.

  29. 29 Arif Oktober 13, 2006 pukul 1:21 pm

    Syariat Islam itu terdiri dari tiga hal yaitu, ibadah, inayah (pidana) dan muamalah. Kalau Anda sholat dan bayar zakat, itu baru ibadah saja. Belumlah komplit Anda sebagai orang Islam karena masalah jinayah dan muamalah belum dilaksanakan.

    Ibadah hanya diberlakukan kepada orang Islam tetapi jinayah dan muamalah berlaku umum.

    Saya pro syariat Islam.

  30. 30 fauzan.sa Oktober 13, 2006 pukul 1:31 pm

    Oh ya ada yang lupa.

    Mas Joe berbicara soal realita. Kalo realitanya, saya setuju jika syari’at Islam diterapkan sekarang, maka akan membuat goncangan yang sangat besar bagi umat Islam sendiri. Nah, dengan begitu, memang syari’at Islam tidak bisa serta merta diterapkan sekarang. Realitanya, untuk menerapkan syari’at Islam, kita harus memenangkan lobi-lobi demokrasi di tingkat parlemen. Demokrasi adalah cara yang paling bagus untuk mengukur tingkat kesiapan masyarakat. Kalo suatu saat MPR setuju untuk menggunakan syari’at Islam, barulah yang namanya idealita itu sama dengan realita.

    Saya tahu mas Joe tidak anti terhadap syari’at Islam. Masalahnya, syari’at Islam itu harus diopinikan dan dipropagandakan sejak sekarang. Agar nantinya tidak kelamaan kita menunggu jalur demokrasi. Demokrasi intinya adalah perang opini. Jika anda menolak syari’at Islam, itu akan jelek bagi usaha penerapan syari’at Islam di masa datang. Karena itu walaupun memang sekarang keadaannya belum memungkinkan (dan dibuktikan oleh demokrasi) yang harus dinyatakan adalah persetujuan dan kampanye terhadap syari’at Islam, bukannya penolakan.

  31. 31 Lestina Oktober 24, 2006 pukul 3:11 am

    Anda naif kawan. Anda mengatakan bahwa anda tak ingin jadi orang munafiq. Tapi dengan penolakan anda diterapkannya syariah Islam itu sudah ciri-ciri besar orang munafiq, bahkan lebih dari itu.Anda mengaku bertuhankan Allah tapi menolak hukumnya, itulah munafiq yang sebenarnya. Dalam Al-Qur’an Al-Baqarah 44,45,47 Allah telah mencap fasiq, zalim dan kafir atas orang-orang yang menolak hukum-hukum Allah diterapkan. Silahkan buka Al-Qur’an, dan temukan ciri itu dalam diri anda. Selamat berfikir…

  32. 32 joesatch Oktober 25, 2006 pukul 9:26 am

    Saya pikir, jalan panjang menjadi bajingan yg sedang saya rintis semakin dekat menuju garis finish, huehehehe…
    Lestina, saya sarankan baca blog saya yg judulnya “Jalan Panjang Menjadi Bajingan” 🙂 Karena saya justru dengan senang hati menerima segala cap jelek dari sesama manusia.

  33. 33 Lia Oktober 31, 2006 pukul 11:14 am

    salut pada anda! Indonesia perlu manusia manusia yang bisa berpikir kritis seperti anda!
    Jujur, saya sangat pesimis terhadap perkembangan Indonesia, tapi orang2 seperti andalah yang membuat saya yakin bahwa masih ada harapan di Indonesia.

    My best wishes to you.

  34. 34 GP November 3, 2006 pukul 1:36 am

    Ngomong2x soal syariat Islam, harus diperjelas dulu yg mau diterapin syariat islamnyanya ala siapa ya? syiah? sunni? NU? Muhammadiyah? FPI? Ngruki? MMI? Jangan sampai nanti udah diterapin berantem lagi karena beda penafsiran syariatnya.

  35. 35 joesatch November 5, 2006 pukul 11:43 am

    Lia:::
    Aku jadi pengen malu… ^_^

    GP:::
    Nah, itulah dia… Wong di level grassroot aja NU sama Muhammadiyah masih suka ribut. Gimana mau make syariat Islam kalo kita sendiri masih suka bertengkar perkara mahzab!

  36. 36 abdulsomad Februari 8, 2007 pukul 5:38 pm

    Terapkan dulu Syareat Iskam dalam diri kita masing, masing.
    Agama bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk DIAMALKAN.
    Saat ini ummat Islam dalam kondisi IMAN yang minus.. dibawah NOL, yang kita perlukan adalah usaha untuk meningkatkan IMAN.

  37. 37 Ri2n_meow Juli 30, 2007 pukul 8:58 pm

    Tegakkan syariat Islam…

    bukti nyata kita kita menaati ajaran yang dibawa Rasulullah!

  38. 38 Shelling Ford Juli 31, 2007 pukul 2:33 pm

    Ri2n_meow:::
    syariat islam versi yang mana, mbak? NU? muhammadiyah? sunni? syi’ah? jamaah tabligh? salafiyah? atau malah punya alternatif lain? yang mana mbak? 😉
    wong umat islam aja nggak satu suara kok mau negakin syariat islam, hehehehe

  39. 39 ri2n_meow Januari 18, 2008 pukul 7:45 pm

    syariat islam yang versi rasulullah dunk… yang mana lagi??

    mmnya ada agama baru lagi ya??

  40. 40 devson Februari 12, 2009 pukul 2:50 pm

    ini lah ciri khas umat muhammad di akhir jaman,ketakutan akan syariat yang udah dia syahadatkan sejak ia mengaku islam maka pantaslas teman-teman iblis pengisi neraka dari umat muhammad adalah 999 /1000 dari umat muhammad,manusia penakut,mau enaknya sendiri,tidak peduli dengan umatnya,ada yang berzina di diamkan saja,tutup mata,tutup telinga,tutup mulut jika itu bukan keluarga sendiri,ghibah dimana-mana
    budaya menceritakan aib orang di kumandangkan lebih rutin ketimbang azan sholat itu sendiri,aku malu jadi umat muhammad saat ini,tanganku di kekeang,mulutku di bekap bahkan hatiku pun di buat berkata “kayaknya tuhan g peduli umat muhammad”


  1. 1 Dagelan Aktivis Dakwah: Syariat! Syariat! Pokoknya Syariat Islam! « The Satrianto Show! Lacak balik pada Juni 14, 2007 pukul 9:40 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,056,257 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

Oktober 2006
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia