Jilbab, jilbab putih… Ouwoo..ooo…
Lambang kesucian… Ouwoo..ooo…
(Teringat lagu qosidahan yang sering aku dengerin jaman teka sampai awal-awal esde dulu)
Sodara-sodara, lagi-lagi ta’beritahukan bahwa aku memang suka cewek berjilbab, terlepas dari pengertian jilbab yang sebenarnya dari bahasa padang pasir itu (aku lagi pengen make istilah yang populis di Endonesa). Karena apa? Karena, eh, karena secara kesan pertama, cewek berjilbab itu terlihat 1 step lebih “adem” ketimbang cewek yang nggak make jilbab. Tentu saja demikian. Sebab-musabab, siapa, sih, yang ketika pandangan pertama bisa langsung melihat isi hati korban pandangannya? Jelas dan sudah pasti kalau yang pertama dinilai itu pasti fisiknya (karena itu daku tiada pernah percaya hal-ihwal cinta pandangan pertama. Bull-shit! Gombal!).
Tapi aku bingung bagaimana ketika ada yang menyarankan ke aku supaya aku memperlakukan cewek yang berjilbab sebagai cewek yang “cuma” sedang mengikuti tren fesyen tertentu saja. Pandanglah jilbab hanya sebagai cara berpakaian saja, sebagai mode, dan bukan sebagai identitas keagamaan.
Sungguh mati aku belum bisa! Setidaknya aku nggak bisa beranggapan seperti itu pada kesan pertama. Setiap kesan pertama, aku selalu beranggapan bahwa cewek berjilbab berarti adalah cewek yang sedang berusaha menjalankan perintah agamaku, walaupun belakangan nanti bisa saja penilaianku berubah menjadi “sedang berusaha menjalankan perintah kampus”, seperti misalnya aturan di universitas-universitas Islam yang mewajibkan mahasiswinya (waton keliatan) berjilbab. Mangkanya aku lebih respek sama cewek-cewek yang walaupun kampusnya nggak mewajibkan jilbab tapi tetap berjilbab ketimbang mereka-mereka yang berjilbab gara-gara dipaksa rektornya.
Dan dalam fanatisme keagamaanku, aku bakal kecewa kalau mendapati seorang gadis memutuskan untuk melepas jilbabnya yang padahal dulunya pun ketika dia berjilbab nggak ada pihak-pihak yang menekannya untuk menggunakan jilbab. Singkatnya, aku bakal kecewa kalau ada cewek yang dulunya berjilbab atas kemauannya sendiri tapi sekarang malah dicopot! Bahkan kalaupun si cewek itu tadi berjilbab cuma gara-gara kepengen keliatan alim aja.
Hei, kalau kayak gitu berarti boleh, dong, aku berkesimpulan, “Mbak, Mbak, berarti sekarang pengen nggak keliatan alim, ya? Pengen keliatan ‘binal’, ya?”
Itu baru yang pengen keliatan alim. Kalau yang dulu niatnya berjilbab karena berusaha (setidaknya sedikit demi sedikit) mematuhi ajaran agamanya, maka aku bakal lebih kecewa lagi.
Dalam kasus yang terakhir rasa-rasanya aku pengen sekali berkomentar, “Oh, kalau begitu Mbak ini sekarang pengen jadi bandel, ya?” Lha iya, salahnya sendiri, kan? Dulu ngomongnya pake jilbab gara-gara pengen mematuhi ajaran agama. Kalau sekarang dilepas, berarti antonim, kan? Antonimnya patuh berarti tidak patuh, kan? Sinonimnya tidak patuh berarti bandel, kan?
Mau bilang belum siap? Belum siap dari Taiwan? Belum siapnya kok pas sudah di tengah jalan? Harusnya bilang dari awal, dong! Jangan pernah sekalipun mundur dari tengah gelanggang pertandingan. Malu-maluin aja. Kayak pengecut yang nggak punya mental bertanding. Kalau nggak step by step (uh, baby… Gonna get to you girl…wouwouuuooo…ooo…ooo…), ya gimana mau ada peningkatan?
Mbok mending dari awal nggak usah dipake, gitu lho, daripada aku su’udzon kepada cewek itu bahwa dia sedang menderita penurunan derajat keimanan. Soale ya itu tadi, aku belum bisa menganggap jilbab cuma sebagai tren fesyen. Apalagi kalau ditambah kenyataan cewek yang melepas jilbabnya itu sekarang beralih gaya dengan hobi memakai pakaian yang minim-minim, aku jadi kepengen ngomong ke cewek itu, “Tubuhmu sekarang jadi lebih gampang kunikmati!” (Masih untung nggak kutambahi dengan, “Nek short-time biasane njalukmu piro, Mbak?”)
Selanjutnya tentu saja, yang diobral habis-habisan tidak bakal memiliki nilai juang dan nilai kepuasan, juga membangkitkan rasa penasaran, sehebat yang tersimpan dengan rapi. Tanpa memilikinya pun kita sudah bisa menikmatinya. Kalau seperti itu, maka value-nya sudah tentu berbeda, kan? Ya, kan? Ya, kan? Ya, kan? Sekian dan terima kasih.
*Lagi kecewa dengan seorang gadis cantik yang memutuskan untuk melepas jilbabnya*













VERTAMAX! sungguh nikmat komen pertama di blog seleb
btw siapa yang lepas jilbab, joe?
bukan zaskia mecca khan..
pertamax..
gmana kalo cowok2 juga make jilbab???
asem..
g jadi pertamax.
telat sak detik.
kasian dia.. harus tersingkir dari list kecenganmu.
waaa… masuk sepuluh besaaaarrr
hohoho, sabar-sabar mas…
sebagai perempuan yg mengenakan kerudung… mitra cuman bisa bilang, yaah zaman sekarang jilbab tuh just a fashion… beneran, begitu si cantik ineke n saskia mecca dll pada make jilbab, jadi deh banyak yg make juga…
hehehe, actually juga ga semua… sometimes jilbab tuh juga sebagai culture juga, kyk malaysia contohnya…
tp ya…, gimanapun Don’t Judge a book by its cover… palagi by her jilbab… ^_^
Menurut saya seh, jilbaban ga jilbaban itu pilihan..
Sama kaya seorang cewe memilih berambut panjang atau pendek..
sejak kafan kamu pake jilbab joe?
*OOT tanpa rasa bersalah*
emak: joe…..copot jilbabnya….kamu khan laki2……
Sabaaarrr…..
Sabaaarrr…..
temen2ku yg berjilbab karena kewajiban pun begitu. soalnya kan di kampus wajib. kalo keluar kampus ya pada copot. trus walaupun ke kampus berjilbab ya tetep aja kayak postinganmu yg dl itu joe. Gadis berjilbab dengan pakaian membungkus ketat. malah ketat banget inih.
untuk gadis yang melepas jilbabnya:
Ga usah diambil hati, pikiran orang diluar kuasa kita, mereka itu berpikir menurut lingkungan dan dogma yang mereka anut. Mau menyangka anda perek kek, mau nyangka obral kek, mereka merdeka untuk berpikir, anda juga merdeka untuk memilih jalan hidup anda. Tapi anda perlu berhati-hati kalau berkeliaran di lingkungan yang kemanusiaannya diragukan, bisa-bisa keseksian anda membuat orang sekitar lepas kendali, mending kalau cuma dirazia, lha kalau diperkosa ramai-ramai gimana? Di tempat seperti itu dibungkus saja lebih aman.
Untuk semua yang menganngap non-jilbab lebih murah dari yang berjilbab:
Memangnya kalau seksi kenapa, memangnya kalau bikin ereksi kenapa. Justru disitu kemanusiaan dan pengendalian diri anda perlu dibuktikan, apakah hanya karena melihat yang seksi-seksi lalu lepas kendali? Tapi kalau urusannya agama ya… larinya ke situ deh. selesai, ga usah mikir, nurut aja…
Singkirkan musuh sebelum dia menantang kemampuan anda mengendalikan diri!Bungkusss!!!Untuk mengingatkan diri saya sendiri:
Hey, yang sopan dong kalo ereksi!! pakai CD biar ga keliatan!
cK:::
ah tenang saja. bukan zaskia, kok
wib:::
itu tugasnya didit komeng. peran2 seperti dialah spesialisnya
emyou:::
heh???
antobilang:::
betul. betapa malang dirinya
calonorangtenarsedunia:::
lho, itu sih gapapa. alasannya jelas. argumennya valid. tapi ini?
kata anak2 bem, mundur dari perjuangan adalah sebuah pengkhianatan
abeeayang:::
heh? heh? apa, mak?
mitra w, manusiasuper, Guh:::
tenang saja. kalau argumennya valid aku ga bakal protes. kalo ga valid, nah inilah yang bikin aku sedikit menggelinjang.
dulu bilangnya, “aku mencoba mengikuti ajaran agamaku.” bah!
sekarang bilangnya, “ternyata aku belum siap untuk berjilbab.”
sangat-sangat kontradiktif dan kurang berdasar
kalo saja argumennya kuat, bakal bisa kuterima. tapi alasan2 nggak cerdas seperti itu, waduh…apa ya ndak bisa sekedar ngarang2 dalil untuk mengkonter kata2ku?
ini sih sama aja kayak bilang kalo dia siap ikut suatu turnamen, tapi di tengah jalan mendadak milih mundur begitu tau musuhnya di turnamen itu lebih tangguh dari dia. sama aja kayak pengecut. tukang kabur. yang nyari masalah dia sendiri, kok akhirnya ga berani ngadapin masalah yang dia ciptakan.
jadi bukan sekedar masalah cewek berjilbab lebih mulia dari cewe tiada berjilbab. ini masalah konsistensi dan jiwa seorang ksatria!
akhirnya memang jadi agak paradoks, sih
Wew panjang amat….
“Pakailah Jilbabmu jika sudah mampu….”
(menjalankan syariat Islam dengan baik cos masih ada yang make jilbab trus jadi bintang filem porno… memalukan..:))
“Pakailah jilbabmu dan selempangkanlah depan dada…”
(Banyak kok yang jilbabnya kepake tapi pahanya kemana-mana….)
Thanks…
http://www.puthzel.com
oho, setuju. pakai saja kalau memang sudah mampu atau benar2 yakin berniat akan mampu.
kalo masih ga yakin ya lebih baik jangan. apalagi kalo lebih ga yakin lagi bakal mampu mengarang alasan yang valid.
kata2 seperti “aku bosen pake jilbab” atau “aku ga mau pake jilbab lagi” bakal lebih saya hargai ketimbang “ternyata aku belum siap”.
“menyalahkan” diri sendiri selalu lebih ksatria ketimbang “menyalahkan keadaan”
untungnya mereka yg ngelakuin begitu berjilbab
coba kalo enggak berjilbab pasti lebih parah tuh
untung juga mereka yg gak berjilbab tapi berakhlak mulia
coba kalo pake jilbab pasti lebih mulia
tidak semuanya itu naif, tapi emang begitulah adanya
sekecil apapun orang itu berbuat dengan berjilbab, pastilah memiliki nilai positif yang tidak sedikit pula.
keep positive
anda sedih karena seorang gadis yang melepas jilbabnya, saya juga sedih, karena seorang gadis yang mengingkari janjinya untuk pake jilbab ketika sudah kuliah….
pertama jilbabi phisik itu mungkin yang lebih mudah, kedua jilbabi hati itu yang paling utama…
jangan-jangan dia melepas jilbab supaya tidak kamu taksir Joe?
tapi btw, memang yang serba nanggung itu nggak asik. Apalagi kalau alasannya nggak jelas
sungguh ironis memang, ketika kaum hawa diselamatkan dari marabahaya, ditinggikan derajatnya, dihormati kedudukannya justru mereka dengan beraninya mengambil resiko..
dengan berjilbab setidaknya dapat menghindarkan diri dari bahaya pelecehan sexual..tapi kebanyakan akan komen itu kan urusanku, memang kamu siapa….ya kalo sudah gitu terserah sampeyan2 kaum hawa tak berjilbab….resiko tanggung sendiri penyesalan akan datang setelah kejadian..
ada temen kampus pernah mengomentari temen lain yang melepas jilbab, dengan mudahnya dia berkata..”naaah kalo kamu lepas jilbab, kan laku jadinya (banyak yang naksir)”..dalam hatiku cuma bisa berkata dimana hati nurani cewek ini dengan gampangnya bilang begitu..apakah dengan berjilbab seorang hawa tidak laku, apakah mereka takut dikatakan jomblo….memang ada jomblo dalam Islam, yang ada hanya seberapa sabar kita menunggu jodoh datang..
aku suka orang yang gak berjilbab loch… walau ibu ma adekku jilbaban… karena apa… takut entar dikafirin akunya kalau deket2 ma jilbab rapet…
jilbab juga bukan ukuran kemanusiaan menurutmu…. jilbab bukan ajaran moral universal…
tapi kadang liat orang jilbab yang cuantik, juga bikin ngiler diriku….
maklum laki laki normal…
sori joe nyampah
*lari kebirit2 takut dikejar jilbaber lover*
moga2 banyak cewek2 yg tak berjilbab mendengarkan jeritan suara di wordpress-mu ini, bung Joe.Semoga tak hanya berjilbab di badan saja, di hati juga gitu looohh…
haduh ada yang salah…
koreksi selesai
joe, binal tu bahasa untuk kuda bukan
komen #1 :
itu sama seperti keadaan dimana pada suatu waktu di masa depan joe meninggalkan aroma narsisme-nya ya …
:::::::::
komen #2 :
semua orang bebas punya pendapat masing-masing kan, begitu juga joe dan wanita itu …
Ya gitu deh
Eh, bukan cewekmu kan mas Joe?
aagim:::
eh, anu…maksudnya apa ya? sumpah, saya binun
ndarualqaz:::
mau sedih bareng ga, mas?
regsa:::
mana yg lebih gampang saya juga ga tau lho. ada yang bilang, ga perlu jilbab fisik yg penting hatinya berjilbab
mardun:::
nanggung? yeah, di situ poin tulisan saya
rh0me:::
oh, ini bukan tentang siapa yang lebih mulia, kok. bukan berarti yg ga pake jilbab berarti ga punya hati nurani. dan memang bukan kapasitas saya untuk menjawab hal itu. saya cuma bisa bilang mana yang lebih saya sukai
toim the shinigami:::
amin!
Suluh:::
memang bukan ukurannya, mas. ini juga nggak mbahas parameter ttg itu. ini mbahas tentang inkonsistensi dan pengingkaran kata2 dengan argumen yang menurut saya kurang bisa diterima
yudi:::
lha kalo buat wanita apa?
Heureuy™:::
tentu saja. tapi mbok ya argumennya sing rodo valid gitu, lho. yang kalo orang pengen mengkonter kudu mikir2 dulu juga. kalo yang kayak di atas sih, nggak usah sekolah tinggi2 juga bisa mbales kata2nya
Hmmm…..banyak yang mengaku – ngaku pakai jilbab, tapi jilbabnya itu nggak bener.
ada lho tmen yg sengaja lepas jilbab, karena malas jilbabnya selalu dikaitkan dengan keimanan. padahal dia hanya ingin menjadi dirinya sendiri, gak ada kaitan ama ideologi tertentu atawa gaya hidup tertentu.
toh dia cewek gemuk
toh dia gak cakep
toh dia otaknya pinter
toh pikirannya kadang berlawanan dgn doktrin
tapi karena jilbab, seseorang sudah dipasangi sangkar terlebih dahulu, dan diharapkan pikiran dan tindakannya sesuai dgn batasan tersebut. kalau bertindak lain, otomatis dianggap masih “jilbib” alias jilbab murahan.
kan males dot com !
bahkan untuk menjadi diri sendiri saja, kok yah, susahnya buju buneng.
@Shelling Ford
Tumben Joe… bagus, bagus…
“Konsistensi”, kata kuncinya inikan ?
Guh
Komen nya lucu banget…
Jadi teringat wedehel
@joe,
argumen rodo valid itu yg kaya gimana ? … bukannya itu cuma argumen seperti argumen-mu …
@debe,
hmmm … ada ya jilbab yg ga bener … ???
saya juga belum ngerti kenapa kemudian ada seseorang yang “melepas” jilbabnya..
*pernah ada temen juga yang nge”lepas” jilbabnya..
Hmm….
Bisa jadi karena pandangannya terhadap agama / kepribadiannya berubah…
(Halah kayanya joe lagi mutung aja nih, ce yg disukainya berkurang 1
)
ASSALAMU’ALAIKUM
alhamdulillah sekarang aku “berkerudung”
aku gak mau ngomong klo aku “berjilbab”
masih terlalu menakutkan bwt
beban terlalu berat.
Sekarang lagi belajar untuk menjadi manusia lebih baik biar tetap disayang sama ALLAH SWT.
tetapi untuk tetap ISTIQOMAH dengan balutan ini susah.
kadang tergoda untuk melepas..walaupun hanya untuk sementara dan kangen dengan jaman jahiliyah dulu yang selalu pengin memperlihatkan keindahan perempuan.
Memang benar, SETAN ada dimana mana..
BWT para prend ni…aku mo nanya..
GIMANA CARA SUPAYA KITA TETEP ISTIQOMAH dalam BERKERUDUNG,,dan maunya MENINGKAT jadi BERJILBAB…amiin
WASSALAMU’ALAIKUM
maaf,,saya tak percaya lagi dengan semeter(atau lebih) kain yg dipakai menutupi kepala.lebih baik hati dulu yg berjilbab deh,,daripada berkain nutup kepala tapi kagak beres n cuma nutupin cupang dileher aja
kalo seleb yang ngelepas jilbabnya biasanya diputusin cowok atau dicerai, macem Ughes atu Trie Utami…
Kacian banget ya, lepas jilbab hanya karena cowok
Daftarkan diri anda untuk menjadi anggota JFC yg diketuai mas Joe.. *Jilbabers Fans Club*
mEnurut SaYa klo puNya keingInan MemAkai jIlBab lebih baik dIPIKIR SECara maTang2 dEch….!!! cOz Klo gA dIpikirIn Matang2 JADI mAlAH CuMAN sEsaat Doang makenyA. SeCARA tIdak Langsungkan Si Cewe mElecehkan Jilbab tersebut ‘n Dengan KatA LaIn sElain ITu JuGA DAPAT DosA DECH…
tAPI BANyAK jUga oRang Bilang Kalo Orang pake jilbab tapI OmoNganNya JuGA GA bIsa dijaga itu sAma ajach Boong!!! Padahal sETiap oRang itu dalanm Merubah DIRi UNtuk JADI lEbIh baik Butuh pROses ‘n Biasanya BaNyak bUangett GodaannYA. Maka Dari Itu mas MendingAN kLo mas keteMu cewe Kayk gituch, Bo yaNg di tanya Kenapa Ada Niatan Ngebuka JilbabnYa Lagi. aTAU kalo Ada Orang Yang PuNYA NiATAN mAU MAKE jIlbab yach Dinasehatin jUga Udah bener2 SiAP APA bELUM. jADINYA mAS JAngN MAEN kESEL AJACH…!!!
ada THR buat blogger, mao?
@atas
WhhIhiIIhiII…TuLiSaNnYa AbEgEh sAngAdH, GaUL saNgaDh NgGa SegGh…
*geleng-geleng kefala*
_____________________
tulisannya gaul sangadh tuh joe, tafi ko’ ya kamuh ndak kesel, malah dia yang kesel karena kamuh kesel…*mikir*
Ah ya…saia OOT..maaphkan saia joe
::Joe, sepertinya kamu lebih asyik berada pada area tajam dan berbatu-batu seperti sebelum ini, sebab ini lebih terkesan pada ketertarikan…tahukan apa yg bekerja pada ketertarikan….???
::rasanya joe, lebih banyak yang tampil malah karakter kaku, dan berbenteng tebal, padahal tujuannya yang luas, ,gembur dan lembut sehingga mudah disemai sehingga menghasilkan buah-buahan yang baik…, lihat tri utami sekarang bandingkan dengan sebelumnya pada penjurian AFI di Indosiar… kata-kata yg keluar darinya mengandung makna arah yg lebih luas dan implementif…
::aku setuju-setuju saja pada apapun paka kerudung keq, atau tergerai indah keq (eh ngga diminta setuju apa engga ya…), sebab tetap aja mengeksplor sang keindahan….
kmu ingat ce sebelah rumahku joe? yg sering kita lirk itu lho..
dia klo kuliah juga pake jilbab lho joe.. tapi klo di rumah pakaiannya nafsuin bgt.. ayo joe katanya kmu mau kenalan? yg cantik itu aku dah tau namanya… heheheheeeee
fhotonya akhi…fhotoooo…fhoto…
Sopo to jo????
Cah kampus??
tanggapi dng kepala dingin, mas Joe.. jgn berkecil hati.. masi byk jilbaber” lain yg belum kau tengok,, ho,ho,ho..
Mihael “D.B.” Ellinsworth:::
hahahaha, entah juga ya…
papabonbon:::
lho, kalo memang punya dalil seperti itu, yap, itulah salah satu alasan cerdas yang saya maksudkan, mas
Herianto:::
kadang2 saya juga berpikir bahwa guh itu wadehel, pak
tumben? ah, yang bener…
Joerig™:::
nek menurutku, valid itu berarti tidak mudah langsung dikonter, teh. setidaknya buatlah orang yang mau mengkonter itu mikir2 dulu, atau malah menyerah dan langsung mengiyakan, hehehehe
arie:::
kalo saya sih udah ngerti, tapi ya kecewa aja dengan alsannya yang menurut saya tolol, kekekeke
lambrtz:::
alasan macam gitu juga boleh. valid. dan aku nggak akan banyak protes, hehehehehe
tomblox:::
caranya…hmmm…apa ya…gimana ya…
mungkin pelan2 mulai tidak menyalahkan setan aja. salahkan diri sendiri aja dulu. setan juga ga bakal mau kok disalah2kan, lha wong itu memang tugasnya, huehehe…
kesadaran diri aja, sih, intinya menurutku
‘K,:::
aku juga nggak percaya. pernah kejadian juga, soale…kekekeke!
tapi ya itu tadi, yang populis adalah kesan pertama
qizinklaziva:::
saya sih kalo frustasi maemnya jadi banyak. soale jadi sering nongkrong sama temen2. nongkrong kan otomatis mesti jajan2 juga
Qzink!:::
heh? sejak kapan?
saya juga nyarinya nggak asal berjilbab, kok. tapi kalo ngefans sama zaskia mecca sih memang iya
usmufanar:::
lho, saya sih keselnya justru gara2 setelah bertanya
abeeayang:::
ngantri di mana?
hoek:::
teringat adik2 sepupuku yang mulai beranjak dewasa
zal:::
seratus! ini memang tentang “sekedar” ketertarikan
trojan:::
kapan siap dirojer? mbok kamu pura2 pinjem panci. nanti kita ngembaliinnya bareng2 aja. atau kalo perlu cukup aku sendirian aja, kekekekekekeke
passya.net:::
kasihan ah…ndak mau aku, wohohoho!
Aday:::
aku tiada mau menjawab
CallMeKimi:::
ini cuma kekecewaan sambil lalu aja kok. lewat 2 hari juga udah lupa, huehe
Cerita yang hampir mirip.
Saya juga lagi kecewa ma seorang cewek yang kalo kuliah berjilbab, tapi ketika kemarin mo Buka Bersama bareng kelompoknya di tanggapi secara ekstrim dengan melepas jilbab putihnya.
Mas, jangan2 yg kita omongin sama…??
Besok konfirmasi ya…!!
Jumat, sebelum ak pulang…….
aku ngerti bocahe chiell.. hohohoooo.. anak D3 di kampus kita kan??
yah…yah…ini bukan tentang seseorang yang (mungkin) sedang kalian bicarakan. ini tentang seseorang yang jauh lebih cantiq!
Waduh joe..nyesel baget yah kalo sampe gitu. Mungkin harusnya dari awal dia tak perlu berjilbab aja skalian. (seperti katamu)
Tapi sekali lagi Joe, setiap orang berhak atas hidupnya masing-masing. Toh dia sendiri nanti yg mempertanggungjawabkanya di hadapan Sang Pencipta.
Jangan pernah menilai seseorang, Joe.
mungkin hidayah nya dah dicabut nkalee….or paku nya mungkin dah dicabut……..
klo ada pertamax, berarti saya terakrix…
ya ya, pacar saya klo kuliah pake jilbab dan klo jalan sama saya ga pake jilbab, secara nafsuiah, saya sih seneng2 saja..tp sedihnya, saya jd ngga fokus pengen kenal dia, pengennya ngintip2…hihihi…ssst
bener tu…
tarik,aja jilbabx…sekalian….ajakin main…
apa kagak sumuk tuh pake jilbab…
kasih AC aja tuh jilbabnya, biar kagak sumuk he he…
Saya setuju dengan pendapatr bahwa menjadi Kristen tidak perlu menjadi “orang Barat” dan menjadi Islam tidak perlu menjadi “orang Arab”. Kita semua punya adat istiadat yang dalam banyak hal sangat bagus dan tidak perlu musnah karena kita menjadi kristen atau islam.
Saya jadi ingat keluhan dari Ratu Hemas,istri dari Sultan Hamengkubuwo. Dia sangat prihatin melihat industri kain tenun tradisional di sumatra dan jawa tengah sangat menurun karena banyak wanita sekarang lebih suka menggunakan baju kurung ala Malaysia.
engko dise’omen aku ngopi se’ ok
jilbab sekarang kan macem2,
ada jilbab syar’i, ada jilbab kampus (dipake kalo ke kampus dowang, wajib sih), aad jilbab layat (dipake kalo layat takziyah ke orang meninggal, yg jlas warnanya item), ada jilbab pengajiyan (dipake kalo dateng ke undangan pengajiyan, gengsi dwonk gak pk jilbab, yg laen pake semuwa sih), ada jilbab gawul (ini biasanya dipake remaja-remaji yg ngerasa pede & lebih cantik binti menarik kalow make jilbab, bisa motif warna-warni, bisa digulung mrungkel-mrungkel di leher sampe leher putih jenjangnya nongol, bisa asal nyangkol aja, yg penting modish, bahkan kemaren pas di pasar, malah ada dijuwal jilbab kucing garong, yg bermotif loreng-loreng
)
jadi intinya jilbab itu bermacem2, dan tentunya motiph orang makenya juga lebih bermacem2 lagi
hehe..
tapi lebih adhem, kalow liyat akhwat berbaju kurung, berjilbab panjang, putih warnanya, kesannya orisinil gethu
waah kalo lihat cewek berjilbab ketat dengan celana jean superketat, baju tanktop bikin aku nafsu jadinya heheheheheh sorry ini nyata lho
gini ya buat yang ngerasa paling bener ingat jika kamu seorang muslim baik we or wo coba bicara dengan dasar agama dan anda pelajari haikat jilbab dari Al-Qur’an dan assunah anda jangan asbun bicara tentang agama bila anda yakin di akhirat ada NARAKA
Jilbab yah jilbab…. orang yah orang.. imannya turun naik… jilbabnya juga turun naik… itu lumrah boo
yahooooooooooooo! tlg lagu2 religi di abadikan soal nye ane seneng banget itung itung pepeling ati
jilbab=lebih baik
coba pikir lagi deh. hal hal macam itu udah gw tinggalin dari semester 3 kemaren. Jadi sekarang,mnurut gw, make jilbab itu HANYA satu hal (mungkin kebaikan) yang diikuti sama macem – macem alasan, yang bahkan untuk alasan paling baikpun belum tentu diikutin sama tindakan yang baik juga. BTW gw tinggal di jogja, dan setiap hari gw ngeliat semua contoh bertebaran disini, mulai dari jalan, sampe kamar kos. Jadi jangan salahkan saya kalo saya seperti ini.
gw sadar ada bermacam teori tentang pakaian, belum lagi tentang simbol.
Ada teori yang ngomong kalo pakaian bisa “ngebentuk” perilaku, contohnya: pasti lo ngerasa beda kalo lo make kaos, jas, baju koko, atau kaos kutang doang kan? belum lagi tentang simbol, dalam hal ini jilbab, yang munculin persepsi sosial yang pada akhirnya berpengaruh ke kita, contohnya gampang, dan anda sudah “menyanyikannya” tadi; “jilbab – jilbab putih, lambang kesucian”. Tapi jika itu benar – maaf, kenapa banyak kejadian yang bertentangan? Jadi, saya, saat ini setuju kalo simbol simbol itu sudah “mati”- setidaknya dalam diri saya, dan mereka yang memakai jilbab tapi tidak merubah apapun. itu hanya mitos yang overrated. jika anda mau protes, tolong jangan acungkan kepalan pada saya, tapi pada saudara – saudara kita yang berboncengan “mesra” dijalan, “bermesraan di bilik2, atau yang beberapa hari lalu saya lihat sangat “panas” di suatu konser di akhir pekan. Maaf
Secara pribadi, maaf, jilbab saya anggap sebagai satu kebaikan yang tampak, dan saya sangat sadar kalo semua yang tampak tidak selamanya mencerminkan yang ada di dalem (alasan dan motif). Jadi, Saya tidak bisa menganggap memakai jilbab adalah satu kebaikan yang sama dengan satu kebaikan pada berbuat ikhlas misalnya. karena memakai jilbab cuma perilaku dan mungkin bukan intensitas spiritual. sama seperti mendermakan uang yang mungkin juga dapat dikotori oleh ujub, riya, dan sombong.
Kesimpulannya.. tolong nilai orang secara fair dan pisahkan antara apa yang anda harapkan dan apa yang anda lihat. lihat persepsi lain. dan jujur.
Dalam tulisan diatas ada tertulis kira-kira begini, berjilbab alim, ga berjilbab binal. Hm, suatu opini hitam putih. Aku ga setuju itu. Yang berjilbab ya cewe-cewe islam aja kerena mereka mengikuti perintah agamanya. Masa aku yang ga islam berjilbab, lucu deh. Lalu di cap binal? Ih sempit buanget pikirannya. Di televisi pernah aku saksikan orang beljibab membuang orok, membunuh anaknya dsbnya. Apa aku kemudian berkesimpulan bahwa ternyata semua orang berjilbab seperti itu? Ga kan? Jadi jangan berkesimpulan sepicik itu dong.