“Kamu masih ngembangin web pakai Dreamweaver?”
“Iya.”
“Lho, ngapain repot-repot? Toh klienmu nggak nuntut tampilan yang aneh-aneh, kan? Kenapa nggak pakai ce-em-es aja?”
“Apa itu ce-em-es?
“He? Kamu nggak tau ce-em-es?”
“Nggak. Apa itu?”
“Ce-em-es itu Content Management System. Itu engine buat bikin website. Modul-modulnya udah disediain di situ, kita tinggal masukin content website-nya. Paling repot, paling-paling kita cuma ngutak-atik CSS-nya dikit aja. Gampang dan nggak perlu repot-repot coding juga nge-slice gambar segala macam. Tapi, kamu bener-bener nggak tau apa itu ce-em-es, Tuk? Kowe kan sarjana teknik informatika.”
“Kleng, Joe. Di sini aku bener-bener ketinggalan informasi dunia IT…”
Begitulah percakapanku dengan Klutuk, temanku, waktu di Denpasar kemarin. Untuk informasi, Klutuk itu lulusan Teknik Informatika Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Dulu beliaunya sempat 1 kontrakan sama aku sebelum dia lulus. Makanya aku heran kenapa dia bisa sampai-sampai nggak tau apa itu CMS.
Awalnya, waktu aku pulang kemarin, aku sempat kepikiran buat nyari klien untuk pengerjaan web di Bali. Soale aku liat, web-web bikinan developer-developer web di Bali terkadang (kalau nggak mau dibilang sering) memang menang dari segi tampilan, tapi berat untuk diakses dan dari segi fungsionalitas sangat tidak optimal. Maka dari itu aku menghubungi temanku si Klutuk itu, selain karena memang teman, dia juga pernah kerja ngikut orang bule sebagai web developer. Tapi demi mendengar ceritanya tentang ketidak-tahuannya tentang CMS, aku jadi kebayang-bayang kata-kataku sendiri jaman dulu.
Di Bali itu user ada banyak sekali, tapi orang pinter masih sedikit. Aku pernah ngomong kayak gitu waktu seorang teman di kampus bertanya apa rencanaku setelah lulus nanti dan dia sedikit terheran-heran kenapa aku menjawab kalo aku memutuskan untuk pulang ke Denpasar aja dan tidak meneruskan berkarir di Pulau Jawa.
Dan ternyata kesaksianku bertempo-tempo yang lampau itu masih berlaku sampai sekarang. Kalau mau “membodohi” orang, Bali adalah pasar yang sangat potensial, seperti yang diakui Klutuk sendiri. Kata Klutuk, hal ini salah satunya disebabkan karena sulitnya memperoleh akses informasi tentang dunia IT. Nggak seperti di Jokja. Mau sering-sering online via internet, di Denpasar harga sewa warnet per jamnya masih mahal. Lima ribu sejamnya dengan kecepatan koneksi nan kampret bin laknat. Hal itu masih ditambah dengan fakta kalo di Denpasar nggak ada rental-rental yang menyewakan software-software komputer seperti di Jokja (aku pikir, antara kecepatan plus biaya koneksi warnet dan tidak adanya akses software yang mudah dan murah ini sangat erat hubungannya).
“Nggak ada sama sekali, Tuk?” tanyaku.
“Nggak ada, nok. Di sini semua rental software kena sweeping. Keweh cang ngalih software bajakan (susah aku nyari software bajakan),” jawab Klutuk.
Jadilah hal tersebut sangat dilematis. Di Jokja, aku dan Klutuk, sangat dimanjakan dengan rental-rental software semacam Wahana atau Istana. Bahkan salah seorang temanku di kampus punya lelucon, “Kalo kamu kesulitan nyari software bajakan, datang aja ke Wahana. Sesuai namanya, di sana kamu bakal nemu apa yang kamu cari dan berkata, ‘Wah, ono!’ Itulah kenapa rental software-nya dinamakan Wahana, bukan Wahono. Soale yang punya Wahana itu orang Banyumas, hahaha.”
Di Denpasar, kesulitan mengakses software bajakan jelas jadi kendala buat yang nggak mampu belanja software aslinya. Akhirnya, perkembangan teknologi informasi di situ pun jadi berjalan tersendat-sendat. Beli yang asli, selain butuh duit yang nggak sedikit, tentunya sangat memalaskan. Lha wong kita cuma butuh proses instalasi selama beberapa menit, masak iya harus menghabiskan duit gaji sebulan? Kalo di Jokja, cukup 1500 perak, kita sudah bisa berpesta-pora. Hore-hore dapat 1 CD dengan isi berbagai jenis kompilasi software.
Tapi juga, beberapa hari setelahnya, aku nganterin oomku jalan-jalan ke Rimo, pusatnya pedagang komputer di Denpasar. Dan di sana aku mendapati bahwa aksi sweeping software bajakan di Denpasar sangatlah tidak adil. Di Rimo ternyata masih banyak yang jualan software bajakan. Jualan lho, bukan menyewakan. Jadi sebenarnya orang-orang masih bisa mengakses software-software bajakan di situ. Cuma saja, ya kembali ke itu tadi: cuma butuh proses instalasi beberapa menit aja masak iya kita harus ngeluarin duit yang kalo dipikir-pikir lebih enak untuk dipakai beli makan? Hasilnya, orang-orang tetap aja malas membuka wawasannya tentang dunia IT.
Beda banget dengan di Pulau Jawa yang anak esempenya aja udah paham ngeblog, IT jadi barang yang mahal di Bali. Dan konsekuensinya, siapa, sih, yang mau mengkonsumsi barang mahal tanpa pikir panjang?
Memang, sih, untuk ngakalin kendala sweeping software-software bajakan di Denpasar ada alternatif dengan menggunakan software open-source yang gratisan. Tapi ini lagi-lagi kembali lagi kepada masih lemahnya wawasan IT di Denpasar. Para tukang sweeping itu nggak peduli rental yang disweepingnya itu menyewakan software jenis apa. Apakah original, bajakan, atau open-source, mereka nggak tahu. Boleh jadi, mereka masih punya anggapan bahwa asal software untuk komputer berarti otomatis adalah bajakan! Pokoknya asal rental software pasti disikat! Dualisme sikap para tukang sweeping ini - selain dengan tidak menyikat para tukang jualan (bukan tukang menyewakan) software bajakan - juga terlihat dengan tidak adanya sweeping kepada rental film. Beuh, pilih kasih (atau kebodohan?) yang menyebabkan mandegnya proses pencerdasan kehidupan bangsa.
Semuanya jadi seperti lingkaran setan. Kebodohan dalam wawasan IT menyebabkan sweeping yang tidak tepat sasaran. Padahal untuk menghilangkan kebodohan, aksi sweeping haruslah tepat sasaran. Tapi bagaimana mau nggak bodoh? Lha wong semua software IT disweeping secara ngawur-ngawuran, sehingga akses informasi dunia IT jadi terbatas.
Hal ini bikin aku jadi prihatin. Seorang Klutuk bisa-bisanya sampe nggak tau apa itu Mambo, Joomla, Drupal, AuraCMS, WordPress, dan sejenisnya (padahal ini software gratisan, lho). Iklim di Denpasar, diakui atau tidak, justru membuat malas orang-orangnya untuk selalu membuka wawasan dan mengeksplor dunia IT dengan lebih jauh. Mungkin seorang Klutuk bolehlah kita jadikan sampel kondisi umum anak muda di Bali tentang perkembangan dunia IT. Itu masih sampel yang bagus, karena setidaknya Klutuk sempat punya background IT. Tapi secara umum, di Denpasar, orang-orang yang seperti Klutuk itu masih sedikit sekali. Yang lebih parah masih banyak. Kalau iklim di Denpasar, pada khususnya dan Bali pada umumnya, masih kayak gini terus, yang bakal berpesta adalah orang-orang seperti aku, orang-orang yang cerdik tapi licik. Keawaman orang-orang di Bali terhadap dunia IT bakal kami eksploitasi habis-habisan. Hati-hati saja!
Maka sekarang, untuk Denpasar pilihannya aku pikir cuma ada 2: kalo mau sweeping barang bajakan ya sweeping aja semuanya tanpa pandang bulu, dan kalo masih mau “memaklumi” adanya barang bajakan, tolong “maklumi” juga keberadaan software bajakan secara total. Biarkan orang-orang di situ tetap “tidak seberapa” dan didiklah mereka supaya seumur hidup cuma bisa jadi konsumen yang baik (dan blo’on?), atau kita sama-sama belajar tanpa batasan dan bersiaplah untuk menjadi pinter dan diperhitungkan, pilih mana? Mau jadi manusia yang pinter atau manusia yang taat pada peraturan?
Aku sendiri, dalam perkara pembelajaran, lebih memilih sikap untuk mempelajari semua apa yang bisa kita pelajari. Masalah idealisme antara software bajakan dan open-source, tentukan kemudian setelah kita punya kebisaan!













ehm, jadi pengen ke sana
tapi memang kebanyakan web yg ak buat pake Joomla, Drupal, sama WP. Paling banyak WP, mudah sih
kirain Bali orangnya hebat2 jo. kalo liat webnya wong Bali kayaknya kreatip2 bgt. Brarti sama ma di clp. Harga rental larange puol udah gitu luelet setengah modar. Bisa di sambi ke sorga dulu. Plus cuma di pake untuk chating padahal anak-anaknya banyak yang kuliah di yk.
Walah, masak Bali malah ketinggalan IT dibanding Yogya, Mas Joe? Padahal, Bali kan dikenal sebagai “Syurga Dunia” bagi para pelancong. Apa emang saudara2 di Bali terlalu sibuk ngurus para turis sehingga nggak sempat belajar IT, hehehehehe
*Maaf, numpang OOT. Jadi, Mas Joe itu dari Bali, yak? Setahuku nama Bali itu kan khas pakai Putu, Made, Nyoman, Ketut, dll. Mas Joe, kok, nggak? Hayo!*
nanya ce em es ke klut*k, dia taunya es em es. ahli malah kek..kek..
masalah pake bajakan atau enggak, selama lum jualan produk sendiri tetap cinta bajak laut he..he.. —>(asli memalukan)
jual pisang goreng isa dibajak ga ya?
murah meriah… tapi tidak memberatkan user dan admin
sip betul tuh
*baca comment na pak sawali*

paleng joe ini namanya Joe Ketut pak
Jo,,, Postingan iki sedikit terinspirasi karna koe nyusup kelas CMS yo??? Hehe…
Baru pertama kali aku tau, ada anak cuman maen, pake sandal, kaos sepakbola, tapi disuruh jadi komentator presentasi tugas cuman gara2 iseng nanya + dosennya familiar sama mukanya…
Wah… gak nyangka kalau di Bali separah itu….
padahal orang luar negeri lebih tahu Bali daripada Indonesia
sweeping tanpa pandang bulu?…… kok dodol banget ya itu tukang sweepingnya? laporin atasannya aja *provokator*
btw soal bajakan… bukannya selama tidak kita komersilkan (gunakan untuk membuat produk/program yang kemudian dijual) kan tidak apa-apa? yang penting belajar….. kalau aku sih emang malas belajar
welgedewelbeh
ahhhhh … jadi inget 3 bulan bermalam di Denpasar ….. internet ?, dah mulai murah kok, kecepatan cuman a bit slower than in Surabaya. Yang cepet2 di hotel2 om, koneksi pake satelit.
Suka salut deh ma orang-orang yang bergerak di bidang IT , secar aku ini gaptek banget
Kasian ya para programmer, udah capek mikir2 buat software malah di bajak…
Indonesia, apa sih yang gak bisa…
tapi jelek juga.
hmm
mungkin sampelmu kurang banyak Jo … jangan2 si klutuk adalah anomali
mbajak nggak salah-salah amit koq joe.. asal tujuannya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa..
bukankan setiap warga negara harus mencerdaskan kehidupan bangsa ya?
itu kan kata UUD ‘45.
Tapi sekarng mau mencerdaskan aja malah di tangkap???
siapa yg salah??
Set dah, murah amat yak. Itu modal CD kosong aja udah 1000an, brarti untungnya 500 perak dong, ck ck ck… Seumur-umur nemu software bajakan murah cuman di Depok aja, harganya 5rb. Kalo sw yang diminta gak tersedia, bisa pesen, nanti didonlotin dan dicariin ‘inul’-nya.
Wadoh, ini mah parah banget. Itu para sweepernya apa gak nyari info dulu sebelom sweeping yah. Padahal alternatif open source ini digalakkan sama Menristek dengan IGOS-nya. Parah parah..
mulih, Joe. mugo2 kowe iso urip mulyo nang kono.
eh sing soal Wahana, gojekane keren juga. hehehe
wah, di bali bisa parah gitu yah,, kirain dijakarta udah parah banget,, emang kalo mo cari cd2 softwre yang murah tu kebanyakan ada di daerah yang merupakan kota pelajar, banyak rental pula,, kayak bandung, jogja, malang, purwokerto itu gampang banget carinya,, di jakarta malah gak ada brur, ato mungkin belum nemu kali yah,,,
salam buat bali yang jadi host ktt iklim dunia
salam kenal
Temenku yg konon jagoan web juga masih mendesain sendiri. Kalau pun bikin CMS, maka CMS made-in-dhewek. Tentu saja fiturnya ketinggalan jauh dengan CMS gratisan sekali pun. Padahal doi tinggal di Jakarta yg konon sarana-prasarana TIK-nya laksana surga.
Kalau sudah begitu, apakah Jakarta ketinggalan dengan Yogyakarta? Ternyata kesalahan kita ada beberapa:
1. Mengambil sampel terlalu sedikit (cuma 1)
2. Karena sampel terlalu sedikit, maka resiko salah-benarnya sample 50-50.
3. Menarik kesimpulan yang salah dengan menggeneralisir analisis yang memiliki kelemahan poin 1 & 2.
duh, jangan beli bajakan mas,,,
Ndak selamanya CMS yang beredar di pasaran itu efektif untuk membuat web sesuai permintaan client lho. Salah pilih, bisa jadi meriam pembunuh kecoa.
I have read your nice post and You can find a reply to your post here …
jangan terlalu percaya sama joe. Dia tuh cuman survei sekali trus langsung buat kesimpulan segitu banyaknya…
mana bisa dipertanggungjawabkan..?
jangan-jangan skripsinya juga begitu… :))
*ngilang*
wah mas joe terlalu cepat menyimpulkan, jangan-jangan itu cara mas klutuk agar orang memaklumi ketidak tahuannya, tinggal bilang aja di bali orangnya emang bodoh-bodoh..
Setidaknya, antara Yogyakarta dan Bandung masih merupakan surga bajakan. Syaa kasihan sekaligus “bangga” bahwa di Bali perturannya sudah seketat itu.
Ingat, “bangga”.
Hmmm…
Wahana….
Kawan2 yang kukenal udah pada gak ada semua di sana…
Kabarnya mBak A*** dan Mas C**** bagaimana yah? (sengaja kusensor.. itu nama pemilik soalnya).
Trus ada berapa gerai sekarang?
Dulu ada dua,
Lebih tepatnya,
dulu ada satu dengan VCD dipisah dengan DVD. Trus pindah.. tapi yang lama tetap dipertahankan. Setelah itu, di depannya muncul Video Ezy. Dan setelah itu aku pindah ke Jakarta.
rd Limosin:::
haha, iya. toh plug-innya udah macem2
Aa Elen:::
wah, tergantung, sih. biasanya yang hebat ya yang mampu gaul di dunia it, ehehehehe. tapi secara umum, yang hebat itu masih sedikit…
Sawali Tuhusetya::A:
ahahaha, kalo masalah it, jujur, bali memang sangat jauh ketinggalan. di bali kebanyakan hanya berlaku sebagai konsumen, bukan produsen
lho, soale bapak-ibu saya orang solo, pak
yudi:::
bisa. bawa pisang gorengnya ke ibuku. dia bisa bikin yg lebih enak
almascatie:::
joe satrianto!
Aday:::
bukan. aku masuk kelas cms malah gara2 pgn nyari developer web yang lumayan handal buat nyari obyekan di bali
mulut:::
terakhir, awal sampe pertengahan bulan kemarin masih 5000 lho
landy:::
saya juga gaptek, kok. kalo mendasarkan kepada parameter teman2 saya, huehehe
kudzi:::
sapa suruh jadi programmer? makanya, ji, jadilah orang cerdas, bukan orang pintar. pekerjakan para programmer. kita tinggal ongkang-ongkang menikmati uang
nurussadad:::
bagus, lho…kalo buat pembelajaran, hehehehe
Luthfi, Emanuel Setio Dewo, dodo, scouteng:::
bisa jadi. tapi fakta di lapangan yang saya alami sendiri waktu jalan2 juga demikian. boleh jadi kemungkinan besar saya sendiri malah juga termasuk anomali
sebenernya sampel data saya ada beberapa, sih. cuma yang paling mencolok dan menarik buat diangkat kisah hidupnya ya si klutuk, berhubung cuma dia yang punya background it
trojan:::
lho, aku juga suka kapten jek spero, kok
iamedel:::
yang 1500 itu nyewa cd kok, bukan harga belinya, hehehe
arya:::
amin!
devino:::
sebenernya ga parah-parah amat, kok. cuma aja, perbandingan antara user dan orang pinter itu masih terlalu njomplang
atmo4th:::
enggak kok. biasanya saya nyewa atau ngopi
The Sandalian:::
betul. tapi kemarin, sasaran saya sama klutuk memang buat klien yg permintaannya ga aneh2
gofer:::
trimakasi…
Mihael “D.B.” Ellinsworth:::
ketat dan “agak” ngawur, maksudnya?
kunderemp:::
makin banyak, mas. ada 4 sekarang kalo ga salah (atau malah lebih?)
wah,saya ini neh,produk karbitan cms.. tau html sitik2 .. ra mudeng css,php,dan seduluran..
*
btw, kalo di bandung,ngesot dikit ke depan kampus,udah bisa dapet semua jenis softwer bajakan
tapi entah mengapa,di surabaya,rada susah *harus ke rental,dan rebutan ama mahasiswa sono*
di jogja ada pasar CD murah juga tak?
Joe, masih ingat perbincangan kita tentang web salah satu tempat wisata di utara jawa timur yang super duper jadul dan super duper nggak enak diliyat mata itu?
sampe sekrang kayaknya masih tetep seperti itu lho!
gak pengen nge hack?
joe, jangan2 bener komentar2 diatas, dimana mungkin kamu salah penelitian kayak si gendeng n taufik dulu yang mengambil kesimpulan bahwa cw2 di yk kalah sexy sama kampung halaman tercinta (kesimpulan diambil oleh 2 orang yang taunya waktu itu cuma kos2an di jakal km 5,5 sama SSC di kota baru thok),padahal ternyata setelah diamati selama 5 tahun cw di yk ya maknyus juga wekekeke….
tapi mungkin juga bener yang kamu tulis, soalnya saya hidupin komputer aja mesti panggil tetangga, trus karena ga bisa matiin, ya tak cabut aja colokannya, matek dah hue..he..
danasatriya:::
wah, nek aku ra tau tuku, je. biasanya nyewa terus, hehehehe…
ada juga cd murah, tapi cd bajakan lagu2 dangdut+campursari. vcd malahan
Nyonya 49 engga login:::
memang rodo kampret. mbok kamu ngajuin proposal sana. masalah webnya biar aku yg nggarap. kita 50:50 aja pembagian duitnya
yudi:::
nah, itulah dia kalo anda terlalu banyak bergaul sama mas topik, kekekeke…
kalo saya jelas bisa dipercaya akurasinya, kakakaka. secara saya juga merasakan kesulitan mbenerin komputernya oom saya. tidak ada akses untuk mendapatkan tools pendukungnya dengan kecepatan secepat pogung rejo-jalan kaliurang
halo pak…nice blog u got here…
saya termasuk penggemar bapak lho,main-main lha ke tempatku kalo sempet…[http://andrisihebat.com]
wassalam!
x andri x
Kleng joe… cang the next klutuk nok,
Waduh.. bahasanya di luar nalar dan logika saya nih. Saya sih mumpung dapet internet gratisan di kantor, ya manfaatin aja buat donlot sopwer2 yg berguna. Tp bener mas, koneksi internet di Bali, Denpasar khususnya lelet n mahaal..
Jd ngiri sm anak2 Jogja..
Bener mas, web2 buatan sini biasanya mengutamakan penampilan. Yang kadang2 ga fungsional n ribet. Ga user frenli n berat diakses. Mungkin disini memang diperlukan org2 sepeti mas dito ini supaya jd teladan bagi para web desainer di Bali. Kapan lulus mas??
berarti aku harus berhati dengan kedatangan joe yang satu ini
*ngikik geli*

liat arti wahana…
aya-aya wae mas
temen nya disuruh main ke opensourcecms dot kom aja mas
Salam wr wb
Mo nyebarin virus TBC lagi neh
Wassalam
andrisihebat:::
seandainya saja anda berjenis kelamin wanita, kakakaka!
nyomanbagus:::
lho, kuliah di atma juga?
creez:::
tolong jgn tanya kapan saya bakal lulus!
marebangun:::
tentu saja. untuk siapapun yang jadi saingan saya, mereka harus selalu berhati2 thd saya
goop:::
bukan aku yg bilang. sumpah!
Funkshit:::
inilah masalahnya. mau ngakses i-net di denpasar aja udah bukan main malesnya. warnet yg butut GUI-nya, koneksi yang kecepatannya amburadul, dan harga yg relatif mahal buat anak denpasar yang sudah sempat kuliah di jokja, semuanya bikin ilfil duluan…
Aswaja:::
oh, spam ya?
Wah… Tulisan ini sindiran telak buat saya sebagai mantan pengajar yang sok IT dan pernah mengajar di Bali. Huehehe.
Sekedar berbagi cerita, Mas Joe.
Beberapa tahun lalu, saya pernah mengajar di beberapa sekolah. Umumnya berkaitan dengan IT dan multimedia. Bahkan kadang merumuskan kurikulum sendiri.
Ada beberapa kejanggalan yang dulu saya temui ketika mengajar di RI. Waktu itu, saya pikir itu adalah hal biasa, sebab saya sebelumnya memang belum pernah mengajar IT di RI.
1. Dalam merumuskan kurikulum IT, tidak ada panduan sedikitpun dari pemerintah atau institusi resmi. Baik untuk sekolah swasta maupun non-swasta.
2. Dalam berijtihad merumuskan kurikulum, banyak sekali pesan sponsor vendor software yang terlibat. Dan ini memang diharuskan ‘dari atas’ (*baca: dipaksa bos dan bosnya bos dan bahkan bosnya mereka semua*)
3. Opensource belum dilihat sebagai sarana alternatif bahan ajaran. Karena adanya MoU antara sekolah dengan Sistem Operasi tertutup tertentu (*nggak perlu disebutkan nama OSnya, yang pasti sudah terkenal sering dibajak*).
4. Masih kentalnya dikotomi antara komunikasi visual cabang tertentu (misalnya: grafis,3D,pengembangan web, pengembangan game) dengan koding. Hasilnya diantara lain, banyak yang ngerti rendering dengan Blender tapi gagal membuat game-engine sederhana OOP dengan Phyton. Atau faham menganimasikan objek dengan Flash tapi disuruh bikin aplikasi dengan ActionScript, menggeleng pusing.
5. Budaya aneh yang tumbuh, antara lain; Kalau anak grafis, ngapain belajar koding, wong larinya nanti ke percetakan. Atau anak koding ngapain belajar grafis, mao jadi programer kan nggak harus bisa gambar. Dan anehnya, untuk sebagian dosen, budaya ini bahkan dibiarkan terus ada.
6. Opensource tidak dilihat sebagai komunitas yang patut didukung. Melainkan sebagai sarana ajang uji-test perangkat lunak saja. Contoh, pada saat itu, PHPNuke walaupun sempat populer, hanya dijadikan sebagai sarana iseng belaka. Tidak ada keinginan untuk menambal patch atau memburu bug-bug terbaru. Waktu ditanya kenapa, jawabnya “Ahh biarin, itu kan kerjaannya bule. Kita kan tinggal donlot saja, Pak”.
Itu Mas Joe, beberapa poin yang luar biasa yang ada di Bali. Tapi ini cerita jadul loh. Sekarang ndak tahu bagaimana.
Dan untuk ‘membangunkan’ mahasiswa, aduh susahnya minta ampun. Kebanyakan sudah berfikir terpola ala konsep nomer 5. Namun untungnya tidak semuanya. Masih ada beberapa yang mau belajar. Sayangnya, tidak banyak.
(*Maaf Mas Joe, saya kok jadi ngeblog disini. Sumpah, ini bukan pledoi bela diri. Hehehe*).
Untuk rekan-rekan pengajar/profesional IT di Bali, mohon maaf apabila ada kalimat yang tidak nyaman untuk anda. Ini hanyalah pandangan subjektif semata dari mantan pengajar di Bali.
Waduh… saya yang lulusan Fakultas Ekonomi saja ngerti CMS (walopun nggak bisa ngupreknya). Ya… iseng-iseng nginstal pake fantastico gitu!
suruh kursus ke jeng sendal aja mumpung promo + ada bonus HD 20GB JAV
mantan guru di bali:::
ohohohoho…tambahan yang mencerahkan, mas guru
tentang dikotomi itu, tadinya saya juga punya pikiran model gitu waktu masih muda; ngapain susah2 belajar php kalo cuma mau jadi desainer web. html aja sudah cukup. tapi rasa nggak puas ngeliat hasil kerjaan yang nggak optimal akhirnya membuat saya memutuskan bahwa kalo pengen memuaskan diri sendiri saya harus belajar lebih banyak lagi.
mungkin fenomena gampang puas itu yang harus dikikis, mas guru
kombor:::
mungkin karena beda iklim, mas.
di kota kayak jokja ini, bisa aja kita temukan anak2 fakultas di sebelah timur jln kaliurang yang kemampuan it-nya lebih ngedab-edabi ketimbang anak-anak yang fakultasnya di sebelah barat jalan kaliurang, lho
perbedaan kemudahan akses antara jokja dan denpasar, sih
detnot:::
jangan! itu proyek saya beberapa waktu ke depan. tapi kalo sandal mau sharing profit sih ya tidak mengapa
Hidup Istana…!! *tempat nyatroni anime hentai*
aq ora ngerti topikmu, Joe.Tak ucapno selamet aja deh.Ente kan mau wisuda.Selamat, selamat!! moga2 tak ada dendam dan caci maki ke kampusmu, UGM yah
Thx for the visit…blog bapak saya tautkan ya,saya punya banyak teman-teman yang cantik lho…sape tau nanti ada yang tertarik sama bapak…
wassalam
Joe, lah sing nduwe http://www.baliwae.com iki koe kenal ndak…? Bukan temen SMA? Itu khan wes suwe ning mBali sana.
Siap-siap saingan Bozz.. ta dukung 128% wes…
Kwank…… Kwang…….. Kwank……..
rozenesia:::
sudah dibakar? sini, giliran saya menikmatinya!
toim:::
lha, masak iya ndak ngerti?
andrisihebat:::
wah, silakan2…makaciii…
anu, ada cewe cakep yang nomer hapenya pake xl ga?
Mas IWåNT:::
nek sing kui aku ra ngerti, bos, hohohohoho!
Biasa Sadja:::
heh? heh? heh?
hidup bajakan..
nak belog matakon:”sajaan ada karmaphala??”
tp ilustrasi kisah mas joe di atas sedikit banyak memang menggambarkan kultur budaya bali yg ngekoh™ puk..
iya emang di bali ini begini

sampe kapan yah begini terus.. malu sih make bajakan, cuman ya mo gimana lagi yah. kl ga gitu ga idup
tulisannya keren, joe. karena itulah kamu harus bertanggungjawab utk membelogkan anak2 muda bali. maksudnya ngajarin ngeblog. kapan kamu siap mudik dan ngayah di bali, nak? :))
ojo suwe2 ning jogja. bali wae ning bali. :))
Benar mas Joe kita mesti realistis … masa install semenit, harganya menghabiskan gaji sebulan… benar2 tidak adil, disamping itu kadang sweeping juga asal njeplak!
Benar opensource itu bnyak tinggal pake, tapi system dan montasenya, pake software yang juga rawan disewa eh sweep…
“Mau Pinter? Ya Jangan Taat Peraturan”
Iya bener tuh…
=> Hansteru WebBlog <=
===> “Mau sering-sering online via internet, di Denpasar harga sewa warnet per jamnya masih mahal. Lima ribu sejamnya dengan kecepatan koneksi nan kampret bin laknat.”
SETUJU Joe…!!!! Di tabanan bahkan 6rb/jam dengan koneksi yang…Anjrit!! Tapi ada yang cepet ko di kawasan Kuta sono, tapi harganya 200perak/menit alias 12rebu/ jam. Heuheuheu…
ini memang dilema, tapi saya mendukung pemikiran Joe, saat ini memang sebaiknya ikuti situasi dan kondisi, kalau “perkembangan” software dan IT di bali dibatasi (baca : disweeping) seperti, Bali bisa jadi tambah ketinggalan jaman di bidang IT.
Maka jangan heran banyak lulusan S1 nggak ngerti make komputer.
Btw, sekarang saya pindah ke http://wirautama.net dulu di http://ankerzone.wordpress.com
tak pikir bali ki maju, ternyata koyok ngono to, maju di pariwisata tapi mundur di IT. *no offense mas joe*
Jujur saja, saya sebagai seorang programmer/desainer/analitik/pengurus web, bingung kenapa di halaman ini belum ada yang menyarankan untuk menggunakan HTML/CSS/JS saja, dibumbui sedikit PHP/MySQl. Memang tidak sepraktis CMS, tidak secepat WYSIWYG dari dreamweaver, tapi dapat anda buat apa saja.
CMS seringkali merupakan overkill. Memang bagi banyak website, sebuah CMS sudah cukup, tapi bagi website yang lebih kompleks, nggak ada yang bisa mengalahkan HTML/CSS/JS mentah.
Tambah lagi semuanya gratis. Notepad pun jadi.
still waitin for ur promise!
buatlah blog tentang aku, setan!
wahono.. wah ono..
wahana.. wah ana..
lucu