Belajar Jadi Orang Jawa

Tadi pagi (atau lebih tepatnya tadi siang kalau menurut sidang pembaca yang terhormat) aku ngambil titipan buku dengan judul Nonton Wayang dari Berbagai Pakeliran yang kubeli lewat jasa tenaganya Memey (Thanks a lot, Mey. Kamu memang cantik, deh ^_^).

Jadi ceritanya, kemarin sepulang dari makrab Himakom di Waduk Sermo, aku betul-betul kehabisan tenaga sampai-sampai terpaksa kubatalkan niatku buat ke pameran buku di JEC yang padahal sudah hari terakhir. Padahal juga, kemarinnya dan kemarinnya lagi, pokoknya sebelum makrab, aku sama Memey sama Winda sudah memantapkan niat buat sehabis makrab langsung cabut ke JEC. Berhubung aku sudah betul-betul kecapekan, aku nitip duit aja ke Memey yang niatnya memang tetap mau ke JEC.

Ternyata, oh ternyata Memey juga curang. Dia nggak jadi ke JEC. Bukunya malah dapat beli di Togamas yang notabene deket rumahnya di kawasan Condongcatur. Tapi alhamdulillah, bukunya malah lebih murah dibanding harga di pameran.

Habis maghrib barusan, bukunya langsung kubaca-baca. Dan bisa kusimpulkan walaupun judulnya ada kata-kata “dari berbagai pakeliran”, isinya lebih condong ke arah pakeliran gaya (selanjutnya kita sebut sebagai gagrag) Yogyakarta. Betapa tidak, di awal-awal halaman aja sudah dijelaskan kalau Sang Hyang Tunggal berputra tiga orang dengan urutan sebagai berikut: Antaga (Togog), Ismaya (Semar), dan Manikmaya (Batara Guru), yang padahal dalam ingatanku sebagai laki-laki yang dialiri deras darah Surakarta, dalam setiap pertunjukan, Togog selalu menyebut Semar sebagai “Kakang Semar”.

Perbedaan lainnya, Werkudara (Bima) berputra 3 orang: Antareja dari Dewi Nagagini, Gatotkaca dari Dewi Arimbi, dan Antasena atau Jakatawang dari Dewi Urangayu. Padahal kalo kita bertanya pada orang Surakarta tulen, mereka pasti bakal menjawab, “Anaknya Werkudara itu cuma dua, Antareja dan Gatotkaca. Antasena adalah sebutan lain untuk Antareja.”

Dari buku itu aku juga menyimpulkan sebuah anggapan kalo ternyata menurutku bentuk wayang gagrag Surakarta itu lebih solid ketimbang Yogyakarta. Para dewa kelihatan lebih agung, raja-raja kelihatan lebih berwibawa, satria-satrianya kelihatan lebih tegas, bahkan para dewinya kelihatan lebih tegar. Pokoknya wayang Surakarta lebih trengginas :)

Buku itu juga menyimpan banyak kelemahan, seandainya buku itu diterbitkan sebagai maksud untuk memperkenalkan wayang kepada seluruh warga negara Indonesia. Bagaimana tidak, di situ banyak sekali istilah-istilah Jawa yang sangat halus yang tidak diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Aku aja yang orang Jawa sampai nggak bisa menangkap arti kata per katanya, apalagi yang bukan orang Jawa. Kaco neeh pengarangnya.

Dari kecil aku memang seneng banget nonton wayang, sampai-sampai aku hafal luar kepala seluruh jalan ceritanya, bahkan mungkin sampai detil sekecil-kecilnya. Waktu masih belum sekolah aku sudah diajak bapakku blusukan masuk kampung keluar kampung nonton wayang kulit (kalo lagi pulang ke Solo).

Waktu SMP aku juga masih selalu mengerjakan hobi yang menurut temen-temen seusiaku adalah hal yang aneh. Aku suka banget nonton wayang kulit yang biasanya disiarin Indosiar tiap malam Minggu. Nontonnya ya sendirian di depan tivi sampai subuh, dan alhamdulillah nggak ada iklannya. Bapak-ibu-adikku sudah tidur semua. Kadang-kadang aja ortuku nemenin aku nonton. Aku bisa ngakak-ngakak sendirian setiap pertunjukannya nyampe di fragmen goro-goro. Itu lho, adegannya Gareng, Petruk, Bagong, yang biasanya ada bintang tamu pelawak Jawanya juga sebangsa Timbul, Kirun, Doyok, atau Ranto Edi Gudel (Komeng nggak ikutan. Dia nggak bisa bahasa Jawa).

Jaman SMA aku mulai jarang nonton. Capek soale. Malam Mingguku banyak kegiatan. Tapi nggak berarti aku mulai nggak suka sama wayang. Aku tetap suka cuma porsinya kukurangi. Aku cuma nonton kalo dalangnya Ki Manteb Sudharsono. Suka aja sama sabetannya. Kecepatannya mungkin bisa dianalogikan sebagai Yngwie Malmsteen dunia pedalangan. Adegan goro-goronya juga nggak berlarut-larut. Beda sama Ki Anom Suroto yang suka berlama-lama di fragmen goro-goro, kemudian fragmen-fragmen setelah itu dicepat-cepatkan sampai-sampai nilai filosofisnya hilang.

Wayang itu nilai filosofisnya tinggi banget. Tentu saja dalam hal ini adalah filosofi orang Jawa. Aku sering prihatin aja kalo ngeliat keadaan sekarang dimana sudah jarang sekali generasi muda Jawa yang suka wayang. Mungkin gara-gara jarang nonton wayang juga akhirnya – menurutku – banyak orang Jawa tapi nggak nJawani. Cara hidupnya sudah mulai nggak sesuai dengan filosofi orang Jawa. Ya gimana nggak, lha wong filosofi-filosofi itu biasanya disampaikan lewat kesenian-kesenian tradisional yang celakanya mulai pudar peminatnya dimana wayang adalah salah satunya.

Contohnya banyak. Aku nggak jarang ketemu temen di kampus yang ngaku aslinya orang Jawa tapi malahan nggak bisa bahasa Jawa sama sekali. Bukannya mau mengangkat chauvinisme, tapi kalau orang tua mereka memang orang Jawa tulen, masak iya anak-anaknya blas nggak diajarin bahasa Jawa sekalipun? Ok-lah mereka besar di daerah lain. Tapi itu juga nggak bisa dijadikan alasan donk. Lha, nyatanya aku yang lahir dan gede di Denpasar aja bisa, dan bahkan masih sering dimarahin kalo sampe nggak menggunakan bahasa Jawa krama kepada bapak-ibuku untuk setiap kata kerja. Nah, kalo bahasanya aja nggak diajarin, apalagi filosofi-filosofinya.

Jadi, kesimpulanku pada kesempatan malam hari ini adalah: Satu, bertemanlah dengan cewek cantik yang baik hati. Dua, jangan pernah menilai isi sebuah buku dari judulnya. Dan yang ketiga, kalo mau jadi orang Jawa sejati, tontonlah wayang!

Selamat belajar jadi orang Jawa. Piss, loph, and gaul.

*Tulisan ini sebenernya ta’bikin tanggal 11 Agustus 2006 malem. Tapi karena komputerku ngadat, akhirnya baru bisa kuposting sekarang. Mohon maaf atas segala keterlambatan ini.

About these ads

44 Responses to “Belajar Jadi Orang Jawa”


  1. 1 blognyayoga September 17, 2006 pukul 11:00 pm

    Makasih atas tulisan rewiewnya. Buku2 kek gini sebenernya pengen aq koleksi takutnya ntar takutnya besok2 tinggal edisi basa asing dan yang nerbitin juga asing. wakakakak.
    Aq emang senang ama wayang walau gak pernah ngikutin :P

    Di toga mas ada juga toh, besok aq liat2 kesana lagi ah……

  2. 2 kunderemp September 25, 2006 pukul 2:46 am

    Aku orang Jakarta dan lahir di Jakarta dan tidak tertarik untuk mengaku sebagai orang Jawa walau darah Sultan Agung mengalir di tubuh ini.

    Tapi aku suka wayang..
    Jadi ingat Anjar Priandoyo.. Masak gak bisa mengenali Jawa Ngoko waktu nonton wayang kulit di gedung Indonesia Power.. huahahahaha

    Catatan:
    Kulo mboten saget basa jawa.

  3. 3 joesatch September 25, 2006 pukul 2:42 pm

    Menawi ngeten, nggih kula sumangga’aken :)

  4. 4 Anjar Priandoyo November 18, 2006 pukul 10:31 am

    Wew, yang ngajakin ke Indonesia Power kan aku Nar :P Perasaan yang ngambil makanan paling banyak pas acara wayang kan kamu. Kalu aku kan memang pengen nonton :D

  5. 5 Joni Lontong Desember 20, 2006 pukul 8:33 am

    Wayang itu disadur oleh nenek moyang anda dari nenek moyangnya Saruk Khan, mas…. Jadi jelas kebudayaan jiplakan seperti itu, nggak perlu dibangga-banggain banget dech. Nikmati aja kalau mau, nggak usah di-proklamirin.

  6. 6 joesatch Desember 23, 2006 pukul 1:03 pm

    joni:::
    kta siapa ini budaya jiplakan? wayang gagrag jawa itu budaya modifikasi. kalo anda perhatikan, sejak jaman walisongo, konsep trimurti hindu india sudah diubah menjadi konsep ketauhidan gaya islam.
    di india sana tidak mungkin syiwa, brahma, dan wisnu berbuat salah. tapi di jawa…hohoho, mereka sering sekali.
    dan, pakem-pakem carangan seperti lakon “kartawiyoga maling”, “jamus kalimasada”, “aji narantaka”, “puter puja pandawa”, dll nggak akan pernah bisa ditemukan di india situ.
    bicara filosofi jawa, berarti bicara ttg pakem-pakem carangan itu ^_^
    nggak usah diproklamirkan? waduh, kalo gitu apa gunanya saya buat blog? blog saya bukan bicara ttg selera pasar, kok. blog saya adalah apa yg ada di hati, otak, pikiran saya.
    mungkin lebih baik kalo kita rumuskan begini: saya tulis sesuatu, anda baca alhamdulillah, nggak juga nggak papa, selanjutnya mau ngikut mau nggak ya terserah yang mbaca. asal jgn ngelarang saya buat memproklamirkan sesuatu. kalo maksa saya buat diem, ya sama aja saya dipaksa stroke gara2 banyak pikiran terpendam yg nggak tersalurkan :D

  7. 7 Riwan Januari 30, 2007 pukul 5:05 pm

    Pedalangan gagrag yogyakarta

    Semua orang rata2 mempunyai sifat asosentris “selalu berusaha mengagungkan daerahnya”. Tentang perbedaan yang you singgung tentang pedalangan gagrag yogyakarta dan surakarta, memang benar saya juga memperhatikan itu dari dulu dan tidak hanya itu, Kematian Destaratra juga lain antara yogya dan solo. Sebagai orang yogya aku juga membela, wayang kulit gagrag yogyakarta lebih bisa menjadi tontonan dan tuntunan dari pada surakarta, yang cenderung maaf “urakan”. Waktu dihabiskan untuk limbukan dan goro-goro sehingga penyajian ceritanya tidak ketemu, terus habis goro-goro kaya diburu waktu sehingga krawitannya myeng-myeng nong=nong gak enak didengar, coba dengerin dalang yogya akan lebih santun, dan bisa menjadi “Tepo Palupi”. Terlepas dari itu secara obyektif saya juga suka dengan gaya klasik surakarta yang disajikan Ki Anom Suroto, lainnya ibarat bencana alam kalau dengarkan. You itu belum tahu tentang pakeliran, baru baca buku satu saja terus komentar macem-macem. Ilmiah dikitlah jangan komentar sebelum melakukan riset. Aku orang yogya tapi kuliah di solo kebalikan sama you. Semoga jadi refleksi, jangan asal nyonthong, iyo ora dab.

  8. 8 Riwan Januari 30, 2007 pukul 5:08 pm

    Nek ra ngerti wayang rasang dho nyontong

    Kalau ceritanya metamorfisis india tapi krawitannya tidak ada yang menyamai, anggun. Kendhang nggembyak, digerongi, dasare gamelane pruggu. waduh urip kaya melayang. Aku dulu belajar musik modern dab, boleh di tes pianoku, tapi lariku sekarang ke gamelan. Aku juga tahu Yngwie, Steve vai, paul Gilbert, santana, Richi sambora dll. Tapi sekarang lebih nikmat ndengerin gamelan.

    • 9 bethoro kolo Juni 17, 2010 pukul 1:24 pm

      betul mas riwan aku setuju.
      tapi aku juga seneng wayang solo tapi kalau dalangnya Ki Nartosabdho, atau yang sekarang Ki Purboasmoro. Aku sekarang juga lari ke karawitan (ikut kelompok karawitan Langen Siswa Budaya) walaupun aku tetep kadang-kadang main gitar classic, macam lagunya Mauro Giulani, Fernando Sor, F. Tarrega, L Van Bethoven dll. dan juga seneng dengerin lagu2 klasik dari Julian Bream, John William (gitaris clasic). Setiap hari aku pasti muter cassette gendhing-gendhing Jawa. Kalau masalah wayang mungkin aku sedikit tahu, conto masalah anak Werkudoro itu ada macam2 versi mis ; Gagrag Solo hanya 2 Yaitu : Antasena dan Gatotkaca. Gagrag Yogya ada 3 yaitu : Gatotkaca, antareja dan antasena. Gagrag Banyumas ada 4 yaitu : Gatotkaca, Antareja, Antasena dan Srenggini. dan banyak lagi perbedaan2nya. Semua bagus kalau dalangnya nggak njelehi, kesuwen limbukan dan goro2, masalah gecul (lucu) bisa karo mlaku supaya ceriteranya nggak kehabisan wektu. Ojo mulai pathet manyura selak kepingin bali.

  9. 10 joesatch Januari 30, 2007 pukul 5:12 pm

    Mas Riwan yang baik…
    Mas Riwan yang juga kurang ilmiah…
    Mas Riwan yang men-judge saya baru baca satu buku…
    Bisa tolong dijelaskan standar ilmiah yang Mas pengenkan itu seperti apa?
    Apa harus kuliah jurusan pedalangan dulu baru boleh berkomentar tentang pakeliran?
    Apa memiliki kakek seorang dalang, memiliki kakek lain seorang mantan dosen STSI Surakarta, memiliki paman seorang dosen ISI Bali jurusan pedalangan (Jawa), dan memiliki bapak yang pernah belajar juga tentang pedalangan, sehingga masa kecil saya dikelilingi oleh pakeliran masih belum pantas bicara tentang pakeliran?
    Semoga jadi refleksi juga, Mas. Sebelum mencacat orang lain, tolong pelajari dulu latar belakang orang tersebut. Saya khawatir, mas bukan hanya mencacat tanpa dasar kepada saya saja :P

  10. 11 joesatch Januari 30, 2007 pukul 5:18 pm

    Sepertinya Mas Riwan sedang “menjual” kemampuan Mas, ya?
    Wah, mbok bikin blog sendiri aja. Soale percuma kalo Mas meminta saya jangan nyonthong di sini, lha ini kan blog saya. Saya mau menghujat Tuhan, misalnya, Mas juga nggak bakal bisa berkutik banyak.
    Paling2 juga sekedar ngasih komen protes gini-protes gitu yang tidak saya dengarkan, tapi alhamdulillah tidak saya delete, hehehehe!
    Serius! Kalo Mas Riwan yang jago piano ini bikin blog sendiri, siapa tau ada produser yang kebetulan blogwalking tiba2 tertarik menjajal kemampuannya Mas. Saya doakan semoga sukses karir musiknya, Mas :)

  11. 12 syah Januari 31, 2007 pukul 4:08 am

    weh,… aku yo seneng wayang je…

  12. 13 Joni Lontong Februari 7, 2007 pukul 8:53 am

    joni:::
    kta siapa ini budaya jiplakan? wayang gagrag jawa itu budaya modifikasi. kalo anda perhatikan, sejak jaman walisongo, konsep trimurti hindu india sudah diubah menjadi konsep ketauhidan gaya islam.
    di india sana tidak mungkin syiwa, brahma, dan wisnu berbuat salah. tapi di jawa…hohoho, mereka sering sekali.
    dan, pakem-pakem carangan seperti lakon “kartawiyoga maling”, “jamus kalimasada”, “aji narantaka”, “puter puja pandawa”, dll nggak akan pernah bisa ditemukan di india situ.

    Hehehe, sudah jelas jiplakan dong! Lha wong diambil terus diubah disana-sini ya hampir sama jiplakan, coba MISALNYA si X bikin cerita superhero namanya SUPARMAN, dengan baju biru ketat plus sayap merah dan cd merah di luar, bisa terbang dan kebal peluru, tapi dia bawa cangkul! Sehari-harinya bekerja sebagai petani dengan nama Karta… :) Tapi saat si X dibilang orang jiplak Superman, alasan si X : lo namanya kan beda, terus Superman kan nggak bawa cangkul kaya Suparman! Ini kan alasan yang soooo lame! Jelas banget dong ini namanya jiplakan plus ubahan dikit-dikit. Nah….

    bicara filosofi jawa, berarti bicara ttg pakem-pakem carangan itu ^_^
    nggak usah diproklamirkan? waduh, kalo gitu apa gunanya saya buat blog? blog saya bukan bicara ttg selera pasar, kok. blog saya adalah apa yg ada di hati, otak, pikiran saya.
    mungkin lebih baik kalo kita rumuskan begini: saya tulis sesuatu, anda baca alhamdulillah, nggak juga nggak papa, selanjutnya mau ngikut mau nggak ya terserah yang mbaca. asal jgn ngelarang saya buat memproklamirkan sesuatu. kalo maksa saya buat diem, ya sama aja saya dipaksa stroke gara2 banyak pikiran terpendam yg nggak tersalurkan

    Hehehe, yo wis… jangan nangis….

  13. 14 Joni Lontong Februari 7, 2007 pukul 9:44 am

    Yang saya nggak ngerti itu kalau ada orang yang bilang kalau Wayang itu kebudayaan asli Indonesia dan banyak mengandung nilai-nilai luhur.

    Perbuatan Pandawa yang berjudi hingga mempertaruhkan seluruh kerajaannya itu nilai luhur? Ini kan contoh pemimpin yang nggak mikirin rakyat…apa ini yang dinamakan nilai-nilai luhur?

    Trus yang lucu, sudah kalah judi kok Pandawa masih ngotot ingin ngambil kerajaan mereka lagi, ini kan contoh sifat nggak sportif… apa ini yang dinamakan nilai-nilai luhur?

    Padahal kalau nggak salah mereka sudah punya Amarta kan? Kayanya ini sifat serakah… apa ini yang dinamakan nilai-nilai luhur?

    Masalahnya, Pandawa kan tokoh protagonisnya, tapi kok malah ngasih contoh perbuatan jelek seperti itu.. atau jangan2 dalam dunia pewayangan, hal2 tsb perbuatan yang wajar? Wah…

    Belum lagi perbuatan Kresna yang mengorbankan Antasena, karena takut Antasena akan membunuh kakaknya Baladewa, padahal Baladewa kan ada di pihak yang “salah”. Kepentingan keluarga di atas kepentingan orang banyak / rakyat ?

    Perbuatan Srikandi yang membawa dendam kesumat pada Bisma ke liang kubur sampai tujuh turunan sampai2 nitis?! Trus balas dendam… Lucu deh… padahal kalau dilihat perbuatan Bisma pada Srikandi nggak jahat2 banget kok… mengajarkan perbuatan balas dendam???

    Dan mungkin masih banyak lagi contoh2 nilai nggak luhur yang dicontohkan wayang.

    Filosofis, kali… tapi kalau luhur, kayanya nggak dech… Bisa saja sih, pendapat saya ini ditangkis, dengan alasan, kan bisa diambil baik2nya aja, nggak yang jeleknya. Masalahnya hal2 buruk di atas dilakukan oleh tokoh yang condong sebagai protagonis (pihak Pandawa), kan aneh.

    Mungkin saja dulunya, Mahabharata dan juga Ramayana itu diciptakan oleh Walmiki dan siapa lagi satunya saya lupa yang notabene high class dalam agama Hindu (brahmana) untuk mempertegas aturan kasta dalam masyarakat India. Seakan-akan kasarnya begini : kalau bangsawan berbuat salah, ngawur, seenak perut, nggak papa karena mereka kasta yang tinggi.

    Nah, yang beginian kalau mau dikatakan sebagai kebudayaan bernilai luhur… wah… nggak bener… kalau memang mau dinikmati, wayang diletakkan dalam posisi nggak lebih sebagai hiburan dan hiburan saja.

  14. 16 joesatch Februari 7, 2007 pukul 12:43 pm

    Itulah seninya, Mas. :)
    Dalam setiap kebaikan belum tentu nggak ada kejahatan. Dalam setiap kejahatan juga bisa jadi ada kebaikan.
    Adipati Karna? Siapa yang berani menjudge dia jahat/baik? Dia benar dalam kacamata dharma seorang ksatria, tapi dia salah dalam pikiran fanatik picik yang cuma tau hitam-putihnya dunia. See?
    Ambillah nilai luhur ketika nilai luhur itu ada, bahkan ketika itu dilakukan oleh seorang Durmagati atau Bambang Aswatama. Dan jadikan juga pelajaran dari kesalahan yang sekalipun dilakukan oleh Yudhistira atau Werkudara.
    Kesannya, Mas ini selalu menjudge dunia lewat hitam-putihnya aja, ya? Yang baik harus selalu baik dan nggak boleh salah, begitu juga yang jahat. Wah, padahal perkara abu2 itu banyak sekali, contohnya kehidupan saya sendiri :P

  15. 17 Riwan Februari 8, 2007 pukul 1:37 pm

    1. Halo dab !
    Gue seneng banget bisa sharing sama you, meskipun kita berseberangan pendapat. wajar dong ! jangan marah-marah gitu. ha. ha. ha. ha.
    You kok agak sombong banget sih mamerin kakek kamu, paman kamu kakek tetanggamu, paman tetanggamu yang jadi dosen sana sini, di isi lah stsi lah tahu isi lah, ha.ha.aha.
    jangan marah dab, gue seneng debat wayang ma lu.
    kita mempunyai latar belakang yang hampir sama. Kebetulan kakek-kakekku dulu juga dalang di Kraton Yogyakarta. Bapakku juga kebetulan dalang, kemarin habis pagelaran di pantai parangtritis. lupa gak ngundang lu. Paman juga kebetulan dosen isi. pakde dan bulikku juga seniman semuanya. aku juga sekarang telah lulus kuliah sedang mendalami pedalangan. Tapi tidak sombong lho ini cuman kebetulan. empat kakakku yang perempuan semua penari, 2 pernah menyabet juara 2 se DIY. Kakakku laki2 ada 3, juga bertalenta di seni. tapi kebetulan lho tidak seperti paman dan kakek kakekmu yang memang …………..!
    mau dihapus mau tidak monggo mawon. kritik itu biasa man, wajar, atau you mungkin udah sempurna gak mau kritik.

    Tak baleni moga juga bisa jadi “Refleksi”. Kapan2 main ke rumahku kalau pengen liah sabetan klasik gagrag yogyakarta.

    Makasih

  16. 18 Riwan Februari 8, 2007 pukul 1:52 pm

    Ndoro satrio

    Kebetulan juga bapakku seorang penari klono topeng, wayang orang, pengrawit juga. dulu juga sering natah wayang. Dulu sering nglono di Taman Mini Indonesia Indah, Sering juga dulu di undang ke Lampung, Kami sekeluarga dihidupi beliau dari seni, sering aku sebut beliau maestro. sebutan bagi kami anak-anaknya. Kebetulan Sepupuku pernah mendalang di jepang. Habis Ikut Manthous Sekarang ikut Ki seno Nugroho.Tapi cuma kebetulan lho….!

    Nuwun sewu

  17. 19 Riwan Februari 8, 2007 pukul 1:54 pm

    Ndoro satrio

    Kebetulan juga Bapak dulu pengajar sabetan di Abirando, itu lho sekolah dalang di Kasultanan Yogyakarta.

    Nuwun sewu.

  18. 20 Riwan Februari 8, 2007 pukul 10:46 pm

    Halo dab !

    Gue seneng banget bisa sharing sama you, meskipun kita berseberangan pendapat. wajar dong ! jangan marah-marah gitu. ha. ha. ha. ha.
    You kok agak sombong banget sih mamerin kakek kamu, paman kamu kakek tetanggamu, paman tetanggamu yang jadi dosen sana sini, di isi lah stsi lah tahu isi lah, ha.ha.aha.
    jangan marah dab, gue seneng debat wayang ma lu.
    kita mempunyai latar belakang yang hampir sama. Kebetulan kakek-kakekku dulu juga dalang di Kraton Yogyakarta. Bapakku juga kebetulan dalang, kemarin habis pagelaran di pantai parangtritis. lupa gak ngundang lu. Paman juga kebetulan dosen isi. pakde dan bulikku juga seniman semuanya. aku juga sekarang telah lulus kuliah sedang mendalami pedalangan. Tapi tidak sombong lho ini cuman kebetulan. empat kakakku yang perempuan semua penari, 2 pernah menyabet juara 2 se DIY. Kakakku laki2 ada 3, juga bertalenta di seni. tapi kebetulan lho tidak seperti paman dan kakek kakekmu yang memang …………..!

    mau dihapus mau tidak monggo mawon. kritik itu biasa man, wajar, atau you mungkin udah sempurna gak mau kritik.

    Makasih

  19. 21 joesatch Februari 8, 2007 pukul 10:56 pm

    hehehe, kalem aja mas. kesummon?
    gadis2 yang belum terlalu mengenal saya kadang juga bilang saya kayak gitu, kok: sombong! bahkan yang lebih parah juga banyak: medeni!
    tapi biasanya penilaian mereka berubah setelah mengenal saya lebih jauh :D yah, itulah yang dibilang oleh temen2ku: jgn menilai komputer dari casingnya, hehehehe!

  20. 22 de King Februari 9, 2007 pukul 2:46 am

    Joe..aku arep ngakak dhisik …
    kakakakakak
    Joe…nasibmu kok koyo ngono? Ora omong jilbab kek… UGM kek bahkan omong wayang sekalipun kok yo isih ono wae sing “sengit” karo kowé ya? Apa memang sudah takdirmu jadi begini ya Joe?hehehe tapi jarému kan takdir itu suatu pilihan heheh néh
    Ya wis dinikmati waé ya, malahan pendapat2 yang kontra akan semakin mengasahmu..sip lah selamat berjuang…

  21. 23 de King Februari 9, 2007 pukul 2:54 am

    Saiki aku serius takon Joe…
    Aku pernah baca artikel (lupa tepatnya dimana) tentang dakwah Sunan Kalijaga melalui Wayang Kulit.
    Apa benar istilah “Jamus Kalimasada” terinspirasi dari “KALIMAt SyahADAt”?Bener gak Joe?Aku juga sebenre tertarik sama wayang…persis seperti yang kamu omongkan di komentarmu di atas…”

    Ambillah nilai luhur ketika nilai luhur itu ada, bahkan ketika itu dilakukan oleh seorang Durmagati atau Bambang Aswatama. Dan jadikan juga pelajaran dari kesalahan yang sekalipun dilakukan oleh Yudhistira atau Werkudara.

    Aku menemukan banyak nilai (luhur) dari kisah wayang (Maaf ya buat Mas Riwan, saya ini hanya seorang awam tentang wayang jadi jangan ditantang kayak si Joe…saya gak tahu apa2″
    Aku setuju dengan pendapatmu di atas (yang tak kutip itu lho), kalau kita mau belajar itu jangan lihat siapa SUMBERnya tapi yang lebih penting adalah NILAI (KEBENARAN) yang diajarkan sama si sumber itu
    Kabur ah…keburu ada yang mampir sini dan langsung nyalahin aku…bisa2 mereka langsung bilang jangan belajar dari orang kafir, belajarlah (hanya) pada kyai hehehe
    *Tak kabur dulu ya..sorry nék akhiré malahan out of the context… ya maap*

  22. 24 Riwan Februari 9, 2007 pukul 2:17 pm

    halo teman2

    sepindah …
    aku salut ma kalian semua anak muda yang sangat peduli dengan budaya bangsanya. Percaya deh “orang luar tidak akan kagum melihat kita mahir main piano, gitar, biola, harpa sekalipun atau segala instrumen modern lainnya. Tapi akan melongo bila kita bisa mainkan siter, bonang atau barung wilet rangkep”. Ih nyaman man melayang ?

    Kaping kalihipun
    aku tidak sengit pada siapapun (de king menduga), sebenarnya aku hanya usul kalau diterima, ketika tangan kita menunjuk apapun hanya satu (telunjuk) yang menunjuk keluar lainnya ada 4 jari menunjuk ke diri kita. filosofinya adalah ….Nuwun sewu sebelum kita menilai sesuatu harus dipikirkan dulu sampai minimal 4 kali bisa enggak kita menjalaninya.

    Kaping tigonipun
    aku minta agunging wiloso, cause dah mencampuri atau mungkin mengotori dengan tulisanku ini.

    Kaping sekawanipun
    wayang itu multiart tidak hanya sabetan (kaya ki manteb) “salah satu penilaian juga sih. tapi masih banyak lagi :
    1. Krawitannya
    2. ontowecono
    3. sanggitannya
    4. alur temanya
    5. sastranya
    6. terpenting filosofinya !
    A. Mengapa abimanyu matinya diranjab panah ?
    B. Mengapa gatotkoco takut dengan kuntanya karna ?
    C. Sastro jendro hayuningrat pengruwating diyu, D. Mengapa dosomuko berwujud raksasa?
    E. Mengapa Gendari (Istri destaratra sangat benci dengan pandawa)?
    F. Mengapa destarastra sendiri buta?
    G. Mengapa kurawa jumlahnya seratus ?
    H. Mengapa Pandu cacat tengeng ?
    I. Kenapa durno dan sengkuni menjadi buruk rupanya ?
    J. Dan masih beribu pertanyaan, yang dulu semakin mengganggu tidurku ?

    Kaping gangsalipun
    Dalam senja usia bapakku, Kami sekeluarga ingin mendirikan sanggar ? Sekali-kali pengen didatangi anak-anak UGM yang peduli dengan budaya bangsanya.

    Nuwun sewu nggih mas Joe
    Matur Nuwun

  23. 25 joesatch Februari 9, 2007 pukul 9:14 pm

    Riwan:::
    Wah, piye tho mas? kok ndak jadi kesummon?
    Sebenernya aku kemarin cuma mancing masnya tentang dosen2 di ISI dan STSI itu, toh nggak ada yang tau kan yang kuomongin beneran atau bohongan. Dan masnya kepancing menunjukkan sejarah keluarga. Hehehe, aku berhasil :P
    Kenapa aku mancing? jawabannya bisa seperti ini:
    1. jujur, aku sedikit bereaksi ketika masnya bilang supaya aku jgn asal nyonthong. heran aja sebenernya, bagian mana dari tulisanku yang asal nyonthong? lalu, yang ilmiah dikitlah jangan komentar sebelum melakukan riset. nah, bagian mana dari tulisanku yang bisa dibilang sebagai riset? lalu, harus seilmiah apakah aku dalam menulis? Soale ini kan blog, bukan situs resmi karya ilmiah populer :P
    2. Ini yang penting: Supaya masnya balik lagi ngasih komen di sini.
    3. Ini juga penting: Menaikkan traffic blogku.
    Huehehehehehehehe!
    de King:::
    Mungkin wis nasibku je, kang. Rapopolah asal yang membenci dan “sengit” karo aku bukan wadon2 ayu :P
    Istilah jamus kalimasada memang karangannya Kalijaga. Di mahabarata india, itu nggak bakal ditemukan. punakawan seperti Semar, gareng, petruk, bagong pun sebenernya juga karangannya Kalijaga mengambil dari istilah2 dalam bahasa Arab yang disesuaikan dengan lidah Jawa pada saat itu. Setidaknya itu yang aku baca dari buku sejarah mesjid agung demak. Bahkan ada mitos yang mengatakan, setelah mesjid Demak berdiri, Yudhistira mendatangi Kalijaga, menyerahkan jamus kalimasada dan minta dijelaskan apa artinya. Setelah Kalijaga menjelaskan, Yudhistira kemudian murca :)

  24. 26 Riwan Februari 10, 2007 pukul 10:37 pm

    salam

    Eh aku orang sengit lho ro kowe tapi “salut”. Hanya sayange kowe terus mubeng minger ora komit karo sing u presentasikan di depan. Dan ternyata tenan, sampeyan memang baru belajar jadi orang jawa. Lho……. nesu meneh.
    boleh kok comment balik neng blogku (friendster.com/bungsuyogya) monggo dipersilahkan !

  25. 27 joesatch Februari 11, 2007 pukul 10:51 am

    waduh, bagian ndak komitnya di mana ya? lha iyalah, mas, 19 tahun hidup di bali saya perlu menata ego kejawaan saya lagi.
    cuma yang saya sesalkan dari mas cuma satu: bahaya kalo langsung merontokkan mental orang lain dengan kata2 “jgn asal nyonthong” trs “yang ilmiah dikitlah jangan komentar sebelum melakukan riset”. oke, kalo sama saya mungkin nggak pa-pa, karena sedikit banyak saya sudah mengenal pakeliran dari kecil (setidaknya saya bisa meng-counter). tapi kalo seandainya ada newbie yang belajar pakeliran kemudian menuliskan pendapatnya, dan lalu sama mas riwan langsung “dijegal” kayak gitu, ya kasian juga orangnya. bisa2 dia malah jadi ilfil nggak semangat lagi mempelajari budaya adiluhung ini. mungkin lebih baik kalo pihak2 yang “ngerti” tentang pakeliran justru mendorong orang lain dengan kata2 yang simpatik, lebih menonjolkan falsafah “tut wuri handayani”, dan bukan langsung ditelikung seperti di atas :)

  26. 28 lambrtz Maret 9, 2007 pukul 2:32 pm

    isin aku…
    uripe ning njero beteng tap ra kenal budaya jawi….

  27. 29 semprul Mei 9, 2007 pukul 4:48 pm

    lha enakan seperti saya, saya senang dan bisa menikmati semua gaya pakeliran, surakarta, jogya, banyumasan, jawatimuran. masing-masing punya rasa.

  28. 30 joesatch Mei 10, 2007 pukul 12:00 am

    yup, betul. sebenernya bukan perbedaan itu yang saya permasalahkan. saya menunjukkan perbedaan itu justru untuk menunjukkan kekayaan budaya (ditambahi bumbu yang “sedikit” subyektif, tentunya) kita, bukan buat mencari siapa yang paling benar karena memang tidak akan pernah ditemukan jawabannya ;)

  29. 31 sengkuni Oktober 5, 2007 pukul 2:39 pm

    wayang sengkuni, wayang limbuk, wayang petruk

  30. 32 sengkuni Oktober 5, 2007 pukul 3:34 pm

    Sesaji Aswomedo

    Tidak biasanya beliau tinggal di paseban sendirian. Biasanya sang Prabu jengkar mendahului semua pejabat kerajaan. Kini Rekyono Patih, menteri2, nayoko2 projo, dan semua orang sudah meninggalkan balairung. Prabu Dosoroto terhenyak disinggasananya memandang lantai paseban yang gilar2 membentang luas. Matanya menerawang kedepan, melihat alun2 dengan sepasang pohon wringin kurungnya.

    Prabu Dosoroto dan Permaisuri Dewi Susalyo atau Dewi Raghu menikah cukup lama tetapi belum juga punya keturunan. Hal ini merisaukan hatinya. Keturunan bukan hanya masalah pribadi tetapi sudah menjadi masalah negara karena pada waktu itu pewaris kerajaan adalah putra Raja. Apalagi Prabu Dosoroto adalah raja kawentar dari negara besar Ayudyo yang kaya raya, subur makmur gemah ripah loh jinawi. Toto titi tentrem dan kertoraharjo. Karena waktu itu belum ada bayi tabung, satu2nya jalan adalah dengan menikah lagi. Raja Ayudyo tidak tanggung2 menikahi 2 garwo ampéan yaitu Dewi Kekayi dan Dewi Sumitro. Namun setelah sekian lama menikah, ketiga istri2 itu tetap juga tidak juga kunjung hamil.

    Atas saran seorang pendhito, sang Raja mengadakan sesaji Aswomedo. Semua istri2nya melakukan upacara ritual menari nari seolah melakukan hubungan badan dengan bangkai kuda. Tidak jelas mengapa bukan dengan kuda hidup. Juga tidak jelas mengapa dengan kuda. Mengapa bukan dengan ayam misalnya. Bukankah ayam lebih digdoyo ? Tanpa jago bisa beretelur dan punya anak. Karena kuda terkenal ‘jantan’ dengan ukurannya yang ‘king size’ ? Entahlah. Upacara seperti ini bukan aneh dijaman itu. Di Jepang ada upacara semacam itu. Wanita yang mandul melakukan upacara ritual dengan jalan menggosok gosokkan yoninya ke sebuah patung lingga yang dikeramatkan. Apalagi kalau digosokkan punya kita, wuah …

    Versi lain mengatakan bahwa Raja Ayudyolah yang mungkin mandul. Ini masalah serius karena Prabu Dosoroto tidak punya saudara kandung. Siapa nanti yang akan meneruskan tahta Ayudyo ? Versi ini menyatakan bahwa Prabu Dosoroto datang ke sebuah asrama resi2 untuk mendapatkan ‘suwuk’. Suwuk disini bukan sebatas kata2, jompa jampi dan doa2 tetapi sang raja meminta ketiga garwo2nya dibuahi begawan2 di pertapaan itu. Tentunya pembuahaan dilakukan dengan cara alamiah karena waktu itu belum ada bank sperma dan inseminasi. Tidak jelas juga apakan hanya satu pendito yang membuahi ketiga istri2 itu, atau satu pendeta untuk satu istri, atau malah rame2 – jambore.

    Apa yang dilakukan Prabu Dosoroto tidak jarang terjadi dimasa itu. Dalam kisah Mahabarata, pewaris Astino meninggal sebelum sempat punya keturunan. Supaya punya keturunan, dipanggilah begawan Abiyoso atau wiku Kresnodwipoyono dari pertapan Saptorenggo untuk membuahi menantu2 Hastinopuro. Karena sang begawan tampangnya sangat buruk, ada menantu itu yang memejamkan matanya ketika dibuahi sang pendeta. Akibatnya anak yang lahir, raden Destoroto buta. Menantu kedua kaget sampai pias dan memalingkan mukanya sehingga anaknya yang bernama Radèn Pandu berwajah pucat dan lehernya tèngèng. Menantu ketiga takut2 dan berjalan berjingkat jingkat. Kelak anaknya yang bernama Yomo Widuro berjalan pincang. Ada yang tanya, kalo pas dikeloni bopo begawan ia bersin2 bagaimana ? Ya, anaknya wohang wahing, to ? Kalau sedang glègèk-en coca cola ? Mbuh … !

    Entahlah, mana dari versi2 tersebut yang benar tidaklah jelas. Yang jelas ketiga garwo raja hamil dan melahirkan hampir bersamaan. Yang pertama melahirkan adalah Dewi Kekayi dan anaknya diberi nama raden Bharoto. Berikutnya, permaisuri Dewi Susalyo melahirkan raden Romowijoyo. Dewi Sumitro melahirkan raden Lesmono. Beberapa bulan berselang Dewi Kekayi melahirkan lagi seorang putra bernama raden Satrugeno. Betapa bahagianya sang Prabu memiliki empat putra sekaligus.

    Keempat putra tersebut dididik dikraton. Segala olah Joyo kawijayan, kesaktian, ilmu tata negara, militer, hukum, dll. Sejak kecil raden Romowijoyo telah menunjukkan bakatnya yang ruarbiasa. Tidak ada seorangpun yang meragukan bahwa beliaulah putra mahkota kerajaan Ayudyo. Prabu Dosoroto sangat berbahagia dengan putra2nya. Ia sangat bangga dan sangat sayang kepada putra sulungnya raden Romowijoyo yang diagul agulkannya menjadi penggantinya kelak jika telah dewasa.

    Gambar : Prabu Dosoroto berdampingan dengan permaisuri Dewi Raghu berhadapan dengan Dewi Sumitro dan Dewi Kekayi dibelakangnya.

    Supoto Sharwono

    Walaupun berbeda ibu, sejak kecil Lesmono sangat dekat dengan Romo. Bharoto kompak dengan adik kandungnya Satrugeno. Pengasuh Bharoto dan Satrugeno adalah emban Mantoro. Hubungan emban ini dengan Dewi Kekayi sangat dekat. Walaupun kedudukannya hanya emban, pengaruhnya sangat besar. Emban Mantoro adalah emban yang ambisius. Cita2nya tinggi. Ia menginginkan kedudukan yang lebih tinggi. Ia kemaruk harta dan kuasa.

    Adalah lumrah dalam kehidupan poligami, selain hubungan saling menyukai diantara istri2, sering terjadi kecemburuan, iri dan rivalitas diantara mereka. Dewi Kekayi memendam rasa iri ini. Iri kepada Dewi Susalyo yang menjadi permaisuri, iri karena anaknya tidak sehebat anak marunya. Terkadang terlintas dalam benaknya betapa bombong hatinya seandainya putranya jadi raja. Namun ia tidak bisa berbuat apapun. Romo terlalu sulit untuk ditandingi.

    Pada suatu hari, sang Prabu menghibur diri dengan berburu sendirian. Biasanya belum tengah hari beliau telah mendapatkan buruan tetapi kali ini sudah lewat tengah hari tak seekorpun buruan nampak. Sang raja kelelahan dan mulai merasa kesal. Ketika sedang beristirahat, tiba2 diseberang danau tampak rumput2 dan ilalang ber-gerak2 menandakan adanya makhluk yang sedang disitu. Jaraknya cukup jauh dan sang Prabu tidak ingin kehilangan buruan. Jika didekati, harus memutar. Beliau takut buruan lari. Dengan mengerahkan kecakapannya dalam membidik, untung2an sang Prabu membidik dan srettt panah melesat dari busurnya.

    Alangkah kagetnya ketika terdengar jeritan manusia. Ter-gopoh2 beliau mendekati semak2 tsb. Betapa terkejutnya Prabu Dosoroto mendapati seorang anak muda terkapar terkena anak panahnya. Melihat pakaian Prabu Dosoroto, anak muda itu tahu bhw ia sedang berhadapan dengan raja. Dengan ter-engah2 anak muda itu berkata

    “ … mengapa baginda memanah saya … ? ”
    “ aku … tidak sengaja, anak muda … “ Prabu Dosoroto mencoba menyelamatkan nyawa anak itu dengan menaburkan obat2an yang dibawanya.
    “ … saya mohon bantuan … “
    “ katakan apa yang bisa kulakukan. Siapa kamu ? ”
    “ saya anak Sharwono … kedua orang tua saya buta … mereka sedang menantikan kedatangan saya membawa beras … “ Sharwono mulai sesak nafasnya.
    “ mohon bawakan beras ini ke … “ Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, nyawanya keburu meregang. Dengan masgul Prabu Dosoroto memanggul jasadnya mencari cari rumah orang tuanya.

    Begawan Sharwono adalah pendito yang gentur tapanya sehingga beliau menjadi resi yang sakti mondroguno. Istri Resi Sharwono juga buta sehingga kedua orang tua itu sangat tergantung hidupnya pada putra tunggalnya. Prabu Dosoroto tertegun melihat kenyataan itu. Pelan2 jenasah diletakkan. Sang resi yang merasakan kedatangan sang Prabu bersabda

    “ siapakah angger … ? “
    Terbata2 sang raja berkata “ Aku Prabu Dosoroto dari Ayudyo … aku sedang kena sambekolo … tidak sengaja memanah anakmu hingga mati “ Alangkah terkejutnya kedua orang tua tadi. Dengan sedih bercampur marah, sang Wiku berkata : “ bagaimana mungkin raja besar seperti anda bisa berlaku ceroboh ! “ Prabu Dosoroto hanya bisa diam tanpa menjawab sepatah katapun. Dengan geramnya sang pandhito mengutuk Prabu Dosoroto dengan suara menggeletar.

    “ wahai kulup raja Ayudyo, ketahuilah karmamu, … suatu saat nanti kulup akan mengalami hal yang membuatmu sangat berduka … anakmu akan ada yang kena bilahi … angger akan berpisah dengan anak yang paling kulup cintai … dan kulup akan mati merana dalam kesedihan … “

    Sebagai raja yang berbudi mulia, Dosoroto sudah cukup tertekan dan merasa bersalah atas kecerobohannya. Kini beliau harus menerima kutukan yang tidak bisa ditampiknya. Setelah sekian lama, barulah beliau bisa melupakan supoto Sharwono. Namun, tanpa disadari Prabu Dosoroto Supoto Sharwono diam2 menunjukkan tuahnya.

  31. 33 minak jinggo Oktober 9, 2007 pukul 9:15 am

    Membuka Takbir Wayang Purwa

    Menurut cerita Jawa, awal adanya wayang yaitu pada masa raja Jayabaya di Kediri tahun 1135 Masehi. Pada saat itu raja Jayabaya ingin mengambarkan wajah para leluhurnya dengan lukisan pada daun rontal, meniru wajahpara dewa-dewa maupun manusia purba (purwa) sehinga karya raja Jayabaya itu kemudian disebut wayang purwa.

    Menurut Dr. hazeu, cerita tentang wayang sudah ada sejak jamn raja Erlangga diKahuripan permulaan abad ke sebelas, karena pada masa Erlanga tersebut sudah ada ahli sastra kepercayaan raja Erlangga yakni Mpu Kanwa yang menulis kitab Arjuna Wiwaha. Isi dari kitab Arjuna Wiwaha antara lain menceritakan Arjuna ketika bertapa di dalam goa Witaraga sebagai brahmana dengan nama Ciptaning. Sebagai Pertapa, Arjuna berhasil membinasakan raksasa Niwatakawaca dari kerajaan Manimantaka yang bermaksud melamar bidadari Dewi Supraba. Atas jasanya itu, Arjuna mendapat penghargaan dari dewa Endra berupa sebuah panah lengkap dengan busurnya bernama panah Pasopati.

    Hagema dalam bukunya “Handleiding lot Degechiede denis Van Java” menyebutkan bahwa pertama kali yang membuat wayang kulit adalah Raden Panji Inukertopati sekitar abad ke 13. Seperti kita ketahui, seni sastra Jawa kuna berlangsung pada jaman Kediri yang hasilnya sebagian besar berupa kakawin, misalnya kitab Kresnayana karangan Mpu Triguna, Samanasantaka karya Mpu Meraguna, Bharatayudha karangan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, Smaradahana karangan Mpu Dharmaja, Gatutkacasraya karangan Mpu Panuluh dan Wretasancaya karya Mpu Tanakung.

    Seperti juga di Yunani dan India, pertunjukan wayang di Jawa juga berkembang dari upacara keagamaan, yakni untuk menghormati para dewa-dewa atau arwah nenek moyang yang dipandangsebagai para dewa. Sedangkan lakon atau ceritanya diambil dari hasil kesusastraan Jawa kuna yang ditulis pada daun lontar, yakni berupa gancaran (prosa) dan tembang (puisi). Tembang Jawa kuna inilah yang lazim disebut kakawin, sedangkan tembang tengahan dinamakan kidung.

    Ditinjau dari sudut isi, kesusastraan jawa kuna terdiri dari tutur (kitab keagamaan), sastra (kitab hukum), wira carita atau epos seperti Mahabharata dan Ramayana.

    Lakon merupakan gambaran tentang sifat dan karakter manusia di dunia. Karena sifat dan karakter begitu khas, maka banyak yang tersugesti. Oleh karena itu pertunjukan wayang dapat membuat penontonnya menjadi terharu. Pertunjukan yang pada awalnya hanya diceritakan oleh juru tutur dan sangat menyentuh hati, mulai berkembang pada masa Prabu Lembuamiluhur pada tahun 1244. Selanjutnya raja Brawijaya Majapahit mulai membuat wayang beber berwarna, pertunjukan wayang saat itu juga telah menggunakan iringan gamelan slendro.

    Wayang purwa semakin menanjak pada masa perkembangan agama Islam di Jawa. Pada masa itu para wali menggunakan wayang sebagai media dakwah. Sunan Giri kemudian membuat wayang raksasa berbiji mata dua. Raden Patah (raja Demak pertama) membuat gunungan atau kayon. Sedangkan yang menyelenggarakan pertunjukan wayangs ecara lengkap seperti menggunakan kelir, pohon pisang, blencong dan sebagainya adalah Sunan Kalijaga.

    Wayang itu sendiri berasal dari kata ‘wod’ dan ‘yang’ serta merupakan kebudayaan asli Indonesia. ‘Wod’ dan ‘Yang’ berarti bayangan yang bergerak atau bergoyang. Dr.Hazeu berpendapat bahwa perkataan yang berasal dari Hyang, maksudnya adalah leluhur. Hal ini dapat disamakan dengan perkataan Jawa “Eyang”.

    Beberapa pendapat bahwa wayang adalah kebudayaan Nasional Indonesia asli:
    1. Teori yang dikemukakan oleh Dr. J. Brandes dari segi penyelidikan bahasa bahwa semua perabot-perabot/alat-alat pewayangan/pedalangan tidak ada yang bertalian dengan bahasa Sansekerta, berarti tidaka da yang berasal dari India atau kata lain Indonesia asli dan bangsa Indonesia mempunyai corak teater sendiri yang berbeda dengan corak teater India.
    2. Teori yang dikemukakan oleh W.H Ressers dari segi penyelidikan Antropologi Budaya, bahwa yang berasal dari kegiatan upacara Totenisme.
    3. Teori yang dikemukakan oleh Dr. Albert C. Krujit dari segi penyelidikan tradisi Toraja, bahwa wayang berasal dari kegiatan upacara Dukunisme.
    4. Teori yang dikemukakan oleh W.H Stuterheim dari segi penyelidikan sejarah kebudayaan dan teori yang dikemukakan oleh Dr. Hazeu, yang keduannya berpendapat bahwa wayang berasal dari upacara pemujaan arwah nenek moyang.

    Kesenian wayang khususnya wayang kulit purwa, selama lebih dari seribu tahun telah dikenal dan digemari oleh rakyat Indonesia. Sebuah inskripsi dari tahun 907 Masehi pada masa pertengahan raja Dyah Balitung telah menyebutnya dengan tegas dan jelas bahwa berita adanya wayang kulit purwa tertera dalam sebuah kakawin karya Mpu Kanwa dari jama raja Erlanga dari Jawa Timur dalam abad ke 11. Tidak henti-hentinya bentuk seni budaya yang dinamakan wayang ini dalam berbagai gaya dan jenisnya benar-benar menarik perhatian rakyat dari berbagai daerah dan selalu dibicarakan oleh berbagai ahli sosial seni budaya baik dari dalam maupun luar negeri yang menulis tentang seni pewayangan di Indonesia.

    Kesenian wayang yang berkembang dan hidup di Indonesia tersebar di pulau-pulau antara lain: Jawa, Lombok, Kalimantan, Sumatra dan lain-lain, baik yang masih populer maupun yang hampir punah atau dikenal dalam kepustakaan-kepustakaan dan yang terdapat di museum-museum, dan timbulnya beberapa wayang baru akhir-akhir ini seperti wayang Sadar dan wayang Warta dari daerah Klaten dan wayang Sadosa dari STSI Surakarta. Adapun macam dan jenis wayang antara lain:
    1. Wayang Purwa
    2. Wayang Madya
    3. Wayang Gedog
    4. Wayang Kulit Menak
    5. Wayang Wahyu
    6. Wayang Klitik
    7. Wayang Beber
    8. Wayang Jawa
    9. Wayang Dobel
    10. Wayang Jemblung (Jawa)
    11. Wayang Ramayana (Bali)
    12. Wayang Purwa (Bali)
    13. Wayang Gambuh (Bali)
    14. Wayang Cupak (Bali)
    15. Wayang Sasak (Lombok)
    16. Wayang Betawi (Bali)
    17. Wayang Banjar (Kalimantan)
    18. Wayang Golek (Sunda)
    19. Wayang Golek Menak (Jawa)
    20. Wayang Pakuan (Sunda)
    21. Wayang Orang (Jawa)
    22. Wayang Topeng (dari berbagai suku)

    Diantara wayang-wayang tersebut yang paling populer dan tersebar luas dan paling banyak disoroti di dalam maupung di luar negeri adalah wayang purwa, yang sejarah dan perkembangannya telah diketahui paling tidak sejak abad ke 11, yang telah dijadikan objek studi para sarjana daam dan luar negeri selama berabad-abad.

    Untuk mengenal wayang secara mendasar, hal-hal yang perlu diketahui adalah sebagai berikut: a. Unsur Pelaku dan Peralatan. Pelaku terdiri dari Dalang, Niyaga (pengrawit atau penabuh gamelan) dan Pesinden (swarawati atau penyanyi wanita). Perlengkapan/Peralatan terdiri dari wayang kulit, kelir (layar dari katun), blencong (lampu), debog (batang pisang), cempala (pemukul kotak), kotak (kotak kayu), kepyak atau keprak, dan gamelan. b. Unsur Pertunjukan. ang dilihat adalah Sabetan (gerak wayang). Sedangkan yang didengar adalah janturan, catur (ginem, pocapan), carios atau kanda, suluk, tembang, dhodhokan, kepyak atau kaprakan, gending, gerongan, sindhenan.

    Sumber Cerita Wayang Purwa

    Pada jaman prasejarah telah kita ketahui bersama bahwa wayang itu adalah kebudayaan nasional Indonesia asli yang kemudian kena pengaruh kebudayaan Hindu. Adapun cerita Jawa asli yang sampai sekarang masih ada, misalnya cerita Prabu Watugunung yang akhirnya menjadi pawukon dan Prabu Mikukuhan yang menceritakan asal mula adanya padi dan Semar, Gareng, Petruk serta Bagong adalah wayang Indonesia kuno.

    Sumber cerita yang akhirnya berkembang dari tanah Hindu tersebut adalah Ramayana dan Mahabharata. Ada beberapa pendapat cerita Ramayana dikarang oleh pujangga besar dari India bernama Walmiki, sedang Mahabharata oleh Wiyasa. Cerita Ramayana dan Mahabharata dalam dunia sastra sangat terkenal tidak hanya di tanah Jawa saja melainkan sampai di tanah Asia. Demikian besar pengaruh Ramayana dan Mahabharata merupakan pedoman hidup (pepakem) yang berhubungan dengan masalah: agama, filsafat, politik, masyarakat, kepribadian, keluarga, keperwiraan, keutamaan, dsb.

    Pada intisari cerita Ramayana timbulnya peperangan antara Rahwana dan Rama adalah memperebutkan Dewi Shinta, sedangkan intisari dari Mahabharata terjadinya perang Bharatayuda antara Pandawa dan Kurawa yang diperebutkan adalah bumi Hastina. Dengan demikian jelas bahwa tema kedua epos tersebut wanita dan bumi. Tema tersebut juga terdapat pada kehidupan kita yang sifatnya universal. Dalam kehidupan kita ada istilah “Sedumuk bathuk senyari bumi dipun labeti pecahing dhadha wutahing ludira”. Cerita Ramayana dan Mahabharata yang mengandung nilai-nilai luhur tersebut oleh para leluhur kita dianggit disesuaikan dengan kebutuhan bangsa kita seusai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Ada yang menyalin Ramayana dan Mahabharata kedalam bahasa Jawa Kuno.

    Ada sementara yang menyebut karangan baru tetapi tetap menggunakan kedua wiracarita tersebut sebagai sumber (babon), dan membuat cerita yang dapat dipergelarkan dalam seni pedalangan wayang purwa. Akhirnya kedua babon kitab tersebut berkembang menjadi pakem lakon wayang purwa. Adapun kitab-kitab yang membuat sumber cerita pedalangan adalah sebagai berikut:
    1. Kitab Ramayana (Jaman Dyah Balitung 900 M)
    2. Utarakandha (menceritakan lahirnya Kusa dan Lawa putera Dewi Sinta dan matinya Dewi Sinta terperosok ke Bumi)
    3. Adiparwa (Jaman Darmawangsa, terdapat cerita Dewi Lara Amis, Bale Segala-gala, Peksi Dewata dan matinya Arimba)
    4. Sabhaparwa (cerita Pandawa Dadu)
    5. Wirataparwa (Para Pandawa mengabdi di Wirata)
    6. Udyogaparwa (Kresna gugah)
    7. Bismaparwa (Bisma Gugur)
    8. Asramawasanaparwa (cerita Drestarasta mati)
    9. maosalaparwa (cerita matinya darah Wresni dan Yadu)
    10. Prastanikaparwa (cerita Pandawa Puterpuja)
    11. Arjunawiwaha (Karya Mpu kanwa jaman raja Erlangga gubahan dari kitab wanaparwa yang akhirnya menjadi cerita Mintaraga atau Begawan Ciptoning)
    12. Kresnayana (Jaman Kediri 1104 M di dalam seni pedalangan menjadi cerita Kresnakembang)
    13. Bomakawya (Matinya Prabu Boma oleh Kresna)
    14. Baratayuda (Karya Mpu Sedah dan Panuluh pada jaman kediri, Prabu Jayabaya)
    15. Gathutkacasraya (Perkawinan Abimanyu dan Siti Sendari)
    16. Arjunawijaya (gubahan dari Utarakandha) cerita perangnya Prabu Dasamuka dengan Danaraja
    17. Korawasrama (cerita Wirataparwa)
    18. Dewaruci (Karya pujangga jawa Empu Ciwamurti)
    19. Sudamala )tergolong cerita ruwatan)
    20. Manikmaya (Yasan jaman Kartasura, setelah orang jawa menganut agam Islam)
    21. Kanda (serat kandha) yasan jaman Kartasura, disini mulai membaur cerita Hindu, Jawi dan Islam.
    22. Bhartayuda yasadipuran jaman Surakarta
    23. Arjunasasra (Lokapala) Yasadipuran II petikan dari kitab Ajuna Wijaya
    24. Arjunasasrabahu (karagan Kyai Sindusastra jaman PB VII, dalam kitab tersebut terdapat ceritera Sugriwa Subali dengan mengambil babon serat Kandha)
    25. Kitab Paramayoga (karya R. Ng. Rangawarsito isinya menceritakan Nabi Adam dan keturunannya sampai jaman Tanah Jawa dihuni oleh manusia)
    26. Pustakarajapurwa (karangan Ki Ng. Rangawarsito memuat cerita wayang).

    Demikianlah beberapa sumber yang menjadi babon pakem cerita dalam seni pedalangan wayang purwa. Lakon-lakon carangan yang berkembang akhir- akhir ini yang dihimpun oleh proyek dokumentasi STSI Surakarta merupakan karya-karya yang menambah kekayaan perbendaharaan cerita wayang.

    Lakon dan Pengaturan Wayang

    Secara garis besar lakon wayang purwa dibagi menjadi 4 bagian yaitu:
    1. Prasejarah menceritakan tentang ksiah para dewa di Kahyangan, ajaran dewa kepada anak manusia, juga kisah kejahatan raksasa maupun setan yang mengganggu manusia, juga kisah kejahatan raksasa mapun setan yang mengganggu manusia, Sebagian besar cerita dewa-dewa dan raksasa ini diambil dari Mahabharata, tetapi sebagian didasarkan pada dongen tutur tinular yang berkembang di Jawa.
    2. Cerita Arjunasasrabahu yang diawali dari keberadaan negara Maespati sebagai penerus dinasi Purwacarita (penjilmaan dewa Wisnu) hingga tamatnya riwayat Prabu Harjunasasrabahu.
    3. Cerita Rama, isinya diawali dari runtuhnya kerajaan Maespati dilanjutkan petualangan Dasamuka, kisah Rama Sinta dan berakhir pada lakon Rama menjelma (nitis).
    4. Cerita Mahabharata, isinya menceritakan para leluhur Pandawa hingga Pandawa muksa.

    Pengaturan wayang adalah penataan wayang yang akan dipakai untuk pertunjukan sesuai dengan letak maupun posisinya. Jumlah wayang lengkap dalam satu kotak hampir mencapai 500 buah, dand ari sekian banyak wayang tersebut, penataannya terbagi menurut jenisnya, yaitu wayang simpingan, wayang eblekan dan wayang dudahan.

    Wayang simpingan adalah wayang yang dijajar pada lajur kiri maupun lajur kanan, maka disebut simpingan kiri dan simpingan kanan. Wayang simpingan kiri antara lain:
    1. Raksasa raja atau dalam istilah pewayangan disebut buta raton terdiri dari Balasewu, Niwatakawaca, Kumbakarna, Batara Kala, Maesasura dan sebagainya.
    2. Raksasa muda atau buata patihan yang terdiri dari Suratimantra, Prahasta, Lembusura, dll.
    3. Dasamuka terdiri beberapa wanda (wanda iblis, wanda belis, wanda barong, dll
    4. Sugriwa – Subali
    5. Wayang Bapang atau Ratu Sabrang seperti Susarma, Susarman, Manima, Maniman, dll
    6. Wayang Boma tediri dari Bomanarakasura wanda iblis, Jaya Wikata, Bomawikata, Bogadenta, Bomantara, Gardapura, Gardapati, dll
    7. Patih Sabrang antara lain Trikaya, Trinetra, Trisirah, Kangsa, Indrajit, dll
    8. Prabu Duryudana
    9. Raden Kurupati
    10. Prabu Baladewa dengan beberapa wanda.
    11. Raden Kakrasana
    12. Raja Wirata terdiri Basurata, Basukeswara, Basumurti, Basuketi, Matsyapati.
    13. Prabu Salya
    14. Prabu Drupada
    15. Basukarna dengan beberapa wanda.
    16. Wayang sabrang alusan misalnya Dewasrani, Sasramurti, dll
    17. Setyaki dengan beberapa wanda.
    18. Raden Seta, Utara dan Wratsangka
    19. Raden Ugrasena
    20. Yamawidura dan Drestarata
    21. Lesmana Mandrakumara
    22. Narayana dan Narasoma
    23. Samba, Setyaka dan Rukmarata
    24. Wayang bambangan antara lain Priyambada, Irawan, Wisanggeni, Bambang Srambahan, Nakula dan Sadewa.

    Wayang simpangan kanan antara lain:
    1. Prabu Tuguwasesa dengan beberapa wanda.
    2. Raden Werkudara dari beberapa wanda.
    3. Raden Bratasena dari beberapa wanda.
    4. Rama Bargawa
    5. Prabu Suteja
    6. Raden Gatotkaca dari beberapa wanda.
    7. Raden Antareja
    8. Anoman dari beberapa wanda
    9. Batara Guru 10. Durga
    11. WayangRama terdiri Prabu Arjunasasrabahu, Prabu Rama, Parikesit, Jayamurcita.
    12. Prabu kresna dari beberapa wanda.
    13. Prabu Yudistira
    14. Raden Puntadewa
    15. Arjuna dari beberapa wanda
    16. Prabu Pandu
    17. Raden Premadi, Suryatmaja, dan Kumajaya
    18. Bambang Sekutrem
    19. Raden Lesmana
    20. Bambang Palasara
    21. Raden Abimanyu
    22. Wayang putren terdiri dari beberapa putri misalnya Banowati, Subadra, Srikandi.
    23. Wayang putran atau wayang bayi.

    Wayang simpingan yang disebutkan di atas hanya merupakan garis besar saja, jadi masih banyak tokoh-tokoh yang belum disebutkan disini. Wayang eblekan yaitu wayang yang diatur rapi di dalam kotak dan tidak termasuk disimping. Contoh wayang eblekan antara lain wayang dewa, wayang wanara, wayang reksasa, wayang prajurit atau wayang tatagan dan lain-lain. Sedangkan wayang duduhan yaitu wayang yang diatur pada sisi kanan dalang dan atau wayang yang akan digunakan di dalam pakeliaran. Sedangkan yang termasuk wayang dudahan antara lain rampogan, kreta, wayang kewan, pendita, panakawan, limbuk cangik dan lain-lain.

    Jika anda nonton wayang purwa, baik yang dipagelarkan semalam maupun yang dipergelarkan padat, maka jika direnungkan benar- benar didalamnya terkandung banyak nilai serta ajaran-ajaran hidup yang sangat berguna. Semua yang ditampilkan baik berupa tokoh dan yang berupa medium yang lain didalamnya banyak mengandung nilai filosofi. Secara gampang saja baru melihat simpingan wayang, orang telah mempunyai penilaian, bahwa simpingan kanan melambangkan tokoh yang baik, simpingan kiri melambangkan tokoh yang jelek atau buruk. Kalau kita melihat perangnya wayang, wayang yang diletakkan atau diperangkan tangan kiri pasti kalah. Tetapi hal ini tidak semua benar.

    Didalam pdalangan kita kaya nilai-nilai didalamnya. Nilai-nilai didalam pedalangan antara lain: kepahlawan, kesetiaan, keangkara murkaan, kejujuran, dll.
    1. Nilai kepahlawanan ada pada tokoh: Kumbakarna, Adipati Karna.
    2. Nilai kesetiaan terdapat pada tokoh: Dewi Sinta, Raden Sumantri, dll
    3. Nilai keankaramurkaan terdapat pada tokoh: Rahwana, Duryudana, dll.
    4. Nilai kejujuran terdapat pada tokoh: Puntadewa.

    Kayon / Gunungan

    Gunungan atau di dalam pakeliran disebut kayon, pertama diciptakan oleh Raden Patah. Dinamakan gunungan karena bentuknya menyerupai gunung yang memiliki puncak dan terdapat pada setiap pagelaran wayang (wayang purwa, wayang krucil, wayang golek, wayang gedok, wayang suluh, dll).

    Menurut bentuknya, gunungan atau kayon ini dapat dibedakan menjadi dua macam.

    1. Kayon gapuran berbentuk ramping dan pada bagian bawah bergambar gapua yang pada sisi sebelah kiri maupun kanan di jaga oleh raksasa Cingkarabala dan Balaupata. Sedangkan pada bagian belakang terdapat lukisan api merah membara.

    2. kayon blumbangan, bentuknya agak gemuk dan lebih pendek bila dibanding dengan kayon gapuran, Pada bagian bawah terdapat lukisan kolam dengan air yang jernih yang ditengahnya terdapat lukisan sepasang ikan berhadapan. Sedangkan pada bagian belakang berambar lautan atau langit yang berawarna biru gradasi.

    Gunungan secara lengkap biasanya terdapat lukisan teridiri:
    1. Rumah atau balai yang indah dengan lantai bertingkat tiga dan pada bagian daun pintu rumah dihiasi lukisan Kamajaya berhadapan dengan Dewi Ratih.
    2. Dua raksasa berhadapand engan membawa senjata pedang atau gada lengkap dengan tamengnya.
    3. Duia naga bersayap.
    4. Hutan belantara penuh dengan satwanya.
    5. Gambar harimau berhadapan dengan banteng.
    6. Pohon besar ditengah hutan yang dililit seokar ular.
    7. Kepala makara di tengah pohon.
    8. Dua ekor kera dan lutung sedang bermain diatas ranting.
    9. Dua ekor ayam alas sedang bertengger diatas cabang pohon.

    Gambar-gambar yang terdapat pada kayon tersebut menggambarkan alam semesta lengkap dengan isinya. Gunungan di dalam pagelaran wayang kulit mempunyai fungsi yang sangat penting, antara lain:
    1. Sebagai tanda dimulaiya pentas pedalangan, yakni fungsi dengan dicabutnya kayon di tengah kelir kemudian ditancapkan pada posisi sebelah kanan.
    2. Sebagai tanda perubahan adegan atau menggambarkan suasana dengan cara gunungan digerakkan diikuti cerita dalang.
    3. Digunakan untuk tanda pergantian waktu, baik dari patet nem ke patet sanga, atau dari patet swanga ke patet manyura dengan mengubah posisi kayon dari condong ke kanan menjadi tegak lurus dan terakhir kayon condong ke arah kiri.
    4. Untuk menggambarkan sebuah wahyu dari dewa, atau sebagai angin maupun udara dengan menggerakkan gunungan sesuai arah yang dikehendaki.
    5. Untuk menggambarkan api dengan membalik kayon sehingga yang tampak api membara dari kepala makara.
    6. Untuk menandai berakhirnya pertunjukan dengan menancapkan kayon di tengah-tengah, serta digunakan untuk kepentingan pagelaran sesuai dengan kehendak dalang.

  32. 34 AGUS SUTEJO Oktober 25, 2007 pukul 1:38 pm

    OKEY GW SANGAT SENANG BISA BERKUNJUNG KE SINI AKHIRNYA GW YG JAWA TULEN DIBUANG PEMEMRINTAH KE KALBAR BISA NGEMBACA ARIKEL INI THNGK YOU

  33. 35 Tari Januari 25, 2008 pukul 11:52 am

    Saya pikir gak usah ditanggapi serius komentar RIWAN ini…lah wong bahasa indonesianya saja dicampur aduk dengan “you”. Saya sendiri geli kalau bertemu seseorang yang menggunakan kata “you” dalam pembicaraan. Terkesan tidak sopan, dan sering orang seperti itu “dangkal”. Soalnya memilih sebuah kata untuk mengacu kepada orang saja malas …maaf. (Dan jangan dipacari juga orang seperti itu…sungguh deh…hehe).

    Tari

  34. 36 Dekisugi Januari 26, 2008 pukul 3:14 pm

    mbak tari, tenang aja. itu bukan “you” sbg kata sapaan, kok. itu kan bilang “thank you”. kebetulan aja ngetiknya (saya rasa) keburu2 :D
    tapi saya sendiri juga seneng pake “you” kok. terutama kalo lagi ngomong sama bule

  35. 37 Mohammad Rofik Februari 25, 2008 pukul 7:17 am

    iki opo2 an bae!!! masalah wayang ko’ diributin, sebenarnya yg jadi
    masalah adalah gimana cara melestarikannya? bukan saling tunjuk wayang mana yg lebih bagus!. sebenarnya semuanya bagus tapi yg menilai hanya kita saja bukan orang2, jadi yg pasti “cintailah budaya dalam negeri”

  36. 38 brewok April 17, 2008 pukul 11:52 am

    Saya bangga dan terharu melihat mas-mas yang masih sangat peduli dengan seni dan budaya Jawa,wayang orang,..tapi yaitu tadi,.jangan meributkan gagrak ini,gagrak itu,..karena semua kembali ke masalah selera,…
    Dan yang paling penting,..menuju Pilpres 2009,..mari kita bersatu padu,..satukan langkah dan tekad agar Presiden RI tetap wong Jowo,..dan bukan suku lain,..apalagi suku Sunda,…

  37. 39 pei Juni 4, 2008 pukul 9:29 pm

    Salam kenal… dan salam wayang mas.
    Aku senang ada dialektika tentang wayang disini…

    Walau mungkin berbeda selera, tapi tetep saja seneng bisa ketemu dengan orang yang punya kepedulian dengan wayang.

    Perkara orang lain bilang njiplak dan sebagainya, urusan mereka lah… toh juga cuma anonim.

    regards…

  38. 40 Dalang Jemblung Oktober 1, 2008 pukul 1:03 am

    Salam Sukses
    Yuk para Shobat..kita publikasikan terus kesenaian
    tradisional Jawa berupa Wayang

  39. 41 Sugeng K Maret 16, 2009 pukul 7:42 pm

    Salam kenal. Kula setuju sedaya komentar ingkang wonten nginggil.Jaya jaya dwi pantara tetep jaya ngadhepi bebaya. Nyuwun pangapunten menika semboyanipun Jaya Baya.

  40. 42 surabaya September 16, 2010 pukul 3:22 am

    permisi mas2 dan mbak2,saya memang masih baru dan mungkin masih sangat dangkal dalam pewayangan. tapi saya minta tolong kepada mbak2 dan mas2 yang mungkin ada yang tahu tentang wayang krucil. mungkin bisa berbagi informasi kepada saya lewat email saya. maaf bila meleset dari topiknya. suwun banget.

  41. 43 338a Mei 2, 2014 pukul 3:20 pm

    I feel this is one of the most important information for me.
    And i am satisfied studying your article. However wanna observation
    on few normal issues, The site style is perfect, the articles is in reality excellent : D.
    Excellent process, cheers


  1. 1 Apa Gunanya Aku Bikin Blog? « The Satrianto Show! Lacak balik pada Desember 24, 2006 pukul 2:23 pm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Menyesatkan...

  • 915,692 manusia

Am I A Rockstar?


Anindito Baskoro "Joe" Satrianto. Mahasiswa keren yang lagi belajar jadi bajingan. Menggauli Corel, Adobe, dan Macromedia lebih banyak ketimbang PHP, MySQL, atau VB.Net. Tingkat akhir, dan sedang bingung menyusun skripsi. Waktunya dihabiskan di kantin kampus dan Lab Omah TI, serta sekretariat Himakom UGM sambil ngecengin gadis-gadisnya. Ngganteng, pinter, tapi banyak utang.

Add to Technorati Favorites

RSS E-Books Bajakan? Oho!

  • Sebuah galat telah terjadi; umpan tersebut kemungkinan sedang anjlok. Coba lagi nanti.

Tanggalan

September 2006
S S R K J S M
« Agu   Okt »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  

Astaga! Padahal Keren…

Bundel

Penghuni Jogja Terbaik

Bali Blogger Community

Indonesian Muslim Blogger

Bloggers' Rights at EFF

KampungBlog.com - Kumpulan Blog-Blog Indonesia


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 49 pengikut lainnya.