Pernah berpikir kalau aku ini orang baik dan beriman? Kalo he’eh, wah, antum sedikit meleset. Berimannya mungkin iya, soale aku percaya dengan keberadaan Tuhanku. Tapi kalau baiknya? Oho, sabar dulu. Aku ini bajingan lho, ya. Sumpah.
Yeah, meskipun baik atau bajingan itu relatif, yang jelas buat yang nggak suka ngeliat anak muda dengan tipikal berangasan dan mulutnya penuh dengan umpatan, sudah jelas bahwa aku ini layak disebut bajingan. Minimalnya bajingan-wannabe-lah!
Buat yang baik dan sering bagi-bagi rokok sama aku, boleh jadi aku adalah ksatria berjubah tempur yang menunggang kuda sembrani yang siap membantunya kapan saja (bukan bantuan finansial, yang jelas), di mana saja. Tapi buat yang pernah cari masalah sama aku, yang pernah menolak cintaku – atau bahkan meninggalkanku – tanpa alasan yang valid (“Nggak bisa, Joe. Pokoknya aku nggak bisa!” Bah, alasan macam apa itu?), sangat jelas bagi mereka bahwa aku ini adalah teror yang mengguncang malam. Akulah permen karet yang melekat di gigimu. Akulah Darkwing Duck!
Sehubungan dengan kebajingananku, maka jangan heran kalau mulutku pernah nylemong bahwa aku pengen buka bisnis prostitusi. Pelacuran, rumah bordil, tempat maksiat, atau apalah itu namanya, suka-suka kalian menyebutnya.
Nggak takut digropyok tukang gropyok “tempat maksiat” bersenjata komplit yang suka sambil teriak-teriak “Allahu Akbar”, Joe? Nggak. Aku nggak takut. Yang cerdas, dunk, berbisnisnya. Underground. Promosinya terselubung. Jangan malah pasang iklan baris di koran kalau buka rumah bordil. Yang kayak gitu ya jelas goblok!
Jadi kisahnya begini:
Suatu malam tanpa kabut, lewat mitnait, aku sedang dibonceng oleh seorang teman lamaku buat cari makan di sekitar depan RS PKU Muhammadiyah. Sebut saja nama temanku itu Janoko. Dia wirausahawan sukses. Pebisnis tangguh yang memulai usahanya benar-benar dari nol. Dan, sesuai dengan namanya yang notabene adalah nama tokoh dunia pewayangan yang doyan kawin – Janoko alias Arjuna alias Permadi, pleboi dari Kadipaten Madukara – Janoko yang ini juga doyan kawin tanpa surat nikah dengan perempuan. Konon – gara-gara sindrom kebanyakan uang di usia muda – dia sudah meniduri 30-an wanita yang berbeda.
Dan malam itu, ketika berboncengan, dia nyeletuk, “Mas, enaknya kita ngembangin bisnis apalagi, ya?”
“Rumah bordil aja,” sahutku mantap. “Prostitusi itu bisnis yang sudah aja sejak jaman nggak enak, dan nggak akan ada matinya.”
“Betul sekali, Mas. Betul. Tepat. Hahaha!”
“Tapi yang valid. Jangan yang kampungan. Kriterianya nggak asal-asalan. Seleksinya ketat. Butuh proses wawancara, kekeke!”
“Tepat sekali. Sambil menyeleksi, kita menikmati, hahahahaha!” katanya sambil memarkir motornya di depan tukang ayam goreng. Kami sudah sampai.
Setelah memesan makanan, obrolan kami dilanjutkan. Tidak langsung menjurus pada pengadaan infrastruktur bakal rumah bordil kami, tapi terlebih dahulu kami ngobrolin sebuah prolog tentang dunia prostitusi.
“Aku jarang nyewa ayam kampus,” kata Janoko, “soalnya nggak ada seninya. Nggak ada serunya. Lebih baik nyari lonte yang benar-benar lonte. Bukan lonte sambilan. Kalau mahasiswi, mending aku berburu modal speak-speak babi, sampai akhirnya sama-sama pengen.”
Yah, aku cuma mengamini. Aku pikir memang ada kadar respek yang berbeda antara pelacur beneran – yang memilih melacurkan diri demi sebuah profesi – dengan cewek yang berlagak kayak pelacur. Perbedaan yang pertama, tentu saja, pelacur beneran memilih pelacur sebagai sebuah profesi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan pelacur sambilan (sambilan jadi mahasiswi, maksudnya), melacurkan dirinya SEKEDAR untuk memenuhi gaya hidupnya yang rata-rata kepengen glamor. Kebutuhan primer dan tersier, tentunya sangat berbeda.
Yang satu berjuang untuk makan sehari-hari, yang lain berusaha supaya bisa clubbing dan minum-minum tiap saat; setidaknya itu kesan yang kutangkap dari apa yang aku tahu sejauh ini. Kebutuhan hidup dan gaya hidup, tentunya adalah 2 hal yang sangat berlainan. Karenanya ada kadar empati yang lebih untuk mereka yang “terpaksa” melacurkan dirinya. Dan Janoko sepakat denganku atas hal itu.
“Ya, Mas. Mereka memang terpaksa. Aku tahu betul tentang hal itu karena aku benar-benar masuk ke dunia mereka. Latar belakangnya pun ironis,” kata Janoko. “Dua cewek yang biasa kupakai, terpaksa – aku bilang terpaksa, lho – jadi pelacur untuk makan anak-anaknya…”
“Sudah pada punya anak?” sambarku.
“Ya. Tapi mereka memang yang paling cantik di situ, hahaha. Namanya Karin sama Dewi. Wah, kamu nggak bakal pernah nyangka kalau mereka itu pelacur, pokoknya.”
“Kuliah di mana?”
“Nggak kuliah. Mereka memang pelacur. Murni pelacur. Mereka punya anak bukan karena kecelakaan juga. Mereka korban kawin muda. Lulus esema dipaksa nikah sama keluarganya. Lha, habis itu suaminya mbalelo, minggat nggak bilang-bilang sambil meninggalkan anaknya buat diasuh sama ibunya.”
Janoko melanjutkan, dalam keadaan seperti itu mereka nggak punya pilihan. Jangan disangka mereka nggak pernah mencoba buat nyari uang secara halal. Mereka berkali-kali ngelamar kerja, sekedar buat jaga konter hape atau apalah, tapi mereka tidak pernah diterima. Sementara, di rumah mereka, anak mereka yang masih kecil jerit-jerit minta susu.
Ah, apa iya mereka memang nggak punya pilihan, batinku. Pasti selalu ada cara untuk bertahan hidup, kan? Pasti ada cara lain yang bisa dilakukan selain melacurkan diri.
“Nggak. Mereka memang nggak punya pilihan. Mereka jadi pelacur karena memang itu jalan satu-satunya dan yang paling cepat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,” lanjut Janoko. “Mungkin berbeda dengan kita, Mas. Dengan kebiasaan kita dari kecil, dengan pendidikan kita, kita terbiasa berpikir secara lebih luas. Kita bisa berpikir bagaimana caranya bertahan hidup dengan otak kita. Tapi mereka nggak kayak kita. Mereka tidak terdidik untuk berpikir keluar dari pola yang biasa diterimanya sejak kecil. Mereka nggak bisa thinking out of the box. Mereka lugu.
“Mungkin mereka juga pengen buat nggak jadi pelacur, tapi mereka punya pilihan apalagi? Wiraswasta? Kayak kita? Iya, kita bisa, tapi mereka nggak. Mereka bukan tipe orang yang bisa mengambil resiko. Wong bahkan untuk bertempur sebagai pelacur freelance pun mereka nggak berani. Mereka cuma bisa ikut germonya. Tanpa itu mereka nggak tahu harus ngapain lagi.”
Janoko terus bercerita. Dia cerita tentang suka-dukanya Karin atau Dewi jadi pelacur. Bagaimana mereka menerima bayaran yang sebenarnya sedikit. Bayangkan, kalau bayaran mereka misalnya Rp. 600.000,- (mahalkah? Tidak mahal, kata Janoko. Mereka memang cantik soale), yang Rp. 400.000,- diambil germonya. Belum lagi kalau tiap pulang telat dari jam yang disepakati (biasanya 2 jam untuk sekali booking) mereka didenda oleh germonya: lima puluh rebu tiap jamnya!
“Kadang-kadang kukasih lebih, Mas. Kasihan. Sambil kuwanti-wanti jangan ngomong-ngomong sama bosnya. Sebelumnya mereka malah ngomong, kalau didenda pun nggak pa-pa. Nggak masalah. Mereka pengen lebih lama sama aku, karena katanya aku kalau make mereka ngemong. Nggak sekedar muasin nafsu. Habis main mereka manja banget, minta dipeluk, minta dikeloni sampe bobo. Hahaha, kadang-kadang aku ngerasa mereka falling in love beneran sama aku. Wong sering es-em-esan, kok.”
“Kampret, lu!” kataku sambil nyengir.
“Lho, bener, Mas. Jangan dikira mereka nggak butuh kasih-sayang. Mereka juga perempuan biasa. Kadang-kadang mereka juga harus nahan-nahan perasaan kalau tamunya main kasar, hardcore. Makanya begitu dapat tamu yang jentelmen kayak aku mereka pengen disayang berlama-lama, meskipun harus lewat dari jam yang disepakati, hehehe.
“Mereka pernah nangis. Nangis di depanku. Beneran. Aku juga tahu mana yang nangis bohongan sama yang nangis beneran. Mereka ngeluh tentang beratnya hidup yang harus mereka tanggung. Aku sempat ditunjukin foto anaknya. Lucu anaknya. Kalau bisa, mereka sendiri pun nggak mau jadi pelacur. Mereka sadar tentang hal itu. Tapi apa lagi yang bisa mereka lakukan?”
Aku jadi nggak tahu harus ngomong apa lagi. Aku sendiri dulu juga memandang sinis pelacur-pelacur itu tanpa tahu mereka berangkat dari latar belakang yang bagaimana. Yang aku tahu, mereka adalah perempuan yang bertugas memuaskan nafsu para cowok. Bergaul dengan dosa tiap harinya.
Yah, begitulah. Sejauh ini aku cuma sekedar tahu tentang “cewek yang berlagak ala pelacur” ketimbang pelacur beneran, ternyata. Dan rasanya aku berhak membela diri karena yang aku tahu memang cuma sebatas itu. Sebatas perempuan-perempuan yang melacur bukan karena tuntutan ekonomi, melainkan karena demi memenuhi lifestyle mereka yang kepengen disebut gaul bin yak-yak’an. Lebih parahnya, ada yang jadi pelacur karena memang sex addicted.
Sambil menyelam minum air, kata mereka. Jangan dikira aku nggak punya kenalan dari kalangan mereka. Dan sekarang aku jadi semakin nggak respek sama mereka setelah tahu perbandingannya. Tapi selama terkadang mereka masih nraktir aku makan dan nemenin aku ngobrol kala nggak ada kerjaan, aku nggak harus memutus silaturahmi dengan mereka, kan?
Aku bingung. Siapa yang harus disalahkan dalam hal ini? Keadaan? Nggak bijak kalau kita menyalahkan keadaan. Tapi nyatanya mereka yang pelacur beneran memang memilih jadi pelacur karena keadaan. Sistem turun-temurun yang membuat mereka seperti itu. Mereka dididik dengan latar belakang yang membuat mereka tidak bisa berpikir di luar apa yang biasa mereka alami. Ruang lingkup berpikirnya terbatas. Sekalipun mereka pengen, mereka tidak mampu berpikir sampai ke arah itu. Kelak, anak-cucunya juga bakal dibesarkan dalam kondisi yang demikian. Maka jangan heran kalau nanti melacur bakal jadi profesi turun-temurun. Profesi kepaksa, tentunya.
Beda banget dengan yang ngelonte buat hura-hura, kan? Mahasiswi, setidaknya punya iklim yang kompetitif dan kreatif untuk merangsang otaknya berpikir menyiasati keadaan dengan cara yang legal. Ada pilihan lain buat mereka. Mereka yang pelacur sambilan setidaknya bukan dari latar belakang keluarga yang kekurangan. Diijinkan merantau buat kuliah ke Jokja oleh orangtuanya, artinya secara finansial keluarga mereka siap untuk membiayai studi putrinya. Tidak ada alasan untuk ngelonte kecuali memang hobi.
“Persis,” kata Janoko, “persis seperti itu. Mereka memang nggak punya pilihan lain. Ngelamar kerja nggak diterima, tapi anak di rumah butuh makan. Wiraswasta juga nggak siap. Mereka butuh fresh-money, bukan model investasi. Aku sendiri pernah bilang sama Karin, Dewi juga, ngontrak aja. Nek perlu ta’bandani ndhisik. Ngontrak rumah berdua, lepas dari germonya, setidaknya mereka bisa mengatur tamu dan keuangan mereka sendiri. Tapi mereka nggak berani. Mereka nggak mau ngambil resiko.
“Padahal aku sudah bilang kalau aku yang bakal membiayai di awal, toh mereka tetap nggak mau. Aku juga sudah bilang, nanti kuajari internet. Cari tamu lewat chatting, pasti ada. Walaupun ya masang harganya sedikit dikurangi, jangan tinggi-tinggi kayak selama ini. Harga mahasiswalah. Yang penting mereka lepas dulu dari germonya. Kurang piye, Bol?”
Aku diam. Aku cuma diam.
“Aku kasihan kalau lihat foto anaknya. Pengennya ya ta’biayain besok sekolahnya. Tapi nggak segampang itu. Kalau ketahuan keluarganya pasti mereka bakal bertanya-tanya. Lama-lama aku disuruh nikahin Karin lak yo modar! Mau dikemanakan reputasi saya? Hahaha,” sambung Janoko.
“Makanya itu tadi, kita bikin rumah bordil, Mas,” kataku mesem. “Rumah bordil buat mereka.”
“Serius. Aku sendiri memang sempat kepikiran gitu. Kita bikin rumah bordil, tapi bukan untuk alasan supaya kita bisa main gratis sama mereka. Kita bina mereka juga. Kita kasih pendidikan kepribadian, attitude-nya dibentuk, kesehatan mereka dikontrol, terus jangan dibiarin jor-joran nerima tamu. Harus selektif. Kita ikutkan mereka kursus apa gitu, buat bekal mereka besok supaya lebih baik lagi. Yang jelas mereka harus disadarkan kalau pelacur itu cuma profesi sementara. Suatu saat profesi ini harus mereka tinggalkan,” wajah Janoko berubah sangat serius.
“Selama ini aku selalu nggak setuju kalau ada yang bilang pelacur itu sampah masyarakat,” sambungnya lagi. “Mereka yang ngomong kayak gitu enak aja bicara. Mereka nggak pernah tahu kondisi sesungguhnya. Mereka nggak pernah berusaha mengerti mereka yang melacur tapi berharap para pelacur itu insyaf. Ulama-ulama di tivi itu? Bah! Mereka cuma bisa bilang ini dosa-itu dosa tapi nggak pernah ngasih solusi. Mereka mana mau nyemplung beneran buat memahami dunia yang dianggap maksiat. Masih mending kita, Mas. Setidaknya kita kepikiran untuk berusaha.”
“Hahaha…”
“Kayaknya kamu juga mesti nyoba, Mas,” sembur Janoko lagi. Kali ini wajahnya sudah nggak seserius barusan. “Kamu perlu masuk ke area mereka. Booking mereka. Ya nggak perlu sampai em-el kalau kamu memang nggak niat. Tapi setidaknya kamu berusaha mengerti tentang mereka.”
“Kayaknya. Kayaknya suatu saat aku mau nyoba. Yang penting nggak usah dimasukin, kan? Kekeke!”
“Terserah kamu. Yang penting kamu harus nyoba. Orang-orang seperti mereka butuh perhatian dari cowok-cowok kayak kita. Tamu-tamu mereka selama ini nggak kayak gitu. Muncrat, bubar!”
“Hahaha, muncrat, bayar, bubar, ya? Ngomong-ngomong, kamu masih sering main ke sana?”
“Sudah enggak. Karin sama Dewi sudah nggak ada.”
“Lho, kemana?”
“Karin katanya dipanggil keluarganya pulang ke Ambarawa. Nggak tahu kerja apa di sana. Dewi juga balik ke Jawa Timur, walaupun kadang-kadang masih es-em-es.”
“Di mana tho tempatnya nyewa itu? Bukan Sarkem, kan?” tanyaku akhirnya.
“Ya nggaklah. Di Sarkem mana ada yang levelnya kayak Karin. Tempatnya di Babarsari, Mas. Deket Atmajaya. Kalau mau, nanti kutunjukin tempatnya. Masih muda-muda, lho. Rata-rata 2 tahun di bawah kita umurnya.”
“Ya nggak sekaranglah. Nanti kalau sudah merawanin anak orang baru saya mengikuti jejak anda. Ndak mau mbuang perjaka buat lonte, hehehe,” elakku.
“Hahaha, nggak harus em-el, kok. Kan udah kubilang.”
“Ya niat awalnya ya gitu. Ning yo sopo ngerti wae ono syaiton liwat.”
“Yo wis, karepmu, Mas. Tapi nek kalau nanti pengen, yo ngomong wae karo aku.”
“Jadi gimana? Rumah bordilnya jadi?” lagi-lagi aku nyengir mesum.
“Kita bahas lebih lanjut nanti, Mas. Lumayan kan, sekalian main gratis? Hahaha.”
“Ada yang lain?”
“Ya siapa tahu kalau mereka sudah mentas jadi orang, mereka bisa jadi partner bisnis kita. Mereka pasti nggak akan pernah ngelupain kita, ngerasa utang budi sama kita,” tutup Janoko.
Aku tersenyum. Sungguh aku nggak pernah bisa menebak siapa sebenarnya teman yang membayari ayam gorengku ini. Apa dia itu malaikat bertopeng setan atau justru setan bertopeng malaikat, aku nggak pernah tahu.
Ah, setan beneran sekalipun aku pikir juga nggak masalah. Aku sendiri toh juga sudah sering dimaki sebagai setan. Sesama setan saling berteman sah-sah aja, kan?














wah ga ngikut2 mas
sedari dulu kuamati dan tak pikir2,tak ambil kesimpulan kalo teman kita janoko, kowe dan aku tu sebenernya sama2 punya nafsu setan yang sama kadar iblisnya(sama2 banyak), cuma mas janoko lebih berani berekspresi dan lebih nekat dibanding kita joe, ya selain faktor finansial mas janoko yang kian berkembang juga.
salam deh buat mas janoko, mbok ya jangan buka usaha bandar lonte, ntar temen2 minta gratis semua lagi he…he…JK fren
Kayaknya bagusan dikasi keahlian, diajarin ini itu, sehingga ada modal buat melamar kerja, jangan dijadikan lonte lahh….
Tapi susah nyari orang yang mau begitu…
Ngga setuju joe, jadi bandar lonte….
Nanti mba yang itu (yang nomer hapenya dapet dari si pekok) ngga mau ma kamu…..
Hehehheheee……
aduh kbanyakan postingan-nya…
tapi jgn mbuka rumah bordil deh, ntar ngisi blog-nya kapan? ntar malah isinya ah-oh yess mlulu, hehehe
aha, aku setuju sama si KUDZI di atas situ. dikasi keahlian dan modal aja. diajarin apaaaa gitu kek (tapi yo ojo diajari ngelonte, mreka lebih ahli). yang jelas ga usa bikin ruma bordil. niatnya sih okeyh, tapi melu duso ik..piye jal kuwi. pertanggungane uwangel buwanget…
Hmmmm………
Ide bagooss….
edyan
dowo tenan
niyat bgt kowe posting
aku cuman moco setengah
hihihiihhiihi
cool ratton:::
gini, kalo anda jadi pencicip pertama, masih yakin ga mau ikutan?
aku aja menimbang-nimbang, lho
kudzi:::
ya, kan? susah kan? itu dia faktanya, zi
toim the shinigami:::
nggak…nggak…kita usahakan untuk tetap mencintai bahasa persatuan kita ini, kok
nieznaniez:::
kadang2, untuk hal yg tidak bisa dilakukan sekaligus, kita harus melakukannya dengan cara bertahap. apalagi ini memang susah kan? kekekekekekekekeke
dnial:::
bisa memasok mulai kapan, pak? kakakaka
Luthfi:::
ah, sayang sekali
*tutup mulut rapat2, menahan diri tidak berkomentar macem2..*
Hidup ini pilihan. Dan yang jelas mana mungkin Tuhan lalai pada hambaNya..
gagasan yang ‘mulia’


daripada mereka terus2an digituin germo, mending dihandle supaya pelan2 berubah
ntar kalo udah jadi, kasi alamatnya ya joe
-lho, mo diapain ven?-
tenang, tenang,
mo diajarin linux kok
Wah..apik Cerita & Pemikirannya..kapan mulainya aku dikabari Joe..tak melu.(melu teko sing paling sepele sik ae..urun rembug..hehehe).
weks…. setujuuuuuuuuuuuuuuuuu
sangat setuju sekali… gitu itu yang seharusnya dari dulu dilakukan, bukannya dimasukkan ke panti sosial trus dirubah.. kaya orang main sulap aja.. sekali tepuk mo jamin semuanya beres.. yo bertahap….
ide setan mu kali ini cocok bener mas…
eh tapi aku jadi pembina bandar e ae yo.. jadi sebelum mendapat pangkat bandar harus dibina sek.. hahahhahha
*sekalian ama pedangdut yang kemaren tuh*
Hmmmm …. mantap.
Kita bikin program wajib bagi WNI.
Yang pengen membuat SIM/PASPOR harus menobatkan minimal seorang Tunasusila.
*daripada sogokan ke pak pulia/polisi*
Pikiran yang sama waktu aku pertama mengenal pelacur dulu, Joe…
Dan masih pikiran yang sama sampai saat ini. Hal yang jauh lebih berguna daripada menangkap, membakar kompleks lokalisasi, adalah menjadikan mereka ‘manusia lagi’. Bukan hanya dihujat-dicacimaki…
*hufffhhh….*
dicoba aja
*pelacur juga manusia, punya lapar punya anak*
Yah hiduplah itu…. Maksudku itulah hidup…
Audzubilah…….
Kukira, buka lowongan kerjaan! Haha
safitri:::
bagaimana kalo memang ga ada pilihan, fit?
setauku, pilihan itu ada buat orang-orang yang mampu menghadirkan pilihan itu dalam hidup mereka
vend:::
gini aja, ngajarin saya dulu. biar nanti saya yg transfer ilmu ke mereka.
dari dulu opensuseku ga pernah bisa maksimal neeh.
bhelalang:::
hahaha, nanti ta’kabari, pak.
idealnya mau bikin lokasi yang masih deket dengan komunitas mahasiswa, kekekekekeke
almascatie:::
oh, tentu saja. program musik bakal jadi salah satu menu. kita ajarkan pedangdut-pedangdut binal itu menikmati musik klasik atau jazz. pokoknya biar keliatan berkelas
kalo udah gitu, goyangan mereka bakal ilang dengan sendirinya. lha masak iya mau nyanyi jazz sambil memajumundurkan selangkangan? kekekeke
sagung:::
kamu tau ga, gung, mereka yg digelandang sama polisi2 itu pada akhirnya digilir sama para polisi2 bejat itu, utamanya polisi2 yg umur dan imannya masih tanggung.
bahkan dengan menangkapi para pelacur itu, polisi2 itu jadi punya semacam kartu diskon buat menikmati si cewek kapan aja kalo udah dilepas. dengan alasan buat keamanan, tentunya.
brengsek!
alex:::
yup. setuju. ngomong2, link-nya sampeyan rusak e, mas
Anang:::
dicoba apanya, mas? ml-nya? waduh, bukannya sudah saya sebutin juga, kalo saya nggak mau ngasih perjaka saya ke pelacur
Neo Forty-Nine:::
lanjutkan…lanjutkan doanya…
ampuuun…ampuuuuuuunnn….tobaaaaattttt…saya mulai merasa panas…
Kang Adhi:::
lho, ini nantinya bakal jadi lowongan pekerjaan kok, kang
Bisa dicoba………….?
saya ga meragukan kemampuan anda dan janoko menjalankan usaha. tapi kalo yang ini serius, apa ga sebaiknya dipikir 1000x dulu.
tapi ya kalo saya dikasi icip ga tau dah apa iman saya tetep kuat atau langsung ambrol kayak jalan tol runtuh he..he…
>> Shelling Ford
Lho, bukannya mereka “terpaksa” ?!? Brarti kan ngajak mereka “kembali” menjadi jauh lebih mudah daripada yang cuma buat lifestyle itu.. ^^
Tobaat.. Tobat…
Joe, modal investasi awalnya berapa??
sistem bagi hasil bukan?
Artikel blog terbaik yang saya baca sejak mas Wadehel dan mas Pramur tewas di medan perblogan
Aphe_Joss:::
bayar!
cool ratton:::
jadi bagemana? kakakakaka
nieznaniez:::
justru malah disitu rumitnya. mereka yang terpaksa, kalo ‘disuruh’ brenti mendadak, mereka dan anaknya bakal maem apa?
Hanichi Kudou:::
alhamdulillah didukung. ini juga dalam rangka mengajak mereka2 itu untuk tobat kok, mas
Rizma:::
belum tau, ma. belum surpe
insanayu:::
tentu saja. itu pasti
Kopral Geddoe:::
si pramur ga tewas, kok. dia cuma lagi kkn aja di dusun, hahahaha
Loe kalo lagi nggak ada kerjaan malah makin pinter nulis joe.
Aku tau tuh tempatnya. Dulu pas temen2 dari jkt maen ke jokja, aku pesenin “bakwan ijen” dari situ….
(aku ra melu-melu lho yo….)
Walah, Joe. Kayaknya pelacur itu memang ada karena tuntuntan keadaan ya (Meski banyak juga yang sekedar memuaskan hobi, cih !)
Jadi kapan usaha rumah bordilnya jadi ? *Kabur*
wah setuju boss,kalau memang bener gt tujuannya..
pengelolaanya mungkin bisa di bentuk semacam FPI (Forum Prostitusi Intelek)huek,maksa..!!,anggotanya bisa di rekrut dari sini boss.
*ngluyur ke kamar mandi..*
Walah mantap banget tulisan yang ini nih joe.
Ternyata emang dunia itu tidak abu abu toh, wong malaikat juga bisa nyambi jadi iblis, dan iblis bisa nyambi jadi malaekat.
ada no hape nya gak
*hammer*
Mantaaaffffzzz….
*tepok tangan habis baca*
Salah satu tulisan Joe yang paling bagus dan bikin mikir, nih.
BTW, ngomongin kontennya ntar dulu yah. Harus mikir dulu…
Wah, serasa baca blognya Bang Aip, tapi rasa Jogja
Jangan nulis-nulis ginian cuma pas ada lomba ngeblog ya Joe
realitas masyarakat. apa mau dikata? setidaknya mereka (karin n dewi) berjuang untuk tetap hidup, walopun bagi sebagian orang, jalan yang ditempuh haram. yap, asal jangan makin banyak aja! mustinya malah dikurangin dunk!
# Shelling Ford
Makan cinta. [halah, opo to ki]
Ya makanya mereka diajari apaaaaa gitu kek.
*kross pingger*
“waduh, bukannya sudah saya sebutin juga, kalo saya nggak mau ngasih perjaka saya ke pelacur”
jadi kalo udah kawin nanti, mau ml sama lonte? Istri boleh nyoba gigolo gak? supaya adil
Hem…
Butuh HRD ngga?
butuh karyawan laki2 ga?
mbelgedez:::
nyante wae, kang. aku yo ra melu2 kok
Mihael “D.B.” Ellinsworth:::
secepatnya. surpe dulu. kan tergantung tanggapan pasar
onoda:::
heh, masih suka main ke kamar mandi tho? hahahahaha
danalingga:::
karenanya, orang2 yang cuma bilang hitam-putih, pahala-dosa, surga-neraka, kayaknya mereka belum pernah hidup di jalanan. curiganya mereka itu pasti anak rumahan, kekekekeke
dobelden:::
no hapenya siapa, mas?
sora9n:::
jadi gimana? sejujurnya saya juga mikir, lho
Catshade:::
ahahaha, saya tidak senaif itu kok. ini cuma kebetulan aja, meskipun kebetulannya terkesan dipaksa
krisosa:::
jadi, kita kurangin bersama? ahahaha…
nieznaniez:::
pasti! tapi tentunya selama proses ngajarin itu mereka juga butuh makan, kan?
punya kenalan yang punya konter hape ga, niez?
regsa:::
kamsude?
barista:::
istri saya? ahahahaha, tanya sama orangnya langsung aja sana
dewo:::
lha yo jelas donk, mas. ini kan tujuannya memang pengembangan sumber daya manusia
gathot:::
ah, kalo yang ini, kayaknya cukup saya dan janoko aja. takut ada gejolak intern yang melenceng dari tujuan awal nantinya
Hmmm… Buka Lowongan Pekerjaan ya..hehe
Huehehehe… Joe model MLM ga joe
don’t judge a hoe by her
coverchoice..pilihan untuk jadi pelacur maksudnya..mereka kan terpaksa..mungkin ga pny keahlian lain untuk bertahan hidup..
btw, aku finance manager nya ya?
Jadi inget, Joe…
ada salah seorang calon bupati salah satu kabupaten di jawa timur. Prokernya apa?
dia akan menggiatkan prostitusi dari 4 penjuru kabupaten!
dia yakin bener, dengan itu kondisi ekonomi akan membaik drastis, dari semula yang hanya ngandalin pertanian.
entah becanda ato apa, tapi kalo dipikir (dari segi ekonomi lho) emang logis kok…tentunya dengan syarat dan ketentuan berlaku…
ya nggak?
Kasihan banget yah, udah di dunia susah,
akhirat-nya juga (mungkin) bakal lebih susah lagi.
Kalo mereka yang berhura-hura di dunia sih,
(mungkin) emang udah ngelepas akhiratnya,
merasa cukup dengan apa yang mereka peroleh sekarang.
mantan konter hape sii ada. knapa ??
wahhh….salut jo….memang pikiran2 seperti ini yang dibutuhkan indonesia…
nek bisnis iki sido ak berpartisipasi wez…
tapi ora dadi pelanggan lho…
ya itung2 mengamalkan ilmu yang saya punya…
ya walaupun ngga seberapa…
ok saya tunggu kabar selanjutnya….
Ealah John….
nek enek ustadz ngomong itu dosa…bukan berarti ustadz itu hanya bisa ngomong aja nggak kasi solusi. Solusinya ya ucapan dia itu…bahwa itu dosa.
nah, hendaknya ga ada saling menyalahkan…
yang ada kita saling melengkapi. Kita s7 sama ucapan ustadz…dan kita ikut menyokong ucapan ustadz itu dengan memberikan solusi seperti lap pekerjaan (bukan rumah bordil).
sudah ga jamannya nyalah2in satu sama lain…yang ada saling melengkapi.
hmmm…emang banyak yg melacur karena terpaksa. la gimana lagi, budaya lingkungan gak mendukung…tapi daripada bikin rumah bordil, emang ga ada bisnis lain yg lebih…ehem….layak joe? kan katanya kamus sendiri mendukung mereka biar ga jadi lonte lagi?
waduh ntar aku dikira aliran kanan lagi…..ya gini deh aku, kadang kiri, kadang kanan…..masih ga jelas…
btw wan abu mana ya?
wah-wah Joe, pantesan kamu diangkat jadi maha guru Farid, Dana, dan Geddoe, rupanya gara2 postingan ini ni ya? Ide yg hebat Joe…, tapi sebelum pelaksanaan kamu mesti cari beckingan sekuat2nya utk menghindari di grebek, dan bikin target ke pelacurnya sekian bulan sudah harus menguasai skill tertentu utk transformasi profesi mereka. Jadi selama proses berlangsung mereka masih diperbolehkan demi biaya anak2 tanggungan mereka.
Btw, gw jadi pemegang saham aja deh…
Gmna kl ngebantu tnpa pamrih? Jd ga sa ‘menikmati’
Ntar malah pahala ngebantuinnya kalah sm dosa zinanya.
hihihi.. hebaaatt…
dulu2 kalo ada pelacur di wawancarain di acara tv yang interaktif (yg bisa ditelpon ma penonton), aku berharap ada pengusaha kaya yang telpon dan bilang : mbak, saya bisa kasi kerjaan yang lebih halal.. mau? dateng aja ke kantor saya….
sayang kayanya g ada yg kaya gitu ya? yg ada cuma pengusaha kaya yang pengen ‘make’ juga….
hmmm betul juga, kita ngga boleh nyalahin mereka semata2… joe, biasanya orang yg suka nyalah2in itu tipe orang yang cuma baca peta tanpa berani melewati jalan2 yg dibaca di peta. pembaca peta ngga tau ada apa aja di jalan, ada lampu, tong sampah, tulisan ini itu, toko2, bla bla bla…. la wong ga tertulis di peta je…. hehehehe
wah aku lama ga main ke blog mu dah ketinggalan jauh e…. asyem…. hihihi
Beuhh… keburu ngisi kemarin. Ndak sempat login pula lagi …
*ngeles*
pelbis:::
belum, oom. baru rencana aja, kok
astikirna:::
wah, ga, ah. itu ga sehat. masa iya 1 pelacur harus nyari downline?
wong niatnya buat ngasi mereka pekerjaan lain selain melacur besoknya kok. yang sudah bukan pelacur ya jgn sampe jadi prospek downline dunk, kekekekekekeke
calonorangtenarsedunia:::
oke! boleh!
Mrs. Neo Forty-Nine:::
ya mbak… ya mbak…
sapto:::
itulah…makanya yg harus dipikirkan adalah sebuah solusi (yg bukan macam sulapan) buat mereka
parishutapeas:::
hahahahahaha…
minta bantuan promosinya saja, kakakakakaka
faizal:::
pernah denger ungkapan, “saya dosa gpp, mas. toh saya sendiri yang nanggung. yang penting anak saya bisa makan.”
bukan berarti mereka itu menantang neraka, lho. tentunya kita bisa menangkap kesan bahwa mereka memang nggak punya pilihan lain
setuju soal lapangan pekerjaan, zal. semoga aja bisa terwujud secepatnya.
tentang ustadz (dan ustadzah), beberapa memang suka memberikan “ancaman” tanpa mau mengerti latar belakang yang diberi “ancaman” dan cenderung tidak memberikan solusi. alih2 mau menginsapkan orang, yang mau diinsapkan boleh jadi malah berpikir, “kok tuhan saya itu kejam sekali ya…”
eh, aku jadi inget sama seorang ustadzah yang (kayaknya) anti banget sama aktivitas perkenalan muda-mudi pra nikah yang lazim disebut pacaran. beliau sering bilang yg kayak gitu itu dosa-yg kayak gini ini neraka – tanpa pemahaman latar belakang masalah, tapi akhirnya dia sendiri kawin-cerai terus
lambrtz:::
bisnis yang lebih layak itu, kalo memang bisa ya bukan ga mungkin. cuma, buat mengubah seekor domba menjadi srigala, kayaknya ga bisa instan deh. mereka butuh uang sesegera mungkin soale. lap pekerjaan yg lain kan pasti butuh skill. jadinya ya diubah pelan2 sambil dibekali skill-skill pendukung itu
CY:::
maha guru?
ah, itu terlalu berlebihan
dwi:::
lho, kalo aku sih memang niatnya tanpa pamrih. aku bilang ini kerja sosial, kok. cuma kalo rekan kerjaku pengen icip2 dikit, ya itu urusan mereka, hehehehehehehehe
savikovic:::
dan doakan supaya aku cepet jadi orang kaya, vic
alex:::
hahahaha
kayanya aku tau deh ustadzah itu…..boleh kusebutkan namanya?
Sudah tau Lover Boy, Joe?
Kalau belum tahu, sekedar sharing info ga penting aja nih. Hehehe.
Lover Boy itu laki-laki. Namanya aja lover boy. Boy, jelas menunjukkan kelamin.
Mereka biasa mencari wanita cantik dan muda.
Pertama, untuk dipacari.
Kedua, untuk dibelikan oleh-oleh mahal.
Ketiga, untuk dirayu hingga sang wanita termehek-mehek setengah mampus jatuh cinta.
Setelah sang wanita terlena. ‘Boy’ ini mengaku kehabisan uang. Sementara uang itu (katanya) uang mbayar kuliah. Habis untuk membelikan hadiah mahal sang wanita. Lalu dia bilang pada sang wanita, bahwa ia berhutang pada temannya, untuk membayar uang kuliah. Dan temannya, ga mau dibayar pakai duit.
‘Boy’ bilang, satu-satunya cara ‘membalas jasa’ temannya adalah, sang wanita harus menemani temannya bermain ’secelup dua celup’ dalam semalam.
Setelah itu, …. Hahaha, kalau mau tahu, googling ahhh.
Intinya, ‘Boy’ ga perlu buka rumah bordil. Karena dia adalah bordil yang mobile. Huehehe.
BTW, kamu kan anak informatika Joe. Menguasai multimedia pula. Kok Janoko ga ditawari aplikasi bordil IT?
Lumayan loh buat portfolio kamu.
Huehehehe…
Uztad itu umumnya OMDO…Omong doank ( mendingan Dick doang ) ^_^.
Sedikit sekali orang yg paham ilmu agama dan bisa memahami kesulitan hidup yg di alami orang lain .
Hidup itu berproses….biarkan saja mereka bekerja seperti itu, toh yg bisa menjamin nantinya bakal sukses atau hancur hidup seseorang di akhir perjalanan hidupnya bukan kita atau uztad . Apakah ada jaminan..maaf, macam kyai si A,B,C dsb bisa masuk syurga ?, hanya karena mereka menguasai kitab Al-qur`an ?.
Kalo cuma paham Alqur`an sih…Iblis paling jago..realnya..tanya aja sama Snouck Horgronge cs…^^.
….Gitu aja kok repot ….huahahahhahah ( gaya Mbah Gusdur )
yups,,
menarik juga sih,,
tapi yang lebih menarik kata2ne masJanoko itu lho,
aku juga jadi penasaran,,,,
hmm…
judulnya bisa bikin mood turun ni postingan,..
great content c sebenere, tapi judulnya menipu..
pantesan pas kapan kae kita plg bareng dari rumah siTro kowe sok “nawari” aku “voucher gratis”, promosi toh jon?
lambrtz:::
tidak perlu repot2, mbah…hahahaha
Bangaiptop:::
wah, kalo masalah IT, Janoko itu bahkan lebih handal dari saya, bang
maulana96:::
saya pribadi sih lebih memilih seimbang aja. bisa ngomong ya harus bisa ngelakuinnya, hehehehe
akoedw:::
tentang babarsari?
fie:::
menipu bagemana? aku bener2 pengen kok, dan penjabarannya adalah tentang latar belakangku kenapa aku kepngen
insriratif sekali…. studiu saya sih bukan tentang pelacur… tapi tentang pengemis, dan kasusnya memang hampir sama….
*nyiapin tulisan buat koran-koran*
aq mau jual diri serius lo, aq udh oprasi kelamin lo,berminat hubungi 085694600205,wilayah jogja
aq lg per lu kontol mlm ini berminat hubugi aq ya,byaran berapapun aq terima asl aq puas untuk wil jogja
hub 085694600205
Hey Gue Widya
gue mau dunkz jadi Lonte…
hubungi ke nomor gue yah
gue tunggu
081376450025