Anti Pornografi dan Pornoaksi?

Huehehehe! Nggak apa-apa kok, kalau ada yang menilai aku telat nulis pandanganku tentang hal ini. Tapi aku juga punya sedikit pembelaan kenapa hal ini baru kusinggung sekarang. Ya, apalagi kalau bukan baru sekarang ini aku bisa bikin blog.

Jadi ceritanya gini: Aku sangat amat sangat jarang pulang ke Solo, entah itu pulang ke Turisari, ke Kestalan, atau malah ke Sukoharjo (yang terakhir ini sebenernya nggak layak disebut Solo). Dan beberapa tempo yang lalu (amat sangat lalu), waktu pulang ke Solo, secara kebetulan aku nonton infotainment yang isinya tentang para artis yang ramai turun ke jalan minta supaya RUU APP tidak disahkan. Maka, memandang jabatanku dulu yang sempat ngetop di kalangan keluargaku sebagai aktivis kampus, budheku tiba-tiba nanya apa pendapatku tentang hal ini. Akupun menjawab aku tidak setuju dengan RUU APP.

Sebenernya bukan gitu, Sobat. Aku bukannya nggak setuju sama sekali. Itu cuma sekedar trik diplomasi aja. Sedikit aku ceritakan, keluarga dari pihak bapakku mungkin memang Islam, tapi Islamnya cenderung ke arah Islam liberal, yang kadang-kadang malah sempat menganggap bahwa berjilbab adalah suatu keanehan. Jadi, daripada berdebat lama-lama, akhirnya aku putuskan aja buat menjawab kalau aku tidak setuju dengan RUU APP.

Nah, sekarang aku mulai menulis pandanganku tentang RUU APP!

Sejujurnya aku berada dalam kondisi yang “nothing to lose”. Mau disahkan monggo, nggak ya juga nggak apa-apa, tapi tetap ada beberapa kondisi yang harus dipenuhi. Selanjutnya mari kita bahas satu-satu aku sayang ibu (beneran kok, aku sayang ibuku!).

Yang pertama, aku bisa menerima tidak disahkannya RUU APP karena aku memandang Indonesia ini negara majemuk. Yang tinggal di sini bukan cuma orang-orang yang di KTP-nya tertulis sebagai penganut Islam, masih banyak yang lain. Kesannya ya agak gimana gitu kalau hukum Islam diterapkan di sini. Aku sama sekali nggak meragukan hukum Islam itu nggak cocok, lha wong aku sendiri di KTP-ku masih tertulis Islam, kok. Cuma ya, agama itu hal yang sensitif. Aku takut justru umat Islam yang di Indonesia dianggap sok-sokan. Sok banyak, sok berkuasa, dan segala macam jenis sok lainnya gara-gara pengen menerapkan 1 jenis peraturan baru aja. Dianggap nggak peka dengan umat yang lain.

Agama itu hal yang peka. Sensitif. Kalau kita menganut suatu agama tertentu, serta-merta kita pasti bakal menolak kalau ada orang yang mengharuskan kita memakai aturan hidup seperti tuntunan agama yang tidak kita anut. Walaupun sebenernya tuntunan itu mungkin maksudnya baik, tapi gengsi keagamaan kita pasti bakal langsung menolak: “Nggak bisa. Itu aturan agamanya dia. Bukan dari agama kita!”

Lho, kan belum dicoba? Kalau belum dicoba bagaimana bisa ketahuan baik atau enggaknya?

Halah…sama aja! Orang Islam diharamkan makan daging babi. Umat lain membolehkannya, bahkan mengatakan babi itu enak atau malah mungkin berkhasiat. Buat umat lain daging babi itu positif, tapi toh umat Islam tetap aja nggak bakalan mau kalau disuruh makan daging babi. “Lho, kan kamu belum nyoba daging babi itu enak plus berkhasiat atau enggak. Gimana kamu bisa tahu kalau kamu nggak nyoba?” Lha, sama aja kan pada akhirnya? Ego keagamaan kita pasti menolak kalau kita disuruh hidup dengan hukum agama lain yang tidak kita anut, lepas dari masalah menurutku daging babi memang nggak ada mangpa’atnya.

Nah, kasusnya disitu. RUU APP itu kesannya di mata umat lain sudah terlanjur seperti sebuah hukum Islam yang coba dipaksakan oleh pemerintah kepada mereka. Ya jelas aja mereka nolak mati-matian.

Dan selanjutnya, kenapa aku setuju? Simpel, lha wong di KTP-ku juga tertulis aku ini orang Islam, kok.

Cuma, aku agak kecewa aja ketika ada seorang artis yang dengan lantangnya bersuara, “Kalau ada laki-laki yang terangsang dengan goyangan kami, itu salahnya sendiri kenapa dia terangsang. Jangan salahkan kami, dong. Mereka-mereka aja yang pikirannya terlalu mesum.”

Wakakakakakaka! Artis-artis seksi kita itu nggak mikir ‘po? Mereka ngomong kayak gitu itu disiarin ke seluruh penjuru nusantara lewat tivi. Mereka dengan lantangnya berteriak sok cerdas padahal menggunakan analogi orang goblok!

Sekarang aku tanya, kalau di rumah kita ada bangkai (anggap aja jelas-jelas ada) tikus yang menurut adik-ibu-bapak-kakak-pembantu kita baunya menyengat sekali dan sangat mengganggu, sementara kita nggak terlalu terganggu, nah apakah kita tega menyalahkan hidung segenap anggota keluarga kita? Apa kita berani ngomong, “Yang salah itu hidung kalian, bukan bangkainya. Salahnya sendiri punya hidung terlalu sensitif.”? Hayo, apa kita bakal berani ngomong kayak gitu?

Contoh lainnya, kita (ini sudut pandangku sebagai seorang cowok) perokok, tapi pacar kita nggak suka perokok dengan alasan kebiasaan kita ngganggu pernafasannya. Apa iya ketika dia protes kita bakal ngomong, “Yang salah itu pernafasanmu, Dest. Nggak ada masalah dengan Djarum Super-ku, kok.” Maka jangan memaki takdir kalau besok harinya kita dicampakkan.

Ha, mbok dipikir tho, Mbak-mbak. Yang namanya ereksi, lajel, ngaceng, terangsang, itu sudah kodratnya laki-laki normal kalau ngeliat perempuan pake busana minim apalagi ditambah dengan goyangan yang punya potensi bikin “muncrat”! Mau menyalahkan kodratnya laki-laki juga? Lama-lama kalian semua bakal menyalahkan Tuhan!

Terus ditambah dengan kontroversi majalah Playboy. Ini yang aku sebut sebagai “beberapa kondisi yang harus dipenuhi” tadi. RUU APP nggak masalah nggak disahkan, tapi kegiatan yang berpotensi menimbulkan gejolak syahwat tetap harus dalam pengawasan ketat.

Aku belum pernah liat yang edisi Indonesia memang. Tapi yang aku tau, standar Playboy di Amerika….yah, kita semua taulah kayaknya. Tentang Playboy sendiri, aku setuju kalau majalah-majalah kayak gitu dilarang beredar di Indonesia. Dan jangan langsung nyacat aku sebagai orang yang sok alim.

Pendapat obyektifku sama dengan pendapat ulama-ulama tradisional. Playboy itu berbahaya bagi moral anak-anak Indonesia. Jadi jangan dibiarkan BEREDAR BEBAS!

Di sini aku menekankan pada kata-kata “beredar bebas”. Aku bukan orang sok alim yang sok-sokan nggak suka dengan isi majalah Playboy. Aku cowok normal, Bol. Jelas aja aku suka. Lha wong aku juga masih suka nyepep (wekwekwek!). Aku cuma pengen menekankan, kalau pemerintah kita melarang majalah Playboy, artinya menurutku mereka sudah berada di rel yang benar. Playboy tidak sesuai dengan adat ketimuran kita (yang ironisnya sudah semakin terlupakan dengan adanya intervensi budaya barat). Ketika orang-orang mendapatkan Playboy secara ilegal dan personal, kasus kita kembalikan pada masing-masing individu. Terserah mereka. Dosa atau bukan, itu masalah tiap individu dengan Tuhan mereka masing-masing. Yang penting pemerintah sudah menjalankan tugasnya. Lagian, kalau kita mendapatkan akses porno secara legal, keasyikannya justru berkurang, menurutku. Nggak ada nilai juangnya. Nggak ada seninya. Hal-hal yang kita dapatkan dengan perjuangan selalu lebih berharga dan bernilai. Kadar kepuasannya juga akan beda, hehehehe.

Akhirul kalam, aku cuma mau ngomong, mungkin ilmu perbandingan agamaku masih minim banget. Tapi sampai sekarang, yang aku tau, nggak ada satu agamapun yang diakui di Indonesia yang membolehkan umatnya mengumbar auratnya untuk dijadikan santapan publik.

Sekali lagi, menurutku hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan seksual itu sakral. Privasi. Makanya sampai sekarang pun aku tetap lebih suka nonton sepep sendirian daripada rame-rame. Itu aja.

Iklan

7 Responses to “Anti Pornografi dan Pornoaksi?”


  1. 1 tamu Oktober 4, 2006 pukul 3:48 pm

    setuju sekali!!
    mau disahkan alhamdulillah mau tidak disahkan juga g ngaruh bwt kita (seharusnya)
    kita kan sudah punya undang2 yang sempurna yg g mungkin diamandemen,Al-Qur’an..
    yang jelas kalo kita bwt maksiat,jangan nyalahin orang lain..
    setan aja g mau disalahin…liat Ibrahim 20

  2. 2 mrlekig Juli 12, 2007 pukul 11:07 pm

    siapapun (yg normal) tidak akan setuju dengan pornoaksi dan pornografi, masalahnya adalah isi undang-undang itu. di Bali jaman dulu (sampai sekarang juga masih), ada banyak ibu2 yg bertelanjang dada, terutama di pedesaan, tetapi jarang kok ada pemerkosaan, bahkan tidak ada. kenapa bisa begitu?

    sebaiknya isi undang-undang itu harus dibahas dengan lebih seksama oleh yang berwenang bersama para pemuka agama, tokoh masyarakat terutama yg ada di daerah2, karena semuanya sangat relatif alias tergantung.

    di kota tidak sama dengan di desa, apalagi kalau sudah bicara agama, pasti ribet jadinya..

  3. 3 Shelling Ford Juli 13, 2007 pukul 10:38 am

    tamu:::
    karena itu saya nggak mau maksiat rame2. nggak enak soale kalo dosa aja pake ngajak2 orang

    mrlekig:::
    errr…sensitif! that’s it 🙂

  4. 4 Samin Oktober 15, 2008 pukul 1:43 am

    Lah wong di Al’Quran ada kok kisah yang menceritakan hubungan porno.

    Apa berarti nanti Al’Quran juga dilarang beredar?

  5. 5 Samin Oktober 15, 2008 pukul 1:46 am

    Sahih Bukhari: Volume 5, Book 59, Number 459:
    Juga Hadis Sahih Bukhari Vol. 5-#459
    Dikisahkan oleh Ibn Muhairiz:
    Aku masuk ke dalam mesjid dan melihat Abu Khudri dan lalu duduk di sebelahnya dan bertanya padanya tentang coitus interruptus (Al-Azl). Abu berkata, “Kami pergi bersama Rasul Allah untuk Ghazwa (penyerangan terhadap) Banu Mustaliq dan kami menerima tawanan2 perang diantara para tawanan perang dan kami berhasrat terhadap para wanita itu dan sukar untuk tidak melakukan hubungan seksual dan kami suka melakukan coitus interruptus. Maka ketika kami bermaksud melakukan azl/coitus interruptus kami berkata: “Bagaimana kami dapat melakukan coitus interruptus tanpa menanyakan Rasul Allah yang ada diantara kita?” Kami bertanya padanya tentang hal ini dan dia berkata: “Lebih baik kalian tidak melakukan itu, karena jika jiwa (dalam hal ini jiwa bayi) manapun (sampai hari Kebangkitan) memang ditentukan untuk menjadi ada, maka jiwa itu pun akan ada.’”

    Malik’s Muwatta: Book 29, Number 29.32.99:
    Yahya mengisahkan padaku dari Malik dari Damra ibn Said al-Mazini dari al-Hajjaj ibn Amr ibn Ghaziya ketika dia sedang duduk dengan Zayd ibn Thabit, ketika Ibn Fahd datang padanya. Dia berasal dari Yemen. Dia berkata, “Abu Said! Aku punya budak2 wanita. Tidak ada istri2ku yang bisa menyenangkanku seperti budak2ku, dan tidak ada budak2ku yang begitu menyenangkanku sehingga aku sampai ingin punya anak dari mereka, jadi haruskah aku melakukan azl/coitus interruptus?” ….

    Sahih Bukhari: Volume 7, Book 62, Number 135:
    Dikisahkan oleh Jabir:
    Kami biasa melakukan azl/coitus interruptus semasa hidup Rasul Allah.

    Sahih Bukhari: Volume 9, Book 93, Number 506:
    Dikisahkan oleh Abu Said Al-Khudri:
    Ketika dalam peperangan dengan Bani Al-Mustaliq, mereka (tentara Muslim) menangkap tawanan2 wanita dan ingin menyebuhi wanita2 itu tanpa membuat mereka hamil. Maka mereka (tentara Muslim) tanya pada Nabi tentang azl/coitus interruptus …

    Sahih Bukhari: Volume 7, Book 62, Number 136:
    Dikisahkan oleh Jabir:
    Kami biasa melakukan azl/coitus interruptus ketika Qur’an diwahyukan. Jabir menambahkan: Kami biasa melakukan azl/coitus interruptus semasa hidup Rasul Allah ketika Qur’an sedang diwahyukan.

    Sahih Muslim Book 008, Number 3371:
    Abu Sirma berkata kepada Abu Sa’id al Khadri: O Abu Sa’id, apakah kau mendengar Rasul Allah berkata tentang al-azl/coitus interruptus? Dia berkata: Ya, dan menambahkan: Kami pergi bersama Rasul Allah dalam perjalanan ke Bi’l-Mustaliq dan mengambil tawanan2 wanita Arab yang cantik2; kami terangsang melihat mereka, karena kami jauh dari istri2 kami, (tapi pada saat yang sama) kami juga ingin menggunakan mereka sebagai sandra untuk ditebus (dengan uang). Karena itu kami mengambil keputusan untuk berhubungan seks dengan mereka tapi dengan melakukan azl/coitus interruptus ….

    Sahih Muslim Book 008, Number 3373:
    Abu Sa’id al-Khudri melaporkan: Kami menangkap tawanan2 wanita dan kami ingin melakukan ‘azl/coitus interruptus dengan mereka …

    Malik’s Muwatta Book 29, Number 29.32.96:
    Yahya mengisahkan padaku dari Malik dari Abu ‘n-Nadr, maulah Umar ibn Ubaydullah dari Amir ibn Sad ibn Abi Waqqas dari ayahnya bahwa dia biasa melakukan azl/coitus interruptus.

    Sunan Abu Dawud Book 11, Number 2166:
    Dikisahkan oleh AbuSa’id al-Khudri:
    Seorang pria berkata: Rasul Allah, aku punya seorang budak wanita dan aku mengeluarkan penisku dari tubuhnya (ketika sedang berhubungan seks), dan aku tidak mau dia menjadi hamil. Aku melakukan itu karenanya. Orang2 Yahudi berkata bahwa mengeluarkan penis (azl) adalah sama seperti mengubur hidup2 anak2 perempuan dalam skala kecil. Dia (sang Nabi) berkata: Orang Yahudi itu berbohong. Jika Allah memang mau menciptakan (bayi), maka kau tidak dapat mencegahnya.

  6. 6 joesatch yang legendaris Oktober 16, 2008 pukul 6:37 pm

    huehehe…yg sampeyan sebutkan sebagai contoh itu bukan isi alquran, lho 😀 tapi hadist

  7. 7 riz-gie November 11, 2008 pukul 3:13 pm

    kalo pemerintah gak ngeluarin suatu undang2 yang sepeti ini tambah merajalela aja tuh aksi2 kayak dewi persik dkk, kan lama kelamaan juga meresahkan.jepang, negara yang segitu majunya pun, (n kurang gmana bebas sih ngeliat cewek2 seksi) punya suatu undang2 yang berkaitan dengan kepornoan. justru sampai kapan wanita2 di bali atau di pedalaman irian mau dibiarkan tidak berbudaya (akal dan pikiran yang maju), bahkan mungkin intelek ??? jadi biarin aja mereka kayak hewan,hewan aja gak pake baju….orang lain dah mau buat rumah di bulan, kok kita ngebiarin saudara2 kita di indonesian bodoh ???!!!
    trus gmana dengan hak2 anak2 yang masih dibawah umur, yang terkontaminasi tayangan, bacaan bahkan mungkin perilaku dari orang2 yang sok modis n sok seksi ???
    ga usah tutup mata saudara2ku yang tercinta….hal2 yg bekaitan dengan tayangan2 vulgar itu berpengaruh banget sama mental n moral bangsa kita…apalagi buat anak2 yang masih polos banget, n daya tirunya tinggi banget ??? tau sendiri kan di ponsel2 anak smp aja dah banyak adegan mesumnya….walo mungkin gak ngerugiin orang lain, tapi lama kelamaan adegan mesum yang di hp nya itu ditiru juga…nah loh gmana ??? biarin aja ??? bukan ursan kita ??? ok….
    sekarang biarin aja anak smp itu download situs porno, nonton goyang erotis, berpakaian tak seronok…dan kemudian mereka tumbuh dewasa…dan akhirnya menjadi pemerintah…lalu buat “ngedate” deh sama maria eva….gmana tuh ???
    satu hal lagi saudaraku…bahwa khususnya kaum islam, Alloh tidak hanya memandang kita dari Habluminalloh (hubungan manusian dengan Tuhannya) tapi juga Habluminannas (hubungan manusian dengan manusia). maaf kalo sya salah nulis, tapi begitulah…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,052,156 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

Juli 2006
S S R K J S M
    Agu »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia