Flashback: Lewat 2 Tahun Kemarin (Prekuel)

Memoar Duka Seorang Berandal

“Percayakah kamu akan karma?”
“Aku percaya, mungkin dalam bahasa yang lain.”

Kenangan,

Hi, apa kabar? Aku? Aku baik-baik saja, hanya sedikit patah hati. Klise. Seperti biasa. Malam ini aku teringat padanya lagi. Pada seseorang yang selalu bermain-main di benakku. Pada seseorang yang selama hampir setahun membuatku berpikir bahwa aku haruslah menjadi laki-laki yang bisa diandalkan. Pada seseorang yang akhirnya pergi meninggalkanku tanpa kata dan tanpa pesan.

Kenangan,

Ah, aku ceritakan dari awal saja kisah hidupku yang kata teman-temanku sinetron banget. Kisah yang membuatku tidak pernah bisa tidur nyenyak sampai sekarang. Well, kita mulai saja berkenalan dengannya. Namanya, uhm, sebut saja dia itu Dewi (karena bagiku dia memang bagai dewi). Aku bertemu dengannya untuk pertama kali pada masa orientasi mahasiswa baru di kampus kami. Walaupun menurut versinya kami bertemu pada saat makrab HMJ, tapi aku masih ingat bagaimana aku melihatnya berjalan dari kejauhan pada waktu sesi istirahat orientasi. Kami sempat berpandang-pandangan sesaat, dan aku bisa paham kalau dia tidak ingat tentang kejadian hari itu. Saat itu aku bukanlah siapa-siapa. Aku pada waktu itu hanyalah a boy next door.

Selesai orientasi, pada akhirnya kami memang tidak sejurusan walaupun bidang ilmu yang kami pelajari sebenarnya mirip sekali (kalau tidak mau dibilang sama persis). Selanjutnya hubungan kami pun datar-datar saja. Hanya basa-basi seperlunya. Walaupun aku akui kalau aku sebenarnya juga tertarik padanya, tapi saat itu masih ada gadis lain yang tidak bisa kutinggalkan. Aku kenalkan saja sekalian. Sebut saja namanya Bidadari (kupikir aku cukup adil. Jika salah satunya adalah dewi, maka yang lain adalah bidadari), seseorang yang kucampakkan demi seseorang yang akhirnya mencampakkan aku. Seseorang yang padahal menemaniku sejak SMA.

Setahun lewat kuliah kami berjalan. Kami masih tetap belum akrab. Aku pun masih tetap berada di sisi Bidadari, meski terkadang pikiran nakalku masih sempat tertuju pada Dewi. Tapi pikiran itu cuma sekedar lewat saja, ringan saja. Menurutku Dewi terlalu dingin. Sukar ditaklukkan. Lagipula toh sudah ada Bidadari di sisiku.

Kenangan,

Selama setahun berjalan itu namaku mulai dikenal di kampus. Bukan karena hal yang baik mungkin, tapi lebih banyak karena hal (yang menurut teman-temanku) aneh yang kulakukan. Kadang-kadang karena dorongan pikiran nakalku, aku sempat menitipkan salam buat Dewi lewat sahabat akrabnya. Dan yang aku tahu, saat akhir tahun pertama kami, dia juga mulai memperhatikanku. Setidaknya itu kata sahabatnya walaupun di hadapanku dia tetap dingin.

Kenangan,

Hal itu terus berlanjut sampai dengan ulang tahunku yang ke-20. Aku merayakannya. Kuundang beberapa teman dekatku, termasuk sahabat Dewi yang juga cukup dekat denganku. Temanku itu malah sempat minta izin bolehkah seandainya dia datang bersama Dewi. Sumpah mati! Saat itu aku tidak bermaksud mengundang Dewi, meski sempat terlintas juga lebih bagus kalau dia juga datang. Maka akupun membolehkannya dengan berlagak pasang gaya cool seolah aku tidak terlalu peduli.

Akhirnya, dia benar-benar datang. Aku senang sekali, benar-benar senang. Saking senangnya aku sudah lupa kalau subuh tadi Bidadari – dengan suara masih ngantuk – sempat interlokal mengucapkan selamat ulang tahun. Saat itu aku cuma tersenyum memandang Dewi sambil berkomentar, “Lho, kamu datang juga, De?” Dia masih seperti karakternya yang kukenal, dingin tanpa kata. Tapi dia membalas senyumku. Aku yakin. Aku tahu, walaupun teras rumahku tidak terlalu terang.

Setelah acara selesai, setelah semua undangan pulang, aku mulai membuka kado. Pada kado dari sahabat Dewi ternyata tertulis dua nama sang pemberi: sahabat Dewi dan Dewi sendiri. Aku bersyukur saat itu aku sudah punya ponsel. Aku juga bersyukur biarpun akhir bulan pulsaku masih ada. Aku ucapkan terima kasih kepada mereka atas kadonya lewat SMS. Yang pertama kukirimi SMS adalah sahabat Dewi, selanjutnya Dewi. Dewi membalas SMS-ku. Hanya basa-basi saja menurutku saat itu. Masih seperti yang kemarin-kemarin, sekedar basa-basi. Niatku pada saat itu pun cuma berusaha mempertahankan adat ketimuran. Tahu tentang terima kasih.

Kenangan,

Besoknya, sebelum aku berangkat kuliah, seperti biasanya aku selalu sarapan di warung burjonya Mas Giyono. Ngobrol ngalor-ngidul tentang kondisi politik negeri ini (gaya dikit ini. Statusku sekarang mahasiswa), tentang final Liga Champion, bahkan tentang PSS Sleman. Tiba-tiba ponselku bunyi. Cuma nada SMS memang, dan kupikir paling-paling itu Bidadari nanyain aku sudah sarapan atau belum, seperti biasanya. Oh, pertanyaannya memang sama, “Pagi, lagi ngapain? Udah sarapan belum? M*ntari lagi SMS gratis ni.” Tapi itu nomor M*ntari, bukan nomor Pr*-XL seperti milik Bidadari. Itu bukan dari Bidadari. Itu dari Dewi! Aku sempat kaget (sekaligus senang). Tumben dia SMS. Walaupun alasannya lagi SMS gratis, tapi ini nggak biasanya. Kan dari dulu M*ntari juga sering error? SMS-nya kubalas, dan dia juga membalas lagi. Begitulah, sampai siangnya kami masih terus SMS-an. Alhamdulillah, aku masih punya cukup pulsa.

Kenangan,

Sejak saat itu kami sering SMS-an. Kami mulai akrab. Bahkan dia jadi rajin ke Internet Centre di kampus kami cuma sekedar biar bisa ngirim SMS gratis ke aku. Sejak saat itu semuanya berubah. Aku mulai menikmati kecerewetannya. Aku senang karena ternyata dia tidak dingin. Dia mulai sering ngomel seandainya aku menjamak waktu makanku, sering mengingatkanku kalau waktu shalat sudah tiba, sering menanyakan hal-hal remeh lainnya juga. Saat itu aku mulai merasa bahwa dia mulai menjadi bagian dari ritme hidupku. Shalat subuhku juga mulai teratur. Gimana nggak teratur, kalau setiap pagi ada yang bangunin kita? Itu berlangsung setiap hari dan aku menikmatinya.

Tapi saat itu aku belum berani bertindak lebih jauh. Aku sadar bahwa Bidadari masih di sampingku. Dewi sendiri juga masih terikat dengan pacarnya yang kampusnya terletak di belakang kampus kami. Semuanya hanya berlangsung lewat SMS. Sampai suatu hari, saat aku sedang liburan semester aku pulang ke Denpasar. SMS masih berlangsung seperti biasanya. Dewi minta dioleh-olehin bedcover, alasannya dia tidak punya selimut dan Yogya mulai dingin akhir-akhir ini (belakangan aku tahu kalau sebenarnya dia sudah punya selimut). Aku sanggupi, bahkan aku melompat kegirangan. Gilanya, aku pergi nyari oleh-oleh itu berdua dengan Bidadari. Yang memilihkan motifnya juga Bidadari. Aku bilang ke Bidadari bedcover itu buat aku. Saat itu aku bahkan sudah berkhianat dan berbohong. Pikiranku benar-benar mulai tidak waras, padahal Bidadari sedang berada di sampingku.

Kenangan,

Sekembalinya aku ke Yogya, seperti yang aku bayangkan sejak masih di Denpasar, akhirnya aku punya kesempatan main ke kosnya dengan alasan mengantarkan oleh-oleh. Malam itu aku datang ke kosnya yang dekat lapangan bola tempat biasa aku bermain. Kami ngobrol tentang banyak hal untuk pertama kalinya. Meskipun bahan obrolan kami masih seputar hal yang umum tentang kampus, belum menjurus hal pribadi secara spesifik, tapi aku merasa sejak saat itu aku mulai berani bermain lebih terbuka. Sayang, kami masih terhalang status kami masing-masing.

Walaupun begitu, sejak kejadian malam itu aku jadi mulai sering main ke kosnya. Tapi aku sendiri masih berusaha membatasi diri dengan beranggapan bahwa kami hanyalah teman dekat saja, meski perhatiannya lewat SMS menunjukkan hal yang lebih daripada sekedar teman dekat. Bahkan kalau aku tega membandingkan, perhatian Dewi kepadaku jauh lebih besar ketimbang perhatian Bidadari. Aku menikmatinya. Sungguh, aku menikmatinya. Mungkin boleh kukatakan kami sama-sama menikmati pengkhianatan kami.

Kenangan,

Hingga suatu saat aku mendengar kabar kalau Dewi sedang ada masalah dengan pacarnya (atau mungkin lebih tepat disebut “tunangan”nya, karena yang juga kutahu hubungan mereka berdua sudah direstui keluarga masing-masing). Aku merasa ini kesempatan buatku. Aku tidak boleh menyia-nyiakan peluang ini. Tapi aku mungkin memang pecundang yang tidak berani mengambil inisiatif lebih dahulu (terima kasih buat yang menganggap hal itu justru bukti kesetiaanku pada Bidadari). Sekalipun aku merasa ini kesempatan yang amat sangat bagus, jauh di lubuk hatiku aku justru ketakutan. Aku takut mengkhianati Bidadari lebih jauh.

Lalu aku beranggapan bahwa yang aku lakukan sudah kebablasan. Aku harus mundur. Mundur demi hubunganku dengan Bidadari, meskipun saat itu perhatian Dewi padaku begitu gencarnya. Akhirnya ku-SMS Dewi. Aku katakan padanya lebih baik kita tidak usah sering bareng untuk sementara waktu dengan alasan anak-anak di kampus sepertinya sudah mulai curiga tentang hubungan kami, apalagi mereka juga paham dengan status kami masing-masing.

Saat itu juga Dewi membalas SMS-ku. Dia bilang, “Apapun yang terjadi, we will still keep in touch, don’t we?” Aku seperti terbang waktu itu. Kata-katanya itu, kata-katanya itu membuat aku lupa semuanya kecuali dia. Dia yang berjanji. Dia menjanjikan sesuatu yang mengandung harapan serta impian di masa depan, bukan? Dia sendiri yang mengatakan. Bukan aku, bukan siapa-siapa, tapi dia. Aku tidak pernah memintanya.

Kenangan,

Sejak kata-katanya itu aku yakin Dewi-lah masa depanku. Aku sendiri heran kenapa aku bisa berpikir yakin sejauh itu. Mungkin ini cuma insting predatorku saja. Tapi yang jelas aku belum pernah merasakan keyakinan seperti pada waktu itu, tidak juga dengan Bidadari.

Sayang, walaupun aku sebenarnya ingin sekali jadi playboy (seperti temanku yang padahal sempat mondok di Jombang), tapi aku belum bisa. Aku tidak bisa menduakan Bidadari. Aku harus pilih salah satunya, dan aku memilih Dewi. Aku mulai membuat masalah dengan Bidadari. Kalau kupikir-pikir sekarang, ternyata aku memang bajingan. Aku sengaja mencari masalah justru pada saat Bidadari sedang membutuhkan perhatianku (Bidadari sempat mengeluh pada adikku tentang hal ini). Aku mengungkit tentang perhatiannya padaku yang sangat kurang meski yang terjadi justru sebaliknya. Aku bahkan membandingkannya dengan Dewi, padahal aku tahu betul Bidadari paling tidak suka dibandingkan dengan siapapun (dengan Dian Sastrowardoyo atau Ladya Cheryl sekalipun). Jelas saja Bidadari marah, lalu kamipun putus. Itu komunikasiku terakhir dengannya. Setelah itu aku tidak pernah bisa menghubunginya. Ya, Bidadari tidak pernah memaafkanku. Setidaknya sampai detik ini dia belum bisa melupakan luka hatinya yang disebabkan olehku. Tapi, Dewi, kamu tidak bersalah!

Kenangan,

Aku memang bajingan. Saat itu aku tidak menyesal. Aku malah berpikir, aku tidak butuh Bidadari selama Dewi ada disampingku (temanku sempat protes ketika aku menganalogikan hubungan kami seperti ini: selama ada Bidadari aku tidak butuh wanita manapun di dunia ini, tapi jika ada Dewi maka aku tidak butuh Bidadari). Dan karena aku percaya pada janji Dewi, aku mulai lebih intensif mendekatinya. Aku mulai berani memanggilnya dengan sebutan “chay”. Dia juga melakukan hal yang sama.

Sampai pada Idul Fitri. Waktu itu aku masih ingat tanggalnya: 2 Syawal 1424 Hijriyah, libur Idul Fitri hari kedua. Aku mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya pada Dewi. Itupun sebenarnya tidak kurencanakan. Semua gara-gara Dewi bilang kalau sahabatnya terus bertanya apakah kami sudah resmi pacaran. Aku bilang, “Hari ini kita resmi pacaran. Aku benar-benar suka kamu. Kamu sendiri gimana?”

“Biarkan saja semuanya mengalir seperti air,” jawab Dewi.

Saat itu jawabannya memang tidak pasti. Dia tidak menjawab “ya” atau “tidak”. Tapi aku tidak menganggapnya sebagai jawaban yang menggantung (dan teman-temanku pun menggoblok-goblokkan aku ^_^). Aku justru beranggapan itu adalah lampu hijau buatku untuk terus bersamanya. Lagi pula, sebenarnya aku sama sekali tidak mempermasalahkan status “pacar” itu sendiri. Yang terpenting adalah esensi dari kebersamaan kami. Itu menurutku.

Kenangan,

Aku menulis kisahku saat ini sambil mendengarkan “Heaven Knows”nya Rick Price. Maybe my love will come back someday, only heaven knows. Sekarang aku sedang tersenyum mengingat-ingat apa saja yang kami lakukan setelah tanggal 2 Syawal itu. Aku ingat tentang tawa kami berdua, tentang kecerewetannya, tentang tepa seliranya dengan kebiasaan merokokku (setahuku dulu dia sangat membenci cowok perokok), tentang warung-warung makan yang pernah kami singgahi berdua, tentang konser Seventeen, tentang logat Purbalingga-nya, tentang Super Indo tempatnya belanja bulanan (aku sempat berpikir, mungkin rasanya seperti ini kalau besok aku mengantar istriku belanja bulanan), tentang jilbab ungunya, tentang lagu “Mahadewi” kesukaannya, tentang jaket Nike pilihannya yang sampai sekarang masih kupakai.

Ah, terlalu banyak kenangan indah tentangnya. Aku masih ingat bagaimana kami menembus hujan badai berdua sewaktu ke Magelang untuk menghadiri pernikahan kakak sepupuku. Bapak, ibu, juga keluarga besarku semua ada di sana waktu itu. Aku mengenalkannya pada seluruh keluargaku. Mereka menggoda kapan aku dan Dewi menyusul kakakku. Saat itu Dewi cuma tersenyum. Manis, senyumnya manis sekali.
Aku tidak akan lupa tentang kejadian selanjutnya. Malam itu karena hujan deras kami tidak bisa langsung pulang ke Yogya, padahal keluargaku sudah kembali ke Surakarta semua. Kami terpaksa menginap di hotel bareng keluarga pengantin baru. Aku tidak akan lupa kalau malam itu untuk pertama kalinya aku tidur sekamar dengan seseorang yang bukan muhrimku. Aku juga tidak akan lupa kalau malam itu untuk pertama kali dia membuka jilbabnya di hadapanku, mengganti baju kurungnya dengan kaos ketat lengan pendek warna merah muda. Dan, aku masih ingat bagaimana wajah cantiknya ketika kepalanya baru saja terangkat dari bantal saat bangun tidur keesokan harinya.

Pagi itu aku merokok di halaman belakang hotel sambil bergumam sendirian, “Ya Tuhan, semalam aku tidur sekamar dengan wanita yang kucintai.” Maka aku juga tidak akan lupa kalau seminggu kemudian Dewi mulai membuka pembicaraan dengan berkata, “Ingat nggak, seminggu yang lalu kita ngapain aja?” Aku cuma tersenyum, malas menanggapi. Toh dia juga paham kalau aku tidak bakal lupa kejadian hari itu, juga tentang kalimatnya yang selalu membuatku tersenyum jika mengingatnya: “Aku mimpi hamil gara-gara kamu.” Dzienk!

Kenangan,

Aku ingat bagaimana kami berdua saat merayakan ulang tahunnya. Cuma kami berdua pada hari itu. Aku menghadiahinya boneka Nemo (aku tidak terlalu paham, itu Nemo atau bapaknya Nemo?). Pun aku masih ingat saat aku mengajaknya pulang ke rumahku di Surakarta dan tentang becak yang membawa kami berdua menembus jalanan Surakarta. Dewi tidak canggung bercanda dengan saudara-saudaraku. Mereka bahkan menggoda Dewi dengan sebutan “calon ibunya anak-anak”. Saat itu pula ada kebahagiaan lain ketika Dewi mempercayaiku untuk menjadi imam shalat asharnya. Untuk pertama kalinya aku mengimami shalat seseorang yang kuanggap masa depanku.

Aku juga ingat tentang malam tahun baru yang kami lewati bersama. Dewi sengaja tidak ikut acara kemping di Kaliurang yang diadakan teman-teman sejurusannya. Dewi saat itu bahkan memilih untuk tidak pulang ke kampung halamannya walaupun keesokan harinya bertepatan dengan ulang tahun ayahnya. Padahal aku tidak pernah memintanya untuk menemaniku.

Waktu teman-teman di kontrakanku pada mudik semua, Dewi juga menemaniku seharian di rumah tanpa kuminta. Seharian dan hanya berdua. Kami beres-beres rumah (aku berpikir, mungkin seperti ini juga kalau kami menikah nanti) untuk kemudian kami kotori lagi dengan nonton teve sambil timpuk-timpukan bantal.

Kenangan,

Yang kutahu saat itu adalah grafik hubungan kami terus menanjak. Kami hampir tidak pernah bertengkar. Yang kurasa, kami adalah pasangan yang serasi meski secara karakter kami sangat bertolak-belakang. Dia kalem sedangkan aku mungkin terlalu “panas”, dia cenderung anteng sedangkan menurut teman-temanku mobilitasku terlalu tinggi, dia pendiam sedangkan mulutku tidak pernah berhenti memaki keadaan. Aku berpikir, kami bisa seperti itu, bisa saling mengisi, bisa saling mengimbangi justru karena kami berbeda.
Kenangan,

Tapi itu dulu. Sekarang sudah tidak lagi. Suatu saat, mungkin ini bisa disebut feeling, aku merasa ada sesuatu yang tidak biasa pada hari-hari kami. Frekuensi SMS-nya tidak sesering dulu lagi, meski panggilan “chay” itu masih tetap dia katakan. Aku pikir ini sudah saatnya aku bicara serius dengannya. Serius yang lebih serius karena aku khawatir dan tidak mau kehilangan dia.

Itu makan malam berdua terakhir kami. Waktu itu Dewi hanya tersenyum ketika aku bilang kalau aku ingin lebih serius berhubungan dengannya. Dia tidak menanggapi. Jujur, aku sedikit kecewa saat itu. Hingga akhirnya aku berkata, “Mungkin saat ini aku kelihatan tidak bisa diandalkan. Tapi tolong beri aku kesempatan untuk terus berjuang membuktikan bahwa aku layak ada di sampingmu.” Setelah itu aku mengajaknya pulang, dan tentu saja sebelumnya tidak lupa membayar bon makanan kami. Aku ingat, hari itu hari Jumat.
Hari-hari selanjutnya sikapnya seolah ingin menunjukkan bahwa tidak ada masalah diantara kami. Itu berlangsung wajar sampai pada suatu siang di hari Minggu. Dewi SMS dan bilang, “Siang, lagi ngapain? Ortuku lagi di Yogya nih. Sekarang aku lagi jalan-jalan sekeluarga.”

Aku balas SMS-nya, “Met seneng-seneng deh. Salam buat semuanya ya!”

Saat itu aku tidak tahu dan tidak sadar kalau SMS-nya itu bakal jadi SMS bernada ramahnya yang terakhir, karena mulai hari Senin berikutnya dia tidak pernah menghubungiku selama beberapa minggu. Kupikir dia mungkin cuma kehabisan pulsa dan belum sempat isi ulang. Tapi hal itu berlanjut terus sampai pemilu legislatif kemarin, dan aku masih tetap mencoba berpikir positif mencoba memahami kesibukannya sebagai anggota KPPS saat pemilu legislatif. Selama itu pula dia selalu mempunyai alasan untuk menolak kedatanganku ke kosnya jika kutelepon.

Setelah proses penghitungan suara selesai, aku mencoba menghubungi Dewi lagi. Aku menanyakan ada apa dengannya, kok susah sekali buat ditemui? Dia menjawab tidak ada apa-apa. Semuanya cuma perasaanku aja.

Aku mencoba percaya, tapi tetap memprotesnya dengan nada bercanda kenapa tidak pernah SMS aku lagi. Akhirnya dia berjanji untuk meng-SMS aku yang justru sangat mengejutkanku. “Nih sudah ku-SMS. Nggak usah cerewet lagi!” Begitu yang kubaca di layar ponselku. Aku bingung. Aku mulai bingung waktu itu. Tidak biasanya dia seketus itu. Aku cemas meskipun tetap mencoba bertingkah wajar. Aku tetap berusaha menghubunginya walau tetap tidak pernah mendapat respon.

Kenangan,

Sejak saat itu Dewi kelihatan mulai menghindariku. Setiap aku ke kosnya dia tidak pernah ada. Aku tidak menyalahkannya. Memang aku yang tidak lebih dahulu membikin janji. Tapi di kampuspun dia juga terkesan menghindariku. Sapaannya kaku, senyumnya dipaksakan, bahkan lebih sering kulihat dia mencoba berpura-pura tidak melihatku jika kebetulan berpapasan. Aku bingung setengah mati. Ada apa dengan gadis yang dulu berjanji dan berkata ingin terus bersamaku?

Maka aku kembali mencoba menghubungi Dewi lewat telepon. Aku desak hingga akhirnya dia mengaku kalau dia memang berubah sejak kedatangan orangtuanya meski tetap saja tidak mau mengakui kejadian konkretnya. Kemudian aku bilang padanya kalau aku ingin bicara berdua dengannya tapi tidak lewat telepon. Dia menyanggupi untuk bertemu denganku. Besok lusa, di ruang tamu kosnya.

Lusa itu kutepati janjiku. Aku datang ke kosnya dan bertemu teman kosnya yang berkata bahwa Dewi sedang keluar. Kuucapkan terima kasih kemudian pulang dengan pandangan menerawang. Bukankah dia sendiri yang menjanjikan untuk bicara denganku hari itu?
Besoknya Dewi kutelepon lagi. Tetap dalam keadaan berusaha bersikap ramah aku menanyakan kemana dia kemarin? Dewi menjawab, mendadak ada temannya yang minta diantarkan belanja dan dia tidak tega untuk menolaknya. Dewi berjanji kalau besok dia tidak bakal kemana-mana selepas maghrib.

Sehari kemudian, bakda Maghrib aku datang lagi ke kosnya. Suasananya memang sepi pada waktu itu. Berkali-kali memencet bel tidak ada seorangpun makhluk yang diciptakan Tuhan dari tanah yang keluar menemuiku. Aku pulang.

Agak malam kembali aku meneleponnya dan hanya mendapat alasan kalau sebenarnya Dewi berada di kamarnya tapi tidak mendengar bunyi bel sekalipun. Hatiku langsung memaki, ‘Bullsh*t! Kalau bukan orang tuli mana mungkin tidak mendengar bunyi bel sekeras itu yang dipencet berkali-kali!’ Aku mulai mangkel waktu itu. Kupikir itu reaksi yang wajar, kan? Dan Dewi mungkin masih bisa mempunyai perasaan tidak enak pada saat itu. Maka dia kembali menjanjikan untuk bertemu besok saja.

Kupikir dia serius. Ketika aku datang, aku melihat sepeda motor plus helmnya lengkap di garasi. Aku pikir saat itu akhirnya aku bisa mengurai masalah kami. Tapi, oh tidak, aku mendapat jawaban yang sama seperti hari pertama. Dewi sedang keluar. Kampret! Mata kiriku memang minus setengah, dan mata kananku memang silinder satu, tapi aku masih bisa melihat kalau di garasi ada helm standar berwarna biru yang penuh dengan stiker serta sepeda motor Honda Impressa strip hijau dengan plat nomor keluaran daerah Banyumas dan stiker Son Go Ku kecil di belakangnya. Aku kembali pulang dengan hati mulai meradang!

Kenangan,

Besok siangnya aku SMS Dewi, bertanya tentang hari kemarin. Saat itu aku berusaha menyusun kalimat tanya seramah mungkin. Tapi apa jawaban Dewi? Dia menjawab, “Diantara kita tidak pernah ada apa-apa. Kita sebenarnya tidak pernah pacaran. Aku tidak pernah mencintaimu.”

Syok? Itu jelas. Jelas saja aku syok. Siapa yang tidak syok kalau tahu ternyata selama ini hati kita dipermainkan? Lalu kukeluarkan tungganganku dari garasi. Waktu itu aku cuma berpikir aku pingin ngebut sekencang mungkin. Dan memang seumur hidup aku tidak pernah ngebut seperti itu sepanjang perjalanan dari Ringroad Utara ke Ringroad Barat.
Mungkin juga sang takdir sedang menyiapkan skenario dramatis untukku. Sepanjang perjalanan itu lalu-lintas sangat sepi karena gerimis yang lumayan lebat (bingung, kan?) hingga aku bisa berteriak memaki nama Dewi sekeras mungkin. Seluruh penghuni kebun binatang yang pernah aku singgahi semasa kecil meluncur dari bibirku. Itu belum cukup. Selanjutnya, aku mengalirkan airmata kepiluan. Aku menangis. Sungguh, Dewi, saat itu aku menangis. Aku memang berandalan. Aku akui itu. Tapi berandalan pun tetap punya perasaan!

Aku membandingkannya dengan pelacur bahkan. Aku menganggapnya lebih buruk dari pelacur malah. Dewi bilang dia tidak pernah mencintaiku. Lalu kenapa selama ini dia mau saja kuajak kemana-mana, sampai menginap segala. Sama saja dengan pelacur, kan? Mereka sama-sama mau jalan bareng kemanapun dengan laki-laki yang tidak dicintainya. Bedanya, kalau mengajak pelacur maka aku harus membayar mereka. Bisa short time bisa all night long, tergantung duit kita. Sedangkan dengan Dewi kadang-kadang malah dia yang membayar makan malam kami. Tuh kan, dengan pelacur aku harus membayar mereka, tapi dengan Dewi semuanya gratis.

Aku tidak habis pikir. Pada awalnya aku memang mengaguminya, tapi aku tidak pernah memintanya masuk dalam kehidupanku. Aku ingin menghindarinya, tapi dia menahanku dengan janji yang tidak pernah kuminta. Aku tidak pernah memiliki keberanian bertualang dengannya, tapi dia yang membangkitkan keberanianku untuk bermain dengannya. Dia datang tanpa pernah kuminta, dan sekarang pergi tanpa pernah kuharapkan. Dia yang memulai segalanya. Dia juga yang mencoba untuk mengakhiri semuanya.

Kenangan,

Aku sempat berpikir mungkin ini karmaku dengan Bidadari. Mungkin juga. Tapi saat itu aku tidak ingin takluk pada karma. Aku tidak ingin tunduk pada cara Dewi (seandainya dia memang) mempermainkanku. Aku tidak mau semua berakhir seperti skenarionya. Aku harus membelokkan endingnya!

Maka kuputuskan untuk terus mengejar penjelasannya. Terus dan terus. Lewat telepon, SMS, email, pokoknya semua jenis media komunikasi. Tidak lupa mencari berita dari teman-teman dekatnya. Tapi berita yang kudapat simpang-siur. Ada yang bilang Dewi sedang sendiri sekarang, ada yang bilang dia kembali pada pacar lamanya, ada juga yang bilang dia sudah dijodohkan. Siapa yang peduli dengan semua itu? Aku cuma ingin mendengar penjelasan langsung dari Dewi.

Kenangan,

Aku menyerang gencar, Dewi pun mati-matian bertahan. Kondisi ini kuanggap mirip sekali dengan final Piala Dunia ’94, Samba Brazil menantang Cattenaccio Italia. Yang satu menyerang, satunya bertahan. Begitu juga antara aku dan Dewi. Aku mencoba untuk menerjang dari semua lini, Dewi mati-matian menutup rapat daerahnya. Dia betul-betul tertutup pada siapapun tentang masalah kami. Hasilnya, sampai sekarang aku tidak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kami.

Serius! Aku tidak pernah tahu. Suatu saat aku pernah nekat datang ke kosnya setelah sekian lama. Teman kos Dewi akhirnya keceplosan bilang Dewi ada dan menyuruhku menunggu sebentar. Tapi sejenak kemudian teman kos Dewi itu kembali menemuiku dan memintaku untuk pulang saja seperti pesan Dewi.

Aku juga pernah mencoba SMS Dewi dan mengungkit janjinya untuk terus bersama, sambil basa-basi sedikit bertanya dia sedang dimana dan sedang apa. SMS-ku dibalas. Semuanya ditulis dengan huruf besar. Tertera di layar ponselku seperti ini:
“SKRG AQ LG D T4
BUDHEKU!! KM G
USAH SMS AQ
LG,NGABIS2IN
PULSAMU AJA!GA
AKAN PERNAH KU
BLS LG!!!
Sender:
+6281328077XXX
Sent:
12-June-2004
16:23:25”

Aku paham. Dikejar terus seperti itu mungkin saja dia sudah sampai pada titik jenuh terhadapku (seorang obyek curhatku bahkan mengatakan mungkin saja itu bukan sekedar titik jenuh, tapi sudah mencapai titik “jijik”. Ugh! >_<)

Kenangan,

Sudah, apalagi yang kamu harapkan? Begitu teman-temanku menasehatiku. Mereka beranggapan kalau pekerjaanku terus memburunya ini bakal percuma. Tapi apalagi yang bisa kulakukan? Aku terluka dan tidak rela. Untuk memuaskan lukaku aku siap menghadapi resiko apapun. Sesiap Gatutkaca menghadapi tugas palastra melawan Adipati Karna. Dengan kerelaan Antareja, Wisanggeni, atau Caranggana yang sedia mati sebagai tumbal kemenangan Baratayudha para Pandawa. Dengan pengabdian Patih Suwanda pada Harjuna Sasrabahu hingga harus mati di tangan Dasamuka. Dengan kesetiaan Mayangkara pada ksatria titisan Wisnu. Ketika ada yang beranggapan perbuatan mereka sia-sia, mereka paham betul dengan tujuan pengorbanan mereka. Maka akupun tidak peduli ketika yang lain menyarankanku untuk berhenti. Aku akan terus memburunya demi sebuah kalimat penjelasan.

Aku sempat yakin, ini semua bukan kehendak kami berdua. Aku sempat yakin tentang perasaan kami masing-masing. Hanya saja ketika menghadapi masalah seperti ini kami bereaksi lain. Aku ngotot sedangkan Dewi nampak pasrah. Wajar, Dewi sendiri mengakui kalau dia berubah sejak orangtuanya datang, dan aku maklum kalau dia berusaha tidak membantah orangtuanya. Mungkin seperti itu. Tapi apakah Dewi memang mencintaiku? Ah, aku tidak pernah menanyakannya.

Bagiku ini tidak adil. Seandainya betul orangtua Dewi menentang hubungan kami, atas dasar apa mereka menolakku? Aku belum pernah bertemu mereka. Mereka juga belum tahu aku sekompeten apa. Mereka belum mengenalku sama sekali! Tapi Dewi juga membuatku kesal. Kenapa dia tidak berusaha memperjuangkanku sama sekali? Kenapa dia tidak berusaha menentang sedikit saja, demi kami? Kenapa dia tidak seberani Sawitri yang menentang Yamadipati, sang dewa kematian, para dewa, juga setan di neraka demi cintanya pada suaminya? Sungguh, aku kecewa kenapa Dewi justru terkesan membunuh perasaannya padaku.

Aku memang kesal pada Dewi. Tapi entah kenapa aku tidak pernah benar-benar bisa kesal padanya. Suatu kali aku memang memakinya, tapi sejenak kemudian aku langsung merindunya. Aku tidak pernah konsisten dengan kekesalanku. Sering kali aku nyaris membencinya, tapi entah kenapa perasaan negatif itu juga cepat hilangnya. Ah, apakah yang namanya cinta itu memang seperti ini?

Dan tentang perjuangan yang sia-sia, aku tidak menganggapnya demikian. Aku percaya suatu saat ini semua akan ada hasilnya. Atau kalaupun tidak, setidaknya aku bisa menunjukkan kalau cinta platonik, cinta yang tanpa pamrih apapun, itu masih ada di dunia ini. Seperti cintaku pada Dewi. Aku akan terus mencintainya, meski aku harus disuruh pulang ketika ke kosnya, meski SMS-ku tidak pernah dibalas, meski telepon dariku tidak pernah diangkat. Kenapa? Aku tidak tahu. Aku tidak pernah bisa punya alasan kenapa aku mencintai Dewi. Apakah cinta membutuhkan alasan?

Aku jadi ingat lagu Malaysia yang sempat ngepop jaman aku SMP. Kalau benar cinta itu buta, butakah hatiku? Berkali terluka masih juga kumenunggu. Aku lupa siapa penyanyinya, tapi perasaanku saat ini persis seperti itu. Kalung dengan inisial namanya masih tetap kupakai setiap hari. Membuat gadis-gadis lain sungkan mendekatiku, huehe.
“Ini inisialnya siapa, sih?”
“Oh, inisialnya orang yang paling kusayangi.”
“Pacar?”
“Bukan.”
“Mantan?”
“Mungkin seperti itu.”
“Kok masih dipakai?”
“Habis masih sayang.”
“Oh… Semoga cepet rukun deh, Mas!”
“Hehehe, makasih.”

Kenangan,

Sekarang aku sendiri. Sendiri dan kesakitan. Sakit yang seperti candu. Aku menikmati sakit yang seperti ini. Sakit karena mengingatnya tapi aku menikmatinya. Aku selalu tersenyum jika mengenangnya. Kebahagiaan yang dia berikan sebelum ini selalu bisa membuatku tersenyum memupus sakitku, membuatku yakin suatu saat nanti akan datang mukjizat.

Aku tidak peduli dia memandangku seperti apa sekarang. Aku tidak peduli bersama siapa dia sekarang. Sendiri, pacar orang, tunangan orang, ataukah sudah menikah, yang penting aku mencintainya. Siapa yang bisa melarang cinta? Belum ada undang-undang yang melarang jatuh cinta, kok. Boleh saja dia sekarang membenciku dan menolakku keberadaanku, tapi tetap saja dia tidak berhak juga tidak bisa membunuh perasaanku padanya.

Kenangan,

Aku memang berandalan, bahkan bajingan mungkin, tapi bajingan pun tetap punya perasaan. Mengingat diriku sekarang terkadang membuatku teringat pada Bidadari dan tentang sebuah karma. Apakah aku sudah percaya dengan karma? Mungkin sekarang aku sedang percaya. Yah, anggap saja sekarang aku sedang menjalani karma cintaku. Dengan begitu aku bisa menghapus dendam dan menjaga cintaku pada Dewi. Setidaknya itulah cerita yang terjadi. Sampai hari ini. Terima kasih.

Di dalam hatiku hancur
Riasanku mungkin luntur
Tapi aku tetap tersenyum
di dalam pertunjukan
Pertunjukan harus berjalan… *)

Pogung Rejo, 28 Oktober 2004

*) dari Queen-The Show Must Go On

Iklan

31 Responses to “Flashback: Lewat 2 Tahun Kemarin (Prekuel)”


  1. 1 septo Juli 6, 2006 pukul 4:24 am

    gawe blog ming arep publikasi kie dab???
    hehehe

  2. 2 joesatch Juli 6, 2006 pukul 12:46 pm

    ora…
    mbangane aku nulis dowo2 mung ta’pangan dewe, kekekeke

  3. 3 moonray Juli 7, 2006 pukul 8:56 am

    oalah, sadar joe, sadar, meski mirip, ning aku wis intuk gantine,

    sikilku mambu temen ya, kesuen nganggo kaos kaki kie lah..
    hanjrit

  4. 4 cewexgoblox Oktober 9, 2006 pukul 9:47 pm

    sedih…sekarang aku juga lagi sedih..aku ga tau gimana bikin hubunganku bisa kaya dulu lagi..sekarang bisanya cuma pergi ke warnet tiap malem,siang,pagi…huh…

  5. 5 cewexgoblox Oktober 9, 2006 pukul 9:48 pm

    add me be your friend…

  6. 6 joesatch Oktober 10, 2006 pukul 2:50 pm

    add-nya harus kemana mbak? 🙂

  7. 7 tasia Oktober 16, 2006 pukul 11:57 pm

    hum…………………….
    karma tuh dittt…..hihi….
    ngomong2….dah tobat loom???

  8. 8 krisosa Januari 28, 2007 pukul 3:13 pm

    hehe… bener juga arti lagu “Mahysa”-nya ya joe?
    🙂

  9. 9 joesatch Januari 28, 2007 pukul 5:02 pm

    WAKAKAKAKAKA!!!
    kamu mengingatkan jaman muda kita dulu.

    nganggur nggak, john? direkam yuk! akustikan aja. cariin soundcard yang bagus gih 😛

  10. 10 de King Januari 29, 2007 pukul 2:58 am

    Purbalingga??Impressa plat R_C ada sticker son go ku n helm biru???
    Kok kayané nyong kenal karo motor kiyé ya???
    hehe
    *sok tau mode on*

  11. 11 Martin Chandra Januari 29, 2007 pukul 1:53 pm

    sampean itu… pengen jadi bajingan kok malah melankolis begini. 😀

  12. 12 joesatch Januari 29, 2007 pukul 3:09 pm

    de King:::
    Eh, aku ada bilang “Purbalingga”, memangnya? 😛
    Martin Chandra:::
    bajingan pun bisa jatuh cinta. yah, namanya juga manusia, mas

  13. 13 S Setiawan Januari 30, 2007 pukul 1:00 am

    Walah, the show must go on, huh, separah apapun. Beneran euy, kayak plot sinetron. Mungkin harus dibikin pilmnya? 😛

  14. 14 joesatch Januari 30, 2007 pukul 12:21 pm

    nggak ah…kasian oknum mantan pacar saya 🙂 nanti hidupnya dibayang2i perasaan bersalah, merasa jadi sorotan masyarakat terus, kekekeke!

  15. 15 de King Januari 30, 2007 pukul 7:58 pm

    Joe…mulakno n’ek nulis posting ojo dowo-dowo..dadi bingung dh’ew’e kan?
    Lha wis jelas2 kowe nyebut ‘… logat Purbalingganya…’ . Golek dhewe kono nang ndhuwur… 😀

  16. 16 de King Januari 30, 2007 pukul 8:20 pm

    ketemu ra Joe kata Purbalingga-ne?

    tentang logat Purbalingga-nya,

    Tuch kan Purabalingga? hehehe 😀

  17. 17 joesatch Februari 3, 2007 pukul 8:16 am

    wehehehe…iya ya..tapi skrg motornya udah ganti mio, kok. plat r….c-nya udah nggak dipake lagi 😛

  18. 18 dhan Februari 8, 2007 pukul 12:16 am

    walah mas joe,
    judule blong panjenengan khan ingin menjadi bajingan..lha koq jebule jadi cerita melankolis ngene..sing tabah wae mas 😀
    salam kenal

  19. 19 joesatch Februari 8, 2007 pukul 12:00 pm

    ini salah satu alsannya kenapa pgn jadi bajingan. lebih baik membajingi orang daripada dibajingi orang 😛 kekekekeke!

  20. 20 Chiw ImudZ April 11, 2007 pukul 5:01 pm

    MAs, wadoohh….aku nangis sampe’ ngiler2…eh, maksute nangise sampe’ iso digawe ngedhek’ne PLTA(pembangkit Listrik tenaga Airmata)

    aku dia add dadi bolomu po’o…

    Suwun Suwun…

  21. 21 joesatch April 11, 2007 pukul 5:48 pm

    udah ta’add tuh. add di fs tho? 🙂

  22. 22 soerja April 25, 2007 pukul 7:36 am

    preman berhati roman :blah:

  23. 23 astikirna April 25, 2007 pukul 3:17 pm

    wakakaka…joe ngenes tenan…tp semua itu bisa terjadi sama sapa aja kok joe… salut sama kamu joe… cinta memang ga bs dipaksakan… dia datang tak dijemput pulang tak di antar.. 😀

    btw kowe seh mencintai De(s)wi ra joe… semoga berbahagia dengan tikacu…

    eh joe neh meh nge add blog ki kepiye? tolong add blog ku joe…

  24. 24 joesatch April 26, 2007 pukul 1:22 pm

    soerja:::
    nyaman! bukan roman, akakakakaka!

    astikirna:::
    masihlah. nggak beda dgn yang lain kok. aku juga masih mencintai mitha juga ayu. cuma memang kadar cintanya jelas berbeda sama yang buat tikachu, hehehehehehe

  25. 25 Lily Mei 9, 2007 pukul 1:10 pm

    Hehehe…
    Kejadianyang terjadi pada banyak orang..
    tapi jarang yang bisa menceritakannya seruntun ini..
    menarik untuk dibaca, suatu eposide hidup.. 😉

    Baguslah klo udah lewat..
    Walaupun klo belum lewat juga itu urusanmu sendiri,
    urusanmu dengan pacar yang baru.. ;p

    Senangnya jadi Dewi itu..,
    hidup sudah mengalir kemana-mana, tapi mengetahui bahwa di belakang sana ada yang masih mengingatnya.. 😉

  26. 26 joesatch Mei 9, 2007 pukul 2:01 pm

    wew…makasi buat pujiannya mbak 🙂

  27. 27 Lily Mei 9, 2007 pukul 2:57 pm

    Sama2.. 🙂

  28. 28 ndoloBH November 14, 2007 pukul 5:19 pm

    wah..tragiss..!

    tapi gpp, itulah yg namanya Gelombang Cinta, kadang naik kadang turun, kayak sekarang harganya lagi naik *apa sih* 🙂

    jadi inget masa-masa muda menjadi mahasiswa di seputaran selokan mataram 😀


  1. 1 Padahal Mabuk Itu Haram... « The Satrianto Show! Lacak balik pada April 13, 2007 pukul 5:42 pm
  2. 2 Anindito Satrianto Resmi Ditransfer « The Satrianto Show! Lacak balik pada Agustus 12, 2007 pukul 1:10 pm
  3. 3 X-Class: Dalam Kenangan | The Satrianto Show: Beraksi Kembali! Lacak balik pada September 5, 2008 pukul 5:09 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,048,589 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

Juli 2006
S S R K J S M
    Agu »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia