Jilbab, Jilbab Putih…

Jilbab, jilbab putih… Ouwoo..ooo…
Lambang kesucian… Ouwoo..ooo…

(Teringat lagu qosidahan yang sering aku dengerin jaman teka sampai awal-awal esde dulu)

Sodara-sodara, lagi-lagi ta’beritahukan bahwa aku memang suka cewek berjilbab, terlepas dari pengertian jilbab yang sebenarnya dari bahasa padang pasir itu (aku lagi pengen make istilah yang populis di Endonesa). Karena apa? Karena, eh, karena secara kesan pertama, cewek berjilbab itu terlihat 1 step lebih “adem” ketimbang cewek yang nggak make jilbab. Tentu saja demikian. Sebab-musabab, siapa, sih, yang ketika pandangan pertama bisa langsung melihat isi hati korban pandangannya? Jelas dan sudah pasti kalau yang pertama dinilai itu pasti fisiknya (karena itu daku tiada pernah percaya hal-ihwal cinta pandangan pertama. Bull-shit! Gombal!).

Tapi aku bingung bagaimana ketika ada yang menyarankan ke aku supaya aku memperlakukan cewek yang berjilbab sebagai cewek yang “cuma” sedang mengikuti tren fesyen tertentu saja. Pandanglah jilbab hanya sebagai cara berpakaian saja, sebagai mode, dan bukan sebagai identitas keagamaan.

Sungguh mati aku belum bisa! Setidaknya aku nggak bisa beranggapan seperti itu pada kesan pertama. Setiap kesan pertama, aku selalu beranggapan bahwa cewek berjilbab berarti adalah cewek yang sedang berusaha menjalankan perintah agamaku, walaupun belakangan nanti bisa saja penilaianku berubah menjadi “sedang berusaha menjalankan perintah kampus”, seperti misalnya aturan di universitas-universitas Islam yang mewajibkan mahasiswinya (waton keliatan) berjilbab. Mangkanya aku lebih respek sama cewek-cewek yang walaupun kampusnya nggak mewajibkan jilbab tapi tetap berjilbab ketimbang mereka-mereka yang berjilbab gara-gara dipaksa rektornya.

Dan dalam fanatisme keagamaanku, aku bakal kecewa kalau mendapati seorang gadis memutuskan untuk melepas jilbabnya yang padahal dulunya pun ketika dia berjilbab nggak ada pihak-pihak yang menekannya untuk menggunakan jilbab. Singkatnya, aku bakal kecewa kalau ada cewek yang dulunya berjilbab atas kemauannya sendiri tapi sekarang malah dicopot! Bahkan kalaupun si cewek itu tadi berjilbab cuma gara-gara kepengen keliatan alim aja.

Hei, kalau kayak gitu berarti boleh, dong, aku berkesimpulan, “Mbak, Mbak, berarti sekarang pengen nggak keliatan alim, ya? Pengen keliatan ‘binal’, ya?”

Itu baru yang pengen keliatan alim. Kalau yang dulu niatnya berjilbab karena berusaha (setidaknya sedikit demi sedikit) mematuhi ajaran agamanya, maka aku bakal lebih kecewa lagi.

Dalam kasus yang terakhir rasa-rasanya aku pengen sekali berkomentar, “Oh, kalau begitu Mbak ini sekarang pengen jadi bandel, ya?” Lha iya, salahnya sendiri, kan? Dulu ngomongnya pake jilbab gara-gara pengen mematuhi ajaran agama. Kalau sekarang dilepas, berarti antonim, kan? Antonimnya patuh berarti tidak patuh, kan? Sinonimnya tidak patuh berarti bandel, kan?

Mau bilang belum siap? Belum siap dari Taiwan? Belum siapnya kok pas sudah di tengah jalan? Harusnya bilang dari awal, dong! Jangan pernah sekalipun mundur dari tengah gelanggang pertandingan. Malu-maluin aja. Kayak pengecut yang nggak punya mental bertanding. Kalau nggak step by step (uh, baby… Gonna get to you girl…wouwouuuooo…ooo…ooo…), ya gimana mau ada peningkatan?

Mbok mending dari awal nggak usah dipake, gitu lho, daripada aku su’udzon kepada cewek itu bahwa dia sedang menderita penurunan derajat keimanan. Soale ya itu tadi, aku belum bisa menganggap jilbab cuma sebagai tren fesyen. Apalagi kalau ditambah kenyataan cewek yang melepas jilbabnya itu sekarang beralih gaya dengan hobi memakai pakaian yang minim-minim, aku jadi kepengen ngomong ke cewek itu, “Tubuhmu sekarang jadi lebih gampang kunikmati!” (Masih untung nggak kutambahi dengan, “Nek short-time biasane njalukmu piro, Mbak?”)

Selanjutnya tentu saja, yang diobral habis-habisan tidak bakal memiliki nilai juang dan nilai kepuasan, juga membangkitkan rasa penasaran, sehebat yang tersimpan dengan rapi. Tanpa memilikinya pun kita sudah bisa menikmatinya. Kalau seperti itu, maka value-nya sudah tentu berbeda, kan? Ya, kan? Ya, kan? Ya, kan? Sekian dan terima kasih.

*Lagi kecewa dengan seorang gadis cantik yang memutuskan untuk melepas jilbabnya*

About these ads

65 Responses to “Jilbab, Jilbab Putih…”


  1. 1 cK Oktober 2, 2007 pukul 12:54 pm

    VERTAMAX! sungguh nikmat komen pertama di blog seleb :mrgreen:

  2. 2 cK Oktober 2, 2007 pukul 12:56 pm

    btw siapa yang lepas jilbab, joe? :-?

    bukan zaskia mecca khan.. :roll:

  3. 3 wib Oktober 2, 2007 pukul 12:56 pm

    pertamax..

    gmana kalo cowok2 juga make jilbab???

  4. 4 wib Oktober 2, 2007 pukul 12:58 pm

    asem..
    g jadi pertamax.
    telat sak detik.

  5. 5 antobilang Oktober 2, 2007 pukul 1:15 pm

    kasian dia.. harus tersingkir dari list kecenganmu.

  6. 6 emyou Oktober 2, 2007 pukul 1:27 pm

    waaa… masuk sepuluh besaaaarrr

  7. 7 mitra w Oktober 2, 2007 pukul 4:07 pm

    hohoho, sabar-sabar mas…

    sebagai perempuan yg mengenakan kerudung… mitra cuman bisa bilang, yaah zaman sekarang jilbab tuh just a fashion… beneran, begitu si cantik ineke n saskia mecca dll pada make jilbab, jadi deh banyak yg make juga…

    hehehe, actually juga ga semua… sometimes jilbab tuh juga sebagai culture juga, kyk malaysia contohnya…

    tp ya…, gimanapun Don’t Judge a book by its cover… palagi by her jilbab… ^_^

  8. 8 manusiasuper Oktober 2, 2007 pukul 4:55 pm

    Menurut saya seh, jilbaban ga jilbaban itu pilihan..

    Sama kaya seorang cewe memilih berambut panjang atau pendek..

  9. 9 hoek Oktober 2, 2007 pukul 6:44 pm

    sejak kafan kamu pake jilbab joe?
    *OOT tanpa rasa bersalah*

  10. 10 abeeayang Oktober 2, 2007 pukul 7:02 pm

    emak: joe…..copot jilbabnya….kamu khan laki2……

  11. 11 calonorangtenarsedunia Oktober 2, 2007 pukul 7:24 pm

    Sabaaarrr…..

    Sabaaarrr…..

    temen2ku yg berjilbab karena kewajiban pun begitu. soalnya kan di kampus wajib. kalo keluar kampus ya pada copot. trus walaupun ke kampus berjilbab ya tetep aja kayak postinganmu yg dl itu joe. Gadis berjilbab dengan pakaian membungkus ketat. malah ketat banget inih.

  12. 12 Guh Oktober 2, 2007 pukul 8:37 pm

    untuk gadis yang melepas jilbabnya:
    Ga usah diambil hati, pikiran orang diluar kuasa kita, mereka itu berpikir menurut lingkungan dan dogma yang mereka anut. Mau menyangka anda perek kek, mau nyangka obral kek, mereka merdeka untuk berpikir, anda juga merdeka untuk memilih jalan hidup anda. Tapi anda perlu berhati-hati kalau berkeliaran di lingkungan yang kemanusiaannya diragukan, bisa-bisa keseksian anda membuat orang sekitar lepas kendali, mending kalau cuma dirazia, lha kalau diperkosa ramai-ramai gimana? Di tempat seperti itu dibungkus saja lebih aman.

    Untuk semua yang menganngap non-jilbab lebih murah dari yang berjilbab:
    Memangnya kalau seksi kenapa, memangnya kalau bikin ereksi kenapa. Justru disitu kemanusiaan dan pengendalian diri anda perlu dibuktikan, apakah hanya karena melihat yang seksi-seksi lalu lepas kendali? Tapi kalau urusannya agama ya… larinya ke situ deh. selesai, ga usah mikir, nurut aja… Singkirkan musuh sebelum dia menantang kemampuan anda mengendalikan diri! Bungkusss!!!

    Untuk mengingatkan diri saya sendiri:
    Hey, yang sopan dong kalo ereksi!! pakai CD biar ga keliatan!

  13. 13 Shelling Ford Oktober 2, 2007 pukul 8:53 pm

    cK:::
    ah tenang saja. bukan zaskia, kok

    wib:::
    itu tugasnya didit komeng. peran2 seperti dialah spesialisnya :P

    emyou:::
    heh???

    antobilang:::
    betul. betapa malang dirinya

    calonorangtenarsedunia:::
    lho, itu sih gapapa. alasannya jelas. argumennya valid. tapi ini?
    kata anak2 bem, mundur dari perjuangan adalah sebuah pengkhianatan

    abeeayang:::
    heh? heh? apa, mak?

    mitra w, manusiasuper, Guh:::
    tenang saja. kalau argumennya valid aku ga bakal protes. kalo ga valid, nah inilah yang bikin aku sedikit menggelinjang.

    dulu bilangnya, “aku mencoba mengikuti ajaran agamaku.” bah!
    sekarang bilangnya, “ternyata aku belum siap untuk berjilbab.”
    sangat-sangat kontradiktif dan kurang berdasar

    kalo saja argumennya kuat, bakal bisa kuterima. tapi alasan2 nggak cerdas seperti itu, waduh…apa ya ndak bisa sekedar ngarang2 dalil untuk mengkonter kata2ku? ;)

    ini sih sama aja kayak bilang kalo dia siap ikut suatu turnamen, tapi di tengah jalan mendadak milih mundur begitu tau musuhnya di turnamen itu lebih tangguh dari dia. sama aja kayak pengecut. tukang kabur. yang nyari masalah dia sendiri, kok akhirnya ga berani ngadapin masalah yang dia ciptakan.

    jadi bukan sekedar masalah cewek berjilbab lebih mulia dari cewe tiada berjilbab. ini masalah konsistensi dan jiwa seorang ksatria! :D

    akhirnya memang jadi agak paradoks, sih :mrgreen:

  14. 14 Puthzel Oktober 2, 2007 pukul 9:22 pm

    Wew panjang amat….
    “Pakailah Jilbabmu jika sudah mampu….”
    (menjalankan syariat Islam dengan baik cos masih ada yang make jilbab trus jadi bintang filem porno… memalukan..:))

    “Pakailah jilbabmu dan selempangkanlah depan dada…”
    (Banyak kok yang jilbabnya kepake tapi pahanya kemana-mana….)

    Thanks…
    http://www.puthzel.com

  15. 15 Shelling Ford Oktober 2, 2007 pukul 9:32 pm

    oho, setuju. pakai saja kalau memang sudah mampu atau benar2 yakin berniat akan mampu.

    kalo masih ga yakin ya lebih baik jangan. apalagi kalo lebih ga yakin lagi bakal mampu mengarang alasan yang valid.

    kata2 seperti “aku bosen pake jilbab” atau “aku ga mau pake jilbab lagi” bakal lebih saya hargai ketimbang “ternyata aku belum siap”.

    “menyalahkan” diri sendiri selalu lebih ksatria ketimbang “menyalahkan keadaan” :mrgreen:

  16. 16 aagim Oktober 2, 2007 pukul 10:39 pm

    untungnya mereka yg ngelakuin begitu berjilbab
    coba kalo enggak berjilbab pasti lebih parah tuh

    untung juga mereka yg gak berjilbab tapi berakhlak mulia
    coba kalo pake jilbab pasti lebih mulia

    tidak semuanya itu naif, tapi emang begitulah adanya
    sekecil apapun orang itu berbuat dengan berjilbab, pastilah memiliki nilai positif yang tidak sedikit pula.

    keep positive

  17. 17 ndarualqaz Oktober 2, 2007 pukul 11:20 pm

    anda sedih karena seorang gadis yang melepas jilbabnya, saya juga sedih, karena seorang gadis yang mengingkari janjinya untuk pake jilbab ketika sudah kuliah….

  18. 18 regsa Oktober 3, 2007 pukul 12:22 am

    pertama jilbabi phisik itu mungkin yang lebih mudah, kedua jilbabi hati itu yang paling utama… :)

  19. 19 mardun Oktober 3, 2007 pukul 4:51 am

    jangan-jangan dia melepas jilbab supaya tidak kamu taksir Joe? :P

    tapi btw, memang yang serba nanggung itu nggak asik. Apalagi kalau alasannya nggak jelas

  20. 20 rh0me Oktober 3, 2007 pukul 10:11 am

    sungguh ironis memang, ketika kaum hawa diselamatkan dari marabahaya, ditinggikan derajatnya, dihormati kedudukannya justru mereka dengan beraninya mengambil resiko..
    dengan berjilbab setidaknya dapat menghindarkan diri dari bahaya pelecehan sexual..tapi kebanyakan akan komen itu kan urusanku, memang kamu siapa….ya kalo sudah gitu terserah sampeyan2 kaum hawa tak berjilbab….resiko tanggung sendiri penyesalan akan datang setelah kejadian..

    ada temen kampus pernah mengomentari temen lain yang melepas jilbab, dengan mudahnya dia berkata..”naaah kalo kamu lepas jilbab, kan laku jadinya (banyak yang naksir)”..dalam hatiku cuma bisa berkata dimana hati nurani cewek ini dengan gampangnya bilang begitu..apakah dengan berjilbab seorang hawa tidak laku, apakah mereka takut dikatakan jomblo….memang ada jomblo dalam Islam, yang ada hanya seberapa sabar kita menunggu jodoh datang..

  21. 21 Suluh Oktober 3, 2007 pukul 10:39 am

    aku suka orang yang gak berjilbab loch… walau ibu ma adekku jilbaban… karena apa… takut entar dikafirin akunya kalau deket2 ma jilbab rapet…

    jilbab juga bukan ukuran kemanusiaan menurutmu…. jilbab bukan ajaran moral universal…

    tapi kadang liat orang jilbab yang cuantik, juga bikin ngiler diriku….

    maklum laki laki normal…

    sori joe nyampah

    *lari kebirit2 takut dikejar jilbaber lover*

  22. 22 toim the shinigami Oktober 3, 2007 pukul 10:42 am

    moga2 banyak cewek2 yg tak berjilbab mendengarkan jeritan suara di wordpress-mu ini, bung Joe.Semoga tak hanya berjilbab di badan saja, di hati juga gitu looohh…

  23. 23 Suluh Oktober 3, 2007 pukul 10:47 am

    haduh ada yang salah…

    jilbab juga bukan ukuran kemanusiaan menurut”ku”

    koreksi selesai
    :mrgreen:

  24. 24 yudi Oktober 3, 2007 pukul 10:56 am

    joe, binal tu bahasa untuk kuda bukan :-)

  25. 25 Heureuy™ Oktober 3, 2007 pukul 11:37 am

    komen #1 :

    “…dulu bilangnya, “aku mencoba mengikuti ajaran agamaku.” bah!
    sekarang bilangnya, “ternyata aku belum siap untuk berjilbab.”
    sangat-sangat kontradiktif dan kurang berdasar…”

    itu sama seperti keadaan dimana pada suatu waktu di masa depan joe meninggalkan aroma narsisme-nya ya … :lol:

    :::::::::
    komen #2 :
    semua orang bebas punya pendapat masing-masing kan, begitu juga joe dan wanita itu … :)

  26. 26 Takodok! Oktober 3, 2007 pukul 12:35 pm

    Ya gitu deh :(

    Eh, bukan cewekmu kan mas Joe?

  27. 27 Shelling Ford Oktober 3, 2007 pukul 12:37 pm

    aagim:::
    eh, anu…maksudnya apa ya? sumpah, saya binun

    ndarualqaz:::
    mau sedih bareng ga, mas?

    regsa:::
    mana yg lebih gampang saya juga ga tau lho. ada yang bilang, ga perlu jilbab fisik yg penting hatinya berjilbab

    mardun:::
    nanggung? yeah, di situ poin tulisan saya

    rh0me:::
    oh, ini bukan tentang siapa yang lebih mulia, kok. bukan berarti yg ga pake jilbab berarti ga punya hati nurani. dan memang bukan kapasitas saya untuk menjawab hal itu. saya cuma bisa bilang mana yang lebih saya sukai :P

    toim the shinigami:::
    amin!

    Suluh:::
    memang bukan ukurannya, mas. ini juga nggak mbahas parameter ttg itu. ini mbahas tentang inkonsistensi dan pengingkaran kata2 dengan argumen yang menurut saya kurang bisa diterima ;)

    yudi:::
    lha kalo buat wanita apa?

    Heureuy™:::
    tentu saja. tapi mbok ya argumennya sing rodo valid gitu, lho. yang kalo orang pengen mengkonter kudu mikir2 dulu juga. kalo yang kayak di atas sih, nggak usah sekolah tinggi2 juga bisa mbales kata2nya :mrgreen:

  28. 28 Mihael "D.B." Ellinsworth Oktober 3, 2007 pukul 12:57 pm

    Hmmm…..banyak yang mengaku – ngaku pakai jilbab, tapi jilbabnya itu nggak bener. :-?

  29. 29 papabonbon Oktober 3, 2007 pukul 1:23 pm

    ada lho tmen yg sengaja lepas jilbab, karena malas jilbabnya selalu dikaitkan dengan keimanan. padahal dia hanya ingin menjadi dirinya sendiri, gak ada kaitan ama ideologi tertentu atawa gaya hidup tertentu.

    toh dia cewek gemuk
    toh dia gak cakep
    toh dia otaknya pinter
    toh pikirannya kadang berlawanan dgn doktrin

    tapi karena jilbab, seseorang sudah dipasangi sangkar terlebih dahulu, dan diharapkan pikiran dan tindakannya sesuai dgn batasan tersebut. kalau bertindak lain, otomatis dianggap masih “jilbib” alias jilbab murahan.

    kan males dot com !

    bahkan untuk menjadi diri sendiri saja, kok yah, susahnya buju buneng.

  30. 30 Herianto Oktober 3, 2007 pukul 1:27 pm

    @Shelling Ford
    Tumben Joe… bagus, bagus…
    “Konsistensi”, kata kuncinya inikan ?

    Guh
    Komen nya lucu banget…
    Jadi teringat wedehel :mrgreen:

  31. 31 Joerig™ Oktober 3, 2007 pukul 1:33 pm

    @joe,

    “…tapi mbok ya argumennya sing rodo valid gitu, lho…”

    argumen rodo valid itu yg kaya gimana ? … bukannya itu cuma argumen seperti argumen-mu … :lol:

    @debe,
    hmmm … ada ya jilbab yg ga bener … ???

  32. 32 arie Oktober 3, 2007 pukul 2:17 pm

    saya juga belum ngerti kenapa kemudian ada seseorang yang “melepas” jilbabnya..

    *pernah ada temen juga yang nge”lepas” jilbabnya..

  33. 33 lambrtz Oktober 3, 2007 pukul 2:35 pm

    Hmm….
    Bisa jadi karena pandangannya terhadap agama / kepribadiannya berubah…

    (Halah kayanya joe lagi mutung aja nih, ce yg disukainya berkurang 1 :D)

  34. 34 tomblox Oktober 3, 2007 pukul 2:38 pm

    ASSALAMU’ALAIKUM
    alhamdulillah sekarang aku “berkerudung”
    aku gak mau ngomong klo aku “berjilbab”
    masih terlalu menakutkan bwt
    beban terlalu berat.
    Sekarang lagi belajar untuk menjadi manusia lebih baik biar tetap disayang sama ALLAH SWT.
    tetapi untuk tetap ISTIQOMAH dengan balutan ini susah.
    kadang tergoda untuk melepas..walaupun hanya untuk sementara dan kangen dengan jaman jahiliyah dulu yang selalu pengin memperlihatkan keindahan perempuan.
    Memang benar, SETAN ada dimana mana..
    BWT para prend ni…aku mo nanya..
    GIMANA CARA SUPAYA KITA TETEP ISTIQOMAH dalam BERKERUDUNG,,dan maunya MENINGKAT jadi BERJILBAB…amiin
    WASSALAMU’ALAIKUM

  35. 35 'K, Oktober 3, 2007 pukul 3:22 pm

    maaf,,saya tak percaya lagi dengan semeter(atau lebih) kain yg dipakai menutupi kepala.lebih baik hati dulu yg berjilbab deh,,daripada berkain nutup kepala tapi kagak beres n cuma nutupin cupang dileher aja

  36. 36 qizinklaziva Oktober 3, 2007 pukul 3:22 pm

    kalo seleb yang ngelepas jilbabnya biasanya diputusin cowok atau dicerai, macem Ughes atu Trie Utami…
    Kacian banget ya, lepas jilbab hanya karena cowok

  37. 37 Qzink! Oktober 3, 2007 pukul 4:31 pm

    Daftarkan diri anda untuk menjadi anggota JFC yg diketuai mas Joe.. *Jilbabers Fans Club*

  38. 38 usmufanar Oktober 3, 2007 pukul 4:42 pm

    mEnurut SaYa klo puNya keingInan MemAkai jIlBab lebih baik dIPIKIR SECara maTang2 dEch….!!! cOz Klo gA dIpikirIn Matang2 JADI mAlAH CuMAN sEsaat Doang makenyA. SeCARA tIdak Langsungkan Si Cewe mElecehkan Jilbab tersebut ‘n Dengan KatA LaIn sElain ITu JuGA DAPAT DosA DECH…
    tAPI BANyAK jUga oRang Bilang Kalo Orang pake jilbab tapI OmoNganNya JuGA GA bIsa dijaga itu sAma ajach Boong!!! Padahal sETiap oRang itu dalanm Merubah DIRi UNtuk JADI lEbIh baik Butuh pROses ‘n Biasanya BaNyak bUangett GodaannYA. Maka Dari Itu mas MendingAN kLo mas keteMu cewe Kayk gituch, Bo yaNg di tanya Kenapa Ada Niatan Ngebuka JilbabnYa Lagi. aTAU kalo Ada Orang Yang PuNYA NiATAN mAU MAKE jIlbab yach Dinasehatin jUga Udah bener2 SiAP APA bELUM. jADINYA mAS JAngN MAEN kESEL AJACH…!!!

  39. 39 abeeayang Oktober 3, 2007 pukul 7:05 pm

    ada THR buat blogger, mao?

  40. 40 hoek Oktober 3, 2007 pukul 7:09 pm

    @atas

    WhhIhiIIhiII…TuLiSaNnYa AbEgEh sAngAdH, GaUL saNgaDh NgGa SegGh…
    *geleng-geleng kefala*
    _____________________
    tulisannya gaul sangadh tuh joe, tafi ko’ ya kamuh ndak kesel, malah dia yang kesel karena kamuh kesel…*mikir*
    Ah ya…saia OOT..maaphkan saia joe :mrgreen:

  41. 41 zal Oktober 3, 2007 pukul 10:30 pm

    ::Joe, sepertinya kamu lebih asyik berada pada area tajam dan berbatu-batu seperti sebelum ini, sebab ini lebih terkesan pada ketertarikan…tahukan apa yg bekerja pada ketertarikan….??? :lol:
    ::rasanya joe, lebih banyak yang tampil malah karakter kaku, dan berbenteng tebal, padahal tujuannya yang luas, ,gembur dan lembut sehingga mudah disemai sehingga menghasilkan buah-buahan yang baik…, lihat tri utami sekarang bandingkan dengan sebelumnya pada penjurian AFI di Indosiar… kata-kata yg keluar darinya mengandung makna arah yg lebih luas dan implementif…
    ::aku setuju-setuju saja pada apapun paka kerudung keq, atau tergerai indah keq (eh ngga diminta setuju apa engga ya…), sebab tetap aja mengeksplor sang keindahan….

  42. 42 trojan Oktober 4, 2007 pukul 1:30 am

    kmu ingat ce sebelah rumahku joe? yg sering kita lirk itu lho..
    dia klo kuliah juga pake jilbab lho joe.. tapi klo di rumah pakaiannya nafsuin bgt.. ayo joe katanya kmu mau kenalan? yg cantik itu aku dah tau namanya… heheheheeeee :D

  43. 43 passya.net Oktober 4, 2007 pukul 12:18 pm

    fhotonya akhi…fhotoooo…fhoto… :P

  44. 44 Aday Oktober 4, 2007 pukul 2:39 pm

    Sopo to jo????
    Cah kampus??

  45. 45 CallMeKimi Oktober 4, 2007 pukul 3:18 pm

    tanggapi dng kepala dingin, mas Joe.. jgn berkecil hati.. masi byk jilbaber” lain yg belum kau tengok,, ho,ho,ho..

  46. 46 Shelling Ford Oktober 4, 2007 pukul 7:55 pm

    Mihael “D.B.” Ellinsworth:::
    hahahaha, entah juga ya…

    papabonbon:::
    lho, kalo memang punya dalil seperti itu, yap, itulah salah satu alasan cerdas yang saya maksudkan, mas :D

    Herianto:::
    kadang2 saya juga berpikir bahwa guh itu wadehel, pak :mrgreen:
    tumben? ah, yang bener… :P

    Joerig™:::
    nek menurutku, valid itu berarti tidak mudah langsung dikonter, teh. setidaknya buatlah orang yang mau mengkonter itu mikir2 dulu, atau malah menyerah dan langsung mengiyakan, hehehehe

    arie:::
    kalo saya sih udah ngerti, tapi ya kecewa aja dengan alsannya yang menurut saya tolol, kekekeke

    lambrtz:::
    alasan macam gitu juga boleh. valid. dan aku nggak akan banyak protes, hehehehehe

    tomblox:::
    caranya…hmmm…apa ya…gimana ya…
    mungkin pelan2 mulai tidak menyalahkan setan aja. salahkan diri sendiri aja dulu. setan juga ga bakal mau kok disalah2kan, lha wong itu memang tugasnya, huehehe…
    kesadaran diri aja, sih, intinya menurutku

    ‘K,:::
    aku juga nggak percaya. pernah kejadian juga, soale…kekekeke!
    tapi ya itu tadi, yang populis adalah kesan pertama :P

    qizinklaziva:::
    saya sih kalo frustasi maemnya jadi banyak. soale jadi sering nongkrong sama temen2. nongkrong kan otomatis mesti jajan2 juga

    Qzink!:::
    heh? sejak kapan? ;)
    saya juga nyarinya nggak asal berjilbab, kok. tapi kalo ngefans sama zaskia mecca sih memang iya

    usmufanar:::
    lho, saya sih keselnya justru gara2 setelah bertanya :mrgreen:

    abeeayang:::
    ngantri di mana?

    hoek:::
    teringat adik2 sepupuku yang mulai beranjak dewasa :P

    zal:::
    seratus! ini memang tentang “sekedar” ketertarikan :D

    trojan:::
    kapan siap dirojer? mbok kamu pura2 pinjem panci. nanti kita ngembaliinnya bareng2 aja. atau kalo perlu cukup aku sendirian aja, kekekekekekeke

    passya.net:::
    kasihan ah…ndak mau aku, wohohoho!

    Aday:::
    aku tiada mau menjawab :mrgreen:

    CallMeKimi:::
    ini cuma kekecewaan sambil lalu aja kok. lewat 2 hari juga udah lupa, huehe

  47. 47 chiell Oktober 4, 2007 pukul 8:22 pm

    Cerita yang hampir mirip.
    Saya juga lagi kecewa ma seorang cewek yang kalo kuliah berjilbab, tapi ketika kemarin mo Buka Bersama bareng kelompoknya di tanggapi secara ekstrim dengan melepas jilbab putihnya.

    Mas, jangan2 yg kita omongin sama…??
    Besok konfirmasi ya…!!
    Jumat, sebelum ak pulang…….

  48. 48 trojan Oktober 4, 2007 pukul 9:22 pm

    aku ngerti bocahe chiell.. hohohoooo.. anak D3 di kampus kita kan??

  49. 49 Shelling Ford Oktober 4, 2007 pukul 9:25 pm

    yah…yah…ini bukan tentang seseorang yang (mungkin) sedang kalian bicarakan. ini tentang seseorang yang jauh lebih cantiq! :mrgreen:

  50. 50 maruria Oktober 5, 2007 pukul 12:30 pm

    Waduh joe..nyesel baget yah kalo sampe gitu. Mungkin harusnya dari awal dia tak perlu berjilbab aja skalian. (seperti katamu)
    Tapi sekali lagi Joe, setiap orang berhak atas hidupnya masing-masing. Toh dia sendiri nanti yg mempertanggungjawabkanya di hadapan Sang Pencipta.
    Jangan pernah menilai seseorang, Joe.

  51. 51 petroek™ Oktober 5, 2007 pukul 3:40 pm

    mungkin hidayah nya dah dicabut nkalee….or paku nya mungkin dah dicabut……..

  52. 52 loommy Oktober 5, 2007 pukul 10:18 pm

    klo ada pertamax, berarti saya terakrix…

    ya ya, pacar saya klo kuliah pake jilbab dan klo jalan sama saya ga pake jilbab, secara nafsuiah, saya sih seneng2 saja..tp sedihnya, saya jd ngga fokus pengen kenal dia, pengennya ngintip2…hihihi…ssst

  53. 53 nurfitriani Oktober 6, 2007 pukul 12:29 pm

    bener tu…
    tarik,aja jilbabx…sekalian….ajakin main…

  54. 54 ris Oktober 6, 2007 pukul 12:58 pm

    apa kagak sumuk tuh pake jilbab…
    kasih AC aja tuh jilbabnya, biar kagak sumuk he he…

  55. 55 Hati Nurani Oktober 20, 2007 pukul 12:58 pm

    Saya setuju dengan pendapatr bahwa menjadi Kristen tidak perlu menjadi “orang Barat” dan menjadi Islam tidak perlu menjadi “orang Arab”. Kita semua punya adat istiadat yang dalam banyak hal sangat bagus dan tidak perlu musnah karena kita menjadi kristen atau islam.

    Saya jadi ingat keluhan dari Ratu Hemas,istri dari Sultan Hamengkubuwo. Dia sangat prihatin melihat industri kain tenun tradisional di sumatra dan jawa tengah sangat menurun karena banyak wanita sekarang lebih suka menggunakan baju kurung ala Malaysia.

  56. 56 akoedw Oktober 21, 2007 pukul 10:29 am

    engko dise’omen aku ngopi se’ ok

  57. 57 hermawanov Oktober 25, 2007 pukul 2:04 pm

    jilbab sekarang kan macem2,

    ada jilbab syar’i, ada jilbab kampus (dipake kalo ke kampus dowang, wajib sih), aad jilbab layat (dipake kalo layat takziyah ke orang meninggal, yg jlas warnanya item), ada jilbab pengajiyan (dipake kalo dateng ke undangan pengajiyan, gengsi dwonk gak pk jilbab, yg laen pake semuwa sih), ada jilbab gawul (ini biasanya dipake remaja-remaji yg ngerasa pede & lebih cantik binti menarik kalow make jilbab, bisa motif warna-warni, bisa digulung mrungkel-mrungkel di leher sampe leher putih jenjangnya nongol, bisa asal nyangkol aja, yg penting modish, bahkan kemaren pas di pasar, malah ada dijuwal jilbab kucing garong, yg bermotif loreng-loreng :D )

    jadi intinya jilbab itu bermacem2, dan tentunya motiph orang makenya juga lebih bermacem2 lagi :) hehe..

    tapi lebih adhem, kalow liyat akhwat berbaju kurung, berjilbab panjang, putih warnanya, kesannya orisinil gethu :)

  58. 58 santok Mei 17, 2008 pukul 9:49 pm

    waah kalo lihat cewek berjilbab ketat dengan celana jean superketat, baju tanktop bikin aku nafsu jadinya heheheheheh sorry ini nyata lho

  59. 59 agi nurbaut Juli 23, 2008 pukul 9:41 am

    gini ya buat yang ngerasa paling bener ingat jika kamu seorang muslim baik we or wo coba bicara dengan dasar agama dan anda pelajari haikat jilbab dari Al-Qur’an dan assunah anda jangan asbun bicara tentang agama bila anda yakin di akhirat ada NARAKA

  60. 60 Jilbab Hitam Juli 30, 2008 pukul 8:48 am

    Jilbab yah jilbab…. orang yah orang.. imannya turun naik… jilbabnya juga turun naik… itu lumrah boo

  61. 61 gmanms Oktober 20, 2008 pukul 9:22 pm

    yahooooooooooooo! tlg lagu2 religi di abadikan soal nye ane seneng banget itung itung pepeling ati

  62. 62 doni Oktober 30, 2008 pukul 8:15 am

    jilbab=lebih baik

    coba pikir lagi deh. hal hal macam itu udah gw tinggalin dari semester 3 kemaren. Jadi sekarang,mnurut gw, make jilbab itu HANYA satu hal (mungkin kebaikan) yang diikuti sama macem – macem alasan, yang bahkan untuk alasan paling baikpun belum tentu diikutin sama tindakan yang baik juga. BTW gw tinggal di jogja, dan setiap hari gw ngeliat semua contoh bertebaran disini, mulai dari jalan, sampe kamar kos. Jadi jangan salahkan saya kalo saya seperti ini.

    gw sadar ada bermacam teori tentang pakaian, belum lagi tentang simbol.
    Ada teori yang ngomong kalo pakaian bisa “ngebentuk” perilaku, contohnya: pasti lo ngerasa beda kalo lo make kaos, jas, baju koko, atau kaos kutang doang kan? belum lagi tentang simbol, dalam hal ini jilbab, yang munculin persepsi sosial yang pada akhirnya berpengaruh ke kita, contohnya gampang, dan anda sudah “menyanyikannya” tadi; “jilbab – jilbab putih, lambang kesucian”. Tapi jika itu benar – maaf, kenapa banyak kejadian yang bertentangan? Jadi, saya, saat ini setuju kalo simbol simbol itu sudah “mati”- setidaknya dalam diri saya, dan mereka yang memakai jilbab tapi tidak merubah apapun. itu hanya mitos yang overrated. jika anda mau protes, tolong jangan acungkan kepalan pada saya, tapi pada saudara – saudara kita yang berboncengan “mesra” dijalan, “bermesraan di bilik2, atau yang beberapa hari lalu saya lihat sangat “panas” di suatu konser di akhir pekan. Maaf

    Secara pribadi, maaf, jilbab saya anggap sebagai satu kebaikan yang tampak, dan saya sangat sadar kalo semua yang tampak tidak selamanya mencerminkan yang ada di dalem (alasan dan motif). Jadi, Saya tidak bisa menganggap memakai jilbab adalah satu kebaikan yang sama dengan satu kebaikan pada berbuat ikhlas misalnya. karena memakai jilbab cuma perilaku dan mungkin bukan intensitas spiritual. sama seperti mendermakan uang yang mungkin juga dapat dikotori oleh ujub, riya, dan sombong.

    Kesimpulannya.. tolong nilai orang secara fair dan pisahkan antara apa yang anda harapkan dan apa yang anda lihat. lihat persepsi lain. dan jujur.

  63. 63 Lisu Yehona Januari 30, 2009 pukul 1:43 pm

    Dalam tulisan diatas ada tertulis kira-kira begini, berjilbab alim, ga berjilbab binal. Hm, suatu opini hitam putih. Aku ga setuju itu. Yang berjilbab ya cewe-cewe islam aja kerena mereka mengikuti perintah agamanya. Masa aku yang ga islam berjilbab, lucu deh. Lalu di cap binal? Ih sempit buanget pikirannya. Di televisi pernah aku saksikan orang beljibab membuang orok, membunuh anaknya dsbnya. Apa aku kemudian berkesimpulan bahwa ternyata semua orang berjilbab seperti itu? Ga kan? Jadi jangan berkesimpulan sepicik itu dong.

  64. 64 ardian langit selatan Februari 10, 2011 pukul 10:59 am

    NO COMMENT BRO!!!


  1. 1 Jilbab, Jilbab Putih… (Part 2): Inkonsistensi dan Penyalahan Keadaan « The Satrianto Show! Lacak balik pada Oktober 4, 2007 pukul 7:29 pm

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 945,237 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

Oktober 2007
S S R K J S M
« Sep   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 51 pengikut lainnya.