Apakah Anda termasuk salah satu dari orang-orang (sok) alim yang kebakaran jenggot seperti Kak Haji Irama waktu Inul Daratista muncul di hadapan publik dengan goyang ngebornya dulu itu? Aku tidak. Tentu saja, karena aku nggak punya jenggot. Tapi jika iya, percayalah, fenomena dahsyat goyang ngebor seperti itu cuma ada di tivi. Nggak seperti yang ada di alam nyata di luar tivi. Sungguh mati!
Seperti yang kita tau, tivi-tivi kita itu sering ngibul, sering menampilkan sesuatu yang berbeda dengan kenyataan sehari-hari di lapangan. Contoh busuknya, sinetron! Pancen sinetron kuwi busuk tenan (kecuali Kiamat Sudah Dekat, tentunya). Ceritanya ngayal, dan akting pemainnya dipaksakan.
Bayangkan, ada anak perempuan yang (mungkin) belum menstruasi tapi sudah disuruh akting layaknya seorang mahasiswi. Yang esema aja belum tentu bakal bisa lulus atau tidak, dipaksa berperan sebagai ibu-ibu dengan problematika rumah tangga yang seolah ditakdirkan Tuhan supaya seumur hidup jadi orang yang menderita. Ah, kasian sekali para pemain-pemain sinetron kita itu. Dipaksa untuk menyembah Tuhan mereka yang kejam (kecuali – sekali lagi – Kiamat Sudah Dekat, tentunya. Ah… Zaskia… Ah…ah…aghhh…) dan tidak maha pengasih (sifat Tuhan-mereka yang ini biasanya cuma keliatan di akhir episode. Maka celakalah mereka yang sinetronnya nggak ada tamat-tamatnya).
Acara dangdut juga begitu. Semuanya hasil kibul-kibulan tivi. Beda dengan kenyataan di luaran sana. Inul dan rekan-rekannya yang rajin goyang (seronok?) itu sebenarnya bisa kita maklumi latar belakangnya kenapa mereka memilih performa panggung seperti itu. Kayak yang kita tau, teknik vokalnya Inul tidaklah sedahsyat Siti Nurhaliza atau malah Kris Dayanti. Wajahnya juga nggak secantik Zaskia Mecca (aaaaagggghhhh…yessss!). Maka, apa yang harus dijual oleh Inul supaya laku di pasaran? Tentunya cuma bodi doang, dunk.
*Sepertinya aku mulai meracau tidak jelas*
Balik lagi dengan produk kibul-kibulan tivi itu. Sumpah, keadaan di luar sana jauh berbeda dengan keadaan yang bisa kita liat di tivi. Kak Haji seharusnya ga perlu seheboh itu kalau saja dia tau lebih dulu fenomena dangdut pinggiran di dunia nyata seperti sekarang ini.
Mereka lebih parah, John! Yakin!
Kemarin Kamis, Septo (lengkapnya Septo Adhi Nugroho), seorang sejawat yang lagi KKN di Klaten bolos buat nengokin Jokja. Doi membawa oleh-oleh berupa *.dat dan *.mpeg video klip amatir dangdut-dangdut pinggiran yang akhirnya dikopi ke MacBook-nya Landhes (lengkapnya Landhes Bregas Manuhara). Dan begitu video klip itu disetel, bisa ditebak komentar dari sejawat-sejawat lain yang saat itu sedang ngumpul di kantin kampus MIPA Utara tercinta.
“Asu!” kata Aphip (lengkapnya Faizudin Al Hamawi).
“Bajindal!” serobot Azwin (lengkapnya Azvin Lazuardi Hutama).
“Weh, nggleling! Kampret tenan…” komentar Si Tampan (lengkapnya Anindito Baskoro Satrianto).
Dan sejumlah random sample lainnya juga berkomentar senada dengan yang di atas sembari terheran-heran sambil ngekek-ngekek. Memang tidak ada komentar semacam “masya Allah” ataupun “astaghfirullah”, karena video klip itu memang belum ditunjukkan kepada remaja-remaji musholla. Lha, kalau mahasiswa yang moderat (jika tidak mau disebut berangasan) saja bisa terkaget-kaget, bagaimana coba reaksi kaum sayap kanan? Bisa-bisa mereka langsung semaput di tempat dan ketika bangun mulutnya langsung komat-kamit sambil melafalkan zikir.
Asli, John, goyangan mereka lebih sompret. Dan silahkan tuduh aku sebagai penyebar tayangan setan karena aku menunjukkan bahwa file-nya bisa didownload di sini (ati-ati! Butuh kecepatan transfer yang tinggi. File-nya agak gede walaupun sudah ta’convert). Silahkan saja. Yang jelas, sebenarnya aku cuma mau menunjukkan sebuah fakta tentang inilah kondisi sebenarnya di lapangan (daripada aku dituduh ngomong tanpa bukti). Lihatlah bahwa pedangdut-pedangdut dengan performa panggung ala pelacur kesurupan sedang digagahi itu juga ditonton oleh anak-anak. Lihat semuanya! Lihatlah! Lihat! Woi, lihat, woi!
Tontonan seperti itu – jujur aku sendiri masih suka nonton yang lebih puanas – menurutku bukanlah sebuah pertunjukan untuk dipertontonkan kepada publik. Terserah mau show di mana, asal jangan diumbar buat konsumsi publik secara langsung. Jangan ajak anak-anak yang belum cukup umur buat nikmatin sajian macam gituan. Jangan ngajak orang lain buat menikmati dosa. Kalau mau bikin dosa, bikinlah sendiri. Nggak usah ngajak-ngajak temen.
Sompret, kalian!
Ugh, teringat dangdut aku jadi teringat Moliendo Cafe-nya Julio Iglesias yang dijiplak Fahmi Shahab dengan Kopi Dangdut-nya yang legendaris itu, juga teringat Purawisata, tempat show dangdut paling ngetop di Jokja. Dan, teringat Purawisata aku jadi teringat Pa’is (lengkapnya Achmad Faiz Farouqi), temanku asal mBrebes, matang di Pemalang, yang lebih sering menuliskan namanya sebagai Steve Vaiz.
Ketika aku berniat nraktir dia buat nonton Team-Lo di Java Cafe, entah kenapa di perempatan Jl. Magelang dari arah timur dia justru hampir membelokkan motornya ke kiri. “Is, koen pan maring endi?” tegurku, “Java Cafe neng sebelah kono,” lanjutku sambil menunjuk ke arah utara.
“Astaghfirullah! Sori, Joe. Kelalen. Kemutane Purawisata,” jawabnya dengan gaya ngapaknya yang nggak ilang-ilang sampe sekarang sambil menepuk jidatnya.
Ah, dasar dangdut.














ta donwload dulu.. biar ada buktine kalo mas joe itu ga jablay
Emang perlu masyarakat yang lebih dewasa untuk memilih produk berkualitas yang layak konsumsi. Kalo ga ada pasar, mana mungkin ada orang yang brani ngelakuin apapun demi mengais uang. Joe, liat lagi. Penontong ndang-dut nya banyakan laki pa perempuan?
Walo aku belum liat (dan ga mau liat), aku rating file itu dengan 5 kancut..
waks.. wes kiamat dah dekat benerrrrrrrrrrr
almascatie:::
bagemana? menyenangkan bukan?
safitri:::
agak sulit, fit. sedewasa apapun, ketika disuguhi dengan tontonan birahi, ya tetep aja pasti pada penasaran ngeliat. lha wong fitrah dasarnya laki2 itu kayak gitu. kalo aku ada di tempat kejadian perkara, boleh jadi aku juga bakal ikutan nonton. yang bikin prihatin sih ya banyak anak2 yg juga ikutan nonton.
eh, mending kamu liat yg moliendo cafe aja…
kala kupandang kerlip bintang nun jauh di sana,
y es la quietud de los cafetales vuelven a sentir
terasa kembali gelora jiwa mudaku
que en el letargo de la noche se escucha gemir
Musik dangdut telah merdeka ! …
Sempat nonton sinetron juga (yg katanya bagus) sekitar 4 bulan lalu.
Judulnya “JOMBLO”
Tapi sekarang katanya ratingnya melorot.
Wah ga ada yg sebagus Anak Seribu Pulau atau Si Bolang. The best la.
Hahaha, di Jawa Timur yang gudangnya pedangdut dgn goyangan maut wis biasa sing koyo ngono. Jatim juga gudangnya OM (orkes melayu) lo!!!Malah tivi lokal ini tiap siang (awan menthor-menthor) juga menayangkan acara dangdutan yg diiringi oleh group OM dgn penyanyi2 yang goyangannya bisa mbikin Joe sawanen.
Weh…para pedangdut itu sudah kalah total oleh acaranya Si Unyil.
wah joe ndak pernah berubah masih suka sm zaskia
Hmmm….harus bener2 selektif milih tayangan di tivi,
baidewei…saya ndak suka Zaskia! bedaknya tebelllll…..huh!
dah lama gak kesini akhirnya mampir lagi kangen joe eit jangan ge er dulu kangen sama tulisan mu.. huehehehe memang “sedih”
konsumsi hiburan makin menggila gak jelas segmennya apa lagi dangdut masak kucing garong yang nyanyi anak kecil
Okeh semuanyah….
ternyata.. penyanyi dangdut sudah merambah dunia oil&gas..hehehe
sama. sayapun `ga munafik. tetapi, sekali lagi jg sama : Jgn pertotonkan di umum, dan jgn ajak2 yg lain menikmati dosa.
*sambil usap2 jenggot*
hah? kopi dangdut itu ngopi?!?!?! makasih infonya! hahaha..
*abis dengerin lagunya julio*
GILA MIRIP SU! HAHAHA.. KACAUU
langsung menuju tkp, sembari berdoa semoga tidak mengecewakan nih.
eh, njaluk .mpeg e kui…
ono zaskia dangdutan gak?
hihihihihi…joe, ati2 nyebar file haram…
*diam2 ndonlod*
buset dah….
*jadi pengen*
Luna Moonfang:::
sampah, teh
Fadli:::
aku suka ‘21 jump street’. egh, tayangan lokal ya? hehehehehe…
sempet seneng si doel dulu. tapi gara2 dibikin2 sekuelnya kayak tersanjung, akhirnya selepas sdas 3 saya jadi ga ngikutin lagi
neen:::
aaaaaa……..pengen tinggal di daerah yang ada tivi lokalnya itu
Mihael “D.B.” Ellinsworth:::
si unyil masih idup?
wida:::
selalu di hatiku
gessh:::
tanpa bedak pun tetap – subhanallah – cantik gila!
ea_12h34:::
errrrr….
*speechless*
mathematicse:::
trimakasih jika berkenan akan oleh2 dari klaten
macanang:::
eh? maksudnya?
ehehehehehe…
telmark:::
*mengangguk2 sambil mengusap2 bakal jenggot juga*
aRdho:::
bangsa kita memang ‘pengembang’ seni yg bagus, kan?
danalingga:::
bagaimana? mengecewakan?
diditjogja:::
wew…mbok ditiliki alon2, oom. wis ta’kek’i link’e kuwi lho.
zaskia dangdutane cah 2 thok karo aku…..sesuk
antobilang:::
hahahahahaha…haram kalo menyenangkan – kata bolebole, teman saya – jadi haramdulillah
fertobhades:::
udah didonlot, mas?
euh… lemot ngga isa lihat hikz.. apah betul ituh teh pelemnyah guru pispot berdiri murid pispot berlari gituh?…
wah, klo recommended ama joe, brarti wajib tonton nie
dunlot ah, trus ntar tunjukin ke anak2
udah tau tivi2 inonesia sering ngibul masih aja rhamee ditonton, mending nge blog, melek truss depan komputer (*he,,he,,, maksa…*)
oh… ada si jablay ya?? tp bukan titi kamal ya?
JOE!!!!
kapan aku bisa ke rumahmu?
mau ngambil 250 vs 250 sama Aya Koizumi sama Azumi Kawashima sama dangdut2 ini. Di kompiemu ada kan joe?
Aku bawa cd deh
Memang ada (atau setidaknya) pernah ada sinetron yang bagus ditelevisi kita?
Politik, Bisnis, Birokrasi, Mafia dan Darah.
http://phoenixblood.wordpress.com/
itu ada adsense diatas…. *histeris*
hehehehe joe bisa mainin rubina versi dangdut gak?
hello, Jablay…
katanya minta dipanggil Jablay…
dangdut is the music of my country,,, *mulai nyanyi*
Sabar joe, komentnya nunggu donlotan selesai.. :>
Joe, yg ga di megaupload ada ga?
Sekalian, joe ga bisa donlot, kirim via SMS aja..
Kampret, flashdiskku semaput je!!!
[**ga jadi donlut karena kepaksa**]
Alo Jablay.
udah di donlot dan……
*geleng-geleng kepala…..*
*ada bagian tubuh lain yg geleng-geleng…*
1 pertanyaan singkat
jika zaskia yg nari begituan di atas panggung apa yg akan joe lakukan?
a. pergi menjauh
b. nonton sambil hidung berdarah dan mulut penuh lieur (patkay mode: ON)
c.bunuh diri
hwakakakkaaaaakk…
dasar gila…
bandingkan dulu Zaskia denganku…
di youtube ada
taeh.. klipnya akhirnya mendarat ke iBook saya dibawain Kafirman!
tapi lumayan untuk mengapresiasi sebuah sisi artistik dari kehidupan..
nyuamm nyamm