Flashback: Hampir Setahun Kemarin

Aku egois, mau menang sendiri, kekanak-kanakan, cuek, nggak tegas, nggak pedulian, sok cerdas, atau goblok? Tarik hipotesa sendiri setelah kalian baca ceritaku.

Mulainya sejak semester pertama ketika masuk di Gadjah Mada, di fakultas dimana semua pertanyaan akan terjawab dengan pasti, di kampus dimana benar adalah benar dan salah adalah salah. Ilmu pasti!

Ospek hari pertama, aku lihat dia sedang berjalan dari kejauhan. Insting binatangku memaksa ekor mataku untuk terus mengikuti langkahnya sampai seorang teman menegurku, “Joe, ini jatah makanmu.”
Makrab jurusan, ini versinya dimana menurutnya di situlah kami pertama kali bertemu. Satu kelompok dengan dia, meski pada hari H dia akhirnya tidak ikut.
Aku tertarik, dia tidak. Dia sudah punya orang lain. Meskipun aku juga sudah, aku nekat. Toh pasanganku masih SMA. Siapa yang bisa tahu kalau aku tidak cerita?
Aku langsung menyerang, dia menghindar. Pasangannya ikut campur, akupun mundur. Bukan takut. Dasarnya iseng saja. Tidak dapatpun, bakal masih ada yang menungguku.
Tahun pertama, hampir tanpa suara. Menyapapun hanya sekedarnya. Sampai akhir semester dua. Muncul begitu saja di ulang tahunku tanpa pernah kuundang.
Hari berikutnya, semuanya dimulai. SMS pertamanya. Kutanggapi sekedarnya. Lewat setahun, sudah terlalu lama, ada yang harus kujaga. Siapa tahu dia juga datang ke Gadjah Mada. Hei, tolong dicatat, bukan aku yang memulai!
Sudah makan? Sudah sholat? Kalau makan jangan telat, jaga kesehatan, dan hal-hal remeh lainnya. Perhatiannya lebih dari seorang teman. Ada yang tidak beres. Cukup! Jangan terbawa, ada yang harus dijaga.

Aku bilang, “Jangan terlalu sering.”
Dia balas, “Kita tidak akan berpisah!”

Aku terbang. Aku pilih dia. Toh yang harus kujaga lebih memilih ke Surabaya.

Masih sebagai teman, dia tanya, “Status kita apa?” Aku putuskan dia calon pendampingku.
Semester tiga, mungkin masa-masa bahagia. Selepas maghrib, ada aku pasti ada dia. Yang harus dijaga sudah terlupa. Aku bahagia dengannya.
Semester empat, sampai pertengahan. Tanpa pesan dia menghilang. Aku cari, dia terus lari dan bersembunyi.

Semester lima sampai enam. Aku tanya teman-temannya. Aku dimaki-maki. Mereka bilang, aku pengecut yang cuma bisa bersembunyi. Yang tidak berani menyelesaikan masalah. Ya Tuhan, aku malas berdebat dengan perempuan. Mereka tidak tahu bagaimana SMSku tidak dibalas, telepon dariku tidak pernah diangkat, datang ke kosnya disuruh pulang. Apa yang dikatakannya pada teman-temannya?
Akhir semester enam, aku tunggu berjam-jam di kosnya. Akhirnya dia bersedia.
Seandainya yang di depanku itu laki-laki, sudah kuinjak-injak kepalanya! Siapa yang tidak kecewa, ternyata dia bermain-main denganku dengan status sebagai calon istri orang lain. Catat: CALON ISTRI ORANG! Dia menyangkal semua janjinya dulu.

“Aku tidak pernah bilang begitu,” katanya.

Aku tantang, “Ambil kitab sucimu. Ayo kita berdua bersumpah!” Cuma diam. Dia cuma diam. Perkaranya sudah pada taraf surga dan neraka soalnya. Adu bentak-bentakan hari itu kuakhiri dengan, “Lonte!” Oh, tidak. Bukan cuma itu. Bahkan lebih najis lagi. Maka kamipun resmi saling memusuhi!
Awal semester tujuh, dia tiba-tiba datang. Seakan-akan tidak pernah bersalah. Menyapaku dengan senyumnya. Mangkel sekaligus aku senang. Oh, dia sedang butuh otakku. Tapi kenapa harus aku? Yang lebih pintar dariku juga banyak. Gadjah Mada itu gudang sumber daya manusia. Mau apa dia? Berpikir yang baik saja, kata teman-temanku, siapa tahu dia memang niat berbaikan. Yah, meskipun aku masih tetap menyimpan sedikit buruk sangka.
Sempat kubilang, “Aku minta maaf dengan kata-kata terakhirku dulu.”

Dia malah bertanya, “Yang mana?”

Tidak mungkin ada yang bisa lupa menurutku. Aku tanya teman-teman perempuanku seandainya ada yang berkata sepertiku pada mereka. Jawaban mereka seragam: Tidak akan bisa lupa! Tapi kenapa dia bisa lupa dan tidak mempersoalkannya.
Sempat akrab. Sempat berbagi cerita. Dia cerita, terjebak cinta lokasi waktu KKN. Segitiga lagi. Wah, ternyata bukan cuma aku korbannya. Aku tanya selanjutnya bagaimana. Dia bilang, “Ya begitu saja. Akhirnya dia tahu kalau aku sudah punya pacar.” Ah, apa memang benar cuma “begitu saja”, atau laki-laki malang itu bernasib sama sepertiku, tidak pernah kutanyakan. Yang aku tahu, ternyata bukan cuma aku yang diperlakukan seperti itu!
Seminggu lewat, aku dapat jawaban pertanyaanku, tentang kata-kata kasarku. Jelas saja dia tidak mempermasalahkannya. Dia sedang butuh otakku. Kekhawatiranku terbukti. Saat otakku selesai dipakai, dia menghilang lagi. Aku dibuang setelah diperas otaknya!

Demi Tuhan, aku tidak seperti dia yang cuma bisa diam ketika ditantang mempertanggung-jawabkan kata-katanya. Kalau ada yang menantangku mengambil kitab suciku, aku layani dengan senang hati.
Cuma keledai yang jatuh dua kali di lubang yang sama. Ternyata aku juga. Tapi aku berjanji, aku tidak akan lebih bodoh dari keledai. Kelak, tidak ada lagi kesalahan ketiga!

5 Responses to “Flashback: Hampir Setahun Kemarin”


  1. 1 yoan Juli 5, 2006 pukul 7:17 am

    memang km oon jo….kuping sama kayak cantelan..ngeyelll…

    bukannya gmn..udah beribu2 kali (eh, ngitungin ga?) sampe mulutku berbusa (hiperbolis bgt ye..), ngomongin kamu dari awal kalian blom apa2 sampe jd kayak gini..
    “jangan jo, punya orang tu”, “feeling ku ga enak, mendingan ga usah deh”, “klo ada apa2 aku ga mau tau lho”, “oi, jo sadar jo”, “udah lah, lupain aja napa si”, “udahlah ga usah ditanggepin”, “ya udahlah ikhlasin aja” **E$@#&@#@ dan lain sebagainya….

    n sekarang aku ulangin lagi ni..buat jo : “udah lupain aja, jangan diinget lagi, ikhlasin aja, jgn diungkit lg..anggap aja itu cm mimpi buruk aja, ambil hikmahnya, ambil plajaranya, lain kali hati2 klo mo brtindak, ma hati2 jg tu klo ngomong..jgn asal nylemong..udah ga usah ngeyelll…”

  2. 2 jan kristanto Juli 5, 2006 pukul 8:37 am

    mesti bar ajar seko buku to??
    le tuku wingi kae to?

  3. 3 joesatch Juli 5, 2006 pukul 2:32 pm

    Wingi kie aku tuku komik, Bol…
    Iki wis ta’tulis sejak setahun kemarin.
    Jaman kowe lagi lulus esema
    Kekekekekeke

  4. 4 dwi April 12, 2007 pukul 3:47 pm

    hohoho nyamperin postingan lama,,
    ya gpp lah mas,,
    itung2 nambah pengalaman😀
    buat pemikiran juga, kalo dimainin tu sakit, jadi jangan mainin orang..


  1. 1 Sedikit Tentang Jikustik « The Satrianto Show! Lacak balik pada April 12, 2007 pukul 3:07 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 1,033,018 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

Juli 2006
S S R K J S M
    Agu »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia