There’s no Dalil on this one!
Mas Joe,kata mas Ical “Wind, jgn! Ak dah bc hadits tnyt kyk gtu ga boleh. Qta tmasuk mgagumi ksyirikan. Jgn y! Ntar mlm mg aj k smaz..brg m’qq dkk..”
Iya po?
Ini cerita tentang hikmah Waisak awal bulan kemarin. Jadi kisahnya, Winda, adik kelasku yang ngajakin aku ke Borobudur buat liat prosesi 1000 lilin, SMS aku. Dia nulis kayak quote di atas. Aku juga sedikit heran, kenapa aku yang dimintai pertimbangan. Aku pikir, mungkin karena aku setua sepantaran sama temenku, Ical itu, dan aku juga termasuk salah satu kontingen yang bakal berangkat ke Borobodur bareng Winda.
Oke, aku ceritain sedikit perbandinganku antara Ical dan aku. Sebenernya, Ical sama aku itu sama-sama moderat (kalau nggak mau dibilang abangan) dalam beragama. Kami sama-sama (masih) suka menghisap lintingan tembakau dan sama-sama (masih) suka ngelirik kalo ada gadis cantik yang kebetulan lewat di depan kami.
Cuma, Ical memang tidak sebajingan aku. Rambutnya nggak gondrong, telinganya nggak beranting, pun jarang make jeans robek-robek (jangankan yang robek, yang nggak robek pun hampir nggak pernah. Dia lebih sering make celana panjang kain. Mungkin gara-gara statusnya yang sekarang udah jadi dosen di kampusku). Yang paling kentara, kalo kita main ke kosnya Ical bakda Maghrib atau Isya’, kita bakal mendapati anaknya masih sarungan. Lain dengan aku yang bakal kepergok cuma pake boxer sama kaos oblong.
Dalam hal menyikapi cara kami beragama, Ical dan aku juga berbeda. Ical sedikit lebih keras dalam masalah ibadah, sedangkan aku termasuk – kasarannya – prek-prekan dengan kata orang. (Mungkin) Ical masih memperhitungkan efek dari tingkah laku ibadahnya buat orang lain. Beda dengan aku yang cenderung beranggapan: Aku beribadah itu buat Tuhanku. Itu urusanku pribadi sama Tuhanku. Periblis dengan anggapan orang yang sok ikut campur. Mereka toh tidak bakal memberikan syafa’at buatku di Padang Mahsyar nanti.
Ada satu perdebatan kami yang masih kuingat sampai sekarang. Kami mendebatkan wujud shalat dalam budaya kejawen. Waktu itu temanya adalah “Bagaimana Kalau Kita Shalat Sedangkan di Hadapan Kita Terdapat Semacam Sesajen?”
Ical waktu itu bilang, nggak boleh. Alasannya adalah itu seakan-akan menyembah kepada yang “diberikan” sesajen. Sedangkan aku bilang, shalat itu tergantung niat kita. Kita nggak tau niat orang yang shalat itu apakah untuk menyembah yang “diberi” sesajen ataukah memang shalat untuk Penciptanya. Kalo buat Sang Pencipta, nggak penting di mana tempat shalatnya, asal tempat tersebut memang layak buat shalat. Toh Tuhan itu nggak ndeso. Dia itu tau tentang segalanya.
Ical bilang lagi, mungkin niatnya memang kepada Tuhan. Tapi efeknya buat masyarakat sekitar yang melihat adalah masyarakat bakal beranggapan sesajen itu boleh dalam Islam, karena nyatanya ada, kok, orang yang shalat di depan sesajen.
Itu salah satunya. Sambungan bantahanku mungkin sudah bisa ditebak, karena bagaimanapun juga aku hidup di Bali selama 19 tahun. Nggak jarang aku numpang shalat di kamar temenku yang disitu terdapat “pelangkiran” (tempat menaruh persembahan dalam adat umat Hindu di Bali). Kadang pula, aku shalat di kamar temenku yang disitu terpajang tanda salib (halo, Creez. Apa kabar Denpasar?).
Yeah, aku sama Ical memang nggak jarang berbantahan. Tapi kami nggak saling mengkafirkan satu sama lain.
Lalu sehubungan dengan SMS Winda kemarin, aku menjawab bahwa hal itu bukan masalah. Kita ke sana niatnya pengen liat, pengen tau karena selama ini kita memang belum pernah tau. Kalopun nanti bakal ada proses mengagumi, aku nggak bakal mengaguminya sebagai wujud kekaguman terhadap ajaran agama lain, melainkan mengagumi sebagai sebuah koreografi. Aku bakal mengaguminya sebagai sebuah seni. Toh kita ke sana bukan buat ikutan beribadah, kan? Begitu kataku pada Winda.
Memang, menurutku, dalam proses kekaguman itu sendiri, kita nggak bisa langsung menghakimi bahwa setiap kekaguman kita bakal berpengaruh pada proses kita untuk mengaplikasikan apa yang kita kagumi itu pada kehidupan kita sehari-hari. Kekaguman itu bisa berlanjut dengan 2 hal: Mengaplikasikannya pada diri kita, ataukah kagum yang cuma sekedar lewat saja dengan ringan.
Ambil contoh, aku mengagumi Roberto Baggio. Awalnya memang dimulai dari proses ingin tahu. Waktu itu, Piala Dunia 94, aku penasaran pada siapa, sih, orang Italia yang namanya selalu disebut-sebut di koran-koran itu? Saat itu aku belum menyukai sepakbola. Lalu, aku melihat Baggio (lewat tipi, tentunya) di final melawan Brazil. Aku tahu waktu itu Baggio sedang cedera. Tapi oleh Arrigo Sacchi sang tukang latih tim Italia, Baggio tetap dipaksa tampil, karena, yeah, seperti yang disebut di koran-koran, dia memang kartu as Italia.
Aku melihatnya. Gila! Orang ini katanya sedang cedera, tapi kok masih bisa bergerak selincah itu? Pada akhirnya Baggio memang gagal mengambil penalti yang berakibat Brazil-lah yang akhirnya menjadi kampiun dunia. Tapi, pelan-pelan aku mulai mengagumi Baggio. Aku juga nggak berlebihan kalo aku berkata, “Aku menyukai sepakbola karena Roberto Baggio.” Aku mencoba menerapkan setiap gayanya kala aku bermain bola. Meskipun pada akhirnya banyak yang bilang, dalam skala kecil, gaya permainanku cenderung lebih mirip Roberto Mancini ketimbang Baggio.
Tau bedanya Mancini dengan Baggio? Baggio, di masa jayanya, setiap kali mendapat bola, dia akan berpikir bagaimana caranya menembakkan bola itu langsung ke gawang lawan. Sedangkan Mancini, dia akan melihat-lihat siapa rekannya yang berdiri lebih bebas. Wajar kalo gayaku mirip Mancini. Di Perseden Denpasar U-14 sampai tim all-stars SMA Negeri 1 Denpasar dulu aku dipasang di sektor gelandang kanan. Beda dengan ketika mahasiswa di mana aku lebih sering bermain sebagai striker murni. Jadi, tembak saja begitu dapat bola!
Itu contoh kekaguman yang berlanjut pada aplikasi. Yang tidak berlanjut adalah sebagaimana aku mengagumi Joko Suprianto. Aku suka gaya bertahannya yang sulit banget dibobol musuh-musuhnya. Dalam tiap Thomas Cup yang diikutinya, Joko selalu jadi tunggal pertama Indonesia. Tapi ya sudah, kekagumanku berlangsung begitu saja. Aku cuma suka menonton bulutangkis tapi tidak memilih bulutangkis sebagai olahragaku soalnya. Tidak ada usaha untuk menjadi seperti Joko Suprianto selama hidupku ini.
Jadi, penasaran memang berlanjut pada keinginan untuk tahu. Setelah kita tahu pun hal itu masih terbagi menjadi 2 hal, mengagumi ataukah berpendapat, “Ah, biasa aja.” Dan, setelah mengagumi, hal itu masih dibagi menjadi 2 hal lagi: Mengagumi disertai usaha untuk mencontoh ataukah kagum yang biasa-biasa saja.
Itu konterku yang pertama buat Ical yang tidak sempat kuucapkan langsung.
Yang kedua, kalo setiap ingin tahu dan mendalami tentang ajaran agama lain disebut sebagai syirik, lalu bagaimanakah dengan aku yang selama ini juga membaca Bible atau Bhagavadghita karena proses ingin tahu? Sudah tentu aku adalah pelaku syirik! Kalau demikian, orang-orang yang mempelajari perbandingan agama tentulah seorang pelaku syirik juga. Lalu lagi, dengan demikian, boleh, dong, aku bilang kalo Oom Ahmad Deedat almarhum yang jago kristologi itu sebagai seorang jagowan syirik kelas berat? Hayo!
Padahal aku selama ini mempelajari agama lain adalah dalam rangka memantapkan keyakinanku. Hal kayak gitu, kok malah disebut sebagai dosa? Dagelan model apalagi ini?
Ada ceritaku dengan seorang temanku yang lain lagi. Suatu hari di kala kita duduk di tepi pantai…aeh, di kala sehabis shalat Tarawih di bulan Ramadhan (ya iyalah. Masak Tarawihan di bulan Rabiul Awal?), kami duduk-duduk di halaman Masjid Kampus UGM sambil ngobrol ngalor-ngidul tentang permasalahan umat Islam. Temanku itu, jaman esemanya dihabiskan di pondok pesantren plus (plus este’em, maksudku) Darul Ulum, Jombang (kalau nggak salah). Jadi, nggak salah kalau waktu itu aku berpikir pemahamannya tentang agama pastilah lebih maut dari aku.
Tapi ketika obrolan kami berlanjut tentang masalah perbandingan agama, dia bilang, “Aku tekan saiki ra wani sinau agama liyane. Wedi nek imanku dewe dadi ra kuat.” Terjemahan bahasa Prancisnya kira-kira begini: Aku sampai sekarang nggak berani belajar tentang agama lainnya. Takut kalo imanku sendiri jadi nggak kuat.
Jindal! Aku sedikit kecewa. Padahal aku pengen tau tentang pendapatnya sehubungan dengan statusnya sebagai anak pondok.
Sekarang aku malah jadi mbatin: “Kalo iya takut imannya jadi goyah, berarti selama ini pilihannya memeluk Islam itu karena keyakinan mantapnya sendiri untuk memilih ataukah dia memeluk Islam karena turun-temurun dan faktor keluarga?”
Hayo, hayo, hayo (3 kali hayo, lho), siapa yang bisa jawab?
Well, pada akhirnya, setelah konter keduaku buat Ical (yang tidak sempat kuucapkan langsung juga) di atas, kami tetap memutuskan berangkat ke Borobudur. 4 cowok, 4 cewek. Aku, Gentho, Bram, Destian, Winda, Sita, Nita, dan Ayu. Persetan dengan anggapan orang. Dicap sebagai jagowan syirik oleh mereka pun tak masyalah… Toh itu juga nggak seenak dibanding berboncengan dengan seorang gadis manis sepanjang jalan Jokja-Magelang-Jokja di malam hari, kekekekeke!













Uhhhhh… *panah nancap*
Jujur aja, saya masuk Islam karena ngikut orang tua… Piss! _ _ V
Dan saya rasa sekarang, keyakinan saya mantaf apa tidak…? – -a
Heheheee… Kalau jadi kamu, mungkin saya pun akan berangkat.
Huahahahahaha, tidak main-main, seorang Ibnu Rushdi pun dulu sempat sibuk mempertanyakan ke-Maha Kuasa-an Tuhan. Bukan apa-apa, tapi proses terus bertanya dan dan kritis akan agama itu perlu dan wajib
Btw, saya setuju soal ibadah itu masalah pribadi yang langsung Tuhan. Mantaaaf. Segar dan mencerahkan
panjang banget…. :p
Wahh ta’ kirain mau mentraktirku dia plaza borobudur ? ehh ternyata liat acara pentas lilin to di candinya langsung…
Maaf joe ngga bisa ikut, selain faktor ke sana naek motor, aku juga baru habis sakit… padahal pengen juga…. hikssss…
Sorry joe, borobudure kadohan…
Idem dengan komentarnya Geddoe diatas.
Master Li:::
keliatannya salah sambung, deh. panah nancap? aku kemana2 bawa tombak lho padahal. ga pernah bawa panah, kekekeke!
yah, kamu kan tau, orang yang keselamatannya senantiasa terancam kayak aku, harus selalu siaga
Geddoe de la Rocha:::
yak! thx u
arul:::
lho, tulisanku biasanya juga panjang2, kan? yo, mohon maklum, pakdhe…namanya juga orang curhat
kudzi:::
oh, tidak mengapa kok, ji. kamu kan cowo soale. jadinya nggak masalah kalo ga ikut, kekekeke!
Sugeng Rianto:::
genah. nek seko mbrebes genah adoh
Borobudur pernah jadi tempat kunjungan rutinku dulu…
*menerawang*
weleh – weleh…lha kalo ga boleh sholat di tempat yang ada sesajennya, lha aku sholat dimana Joe?depan tipi?Lha yang ada malah aku nonton kartun, gak jadi sholat…
kekeke
Menurutku, sholat itu dimana aja boleh, asal sesuai kriteria lah tempatnya. Gak elok rasanya sholat di tengah jalan,apalagi jalan protokol…
#Master Li
kita beda…
boleh khannn???
lho itu kan bukan dagelan … tapi udah jadi fenomena umum “kaum beragama” …
*eh btw, maksudnya kata “kaum beragama” itu apa ya … hehehehe*
perbedaan itu bikin kita tambah pintar. makin banyak yang beda, kita jadi tergugah buat nyari tau, apakah hal beda yang kayak x, atau kayak z tu masih diperbolehkan atau gak.
yang jadi masalah, kalo kita cuman ikut2an beda, tapi ujung2nya gak cari tau itu bener ato gak.
so, perbedaan itu bikin dunia makin indah, asal gak gontok2an aja…heheheh
ps: masJoe, aku dah dapet jawaban pertanyaan about hadist-mu yang dari jaman dulu itu.hehehh:p tapi gak pernah ketemu sampeyan di kampus je.
jangan takut di cap syirik joe, Nabi Ibrahim saja pada pencariannya sempet mengira matahari, bulan dan bintang sebagai Tuhan kan?
jangan lupa juga yang ngecap syirik itu manusia apa Tuhan? kalo Tuhan apa buktinya? kalo manusia ya kamu tenang2 aja deh… jo wedi.. hehehe
masalah sholat di depan sesajen yo rapo2 to.. asal bersih dan layak untuk sholat. lagian yang sholat itu hati kita. bukan fisik. fisik cuma jumpalitan saja, walo tentu memiliki makna yang dalem banget…
sholat di depan ka’bah kalo ampe menyembah ka’bah bukannya Allah ya podo wae musyrik to? padahal dah di masjidil haram loh….
yang penting jangan takut ma anggapan orang2 islam yang keras tentang syirik. mereka2 itu apa2 yang beda di sebut syirik seenaknya sendiri, padahal ucapan ini bahaya banget. hanya Allah yang tau mana yang beriman mana yang musyrik….
desi kamu kasiaaaaannnn (deh)
terimakasi dan sekiaaaaannnnn
Lagi mbahas musik yaa (eh musyrik).
Baru-baru ini saya aja nyaris musyrik lho (menurut seorang berilmu).
Ohh, nggak. Bukan karena saya juga ikut liatin perayaan waisak di Borobudur.
Apa pasal? Cuma gara-gara saya bikin syair yang judulnya nyeleneh dikit (dikiiittt aja), padahal itu kamsudnya juga kiasan.
Ga Percaya? silahkan lihat komentar2 terakhir di postingan terakhir saya.
Oya, klo sholat di mushola di pelataran Candi Borobudur hukumnya gimana? saya pernah tuh 2 kali sholat disana
Saya lebih suka Franco Baresi daripada Roberto Baggio, maklum sering berposisi sebagai center-back (walaupun dua-duanya gagal pinalti di final PD 1994)
Iya mas Joe, beribadah itu bisa dimana saja, bahkan hidup kita inipun adalah ibadah.
@Fadli
gpp… tetep sah asal tempatnya layak untuk sholat
Lha aku juga biasa sholat menghadap salib gedhé…
Karena kebetulan di daerah kostnya temanku gak ada masjid…(kompleks non muslim gitu), lalu satu2nya tempat sholat ya kamar temanku itu dan kebetulan ada salibnya di situ
Daripada gak sholat hayo? Masak aku harus sholat mungkuri (membelakangi) kiblat…atau aku malahan mendingan gak sholat daripada sholat menghadap salib?
Bukankah setiap amalan itu tergantung niatan kita?
Nawaitu…
Iya katanya “Inna a’malu binniyati…” boso jowone “sejatine amal kuwi gumantung seko niyat”, lan niyat kuwi anane ning ati, jadi jangan suka makan hati, kalo hatinya dimakan mo niyatnya dimana hayoo?
Ibadah memang bisa dimana saja kok, dan ibadah kan nggak cuman sholat thok thil! tapi kalo tempat sholat setahu saya emang ada tempat yang ndak diperbolehkan buat tempat sholat yaitu di kuburan dan di kamar mandi.
@mas agus
di kuburan juga boleh kok…. kan tergantung niat aja….
yang penting tempat sholat itu layak dan bersih….
la kalo ada kuburan bersih dan layak, why not?
tapi kalo toilet ya kebangetan ah…. itu kan tempat kotoran….. hehehe
chiw imudz:::
kakakakakakakaka! kowe cen pekok. isih seneng ngartun tho? aku senenge nonton serial silat. tapi saiki ra tau ono meneh. payah
jurig:::
kaum yang terusik oleh tulisan kita yang dianggap menghujat agama, mungkin, teh
afiemaniez:::
kowe kan ngerti omahku, fie, wekwekwek
savikovic:::
tidak, sodaraku. aku tidak takut. aku akan terus menerjang walaupun peluru menghadang
Fadli:::
aku juga kok, mas. lha wong disitu memang disediain musholla
fertobhades:::
segalanya berawal dari niat kok, mas. apapun kalo diniati ibadah ya insya allah dicatet sbg ibadah. termasuk ngeblog
deking:::
balada seorang imigran…
mas agus:::
karena bahaya kalo sampe kepleset di kamar mandi, mas, huehe
Wah..kasusmu sama kaya aku joe..
Boleh curhat dikit yaaa…Aku jg diprotes temenku gara2 aku nonton barongsay yang lagi beraksi di sebuah klentheng. Padahal aku cuma lewat, ga da niat nonton (kaya kamu, hehe..). Tapi katanya itu sama saja dengan mengikuti upacara keagamaan mereka. PAdahal itu kan hanya seni..
Ck..ck..ck..ck…
menurutku ingin hanya ingin berhati hati dengan tidak mendekati hal seperti itu ngga ada maksud untuk bilang syirik. tentu kita hanya nonton dan mengagumi ngga ada maksud yang lain tetapi dari sekedar mengagumi tentu aja sedikit pengaruh. dalam ilmu psikologi kalo keinginan kita ingin dikabulkan orang lain kita bisa meminta dengan sedikit demi sedikit. sama dengan setan tentu menggiring kita dengan dosa dosa kecil dulu setelah dosa kecil banyak maka mulai menggiring ke dosa yang besar. dan aku ga bilang nonton itu termasuk dosa lo aku ga tau. kalo misalnya ada acara seperti itu setiap bulan dan kita menontonnya secara berkala tentu ada kemungkinan perubahan dari diri kita.
“Tapi ketika obrolan kami berlanjut tentang masalah perbandingan agama, dia bilang, “Aku tekan saiki ra wani sinau agama liyane. Wedi nek imanku dewe dadi ra kuat.” Terjemahan bahasa Prancisnya kira-kira begini: Aku sampai sekarang nggak berani belajar tentang agama lainnya. Takut kalo imanku sendiri jadi nggak kuat.”
menurutku itu juga yang terjadi sama dengan aku. aku lebih milih mendalami agamaku dulu karena pertama itu ibaratnya seperti ini aku punya rumah dan tetanggaku punya rumah. rumahku ini jelek lalu kita mengintip rumah tetangga kita yang lebih indah tentu jika dibolehkan kita tentu akan memilih pindah kerumah tetangga kita. kedua aku ngga bisa membagi waktu antara mempelajari agamaku sendiri dengan mempelajari agama orang lain. ketiga ilmu perbandingan agama itu merupakan cabang ilmu yang lain jika kita hanya setengah setengah mengarunginya maka kemungkinan hasilnyapun ga akan sempurna. itu juga yang mungkin ingin dikatakan teman mas itu.
“Tapi ketika obrolan kami berlanjut tentang masalah perbandingan agama, dia bilang, “Aku tekan saiki ra wani sinau agama liyane. Wedi nek imanku dewe dadi ra kuat.” Terjemahan bahasa Prancisnya kira-kira begini: Aku sampai sekarang nggak berani belajar tentang agama lainnya. Takut kalo imanku sendiri jadi nggak kuat.”
menurutku itu juga yang terjadi sama dengan aku. aku lebih milih mendalami agamaku dulu karena pertama itu ibaratnya seperti ini aku punya rumah dan tetanggaku punya rumah. rumahku ini jelek lalu kita mengintip rumah tetangga kita yang lebih indah tentu jika dibolehkan kita tentu akan memilih pindah kerumah tetangga kita. kedua aku ngga bisa membagi waktu antara mempelajari agamaku sendiri dengan mempelajari agama orang lain. ketiga ilmu perbandingan agama itu merupakan cabang ilmu yang lain jika kita hanya setengah setengah mengarunginya maka kemungkinan hasilnyapun ga akan sempurna. itu juga yang mungkin ingin dikatakan teman mas itu. kalo misalnya double delete salah satunya
maruria:::
hehehehe, generalisasi yang agak ngawur, mbak. sama aja kayak orang bali=orang hindu, maka orang cina pun=orang buddha. padahal barongsay kan memang murni tradisi kesenian cina.
saidedwin:::
lho, kan memang harusnya gitu, mas. buat apa kita terus hidup dalam “kejelekan” (dalam hal ini adalah pengibaratan bahwa agama kita jelek). sudah sewajarnya kita memilih yang lebih “indah”. sudah tau rumah jelek kok terus2an ditinggali. menurut saya, hidup ini bukan “sudah tau jelek masih dibela2in juga”. menurut saya, hidup ini adalah mencari “kebenaran”, bukan “pembenaran”
btw, yang ga ngebolehin pindah rumah siapa, mas? hehehehe
saidedwin:::
19 tahun hal seperti itu jadi bagian dari kehidupan sehari2 bisa disebut berkala ga, mas? ehehehehehehehe.
kadang-kadang pandangan seperti quote dari mas itu memang ada. dan itu wajar, karena kita memang hidup dalam suatu mayoritas tertentu dan menjadi bagian dari mayoritas itu sendiri.
sama, mas. ketika saya pertama kali memutuskan jadi penghuni jokja, banyak yang bertanya, “di bali itu gimana orang islamnya?…kan di situ ada ini…kan di situ begini…kan…kan…kan…memangnya kalian bisa istiqomah kalo begitu?”
saya malah heran dengan pertanyaan spt itu. perasaan saya (dan kami, sebagai bagian dari umat muslim yang minoritas di bali) semuanya berjalan biasa-biasa aja, kok. nggak ada yang perlu dikhawatirin. semuanya damai, toleran, tentram, nggak saling mengganggu. makanya saya bangga jadi orang bali
pengalaman yang kurang lebih mirip mungkin bisa ditanyain ke mas deking atau bang aip yang tinggal di luar indonesia.
segalanya berpulang pada kemantapan kita berpegang pada kebenaran yang kita yakini. dan kebenaran itu hanya mungkin kita pilih kalo kita tau di luar itu ada yang menurut kita kurang benar
hihihi
jangan takut ma setan lah….
kalo takut digiring ke sana ke mari, maka kenalilah setan dan kita akan tahu giringan2nya. jadi kalo ada setan mau nggiring2, kita kemplang aja… enak kan….
kalo bali yang di anggep begini begitu bisa membikin ngga istiqomah… lha itu mas joe aja buktinya yo biasa2 wae to?
walopun kmu ngga dianggep biasa di sini.. hehehe
biasa ato engga ya relatip….
wah aku juga mo nonton sayang gw adanya di sumatera klo jadi kamu pasti nonton soalnya tu pertunjukan pasti indah banget, sayang kan dah di jogja gak ngeliat hm belum tentu tahun depan ada lagi.
hehehee
btw joe mainin always with me always with u dung
bagemana kalo “rubina” atau “love thing” aja? itu lebih romantis lho, hehehehehe!
Joe said :
hohoho.. pindah kamar kos aja boleh kok
(dalam artian pindah mahzab/aliran keyakinan dalam beragama)
piss
Mwahahahh jadi inget jaman smp dulu ..gw juga pernah solat di depan patung bunda maria di kamar temen yang orang bali hi3~
rubina hm boleh juga hehehe kapan nih maininnya akustik yah…
main-main ke blog ku klo mampir kasih pesen yah syukur-syukur mo ngelink blog ku hehehehe
seperti apa jogja sekarang?!?!
Hmmm,,,,aku sih setuju dgn “tergantung niat”
Tapi mas faisal jg gak salah je,,,Emang ada kok hadits-nya,,,
Hoooo,,,cari aman aja deh…Mending gak usah nonton!!
Busyet…sepertinya???
ra sopan Joe kie…nek nang kene counterless.
Tapi ra po2…saya melihat ada bakat mengembangkan tulisan dari hal2 yang dianggap orang sepeleeee.
Ya…ya…ya…emang ga sependapat…
Tapi klo saya ngobrol sama jenengan…saya anggap itu tukar pikiran aja. Bisa jadi jenengan yang bener, bisa jadi saya yang bener, dan bisa jadi kita semua bener. So, keep easy bro..
Terus terang Winda temen deket saya…jadi wajar klo saya sms kyk gtu!
Klo kamu yang sms…ga bakalan saya bales yang isinya gtuan. Klo buat jenengan isinya kyk gini “Wes karepmu Joe…mangkat’o wae…sopo ngerti nang kono butuh penari opo dhalang…kowe iso ngganteni”
ayo bikin agama baru…
krisosa:::
lho, memang boleh. kalo menurut kita memang ada yang lebih indah, kenapa ga ditinggalin aja yang lama? fitrahnya manusia kan memang selalu mencari yang terbaik buat dirinya
chielicious:::
kedengarannya bukan suatu hal yang aneh. iya nggak, mbak? kekekeke
ea_12h34:::
aku udah mampir lho. tapi ga sambil bawa2 gitar
Aday:::
mari sepakat untuk berbeda
faizal:::
wew…ini seru, zal.
buktinya komennya banyak.
udah ta’tulis kan, kalo kita tidak pernah saling mengkafirkan. tidak seperti “mereka”, hahahaha!
nek ra ngerti “mereka” itu siapa, takon hanan wae, kekekeke
wib:::
ketinggalan sepur kowe, bro. itu bukannya udah tren lama di kampus
@Joe: memang gak aneh tapi lucunya gara2 itu aku di sinisin temen2..dan sampe sekarang temen2ku males ngebahas ttg agama klo lagi ada aku hi3.. apa lah~
anu…mbok mereka disuruh rajin2 buka blogku
cewek semua kan yang sinis? bagus! suruh mereka semua datang, kekekekekeke
Waduh, jangan cuma diomongkan kalo ada hadisnya. Nggak cukup itu.
Idealnya tuh, ditulis riwayatnya siapa, trus statusnya gimana, trus bagus lagi kalo ditulis yang ngasih status siapa.
Misalnya kalo Hadis Riwayat Bukhari, statusnya sahih, yang ngasih status ya Imam Bukhari sendiri.
Jangan sampai kayak kasus “hubbul wathoni minal iman”. Hadis palsu kok bisa sampai masuk ke buku agama. Atau “uthlubul ‘ilma walau bitstsin”. Itu juga hadis palsu. Bahkan, hadis tentang 73 golongan ada yang bilang kalo itu lemah. Siapa yang bilang? Baca deh Fiqh Ikhtilafnya Yusuf Qardhawiy.
Sebenarnya saya sendiri juga ndak terlalu mudheng kalo urusan hadis. Mending njawabnya nggak tau aja.
Tapi, ada buku bagus yang membahas tentang tauhid dan syirk. Yang bikin Syaikh Muhammad At-Tamimi alias Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab. Kalo mau lebih yakin tentang macam-macam kesyirikan, coba baca deh buku ini.
Eitt… jangan antipati dulu Joe. Memang sih Syaikh Muhammad ibn Abdul Wahhab itu mbahnya Salafy yang sebenarnya juga Wahhaby. Tapi, bukunya ilmiah dan bagus kok. Memang sih, banyak yang mengkritik beliau karena kedekatannya dengan Ibn Su’ud alias King Sa’ud, raja Saudi yang pertama. Jangan liat orangnya, liat apa yang disampaikan.
Ada tiga masalah yang dicampur aduk sama Joe dalam tulisannya. Masalah menghadiri ibadah agama lain, masalah ibadah dan pengaruhnya terhadap orang lain, sama masalah perlunya memahami agama lain.
Masalah menghadiri ibadah agama lain, suerr joe aku ra ngerti hukum-e. Nek masalah iki ati-ati wae Joe. Takon ustadz wae. Nek sing aku ngerti ki, semua ibadah haram kecuali yang diperintahkan, semua mu’amalah halal kecuali yang dilarang. Masalah menghadiri kuwi mau, aku ra ngerti mlebu sing ngendi terus kepiye hukum-e. Nek muslim menghadiri Jogja Festival 2007 (sing batal wingi) jelas ra oleh. Soalnya, tidak hanya syirk dalam ibadah dan perbuatan saja, melainkan juga dalam keyakinan.
Masalah ibadah dan pengaruhnyea terhadap orang lain itu saya ndak sepakat sama kamu Joe. Memang benar kalo kita ibadah itu masalah transedental, urusan kita sama Allah. Tapi, kita juga diperintahkan untuk amar ma’ruf nahi munkar. Kalo perbuatan kita bikin orang lain tambah sesat, ya jelas nggak boleh joe. Nek sholat menghadap sesajen ato salib, saya nggak tau Joe. Seingat saya, dalam bukunya juga, Eyang Wahhab mengatakan kalo sholat menghadap kuburan itu nggak boleh, terutama kalo ndak ada pembatas (dinding misalnya). Alasannya, dijelaskan Rasulullah supaya orang-orang setelahnya tidak menjadikan kuburan sebagai masjid. Lha kalo pas di depan kita ada sesajen atau salib, saya nggak tau apakah itu bisa diqiyaskan atau tidak. Mendhing takon ustadz wae.
Kalo masalah memahami agama orang lain, bener saya setuju sama kamu. Kita harus paham juga agama orang lain dan juga paham agama kita. Agar kita bisa membandingkan, yang paling benar tuh mana tho? Ato malah atheis yang paling benar. Saya nggak takut kok melakukan studi banding. Kalo nanti emang terbukti kalo Islam itu salah, ya kafir aja kenapa? Wong salah kok diikuti. Yang paling aneh tuh kalo ada orang yang takut masuk neraka jika nanti dia kafir. Lha orang kafir itu khan memang nggak percaya sama agama, gimana mau masuk neraka? Wong neraka aja nggak percaya? Beda lho sama kafir dalam definisi yang lain. Dalam definisi kedua, kafir artinya menolak kebenaran walaupun tahu, karena hawa nafsunya. Yang kayak gini, emang biangnya kebodohan. Karena itu mbahnya orang-orang kafir dijuluki Abu Jahl. Tahu kalo neraka itu ada tapi nggak takut.
ayo bikin agama baru
joe :::
gimana mas joe ya.. aku dalam pengandaian ini bukan pengandaian kaitannya tentang ajaran agama tetapi pengandaian tentang keimanan dan penyerapan seseorang terhadap ajaran agama rumah yang jelek itu bisa dikatakan seperti ini. dia punya rumah tapi ngga punya tiang, ngga punya lantai. tiang yang aku maksud tentu aja sholat, ngga punya pemahaman sama sekali dengan ilmu agama tetapi tiba tiba kita ngelirik ajaran agama lain. kalo memang yang aku anut ini salah tentu aku nyari yang bener.
yang kedua perubahan itu tentu sangat kecil ibaratnya air menetesi batu secara perlahan lahan lama lama juga bolong. dan mas maaf ya tanpa sadar tentu pasti ada yang berubah dan mungkin belum disadari. perilaku manusia itu sama dengan lingkungan ditambah DNA. dan perubahannya tentu bisa ke positif bisa ke negatif karena fitrah manusia. mungkin hal itu perlu ditanyakan pada diri sendiri.
Joe, perasaan tulisan sampean yang intinya seperti ini selalu ada yang kontra, pada kemana ya? Dah sampe comment ke 41 lom keliahatan batang hidungnya..
Jadi ingat kalau sholat di kamarku. didepannya ada dompet, flashdisk, buku dan lain sebagainya.
Apa itu berarti aku menyembah barang barang tersebut? tentu tidak!, aku menyembah Penciptaku. dan aku yakin seyakin yakinnya penciptaku itupun mengetahui maksud hati ciptaanNya.
Benar sekali.
Kalau pakai logika yang ditutupi fanatisme jadi begini;
“Siapakah Tuhan yang paling banyak disembah umat Islam?”
“Dinding.”
Tuhan itu Maha Mengerti hambanya toh?
memahami hadits emang gampang2 susah….
celakanya hadits yang matan nya sohih tapi perawinya ga jelas malah di anggap hadits lemah
lha ini kan bahaya to? menafikan ucapan Beliau SAAW lho…
lha kalo memang matan nya lemah yaa itu lain cerita ya…
mending tanya langsung aja ama yang ngeluarin hadits, pye?
hayo ini tuntunan AlQur’an lho di suru kembaliin semuanya ke Rasulullah SAAW….
jangan ke ulama2 terus, sebab setiap ulama punya sumber yang berbeda, guru yang berbeda, cara berpikir yang berbeda, jaman yang berbeda, keadaan yang berbeda….
apa sih ini?
Setahu saya yang disuruh tinggalkan itu ragu-ragu, karena ragu-ragu itu haram, lha kalau semuanya ragu-ragu, yang diyakini jelas engga adakan, kalau engga ada keyakinan terus yang dilakukan apa…, padahal menurut Allah, menuju muslim itu melalui proses itaquallah yang engga berhenti, gimana mau itaquallah jika engga ada yang diyakini…
Mau memahami seluruhnya tentang Al-quran, lha, lautan jadi tinta ditambah 7 serupa engga cukup, memahami semua hadist, masalah qunut aja sudah beragam hadistnya…,yo ambil seayat, jalankan, temukan kebenarannya, yakini tindaki dengan segenap jiwa, rasakan, dengan kemurnian rasa…
Perbandingan denga ajaran agama lain..? (ya sudah jika berpandanga demikian, namun menurut Allah “sesungguhnya agama itu satu….” Note : jangan dicari jika takut kafir.., mending nanya ustadz dech, siapa tahu ada ustadz yang sudah mendapat sertifikasi dari Allah, kan mau jadi dosen aja ada refferensinya )
jangan cari perbedaan dech…, biasanya dalam majallah anak-anak ada 2 gambar yang mirip, nah disitu dicari perbedaan biasanya cuma sepuluh, yang banyak itu persamaan, dan jelas, udah cari persamaannya, paling ngga satu yang utama, semua berasal dari Sang Maha Pencipta Yang Esa, Tiada Tuhan selainNYA, dari DIA segala berasal dan kepadaNYA kembali,
Engga usah merasa beruntung jika kebetulan lahir dari Ibu-Bapak yang kebetulan dikatakan Islam, (coba cek di Al-Quran siapa yang menurut Allah orang yang beruntung, itu Orang lho… belum Annas) temukan inti, karena disitu ada rasa, kalau kueh lemper belum ketemu inti, itu ketan namanya….
ada logika gampang kalo kita punya pacar kita dan kita mencintainya setengah mati tentu kita memperlakukannya bak raja. bahkan kalo perlu menerobos gunung berapi sekalipun. lalu kalo kita menemui seorang raja tentu kita memakai pakaian yang terbaik. masak ketika kteika ketemu ALLAH kita memilih tempat yang ngga terbaik. memilih dikamar yang bau kemenyan atau penuh pakaian bau. apakah seperti itu? padahal Allah tanpa kita meminta pun. Allah dengan Maha Pengasih sudah memberi udara untuk kita bernafas, matahari untuk menumbuhkan tumbuhan, ingat tanpa kita meminta. dan kita pun ngga perlu mengembalikannya kita cukup beribadah. dimana rasa malu kita? kalo kita sholatpun ngga memberikan tempat terbaik untuk Nya.lalu dengan alasan “daripada ngga sholatkhan”. masak seh ngga bisa memberikan tempat terbaik.
Joe..
sorry nek ora patiyo setuju karo pendapatmu….
sedhurunge, sehabis mbaca komen iki disarankan cari ustadz yang punya dalil lebih shahih sopo ngerti salah kabeh …
alhamdulillah kalo orang sudah niat sholat 5 waktu tepat waktu (aku wae isih sinau ki….). sak uwise niat ya cari tempat yang pualiiiiing baik (mulane niate dimulai kira2 pas mlebu waktune, jangan pas sedhela maneh entek waktune…). nek ora ono yo berarti nggon kuwi paling baik tho… (tapi jangan jadi pembenaran yo… harus ada niat sholat di tempat terbaik…)
kuwi pendapatku lho, ngapunten nek ono ncang ncing nyak babe sekalian sing berbeda pendapat. tapi saran bolehlah… (mesti yo durung mesti digugu lho..)
trus aku yo sedikit komen atas ketidakkonsistenan pernyataanmu Joe…
jaremu akeh kaum wanita yang mengangumi lha kok kebanyakan kaum pria yang komentar Joe… wakakakak….:)
fauzan.sa:::
lha ya jelas, wong nyalinnya dari sms di hape, kepanjangan kalo nulis sanaj dan matan murninya
agung:::
lho, obyek yang saya tulis malah udah muncul langsung, kok. itu, temen saya, faizal
Neo Forty-Nine:::
ehehehehehehe…
Kopral Geddoe:::
yup, Dia maha mengerti, kok
savikovic:::
cerdas…retoris!
ternyata kita benar2 dari almamater yang sama, vic
dedi:::
ini yang mana? ini namanya postingan. dipostingnya di blog. kalo yang sedang anda baca ini namanya komentar
zal:::
ups, aku setuju. esensi!
saidedwin:::
bukan tempat terbaik tidak berarti shalat kita tidak sah, kan?
leobmiteos:::
aku juga nggak setuju kalo kamu nggak setuju
soale inti artikelku bukan masalah mencari tempat terbaik atau bukan.
apalagi, ternyata, bukan tempat yang terbaik tidak menjadikan shalat kita nggak sah kan?
inti artikelku cuma mau bilang, kalo kita shalat atau beribadah bukan di tempat terbaik, itu bukan berarti kita ini syirik kan? itu aja, kok, hehehehehehehe…
tentang wanita, berapa sih cewek cakep yang rajin blogging? bisa sekedar punya blog aja udah alhamdulillah. aku cuma tau beberapa, dan dari beberapa itu cukup rajin komen di sini, kok. jadi kekhawatiran sodara atas reputasiku sama sekali tidak beralasan, kekekekekekeke!
Begini, mas. Memang betul, sepatutnya kita melayani Tuhan (baca: Shalat) dengan sebaik-baiknya. Tapi, coba dibalik?
Masak Tuhan yang Maha Pengasih dan Maha Baik itu emoh menerima sembahan tulus dari hambanya gara-gara boneka tanah liat atau kayu berbentuk salib yang ada di tempat dia menyembah?
seandainya…ini seandainya: Tuhan sang Pencipta itu ada, saya kok yakin dia gak ‘peduli’ sama kita, mo solat di masjid, di lapangan, di candi, di gereja, di WC, mo tidak solat, mo terserah lah mo apa…Dia gak peduli.
agama, ibadah, dan bahkan Tuhan itu sistem yang dibuat manusia sendiri sebagai (kalo dalam ilmu teknik) feedback control atas perbuatan dan perilaku manusia. sadar dan/tidak sadar manusia telah menciptakan sistem tersebut, tujuan primitifnya klo menurut saya adalah untuk berkembang biak dan melestarikan keturunan.
hehehe mas Joe maap klo gak nyambung…:)
salam
O-Mai-Gat!! saya syirik berarti..Saya baca Bible dengan amat sangat serius di depan bapak saya yg
telah menurunkan agama islam kepada sayaketat sekali dalam beragama. Dan beliaunya boleh2 saja, biar mantep katanya. Menurut saya, agama itu pake hati dan akal. Kalo cuma pake hati ya trus buat apa Tuhan menciptakan akal?@Gedooe
Yak!! bagus ini..bagus..saya setuju..jadi kalo ga boleh ada apa2, trus saya harus sholat di mana? langit? kalo ada burung atau pesawat lewat? Syirik juga? yo repot betul..
@Joe
ngomongin saya ya?
:: Joyo
mas joyo lalu siapa yang menciptakan manusia? lalu siapa yang menciptakan matahari dan bulan? lalu siapa yang menciptakan langit? sebelum ada langit apa? lalu siapa yang mengatur matahari dan bulan? lalu siapa yang mengatur alam semesta sehingga ga ada yang tabrakan? lalu siapa yang mengatur energi kosmis di langit sehingga langit tetap ditempatnya? lalu siapa yang menciptakan udara? bisa dijelaskan tentang teori bingbang mas? siapa yang mengaturnya?bisa dijawab mas?
:: Kopral Geddoe
iya pasti akan diterima. tapi apakah kita menjadi orang selalu menerima tanpa bisa memberi? akh pasti tuhan mengerti tapi mengapa kita ga berbalik sedikit mengerti tuhan ga rugi khan? kenapa kita harus selalu meminta untuk dimengerti dan dicintai padahal kita cuma hamba.
hayoo..
jangan sholat ngadep tembok, jangan sholat ngadep ngulon (kiblat orang indo) tp ngadepno atine dewe-dewe.
sorry pake bahasa persia..
- makan wortel -
@saidedwin
Wah mas bagi saya Alam sudah cukup, saya ini hidup di dan dari Alam, ini sudah cukup bagi saya. Saya merasa gak perlu cari tahu siap yang cipta bulan, bintang, bumi, air. gak perlu mas…lha wong dari mana asal kata “gedhang” (bhsa Jawa, yg artinya pisang) aj saya gak tau dari mana.
Yang saya tau ni Mas, saya terikat gaya gravitasi bumi, saya perlu air (mineral), vitaman, udara, dll…dan semuanya ada di Alam, bahkan bisa saya katakan hal2 tsbt juga alam, saya sendiri klo dipecah jadi unsur2(kimia) juga gak beda dengan Alam, saya ini Alam itu sendiri. That’s it, selesai, itu yang saya pahami.
Anda pasti bilang klo Alam (termasuk saya) diciptakan Tuhan kan?. Menurut saya kesimpulan Alam diciptakan tuhan adalah spekulasi Mas. Kita sama2 ndak bisa membuktikannya (meyakini bisa), tapi maaf saya ndak bisa meyakini kesimpulan dari buah spekulasi. Lha wong kata “gedhang” aj saya gak tau asalnya dari mana, dan saya lebih nyaman tidak mempertanyakan asal kata “gedhang”, bagi saya cukup “gedhang” adalah “gedhang” yang manis, dan kadang sepet. Eh pasti ada yg gak setuju lho sama gambaran “gedhang” saya, ada yg bilang manis dan sepet itu lbh cocok untuk Salak, nah lo…ya udah dimakan aja rasakan sendiri
Buat Mas Joyo…
Lha besok klo kamu mati, menghadap alam juga?
Trus tujuan kamu dihidupkan di dunia ini ngapain????
Menikmati air mineral-mu? ato terikat sama gravitasi bumi-mu???
Dah deh…kamu mati dulu baru tahu jawabannya…daripada debat kusir.
@faisal
lha kan saya bagian dari alam mas, jadi ya istilahnya bukan menghadap, tapi lebur jadi entitas yg lebih luas dan tak terbatas (mungkin). yang jelas klo normal, ya badan saya semuanya akan busuk dan nyatu dengan tanah. untuk yg lain semisal jiwa, ruh, saya gak berani comment (spekulasi), lha wong kalo lagi kena migran ato sakit kepala dan demam saja rasanya udah gak bisa mikir, suruh mengingat aj susah, padahal baru sakit kpla lho blm semaput (pingsan) ato mati. hehehe.
klo memang benar nanti ada yg tanya ini itu di kuburan, ya saya pasrah mas, disuruh kesini monggo…disuruh kesana monggo…
nek nanti ada yg tanya:
kitab mu apa? tak jawab alam.
Tuhan mu apa/siapa? tak jawab alam.
Lha kok alam? tak jawab: lha Tuhan ada banyak, si A bilang Tuhannya yg benar thus agama dan kitabnya yg benar. si B bilng Tuhanya yg benar thus Tuhannya A salah, dst..dst…
Lha wajar to nek saya bilang alam adlah Tuhan sklgs kitab saya…lha sampe skr gak ada yg mbeda2kan Alam nya si A, ato Alam nya si B. hehehe (cari aman)
soal apa tujuan hidup, bagi saya hidup inilah tujuan, tiap detik yg saya sadari, tiap tarikan dan hembusan napas, tiap loncatan kesadaran (sinyal2 electromagnetic di otak saya nyala) itulah tujuan. tujuan saya bukan dimasa depan mas, bukan saat saya mati ato setelah saya mati. tujuan saya adalah saat ini, disini dan kini.
sekedar saran buat anda yg punya tujuan dimasa depan, hati2lah…kita ndak tau kapan napas, jantung, darah dan kesadaran kita berhenti. klo anda sekarang ada dirumah bsama keluarga, berikanlah kasih sayang dan cinta yng terbaik yg anda miliki buat keluarga anda. buat anda yg jauh dari keluarga jadikanlah orang2 disekitar anda seperti keluarga anda, rawatlah lingkuangan anda spt ibu anda mrawat anda, dan jangan lupa sering2 kontak orang2 dirumah.
wah mas Joe jadi ngelantur ni…maap,
salam harmoni
heh! Tuhan jadi banyak lagi nih. *ikut bingung*
Menurut saya tetep satu, kok
Buat mas Joyo…
Makanya belajar. Cari tahu kenapa orang menganggap Tuhan itu ada.
Anda perlu sekali-kali main ke kuburan trus tanya sama juru kunci. Sebenarnya ketika di kuburan mayit itu ngapain siy…tanya pengalaman2 mereka.
Tuhan Anda saya kira ga adil…kenapa kemarin hanya jogja aja yang gempa sampai mati ribuan orang. Salah apa mereka???
Trus tsunami di Aceh…sampai ratusan ribu orang…salah apa mereka???
Ini juga merupakan tindakan pilih-memilih…Alam Anda itu ga adil. Lumpur Lapindo…dan else masih banyak lagi…salah apa??? koq yang dikasih bencana cuma itu2 tok…
Jangan Anda bilang kalau itu proses fisika…Proses Alam…
Kenapa Alam Anda ini menciptakan musibah??? ini ga adil…
Seharusnya Alam ini melindungi kita kalau nyatanya dia Tuhan…tapi gara-gara Tuhan Anda…banyak orang yang mati…Kenapa di dalam Alam Anda ini ada kegiatan buru-memburu…elang memburu kelinci/tikus…Apa Alam Anda ini suka melihat sebuah kekejaman?
Jangan jawab itu karena insting…
Tuhan harus maha adil, harus maha tahu, maha melindungi…
Lalu kenapa ada bunuh membunuh di alammu?
memang salahnya Joyo dimana Faizal, lha wong Joyo, ngomongnya kalau dia itu nol putul…alias engga tau apa-apa…bukan begog… nol putul….(space…???..)
Tuh kan joe, lihat commentnya faizal, Tuhan jadi banyak lagi. *pusing lagi deh*
@Joesatch
wah berarti sma dung mas Joe, sama2 satu
@Faizal
Wah klo ke kuburan saya sering mas, dulu waktu kecil malah sering ketiduran di kebon dekat kuburan, dan gak ada apa2e?
lha memangnya ada apa?? maaf saya gak tau, malah yg pernah saya lihat anak kecil yg cerita klo dia pernah hidup dan matinya di kali(sungai) dekat rumah, dia jg hapal nama2 orang2 tua jaman dulu yg katanya temannya, trus diverifikasi dan benar, piye jal??
Gempa, Tsunami, gunung meletus, meteor jatuh ya itu alam, terima itu apa adanya, jgn ditambahin sekenario ini itu (ini skenario saya, hehehe). Lha saya yg seharusnya nanya gitu mas, memang orang Jogja yg gugur saat itu cuma orang agama tertentu? cuma agama A ato agama B?? nggak to?? semua dipukul rata, mo gali, mo kyai, mo pendeto, mo dosen, petani, tukang ojek, penganguran, mahasiswa, anak kecil, mati ya mati saja., patah tulang ya patah aj…ya itu alam, polos dan apa adanya.
Oh ya alam gak menciptakan musibah (ini skenario saya), alam punya “logika” nya sendiri, i.e. selalu menuju titik setimbang, which in other hand jg dinamis, jadi istilahnya menuju kesetimbangan yg dinamis. Hal mana yg setimbang itu yg perlu kita pelajari
Selama hidup saya, saya melihat hidup ini ya bagian dari proses alam yg selalu berubah (dinamis) tapi juga berada dlm (menuju) kesetimbangan. Karena itu (skenario saya) soal mati ya sederhana…ikut saja apa maunya alam, wong pasti gak bias nolak. Apa saya bias nolak gaya gravitasi? Apa saya bisa nolak mati? jawabnya: ndak.
Btw buanyak lho yg nganggap Tuhan (yg disebut2 dalam kitab2 suci) itu gak ada. Coba anda pelajari knp mereka gak percaya Tuhan. Dan mari kita sama2 belajar
@zal
iya saya selalu ingin terus dlm keadaan nol.
Saya senang diskusi dengan Anda Mas Joyo…
tapi mungkin saya cukupkan sekian saja.
soalnya ini blog orang dan saya males berdiskusi tanpa tatap muka.
Jadi, saya ga bisa melihat emosi lawan bicara saya.
Maap Joe…blogmu wes tak-isingi
jika berdiri pada sebutan, bisa jadi terbatas hanya pada sebutan, jika sebutan dimanifestasikan bisa jadi bertemu dengan keluasan, menatap keluasan bisa jadi tersembul kemahaluasan…
bicara tentang semesta dalam matematika adakah yang diluar itu….????
@faizal
senang juga diskusi dengan sampeyan, mudah2 kapan2 bisa ketemu langsung