Masa kuliahku mungkin tinggal hitungan detik lagi. Yap, entah hitungan detiknya itu masih 31.557.600 detik lagi, tapi yang jelas satuan hitungnya tetap detik, kan? Nahnahnah, sehubungan dengan masa kuliahku yang terhitung tersisa singkat itu, aku jadi pengen cerita tentang keadaan di kampusku setelah kemarin aku dapat kesempatan ngajar anak-anak Psikologi angkatan 2007 bersama Wib untuk materi pengenalan teknologi informasi.
Jadi, kemarin Rebo aku bareng si Wib kedapatan rejeki mengenalkan dunia IT kepada anak-anak 2007 yang masih kinyis-kinyis itu. Dasarnya Psikologi memang terkenal sebagai salah satu gudangnya cewek, sebenarnya walau tidak dibayar pun aku rela ngajar di situ. Tapi ya berhubung sang pengada acara memaksaku untuk menanda-tangani lembar kuitansi bukti pembayaran, mau tidak mau aku terpaksa menerima rejeki yang tidak diduga tersebut. Hasilnya, malam harinya duit tersebut kupakai untuk berfoya-foya mentraktir teman-temanku dan belanja buku komik. Lumayan, dapat komik “Buddha” seri 3 sama “Pangeran Menjangan” seri 2.
Aku nggak terkaget-kaget begitu berhadapan dengan anak-anak didikku ketika mengajar berhubung sejak semester 5 dulu aku sendiri sudah sering ngajar di acara-acara workshop atau kursus. Yang bikin aku kaget campur ngenes justru keadaan dan kenyamanan di Fakultas Psikologi itu sendiri jika saja aku tega membandingkannya dengan di Fakultas MIPA.
Di situ aku mendapati bahwa tiap lab komputer (ada 2 lab komputer. Cukup banyak jika dihitung dengan parameter bahwa Psikologi bukanlah jurusan yang membutuhkan banyak lab komputer ketimbang Elektro atau Ilmu Komputer atau jurusan teknik lainnya) sudah langsung terhubung dengan internet. Psikologi bahkan sudah menggunakan sistem informasi akademik untuk kelancaran proses perkuliahan mahasiswanya. Terus juga, di sana juga menyediakan konten website yang di-update secara teratur dan cukup membuatku teriri-iri begitu teringat dengan MIPA-ku tercinta. Di MIPA, mana ada fasilitas model begitu?
Mari kembali ke keadaan MIPA. Jadi, apakah ada diantara sidang pembaca yang terhormat pernah membuka website resminya MIPA UGM? Jika ada, cobalah sekarang dibandingkan dengan website milik Psikologi. Cermati baik-baik, dan lihatlah bahwa dari tampilannya saja sudah kelihatan fakultas mana yang lebih niat mengelola sebuah website!
Mengenaskan!
Mengenaskan jika mengingat bahwa di MIPA terdapat Ilmu Komputer yang notabene seharusnya lebih ahli dalam masalah IT ketimbang kampus-kampus lainnya. Lihat saja tampilan website MIPA yang begitu bosoknya. Seakan-akan MIPA tidak pernah memiliki jagoan-jagoan IT yang sudi untuk sekedar mengelola website miliknya. Padahal?
Tentang sistem informasi akademiknya, jangan harap bahwa barang seperti itu bakal ada di MIPA, padahal – sekali lagi – di MIPA itu terdapat sebuah program studi yang menangani masalah-masalah IT yang selama ini komunitasnya selalu kubangga-banggakan: ILMU KOMPUTER UNIVERSITAS GADJAH MADA!
Sistem pengisian Kartu Rencana Studi (KRS) di MIPA masih manual, Bol! Boleh dikros-cek sama ikhwan-ikhwan tampan ataupun akhwat-akhwat rupawan (aeh, salah. Kalo cewek harusnya rupawati, dink, ya?) dari MIPA sendiri. Memalukan sangat, jika mengingat Ilmu Komputer-nya MIPA sendiri memeluk akreditasi A sebagai penghias namanya. A-nya bahkan bukan sekedar A biasa, tapi konon A pembina. Jadi, Ilmu Komputer MIPA adalah pembina untuk program-program kuliah sejenis dari universitas-universitas lain di wilayahnya. Sekarang coba bandingkan dengan, misalnya aja, UII yang sudah punya sistem KRS online sejak berabad-abad yang lampau.
Heran? Jangankan antum semua, lha wong aku aja yang kuliah disitu bertahun-tahun aja masih suka heran.
Maka sehubungan dengan keherananku itu, aku pernah iseng-iseng nanya ke ketua program studi Ilmu Komputer di kampusku. Dan beliau bilang, bahwasanya beliau sendiri sudah sering mengusulkan ke pihak dekanat tentang ide pembaharuan tersebut. Tapi yang jadi masalah, usulan revolusioner tersebut tidak pernah sekalipun ditanggapi pihak dekanat dengan antusias. Entah di mana dengkul mereka… Aeh, maksudku entah di mana otak mereka.
Padahal menurutku MIPA bukanlah tidak punya sumber daya untuk mengatasi problem tersebut. Kalaupun dosen-dosen Ilmu Komputer atau Elektronika dan Instrumentasi di MIPA tidak berkompeten dalam hal itu (dalam artian para dosen selama ini lebih suka ngurus proyek di luaran ketimbang – mungkin – sekedar mengurusi proyek pembenahan di kampusnya sendiri), MIPA masih memiliki anak-anak muda dengan darah panas yang siap menunjukkan loyalitasnya (dengan bayaran sepantasnya, tentunya).
Aku jamin, barisan adik-adik kelasku di lab mahasiswa pasti bakal siap meluangkan waktunya untuk sebuah kemajuan di kampusnya. Toh nantinya kebanggaan terhadap almamater itu juga bakal mereka nikmati sendiri. Bayarannya juga kupikir nggak bakal terlalu mahal. Mereka sendiri pastilah sadar jika kemampuan mereka belumlah layak untuk dinilai sejajar dengan tenaga IT profesional, seperti Roy Suryo, A.Md. (Ahli Metadata), misalnya. Bahkan untuk skala sombong, aku pribadi, dengan tampilan website seperti yang dimiliki MIPA sekarang, kadang-kadang pengen berteriak dengan gemas, “MIPA seakan-akan lupa kalau mereka memiliki seorang Joe Satrianto!”
Sekarang aku malah mikir, apa iya “ketidak-berdayaan” MIPA ini didasari oleh kekhawatiran bakal tersabotnya lapangan kerja bagi staf-staf mereka jika nanti tenaga mereka yang manual itu bakal tergantikan oleh sebuah mesin? Jikapun iya, kenapa mereka tidak dialih-fungsikan saja sebagai administrator seperti yang terjadi di Psikologi? Apa mereka sendiri malas untuk belajar demi sebuah kemajuan, di mana kemalasan mereka itu malah dimanfaatkan untuk menekan pihak dekanat supaya tetap mempertahankan pekerjaan mereka yang sekarang? Alah…alah… Alasan geblek! Apa, sih, susahnya belajar sedikit demi sebuah kemajuan? Kenapa, sih, harus takut dengan kemajuan teknologi? Saat ini aku justru paling mencurigai hal itu: MIPA tidak pernah jadi mutakhir karena karyawan-karyawannya takut mata-pencaharian mereka bakal tersabot oleh sebuah revolusi industri.
Dan kalaupun su’udzonku itu nantinya terbukti, aku tidak akan pernah kasihan dengan nasib staf-staf di bagian pengajaran MIPA itu!
Staf-staf di situ itu brengsek dan sok galak. Ketidak-simpatikan mereka dalam melayani mahasiswa itu masih ditambah dengan hobinya mereka memping-pong mahasiswa MIPA sendiri untuk sebuah birokrasi yang sebenarnya simpel tapi sering diubah menjadi njelimet!
Memang, sih, tidak semuanya brengsek. Tapi rata-rata para staf di situ mentalnya pada rusak! Jarang sekali mereka melayani mahasiswa dengan senyum. Yang ada mereka senang sekali melecehkan para mahasiswa dengan kalimat-kalimat yang seolah-olah ingin menunjukkan kalau pengetahuan dan ke(sok)pintaran mereka berada di atas para mahasiswa. Mereka bertingkah seakan-akan mentang-mentang mereka itu sangat dibutuhkan oleh para mahasiswa. Dan iya, mereka memang dibutuhkan karena semua birokrasi di MIPA memang masih manual! Dengan status mereka yang “maha-penting” itu, mereka seakan-akan berhak memandang mahasiswa dengan sebelah mata. Padahal, siapa, sih, yang ngongkosin makan mereka? Duit para orang tua mahasiswa itu tauk!
Aku pernah denger cerita dari seorang teman yang temannya yang kebetulan berjenis kelamin wanita dibentak oleh salah satu oknum di bagian pengajaran itu sampai nangis padahal cuma gara-gara keteledoran yang menurutku masih pantas untuk dimaafkan. “Ini bagian pekerjaan orangtuanya diisi dulu. Isi pekerjaan orangtuamu itu apa. Opo buruh, opo maling, opo rampok, pokoknya diisi!” begitu kata salah satu staf bagian pengajaran itu, seperti penuturan temanku. Bajingan betul, kan? Walaupun aku sendiri juga bajingan, aku menolak disamakan kualitasnya dengan bajingan level rendah seperti itu. Aku ini bajingan elegan!
Aku pernah menulis tentang bosoknya birokrasi UGM secara keseluruhan. Dan kebetulan nggak sedikit kakak-kakak kelasku dengan angkatan yang jauh di atasku menghujaniku dengan tudingan sebagai makhluk nggak tahu adat yang bisanya cuma misuh. Mereka membandingkan UGM yang dulu dengan tahunku. Ya jelas berbeda, Mas, Mbak. Sekarang ini, beginilah keadaannya! Nggak percaya? Coba dibaca kesaksian-kesaksian berikut ini:
ha..ha..
Dasar Joe, Gaya bahasanya apa adanya![]()
Mungkin klo di tambahi sedikit kata –UGM SEKARANG–
Yg para sesepuh alumni nggak terlalu tersinggung ke-almamaterannyaCoba Klo Beliau2 punya anak yg ada d UGM masih aktif, apalagi di MIPA
akan tahu betapa ruwetnya administrasi UGM. Bahkan mau lulus pun masih repot dengan syarat kuitansi pembayran dari Semester I !!!
Apa ga aneh? lha wong bank itu udah pembayran OL. trus secara administratif juga klo udah sampe semester akhir kan udah memenuhi syarat semester sebelumnya??Apalagi klo anak Ilkom yg default kuliah d MIPA selatan (milan), kalo mau tahu update berita tentang administrasi kuliah kudu ke miput(mipa utara). jaraknya lumayan lah klo jalan kaki 15 menit paling. Wong jamannya udah serba wireless gini kok susah amat seh, kirim email or fax kan udah bisa.. apalagi jurusan IT, opo ga isin? sola pengumuman aja ribet
NAh klo tenggat waktu cm 2 hari misalkan, apa nggak ujug2 mak bedunduk namanya? kitanya yg kerepotan. ujung2ny buat surat pernyataan dengan materai Rp. 6000 — Duh itu buat makan udah enak banget–
Belum lagi biaya yg Muuahal..Apakah karena statusnya Mahasiwa, yg udah gedhe, dewasa, mandiri jadi semua kudu cari sendiri? Klo tugas, kul sih ga maslah lha ini soal administrasi yg notabene tugasnya Jurusan untuk mensosialisaikan kpd mhs.
—
Sekali lagi, buat para sesepuh alumni, UGM dulu dan sekrang kok sepertinya berbeda. Jadi ya ga usah terlalu fanas lah..
Udah? Dah dibaca? Kalau udah, sekarang baca yang ini:
tenag joe, bukan km sendiri yang merasakan hal demikian, banyak banget mahasiswa ugm khususnya anak ilkom mipa merasakan hal demikian.
hanya saja kamu berani ungkapkan semua itu biar yang ga tau, tidak terjebak masuk mipa dan yang udah tau lebih mawas diri.
aku pribadi jg pernah mersakan kekecewaan dengan aturan2 mipa,walau apa yang aku alami bukan masalah spp tapi lebih ke maslah pengajaran dan petugas administrasinya yang tidak bersahabat .
contoh kasus:
1. Para dosen mipa khususnya ilkom dalam memberikan ilmu tidak maksimal yang di berikan hanya kulitnya aja.(apa mungkin mereka tidak paham ilmu komputer or mereka tidak iklas memberikan ilmunya karena takut mahasiswanya nanti lebih cerdas dari mereka?)
2. Dosen2nya banyak objekan diluar alias banyak proyek hingga mahasiswa diterlantarkan, hal ini juga mengakibatkan dosennya tidak konsen dalam memberikan materi.(sebenarnya tidak masalah mau banyak proyek tapi mbo’ kalo nda bisa ngajar n materi yang diberikan tidak jelas, jangan membuat soal ujian yang tidak jelas juga.. hasilnya nilai pun ikut tidak jelas
Udah? Masih ada sambungannya lho:
sambungan…
3. jika ada nilai yang tidak sesui dan terjadi komplen, mahasiswa bakal dibuat seperti pingpong. yang dosen bilang coba tanyakan ke bagian admin, si admin bilang bukan wewenangnya.
4. para administrasinya ga kalah heboh dari dosennya,mereka berasa seperti pejabat yang selalu bikin tampang jaim.
5. terakhir nih… kita kudu sabar kuliah di ugm karena riset membuktikan dosen ugm itu banyak senyum tapi pendendam, buktinya teman ku yang suka memprotes dikampus nilainya di gencet mampus! kalopun tidak bisa di gencet tunggu aja saat ujian akhir alias skripsi. sukur-sukur bisa dapat nilai “C”. iii seram!!Makanya Joe… ati-ati loh, tapi kamu sudah cukup berani ungkapkan semua ini. Bravo joe! lain kali pakai bahasa yang santun yah..karena orang yang marah akan jadi tidak jelas apa yang dia mau.Kasihilah dirimu jangan hanya karena Ilkom UgM membuat beberapa helai sarafmu terputus. hehehe.
Udah dibaca juga? Nah, itu cuma segelintir testimonial kecil yang kebetulan bisa kuhadapkan ke depan sidang pembaca yang terhormat. Di luar itu masih banyak kekecewaan lain dari para mahasiswa di kampusku.
Contoh lain yang terdekat tentang tidak sinkronnya birokrasi di MIPA adalah nilai ujian Multimedia-ku semester kemarin yang ujiannya sendiri aja baru bisa kuikuti setelah melewati pengorbanan keringat dan darah. Nilaiku tidak keluar! Aku cek ke dosennya disuruh komplain ke pengajaran. Aku cek ke pengajaran disuruh komplain ke dosennya. Aku diping-pong (padahal aku lebih suka main futsal!) berkali-kali. Akhirnya kuputuskan saja kalau sampai hampir yudisium nanti nilaiku belum keluar, mata kuliah itu kubatalkan saja, walaupun kecewa juga kalau mengingat perjuanganku di mata kuliah yang menurutku memang kebisaanku itu. Tugas besarnya kemarin, di kelompokku, anggota kelompokku kasarannya cuma nunut ngancani aku nggarap tugasnya. Codingnya total aku yang kerja. Mulai dari desain sistem sampai eksekusi, semuanya aku yang nggarap. Teman-temanku yang lain cuma berfungsi sebagai pemandu sorak buatku, meskipun memang ada beberapa bagian yang mereka kerjakan, semisal menggambar model karakter. Tapi 90% dari tugas itu aku yang mengerjakan! Dan sampai sekarang nilaiku belum keluar gara-gara njelimetnya birokrasi di pengajaran. Sejuta topan badai buat kalian!
Jadi, kalau memang para birokrat MIPA itu pada tidak mau mulai berbenah, kami para mahasiswa cuma bisa ikutan merasa ngenes terhadap kampus tercinta ini sambil bertanya-tanya, “Sampai kapan nasib kami bakal terus mengenaskan? Isin, Dab, karo kampus sing liyane.”










alhamdulillah…apakah ini pertanda kamu bakal lulus, joe?
masih lama Chika…masih Lama…
coba diitung lagi detiknya…
Selamat!!! hitungan detik itu memberikan pencerahan…
Birokrasi kampus negeri kok dimana-mana mirip yah?
Birokrasi complex ya, mas? BTW.. Post yg ini panjang amiiiiir…!!! Oh ya, KLIMAXX
itu kira2 berapa bulan lagi ya mas?
Joe, Aku uda sering bgt juga.
bahkan kalo ke sana bawaannya kesel loh
Wah, aku sih tdnya masih sabar2 aja liat ulah sok penting-nya TU MIPA, tp kok baca ini jadi panas,,,???
Jangankan sama Mahasiswa Joe!!!
Lha wong Dosen wae di buat keki!!!
Apalagi klo dosen dari fakultas lain…
cK:::
aku dapet firasat seperti itu, makanya bikin tulisan ini
Nyonya Farid:::
itu kan cuma worst case
aRuL:::
kampret lu!
mardun:::
saya juga heran. tenaga kerjanya pada ndak profesional
Qzink!:::
bukannya yang lainnya juga pjg2?
anggara:::
=360 hari
=360:30
=12 bulan!
yak, terbukti!
kekekekekekeke!
iam:::
wew…padahal kamu baru setahun lewat dikit lho. bayangkan aku yg udah lewat 5 tahun, hohohoho
Aday:::
kekekekeke…dooooooo…yang anak dosen
seng sabar yo nak
kalo lulus, makan2 ya mas Joe!
*langsung ngeloyor pergi*
Untungnya TU di Fakultas g kayak gitu. Cenderung ramah sama mahasiswa, meskipun kadang nyebelin, masih bisa dimaklumi lah…
Tapi yang di pusat… Ampun… senyum dikit apa susahnya sih?
Dalam berbagai kesempatan aku berusaha senyum, terima kasih, tapi hanya lengosan yang didapat.
Malangnya nasib….
Pupuk terus rasa kesal itu joe, sehingga saking kesalnya kamu akan berusaha secepatnya untuk keluar dari situ.
Dan sebarkan virus rasa malu itu, biar pada mau berubah.
Oh mas joe, kau membuatku menyesal masuk mipa ugm..
Kayaknya harus berkenalan dengan Sisfo Kampus OSS (open source software) dulu nih.
http://sisfokampus.net
sekali-sekali harus dibalas tuh joe (provokasi)
biar mereka tahu kalau tingkah mereka itu merugikan (at least bikin mangkel) banyak orang
haha..mak bedunduk iku opo oi…???
gedung tua MIPA menjawab : Sampai kau angkat kaki dari sini.
lho ? bukannya dah lulus ?
Kok mirip sama skolahanku ya
untunglah sudah sedikit lebih baik dibandingkan keadaan yang Om Joe ceritakan, tapi setengah-setengahnya itu lo… ampun deh. gitu kok ya bisa-bisanya dapet sertifikasi iso, tanya kenapa
Kok mirip sama skolahanku ya
untunglah sudah sedikit lebih baik dibandingkan keadaan yang Om Joe ceritakan, tapi setengah-setengahnya itu lo… ampun deh. gitu kok ya bisa-bisanya dapet sertifikasi iso, tanya kenapa
sudahlah jo3, memaki maki kebobrokan kampus sendiri bisa buat pahala ibadahmu berkurang. tunggu bulan depan okeh. lagian gimana perasaan zaskia mecca kalo penggemarnya berapi-api gitu memamerkan ke’bajingan’an situasi kampusnya.
sebagai bajingan kampusnya mesti bajingan bukan.., ups salah…PEACE cuma bercanda fren..
ternyata kampus-mu (terutama fakultas-mu) ndeso jg ya, dab! hehehe, bcanda loh.Makanya klo dah tau gitu, tawarin diri donk buat pembenahan, jgn cuman ngritik ajah, itung2 kan magang, kerja sambil mbantuin kampus ente tercintrong.
kalo soal situsnya no comment dulu(masalahe aku masih belum bisa bikin web jg..heheh…masih dalam tahap dihina-hina sama orang2 OTI)
tapi kalo birokrasinya setuju bgt mas joe…
kalo mau jujur dari awal aku juga udah ngrasakke kekejaman di dalamnya
Salah satu wakil dekan MIPA..yang notabenenya seorang ibu pun bisa bilang kayak gini “kalo nggak punya uang nggak usah kuliah!” E..ee..ee lhadalah..pas aku dengar cacian itu aku nggak bisa ngomong apa2…padahal udah dibelain sama anak advokasi MIPA.
Mugo2 wae ibu kui ora ngrasakke keadaan yang sama denganku..masalahnya kalo sampai dia mlarat..kapok ra kuwi…
Padahal waktu itu minta keringanan secara baik-baik…
Kalo memang nggak bisa ya gak papa..gk usah mencaci, apalagi sampai menyalahkan orang tuaku segala..
Jangan blagu!
MIPA kudu di Yasin-i dulu kali ya?
eh..ralat..
bukan orang2 oti..tapi beberapa orang saja..
hehe..peace
@marinta ::
maksudmu mu kui sapa????
Sesuk tak laporke kadivmu koe.. bentambah di hina2..
wakakakaakaaaaa…..
buat joe::
sory aku blm sempat baca artikelmu.. sing penting comment sikik..
peace…
aku dah baca sekarang joe… tunggu komentarku, aku tak menata kalimat, hati juga pikiran.. biar comment gak sekedar emosi dong..
tapi aku ada satu comment dulu joe..
Klo kmu dapat rejeki tu mbok ya utang2mu tu dibayar.. kasihan mereka yang tiap minggu udah nagih, atau mungkin tiap ketemu… hahaaaaa..
itu mungkin yg membuatnya tidak mudah keluar dari Kampus Kita MILAN tercinta. sepertinya yg diatas tau joe, klo kmu masih punya “tanggungan” ama adik2 angkatanmu.. wakakakaaaaaa…
:D
ehe.. ehe..
dekanatnya ga gauwl tuh, suruh instal linux dulu
*serius*
itulah kalau ilmu menejemen kurang, semuanya jadi kacau. seandainya ilmu menejemen bagus, tanpa ahli IT pun mereka pasti mengusahakan membuat “automated system” meskipun harus nyewa tenaga dari luar.
Joe, dah nyoba nulis di Surat Pembaca-nya Koran KR?
Kalau cuma ditulis di sini, memang akan banyak orang yang tau. Tapi akan sedikit orang yang tersentil.
Adi Nugroho:::
nggih, mbah
CallMeKimi:::
ya…ya…gampang
dnial:::
bersyukurlah atas keberuntungan yg sedikit itu
danalingga:::
hahahaha, oke!
Arif:::
jadi bagemana, berminat pindah?
dewo:::
hahahaha, tapi masalahnya bukan di kenal/belumnya, mas. di mau/ganya
mardun:::
mari berdoa semoga kampret2 itu ada yg kebetulan bisa blogwalking
nrkhlsmjd:::
kira2 sepadan dengan mak jegagik-lah
antobilang:::
bagemana aku tega meninggalkan almamaterku kalo keadaannya kayak gini, nto?
telmark:::
pancen kampret, saya dibalap sama mantan2 saya terus…kekekeke
siapa? mantan pacar saya? memang udah. yg sekampus udah, yg di its juga udah
siawhietji:::
sudah kamu tanya?
yudi:::
ini sih bukan memaki, tapi menunjukkan fakta…
toim the shinigami:::
wah, kalo ini sih sudah bolak-balik. lewat guestbook webnya atau lewat forum2 nggak resmi juga udah sering. beberapa dosen juga sebenernya baca blog saya (konon) tapi toh tidak pernah ada kemajuan signifikan
marinta:::
duh, aku turut berduka cita. maapkan kelakuan si ibu yg ga punya dengkul itu ya, mar… berhubung ini bulan puasa. nanti habis syawal, seandainya kamu mau melakukan tindak kriminil, aku siap membantu
trojan:::
utang? utang yg mana ya?
Yeni Setiawan:::
hahahaha…belum. KR ga bisa dipasangi adsense, soale. percuma…ga naikin hits…kekekeke!
nggak jauh beda sama fakultasku dulu, mau ngurusin surat kelulusan aja ribetnya minta ampun. kek orang tolol mondar mandir kesana kemari ngumpul2in surat-surat yg ga penting. masa suruh ngumpulin bukti pembayaran SPP dr 5 ato 6 smester sebelomnya (yang namanya sudah menyelesaikan seminar + sidang ituh kan sudah terbebas dari pembayaran SPP toh??!). belom lagi suruh nyari tanda tangan dosen ato asisten laboratorium jurusan lain (padahal masuk ke Labnya aja ndak pernah) hingga dijutekin sama petugas perpustakaan dan petugas TU. wuuih jadi curhat gini…
Pesan moral buat anda ya ini: makanya cepet2 selesain tuh S1-nya, trus daftar PNS jadi dosen di MIPA UGM lalu benahi sistem pendidikan disana hohoho….
@joe::
klo gak mau ngaku, perlu tak survai po? sapa aja orangnya.. utang ama aku 100rb aja blm dibayar2.. ama batu juga.. ama si “gagal” yo ho’o.. hahahahaaaa.,,,,
tik .. tik .. tik..
berarti sekarang sudah berkurang berapa detik dari 31.557.600 detik?
Mohon maaf lahir bathin ya Joe.
Hehehe, UGM masih begitu terus ya Joe?
Kayaknya aku udah 9 tahun ninggalin UGM, kok masih tetep ribet gak mutu begitu
justu itu mas joe, ciri khas universitas ndeso kan masih mau dipertahankan..
komp lebih banyak di psiko… justru kesempatan buat praktek komp nya anak IKOM di lab nya psiko, ya semacam pertukaran mahasiswa internal ngono lho.. he he he
Hee…he…he…
Tiba-tiba lagi tak baca kok ganti Avatar….
joe dadio rektor, kudeta kek, aku pikir reformasi dari dalam lebih mudah…
huahahaha,,,sama kaya’ dikantorku tuch…
bagian teknologi dapetnya pentium 2 padahal harus ngerun program yang edun…
eeehhh, bagian menejemen yang cuman ngetik-ngetik pake word doank dapet pentium 4…
hihihihi
sengaja tuch…biar ga cepet lulus
Nyang penting sekolah nang negeri le
Walah, baru tau nih… Masih gitu toh.
Mengenang waktu dulu saya milih kuliah utk semester berikutnya tanpa tahu nilai di semester sebelumnya. Ebat gak… Untung nilai Arkom waktu itu dari p widodonya A (SEKALIAN SEKILAS INFO narsis NIH).
Jadi kmampuan mprediksi mhs UGM telah dilatih sejak awal2…
BTW, sekiranya tulisan ini tidak mempengaruhi sukses atau tidaknya kamu di kompre nanti, saya salut Joe.
Salut ke aparat kampus bukan ke kamu…
dasar birokrasi!!!
apa harus nunggu kita2 dl jad pengurusnya baru bsa lancar birokrasi?
sampai kapan mau jadi mahasiswa
yang gak lulus lulusJoe?*digampar*
halah, wis nyamperi psikologi tho ??
lha kok ra undang2.
halah, aku sbg anak psikologi, biasa aja tuh. ya bagus sih, scr fisik uda lbh dandan. kan itu krn fakultas berhasil dapet dana hibah. mipa kalah siiiih…..
trus itu kan juga dibiayai oleh duit para mhsw swadaya dan program ekstensi-dulu, skrg uda tutup-
kl gw Joe, -mungkin terrmasuk mahluk yg kurang bersyukur, ngeluuuh terus- gw lebih suka kl kualitas dosen dan staff juga ditingkatkan. kualitas seperti apa ?? yaitu profesionalisme.
gw rada kurang puas dg dedikasi dan komitmen mereka dlm mengajar. ga semua sih.
tp ugm kan emang bosok gitu ?????????
banyak orang pinter dg titit eh titel berderet2, tp puayaaaaahhh ga dimanfaatkan.
liat tuh, gd gama book. njijiki tenan.
punya pakar arsitek tp mbangun gedung kok nggilani bgt.
trus ada usaha susu dan nuget -merk kl ga salah abator ato miosin gt, payah, ga user friendly- lha kok ra dimaksimalke pemasaran, distribusi, dll. punya pakar2 ekonomi, pemasaran, dll tp kok ra dianggo.
punya pakar2 psikologi tp mereka pd sibuk sendiri dan diem di menara gadingnya, ga ada suara ketika ribut2 carutmarut unas, psikotes anggota KPU, lumpur lapindo.
payaaaaaaaaaaaahhhhh, ugm payaaaaaaaaaahhhhh, jago kandang !!!!
*emosi ki, ceritane-
halah kamu ngomong apa joe??
kui kan kowe wae dasare sing males ngecek2.. opo ngomong wae nek kowe wes ra tau ngurus2 ning kemahasiswaan (soale wes suwe jan2-e kowe kentekan matakuliah hehehe…)
saiki wes penak kok joe, petugas2e wes penak…. penak dirasani, penak dipisuhi, lan sakpanunggalane..
inti komen saya : wes lah jon, orasah dipikir hal2 cilik ngono, saiki le dipikir ki luluse.. karo kawine eh nikah.. ups… masalah koyo ngono gampang le ngurus nganggo duit hehehe…
panjang banget artikelnya, sampe 5 menit lebih bacanya
tu joe.. dengerin kata septo..
skrang yg penting lulusmu.. kmu kan udah 5 tahun lebih menjadi penunggu milan..
masih maih mau nunggu adik2 2008…
Peace….
misuh2nya mantabs
free wordpress themes
download here http://www.naughtythemes.com
free wordpress themes
download here http://www.naughtythemes.com
gessh:::
apalah artinya dosen muda seperti saya ini?
trojan:::
karo batu wis lunas. karo destian yo dianggap lunas, berhubung aku sudah ngajari bagemana caranya berburu wanita dgn baik dan benar
erander:::
sama2, bang. mohon maaf lahir batin juga
n0vri:::
orang2 yang bermutu dari ugm itu menjadi bermutu sekeluarnya dia dari ugm. yg masih di dalam ugm ya tetap nggak bermutu. makanya saya berniat pensiun sebagai orang tidak bermutu
macanang:::
anu, kalo saya jadi rektor ya?
mbelgedez:::
iseng kang
lambrtz:::
sejadinya aku rektor, berikan aku 10 anak muda sepertiku, mbrtz. maka akan kuubah ugm…kekekekeke!
sezsy:::
sengaja? oh tidak, huehe
Wong Buyer:::
wah, kalo egois, dari dulu jawaban saya bakal kayak gitu
Herianto:::
hahahaha, bukannya kalo pak widodo selalu a sama b, pak? asal bahan ujiannya komplit aja
dodo:::
sepertinya begitu
Mrs. Neo Forty-Nine:::
sampai aku lulus!
restlessangel:::
mau saya angkat jadi dekan psikologi?
septo:::
kawin? yakin, sep? wis ono sing gelem?
starboard:::
hahahaha, kebiasaan. blog saya memang ladang curhat kok
trojan:::
sumpah! aku nggak tega lulus dari ugm, wakakakakaka
‘K,:::
terimakasih
the emes:::
kok cuma dikit? kurang menggoda syahwat tuh
KAMPUS KAMPRET!!!
BELUM BACA INI AJA JUGA DAH NYESEL AKU!!!
Untung masih ada si bapak basis data lanjut,
jadi aku masih kuliah dengan semangat…
Mipa..Mipa..masih saja dengan sejuta birokrasinya..
MIPA MEMANG KAMPUS YG KOLOT+FEODAL .
memang birokrasinya berlebihan, tapi sekarang mending lho daripada dulu. tapi saya saya juga gk suka di sepelakan ama mereka. saya pernah bertanya apakah dosen ini ada didalam namun mereka menjawab ” nanti dulu mas” sambil ngitung duit lembaran 50 rban. sepertinay saya kalah dengan uang, apa susahnya menjawab ada atau tidak. ya sudah kalo begitu, saya bergegas pergi mereka memanggil. saya cuekin aja.
Kampus yang aneh, tapi gimana lagi kita sudah ada didalamnya. jika mereka tidak bisa memperbaiki, kita yang menegurnya
Pengen masuk FMIPA Ilkom UGM !!!
*ditendang Mas Joe*
Hiks… saya lulus utul gak ya… T.T