seberapa dalam sih anda belajar mendalami agama?
Yeah, kemarin ada yang nanyain aku kayak gitu. Sebenernya bukan cuma kemarin, tapi rasanya dari dulu-dulu selalu aja ada yang ngrasani aku, seberapa dalam aku sudah mempelajari agamaku sehingga berani ngomong macem-macem tentang agama.
Yo, memang cuma perasaan aja, sih. Cuma insting. Tapi adakalanya instingku itu benar. Kalau saja aku tidak hidup dengan dibimbing instingku, mungkin aku sudah mati ribuan kali sekarang.
Jadi, kembali kepada quote di atas, aku selalu bingung harus menjawab apa kalau ditanya seperti itu. Aku bener-bener nggak tau soale, harus sampai standar yang bagaimana sehingga aku boleh berbicara tentang agamaku sendiri. Mungkin, memang, aku harus punya gelar LC (Lulusan Cairo) dulu di belakang namaku, barulah aku boleh bicara macam-macam tentang agama. Bahkan mungkin, kalau aku sudah punya gelar LC, aku bakal bisa mengeluarkan fatwa jadi-jadian yang nantinya bakal diikuti membabi-buta oleh santri-santriku yang fanatik membela ustadznya yang tampan ini.
Counter question-ku kepada para penanyaku itu sebenernya bakal sederhana aja: Lho, memangnya anak muda tidak berjenggot sepertiku tidak berhak berpikir dan berbicara tentang agamanya sendiri? Apa iya Qur’an itu cuma diturunkan buat para ustadz aja, bukan buat anak muda yang sering memakai celana jeans robek-robek? Soale, setahuku, Qur’an itu diturunkan buat dijadikan pedoman bagi seluruh manusia, bukan dikhususkan sebagai manual book ustadz-ustadz berjenggot itu untuk mendoktrin santri-santrinya demi mengikuti kehendak ustadznya yang boleh jadi tidak setampan aku.
Tapi, aku ternyata memang seorang anak muda yang suka memperpanjang masalah. Aku suka memperpanjang problem berkaitan dengan quote di atas itu. Jadilah sekarang aku mencoba menulis sebuah konter-etek dengan berpanjang-panjang, hohoho.
Aku bisa memahami ketidak-yakinan mereka dengan pernyataanku. Tentu saja, aku bisa menebak dengan ngawur kalau hal itu pastilah disebabkan oleh setereyotipku yang bagaikan seorang bajingan bejat pengikut syahwat. Tapi bukan berarti mereka boleh membatasi tindak-tandukku dalam menyikapi agamaku sendiri, kan? Iya, kan? Iya, kan? Iya, nggak? Hayo jawab. Jawab! Woi, jawab, woi!
Kalau aku nggak boleh berpikir tentang agamaku sendiri, lalu agama siapa yang harus kupikirkan? Agamanya Dian Sastro? Sama aja, Dab! Setahuku Dian Sastro sekeyakinan sama aku. Hal itulah yang membuatku yakin kalau ortuku bakal merestui andainya nanti aku mengajukan proposal kepada beliau-beliau untuk mempromosikan Dian Sastro sebagai mantunya.
Oke, mereka-mereka yang mempertanyakan keabsahanku berbicara tentang agama sekarang boleh saja mengubah pertanyaan mereka menjadi pernyataan: “Kalau sudah sadar ilmu agamanya masih kurang, ya sudah nggak usah bikin pernyataan tidak bermutu yang kontroversial. Kamu bakal menyesatkan umat, Joe!”
Lho, aku kan nulis di blogku, iya tak? Kok dilarang-larang? Ya terserah aku, dong, wong aku yang bikin blognya. Sama aja kayak ngelarang orang yang mau pipis di toiletnya sendiri. Hei, negara kita masih mengakui tentang hak kepemilikan, kan? Jadi apa mereka-mereka itu lebih senang ngeliat orang lain pipis di celana gara-gara dilarang pipis di toiletnya sendiri? Bah, orientasi sex yang aneh! Kok bahagia, tho, ngeliat orang lain pipis di celana?
Kalau takut disesatkan sama tulisanku, ya sudah, jangan baca tulisanku. Jangan masuk ke blogku. Beres, tho? Kalau juga takut golongannya bakal tersesat, silahkan bikin woro-woro. Silahkan bikin blog sendiri, lalu posting tulisan dengan judul yang gede: “Jangan Pernah Masuk ke Blognya Joe, Meskipun Dia Tampan!” Pakai tanda “!”-nya juga boleh lebih dari 1, kok.
Lalu, lagian apa mereka yang mepertanyakan ilmu agamaku itu apa sudah yakin kalau ilmu mereka lebih tinggi dari aku? Hayo, yakin po?
Kalau disuruh jujur, maka bakal kujawab kalau aku sudah belajar ngaji sejak kelas 2 esde (meskipun itu tidak layak dibanggakan, sebenernya). Tapi aku sendiri toh nggak pernah mengklaim kalau ilmu agamaku tinggi. Kurang. Selalu kurang. Karena kalau kita sudah merasa cukup maka kita akan berhenti belajar. Padahal dalam agamaku sendiri disebutkan kalau ilmu itu nggak ada habisnya. Jadi, aku harus menunggu sampai kapan sampai aku diperbolehkan bicara tentang agamaku sendiri?
Analoginya sama aja kayak kalau aku ditanya spesialisasiku di bidang IT itu di mana? Apakah di mobile, desktop, ataukah web application? Aku nggak akan berani mengklaim salah satunya sebagai spesialisasiku (apalagi bilang semuanya). Takutnya aku kemakan omonganku sendiri nanti. Tapi beda kalau aku ditanya bidang mana yang kusukai. Aku bakal lantang menjawab, “Web!”
Jadi sebenernya sederhana aja (dan sudah sering kubilang juga), aku menulis di blogku karena ada sesuatu hal yang ngganjel di otakku, yang nggak mungkin bisa kuungkapin di dunia nyata, semisal aku nge-print tulisanku terus kutempel di lingkungan eksklusif musholla kampusku. Bisa-bisa para jamaahnya bakal mengharapkan kematianku dalam doa mereka setiap habis shalat.
Tahu sendiri kan, apa efeknya kalau pikiran ditahan-tahan? Dan semoga mereka juga tahu sejarah dan definisi sebuah blog.













PERTAMAX….
Semangat Joe, jangan berhenti belajar yaa nak…
Kayaknya butuh sertifikasi juga nih.
Jadi ngajinya mulai dari newbie dulu, lalu intermediate lalu advance kaya kursusan di sebelah itu tuh.
Ntar dapat gelar Joesath CCNA (Coba Coba Ngaji Aje dulu)
repot juga kalau ada yang tidak menelaah dan langsung memberi prejudis tidak berdasar.. (apalagi bila dasarnya cuman artikel blog
)
setuju jek…
gak perlu jadi orang pinter biar bisa menyarankan orang lain untuk menjadi pinter.
gak perlu mengalami buat bilang kalo ketabrak kereta api bisa mendatangkan malaikat pencabut nyawa.
penjahat pun boleh mengajarkan naknya soal kebajikan.
gitu aja kok repot.
eh btw, aku ragu si empunya comment bakal dateng lagi di sini.
hahahahaha …. maju terus pantang mundur …
kirain mau kampanye “ketemu pak djenggot, bantai pak djenggot” … hehehehe ….
kalo aku nangkap dari ‘yang ingin diungkapkan’ mereka yang bilang gitu, Joe…kayak gini +mode sok tau on+
standart buat yang pingin ngomongin agama:
1.Berjenggot
2.di jidat ada stempel berbunyi “orang ini rajin sholat”
3.bawa tasbih kemana – mana
4.yang terakhir&paling penting: Harus bermarga “salafy”, jadi namamu kudu diganti dulu, Joe…jadi Joe Salafy…
gitu aja kok repot…
Bukannya ada yang bilang,”Jangan lihat orangnya, tapi ambil kebaikan dari yang dibicarakannya”?
Tapi, susah juga ya. Definisi kebaikan kan beda2 pada tiap orang.
Wis, mas Joe. Mungkin mereka sebenarnya sayang sama mas Joe, jadi gemes gitu. Seneng liat mas Joe ngamuk2. Atau malah penasaran sama tampang mas Joe yang berjenggot.
Iya ya, saya juga penasaran gimana tampang berjenggotnya mas Joe.Toeng!
huahahahaha….
curhatnya pake hati banget!!!!! :p
Sabar mas, orang sabar disayang Tuhan…
By: Manusiasuper Lc (Laskar Cinta)
traju:::
iya, pak
fadli:::
CCNA kurang keren tuh. coba pake gelar yang kearab2an, kekekeke!
danasatriya:::
iya, mas, saya juga kerepotan njawab pertanyaan yg itu2 aja
cK:::
terima kasih
lambrtz:::
sama, djo. aku juga ragu, hohohoho…
jurig:::
mendingan kalo ketemu kupalak aja, kekekekeke
enggak ah. aku kapok. kesannya terlalu sadis
chiw imudz:::
webku yang disebelah padahal sudah pake nama “abu gosok al denpasariy” lho
TakodokGakJadiUjian,Sebel!:::
ambil fotoku dan mainkan dengan fotosop, kekekeke
isez:::
piye tho mbak?
curhat kan memang curahan hati
manusiasuper:::
lho, ini udah sabar kok. kalo ga sabar, mereka kan udah kupalakin satu persatu
apaan tuh Joe, maksudnya,, “walalupun tampan”,,??
halah,, Masi didengerin,, itu sih biarin ajah,,
malah dulu kalo Papa Ma lagi marah sama Ma dia bakal bilang ada hadist yang bilang “kata kata satu orang tua lebih bisa dipercaya dari seribu anak muda” (nyambung ga ya??),, biar Ma ga bantahin omongannya,, aneh aneh aja kan,,
biarin aja,,
Ma malah geli kalo orang nyebut nyebutin amalannya,, mereka yang ketat masalah hukum,, sendirinya hobi riya’ (dan ntar alasannya, “saya ga riya’, saya hanya memberikan contoh” what-ever!!!!)
seberapa dalam sih anda belajar mendalami agama?
Aku tidak tahu, aku bukan Tuhan yang mengetahui seberapa dalam sebenarnya agama yang Allah turunkan tersebut…
Apakah aku lebih baik (dalam hal agama) daripada kamu?
Aku tidak tahu, aku bukan Tuhan yang bisa membaca penuh isi hati, otak, tingkah laku dan perbuatan kamu. Aku bahkan tidak bisa membaca penuh isi hati, otak, tingkah laku dan perbuatan diriku sendiri.
Apakah amalanku lebih baik dari kamu?
Aku tidak tahu, aku bukan Tuhan yang menjadi tujuan dari amalanmu dan amalanku.
Jadi?
Aku bukan Tuhan, aku tidak berada dalam posisi untuk menilai kualitas seseorang dalam hal beragama. Agama bagiku adalah hubungan antara aku dan Tuhan, juga tentunya aku dan sekitarku, tapi bukan aku yang bisa menilainya. Benar-tidaknya pendapatku hanya akan menjadi sebuah debat kusir yang tidak berujung, karena aku bukan Tuhan yang tahu pasti mana yang benar dan salah. Semua menjadi relatif di mata hamba-nya.
*Bengong bentar… ini kayaknya jadi OOT neh… maap sudah nyampah di sini, Joe =)…
**ngeloyor pergi setelah menjentikkan sebatang rokok dan mengepulkan asap…
standar?!cuman allah yang tau standarnya.cuman DIA yang tau hati kita.bukan orang-orang b’jenggot itu.mereka cuman sekelompok orang egois–sok tau,sok niru nabi tapi salah kaprah ra nggenah.tiap hari sholat,tapi buat diri sendiri.
LC???
denger2 LC dah bisa didapet di endonesa yah? tul gak? [CMIIW]
klo betulan pa mo ikutan joe? hehehe…
Yep, bener bgt, blog adalah tempat kita mencurahkan apa yang ga bisa kita omongin dengan bebas di dunia nyata.
Setuju bro..!!
mari kita belajar
Semangat bung!
Semua makhluk tentu punya justifikasi dalam berbagai hal. Masa kita harus mengebiri justifikasi orang lain…? Kalaupun justifikasi kita berbeda, mengapa kita harus menghina…?
Inilah salah satu kesalahpahaman dalam kehidupan beragama.
Shan-in sebenarnya masih nggak berani ngomongin agama, toh Shan-in masih newbie dalam agama yang Shan-in anut sekarang.
Rizma Adlia:::
lho, kenyataannya kan gitu: aku tampan, kakakaka!
.\Goio:::
kata2 yang bagus, mas. aku suka
DeDe:::
hehehehe, iya kok
alle:::
iya po? ndaftarnya sama nyari sertifikasi cisco mahalan mana?
maruria:::
setuju juga, mbak
ninoy:::
kakakaka!
belajar kelompok?
Shan-in Lee:::
justifikasi berbeda memang ga masalah. yg jadi masalah adalah ketika perbedaan itu digunakan untuk mencap orang lain lebih buruk dari dirinya, atau setidaknya ada tendensi ke arah itu-lah, hehehehe
joe …
ada satu keuntungan bagi manusia “yg deket ma tuhannya” …
dia “gak perlu capek-capek muter otak” buat mikir …
segala kebutuhannya udah ada yg ngeberesin …