Temanku yang asli Brebes, yang punya gitar Fender custom, yang motornya Yamaha Crypton dicat biru-kuning, pernah ngomong ke aku, “Urip kie kejem, Bol. Nek ora kejem, koen sing bakalane dikejemi uwong.” Terjemahan bahasa Prancisnya kira-kira begini: Hidup ini kejam, Bol. Kalau nggak kejam, kamu yang bakal dikejami orang.
Tentu saja aku setuju dengan pendapatnya (you’re totally rock, Bro!). Karena itu sampai sekarang aku terus berusaha belajar jadi bajingan. Yep, belajar jadi bajingan! Sampai nanti suatu saat orang yang melihat aku buat pertama kali bisa langsung menyimpulkan aku ini bajingan sejati.
Cuma ya, kok ternyata belajar jadi bajingan itu sulit banget. Aku masih suka nggak tegaan kalau misalnya motorku mesti berhenti di perempatan lampu merah, terus aku terpaksa ngeliat mereka yang minta-minta, atau anak kecil yang (kayaknya dipaksa) ngamen buat mbiayain hidupnya. Sumpah nggak tega!
Dulu banget aku pernah boncengan berdua sama seorang gadis manis. She’s totally my best friend. Nah, kami terpaksa berhenti di perempatan UIN Sunan Kalijaga dan langsung saja disambut oleh para penggemar kami yang biasa mangkal di situ. Selanjutnya, aku ngeluarin selembar lima ratusan lecek yang ada gambar monyetnya buat seorang anak kecil yang sudah repot-repot mau pamer kebolehannya tarik-ulur suara di samping motorku. Nah, setelah anak itu pergi tiba-tiba temanku ini ngomong, “Kalau aku sih, nggak bakal mau ngeluarin uang buat mereka, Tok.” (Ini indikasinya kalau cewek ini benar-benar temanku. Dia manggil aku “Tok”, bukan “Joe”)
Aku cuma mrenges aja sambil nanya apa alasannya. Dan seperti jawaban kaum kapitalis lainnya, dia juga njawab kalau hal-hal yang kayak gitu itu percuma, nggak mendidik, dan toh duit itu nantinya bakalan disetor ke orang yang lebih gede yang nyuruh dia ngamen. Ya, ya, ya, pendapatnya itu nggak salah, bahkan mungkin 100% benar.
OK! Aku nggak lagi mbahas pendapat temanku itu benar atau salah. Yang pengen aku tekankan di sini adalah bahwa aku ternyata masih aja nggak tegaan kalau ngeliat keadaan yang kayak gitu, meskipun sekarang akhirnya aku bisa buat mengurangi kadar kasihanku dan hanya kudedikasikan buat mereka yang benar-benar kelihatan melasi. Yang pengen aku tekankan adalah bahwa jalanku buat jadi seorang bajingan masih panjang dan berangin.
Kenapa aku pengen jadi bajingan? Sebenarnya alasannya cuma satu. Lagi-lagi ini kucatut dari pandangan temanku yang punya gitar Fender tadi. Dia bilang, mending kita dinilai bajingan sama orang daripada dinilai sebagai orang alim, soalnya kalau kita dinilai bajingan, ketika kita berbuat salah, orang lain bakal maklum, “Oh, anaknya memang bajingan. Nggak heran kalau kelakuannya kayak gitu.” Bandingkan aja kalau selama ini kita dinilai alim dan tiba-tiba melakukan satu hal yang dianggap salah menurut pandangan umum. Dunia bakal terkejut, Saudaraku!
Maka dengan bangga, aku memproklamirkan kalau hal itu juga menjadi alasanku kenapa aku pengen jadi seorang bajingan. Manusia itu gudang dosa, dan wajar aja kalau sesekali kita pernah melakukan dosa karena dosa itu biasanya enak. Maka kalau sesekali kita keenakan bikin dosa tanpa sadar, hal itu wajar-wajar aja menurutku. Yang penting adalah bagaimana kita meminimalisir jumlah dosa yang kita perbuat. Makanya juga aku nggak mau dinilai sebagai orang alim yang ketika kita nggak sengaja bikin dosa, dunia akan mencerca kita.
Tapi ternyata aku juga masih suka tersinggung kalau ternyata komunitasku buat ngumpul selama ini dihujat sebagai gudang maksiat. Nggak tau juga kenapa bisa gitu? Aku masih menerima kalau yang dituding maksiat itu oknum-oknumnya, asal jangan komunitasnya. Apalagi kalau sebenarnya kami di situ nggak pernah melakukan hal-hal yang merugikan apalagi sampai membahayakan nyawa orang lain.
Aku masih menganggap hal itu tidak adil buat teman-temanku yang lain yang sebenarnya nggak secuwawakan, seyak-yakan, sepecicilan aku. Ketika komunitasku dituding sebagai tempat maksiat, mereka juga kena imbasnya, padahal aku percaya mereka nyentuh botol vodka aja belum pernah. Apalagi nyentuh vodka yang sudah dicampur sama Kratingdaeng plus Green Sands.
Hal-hal yang seperti itu yang membuat aku nggak pernah suka sama kelompok-kelompok eksklusif yang menyebut dirinya sebagai kumpulan orang-orang alim. Mereka nyacat sana-sini tanpa sadar kalau mereka juga sangat rentan untuk bisa berbuat dosa. Beranggapan merekalah para pejuang-pejuang penentang dosa sampai-sampai membatasi pergaulan mereka dari orang-orang yang dicap sebagai pendosa.
Mereka goblok! Kalau dianalisis lebih dalam lagi, apa gunanya mereka menasbihkan diri mereka sebagai pejuang kalau ternyata mereka tidak mau terlibat dalam pertempuran yang sebenarnya? Emha Ainun Nadjib pernah ngomong yang kira-kira kaya gini, “Berdakwah di hadapan orang-orang alim itu gampang. Tanpa ngomong apapun, mereka sudah tau apa yang harus dilakukan setelah ini. Justru lebih bermanfaat kalau kita berdakwah kepada orang-orang yang selama ini kita anggap banyak dosa.” Makanya jangan heran kalau kita nantinya tahu jamaah Pengajian Padang Bulan-nya Emha itu justru kebanyakan pelacur, preman, bajingan, dan sebagainya. Apa gunanya orang-orang sok eksklusif itu sibuk ngadain acara-acara keagamaan ini-itu tapi nggak berani turun di pertarungan sebenarnya malah justru nyacat komunitas orang lain dari belakang.
Aku nggak suka sama eksklusifitas kayak gitu. Nggak pernah suka! 4 tahun aku kuliah di Gadjah Mada, di fakultas yang menurut orang-orang pejuang-pejuang Islamnya paling militan, belum pernah ada satupun dari mereka yang nekat berani ngundang aku ke acara-acara keagamaan yang diadain sama mereka.
Lebih nggak suka lagi sama mereka yang teriak-teriak, “Ayo kita kembali ke sistem pemerintahan Islam. Ke kekhalifahan!” tapi sama sekali nggak mau berusaha secara riil melakukan perbaikan moral buat lingkungannya. Rasanya pengen nyobek-nyobek poster mereka setiap mereka nempel poster di kampus! Mana sih, yang lebih penting, sistem pemerintahan atau moral masyarakatnya dulu? Nabi Muhammad aja berjuang memperbaiki moral masyarakat Mekkah duluan, setelah itu baru hijrah ke Madinah.
Aku juga nggak suka sama orang-orang yang saking pengen menghindar dari dosa justru mengelak ketika diberi tanggung jawab. Padahal yang ngasih tanggung jawab sudah mempertimbangkan, “Ah, kalau si itu kan orangnya baik. Kalau acara ini dipegang dia kayaknya bakalan beres, deh.”
Tapi ternyata mereka justru mati-matian nolak walaupun sudah dimintai tolong berkali-kali hanya dengan alasan takut nggak amanah. Hei, itu betul. Tapi apa gunanya mereka jadi orang baik sendirian yang nggak bermanfaat buat lingkungannya? Sebenarnya mereka bisa melakukan sesuatu, tapi memilih diam daripada mereka ikut-ikutan (kalau ternyata nantinya) keseret dosa. Egois! Cuma nyari selamat sendiri. Itu yang mereka agung-agungkan kalau mereka mengikuti jalan Nabi? Prek, Su! Go to hell with your prophet! Orang yang mereka anggap Nabi mereka sudah tentu nggak akan tinggal diam kalau melihat keadaan yang kayak sekarang. Maka pertanyaannya adalah: siapa Nabi mereka? Sekali lagi, go to hell with your prophet, kalau masih tetap kayak gitu!
Yah, maka dari itu sampai sekarang aku masih berpikiran lebih baik orang lain menilai aku sebagai seorang bajingan besar, tukang bikin onar. Toh yang tau apa isi hatiku dan apa yang pengen kulakukan cuma aku sendiri dan Penciptaku. Aku nggak terlalu butuh penghargaan dari orang lain, biarkan Penciptaku yang menilai keberadaanku. Tapi ternyata, jalanku menjadi seorang bajingan masih terlalu panjang dan berangin.













prek su…..
)
prek juga
blog ku dicantolke blog mu cah
halo jo…muach..
anoedie.wordpress.com
Nunut, dab
anoedie.wordpress.com
nunut opo kie? nunut ta’lebokke link-e? hehehehehehe
Wuaaaaw, go to hell with your prophet?
)
*untungmbacanyalengkap*
seep! salam bajingan!
wadehel:::
hahahaha, sudah cukup radikal kah?
black_hack:::
salam bajingan juga!
wah, nama kita samaaa yaaa ???
lho, iya…kok bisa sama ya? padahal kupikir namaku cukup langka. dunia memang sempit
sastrianto baja hitam
kotaro miyabi, eh kotaro minami?
salut bwt pendirian kamu.. daripada orang yg ga punya pendirian.. aku jg mau kayak kamu
huehe…jadi kepengen malu
Numpang nimbrung nih Mas…
@ joesatch
Saya baru sadar ketika ada tulisan sebagus ini di blog Anda. OK, kembali ke laptop.
Kenapa mendadak (sebenarnya tidak) ingin menjadi bajingan? Jangan jawab “karena teman saya yang punya gitar Fender custom bilang seperti itu”. Tapi, saya kurang bisa mengangkap alasan mengapa Anda ingin menjadi bajingan, walau saya sudah baca tulisan Anda sampai akhir berulang-ulang sambil menahan dinginnya ubin teras kampus utara kita yang jarang saya datangi kecuali ingin mendapatkan akses internet gratis ini, bahkan sampai saya menyimpan halaman ini dan membacanya di rumah. Entah saya yang anak desa bodoh atau karena Anda terlalu menggunakan kata2 yang kurang bisa orang awam seperti saya cermati.
Ketika saya mengunjungi wikipedia Indonesia untuk tau arti dari kata bajingan, saya tidak menemukan artikel yang sesuai. Ketika saya juga mencari dengan Pak Lek Google, saya terlalu malas dan tidak tergoda untuk membaca sekitar 29400 hasil pencarian dan mengorbankan waktu saya yang hanya 2 jam setengah ini. Mbok ya lain kali kalau mau nulis itu ada pendahuluan, pengertian dan sebagainya. Hitung2 juga latihan menulis secara struktural sebagai bahan untuk buat skripsi, wekekekeke. Sorry, ga ada hubungannya.
Dengan kata beda, tidak ada STANDAR bahwa seseorang itu pantas dianggap bajingan. Seperti tidak ada STANDAR untuk derajat ALIM. ALIM itu BUKAN punya jidat yang hitam, bukan karena hapal lebih dari satu juz kitab (saya katakan kitab, soalnya ada yang tidak puas dengan hanya menghapal 1 juz kitab agamanya sendiri, sampai2 hapal isi kitab agama orang lain), dan bukan pula karena penampilan yang sufistik. Begini juga dengan BAJINGAN, ga ada STANDARnya Man! Bajingan itu TIDAK identik dengan sok gonta-ganti pacar, punya tato bejibun (kalau ini dimasukin jadi standar, berarti keinginan saya menjadi bajingan lumayan tercapai, walau sekarang saya sudah berhasil menghilangkan “simbol” sejenis itu tanpa bekas), atau tukang bikin onar (wah, lagi2 saya dapet poin dari sini kalo seandainya ini dijadikan standar. Hla wong yang benci dengan saya banyak kok), atau pernah merokok atau minum2 (wah ini juga saya
biasapernah). So, mungkin keinginan kita berdua akan semakin panjang, tak ada hentinya, dan seperti yang Anda katakan, berangin.Paragraf di atas saya maksudkan untuk mendukung Anda, karena kita mungkin di banyak sisi memiliki kesamaan. Sama-sama pernah dikecewakan mungkin? Nah, sekarang paragraf ini saya maksudkan untuk “menentang” Anda sedikit sahaja. Dulu, waktu zaman Rasul, ada yang ikut perang Badar, itu adalah perang yang keren sekeren-kerennya perang, karena dahsyat dan berlangsung waktu bulan puasa. Rasul mengizinkan para sahabat untuk membatalkan puasa, karena kondisi perang. Tapi, apa kata sahabat? “Nggak Bos! Guwa pengen perang bareng elo. Pokoknya ga pake macem2 alasan dah! Puasa sekaligus perang!” (penerjemahan bahasa Arab yang ngawur, jangan terlalu dicermati serius). Bayangin coba, dikasih kemudahan tapi malah makin jago dengan semangat dan motivasi prima. Dan tahukan Anda bahwa makna perang ini sangat dalam banget sekali? Dari sini Sang Pembawa Risalah jadi tahu, siapa yang sebenernya munafik dan siapa yang sebenernya setia, mungkin hubungannya dengan musyawarah yang dihadiri hanya oleh para direksi alias sahabat2 Nabi yang keren2 saja (silahkan baca lebih lanjut dari Shirah Nabawiyah). Nah, dari sini langsung saya kaitkan dengan tulisan Anda
“Hal-hal yang seperti itu yang membuat aku nggak pernah suka sama kelompok-kelompok eksklusif yang menyebut dirinya sebagai kumpulan orang-orang alim. Mereka nyacat sana-sini tanpa sadar kalau mereka juga sangat rentan untuk bisa berbuat dosa. Beranggapan merekalah para pejuang-pejuang penentang dosa sampai-sampai membatasi pergaulan mereka dari orang-orang yang dicap sebagai pendosa.”
Di sini saya membagi orang-orang yang Anda bilang exclusive itu menjadi dua golongan, yang benar2 alim (‘alim = ‘ilmu = berilmu = berpengetahuan, kaitannya dengan ilmu/pengetahuan agama. Setidaknya saya pernah belajar bahasa Arab sedikit waktu zaman SMA dulu) dan yang ngikut2 sok alim saja. Lalu, bagaimana membedakan antara yang benar2 alim (kita harus tahu bahwa tidak semua yang kita sebut sok alim itu bejat. Kadang2 kita harus sadar bahwa ada orang2 yang jauh lebih berilmu daripada kita) dan mana yang cuma sok ngintil? Kaitannya dengan cerita perang Badar di atas, kita bisa tau dengan serangkaian tes sederhana. Kata Rasul, orang munafik itu tidak akan lama2 kalo beramal, pengennya yang cepet and instan sahaja. “Jika kamu melihat mereka sholat, maka kamu melihat mereka mengerjakannya dengan cepat dan malas”. Dan kelompok bajingan saya juga bagi menjadi dua, yang benar2 bajingan dan yang sok bajingan karena ingin keluar dari semua hal yang sucks. Dan kelompok yang saya sebut terakhir ini, wajar muncul di umur 18 sampai 25 tahun. Muncul karena ingin berontak, ato mungkin karena reaksi dari tumpukan kekecewaan yang sudah menahun, atau mungkin karena sudah menderita apa yang dinamakan “stop trusting people syndrome” yaitu penyakit yang muncul karena beberapa hal, dan sebagai akibatnya menjadi apa yang dibilang teman Anda itu soal dunia. “Dunia ini kejam, takdir itu kejam, aku ini memang pecundang dan aku harus bangkit melawan sebagai seorang bajingan”, dan sejuta ungkapan lain yang merefleksikan bahwa kita menganggap dunia (dan Tuhan mungkin) tidak adil, atau karena dalam masa bimbang dan kosong tanpa visi. Dan mungkin saya (atau mungkin juga Anda) termasuk golongan yang terakhir saya sebutkan.
Jadi, sebagai paragraf penutup akan saya sampaikan beberapa kesimpulan (sok menyimpulkan, seperti biasa).
0. Jalan menuju surga itu banyak banget Pren (kok daku jadi sok ustad begini?), ga musti lewat LDK, atau Forum or ORMAS agama ini. Masak sih Allah sebegitu kejamnya menjadikan kita yang berkontribusi besar terhadap agama ini dengan membuat tulisan
yang menurut ego diriberkualitas ini merasakan siksa di nerakaNya, sedangkan orang yang kerjaannya cuma jaga masjid, adzan, terus tidur2an sambil dzikir masuk sorga?? GA MUNGKIN! Alah itu Maha Adil Pren! Allah itu Maha Adil! Demi umurku, Allah Maha Adil!! Ga mungkin kita dimasukin neraka. Kan kita banyak pahalanya? Misal buat tutorial di blog, memberi sara agar berpoligami, ngajarin orang Linux, dsb,dll,dkk,MSc.Phd.1. Jadi bajingan kadang2 perlu, untuk menunjukkan existence kita. Menunjukkan kalo kita itu hidup, berkembang biak, dan berkontribusi besar terhadap keseimbangan alam. Tapi, jangan sampai kita terlalu jauh atau lama tidak sadar, terjerembab dalam jurang nista di alam bajingan sebenarnya, soalnya ntar balik lagi ke dunia yang indah dan penuh teman itu sulit, sesulit orang buntung membalik telapak tangan. Boleh saja kita berkeliaran sebagai bajingan, asal tidak melenceng dari aturan Tuhan, aturan Sang Manusia Sempurna, dan aturan orang2 yang kita tahu pasti kebenaran dan kebiasaan mereka, bukan orang2 yang melabeli diri dengan gelaran ustad tapi sholat subuh ga pernah di masjid. Boleh saja kita melabeli diri dengan bangganya sebagai seorang bajingan, tapi jangan sampe lupa kerjaan utama kita, sembahyang mengaji. Tapi jangan bikin kita sakit hati. Kita beri sekali orang bisa mati. Aduh sialan…
2. Kata guru mengaji saya, “Kamu itu tidak cocok di LDK! Tapi, ingat! Jangan sampai kamu berhenti mengaji! Dan tetaplah punya kontribusi untuk Islam”. Du yu get mai point? Maksudnya boleh aja kita ga bergerak di jalur dakwah resmi seperti di organisasi utara itu Man… Tapi, kita musti ingat. Kita harus punya andil untuk orang banyak, apalagi ummat kita sendiri yang pengen belajar komputer misalnya. Dakwahnya seorang bajingan mungkin. Dakwahnya seorang yang mungkin tidak diperhatikan, dakwahnya seorang mantan preman. Dan dakwah itu maknanya luas. Bahkan orang yang bilang “Dakwah,dakwah.. Ga penting kalee!” itu sebenarnya sedang berdakwah. Apa dakwahnya? Ya itu, supaya orang2 ga berdakwah. Intinya, dakwah itu makna and pengertiannya luas banget.
Mungkin segitu dulu bacot saya, lain kali disambung lagi (hlo?).
Mohon maaf yang sebesar-besarnya kalo ada salah2 kata, maklum daku ga punya blog ^_^ \V/.
CMIIW
Pramur:::
Mbok bikin blog sendiri. sayang lho, kalo punya pemikiran bagus cuma dipendam, kekekeke!.
Oke, gini, latar belakangnya aku bikin tulisan ini adalah ketika aku tau seorang teman (putri) ditanya oleh salah seorang teman dr sebuah organisasi berbasis agama, “***, kamu aktif di Himakom juga ya?”
“Iya, Mbak. Memangnya kenapa?”
“Lho, itu kan tempat maksiat.”
Masya Allah… Waktu itu aku pengen ngamuk aja denger ceritanya. Bisa dibayangin gimana keselnya aku yang hampir 5 tahun di Himakom begitu denger kesimpulan kayak gitu dari anak kemarin sore.
Standar bajingan memang absurd, mas. Tapi kalo dengan penampilan fisik seperti saya sudah bisa mendapat cap bajingan dari “mereka2″ itu, biarlah, saya lebih seneng dicap seperti itu sama mereka daripada dicap sebagai orang alim menurut versi mereka
Dengan cap bajingan versi mereka, aku bisa bebas bertindak sbg bajingan dengan tingkah bajingan karena aku memang bajingan dalam kacamata mereka. Toh yang bisa menilai aku bajingan atau bukan secara mutlak nanti ya cuma Tuhanku.
Don’t judge a book by its cover.
Kenyataannya banyak yang masih mentingin cover daripada isi! Apalagi di sini yang menganut budaya ketimur
tengahan. Asumsinya selalu “kalo dari penampilan luarnya aja udah berantakan gimana dalamnya?”.Saya rasa blog memang lebih cocok buat mereka yang mentingin isi.
keren..bener2 keren… saya juga berusaha jadi ‘penjahat’ tapi sampe sekarang belum ada yang ngakui saya ini penjahat…dasar tempe…!!!
@ pramur
Setuju mur..lha mbok sampe jamuran ga masuk ormas gapapa koq, asal ibadah jalan, maksiat hilang..huaha..huaha..huahahahahahaha
saya juga masih tempe kok, meskipun sebenernya lebih suka tahu bakso
jadi penjahatnya nggak usah dipaksain, mas. apalah artinya sebuah profesi yang lahir dari keterpaksaan, hahaha!
tanyakan pada dunia, siapa pendekar yang ksatria?
sorry bro…aku mau jujur nih
pertama lihat fotomu memang kamu kelihatan bajingan tp setelah baca ttg pemikiran2mu menurutku lu itu orang yg pny pendirian n trgolong kaum pemikir…
jadi ingat waktu aku masih muda dulu (kakaka huek…emang skrg aku sdh tua) aku jg sering dianggap aliran sesat hehehe…:D
pokoké dont judge from the cover lah….
btw i take my hat off to you dah…cuman pesan gue (sorry bukannya menasehati)…berhati-hatilah dengan pemikiranmu
waduh sorry aku g mmbaca semua comment di atas…tryt sdh ada yg nulis apa yg aku katakan… Sorry buat Amd …aku g baca tulisanmu …
aku g bermaksut njiplak…tp berarti pemikiran kita sama ya…
PEACE BRO
Makasih buat pujiannya, hahaha…
Aku tidak sebaik pejuang-pejuang riil di dunia nyata di luar sana, kok. Sedikit banyak, mereka menginspirasiku.
Terimakasih juga buat nasehatnya. Selanjutnya saya akan mencoba untuk selalu berhati2
sejak kapan himakom jadi tempat maksiat?
Ini anak mana? KMFM?
Kayaknya zaman gue, KMFM dan Himakom baik-baik saja..
Apa alasannya bilang himakom tempat maksiat?
Ahahaha…
Aku nggak mau nyebut merk. KMFM, JS, KAMMI, atau apapun itu silahkan dikira-kira sendiri, Mas Nar.
Aku sendiri juga nggak tau alasannya apa. Mungkin gara2 akulah yang sekarang jadi ikon Himakom (huehehehe…). Bisa diliat kan interface-ku kayak apa. Mungkin juga gara2 skrg Himakom sering bikin acara-acara kejutan yang nggak lazim diadakan di MIPA yang mungkin dinilai oleh sebagian orang sangat dekat dengan budaya jahiliyah
Hal-hal yang seperti itu yang membuat aku nggak pernah suka sama kelompok-kelompok eksklusif yang menyebut dirinya sebagai kumpulan orang-orang alim. Mereka nyacat sana-sini tanpa sadar kalau mereka juga sangat rentan untuk bisa berbuat dosa. Beranggapan merekalah para pejuang-pejuang penentang dosa sampai-sampai membatasi pergaulan mereka dari orang-orang yang dicap sebagai pendosa.
memang !!!
mereka seperti salah seorang salafy di wordpress yg mengolok2 orang2 seperti kita sebagai islam bodoh…
mungkin dia berpikir dialah orang paling pandai se galaksi (kata si ceper)
pancen keminter…
tapi soal interfacemu memang tak ada yg bisa diperbaiki…
bahkan filter2 photoshop akan menyerah melihat GUI anda yang kacau balau
tentang panjang **** (nama band) yg kurang proporsional pun ilustrator akan menyerah
hahaaa
mungkin anda berpikir saya memang bajingan !!!
Hehehe, tulisan-tulisan yang ada di kolom ini sepenuhnya progressive
Mungkin memang cocok dengan karakter kamu. Cool, espressoHOT!
Salam kenal,
Cool…
azwin bajingan 2005:::
saya harus manggil apa nih, mas/mbak? salam kenal juga
mbuh ah, win. sing jelas kowe belum layak menyandang gelar bajingan. anda belum sedahsyat saya, kakaka!
Betha:::
makasih
huaaaa keren postingannya! Saya sangat mengagumi jalan pikiran anda! Saya bahkan pengen jadi seperti anda, tapi sayang belum punya kemampuan untuk menulis dan mengekspresikan pendapat dengan baik dan benar
mohon bantuannya mas!
jangan!
jangan seperti saya…
sulit dapet cewek lho nanti…
hayo…masih mau nekat???
“silent please”
aku babar blasz gak dong.soalnya proc di otakku p 2 je. tapi kayaknya bagus jg tuh coretan2 gorenk ny
Lha nek nggonku, bajingan iku artine supir grobak je… (gak nyambung ha?)
hihihi… lucu nih idenya.
sak karepmu wae lah, dab. arep dadi bajingan yo terseraaah…hidup itu cuma soal pilihan. bukan begitu??
salam kenal
Mestinya Kang Anto Salafy baca ini dulu sebelum menulis tentang Sampeyan.
hehehe, wis ta’saranke kok, kang. tapi kayaknya nggak dilaksanakan. kan saran-sarannya ahlul bid’ah dan orang kafir nggak boleh boleh diikuti
hasil saya dr nge-Googlewar:
Marry the dangerous guy vs Marry the good guy= 8,430,000 results : 36,300,000 results
That is why girls flirt with the dangerous guy, but they don’t bring him home… they marry the good guy.
kowe ki pancen bajingan tenan..
kumala:::
saya juga blm siap nikah kok, mbak/mas. masih seneng 1 nite stand, kekekekeke
caplang:::
terima kasih. artinya saya sudah hampir berhasil, kan?
Semoga Lo juga nggak takut disebut bajingan oleh calon mertuamu. Kalo masih takut juga, ya bajingan tempe.
Lagi2 masalah istilah. Tempe khan bergizi.
Bajingan tulen adalah yang pengen nikah juga sama bajingan, pengen mendidik anak-anaknya juga menjadi bajingan.
Jika ngaku bajingan tapi masih mencari wanita baik-baik, dan ingin mendidik anak-anaknya menjadi orang baik-baik, ya namanya bajingan tempe.
Lagi2 masalah istilah. Tempe khan bergizi.
hehehe…
standar bajingan itu absurd lho. nggak pa-pa kok kalo simbah mau memakai definisi simbah sendiri ttg bajingan.
tapi anda benar, kok. saya memang pengen menikahi gadis yang memiliki pola pikir “bajingan” seperti saya, dan saya juga pgn mendidik anak2 saya besok sebagai “bajingan juga” seperti bapaknya.
Oalah, Joe, joe baru dikomentari gitu aja udah buru-buru kasih tanda petik. Padahal sebelumnya dari seluruh kata bajingan mu gak ono tondo petik e.
Loe gak fair. Untuk dirimu sendiri maunya bajingan tanpa tanda petik, buat istri dan anakmu kau kasih bajingan dengan tanda petik.
Kalo begitu, declare donk bajingan macam apa yang kau mangsud. Kalo yang kau maksud bajingan adalah membela kebenaran, membela kaum lemah dsb, yo aku gak usah komentar banyak-banyak di blog ini. Tapi bagaimanapun itu sebuah definisi aneh.
PILIHAN I. Saya sekuat tenaga ingin menjadi orang baik. Apakah orang lain mau menyebutku alim atau bajingan its is not variable. Jadi kalo suatu saat aku lalai, apakah “orang lain bakal maklum” ato apakah “dunia bakal terkejut, Saudaraku!”, its not variable too. Dua2 nya akan saya hadapi.
PILIHAN II. Declare saja saya ingin menjadi bajingan, karena dengan itu tiap kali saya melakukan kesalahan itu lebig mudah bagi saya ubtuk mendapat permakluman orang; “Oh, anaknya memang bajingan. Nggak heran kalau kelakuannya kayak gitu”
Sekali-kali coba PILIHAN I Joe. Dijamin tidak kalah “berangin” dibanding PILIHAN II. Terutama jika anginnya adalah orang-orang seperti loe.
oalah…mbah, maksud saya ngasih tanda petik itu cuma untuk membedakan standar bajingan versi saya dan versi mbah. soale standar bajingan itu absurd, mbah.
mungkin mbah menganggap itu sebagai hal yang aneh karena mbah selama ini cuma mengenal 1 sudut pandang tentang definisi bajingan. wah, kalo seandainya memang begitu, celaka, mbah. hidup ini nggak cuma hitam putih. di corel draw aja kita bisa lihat, ada 80% black, 60% black, 40% black, 20% black, dan lain2.
lho, kayaknya saya sudah mendeklarasikan bajingan yang saya mangsud lewat tulisan saya di atas. sampun diwaos dereng, mbah? jangan2 malah cuma dibaca sekilas
Sebuah definisi yang aneh? Ya jelas, mbah. wong sejak awal, standar bajingan itu memang absurd
kalo ndak percaya, coba mbah install corel draw. versi terbarunya sudah sampai x3 skrg. fitur2nya bener bikin nikmat, contohnya: untuk ngetrace suatu gambar, kita nggak perlu buka corel trace lagi, cukup lewat corel draw-nya. mau motong gambar bitmap juga udah bisa langsung di corel draw. ndak kayak sebelum ini yang harus buka corel photo-paint dulu
BTW, gimana kabarnya departemen keuangan?
Yo karena yang nulis saya, otomatis itu sudut pandang saya. Tapi bukan berarti saya tidak paham bahwa ada definisi dari sudut pandang laen. 100% sadar (ora semaput). Tapi gak perlu ditulis panjang lebar tho.
Podo wae profilmu : “Ngganteng, pinter”.Mungkin Joe menganggap itu sebagai Ngganteng, pinter karena Joe selama ini cuma mengenal 1 sudut pandang tentang definisi Ngganteng, pinter. Wah, kalo seandainya memang begitu, celaka, Joe.
Bukankah loe gak perlu menulis “Ngganteng, pinter menurut sudut pandang saya “.
Sorry pertanyaanmu rung dijawab. Kabar Depkeu baek dan semakin baek. Di sini Jalan Panjang Menjadi Orang Baek 1000 kali lebih berangin daripada Jalan Panjang Menjadi Bajingan. Jadi disini orang-orang seperti Joe malah pasaran.
Sorry lagi untuk komentarku barusan. Takut loe protes lagi. Orang Baek dan Bajingan di atas menurut sudut pandangku. Okay ?
Sorry lagi, untuk komentarku barusan. Takut loe protes lagi. Orang Baek dan Bajingan di atas menurut sudut pandangku. Okay ?
Ah, saya ngganteng dan pinter bukan menurut saya, kok
gadis2 itu yang bilang demikian.
Bagus dunk, kalo depkeu jadi banyak orang2 yang seperti aku: para bajingan yang tidak butuh penilaian dari orang lain sebagai orang baik. orang2 yang melakukan hal yang dilakukannya dengan penuh tanggung jawab dan konsekuensi pribadi, dengan hasil dan penilaian akhir 100% dipasrahkan pada Yang di Atas.
Masalahe ngene Joe. Aku kurang paham teori dan filosofi yang muluk2, dalil, ayat dan haditsnya. Cuma ini dari pengalaman dan pengamatan pribadi aja. Setelah di kantor justru mereka yang waktu di kampus kau goblok-goblok kan, kau bilang ekslusif itu yang berani tidak korupsi di tengah-tengah lingkungan yang korup, berani menolak suap ditengah-tengah birokrat pemeras. Sedang yang dikampus mbajing (menurut sudut pandangku) setelah punya duit sendiri tansoyo ndadi. Ibarate jaman neng kampus bahan bakare solar, saiki pertamax plus. Aku durung nemoni sing waktu di kampus mendeklarasikan diri sebagai bajingan (menurut sudut pandangku) lalu setelah di kantor berani tidak korupsi di tengah komunitas korup. BTW mugo2 ini cuma kasuistik aja.
Tentu saja Joe juga bisa kasih contoh yang di kampus alim (menurut sudut pandang siapa ?) setelah kerja malah dadi ngedan (menurut sudut pandang siapa?)
“Cuma ya, kok ternyata belajar jadi bajingan itu sulit banget. Aku masih suka nggak tegaan kalau misalnya motorku mesti berhenti di perempatan lampu merah, terus aku terpaksa ngeliat mereka yang minta-minta, atau anak kecil yang (kayaknya dipaksa) ngamen buat mbiayain hidupnya. Sumpah nggak tega!”
# Jika sudah jadi bajingan = tega ?
Apakah ini salah satu definisimu ? Tulung koreksi kalo alur logikaku salah
“Hidup ini kejam, Bol. Kalau nggak kejam, kamu yang bakal dikejami orang. Tentu saja aku setuju dengan pendapatnya (you’re totally rock, Bro!). Karena itu sampai sekarang aku terus berusaha belajar jadi bajingan.”
# Bajingan = kejam -> Joe pengen jadi bajingan -> Joe pengen jadi orang kejam
Apakah ini salah satu definisimu ? Tulung koreksi kalo alur logikaku salah
PERNYATAAN I :
“dengan hasil dan penilaian akhir 100% dipasrahkan pada Yang di Atas.
# Kesimpulan : Joe hanya peduli penilaian Yang di Atas.
PERNYATAAN II :
“Sampai nanti suatu saat orang yang melihat aku buat pertama kali bisa langsung menyimpulkan aku ini bajingan sejati”
# Kesimpulan : Joe pengen dinilai orang sebagai bajingan sejati.
# Kesimpulan akhir : PERNYATAAN I tidak konsisten dengan PERNYATAAN II ? Tulung koreksi kalo alur logikaku salah
jelas! jelas sekali, saya bakal akan kelihatan tega dan kejam.
saya selalu bercita2 dan kalo bisa, nggak perlu ada manusia yang tau kebaikan saya. saya nggak pengen jadi orang baik cuma gara2 pengen dilihat dan dinilai oleh orang lain sebagai orang baik.
nah, sampai sini sudah cukup jelas? sebenernya harusnya udah cukup jelas dari jauh2 hari kalo simbah mencermati baik-baik paragraf terakhir tulisan saya di atas
Moral story dari comment2 ku hanyalah : Orang yang masih pengen disebut bajingan (apalagi dengan embel-embel sejati, huek!) karena kebajingannya sama kekanak-kanakannya dengan orang yang masih pengen disebut alim karena kealiamannya.
Semoga dengan bertambahnya umur Joe semakin bijaksana. Maju terus Joe !
ah, bener juga ya…
tapi setidaknya menurutku lebih baik dari orang yang berbuat baik cuma gara2 pgn pamer dan dipuji kebaikannya. iya tak?
“Hidup ini kejam, Bol. Kalau nggak kejam, kamu yang bakal dikejami orang”.
Lha wong kalimate jelas ngono koq Joe. “Kalau nggak kejam, kamu yang bakal dikejami orang”. Bukan “Kalau nggak KELIHATAN kejam, kamu yang bakal dikejami orang.
“Ah, bener juga ya…
tapi setidaknya menurutku lebih baik dari orang yang berbuat baik cuma gara2 pgn pamer dan dipuji kebaikannya. iya tak? ”
I don’t think so. Bukan lebih baik. Tapi sama-sama buruk. I hope you get my point.
ah…ah…
bukan dari maksud keseluruhan tulisan.
anda tipe orang yang suka mengambil kesimpulan dari kalimat sepotong2, mbah
kalo tulisan saya yang ini aja sulit anda pahami, saya mohon, jgn baca tulisan saya yang lain. anda bisa semakin tersesat
Selalu ada jurus pengalihan, bukan komentarnya yang ditanggapi, tapi Si Pengomentar yang di judge.
Sorry Joe, gaweyan wis nunggu. Kapan-kapan ketemu maneh, cangkruk sing luwih gayeng.
wahahahahaha…
dan damai2 saja. lain kali coba dibaca (atau diresapi?) dulu tulisan saya sampai selesai. memang agak “susah” mungkin. penuh paradoks, analogi, satir, ironi, dan eufimisme (walaupun menurut saya nggak penuh2 banget sih. generalnya malah sangat gamblang kalo menurut saya)
bukan gitu, mas. tapi jujur, saya judek ngasi taunya. sebenernya semua yang mas tanyakan sudah ada di postingan. cuma memang, mas ngambilnya satu2, nggak keseluruhan isi tulisan. selalu per kalimat. jadinya bolak-balik yang kita bahas muter di situ2 aja.
deduksi ini disimpulkan dari: yang nggak ngerti maksud tulisan saya kayaknya cuma mas aja. buktinya komentator yang lainnya ngerti, tuh
Hai Joe, ngalong gak malem ini ? Oke kita mulai cangkrukan gayeng kita.
“penuh paradoks”? Saya punya istilah yang lebih tepat ; “penuh inkonsistensi”. Menurut saya lho !
Wah, ndak pa-pa kok, mas, kalo memang menurut mas demikian halnya. cuma sayangnya, yang berpendapat kayak gitu cuma mas aja. seandainya saya ini seorang guru, semua murid saya sudah paham kalo 1+1=2 dan ada 1 orang saja yang punya imajinasi sendiri, menurut mas, apa yang harus saya lakukan?
kadang2 saya malah curiga sama murid saya itu. bener2 nggak ngerti atau sekedar pgn mendebat saya dengan debatan yang muter2 di situ2 aja; tidak bisa menerima teori yang saya ajarkan karena “teorinya yang memang nggak sesuai” atau “cuma” karena “sayalah yang memberikan teori itu”? “isi teori” ataukah “pemberi teori”?
soale, murid yang muter2 di situ2 terus, jujur, memang bikin judek
Analogi yang tidak mutlak sempurna. Setidaknya untuk kasus di bawah ini.
Pada abad pertengahan seluruh penduduk Eropa, gereja bahkan menjadi pendapat resmi Paus, meyakini bahwa bumi menjadi pusat tata surya (Teori Geosentris). Ingat seluruh Eropa, bukan hanya pembaca blognya Joe (lebih spesifik lagi hanya komentator Jalan Panjang….). Dalam kungkungan opini seperti itu hanya satu orang yang meyakini bahwa teori itu salah. Dialah Copernicus (19 Pebruari 1473 s/d 24 Mei 1543) pengusung teori Heliosentris yang meyakini mataharilah sebagai pusat tata surya.
Kita sudah tahu khan siapa yang benar ?
wah, nggak tepat juga, mbah. dalam kasus matahari-bumi-sentris itu kan memang membahas tentang benda yang bisa keliatan, bisa dirasakan, dan memang bisa dibuktikan. sedangkan ide2 atau opini adalah benda yang abstrak dan absurd
masalahnya adalah masalah rasa
Piye tho Joe, karena masalahnya masalah rasa aku gak boleh bikin analogi matahari-bumi-sentris yang katamu “memang bisa dibuktikan”. Lha, analogimu sendiri tentang apa ? 1+1=2 khan ? Emang gak bisa dibuktikan ?
Apakah ini bentuk inkonsistensimu yang lain, yang pernah tak singgung sebelumnya ?
memancing, kang…

isinya kalo dilogika memang penuh inkonsistensi.
1+1=2 lebih saya maksudkan tentang tulisan saya ini yang bisa dipahami oleh semua orang kecuali anda. sedangkan heliosentris anda, saya tangkap, sebagai sekedar bentuk penentangan anda, mbah. terlepas dari kedua hal di atas memang bisa dibuktikan, dalam kasus saya ternyata cuma mbah yang ngotot menentang.
.
perlu dicermati juga, dalam kasus copernicus, gereja mengancam bahwa semua pendukung teori heliosentris adalah pelaku bid’ah dan diancam dengan hukuman salib dan dibakar. jadi, penerima paham geosentris pada masa itu lebih menerima paham geosentris dalam keadaan terpaksa, bukan atas dasar landasan pikiran bebas (saya harap mbah juga ingat ttg galileo galilei yang dipaksa menandatangani pernyataan dari gereja bahwa bumi adalah pusat tata surya)
.
pemaksaan paham seperti itu tidak terjadi di blog ini. mbah mau mendukung silahkan, ga juga gpp. tapi keadaannya jadi lain ketika mbah memaksa untuk menyudutkan saya. tentunya sebagai pemilik blog, saya punya “kewajiban” mempertahankan pendapat saya, sekedar untuk menunjukkan bargaining position saya sbg pemilik blog
.
sekarang sudah jelas, kan, kalo masalah rasa nggak bisa dihakimi secara nyata. anda menyebut paradox saya sebagai inkonsistensi. nah, skrg pernah dengar tentang “paradox russel”? (silahkan tanya oom gugel atau hunting di wikipedia)
Saya bisa menangkap keinginan Mbah berdebat hanya untuk menunjukkan hal ini:
Dengan kata lain, mbah cuma pgn menunjukkan kesimpulan mbah yang menganggap saya kekanak-kanakan. Mbah juga nggak setuju kalo orang yang pura2 bajingan lebih baik daripada pura2 alim. Tapi, at the real world, mbah pilih mana, berhadapan dengan orang yang pura2 bajingan atau yang pura2 alim? Mana yang bakal lebih merugikan kita, orang berbaju koko yang mengambil flashdisk 128mb (jaman waktu harganya masih 200ribu) di kamar kos dan bahkan hp di mushola kampus, atau anak muda bertampang awut-awutan, berambut gondrong, djarum super terselip di bibir, celana jeans robek2, anting perak di telinga kiri, yang membantu menyalakan motor kita ketika ngadat di jalan?
.
Yang saya tangkap sejauh ini, mbah cuma memaksa pengen menunjukkan kalo saya salah (setidaknya dengan mengatakan bahwa tulisan saya penuh dengan inkonsistensi. entahlah apakah mbah sudah tau ttg paradox russel itu tadi. padahal kesimpulan tulisan saya seharusnya sudah bisa mbah cermati di paragraf terakhir, seperti halnya komentator yang lain bisa menyimpulkan sama seperti yang saya maksudkan), iya kan?
Kenapa mbah, pernah dirugikan oleh orang bertampang bajingan? kekekekekekeke…
maaf mengganggu diskusi
apakah mbah gambleh terganggu dengan keinginan mas joe jadi bajingan?
saya ga pingin jadi bajingan, lebih milih sesuatu yg lebih “elegan” (sori mas joe, beda jalan)
tapi toh saya ok2 aja sama mas joe
kan dia ga ganggu saya
nah kalo joe ngganggu mas gambleh
baru lah “legal” protes
Maaf -juga- menyelip dikit. Tulisan di posting tgl.7 Juli 2006, kok mulai debat seru antara 2 orang baru dimulai tgl.14 Pebruari 2007 – pas valentine day pula – hehehe .. yang pasti, saya dapat menarik banyak manfaat dari debat kalian berdua.
Kalo boleh saya menganalisa, si mbah cuma mau make sure, apakah seorang bajingan juga berharap istri dan anaknya akan jadi bajingan juga? saya pikir -secara normatif- ga adalah orang mau punya anak seperti itu. Semua ingin anaknya menjadi anak yang soleh. Tapi kalo ada yang pengen anaknya jadi bajingan juga, ya terserah orang tuanya sih hehehe
Trus .. mungkin mas Anto kecewa dengan tuduhan yang diberikan ke kelompoknya. Ya wajarlah kalau reaksi yang keluar seperti yang ditulis diblog itu sejak Juli 2006. Dan mungkin yang perlu kita pahami. Apakah itu orang alim, bajingan, atau apapun istilahnya .. mereka tetap manusia.
Manusia diciptakan Allah memiliki kehendak bebas untuk memilih. Apakah ingin baik atau jahat. Jadi dalam perjalanan hidup, kita akan belajar tentang pilihan tersebut. Jika kita ingin berbuat baik .. ya berbuat baik saja tanpa mesti minta pengakuan -walaupun itu manusiawi- atau jika ingin jadi bajingan .. ya jadi bajingan saja.
Karena pada akhirnya semua kembali ke diri kita masing-masing. Apakah kita sudah benar? Seperti cerita mbah soal teori Geosentris? .. ga ada salahnya menerima .. juga memberi. Dunia akan indah kalau kita semua sama2 saling memberi dan menerima.
Btw .. mbah kok milih tgl.14 Pebruari seh buat kasih komentarnya mas Anto?? padahal sudah di posting sejak Juli 2006 loh .. hehehe .. so sorry pertanyaannya aneh gini gpp kan mbah? mau nanya mbah langsung .. si mbahnya ga ada blog.
mau jadi bajingan ?
Jeburkan dirimu dalam lumpur kenistaan
Dan keringkan tubuhmu dalam udara kejahatan
hehehe salam kenal
Wah, kirain ngasih tips dan trik jadi bajingan.
Jebulnya perasaan bajingan..
he..he..he..
piss bro..
Kata aku yg punya gitar Yamaha bajakan seratus-ribuan, punya motor vespa cat transparan (alias ga punya motor) gini komen singkatnya: Sabar!
Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. Apakah anda tidak menyadari bahwa hari-hari yang anda lewati justru semakin mendekatkan anda kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain?
Seperti yang tercantum dalam ayat “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57) tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang. Saat ini, kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Walaupun demikian, masyarakat pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja.
Coba renungkan seorang bayi yang baru saja membuka matanya di dunia ini dengan seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa terhadap kelahiran dan kematian mereka. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya.
Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati; Allah menjelaskan dalam Quran tentang prilaku manusia pada umumnya terhadap kematian dalam ayat berikut ini:
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62:8)
Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang [dengan kematian]; mereka berpikir tentang: di mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan. Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya!
Ketika kematian dialami oleh seorang manusia, semua “kenyataan” dalam hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan “hari-hari indah” di dunia ini. Renungkanlah segala sesuatu yang anda dapat lakukan saat ini: anda dapat mengedipkan mata anda, menggerakkan badan anda, berbicara, tertawa; semua ini merupakan fungsi tubuh anda. Sekarang renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh anda setelah anda mati nanti.
Dimulai saat anda menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, anda tidak ada apa-apanya lagi selain “seonggok daging”. Tubuh anda yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Dengan dibungkus kain kafan, jenazah anda akan di bawa ke kuburan dalam sebuah peti mati. Sesudah jenazah anda dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi anda. Ini adalah kesudahan cerita anda. Mulai saat ini, anda hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan di kuburan.
Selama bulan-bulan atau tahun-tahun pertama, kuburan anda sering dikunjungi. Seiring dengan berlalunya waktu, hanya sedikit orang yang datang. Beberapa tahun kemudian, tidak seorang pun yang datang mengunjungi.
Sementara itu, keluarga dekat anda akan mengalami kehidupan yang berbeda yang disebabkan oleh kematian anda. Di rumah, ruang dan tempat tidur anda akan kosong. Setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik anda akan disimpan di rumah: baju, sepatu, dan lain-lain yang dulu menjadi milik anda akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas anda di kantor akan dibuang atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian anda. Namun, waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih mengenang anda. Tak lama lagi, generasi baru muncul dan tidak seorang pun dari generasi anda yang masih hidup di muka bumi ini. Apakah anda diingat orang atau tidak, hal tersebut tidak ada gunanya bagi anda.
Sementara semua hal ini terjadi di dunia, jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka.
Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi.
Singkatnya, “onggokkan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, anda – atau lebih tepatnya, jiwa anda – akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari anda – tubuh anda – akan menjadi bagian dari tanah.
Ya, tetapi apa alasan semua hal ini terjadi?
Seandainya Allah ingin, tubuh ini dapat saja tidak membusuk seperti kejadian di atas. Tetapi hal ini justru menyimpan suatu pesan tersembunyi yang sangat penting
Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya – yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini -. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi.
Walaupun setelah melihat kenyataan-kenyataan ini, ternyata mental manusia cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai atau diingininya. Bahkan ia cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas sekali ketika membicarakan kematian. Hanya pemakaman atau kematian tiba-tiba keluarga dekat sajalah yang dapat mengingatkannya [akan kematian]. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan orang lain; dan apa yang mereka [yang mati] alami tidak akan menimpa diri mereka! Semua orang berpikiran, belum saatnya mati dan mereka selalu berpikir selalu masih ada hari esok untuk hidup.
Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi anda membaca artikel ini, anda berharap untuk tidak meninggal setelah anda menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin anda merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya:
Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. 33:16)
Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja.
http://www.denbag.us/?p=154
@atas
intinya apa sih?
warnet mahal nih
ga bisa baca cepet
keliatannya cuma salah naruh komentar, kok, mbrtz
sepakat lah bro.mangkat……..yuuuuuuuk marrriiiiiiiii
He..he.., jumpa lagi Joooeeee !!! Sori lagi komen meneh.
Masih boleh komen tho Joe ? (* Joe njawab : monggo Mbah, mboten usah perkewet !)
# 72 LAMBRTZ
Maaf, saya baru tahu kalo komen di blog ini ternyata harus terganggu dulu.:-(
# 73 ERANDER
Matursuwun, telah mengambil manfaat dari diskusi ini. Salam kenal Nder. Kebetulan saja Nder, gak sengojo milih tanggal.
# 71 JOESATH
“mbah yang ngotot menentang”, “tapi keadaannya jadi lain ketika mbah memaksa untuk menyudutkan saya”. Saya sedih baca kalimatmu ini Joe. Maaf kalo kamu merasakan hal seperti itu. Tidak ada maksud saya ‘ngotot menentang’ atau ‘menyudutkan’. Saya masih merasa mengeluarkan kalimat yang lunak-lunak saja, dan ’strike’ untuk tidak menyerang pribadi. Haram hukumnya bagi saya. Tetapi sepanjang masih ada kelemahan argumen teman (bukan lawan) diskusi ya tentu akan saya ajukan argumen yang lebih baik. Mungkin itu yang kau persepsi sebagai ngotot dan menyudutkan. Karena saya sering diskusi yang lebih keras dari ini, toh teman diskusi saya tidak merasa ditentang dan disudutkan. Mereka hanya merasa “Mbah Gambleh punya pendapat berbeda dari saya’. Itu saja. Tidak lebih. Jadi, sekali lagi maaf.
“Mbah juga nggak setuju kalo orang yang pura2 bajingan lebih baik daripada pura2 alim”. Yo jelas tho Joe. Apa gunanya pura-pura. Lha wong kita hidup di hadapan Allah yang bahkan lintasan dalam hati aja Dia mengetahuinya koq, lalu apa gunanya pura-pura. Kalo kita telah ’sadar diri’ hidup di hadapan Allah, lalu apa lagi yang hendak kau pura-purakan di hadapanNya. Meski itu – mengutip istilahmu -pura2 menjadi bajingan. (tentu ada kondisi yang -bahkan- mengharuskan seseorang untuk berpura-pura : Neng crito jaman perang kae lho Joe, anak buah ditangkep musuh ditanyai ‘dimana komandanmu’, ya tentu harus pura-pura tidak tahu)
“saya punya kewajiban mempertahankan pendapat saya, sekedar untuk menunjukkan bargaining position saya sbg pemilik blog” mungkin lebih bijaksana kalau kalimatnya seperti ini “sejauh ini saya yakin pendapat saya benar sehingga saya mempertahankannya, tetapi jika di perjalanan argumen2 saya runtuh dan ada pendapat lain yang lebih valid, tentu tidak segan-segan akan saya revisi pendapat saya”. Sekadar Joe tahu, ini pula modal awal saya dalam berdiskusi.
Ok, maju terus Joe. Buru-buru diluluske kuliahe.(Opo malah wis lulus ?). Itu salah satu bentuk tanggung jawab kita kepada orang tua yang telah susah payah membesarkan dan mendidik kita sejak kecil. Setelah lulus buruan dateng ke orang tua ‘jilbaber’ mu tercinta itu, kenalkan (ulang ?) dirimu baek-baek ; “Pak, Saya Anindito Baskoro Satrianto, anak muda yang saat ini sedang sekuat tenaga berproses menjadi bajingan sejati, bermaksud menjalin hubungan yang lebih serius dengan putri Bapak”. Wani po ra pake kalimat ini ?
Salam hangat dari Mbah Gambleh (Menggauli Oracle, Ms VFoxpro, PHP, MySQL lebih banyak ketimbang Corel, Adobe, dan Macromedia; walaupun sering menghasilkan uang dengan tiga tool terakhir; walaupun pernah juara pertama lomba lukis tingkat kampus). Sorry rodo-rodo narsis.
wew…pada intinya, pendapat kita memang berbeda kan?
saya tetap berpendapat bahwa lebih baik pura-pura bajingan daripada pura-pura alim. disitulah kompleksnya hidup, kdg2 kita harus memilih pilihan terbaik diantara pilihan-pilihan yang buruk. dan sangat tidak mungkin kalo dalam hidup ini kita tidak pernah dihadapkan pada pilihan2 yang buruk. non sense hidup kita isinya cuma pilihan2 yang baik saja… yeah, kecuali kalo hidup kita cuma diisi dengan makan-tidur di masjid tanpa pernah menggauli realita sosial di sekitar kita.
diskusi yang lebih keras? oho, saya juga sering. tapi mungkin dengan aliran yang berbeda dengan mbah. biasanya kami berdiskusi membicarakan core atau inti permasalahannya. beda dengan diskusi kita di atas. saya menangkap, mbah berkutat dengan tata-bahasa saya yang mbah nilai kacau analoginya. ketika saya bicara tentang bahasa dan majas, saya tidak tau apakah mbah juga sudah mengkajinya (sudah googling tentang paradox russel?
). yeah, intinya kami membicarakan pusat permasalahan, bukan kulit luarnya yang dibungkus tata-kalimat dan bahasa yang kadang2 antara pendebat dan yang didebat bisa saja memiliki penafsiran yang berbeda thd makna kalimat tersebut.
hidup menurut saya sangat kompleks. nggak bisa disamaratakan satu sama lain. di sini perbedaan kita. mbah bilang: sama saja. sama2 pura2. tapi menurut saya beda. ada kadar kepura-puraan yang berbeda di antara keduanya, mana yang lebih baik dan mana yang lebih buruk . lha wong surga dan neraka aja punya derajatnya sendiri-sendiri, sebagai konsekuensi balasan thd perbuatan manusia sesuai dengan kadarnya. kalo semua yang buruk itu sama saja kadarnya, maka Tuhan saya cukuplah menciptakan Jahannam sahaja, tidak perlu Syaqar dan yang lainnya. CMIIW
Dan tentu saja, kepura-puraan yang saya tunjukkan saya sasarkan kepada sesama manusia. Karenanya, di paragraf terakhir postingan saya, saya bilang, saya tidak terlalu butuh penilaian dari manusia. toh yang mengerti isi hati saya yang sebenarnya cuma saya sendiri dan Pencipta saya.
ahahaha, rada narsis nggak pa-pa, kok
saya juga pernah jadi nomer 1 di propinsi bali jaman esempe dulu dalam bidang yang sama tetapi dengan aliran yang sedikit berbeda
salam kenal mas joe dan mbah gambleh…
saya pengamat aja, tapi jadi tergelitik dengan “perang” argumentasi antara mbah gambleh dan mas joe ini….
kalo menurut saya niy…
saya setuju dengan kata-kata mbah gambleh bahwa pura-pura jadi bajingan atau pura-pura jadi alim itu sama saja, dua-duanya tetap pura-pura juga… berarti ada ketidakberanian untuk mengambil sikap menunjukkan jati diri…
kemudian mbah gambleh pingin mengajak mas joe untuk tidak lagi berpura-pura jadi bajingan ya? wong memang mas joe bukan bajingan kok, sama anak kecil minta-minta di prapatan aja nggak tega, menjadi diri sendiri saja, dan nggak usah takut kalo bukan bajingan kemudian berbuat salah lantas bisa bikin geger dunia,
begitu mbah?
ya… ini kan sekedar ajakan dari mbah gambleh,
kita juga harus menghargai pendapat mas joe ini mbah…
mas joe kan sudah memutuskan bahwa dia masih ingin berpura-pura jadi bajingan…. karena mungkin mas joe masih punya ketakutan dalam hati kecilnya, nanti kalo orang-orang tau bahwa saya ini bukan bajingan, saya bisa dikejami dan saya bisa dicela kalo berbuat dosa….
hal ini kan juga dilatarbelakangi muaknya mas joe sama orang-orang yang kelihatannya alim tapi ternyata pada prakteknya NOL BESAR.
mungkin jalan itu yang lebih nyaman untuk mas joe mbah…
manusia itu kan beda-beda mbah…
suatu saat bisa saja mas joe ini berubah pendapatnya..
kan katanya manusia harus senantiasa open mind supaya tidak kerdil/berpikiran sempit toh… jadi biar bisa berkembang kemudian bisa bersaing dengan manusia lain dan tidak tergerus jaman…
ada kata-kata kecil aku dapet dari milis
“Minds are like parachutes,
they work best when open”
jadi menurutku… just be your self mas joe…
kalo sekarang ini mas joe nyaman dengan menjadi seperti itu,
ya jalani aja seperti itu mas…
hanya hati kecilnya mas joe yang paling tau…
*saya wanita biasa (bukan orang “alim” tapi pengen sih suatu saat jadi orang yang deket sama Allah…, semoga saja saat ini juga bukan termasuk bajingan)*
mbak etyk,
memang harusnya kayak gitu, langsung ke core-nya
tapi ndak masalah, kok. toh ini hidup saya. setiap shalat saya juga selalu bilang ke Tuhan saya, “tunjukkanlah kami jalan yang lurus.”
jalannya sudah ditunjukkan. tapi saya juga ndak minta Tuhan saya mengantarkan saya melewati jalan itu. saya cuma minta ditunjukkan jalannya. perkara cara melewatinya, itu urusan masing-masing individu. terserah mau dengan cara berlari, merangkak, ataupun melompat-lompat. dan ternyata, inilah cara saya melewati jalan itu.
makasih buat komennya, mbak. semoga mbah gambleh juga bisa mengerti “isi” komentar mbak. maturnuwun
viva de bajingan !!
manusia menganggap dirinya suci,sama seperti ketika dia sangat-teramat-mencintai sesuatu yang bernama cinta.sehingga pada akhirnya terbutakan oleh rasa yang di agung2kannya tsb.bukankah sesuatu yang berlebihan itu adalah kurang-begitu-baik ?
wong urip gur pisan tok dab,.. make it enjoy !! not perfect.karena manusia ga ada yang sempurna…
saLam kenaL Bro Joe…
akhirnya saya mampir juga ke BLog Anda,
wah wah wah… ternyata “daLem” juga isi diskusi ttg “bajingan” ya…
kLo utk saya pribadi NETRAL aLias tidak memihak,
monggo-monggo sahaja utk menjadi bagian yg mana dLm perjaLanan kehidupan masing-masing.
demikian, kurang&Lebihnya mohon dimakLumi komen yang sekeLumit ini…
terimakasih
wah waaaah…….
luar biasa forum diskusi ini…
stelah sekian lama, masih ada saja yang menanggapi
salut buat kalian semua, terutama kanggo kang JOE!!!
aku juga mahasiswa, tapi masih belum bisa punya pemikiran yang mendalam seperti anda(maklum aja, aku ini mahasiswa angkatan 2006,tapi baru semester 1)
sebenarnya saya sependapat dengan kang Joe, tapi juga tidak berlawanan dengan mbah Gambleh…
gak usah munafik dengan berpura – pura alim agar mendapat pujian dari orang lain!!
namun berpura – pura bajingan juga sama munafiknya…
menurutku lebih baik biarlah semua mengalir seperti air, biarkan semua orang menilai kita seperti apa, yang penting kita tetap jadi diri kita sendiri dan tidak terpengaruh oleh omongan – omongan orang yang mungkin tidak bertanggung jawab.
selama ini hal itulah yang saya terapkan dalam kehidupan saya sehari – hari, karena saya sudah terbiasa dengan caci maki orang – orang sekitar, tapi tetap aja saya tidak berubah.
saya tetaplah seperti yang dulu
orang yang cenderung suka melawan dengan perintah yang diberikan meskipun dari pimpinanku sendiri, apalagi perintahnya ga jelas tujuannya…
maju terus kang joe…..
makan gaji buta selama hampir kurang lebih 2 bulan bikin gw blogwalking ke antereo dunia, eh nemu deh blog ini. menarik, menghibur dan cukup cerdaslah daripada situsnya wadehell yang cuman ngumbar ide ‘lawan pemikiran mainstream en poko ke sesat itu keren’:) salam kenal ya mas.
btw, gw suka banget kutipan si mbah :
——————————————————-
sejauh ini saya yakin pendapat saya benar sehingga saya mempertahankannya, tetapi jika di perjalanan argumen2 saya runtuh dan ada pendapat lain yang lebih valid, tentu tidak segan-segan akan saya revisi pendapat saya”. Sekadar Joe tahu, ini pula modal awal saya dalam berdiskusi.
=============================================================
Joe mungkin bisa belajar banyak dari kutipan nih
(paham khan maksud gw:)
yudhis:::
bukan! eh, iya dink
arezk, riyant:::
netral nggak pa-pa kok, mas. semua hal itu pasti ada positif dan negatifnya, hehehehe. cuma ya, sejauh ini, inilah pilihan terbaik dan paling sesuai dengan karakter saya…menurut saya
lia:::
makasih banyak buat pencerahannya, mbak lia
yep
hola wala, makasih buat tutorialnya..
sebenarnyaa mau bajingan itu tidak repot.. kemaren saya ke koperasi, maksudnya cari jae wangi..elhadalah koq ada serbat sama bajingan instan.. ya bentuknya sama sih, kayak permen gitu yang nanti dicemplungken
btw baru tau kalo bajingan itu dari gula palem :p
eh sik sik, wong djogja yen nyebut bajingan kan bajigur tho? :ak47
sampeyan nulis :
Yah, maka dari itu sampai sekarang aku masih berpikiran lebih baik orang lain menilai aku sebagai seorang bajingan besar, tukang bikin onar. Toh yang tau apa isi hatiku dan apa yang pengen kulakukan cuma aku sendiri dan Penciptaku. Aku nggak terlalu butuh penghargaan dari orang lain, biarkan Penciptaku yang menilai keberadaanku. Tapi ternyata, jalanku menjadi seorang bajingan masih terlalu panjang dan berangin.
kalo njenengan ngomong gitu, njenengan ndak lebih baik dari mereka dong…(mereka refer to orang or kelompok yang njenengan bicarakan)… begitu kiranya…
pertanyaan njenengan sama dengan komen2 sebelumnya. sudah ta’jawab, kok. jadi untuk lebih validnya, monggo pun diwaos riyin
sesuk yen sempat balik jogja tak goleki koe. tak ajari dadi bajingan sejati. ngono sek yo su!
hu wah ha ha lucu , kamu lebih baik jadi pelawak kaya tukul daripada bajingan. Gak cocok .
Prek
@soerja
bukan, bajingan itu makanan dari ketela.
Kaing….!
jangan pernah berhenti (jika kamu yakin bisa menemukan jalan untuk kembali) semoga cita-citamu tercapai….Bajingan dalam arti yang kau mau dan kau tampilkan ataupun bajingan yang sesungguhnya kau pun tak ingin…
*pernahbercita-citadanpunyapemikiransepertiitutapilangkahkuterhenti*
mas joesatch ko namanya ganti jadi shelling ford????
bisa diceritakan alasannya???
joe_peyok:::
belum nyampe jokja juga, mas?
kus:::
prek juga
La-gila-gi:::
guk!
reeyo:::
terimakasih, bang
najib:::
oh, kalo itu ada sejarahnya di sini
mas aku lagi pengin buat blog neh, menurut mas lebih bagus buat di wordpress,blogspot po blogsome? lo bisa saia dikasih tauw plus minus masing2. thanx…
mas aku lagi pengin buat blog neh, menurut mas lebih bagus buat di wordpress,blogspot po blogsome? lo bisa saia dikasih tauw plus minus masing2. thanxzzz…
yuhuuu…
ada di sini
semoga berguna
jancukkkk!!
ada apa, oom? kok dateng2 terus misuh?
Bagus juga nich artikel, btw q boleh gabung komunitas ini gak mas joe? q asli orang BREBES lochhhhhhhhh! And kaya’nya pemikiran kita sama deh mas joe, coz q juga pengin di anggep bajingan sama semua orang tp hatinya tetap beriman kepada sang pencipta,,,,,,,,! Gmna sekali lagi boleh ga q gabung ama komunitas mas joe itu? klo blh almatnya dmn mas? blz k e_mail q j y??????????????? ni alamtnya ok q tunggu kabar selanjutnya mas joeeeeeeeeeeeeeeee!!!!!!!!!!! C_UUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUUU,peace n salam manusia bajingan!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
komunitas saya? itu himpunan mahasiswa di kampus, kok. kalo mau gabung, ya artinya harus jadi mhs ilmu komputer ugm dulu, kekekeke…
hehehe…. “bajingan” seru juga tuh???
Aku belum paham bener apa tuh “bajingan”???? Tapi cwok aku sering bilang dia tuh mantan bajingan, entah lah…. bener apa nggak nya???
Makasih ya… dengan baca artikel ini aku tau… bajingan itu ternyata ada alasan dan aku rasa alasannya km hm… bagus juga hehehe…..
kalian semua goblok,dsr sesat !!!asu!!!!!
bertobatlah wahai kalian orang sesat!!!
ada apa kok ngamuk? gara2 baca artikelnya atau gara2 belum baca artikelnya?
mas joe suangar!!!
sippp!!!
heran aku, kok ada ya orang kayak sampeyan di dunia ini?
mau jadi bajingan kok diproklamirkan
kayak anak te ka aja
piye to mas mas ….
jadi bajingan kok bangga
piye to mas mas ….
hwa
payah
lho, sudah bener2 dibaca belum postingan saya di atas, mas jhon?
udah bosz,
orang yang belum pernah berjalan di tempat yang gelap, mungkin belum bisa merasakan syukur/kenikmatan yang sesungguhnya berjalan di tempat yang terang
mas, kita itu hidup vertikal dan horizontal
emang dengan cuek whatever public say about us bisa nyelesain masalah
kalo bisa ya baguslah
tapi imej itu melekat
manusia mati meninggalkan nama
tinggal nama kita mau dikenang sebagai apa bajingan atau mantan bajingan atau whatever, that yourself men yang bikin jalan yang buka jalan
adalah kesombongan bila mungkin kita tidak mengakui sebagai makhluk sosial
coba ya…………………
hidup thu emang berat……….. makanya hanya orang orang yang kuat yang akan bertahan… orang-orang yang kuat dengan pemikiran dan jalan hidup mereka……………. makanya yang dicari sekarang buakn orang yang berani mati tetapi yang berani hidup…………. aq setuju bahwa orang boleh menilai sesuatu, boleh melabeli sesuatu itu benar apa salah.. tetapi benar salahnya manusia itu absurd, benar salahnya manusia itu relativ sesuai pemikiran dan hati nurani mereka masing-masing………… hanya TUHAN yang maha tahu tentang kebenaran dan hanya tuhan yang maha tahu tentang keadilan didunia ini……… ngacooo bangettt……
setuju bro joe.. setuju tok wissss…lek bajingan koyoke gak keren man. Piye lek diganti Mafia….???
john:::
ada perbedaan, mas john. perbedaan antara yang sudah pernah merasakan kemudian menunjukkannya, sudah pernah merasakannya tapi pura2 belum pernah merasakan, dan belum pernah merasakan tapi berakting seolah2 sudah pernah merasakan
cuek pada permukaan tapi tidak dengan dalamnya; atau malah peduli pada permukaan tapi tidak begitu dengan dalamnya. itu inti dari postingan saya di atas. mana yang lebih baik dari 2 hal di atas?
jawabannya ada di paragraf terakhir tulisan saya, kok. dan kebetulan saya orang jawa. saya percaya pada ungkapan lama: becik ketitik, ala ketara
Q-ro:::
nggak ngaco kok. saya juga meyakini ttg hal itu
fisha17:::
nek mafia ketoke kurang merakyat, dab. jarang ono sing misuh, “mafia kowe!” soale, kekeke
cerito ne marai bosennnnnn senggawe pekok uteke neng silit
yang pya web yg bajingan…………..
saya baru tau kalo ada otak di silit. setau saya paling mentok di dengkul, deh
saya bajingan? alhamdulillah…
Jadi jalanmu menjadi seorang bajingan masih terlalu panjang dan berangin ya?
Ok, bro. Jangan gampang menyerah!!
Teruslah berusaha.. kau pasti bisa…
Akan ada suatu saat di mana kau bisa berdiri tegak,
melampaui takdir yang sebelumnya kau anggap tak mungkin,
dan sambil menepuk dadamu berteriak keras-keras :
“Aku seorang bajingan sejati”
Dan dunia pun terasa akan lebih indah…
Bahkan Sang nasib pun akan tersenyum padamu..
Merangkulmu ke dalam lingkungan pemenang takdir.
alah2 crito bajingan!padahal seng bajingan malah wong pinter2 kuwi.SOALE MINTERI KANCANE/minteri wong cilik.
keren mas, aku mungkin masih ingusan mas, tapi sekedar komentar, menurutku mas malah termasuk kaum eks (apa tadi????) ah lupa. ya karena mas ikut mencap orang lain sebagai orang yang salah. dan menyatakan bahwa mas adalah mahluk paling benar. mas. guruku pernah bilang (mohon izin guru!!!)
“JANGAN PERNAH PERCAYA SELAIN DIRI JANGAN PERNAH BERGURU SELAIN ALLAH”.
mas tahu pengaruhnya buat yang membaca blog mas ketika yang membaca anak seusia saya(masih belasan tahun)”19 jalan 20 mas”. bisa mas bayangin aku akan mendefenisikan bahwa mahluk yang membalut dirinya dengan kain jubah dengan jidat hitam (bekas dijedutin tembok atau diapain gak tahulah). adalah orang yang salah dan menghancurkan agama. kemudian apa?? aku bakal mencoba untuk ikut-ikutan nyangking botol. bikin onar sana bikin onar sini. trus apa? gak tahu lah mas.
semoga Allah memberi hidayah buat kita semua.
aku yakin suatu saat tulisan mas akan jauh lebih bijaksana dan ketika aku menemukan blog mas lagi (semoga allah memberiku waktu untuk itu) aku akan lebih tersenyum dari pada hanya merasa terbakar karena semangat muda yang menggebu-menggebu.
salam buat para pencari Kebenaran, dan pengkaji diri.
maaf atas kata – kata yang tidak pada tempatnya.
bajiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiingan
emang enak jadi orang bajingan…..
nggak mikir apa2….
yang penting hepi2 aja…..
gak ada kata susah, yang ada kata2 yg tak enak di dengar di telinga orang2……….
bajingan is the best……
Sebaiknya kontol anda itu diurut dulu biar gede dan sangar, apalagi kalo brewoknya dibuat gimbal. Bajingan sejati berkontol besar dan siap berkoar. Salam kontol brewokan
tulisan diatas cenderung mendorong orang yang emosinya masih labil untuk berbuat ngawur?? tolong yang lebih bijaksana.
Jika anda bingung mengenai masalah kebenaran, saya siap membantu anda.
kirim pertanyaan ke nurani6@gmail.com
wow nice blog … lam kenal sobat
sekali2 kunjungin blog ku yah ….. heheheh
http://babbicool.blogspot.com
http://pondokartis.blogspot.com
http://bjdtthy.com
keren
jangan lari dari kenyataan bRo…………..
bajingan atau tidak itU hanya mereka yang bisa meneilai dan tau…………(“orang yang menilai kita”)
tidak ada yang baik di dunia ini,tapi yang ada orang yang berusaha berbuat untuk baik………..
untuk menyikapi semua tenteng tulisannya…extrime………
kalo boleh berkomentar:,
kesannya panjenengan lari dari hidup yang riiL..
kenapa?” karena dangan kata bajingan yang anda sanding!
anda tidak maU menerima resikO sebagai kauM yang baik….
atau dengan cap orang baik….
memang, sebuah pujian atau gelar itU sebuah kutukan, di mana apabila kita mendapatnya akan ada orang yang berkontrofersi………………….
sory bRO tO be continyU..
mbayare warnet wes okeH banget………kekekekekekekekekekk
jujur aku tidak tau apa maksud tulisan ini, apakah kamu ingin mengingatkan bajingan-bajingan yang lain dengan caramu yang unik ini ataukah kamu benar-benar ingin menjadi bajingan sejati?
Setahuku orang – orang yang kamu anggap eksklusif justru lebih ksatria daripada bajingan. Menjdi bajingan itu mudah, siapapun bisa termasuk aku. Tapi ketika seorang bajingan ingin melangkahkan kakinya ke masjid, butuh keberanian besar, hanya seorang ksatria yang bisa melakukannya, pasti akan banyak rintangan yang membutuhkan berjuta-juta kesabaran dan konsistensi di dalamnya, termasuk bersabar menahan hinaan dan cercaan dari kaum bajingan dan pecundang sejati. Menahan cercaan dan hinaan dari tetangga dan sahabat yang sangat mencekik leher yang mengira kaum santri itu SOK ALIM, Padahal kita sebenarnya hanya ingin menjadi orang yang bisa menjadi panutan yang baik bagi orang – orang di sekitar kita.
Sekali lagi saya tekankan JADI BAJINGAN ITU MUDAH, siapapun bisa, anak kecil pun bisa bro, tapi saat kamu ingin melangkahkan kaki ke masjid tiap malam dan pagi subuh, itu baru sulit, dan hanya seorang KSATRIA sejati yang bisa melakukannya….bukan seorang pecundang yang menggembar nggemborkan bajingannya…yang dianggapnya keren…
@Mr. Night
Jadi bajingan itu mudah?? hahaha…baca post-nya dulu sebelum ngomong! yang nulis udah cerita kalo dia aslinya orang yang sensitif akan penderitaan orang lain, tapi terus dimanfaatkan oleh orang-orang di sekitarnya. kamu bilang masuk masjid itu kesatria?? koruptor2 bisa tiap hari masuk masjid
di internet podo kakean cocot nek wis di patok 2 atas bawah di tanah cocotmu wis ra fungsi,kowe orep muk nuwekke daging karo balung,nek wis bongko yo ra cocotan eneh wis kowe bajingan kabeh
EMBER banget klo “BAJINGAN” TU ORANG….!!!
KLO ORNG BAJINGAN 2 EMANG GX BLH HDP BKNE Q BELA ORNG BAJINGAN TPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPPP ORNG BAJINGAN 2KN JG MANUSIA,HAMBA ALLAH YG PALINGGGGGGGGGGGGGGGG SEXYYYYYYYYYYYY,,,,,,,,, TPPPPPPPPPPPP U JNGN TRJRMS DLM GANX SPRTI I2 BG U YG TRLNJR,,,, SADARLAHHHHHHHHHHHHHH WHI HMBA ALLAH YG PALING SEXYYYYYYYYYYYYY SALAM BLINKY PRINCESSSS
Hidup bajingan sejati…..
asu
wooo bajingan yang sesungguhnya itu malah ga keliatan!!! dari luar penampilanya kayak orang suici and guayanya alim bener… puaaadahalll????
ko neng tanjung ana sing bisa komputer si nyong wong sengon ge bisa sampen sapa kie no hp ne enyong catet bokan sewaktu waktu ana apa bu apa karo id enyong ge couy binjey_tea no hp 08170217043/081902470164 gelem busung enyong arane diyana sengon imploenk wis disit enyong kerja sung kesel…
oalahhhhhhhhhhh……wekekekek….setuju ro tulisane kae aku…mendingan di cap bajingan kok …..engko nek dadi alim kan wong 2 do ngomong…wah mase kaelo diconto……biyene bajingan saiki sobo mesjid…wakakakak…la nek wong alim rus dadi bajingan….wong 2 do mikire opo? rak do ngerti dewe tho? wekekekekkek…..bajingan juga manusia..punya rasa punya hati jangan samakan dengan…………..salam
kamu emang bajingan pengecut yang hanya bisa komentas sana sini tanpa memberikan solusi. kalau orang macam u ada di depanku sudah kuhabisi dari kemarin-kemarin
dasar UGM sekuler loe!
duasar ugiyem..
Bajingan loe….
)
ah lama2 bosan ngomong bajingan
emangnya napa ma bajingan..
biasa aja kale
tapi kalo engga ngomong kotor rasanya ada yang kurang..
ha.ha.
mulut kotor.. cuci pake sabun.. pake sikat wc
seneng sih ngomong kotor.. tapi
kok g patut ya
coba kalo ma dosen ngomong gini
bu bajingan.
pak bajingan..
bajingan loe
perek loe
gigolo loe
pelacur low
wkwkwkwk
ini tawa orang facebook-an.. wkwkwk
ah aku hanya pendatang yang mampir setelah out dari kerjaan..
bajingan!
ah lega deh..