Kemarin lusa dan kemarinnya lagi, aku dolan ke kampus dan terjebak dengan obrolan dengan seorang adik kelasku (setelah sebelumnya sempat curi-curi pandang ke teman seangkatannya yang manis. Lumayanlah, ketimbang kejeduk tembok, menurutku).
Ini cerita obrolanku tentang teman seangkatan adik kelasku itu? Oh, ini nggak ada hubungannya, kok.
Adik kelasku itu, sebut saja bernama Jumidin (ini sebenernya nama ustadz di kampungku), cerita-cerita ngalor-ngidul-ngetan-ngulon tentang berbagai hal, hingga akhirnya aku tertarik dengan ceritanya tentang kegiatan awal kuliahnya yang sempat berkutat dengan bisnis MLM (Multi Level Marketing, John!). Jumidin ini dulu sempat memperkuat sebuah bendera MLM yang jualan obat-obatan.
Dia cerita tentang ketidak-sregannya dia pada bisnis yang digelutinya selama 2 tahun itu pada akhirnya. Jumidin cerita juga tentang nggak enaknya beban sebagai orang yang diharapkan sebagai penyelamat tetapi pada akhirnya tidak bisa memenuhi harapan dari orang-orang yang mengandalkannya itu.
“Kamu pasti tahu gimana rasanya, Joe, jadi orang yang diharapkan bisa melakukan sesuatu tapi nyatanya kita nggak bisa mewujudkan harapan itu,” kata Jumidin.
Yeah, Jumidin memang lagi cerita tentang downline-downline-nya yang menggantungkan harapan padanya sehubungan dengan statusnya sebagai upline. Jumidin memang lagi ngomong tentang nggak enaknya dia menghadapi downline-downline-nya yang gagal.
“Kasarannya, aku bilang ke mereka, ‘Gini, lho. Pokoknya asal kamu ngikutin cara yang aku tunjukin, kamu bakal berhasil di bisnis ini.’ Tapi nyatanya aku sendiri gagal mewujudkan harapan mereka meskipun mereka sudah mengikuti semua cara yang diajarkan di seminar-seminar yang ‘harus’ kami ikuti,” tutur Jumidin.
Jumidin bilang, pada akhirnya dia mengambil kesimpulan bahwa MLM itu memang bisnis tergantung style pelakunya. Kalo dia cocok dengan gaya bisnis tersebut, dia bakal sukses. Tapi kalo nggak, ya wassalam.
Aku mengiyakan. Bukan karena aku anti MLM, tapi aku sendiri pada dasarnya memang berpendapat seperti pendapat Jumidin di atas: MLM itu nggak beda dengan bidang usaha lainnya. Tiap orang punya style yang berbeda-beda. Kalo mau sukses, ya tiap individu itu harus punya bakat dan kesukaan di bidang usaha yang akan digelutinya.
Contohnya, ada yang cocok jadi pakar telematika, ada yang cocok jadi kapten timnas sepakbola Indonesia, ada yang cocok jadi guru, ada yang cocok jadi debt-collector, broker, tentara, pusi’il (baca: polisi), atau bahkan juga cocok jadi tukang tambal ban. Nah, bisnis MLM juga gitu. Ada yang bisa cocok dan ada juga yang tidak.
Bull-shit besar, kupikir, kalo ada yang bilang bahwa siapapun bisa sukses di MLM, nggak peduli apapun latar belakangnya. Bah, orang kan berbeda-beda. Nggak semua orang bisa cocok dengan cara bisnis gaya MLM. Kalo nggak bakat di bidang MLM, sampe aku nikah sama Dian Sastrowardoyo pun ya tetap aja nggak bakal pernah sukses.
Bisnis MLM itu sebenarnya nggak beda sama bisnis-bisnis yang lainnya, Dab. Omong kosong kalo ada yang membual bahwa bisnis MLM menjamin tentang kebebasan waktu dan finansial!
Kalo bisnis konvensional, selain MLM, yang kita kenal selama ini terkesan menguras waktu para pelakunya untuk berpusing-pusing mikirin usahanya, jangan dikira bisnis MLM nggak kayak gitu. Para pemain MLM avant-garde yang hobi ngasih kesaksian dari pertemuan ke pertemuan ala MLM itu sebenarnya sedang ngibul kalo mereka bilang bahwa kita paling banter cuma butuh waktu 2 jam dalam sehari untuk mengurus bisnis MLM kita itu.
Kalo tukang tambal ban bisa pusing seharian mikirin kenapa nggak ada pelanggan yang ban motornya bocor, pemain MLM pun bisa mumet seharian kenapa dia nggak bisa dapat downline. Pemain MLM juga dituntut untuk berusaha mati-matian mencari downline sebanyak-banyaknya. Jadi, sama aja, kan? Sama! Semua bidang usaha apapun membutuhkan totalitas dan keseriusan kalo kita pengen sukses. Nggak bisa rentang waktu yang maksimal cuma 2 jam itu kita jadikan patokan. Nggak ada itu yang namanya kebebasan waktu dalam MLM. Yang namanya berusaha untuk hidup layak, siapapun bisa pusing nggak peduli apapun pekerjaannya (bahkan juga seorang Al Capone)!
Kalo kebebasan finansial? Ah, tukang becak yang kebanjiran pelanggan pun juga bisa memiliki kebebasan finansial kalo dia sempat nabung sedikit demi sedikit, lalu kemudian setelah tabungannya jadi bejibun duitnya lantas didepositokan
Kebebasan finansial nggak cuma monopoli para petarung MLM.
Selanjutnya, kepada Jumidin, aku juga sempat bertanya apa iya ada cerita tentang pemain MLM yang sukses yang benar-benar berjuang dari level 0, atau kasarannya dari yang dulunya termasuk kalangan ekonomi menengah ke bawah? Soale, jujur, aku belum pernah melihat dengan mata kepalaku bahwa ada orang yang sukses dalam bisnis MLM yang berasal dari latar belakang “nggak punya apa-apa”. Yang aku tahu, pelaku-pelaku MLM sukses itu biasanya berangkat dari latar belakang menengah ke atas yang secara ekonomi sudah memiliki modal duluan untuk bermain MLM.
Jumidin bilang, “Cerita yang kayak gitu memang ada, Joe. Tapi kita kan tahu kalo kemungkinan kita dibohongi itu selalu ada. Kita jelas nggak mungkin menyelidiki orang tersebut lebih jauh. Yang bisa kita lakukan paling-paling cuma kros-cek dengan orang-orang terdekatnya. Nah, celakanya, orang-orang terdekat mereka itu biasanya juga orang MLM. Jadi mana mungkin mereka – semisal mereka bohong – mau jujur tentang kebohongannya, ya kan?”
Maka begitulah, berhubung aku sendiri ngerasa nggak berbakat di bidang MLM-MLM-an, aku lebih memilih untuk tetap bermimpi mengapteni timnas sepakbola Indonesia ketimbang join jadi pemain MLM.













PERTAMAX!!!!!!!!!!!
blm baca.. sing penting comment dulu..
hetrik.. pokokmen hetrik!!!
quartrik… sik tak baca dulu ya joe..
Contohnya, ada yang cocok jadi pakar telematika, ada yang cocok jadi “kapten timnas sepakbola Indonesia”, ada yang cocok jadi guru, ada yang cocok jadi debt-collector, broker, tentara, pusi’il (baca: polisi), atau bahkan juga cocok jadi tukang tambal ban.
hati2 jangan klik link itu.. itu cuma akal-akalan si jon biar ada yang liat web nya yg di satrianto.web.ugm cuma akal-akalan biar dapet adsense.weheheheheeee..
Peace jon!!!
daripada MLM mendingan adsesne
wakakak…
lha inih..
sayah jadi inget pernah nulis inih..
hihihi..
judulmu itu loh, nggarai ngeres, njekethek, MLM! payah pol!!!
Oh ya, satu lg cak Joe, impianmu jd kapten timnas kyk-nya hrs dikubur aja deh, bakat ente kayaknya koper boi majalah sobek (persis presenter yg katrok iku, podo2 narsis!)
em el em, wah aku ngga pernah ngikut ada beberapa yang sukses ada juga yang ngga, tergantung yah… huehuehehuhe
Weleh, kalo yu Djoem kok lebih seneng utang ke mendring drpd ikut MLM
judulnya bagus tuh
kali ini terpaksa setuju karo kw boss
bullshit juga kalo ada yang bilang liga champions saat ini bisa dijuarai oleh siapa saja, apapun latar belakang klubnya. Yang menang pasti yang itu2 aja yang punya bakat menang disini, contoh nyatanya ya Milan, koleksi gelarnya aja dah 7, lebih banyak 2 titel dari klub yang “kau tau siapa” dan “tak bole disebut namanya itu”.
Setuju!!!, malah nek tak perhatiin mereka yg ‘berhasil’ di MLM kerjanya kayak orang gila, pontang panting sana sini, seminar sana sini, bahkan ber’akting’ untuk bisa menuhi ekspektasi para downlne dan calon downlne nya.
trojan:::
sudah ndak pasang adsense lagi disitu. lagi pembenahan, kekekeke
antobilang:::
ya..ya..betul. kerjaannya tinggal rajin ngeblog aja, hahahaha
-tikabanget-:::
nostalgia itu memang menyenangkan kok, mbak
toim the shinigami:::
wah, itu sih ente aja yg terjebak terlalu cepat
Raffaell:::
yeah, tergantung style
warungpojok:::
saya juga, yu. malah septo, temen saya, ngomong, ” ben nek aku ra nduwe bojo. sing penting aku ra nduwe utang,” ketika saya ledek bahwa dia masih belum punya pacar.
maka sayapun membalas lagi, “ben nek aku akeh utange, sing penting nduwe bojo.”
dianna:::
biasa aja, mbak. MLM. lantas bagusnya di mana?
yudi:::
*prihatin ketika mengikuti perkembangan lega calcio*
turut berduka cita, john
joyo:::
hahaha, iya. makanya saya heran…darimana kebebasan waktunya itu didapat?
yup.. setuju..
soale aku pernah kecemplung ikut tuh yang namanya MLM, kepepet seh waktu itu frustasi kaga’ dapaet kerja.
tapi utnung aja akal gue ga’ ilang setelah beberapa kali ikut pertemuan kayaknya insting gue mengatakan gue harus cabut deh dari tu MLM.
so.. slamet deh gue dari KECEMPLUNG, sempat seh.. kesilep minum air dikit and glagepan. he– he..
tampaknya kamu sudah sadar Joe
btw soal MLM….. kalau nggak salah di bukunya Robert Kiyosaki (yang konon juga orang MLM
) dia menyebut MLM itu sebagai Network Marketing. Berarti orang yang tidak punya network atau tidak punya kemampuan untuk membangun network (komunikasi) ya gak mungkin sukses dong…..
aku heran, padahal produknya bagus… kenapa harus dipasarkan dengan cara “menipu” seperti itu ya?
woo githu ya joe.. aku bsk ajari maen adsense yo..
eh, kmu koq gak suka MLM napa joe?
klo M yg belakang di ilangin suka gak??
mending e-commerce http://ardian.web.ugm.ac.id new look !!
@ardianys
bos ojo nyampah bos.. koq koyo aku wae.. kekekeekeee
tidak ada orang yang berhasil tanpa usaha, nyontek juga usaha lho..hihihi
yeah semua punya style masing2 memang.. sayah sepakat dengan itu termasuk style menggaet dan kegaet atau lirik melirik dengan adik angkatan
ya-saya?
nama saya disebut-sebut?
ada apa mas joe?
saya setuju dengan artikel ini. saya pernah diajak beberapa kali masuk mlm, tapi berhubung image mlm di indonesia agak buruk, saya selalu bilang ama orang yang nawarin “akan saya pertimbangkan” (pertimbangin ampe jaman jebot)
coba kalau di indonesia ada mlm buku2 murah yah, saya sih pasti ikutan, hehehe.
huehehehehe….
Hidup MLM… sampek tuwek sampek elek tetep ae kere…
MLM apaan seh???
Apa hubungannya ma Dian Satro???
Sy kebetulan anggota MLM yg skg lg booming, tp hanya utk konsumsi sendiri bukan mencari downline krn nggak bs meyakinkan org untuk ikut
hohohohoho
ada trojan..
Wah wah wah, tambah satu lagi bloger yang anti MLM nih. ( clingak-clinguk cari bro Mbelgedez yang anti MLM tulen dan Pak Dewo yang mantan tukang sulut sumbu kompor kok belum coment di postingan ini ya ).
Salam eksperimen aja mas Joe.
menurutku MLM itu kezaliman terselubung, bentuk penjajahan terselubung. MLM sama sekali ga mampu mensejahterakan seluruh tim. Bisnis ini selalu berakhir dengan adanya pihak yang nerugi didalam member tim, yaitu member tingkat terbawah yang ga memiliki downline..
Kalo anda sudah menjadi MLMer yang memiliki kebebasan finansial, misalnya sudah punya 5 tingkat downline. dan anda tidak berusaha membantu downline terbawah anda itu, berarti anda mulai kehilangan nurani anda…
Saya pernah ikut dalam MLM, dan merasa sedih sekali melihat downline2 saya yang kesulitan. Lalu saya coba buat perhitungan dengan harapan pada akhirnya semua anggota dalam member saya mendapat keuntungan (artinya modal awal lebih kecil dari total bonus/pemasukan rutin), alhasil itu semua bohong !!! modal awal selalu lebih besar dari bonus rutin walaupun seluruh bonus dan pemasukan rutin kami satu tim (berapapun orangnya) digabung dan dibagi rata dengan jumlah anggota tim.
Akhirnya saya putuskan keluar dari MLM itu dan minta maaf pada teman2 downline saya yang terlanjur sudah punya banyak impian…
Betul kata Hary, kalo jadi anggota MLM, lebih baik untuk tujuan konsumsi saja, lain tidak..
Wassalam,
Saya sudah bosan dgn mLm…
jargon waktu 2 jam hanya omong kosong… yg ada kerja kita malah jd 24++
fyuh… untung dah tobat dari MlM
Ade baca judulnya aja ah… lebih indah dari tulisan itu sendiri.
-Ade-
Iyo,, aku setuju banget!!
Aku masalahe yo wes tau melu,,
*ssstt,,menang kabeh!! Rahasia!!!!
semoga mimpinya terwujud dan membawa tim nas ke piala dunia
semangatt…..
wie:::
jualan obat, kosmetik, atau malah alat2 rumah tangga, mbak? ehehehehe
mardun:::
sadar opo? bahwa saya bakal menikahi dian sastro?
trojan:::
tergantung donk…sama sapa dulu
ardianys:::
link’e rusak
yoansoraya:::
aku waktu PBO ga jadi nyontek kamu, yo. kamu dikode juga nggak tanggap soale. lagian duduknya jauhan. tak masalah, ndak usah nyontek kamu pun aku tetap dapat B, kekekeke
almascatie:::
jadi bagemana? sudah berhasil menggaet salah satu adik angkatan yang khilaf?
dian sastrowardoyo:::
kita jadi nikah kan, dik?
Calvin Michel Sidjaja:::
saya juga ikut. asal bukunya murah dan bermutu
astikirna:::
bukane kowe isih dodolan kosmetik? kekekeke
neen:::
mohon tulisan saya dibaca ulang
segala pertanyaan sodari akan terjawab
harysmk3:::
kebanyakan orang, pada akhirnya memang akan memilih seperti anda, mas
hansteru:::
iya
Paijo:::
ah, saya nggak anti2 banget kok, pak. network marketing, bagemanapun, adalah sebuah konsep yang bagus. cuma saja implementasinya kadang2 suka kelewatan..hehehe
ncips:::
waalaikumsalam. terima kasih atas komen panjang lebarnya. semoga bermangpa’at buat yg baca
dobelden:::
saya belum sempat nyoba, mas. jadi belum bisa tobat, apalagi taubatan nasyuha
Sayap KU:::
eikzzz…
sebegitu bututnyakah mutu tulisanku?
Aday:::
jual obat2an juga? kalo obat kuat ada nggak?
baliazura:::
amin…amin…amin ya robbal alamiiiiiin…
ML yes, M no!
yah keseratus sepuluh deh …
setuju, semua bisnis butuh orang yg karakternya cocok dgn bisnis tersebut.
Kali ini saya setuju ama analisa sampean joe. MLM ya cocok cocokan.
MLM adalah suatu bisnis yang membutuhkan keseriusan dalam menjalankannya, sama dengan bisnis lainnya.
Kesuksesan hanya dapat diraih oleh orang yang mempunyai semangat dan komitemne yang tinggi dalam menjalankan bisnis MLM nya.
Upline boleh sejahtera, downline tetap saja sengsara…
Ngakak (tapi nggak pakai guling-guling) baca komentarnya Ade, kayaknya ngena banget ya Joe?
Yupe MLM emang menggiur-kan, tetapi sekaligus sering bikin kita cepat-cepat ngadep yang Kuasa (pas kena tipu)
Tapi gimana dengan CNI yang juga pake sistem MLM, tapi ampe sekarang masih exist, dan udah ngebuktiin apa-apa yang di-janjikan-nya Joe?
klo sama a*u joe??
katanya kamu pernah ama dia di salah satu hotel di koat magelang??
wekekekeeeeee…
Peace..
Obat kuat koyone raono jo,,hehe…
Tp nek obat bagos malah ono..
Contone aku!!!Wahahahahaha,,,,
(*)
wekz….! mari bikin persatuan anti MLM!
Jon,,
Join wae..
dadi downlineku,,
Wekekekekekekek..
Iki anyar lho,,
*siaalll, ketipu judul*
tentang MLM ya ? saya juga nggak tertarik dgn bisnis MLM. Bukan karena “prasangka” selama ini terhadap bisnis itu tp lebih kepada gaya saya yang berbeda dgn gaya bisnis MLM. Saya masih setia dgn gaya konvensional sementara MLM sudah pake nungging sana nungging sini.
*dipaksain ke judul*
Tak kirain tadi ML itu singkatan dari Making L….
Tak kirain tadi ML itu singkatan dari Making Lo…..
daripada MLM..mending juga jadi gigolo! (mengutip dialog di film Quickie Express) hihi..btw salam kenal yah
MLM bulshit
Wah bener banget ini Kang,
ada juga yang cocok sebagai foto model ependi dot kom maupun pemeran pilem Kamen Rider versi terbaru.
Manusia memang sudah dikasih jatah sendiri-sendiri sama Kanjeng Gusti.
Aku anti MLM.
Joe, ngajak nikah Dian Satro mbok ya kamu lulus dulu, gak malu apa??
Mampir lagi kesini… setiap hari pengen mampir ke blog ini. Mampir lagi. Selagi masih boleh bolak balik dirumah orang.
-Ade-
dulu pernah ada blog yang judul nya em-el om
:D.. taunya mlm juga
artikel yang menarik soal MLM, tapi pada prinsipnya bisnis sangat tergantung pada para pelaku bisnisnya sih menurutku
saya juga punya cerita soal MLM. ntar tak posting ajah…
benbego:::
saya sedang menuju ke arah situ
papabonbon:::
terima kasih atas dukungannya
danalingga:::
lho, dalam keadaan apapun ente memang harus setuju sama saya
pelbis:::
simply rite. seperti yang saya bilang, hehehe
NuDe:::
ngena? ah, sedikit…
extremusmilitis:::
kayaknya, yg sukses mendapatkan apa yg dijanjikan ya memang orang2 yg punya komitmen tinggi thd apa yg dilakukannya, kang
trojan:::
saya luruskan!
yg sekamar sama saya di magelang itu bukan a*u. kebetulan aja nama depan sang nona yg bersama saya itu memang sama dengan nama depannya a*u. jgn menyebar fitnah, mas. a*u belum ta’apa2kan. tapi wacana ke arah sana memang selalu ada
Aday:::
bagus nek ra kuat yo percumah, ngun! gyekekekeke
jackvanbray:::
itu simbol apa, oom?
otakiphan:::
anti banget juga nggak terlalu, kok, kalo saya
secara bos saya masih joinan di salah satu mlm biar dapet diskon, dan saya memanfaatkan diskonnya
raditceper:::
dodolan opo per? henpon?
fertob (malas login):::
mohon maaf, mas. saya sudah berlatih ngibul sejak umur 3 tahun soale, hehehe
blognyaasmar:::
makinglove? ah, kalo denger kata “ml”, pikiran saya juga selalu terasosiasi ke making love, kok. jangan khawatir…
kuchikuchi:::
itu yg jadi dokter yang pacarnya jojo saya suka, lho. dari dulu memang kepengen punya pacar anak kedokteran. tapi dapetnya malah anak akuntansi, teknik linkungan, atau malah bolak-balik ilmu komputer sendiri…
*masih menanti punya pacar anak kedokteran*
abee:::
hell yeah, kebanyakan memang kayak gitu
The Sandalian:::
jadi motornya? atau malah mejeng jadi kaca spion? kekekeke
Emanuel Setio Dewo:::
kalo saya sih masih berpikir untuk memanfaatkan tenaga lawan
neen:::
bukankah yg terpenting adalah bahwa kami saling mencintai?
Sayap Ade:::
besok2 saya mau narikin karcis masuk aja deh, mbak.
jgn khawatir, sudah termasuk ongkos parkir, kok
Funkshit:::
ah, saya juga pernah nulis dengan judul yg itu
anggara:::
dan kebetulan itulah poin tulisan saya
cK:::
sekarang aja chik. daripada bikin iri seputaran jakjazz
Saya bukan tipe penjual MLM.
*Menawarkan dagangan*
Teruslah bermimpi joe… Semoga kesampaian, kami juga yang bangga kalau kau jadi kapten timnsa.
meski nampaknya ini mimpi yang terlalu tinggi*Halah* guru disebut-sebut juga, yak! Yang pasti untuk profesi guru kayaknya nggak mungkin bisa di-MLM-kan
Beeeuh…ML lagi…ML lagiii…
Ya gitu deh joe…Tapi ga 100% teorimu bener loch…Nyatanya mantan temen kuliah saya sekarang jadi sukses padahal dulunya ndak punya apa-apa alias kere. Semua karena kerja keras dan sifat pantang menyerah.Hehehehehe….
eh, Joe… kowe wes nongton kuiki ekspres nggak? ono kata katane Tora sing huasik…
kan Tora diramal bakal sukses jadi gigolo, tapi dia nggak mau, dan si pencari bakatnya kan bilang : “anda punya bakat lain ”
“apa itu?” si tora nanya
“multilefelmarketing”
terus, sambil ekspresi jijik ngomong gini : “Multilefelmarketing? ih… mending juga gue jadi gigolo”
ak pikir tadi bahas tentang ML, ternyata…
p4ndu_454kura:::
apalagi saya
Fortynine:::
saya tidak suka membaca kalimat yg dicoret itu
Sawali Tuhusetya:::
soale saya besok juga kepengen jadi guru, pak
maruria:::
wah, kere yang saya maksud bukan kere yg model gitu, mbak. tapi kere yang untuk memenuhi kebutuhan primernya aja pas-pasan.
yang bener2 kelas menengah ke bawah.
bisa kuliah kan artinya masuh punya kelebihan buat memenuhi kebutuhan sekunder
Nyonya 49:::
tentu sudah. tapi aku telat 1/2 jam. ga liat pas bagian itunya
rd Limosin:::
tapi pake M lagi
memang ML, kok
MLM lebih kejam daripada fitnah. basa arabe alemelemu asaddu minal fitnah. itu kata ustadz antonemus.
Wah kayaknya beberapa tulisan haruz iralat ne. Yang paling penting masalah durasi.Dengan ini saya mengatakan bahwa durasi saya aktip di MLM yang katanya keanggotaannya seumur hidup itu (upz) cuman sekedar 2 bulan thok…wah joe sampeyan salah ndenger ta? Bukannya di desa dulu slalu tak ajarin, kalo ustadzmu ngomong didengerin yang bener. Karena sedikit kekeliruan saat mendengarkan perkataan orang dan akhirnya kamu sampaikan kepada orang lain walaupun menurut(pendengaran)mu benar, tetap saja sudah berakibat fitnah terhadap orang yang bersangkutan.
Tapi akubangga kok punya anak didik kayak kamu le. Belajar yang bener y di UGM. Jangan ikut-ikutan MLM. Uda basi. Era MLM uda mati semenjak tahun 2004 keatas. Sentimen negatif terhadap MLM uda terlalu merebaj di masyarakat. bikin bisnis konvensional saja. Lebih enak. Ga makan ati.Jualannya barang, bukan mimpi. Dan kalau barangnya ga sreg kita bisa gantu dengan barang laen. La kalo mimpi,..mo diganti pake apa||??
^ atas
Kalo mimpi bisa diganti pake air…diguyur biar bangun…
Hayo…bangun-bangun… (untuk yang pada mimpi).
^_*
gagal tuh bos masuk putaran 2 di SEA GAMES..
kapan situ gantiin Kolev …
Assalämu’alaykum.
Insy Allah sya mau bkin usaha sndiri. Sya yakin MLM bkan jd jalan hdup sya. Dan sya pkir,utk bbrapa kasus,MLM merusak psahbtan,kalo tiba2 tmen qt jd baek luar biasa,tau2ñ mrospek.
Mdh2an Allah Memudhkan jalan utk qt dlm mndpat rizki. Sling mndoakan sja Mas…
Wassaläm
sy teringat kata bijak “what your mind can concieve and believe you can achieve”
(Ronda Bryne; penulis The Secret )
ada juga di buku 7 Habbits of Highly Effecttive People, cara membangun character
” taburlah pikiran, tuailah gagasan. taburlah gagasan, tuailah perbuatan.
taburlah perbuatan tualah kebiasaan.taburlah kebiasaan tuailah karakter ”
so, semua bergantung pada pola pikir kita ( dalam bahasa inggris “mind”) , ”Tidak ada kegagalan, kalau Anda memiliki mindset yang benar dan tepat
karena segala sesuatu dimulai dari pikiran kita