Antara Takdir, Hidayah, Kehendak Bebas, serta Cerita Musa dan Khidir

Sebelumnya, tolong diperhatikan! Tulisanku ini, sumpah, kubuat nggak sambil nyontek kitab apapun yang ada tulisan Arabnya. Jadi otomatis, kalau berharap bakal menemukan dalil-dalil atau teks dengan tulisan Arab di tulisanku ini, waduh, anda salah sambung, mas, mbak. Sekali lagi, aku sudah memperingatkan bahwasannya tulisanku ini kubuat benar-benar menggunakan akalku yang sudah diberikan Tuhanku kepadaku, sekaligus pengen menegaskan kalo menurutku posisi akal bukanlah di bawah sekumpulan teks dengan tulisan-tulisan Arab itu, hohoho…

Posisi akal, lagi-lagi menurutku, haruslah beriringan dengan dalil, karena dengan akallah maka kita bisa menafsirkan maksud sebuah dalil. Dalil tidak harus ditafsirkan dengan “menurut kata ulama ini” atau “menurut kata kyai itu”, atau malah ditafsirkan dengan didasarkan pada kepasrahan buta pada arti tekstual tulisan Arab tersebut (padahal kupikir, tata-bahasa Arab pun pasti juga mengenal majas-majas). Semua ini tentunya karena ulama-ulama atau kyai-kyai itu bisa saja salah atau malah memang berniat mempelintir sebuah dalil untuk kepentingan diri atau golongannya sendiri. Waspadalah, karena kita tidak akan pernah bisa benar-benar tahu isi hati orang lain. Dunia ini penuh dengan muslihat, saudaraku.

Bayangkan dong, betapa kecewanya Yang Memberi kita akal kalau ternyata kita malah tidak memanfaatkan akal kita dalam menerjemahkan permintaan-Nya. Nah, apakah Anda kecewa bahwa tulisan ini tidak ada teks Arabnya dan berniat tidak meneruskan membaca? Monggo, nggak pa-pa, kok. Dan apakah Anda bakal nekat meneruskan membaca tulisan ini? Terima kasih. Tapi sudah kuingatkan, lho, kalau di tulisanku bakal tidak ada sedikitpun tulisan dengan teks Arab.

Oke, balik pada judul!

Jadi ceritanya begini, sobat. Kadangkala (atau bahkan sering) aku agak “terganggu” dengan kalimat-kalimat seputaran takdir, ketentuan-ketentuan Tuhan, dan hidayah. Sangat sering aku mendengar kalimat-kalimat, seperti:

“Bunuh diri itu dosa, karena bunuh diri itu merusak takdir Tuhan.”

Atau, “Yah, kita tidak bisa memaksa. Hidayah itu, kan, sepenuhnya terserah Tuhan.”

Atau lagi, “Hidup manusia itu sudah digariskan oleh Tuhan bagaimana jalannya. Nggak usah terlalu ngoyo.”

Nah, seperti itu. Tapi sebentar dulu, sahabat-sahabatku yang setia. Jujur, aku nggak sreg dengan pernyataan-pernyataan seperti itu. Pada kalimat pertama, jelas sekali kalau berarti ternyata sebuah ketentuan Tuhan bisa dirusak oleh makhluknya dengan mudahnya. Aku nggak setuju. Di mana kita letakkan sifat ke-maha-an Tuhan kalau ternyata makhluknya sendiri bisa dengan mudah merusak skenarionya?

Kalimat kedua aku lebih nggak setuju. Hidayah memang milik Tuhan, tapi bukan berarti kita bisa sewenang-wenang setuju kalau kita hanya bisa pasrah terhadap keadaan yang seperti itu.

Dalam konteks aku sebagai seorang muslim, aku berpendapat sangatlah tidak adil jika kita berpendapat hidayah itu hanya diberikan kepada orang-orang yang dikehendaki oleh Tuhan. Itu artinya sama saja berarti bahwa akhir hidup kita ini sudah ditentukan bagaimana hasilnya oleh Tuhan. Sama saja berarti Tuhan sudah menentukan siapa saja yang bakal masuk neraka dan siapa saja yang bakal masuk surga.

Kalau sudah seperti itu, lalu apa gunanya kita beribadah siang-malam-pagi-sore-subuh-dzuhur-ashar-maghrib-isya’ kalau ternyata kita sudah digariskan sebagai penghuni neraka? Silakan saja kita meniduri semua lawan jenis yang membuat syahwat kita bergejolak kalau kita sudah ditakdirkan sebagai penghuni surga. Jadi, di mana kita taruh sifat ke-maha-adil-an Tuhan kalau kita berpendapat akhir hidup kita sudah ditentukan hasil akhirnya?

Kalimat yang ketiga… Halah, kelamaan kalau aku membahas arti kalimat-per-kalimat satu demi satu. Enaknya aku langsung membahas saja perihal takdir ini menurut otakku. Dan sepertinya, maksud ketidak-setujuanku terhadap kalimat ketiga bakal bisa terjelaskan sembari membaca tulisan ngawurku ini.

Pertama-tama, aku masih yakin dengan pendapatku bahwa Tuhan sudah memberi sebuah anugerah kepada manusia berupa sebuah hak prerogatif untuk memilih dan menentukan hidupnya di dunia ini. Ini sebuah karunia yang luar biasa! Aku berpendapat Tuhan seolah-olah berkata kepada kita, “Play your own games!” Kita seolah-olah boleh berpendapat, “Akulah tokoh utama dalam kehidupan ini.”

Lalu, aku berpendapat bahwa sebenarnya ada banyak – dan bahkan mungkin kita tidak sanggup menghitung – skenario alternatif dalam hidup kita yang disiapkan oleh Tuhan. Dari sekian banyak skenario altrnatif itu, di ujung skenario itu menantilah sebuah konsekuensi bagi kita yang berlaku mutlak sesuai jalan cerita yang kita pilih. Itulah menurutku yang dinamakan sebagai “takdir”!

Intinya: Akulah yang menentukan jalan cerita hidupku sendiri, menuju sebuah konsekuensi akhir yang ditetapkan Tuhan atas pilihanku.

Masih bingung? Nggak pa-pa. Itu wajar. Setiap orang toh punya tingkat intelegensia yang berbeda-beda. Ada yang sudah bisa menangkap maksud tulisanku, ada juga yang berpikir, “Si Joe kie edan! Kie jan-jane bocahe meh nulis opo tho? Conthongan kok ora nggenah!”

Tenang saja, saudaraku. Walaupun belum bisa menangkap maksudku, tapi bukan berarti aku beranggapan bahwa tingkat intelegensia kalian berada di bawahku. Setiap orang punya kecepatan pemahaman yang berbeda-beda terhadap suatu hal yang berbeda. Misalnya saja, dalam disiplin ilmuku, aku tidak mempunyai daya serap dalam mempelajari hal baru secepat Pramur atau Agro atau Bram atau Hanan atau Tantos. Tapi aku yakin, dalam perkara menaklukkan hati wanita, aku lebih dahsyat dibandingkan mereka, kakakakaka!

Maka, untuk mengatasi kebingungan bagi yang bingung, tolong perhatikan gambar-tidak-saru di bawah ini:

Nah, zona pertama dari gambarku itu aku namakan sebagai “the way”. Isinya adalah pilihan-pilihan dari sekian banyak skenario alternatif yang diberikan Tuhan. Kita hanya bisa bergerak ke kanan terus – setelah menentukan pilihan atas percabangan garis atawa jalan mana yang mau kita tempuh – tanpa bisa mengulang kembali, sampai pada akhirnya kita mencapai sebuah “hasil” di zona kedua yang ditentukan mutlak oleh Tuhan. Tapi mohon diingat, kalau kita tidak akan pernah tahu hasil apa yang ditetapkan Tuhan untuk kita. Kita hanya bisa memprediksi dan meraba. Dan tentunya flowchart milik Tuhan tidaklah sesederhana gambarku.

Zona pertama adalah hak prerogatif kita untuk menentukan, sedangkan zona kedua adalah mutlak keputusan Tuhan.

Dalam memilih suatu skenario, pastilah kita dihadapkan lagi pada cabang-cabang. Dan pada setiap cabang yang sudah kita tentukan, kita bakal dihadapkan pada cabang-cabang lagi, dan cabang lagi, dan cabang lagi. Karena itu, nggak ada yang salah dengan pendapat “hidup itu penuh dengan pilihan.”

Untuk studi kasus, kita misalkan saja ada seorang pemuda tampan bernama Anindito. Anindito suatu saat dihadapkan pada pilihan, mau kuliah di UGM menuruti hawa nafsunya menantang dunia komputer, atau tetap di UNS saja menggeluti bidang yang selama ini memang menjadi hobinya? Jika pilih UGM, maka di ujung jalan sana menanti sebuah takdir yang sebelumnya tidak pernah diketahui oleh Anindito bahwa dia akan jatuh melarat gara-gara tidak sanggup membayar SPP. Jika memilih UNS, dia bakal sukses karena hobinya memang di situ. Anindito memilih UGM itu adalah pilihannya sendiri, bukan Tuhan yang menentukan. Tapi perkara dia akhirnya jatuh melarat itu adalah takdir Tuhan. Itu adalah sebuah konsekuensi mutlak dari Tuhan atas pilihan yang ditetapkan oleh sang pemuda tampan itu. UGM itu the way-nya, melarat itu hasilnya.

Sampai di sini aku yakin kita semua sudah mengerti maksud tulisanku.

Kembali pada pertanyaan-pertanyaan di atas tadi. Sesuai dengan rumusan ngawur yang baru saja aku temukan (sebenarnya bukan baru saja. Tapi sejak kemarin ketika aku bersemadi sore-sore di kamar mandi), pertanyaan pertama tentang bunuh diri bisa kita jabarkan sebagai berikut:

Mati adalah sebuah “hasil” dan bunuh diri sebuah “the way”. Bunuh diri bukanlah sebuah perbuatan merusak takdir, karena yang disebut sebagai takdir adalah kematian yang memang sudah ditentukan oleh Tuhan atas pilihan seseorang untuk bunuh diri. Dan dalam konteks Islam, bunuh diri juga mengakibatkan konsekuensi tambahan yang berupa sebuah dosa.

“Tapi ada juga orang yang mencoba bunuh diri tapi nggak mati. Itu kan artinya Tuhan mentakdirkan dia belum mati, padahal dia sudah memilih jalan yang seharusnya mengakibatkan kematian, yang tadi dibilang berlaku mutlak. Artinya, ini tidak sesuai dengan rumusan yang tadi diberikan, bahwa setiap jalan yang ditempuh akan menghasilkan sebuah konsekuensi yang berlaku mutlak. Artinya lagi, Tuhan ternyata memang mengatur pilihan manusia sesuai dengan skenarionya. Coba Mas Joe yang tampan sekali ini menjelaskan tentang hal ini?!”

Oke, jadi begini: Seperti yang sudah kutulis tadi, dalam setiap jalan kita akan dihadapkan pada percabangan jalan lain yang harus kita pilih, dan begitu terus menerus sampai takdir kita terungkap.

Dalam kasus “bunuh diri tapi nggak mati” itu, kita asumsikan saja kalau si pelaku setelah memilih jalan bunuh diri dihadapkan lagi pada pilihan mau gantung diri ataukah mau minum bagyo, aeh, baygon. Setelah akhirnya dia memutuskan minum baygon, dia dihadapkan lagi pada percabangan pilihan antara yang dosis oplosannya murni atau campuran. Dan akhirnya dia memilih untuk meminum yang oplosannya campuran (dari sinipun bisa banyak lagi kemungkinan pilihan. Apakah dicampur kopi, campur sirup, campur teh, atau dicampur vodka sekalian). Setelah memilih oplosan campuran, dia masih dihadapkan lagi pada pilihan dengan kadar campuran 10%, 30%, 60%, ataukah 90%. Nah, karena ternyata dia memilih yang kadarnya 10%, maka konsekuensinya dia tidak mati. Seandainya dia memilih dosis murni sejak awal, maka bisa saja dia mati seketika.

Memang, dalam “the way” itu percabangan pilihannya rumit sekali. Penuh dengan “kalau” dan “seandainya”. Makanya kubilang, flowchart milik Tuhan tidaklah sesederhana yang kugambarkan. Tapi yang pasti, konsekuensi akhir itu merupakan mutlak kehendak Tuhan. Kita hanya berhak memilih suatu jalan sampai pada akhirnya konsekuensi pilihan kita terungkap.

Ini sama halnya dengan masalah hidayah di atas itu juga. Ada yang bilang, nyatanya paman Nabi tercinta saja sampai akhir hayatnya tidak masuk Islam karena Tuhan tidak memberikan hidayah-Nya. Menurutku itu salah besar. Kita tidak berhak mengambil kesimpulan seperti itu karena kita tidak tahu jalan apa yang sebenarnya dipilih di dalam hati paman Nabi tersebut. Mungkin saja paman Nabi memilih tidak mau mempelajari Islam sehingga konsekuensinya hidayah itu tidak turun-turun. Jika saja paman Nabi memilih mempelajari Islam, besar kemungkinannya dia bakal memperoleh hidayah sebagai konsekuensi pilihannya. Belajar atau tidak belajar itu the way-nya, sedangkan hidayah itu adalah hasil jika kita memilih untuk belajar. Dan sekali lagi, flowchart Tuhan tidak sesederhana yang aku gambarkan.

Makanya, aku meragukan keabsahan cerita Nabi Musa berguru pada Nabi Khidir itu. Ceritanya, Musa ingin belajar kepada Khidir yang konon diberikan karunia kesaktian luar biasa oleh Tuhan, dan karunia weruh sakdurunge winarah (tahu tentang hal yang akan terjadi kemudian). Tapi Khidir memberikan syarat, Musa tidak boleh mempertanyakan apapun tindakan Khidir sepanjang perjalanan pembelajarannya. Banyak kejadian aneh yang dialami Musa bersama Khidir yang membuat Musa terheran-heran. Tapi Musa menahan rasa ingin tahunya, sampai pada akhirnya Khidir membunuh seorang bayi yang baru lahir.

Sampai di sini batas kesabaran Musa. Serta-merta dia lupa janjinya dan mempertanyakan perbuatan Khidir yang ganjil. Khidir pun menjawab, “Bayi itu, kelak ketika besar akan menjadi seorang penjahat dan anak yang durhaka kepada orang tuanya. Maka lebih baik kubunuh sekarang.”

Aku sangat tidak setuju dengan cerita itu! Seandainya moral cerita itu benar, itu sama saja dengan mengklaim bahwa setiap bayi yang baru lahir sudah ditentukan bakal masuk surga atau neraka. Itu sama saja tidak ada gunanya berbuat baik di dunia kalau ternyata kita sudah ditetapkan sejak awal sebagai penghuni jahannam!

Tentang tidak usah terlalu ngoyo pada pertanyaan ketiga pun ternyata bisa dinalar secara sederhana. Anggap saja ada seorang laki-laki ingin menikah. Tapi dia tidak pernah mau berusaha mendekati wanita dan cenderung menjauhi wanita (dengan alasan takut zina, misalnya). Setiap mau dikenalkan kepada wanita oleh temannya, dia menolak. Ya, sampai kapanpun dia tidak bakal pernah menikah kalau begitu caranya. Orang yang mau menikah, setidaknya pasti mengenal kulit luar orang yang akan dinikahinya. Kalau menghindar terus, ya jelas aja nggak bakal berhasil. Itu gunanya ikhtiar. Ikhtiar atau menghindar itu the way-nya, dan menikah atau menjomblo seumur hidup itu hasilnya.

Oke, sampai di sini kuharap sidang pembaca yang terhormat sudah bisa menangkap maksud yang kusampaikan. Kalau masih belum jelas juga, waduh, aku bingung harus menjelaskan dengan bahasa yang bagaimana lagi. Jujur, aku memang tidak memiliki kemampuan menjelaskan yang bagus.

Yah, apapun itu, manusia memang cuma bisa berusaha sampai takdirnya terungkap. Karena itu aku menyukai film “The Last Samurai”, meskipun nanti ada yang bakal berfatwa, “Jangan mendasarkan pada pemikiran orang kafir,” padahal dia nggak sadar kalau komputer yang dipakainya juga hasil pemikiran orang kafir. ;)

Ralat dan tambahan: Artikel ini benar-benar kubuat tanpa mengecek surat Al Qahfi di Al Qur’an terlebih dahulu. Ternyata cerita tentang Musa dan Khidir pernah disebutkan dalam ayat 65. Jadi, otomatis pernyataanku yang mempertanyakan keabsahan cerita itu kugugurkan sekarang.

Sebagai gantinya, aku sekarang berpendapat bahwa ayat tersebut kemungkinan masuk dalam perkara nasikh-mansukh (kedudukan hukumnya menggantikan dan digantikan ayat lainnya).

Mungkin saja, kejadian tersebut relevan dengan keadaan umat Musa. Tetapi seperti halnya Injil-nya Isa dan Zabur-nya Daud, Taurat-nya Musa pun – dalam konteks Islam – disempurnakan dengan Al Qur’an, karena beberapa hal yang sudah tidak logis dan relevan untuk diterapkan pada umat Muhammad SAW, umat akhir zaman. Al Qur’an, menurutku, bukan sekedar memuat hukum-hukum yang mengikat umat Islam, tetapi juga berisi cerita-cerita dari kitab terdahulu untuk diambil hikmahnya bagi umat Muhammad. Dan mungkin saja perkara Khidir dan Musa di surat Al Qahfi “hanya”lah sekedar cerita yang untuk diambil hikmahnya.

Terima kasih buat Sora9n atas koreksinya.

About these ads

52 Responses to “Antara Takdir, Hidayah, Kehendak Bebas, serta Cerita Musa dan Khidir”


  1. 2 antobilang April 4, 2007 pukul 3:14 pm

    Keduax!!!!
    kalau saya menjadi komentator kedua gini, takdir apa bukan joe?

  2. 3 raja iblis April 4, 2007 pukul 4:14 pm

    bermula dari sms … makin panjang joe ?

    wakkaakkakakaaa …

  3. 4 sora9n April 4, 2007 pukul 4:35 pm

    Telllaaaaat…..

    *gak jadi pertamax :P *

    *udah ah serius (u_u) *

    Itu artinya sama saja berarti bahwa akhir hidup kita ini sudah ditentukan bagaimana hasilnya oleh Tuhan. Sama saja berarti Tuhan sudah menentukan siapa saja yang bakal masuk neraka dan siapa saja yang bakal masuk surga.

    Ini termasuk salah satu doktrin teologi yang umum, sih. Kalau nggak salah, ini istilahnya “predestinasi” — jadi, apapun yang dilakukan manusia, tidak akan bisa mengubah masa depan yang sudah digariskan.

    Belakangan, ide ini mendapat tentangan dari ide kehendak bebas (free will). Karena manusia diberi kebebasan untuk memilih (dan beserta konsekuensinya), maka mustahil hanya ada satu jalur masa depan yang mungkin terjadi…

    Kayak misalnya Anindito alias ‘Joe’ Satrianto :P memilih antara UNS atau UGM; bisa dibilang bahwa dia menggunakan kehendak bebas untuk menentukan nasibnya sendiri.

    Makanya, aku meragukan keabsahan cerita Nabi Musa berguru pada Nabi Khidir itu.

    Joe… kisah yang kamu sebut itu ada di Al-Qur’an lho. Q.S. Al Kahfi (18) ayat 65-82.

    Kalau dari ayat 65,


    65. Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.

    Mungkin ini maksudnya Khidir diberi penglihatan tentang hasil akhir dari penggunaan kehendak bebas berbagai orang yang terlibat… (e.g. raja yang merampas perahu, anak yang nantinya menjadi jahat, dll).

    Tentu saja Tuhan tidak terikat oleh waktu (Dia menguasai masa lalu, masa kini, dan masa depan seperti halnya pengarang novel mengetahui setiap awal dan akhir novelnya sendiri). Jadi, mungkin saja dia ngasih ‘spoiler’ pada Khidir dan membuatnya mengerti akan beberapa hal yang terjadi di masa depan.

    ….

    ….

    …. Aaaah, gampangnya begini deh, buat masalah ini.

    1) Tuhan Maha Tahu

    2) Tuhan Tidak Tergantung Waktu

    3) Tuhan memberi kehendak bebas pada manusia

    Jadi, kita mau memilih yang manapun, Tuhan sudah mempersiapkan konsekuensinya (pandanganku, ini mirip tulisannya Joe). Jika kita memilih tindakan A, maka kita mendapat konsekuansi A; jika kta memilih B, maka kita mendapat konsekuensi B. Nah, karena Tuhan Maha Mengetahui, maka Dia sudah pasti mengetahui hasil akhir dari semua kehendak bebas kita.

    Tuhan Tidak Tergantung Waktu, karena waktu adalah ciptaannya sendiri; otomatis Dia mengetahui semua yang terjadi dulu, kini, dan sekarang (sebagaimana seorang novelis tahu seluruh kejadian dalam novelnya). Jadi, sosok Khidir ini -menurut pendapatku- bisa digambarkan sebagai berikut:

    1) Khidir diberi ilmu/wahyu atas hasil/resultan dari berbagai kehendak bebas di sekitarnya,

    2) Kisah Khidir belum tentu mencerminkan predeterminisme, karena di sini kehendak bebas masih bermain dalam menentukan dunia — hanya saja, persilangan kehendak bebas tersebut telah diketahui hasil akhirnya oleh Tuhan, dan diwahyukan kepada Khidir.

    Btw, ini hanya pemikiran pribadi; terbuka untuk didebat dan dipertanyakan. Siapa tahu saya salah menganalisis. ;)

    Yah, apapun itu, manusia memang cuma bisa berusaha sampai takdirnya terungkap.

    Setuju… masa depan belum terungkap bagi kita. Bahkan Khidir pun (di Al-Qur’an) mendapat penjelasan tentang masa depan dari wahyu kok; dan itu pun (menurutku) berbentuk ‘spoiler’ dari Tuhan — atas hasil akhir dari semua kehendak bebas yang ada. Tuh, seperti dijelaskan di 18:65 di atas. ;)

    Eh, kalau nggak salah, ada ayat kayak begini di Al-Qur’an (lupa surat apa ayat berapa):

    “Sesungguhnya yang menimpa kamu adalah hasil dari perbuatan kamu sendiri”

    [CMIIW]

    Mungkinkah itu isyarat pengakuan atas kehendak bebas dalam Islam?

  4. 5 ta2 April 4, 2007 pukul 5:06 pm

    it’s d firt time ya mas kekekekek
    pertama aq pengen acungi 5 jempol (Allah suka yg ganjil2 kan? :D) buat mas joe, 2 jempol tangan, 2 jempol kaki, 1 jempol sapa ya?
    jangan GeeR!!!
    mas joe g salah, takdir emang sudah tertulis di kalam tp bukan berarti kita cuma bisa pasrah
    kalo bisa diimajinasikan dengan hal lain
    kita ini sama seperti tokoh dalam buku cerita yang kita bisa nentuin kita mau ngapain, tau g? pernah baca buku cerita yg seperi ini g?
    jadi misalnya jika kita ingin A maka teruskan ke halaman ke sekian
    jika ingin B maka lanjutkan ke halaman berikutnya
    jadi semua sudah ada endingnya
    tapi yang menentukan ending kita mau seperti apa, ya kita sendiri

  5. 6 anung April 4, 2007 pukul 5:53 pm

    males…tidur dulu
    capek

  6. 7 joesatch April 4, 2007 pukul 6:11 pm

    cK:::
    hoooo…sudah dibaca?

    antobilang:::
    itu konsekuensi perbuatanmu yang tidak online ke blogku sekitar jam 2an tadi siang :P

    raja iblis:::
    jujur, habis kamu sms, aku jadi merenung di kamar mandi ;)

    sora9n:::
    aku nunggu komen yang lainnya dulu, deh. baru ntar nulis pendapatku. tapi memang sih, aku ga buka al-qahfi dulu sebelum nulis ini, kekekeke. hafalan qur’anku masih lemah :D
    tapi secara asal dan ngawur, sementara bisa kutuliskan kalo kejadian itu mungkin relevan dengan umat musa, tapi tidak dengan umat muhammad yang notabene umat paling sempurna. karena itu, kejadian kayak gitu tidak pernah terjadi pada masa muhammad dan setelahnya, karena Allah sudah menyempurnakan hukumNya untuk manusia :)

    ta2:::
    pernah. isinya cerita2nya disney jaman kecil, hehehe

    anung:::
    pancen antum tidak produktif

  7. 8 Fourtynine April 4, 2007 pukul 7:12 pm

    Wah udah rame……kukira bakalan jadi yang pertama

  8. 9 solihin April 4, 2007 pukul 8:24 pm

    Aku nggak baca detilnya sih, cuman yang jelas ada sebuah hadis yg artinya : “Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, jika kaum itu sendiri yang tidak mengubahnya.” Jadi, Berdo’a dulu, kemudian Usaha (ikhtiar), baru Tawakkal.

  9. 10 Yudhis April 4, 2007 pukul 8:46 pm

    dab,crito mu iso di zip ae ra?ben ra terlalu dowo !! *ekekkekekeke* ngelu ndas ku scroll terus2an. *kakakkakakakakkaka*

  10. 11 arifkurniawan April 4, 2007 pukul 9:08 pm

    Udah baca konsep bunuh diri yang ditulis Kurt Cobain? Bagus tuh Joe, mungkin bisa nambahin masukan buat postingan ini.

    BTW, lagi ada kuliah pilsapat minggu ini Joe?
    Hehehe

    Semoga ayahmu baik-baik saja. Amin

  11. 12 Mr. Geddoe April 4, 2007 pukul 9:59 pm

    Sekadar informasi, tidak semua orang menginterpretasikan kisah di Surat Al-Kahfi itu secara tekstual begitu. Ada yang menganggap bahwa perjalanan itu hanya perumpamaan saja, dalam artian lain, bukan kenyataan. Saya sendiri masih sedikit bingung.

    Pendapat Sora-Kun di atas, juga cukup masuk akal :P

  12. 13 peyek April 5, 2007 pukul 12:00 am

    tadi siang wis baca tapi lupa komen,

    btw, jadi mau bunuh diri terus.. ini warisannya?

  13. 14 mahendra025 April 5, 2007 pukul 8:12 am

    Paragrap2 awal aku setuju banget padamu Joe, takdir memang mnurut interpretasiku kaya gt.
    Tapi mngenai crita Musa as dan Khiddir as ntar dulu ya…aku merenung sambil share HMNA dulu

  14. 15 joesatch April 5, 2007 pukul 8:42 am

    Fourtynine:::
    menyesal?

    solihin:::
    pikiran saya juga gitu, mas. tapi gara2 janji di awal ga bakal pake dalil, akhirnya ya dalil yg itu juga ga kutulis, hehehehe

    Yudhis:::
    wah, birokrasinya sulit kalo itu :P

    arifkurniawan:::
    belum. masak harus gugling? kasih link-nya dunk :D

    Mr.Geddoe:::
    entar kalo udah tau interpretasi yg lain itu kyk apa, saya dikasih tau ya :)

    peyek:::
    nggak…nggak. nggak jadi aja bunuh dirinya

    mahendra025:::
    hasil share-nya aku dikasih tau ya. sementara, aku berpendapat hal itu nasikh-mansukh aja dulu

  15. 16 wandira April 5, 2007 pukul 8:54 am

    weh ngerti banget saya mas, apalagi analoginya masalah SPP UGM itu, jadi ingat postingan dulu itu. :)

  16. 17 bayuleo April 5, 2007 pukul 9:16 am

    munkin emang udah takdir aku komen di sini joe … tapi aku memang memilih untuk menulis kata2 ini … ato munkin tulisan ku ini juga sudah ditakdirkan sebelumnya utk menulis begini …entahlah…
    mending gaple dulu … sambil minum ciu jg boleh :-)

  17. 18 manusiasuper April 5, 2007 pukul 11:20 am

    Sampe paragraf2 awal, saya faham banget..

    Semakin ke bawah malah semakin monyong…

  18. 19 Dimashusna April 5, 2007 pukul 12:14 pm

    SX lagi saya ulang postingan yang saya tulis di Raja Iblis
    1. Konsekuensi Takdir berdasar Sunnatulloh
    2. Konsekuensi Takdir berdasar Qudroh.

  19. 20 Anak Sultan April 5, 2007 pukul 1:33 pm

    (khusus gambar) wah mirip banget dengan jalan pikiranku, sudah lama mikir kaya gini. takdir itu multi ending, tinggal kita milih jalan. sip jempol.

  20. 21 neri April 5, 2007 pukul 2:41 pm

    Hmm, setuju Jo, orang emang suka salah persepsi klo’ kita bisa adem ayem tunggu hidayah datang karena Hidayah adalah milik Allah. Tapi perlu diingat soal Hidayah ini, hanya Allah lah yang tau siapa2 saja orang-orang yang ingin dan mau mencari hidayah, sehingga orang2 tersebut layaklah mendapat Hidayah dari Allah.
    Jadi, ini studi kasusnya, ada seorang laki2 middle twenty yang nganteng dan pinter bernama Anindito, sudah berkali-kali mengajak seorang temannya untuk mengaji menimba ilmu agama, tapi berkali-kali temennya itu menolak dengan berbagai alasan. Sampai2 suatu ketika laki2 ngganteng n pinter itu hampir putus asa dan temennya sama sekali nggak pernah bersedia untuk diajak menimba ilmu. Dalam khasus ini, salah jika dengan begitu kita anggap teman laki2 ngganteng n pinter itu masih belum mendapat hidayah dari Allah, bukan belum…. bahkan tidak akan dapat hidayah sebelum dia memang ingin dan mau berusaha mendapat Hidayah Allah. Karena Allah tau kapan hatinya berniat dan sangat menginginkan mendapat hidayahNya.
    Aneh yo Jo, padahal kamu sudah kasih studi kasus pamannya rosulullah.

  21. 22 Rizma Adlia April 5, 2007 pukul 3:21 pm

    Ma setuju banget sama komen sora9n tentang Allah ngasi kita banyak pilihan dan konsekuensinya, dan Allah tau kita bakal milih yang mana,, itu ada di pelajaran SMA Ma kelas 1 dulu, judulnya “takdir itu ada apa ngga?” jadi kangen,,

    Masalah kasus pamannya Rasul, sebenernya ada 2 yang Ma pikirin, yang pertama, emang mungkin beliau ga niat buat tau dan ga usaha, makanya ga dapet hidayah, atu lagi, mungkin beliau itu muslim dan sejarah ngapusnya ngga nyatet itu, kan sejarah dibuat oleh yang menang,, (ups, kalimat sensitif,,)

  22. 23 mahendra025 April 5, 2007 pukul 3:31 pm

    Gini joe..setelah melalui perenungan (aku blum bertemu HMNA yang dedengkot milis islam kristen tuh)…aku punya pikiran gini. Sori kalo kesimpulanku terlalu prematur!

    Km tadi khan bilang the way..lha mnurutku Khidir itu sebagai manusia juga punya the way. Karena dia bisa weruh sak durunge winarah (ayatnya di kometar sora9n) maka bgitu dihadapkan pada seorang anak kecil yang udah dia ktahui ntar besarnya kaya apa….maka dia dihadapkan pada the way-nya. Analog dengan km dihadapkan pada masuk UGM yang bikin mlarat karena SPPnya ato masuk UNS. Dan pada kasus ini dia memilih untuk membunuh anak itu. Itulah the way nya khidir yang nabi khidir pilih.. Khidir juga manusia, jadi dia juga punya pilihan2, the-way2 yang dihadapkan padanya. Sama seperti manusia lain.

  23. 24 joesatch April 5, 2007 pukul 8:11 pm

    wandira:::
    hahaha, apa boleh buat, saya jalani aja kehidupan saya :)

    Dimashusna:::
    tadinya mau pake itu buat referensi, tapi udah janji ga main dalil2an buat tulisan ini :D

    Anak Sultan:::
    jempol juga :D

    neri:::
    middle twenty? hoi, saya masih di awal2, kekekeke….

    Rizma Adlia:::
    berarti Allah juga tau dunk aku bakal masuk neraka/surga? waduh, malah bingung aku skrg, hehehehehe…
    ah, flowchart Tuhan memang rumit. aku ndak berhasil memecahkan algoritmanya :P

    mahendra025:::
    boleh ga kalo aku bilang, Khidir sewenang2 menentukan nasib manusia lain “hanya” gara2 diberi kelebihan oleh Allah? soale kan manusia tidak memiliki hak menghilangkan nyawa manusia lain, sebenarnya

  24. 25 sora9n April 5, 2007 pukul 9:30 pm

    @ joesatch

    boleh ga kalo aku bilang, Khidir sewenang2 menentukan nasib manusia lain “hanya” gara2 diberi kelebihan oleh Allah? soale kan manusia tidak memiliki hak menghilangkan nyawa manusia lain, sebenarnya

    Tapi mungkin aja Khidir itu diberi “tugas” langsung oleh Allah. Lagipula, dari ayat 65 di atas, nggak disebutkan bahwa “hamba” itu manusia biasa, rasul, atau malah malaikat. Jadi bisa saja Khidir itu adalah “hamba” yang murni diberi tugas untuk menjalankan perintah Allah…

    Pandanganku sih. Soalnya, masa iya Nabi Musa disuruh ‘berguru’ sama manusia jahat macem begitu? :???:

  25. 26 umar April 5, 2007 pukul 10:39 pm

    lho bukannya hal ini dalam islam udah dibahas di bab ikhtiar, artinya kita masih punya pilihan, walaupun ada takdir yang udah tertulis, contohnya waktu Umar RA mau masuk syiria kalo gak salah, setelah daerah itu ditaklukkan, trus ada wabah, dan Umar RA gak mau masuk ke syiria untuk menjenguk para sahabat yang ikut menaklukkan syiria, ketika ada yang nanya Umar RA “kenapa gak mau masuk, takut kena wabah ya? kan semuanya sudah takdir, kalau anda ditakdirkan kena wabah ya pasti kena, kalo gak ya gak” orang2 pinter kaya kita nih joe :p pasti mikir, bego amat masuk ke sana, udah tau ada wabah, tapi karena ini menyangkut masalah takdir, jawaban Umar RA cukup kena “saya berjalan dari takdir yang satu ke takdir yang lain” alias Umar RA berikhtiar, milih selamat, lagian dia kan gak bego, ya kan

  26. 27 rajaiblis April 5, 2007 pukul 11:52 pm

    hiks …
    sebetulnya … mungkin maksud yg hendak disampaikan sama, cuma persepsinya aja yg belum pas …

    begini …
    bila takdir diposisikan sebagai sebuah hasil, maka itu adalah sebuah ketentuan yg absolute …
    artinya … dari sekian banyak skenario yg sudah aLLah berikan (seperti yg diposting oleh joesatch), manusia diberikan pilihan untuk menentukan sebuah proses yg berujung pada sebuah konsekuensi dari pilihan itu …

    bila “berkaca” dari kasus muhammad, jelas muhammad telah aLLah berikan kebebasan yg mutlak untuk bebas berkehendak, namun yg terjadi, muhammad “enggan” menggunakan “hak” tersebut …
    meski dirinya sudah dijamin bakal ke surga … muhammad masih saja bangun malam …

    selain itu, ada beberapa manusia pilihan yg sudah aLLah “paksa” untuk memilih “skenario” yg telah ditentukan ! misalnya, mengapa muhammad yg harus menjadi nabi terakhir, mengapa bukan joesatch, wadehel, ibu Evy yg manis namun masih suka merajuk, wak abu, amd, manusiasuper, cakmoki, erander, salafy, atau anjing !

    wakkakkakkakaaa …

  27. 28 Evy April 6, 2007 pukul 12:22 am

    This is awesome Joe I like your article, so gpp udah di ralat ttg cerita2 nabi memang di Al-Quran lengkap. Saya pernah baca tentang khalifah Umar atau Ustman ya..lupa aku, waktu itu ada wabah di negri nya lalu beliau memerintahkan karantina, berpindah dari negeri tersebut untuk yang masih sehat, lalu ada yang tanya kenapa kita musti pindah khan takdir telah di tentukan kapan kita mati, betul jawab khalifah, tapi kita bisa berpindah dari takdir Allah yang satu ke takdir Allah yang lain, jadi ini mungkin seperti diagram yang kamu gmbarkan itu Joe?

  28. 29 dokter keren April 6, 2007 pukul 1:31 am

    hihihi… panjang dan menarik

  29. 30 TJ April 6, 2007 pukul 9:40 am

    Kelihatannya saya sudah ditakdirkan untuk menjalankan kehendak bebas … Atau, kehendak bebas saya adalah takdir …

  30. 31 venus April 6, 2007 pukul 11:03 am

    takdir. hhmmmm…piye ya, joe? aku selalu bilang sama diri sendiri; you never know what tomorrow brings. jadi menurutku, dari pengalaman, seringkali takdir benar2 bukan kuasa kita. selalu bukan kuasa kita…

    mudheng gak? ya, barangkali butuh diskusi panjang biar lebih jelas. jadi, sering-seringlah online. halah :))

  31. 32 joesatch April 6, 2007 pukul 1:43 pm

    hohohohoho…
    intinya menurutku, sih: tetap multi ending!
    seperti memainkan role-playing-game dengan artificial intellegence yang dahsyat :)

  32. 33 tio April 7, 2007 pukul 8:50 am

    cepat atau lambat asal selamat,kayaknya itu yang pas nih………..masalahnya siapa yang selamat ……..kkkkkkk

  33. 34 Aleks April 7, 2007 pukul 9:50 am

    @ta2, entah di urutan keberapa…

    Allah suka yang ganjil-ganjil, makanya kalo ada sesuatu yang aneh kita nyebutnya “sesuatu yang ganjil”.

    ….ga nyambung banget…

    Cheers ^_^

  34. 35 Aleks April 7, 2007 pukul 9:58 am

    No. 35! Angka Ganjil! hehehe…

    Ada yang tahu istilah ‘deja vu’ nggak?

    Deja vu: suatu kondisi dimana seseorang merasa pernah datang ke suatu tempat/melihat sesuatu padahal dia belum pernah mengalaminya satu kali pun.

    Nah, kalo yang itu penjelasannya gimana? (sekali lagi sori kalo ga nyambung)

    Soalnya aku sering banget ngalamin kejadian kayak gini, tapi rata2 kejadian sepele kayak ngeliat kalender buat nentuin tanggal presentasi atau ngeliat pemandangan pas lagi dalam perjalanan ke kota X.

  35. 36 lambrtz April 7, 2007 pukul 12:01 pm

    @arifkurniawan
    di mana ya aku bisa baca catatan bunuh dirinya kurt cobain?

    @joe
    takdir…yah saya gak begitu mau percaya sama takdir, nanti kalo percaya sama takdir jadi pesimis, atau menunggu2 (toh akhirnya ditakdirkan berhasil juga, jadi kenapa lakukan sekarang, santai aja lagi…)

    btw kok jadi kaya graph ya?
    gimana kalo pake dijkstra atau a* aja?

  36. 37 Rizma Adlia April 7, 2007 pukul 2:25 pm

    @sora9n,,
    setuju, Allah juga milih dan bikin nabi Khidir jadi nabi juga pasti dengan alesan dan kemampuannya,, (Malah Ma mikir nabi dan rasul itu maksum,, iya ga sih??) mungkin juga itu kenapa nabi Khidir jadi nabi, bukan jadi Rasul juga,, karena hidayah yang dia dapet buat dia sendiri,,

    @Joe,,
    iya multi ending, tapi buat kita,, buat Allah kayanya suh udah tau akhirnya gimaan,, hehehe,, tapi dia ngasi kita kebebasan buta milih apa yang kita mau,, (lagi lagi, biar Dia udah tau juga,,)

    satu lagi,, katanya ada takdir yang bisa diubah dan yang ga bisa diubah,, Qadaa dan Qadar (kalo ga salah sihh,, ajaran SMA nihh,,) dengan do’a sedekah dll,, ga terlalu inget sih,, terus ada juga tentang Lahul Mahfuz,, (sori,, udah lupaa,,) kaya buku yang mencatat apa yang terjadi pada manusia,, *lupaa,,!!*

  37. 38 pramur April 7, 2007 pukul 7:28 pm

    Assalaamu’alaikum.
    Numpang nimbrung nih Mas…
    Wah, terus terang Mas, aku ga baca sampe komentar di atasku. Jadi, kalo komenku ini sudah ada yang menulis, mohon dimangapin.
    .
    Menurut sepengetahuan saya, yang menjadi takdir itu ada empat Mas. Tapi, saya cuma mau bahas yang MATI sahaja ya? Bukunya ada di rumah, kalo mau nanti kita diskusi bareng Mas.
    ———————- awal MATI
    0. Mati
    Mati dalam pengertian waktunya, BUKAN dengan cara apa, BUKAN DENGAN SIAPA. Jadi, misalkan yang Mas Joe contohkan itu. Bunuh diri. Karena yang ditentukan itu adalah WAKTUnya, maka kalo memang tindakan bunuh diri sang calon mati itu belum WAKTUnya dia mati, kita bisa duga: dia tidak mati. Sebaliknya, kalau sudah WAKTUnya dia mati, walaupun dia tidak niat bunuh diri, misal lagi adem ayem makan arem-arem sambil nonton felem, bisa saja mati bahkan dengan cara-cara absurd sekalipun. Misal : keselek arem-arem.
    .
    Nah, bagaimana dengan istilah “ditambahkan umurnya”? Para ulama kita, lagi2 berbeda pendapat dengan hal yang satu ini. Berarti, kalau Allah sudah Menentukan umur seseorang, kok bisa-bisanya Dia “Memanjangkan umur” seseorang? Di mana letak keMahaAdilan Allah?
    .
    Pendapat pertama : Allah benar-benar Memanjangkan umur orang tersebut. Dalam arti, umurnya memang benar-benar bertambah. Yang semula cuma dikasih jatah bernapas 60 tahun, jadi 60 tahun 3 menit (lumayan untuk menyebut syahadat, masih sempet). Ini berkaitan dengan hadits (maaf, lupa. Maklum… Saya ga kuat menghafal. Kalo ga salah, bunyinya kira-kira “Barang siapa bersilaturahmi, akan dipanjangkan umurnya”).
    .
    Pendapat kedua : Allah Meningkatkan mutu dari kehidupannya. Yang ini sudah mahfum kan? Misal, yang tadinya mabuk2an, jadi bagus lan ilok.
    ——————— akhir bagian MATI

    ——————— mulai HIDAYAH
    Nah, untuk perkara hidayah sekarang. Lagi-lagi, saya hanya menyampaikan setahu saya (yakin Mas, semenjak saya ikut halaqoh yg sekarang, ilmu saya nambah banyak. Walau tidak terlalu signifikan sama sifat kemunafikan yang belum luntur sepenuhnya).
    Allah Memberi Hidayah kepada siapapun yang DikehendakiNya. Artinya, perkara hidayah, itu hak Allah. Kita (sebenarnya cuma Anda, hehehe) tentunya berpikir, “Kok bisa-bisanya Allah tidak adil sama manungsa? Kalo benar begitu, berarti, dari lahir sudah ditentukan apakah seseorang itu Islam, Nasrani, atawa Yahudi dong! Benar-benar absurd!”.
    Izinkan saya mengutip buku Aa Gym (lupa judulnya), “hati manusia yang ingin mendapat hidayah itu, laksana lapangan terbang. Semakin besar lapangan terbangnya, semakin besar pula ukuran dan kelas pesawat yang singgah”. Dari sini sudah agak mahfum kan? Misal, kita nggak mau belajar tentang agama kita ini, skeptis dengan semua ulama, semua orang Islam dianggap munafik, Tuhan dianggap tidak adil, dunia dianggap kejam dan isinya hanya orang-orang kejam tak berperasaan. Nah, Allah enggan Memberi hidayah dengan orang semacam ini. Kenapa? Yaa lihat aja usahanya, masak mau didarati pesawat Airbus, tapi landasannya semelekete alias hanya cukup untuk tiga becak berjejer? Ndak mungkin kan?
    .
    Kita ambil contoh Mas… Seorang pendeta, yang bejat sekalipun, kok bisa-bisanya masuk Islam. Dan ada pula, pembesar agama ini, yang gelar keagamaannya sudah sepanjang 2 kilometer, tapi tiba-tiba jadi kafir. Nah, di sinilah letak keMahaAdilan Allah Mas (sekaligus yang bikin dunia ini SERU!). Allah itu ngasih hidayah ke siapapun yang DikehendakiNya. It’s the point. Sesuai kadar kemanungsaannya.
    ——————— akhir HIDAYAH

    ——————— awal KEHENDAK BEBAS
    Selain takdir, ada pula yang namanya pilihan. Contoh, menikah. Sepertinya Mas Joe sudah bercerita banyak di sini. Saya cuma menambahkan sedikit. Soal MATI (dikapitalkan biar tambah serem! :-)), juga begitu. Allah Membiarkan manusia mati itu seperti apa. Cuma, timeout di bumi itu yang ditetapkan. Manusia hanya bisa berusaha, selebihnya kembalikan ke Yang Kuasa.
    ——————— akhir KEHENDAK BEBAS
    .
    Santai Mas… Agama ini indah kok. Cuma saya kurang setuju pernyataan Anda bahwa semua harus bergerak dengan AKAL. Saya kurang setuju. Kurang setuju. Ku-rang se-tu-ju. Kurang = “tidak sepenuhnya”.
    .
    Memang ada beberapa hal (bahkan sekelas ubudiyah=ibadah), yang ada ALASAN LOGISnya. Namun, merujuk pada Quraish Shihab, salah satu tujuan Rasul diturunkan, adalah “menjawab sebagian besar hal2 yang tidak dijangkau akal”. Jadi, kalau kita nggak sholat (misal) karena tidak mahfum akan ALASAN LOGISnya, itu namanya MALAS, bukan KRITIS.

    Wassalaam
    pramur: yang menghendaki perubahan dengan cara-cara absurd

  38. 39 abdulsomad April 8, 2007 pukul 1:38 pm

    Keputusan ALLAH dilangit tergantung Amalan penduduk bumi, apabila baik amalan penduduk bumi maka akan turun keputusan ALLAH yang baik untuk penduduk bumi,
    begitu juga apabila amalan penduduk bumi buruk, maka ALLAH akan turunkan keputusan yang buruk pula.

    Sekarang kenapa banyak keputusan ALLAH yang buruk buat penduduk bumi? ada tsunami, ada gempa, ada lumpur keluar dari perut bumi, ada angin topan, ada pesawat hilang, kapal tenggelam.

  39. 40 joesatch April 8, 2007 pukul 1:57 pm

    pramur:::
    tenang saja. di sidebar samping sudah ada banner-nya tentang “janganlah mendewakan akal”, kok :D

    abdulsomad:::
    ngomong2, isi tulisan saya sudah dibaca/belum, pak? ;)

  40. 41 Mr. Geddoe April 8, 2007 pukul 2:54 pm

    tenang saja. di sidebar samping sudah ada banner-nya tentang “janganlah mendewakan akal”, kok :D

    8)

  41. 42 abdulsomad April 8, 2007 pukul 7:03 pm

    takdir buruk itu bisa sedikit di geser dengan Amalan Baik joe. understood?

  42. 43 joesatch April 8, 2007 pukul 7:12 pm

    Mr.Geddoe:::
    hahahaha, thx u :D

    abdulsomad:::
    kentara nggak mbaca tho? lha jelas i’m understand, dunk. wong aku juga nulis yang menyangkut tentang itu :P

  43. 44 mrtajib April 10, 2007 pukul 3:20 pm

    memang membingungkan……. bagaimana ya cara kerja Tuhan itu?

  44. 45 dewo April 10, 2007 pukul 10:50 pm

    Dear,

    Dan mungkin saja perkara Khidir dan Musa di surat Al Qahfi “hanya”lah sekedar cerita yang untuk diambil hikmahnya.

    Di Alkitab tidak ada cerita tentang Khidir. Kok bisa “nambah” di Alquran ya?

    (** Kabursebelumdibericap **)

  45. 46 joesatch April 11, 2007 pukul 11:00 am

    karena – dalam konteks saya sebagai seorang muslim – saya yakin al qur’an adalah penyempurna kitab2 sebelumnya :D

  46. 47 mas agus April 14, 2007 pukul 9:24 am

    katanya….

    takdir adalah ketentuan Allah yang sudah tidak bisa dirubah lagi oleh campur tangan manusia, misalnya kiamat sughro dan kubro, terbitnya matahari di pagi hari, adanya siang dan malam, de el el.

    nasib adalah ketentuan Allah dimana manusia diberi pilihan dan konsekuensi yang akan ditanggungnya, mangkanya Allah menyebutkan bahwa Allah tidak akan merubah nasib seseorang/suatu kaum jika seseorang/kaum itu ndak mau ikut terlibat merubahnya, contohe ya seperti mas joe ini, demi memenuhi hasratnya akan ilkom, ya meskipun konsekuensinya melarat ya dilakoni aja kuliah di UGM.

    ini katanya lhoo….

  47. 48 irsyad moris April 26, 2010 pukul 2:43 pm

    Setuju bro…..pada prinsipnya dunia iru pilihan dan akal yang mempunyai kehendak bebas untuk memilih jalan itu….sedangkan hasilnya merupakan takdir ALLAH….(HUKUM ALAM, seperti kalau kita selalu berbuat baik dengan hati yang bersih maka kita akan mendapat hidayah….tapi kalau kita selalu berbuat dosa maka kita menjadi sesat..)

    Jadi ALLAH menciptakan jalan-jalan dengan hasilnya juga (TAKDIR)
    seperti contoh sederhananya seorang menanam padi maka ia akan tumbuh menjadi beras (HUKUM ALAM)

    sedangkan pemuda dalam cerita nabi khidhr itu sepertinya nabi khidhr mengetahui kelakuan pemuda tersebut yang selalu berbuat maksiat….sedangkan nabi musa tidak mengetahuinya dengan menyebut pemuda dengan jiwa yang bersih…( maka di sini berperanlah pengetahuan akan sesuatu dan dia melakukan upaya pencegahan berdasarkan pengalamannya seperti dikatakan ketika menerangkan bahwa kapal-kapal itu akan dirampas)

  48. 49 Juju Hidayat Mei 25, 2012 pukul 10:01 am

    maaaf..saya minta tulisannya…saya kofi untuk baca dirumah.makasih

  49. 50 iyan madani Juli 20, 2012 pukul 11:17 pm

    hidup itu pilihan yang dipilihi


  1. 1 Dalil Versus Dalil (Hohoho!) « The Satrianto Show! Lacak balik pada April 8, 2007 pukul 7:00 pm
  2. 2 Takdir dan Kehendak Manusia ! « This is Who I am Lacak balik pada Maret 6, 2008 pukul 5:07 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 916,380 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

April 2007
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.